Jumat, 04 Desember 2009

Merindukan Hoegeng Imam Santoso


uang negara seharusnya untuk membiayai perjalanan pejabat, bukan keluarga pejabat, karena itu hanya akan menguras keuangan negara !!

– Hoegeng Imam Santoso -

Mungkin cerita ini bisa membuka mata hati daripada para perwira mulai dari pangkat bawah hingga Jenderal bahwa hanya dengan kejujuran dan panggilan negara semua rintangan itu bisa dihadapi.

Alkisah pada awal tahun 1956 di Pelabuhan Belawan Medan, Sumatera Utara tibalah seorang pria tinggi kurus bersama istrinya dari Pulau Jawa, beliau tiba di Pelabuhan Belawan Medan karena perintah atasannya karena harus bekerja sebagai Kepala Direktorat Reserse Kriminal pada Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Polda Sumut) .

Sebelum berangkat ke Medan, beberapa kolega dan atasannya sempat memberikan wejangan atas apa yang terjadi di Medan terutama aparat keamanan yang katanya rawan dan mudah disetir oleh orang-orang tertentu. Kota Medan seperti yang banyak diketahui oleh banyak orang adalah kota yang sangat rawan dan keras dimana banyak daerah-daerah penyeludupan dan perjudian mulai dari kelas teri hingga paus tidak pernah tersentuh dan banyak perwira Kepolisian Negara Republik Indonesia mulai dari pangkat bawah hingga atas yang bertekuk lutut bahkan mengiba karena adanya hutang budi pada pengusaha kakap dan paus yang umumnya dikuasai oleh etnis “Cingtailah ploduk-ploduk endonesa”

Tetapi oleh pria kurus ini semua omongan koleganya itu soal Medan beliau mentahkan dan dia bisa buktikan kalau dia tidak seperti apa yang diucapkan oleh para koleganya tersebut, dan terbukti pada saat memasuki rumah dinas yang disediakan oleh Negara dengan membawa perlengkapan yang seadanya dari Pulau Jawa, tiba-tiba saja didalam rumah tersebut sudah ada perabotan mewah jaman itu, mulai dari tape recorder, piano, perangkat kursi tamu, kulkas, televisi dan perabotan elektronik lainnya. Ketika melihat itu beliau memerintahkan anak buahnya untuk menyingkirkan semua perabotan yang ada didalam rumahnya tetapi anak buahnya tidak ada yang berani menyentuh bahkan menyingkirkan barang mewah tersebut, karena perintahnya tidak diindahkan oleh anak buahnya, sang komandan ini mengeluarkan sendiri perabotan elektronik tersebut dan meletakkan begitu saja di pinggir jalan.

Akibat dari tindakan komandan ini gemparlah seluruh kota Medan, karena belum ada satu perwira polisi pun yang berani menolak pemberian para cukong-cukong ini bahkan ditaruh begitu saja di pinggir jalan, sejak saat itu beliau dibicarakan oleh banyak orang seantero Indonesia.

Nama beliau adalah Hoegeng Imam Santoso

Hoegeng ternyata memang tidak mempan digertak dan disuap. Dalam menjalankan tugas, tak terbilang banyaknya dia membongkar kasus penyelundupan dan perjudian yang dilakukan pengusaha “Cina Medan”. Tak jarang pula dia harus menangkap dan menahan perwira Polda Sumut yang ikut terlibat.

Karena keberaniannya melawan cukong-cukong Medan ini pada tahun 1959 beliau ditarik ke Jakarta untuk berdinas di Kepolisian Daerah Metro Jakarta Raya (Polda Metro Jaya) dengan posisi jabatan yang sama ketika di Medan, belum merasakan dinas di Ibukota pria kelahiran 14 Oktober 1921 ini di panggil oleh Menteri Koordinator Pertahanan Keamanan/ Kepala Staff Angkatan Darat (Menko Hankam/KSAD) ketika itu Jenderal TNI Abdul Haris Nasution, oleh Nasution Hoegeng ditawari jabatan sebagai Kepala Jawatan Imigrasi, alasan Hoegeng ditempatkan posisi ini karena keberhasilan mengatasi para cukong-cukong di Medan dan berkat keberhasilan ini banyak pihak yang merekomendasikan beliau.

Ketika bertugas di Jawatan Imigrasi, seorang Hoegeng tetap mengenakan seragam polisi karena dia hanya mengambil gaji dari korps kepolisian, sedangkan gaji dan fasilitas yang diberikan Imigrasi tidak disentuhnya sama sekali, beliau juga menolak sebuah mobil baru yang diberikan Imigrasi serta merenovasi rumahnya, alasan Hoegeng ketika itu adalah sangat sederhana bahwa apa yang didapatkannya dari Kepolisian Republik Indonesia sudah cukup.

Sepertinya peruntungan Hoegeng sejak bertugas di Medan cukup naik pesat dimana medio pertengahan 1965, Hoegeng dilantik oleh Presiden Soekarno menjadi Menteri Iuran Negara (Cikal bakal Dirjen Pajak) selama bertugas di Kementerian Iuran Negara ada pengalaman menarik dan ini harus dicontoh oleh aparat PNS jaman sekarang dimana, ketika itu ada seorang calon pegawai baru di lingkup Bea Cukai membawa selembar kertas katabelece a.k.a surat sakti dari Wakil Perdana Menteri II Dr. Johannes Leimena, tujuan dari surat itu adalah supaya orang yang membawa surat ini diberi kemudahan, tetapi oleh Hoegeng membalas berkirim surat kepada Leimena dengan isi permintaan maaf karena tidak bisa membantu apa yang ada disurat itu, keesokkan harinya Leimena menemui Hoegeng dan meminta maaf.

“ Saya tak biasa berdiplomasi dan minum koktail”

Pasca G 30 S/ PKI, Hoegeng diangkat menjadi Menteri / Sekretaris Kabinet tetapi pada bulan Juni 1966, Hoegeng diminta negara menjadi Deputi Menteri/Panglima Angkatan Kepolisian a.k.a Wakil Kepala Polisi Republik Indonesia, dengan posisi ini Hoegeng mengalami penurunan pangkat dari menteri menjadi WakaPolri, tetapi Hoegeng menerimanya dengan lapang dada karena dia merasa kembali ke asalnya yaitu Kepolisian dan itu tidak berlangsung lama karena pada tanggal 1 Mei 1968 pangkat Hoegeng dinaikkan menjadi Komisari Jenderal Polisi dan dua pekan kemudian Hoegeng dilantik menjadi Panglima Angkata Kepolisan kalau sekarang kita kenal sebagai Kapolri

Selama menjabat Kapolri, seorang Hoegeng selalu datang paling awal daripada staff dan perwira lainnya, hampir setiap pagi ketika menuju kantor dia selalu mencari rute jalan yang berbeda dengan maksud tujuan untuk melihat secara langsung pandangan mata kondisi daerah yang dilaluinya apakah lancar atau menimbulkan kemacetan, jika ada daerah yang ia lalui mengalami kemacetan Hoegeng tidak segan-segan untuk turun dari mobilnya untuk sekedar mengatur lalu lintas supaya lancar kembali. Kadang-kadang Hoegeng berangkat menuju kantornya menggunakan sepeda, dengan bersepeda inilah barangkali membuat Hoegeng mengeluarkan peraturan tentang kewajiban pengendera sepeda motor menggunakan helm.

Tidak hanya tindakannya yang mengundang decak kagum banyak orang tetapi juga ketika ada kunjungan dinas ke luar negeri dimana ketika banyak pejabat melakukan kunjungan ke daerah atau luar negeri selalu membawa istri dan keluarga atau mungkin (maaf!) simpanan mereka hal seperti ini tidak berlaku bagi seorang Hoegeng dimana beliau selalu pergi sendiri TANPA istri atau anak, alasan beliau sederhana yaitu uang negara seharusnya untuk membiayai perjalanan pejabat, bukan keluarga pejabat, karena itu hanya akan menguras keuangan negara !!

Apa yang ia lakukan mulai dari ketika berdinas di Medan hingga menjadi Kapolri adalah sebagai bentuk kecintaan pada profesi serta pemahaman bahwa setinggi apapun pangkat dan jabatan, polisi TETAPlah seorang pelayan dan pengayom masyarakat BUKAN pejabat yang tiap hari sibuk rapat di kantor dan menjauh dari masyarakat, karena prinsip inilah yang membuat Hoegeng menolak pembangunan gardu/portal jaga di depan rumahnya serta menolak diberi pengawalan secara berlebihan

Seperti sebuah perumpaman, semakin pohon itu tinggi maka semakin besar angin yang menempanya begitu juga dengan karier dari Jenderal Hoegeng yang penuh kejujuran dan ketegasannya harus berakhir pada bulan Oktober 1971 dimana Hoegeng diberhentikan dengan alasan peremajaan struktural Kepolisian Indonesia, kalau dilihat bahwa Kapolri yang menggantikannya ternyata umurnya jauh lebih tua daripada dirinya, sebuah majalah pernah menuliskan bahwa Hoegeng dicopot dengan alasan peremajaan struktural karena membongkar penyeludupan mobil mewah yang dilakukan oleh Robby Tjahjadi yang dilindungi pejabat tinggi negara termasuk didalamnya putra dari dinasti cendana..

Selain isu kasus tersebut, ternyata Hoegeng tidak disukai oleh koleganya yang pejabat negara karena dianggap terlalu populer dan juga terlalu dekat dengan pers dan masyarakat, akibat dari “peremajaan struktural Kepolisian” ini negara menawarkan promosi menjadi DutaBesar untuk Kerajaan Belgia, tetapi oleh Hoegeng di tolak halus dengan alasan “ Saya tak biasa berdiplomasi dan minum koktail” ketika ditanya alasan kenapa tidak menerima tawaran menjadi Dutabesar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belgia.

Orang pertama yang beliau kabarkan setelah dinyatakan diberhentikan dari institusi Kepolisian Indonesia adalah sang ibu, begitu mendengar anaknya di berhentikan sang ibu hanya berpesan kepada Hoegeng menyelesaikan tugas dengan kejujuran .

“ karena kita masih bisa makan nasi dengan garam atau kecap”
Ibu Roelani, Ibunda Hoegeng Imam Santoso

Selain petuah dari sang ibu ketika mengabarkan dirinya diberhentikan, Hoegeng pun teringat dengan pesan dari sang ayah yang telah almarhum ketika itu menjadi seorang jaksa agar tidak menggadaikan harga diri dan kehormatan demi kesenangan duniawi.

Pasca sertijab, Jenderal Hoegeng langsung mengembalikan seluruh inventaris yang menjadi milik Polri dan negara, tidak bisa kita bayangkan dimana seorang Kapolri yang pensiun tidak memiliki rumah dan kendaraan, yang ada hanya sebuah sepeda butut, hari-hari sang pensiunan Kapolri ini pun membiasakan naik kendaraan umum terutama Bajaj ketika ada urusan yang tempatnya lumayan jauh, bahkan saking sederhanapun seorang pencuri dengan tega dan nekat masuk ke rumahnya dan mengambil radio transitor kesayangannya

Dalam sebuah penuturannya beliau mengaku ketika masa pensiun dini tersebut merupakan saat-saat yang sulit bagi dia pribadi maupun keluarga dari sisi ekonomi tetapi dia masih tetap kukuh menolak semua pemberian dari pihak-pihak lain, pendirian beliau baru luluh ketika para Kapolda se-Indonesia memberikan sebuah mobil bekas jenis Holden Kingswood, kemudian Polri sendiri membeli rumah dinas Kapolri dan memberikannya kepada Hoegeng sebagai penghargaan atas jasa-jasanya. Akhirnya sang Kapolri Jujur tersebut meninggalkan kita semua pada tanggal 14 Juli 2004

Itu sosok perwira jujur dan tegas yang pernah dimiliki oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia tetapi apakah di tahun 2009 ini Kepolisian Negara Republik Indonesia memiliki perwira dengan sifat yang sama atau paling tidak beda tipis dengan Hoegeng Imam Santoso ?

Jawabannya, TIDAK ADA, karena sekarang susah sekali menemukan prajurit korps cokelat Tri Brata yang jujur, sederhana dan bersahaja seperti Jenderal Hoegeng, mungkin kita sering membaca, mendengar, menonton dimana ada saja kelakuan polisi negara ini yang selalu mengagungkan arogansi, menjungkirbalikkan hukum dan tak tahan godaan materi…

Mana ideologi dari Kepolisian Negara Republik Indonesia pelindung dan pengayom yang selalu terpampang di dua pintu setiap mobil Patroli yang sering kita lihat, atau mungkin ideologi yang tepampang di pintu mobil patroli itu hanya untuk orang-orang yang berkantung tebal ?

Apa yang penulis tulis dibawah ini adalah FAKTA yang penulis LIHAT langsung BAHKAN bertanya langsung kepada pihak-pihak yang BERSENTUHAN dengan Polisi di jalan SEKALI LAGI FAKTA !!! dimana mungkin pembaca kalau pernah melintas disepanjang jalan mulai dari lampu merah kalimalang Halim hingga Pusat Grosir Cililitan -PGC dimana disana anda akan menemui beberapa mobil patroli berjalan pelan kadang berhenti sebentar dan ada orang yang mendekati tetapi tangan kirinya masuk kedalam jendela yang dibuka sedikit seukuran telapak tangan seperti anak kecil memasukkan uang kedalam celengan ayam atau ketika ada personil polisi sedang berdiri untuk mengatur lalu lintas tiba-tiba ada orang entah itu calo atau kenek dari angkutan umum menghampiri petugas kepolisian itu seperti berbicara sesuatu dan tangan calo ato kenek itu berjalan tangan dengan tangan petugas tetapi tangan petugas itu secara reflek memasukkan kedalam kantong celana sebelah kanan sambil tersenyum, apakah anda tahu berapa iuran yang diberikan calon atau kenek buskota yang melintas dari perempatan lampu merah kalimalang Halim sampai PGC ? Rp. 5,000 !

Itu baru kelakuan petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia di daerah Kalimalang-Halim hingga PGC bagaimana dengan di dearah jalur busway antara DEPAN MARKAS KEPOLISIAN RESORT JAKARTA TIMUR hingga Terminal Kampung Melayu dimana modus operandinya masih sama seperti di Kalimalang tetapi bedanya personil Polisi ini memasang badan di tengah jalur busway tepatnya di belokan persis ke arah Kampung Melayu ketika ada bus PPD 213, 916, P2 , Pahala Kencana 115, Steady Safe 947, 937, Kopaja 502 akan masuk jalur busway, serasa mau menilang mereka menanyakan kepada sopir biasanya sopir akan memberikan langsung kepada petugas itu, tetapi ada juga keneknya yang turun dan seperti modus kedua yang terjadi di kawasan Cawang serasa salaman tetapi didalam telapak tangan itu ada uang, setelah itu petugas itu langsung menyingkir ke pinggir, MAU tau berapa harga TIKET masuk jalur busway khusus bus ini, dipatok harga Rp. 10,000/ bus !!

Sepertinya para polisi ini harus mencontoh perilaku dan kerja daripada Hoegeng karena hampir 10 tahun lebih reformasi dan juga 10 tahun Polri “bercerai’ dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) yang kemudian berubah menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) masa-masa indah berpisah itu hanya diluar saja tetapi tidak menyentuh kedalam.

Apakah ini yang disebut dengan reformasi daripada Polri dan yang menjadi pertanyaan dan harus dijawab secara jujur dan nurani adalah, seperti kasus Nenek Minah, kasus dua tetangga yang mencuri 1 buah semangka harus dipukuli ketika di BAP dengan pasal yang hukumannya 5 tahun penjara, atau satu keluarga yang ditangkap hanya gara-gara mengambil sisa kapas yang terjatuh dari pohon yang rusak atau kasus Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah, Sudahkah polisi mengayomi, melindungi dan melayani masyarakat dengan keikhlasan? Dan, sudahkah polisi menjalankan tugasnya dengan penuh ketaqwaan?

Penulis agak meragukan 100 % dari kinerja Polisi jika melihat daripada ideologi Polisi itu seperti yang terpasang di sisi pintu mobil patroli karena apa, seperti kasus Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah saja sudah agak konyol penulis bilang masa hanya gara-gara biar tidak banyak cakap kepada media mereka berdua ditahan sementara sang Sutradara ini yaitu Anggodo Widjojo malah roadshow ke semua media bahkan team 8 kemarin dibuat pusing dengan ulahnya dan hingga detik ini Polri tidak melakukan tindakan apa-apa bahkan membiarkan keluar masuk kompleks Kepolisian mulai dari Polda Metro hingga Mabes, Polisi macam apa ini !

Menurut penulis jika keadaannya seperti tidak mustahil kejadiam di Hongkong terjadi kalau di Hongkong dimana sekelompok Polisi menyerbu gedung yang menjadi kantor KPK karena tidak terima teman dan komandan mereka ditangkap dalam rangka pembersihan korupsi di Hongkong, tetapi kalau di Indonesia mungkin jaringan LSM, Mahasiswa dan masyarakat Indonesia yang merasa tidak mendapatkan keadilan hukum akan menyerbu setiap kantor polisi mulai dari tingkat Polsek hingga Mabes untuk mencari perwira-perwira yang menjadi OTAK dari ketidak adilan dan berlindung pada KUHAP tetapi perwira itu tidak mengerti sama sekali isi dari KUHAP serta berkantong tebal yang selalu berucap cingtailah ploduk-ploduk endonesa , apakah ini yang Polisi mau dan menantang masyarakat !?

Akhirnya apa yang penulis dengar tentang polisi jujur dan tidak bisa disuap oleh apapun itu ada tiga benar adanya sampai saat ini, yaitu patung polisi, polisi tidur dan polisi Hoegeng, dan timbul pertanyaan KAPAN kita mendapatkan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, Kepala Kejaksaan Agung Republik Indonesia, Presiden Republik Indonesia yang memiliki mental sederhana, jujur dan tegas seperti Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Imam Santoso karena hanya seperti sosok Hoegeng Imam Santosolah Polisi rasa keadilan itu akan ada dan mungkin juga negara ini akan maju !!

TURUT BERDUKA CITA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA !!!

031209 10:10:10

Pendapat Pribadi

Tidak ada komentar: