Sabtu, 26 Desember 2009

PSSI, di MANA MUKAMU !!!

Kalah lagi..kalah lagi..mungkin itulah yang bisa diucapkan oleh sebagian besar pecinta sepakbola nasional melihat kiprah timnas Merah Putih di tiap ajang sepakbola yang diikuti oleh timnas kita…

Dan hanya mengelus dada saja kita melihat penampilan Bambang cs, padahal kalau dilihat dari teknis semuanya Timnas Indonesia memiliki semuanya diantara teknis para lawan, tetapi itulah sepakbola tidak bisa diprediksi, dan itulah yang terjadi oleh Timnas. Siapa yang tidak menyangka Timnas Myanmar dan Laos yang selama ini dipandang sebelah mata bahkan diremehkan oleh (mungkin) para pemain kita ternyata bisa menunjukkan bahwa apa yang kita remehkan itu salah dan akhirnya Indonesia harus “diusir” dari ajang SEA GAMES oleh tuan rumah.

Kalau sudah keadaan seperti ini siapa pun akan saling menyalahkan dimana para pemain menyalahkan pelatih yang tidak bisa berbahasa Inggris atau sedikit belajar bahasa Indonesia, sedangkan pelatih menyalahkan para pemainnya yang tidak bisa menjalankan apa yang pelatih instruksikan, sementara organisasi hanya bisa diam dan menyalahkan sistem tanpa ada rasa bersalah dengan misalnya Ketua Umum mundur dan membubarkan salahsatu struktur organisasinya misalnya Divisi Timnas..

Kekalahan dan kekalahan Timnas kita bukan yang pertama kali dan bukan yang pertama kalinya organisasi itu melakukan kesalahan dalam membentuk timnas berdasarkan imajinasi mereka, sebenarnya apa yang menjadi kendala Timnas kita selalu kalah ? menurut penulis ada beberapa hal yang membuat Timnas kita kalah yaitu :

Pertama, jadwal kompetisi yang memungkinkan tidak adanya waktu untuk pemulihan bagi para pemain yang dipersiapkan ke Timnas, kita bisa lihat bagaimana satu klub hanya ada waktu pemulihan kondisi dari satu pertandingan ke pertandingan lainnya hanya 2 hari sementara idealnya itu ada 3-4 hari. Kedua, tidak adanya regenerasi antar pemain di klub sehingga memungkinkan buntunya prestasi di Timnas, dimana kita bisa lihat pemain timnas kita adalah pemain yang itu-itu saja.

Ketiga, masih berkaitan dengan hal kedua, dalam hal ini adalah banyak pemain asing yang dimainkan klub dalam satu pertandingan, sehingga porsi jam terbang daripada pemain kita untuk menunjukkan kualitasnya terhambat dan juga tidak ada porsi untuk pemain muda untuk bertanding. Keempat, adanya beberapa kepentingan seperti klub yang menginginkan sepenuhnya pemainnya loyal dan bermain penuh sementara dia punya kewajiban sebagai WNI untuk membela negara.

Kalau hambatan-hambatan ini bisa diatasi penulis yakin Tim Nasional Merah Putih akan berbicara lebih banyak lagi di pentas internasional, apakah PSSI terutama Ketua Umumnya yang selalu bermimpi di siang bolong ini tidak iri dan mencoba belajar dari Organisasi sepak bola Korea Utara dan Selandia baru, kenapa negara yang sekecil itu bahkan mungkin luas wilayah negaranya hampir sama dengan luas wilayah DKI Jakarta dan Pulau Jawa ini bisa tembus SOUTH AFRICA 2010 WORLD CUP, sedangkan Indonesia ? memang nanti pada pergelaran Piala Dunia 2010 di Afrika memang mengirimkan tim, TETAPI BUKAN Tim Nasional Merah Putih tetapi Tim peliputan wartawan yang menyuguhkan berita-berita yang membuat para pemain timnas dan juga rakyat Indonesia selalu “ngiler” dan berkhayal setelah membaca hasil laporan wartawan tabloid olahraga yang berada di sana, kapan timnas kita bisa satu lapangan bertarung dengan CR-9 atau Didier Drogba atau menghambat laju gocekan maut Messi atau bahkan mencetak gol ke gawang timnas mereka, atau juga para pemenang kuis dari perusahaan afiliasi dari sponsor turnament tersebut, betul tidak ?

Semoga kekalahan ini menjadi kekalahan terakhir bagi Tim Nasional dan mulai tahun 2010 yang tinggal menghitung hari bisa lebih baik lagi dan kembali berjaya seperti jaman ketika Bung Karno dan Dinasti Cendana berkuasa.. Majulah Sepakbola Indonesia.


Pintu IX, 181209 15:40

Tidak ada komentar: