Rabu, 01 September 2010

Antara Carter, Gomes, Beye dan 3 Perwira KKP

Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf

Ada yang menarik ketika membaca sebuah harian ibukota pagi bertiras nasional khususnya halaman luar negeri dimana ada artikel feature yang menceritakan tentang kunjungan mantan Presiden Amerika, Jimmy Carter ke Pyongyang, Korea Utara untuk bertemu dengan pemerintahan Korea Utara untuk membicarakan tentang tahanan mereka yang berkewarganegaraan Amerika yang bernama Aijalon Mahli Gomes seorang warga negara Amerika Serikat yang masuk ke negara tersebut secara ilegal melalui China, akibat perbuatannya ini Gomes di jatuhi hukuman denda Rp. 6,3 Miliar dan hukuman kerja paksa selama 8 tahun ! dan dua bulan lalu (baca:Juli) media massa Korut melaporkan bahwa Gomes berusaha bunuh dan dan berada dalam kondisi kesehatan yang buruk disalah satu rumah sakit di Pyongyang dan singkat cerita Gomes saat ini telah berada di Boston bersama keluarga tercintanya.

Kenapa penulis mengatakan ada yang menarik ketika membaca cerita diatas dan juga kenapa judulnya agak bertanya-tanya dan membandingkan, bukan maksud membandingkan tetapi ada satu hal atau persamaan yang harus diperhatikan yaitu sifat perhatian antara Pimpinan dengan kalangan bawah.

Maksudnya ? begini cerita diatas adalah kisah tentang seorang mantan Presiden Amerika Serikat yang mencoba menolong warga Amerika Serikat yang sedang membutuhkan pertolongan kemanusiaan, padahal kita tahu sebenarnya apa yang dilakukan warga ini jelas-jelas salah tetapi masih tetap di perhatikan oleh seorang Jimmy Carter, Mantan Presiden Amerika Serikat karena satu tujuan adalah sesama mahkluk ciptaan Tuhan yang saling membantu dan juga sesama warga negara AS.

Keadaan ini sangat kontras sekali dengan kisah di tanah air kita sendiri dimana mulai dari reformasi hingga tulisan ini adakah pemimpin kita baik itu masih aktif maupun sudah pensiun mau membantu warganya yang kesusahan di negara orang ? jawabnya tidak ada kalau pun ada hanya segelintir orang saja sebut saja Gus Dur yang berhasil meminta otoritas Kerajaan Saudi untuk menunda bahkan membatalkan hukuman mati dan gantung bagi beberapa TKI atau jaman Indonesia memulai sebagai negara dimana ada kisah kegiatan bung Karno (maaf penulis lupa judul buku dan pengarangnya) dimana negara kita dikejutkan dengan akan datangnya Menteri Luar Negeri RRC ke Indonesia, karena jadwal kedatangannya mendadak dan tidak tahu agenda apa yang dibawa akhirnya satu gedung kementerian luar negeri kala itu dipimpin oleh Soebandrio kelabakan barulah H-2 menjelang kedatangan baru diketahui agenda dari Menlu ini ke Jakarta adalah mempertanyakan kebijakan Bung Karno yang membatasi ruang gerak bisnis etnis China di Indonesia, hanya boleh di Kota Kabupaten sedangkan di Kota Kecamatan sampai desa para pengusaha etnis ini tidak boleh berbisnis.

Karena agenda kunjungan baru di terima H-2 jelang kedatangan, Sang Menlu dan jajaran eselonnya panik karena belum bisa mengumpulkan informasi untuk memberikan penjelasan yang memuaskan untuk seorang sahabat karib yang sangat membutuhkan jawaban itu, kemudian Soebandrio menghadap ke Bung Karno dan menyampaikan maksud dan tujuan dari kunjungan Menlu RRC dan meminta petunjuk bagaimana menjelaskan apa yang Menlu ini tanya, tidak sampai lima menit Bung Karno dengan mudahnya berkata kira-kira seperti ini “ sudah, nanti yang menyambut dan menemuinya oleh saya saja”

Dan hari yang ditunggu pun tiba setibanya kunjungan Menlu RRC ini, Bung Karno dengan santai dan hangat serta kekeluargaan menyambut tamunya Ketika sampai pada topik pembicaraan mengenai misi diplomasi Menlu RRC, Bung Karno menjelaskan bahwa RRC dan Indonesia adalah sesama negara sosialis. Dalam hubungan ideologis ini, RRC adalah saudara tua bagi Indonesia yang masih baru. Bung Karno menjelaskan pula bahwa di desa-desa Indonesia pada dasarnya sudah menganut sosialisme secara kultural. Sedangkan di perkotaan nafsu kapitalisme masih mengancam sosialisme Indonesia, oleh karena itu saudara-saudara kita yang etnis Tionghoa diminta berkonsentrasi melakukan peran ekonomi sosialismenya di perkotaan.

Penjelasan dari Bung Karno tersebut entah memuaskan atau membuat Menlu RRC mati kutu tak bisa menjawab, yang jelas Menlu RRC kemudian pulang ke negrinya dan hubungan RRC-Indonesia tetap baik-baik dan mesra sesudah pertemuan itu hingga berakhirnya masa kekuasaan Bung Karno.

Itu pola diplomasi antara Gus Dur dan Bung Karno dalam menjaga keharmonisan antar negara sementara para pemimpin saat ini adakah seperti itu ? tidak ada Bahkan seperti kasus terakhir tidak ada satupun pejabat paling tidak mantan Presiden atau Wakil Presiden seperti kasus Gomes kemarin yang datang langsung ke Kuala Lumpur untuk menemui tiga petugas tersebut dan melihat proses BAP mereka kalau mereka memang bersalah tetapi yang ada malah pemimpin kita diam seribu bahasa bahkan pembantu-pembantunya yang di majukan sebagai tameng hidup untuk beliau !

Memang ada sich satu mantan pemimpin tertinggi di negara ini yang kerjanya beda-beda tipis dengan cerita Carter dan Gomes di atas yaitu sebagai penengah antara konflik pewaris Mbah Priuk dengan aparat Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta-PemProv DKI dalam hal ini Satpol PP tetapi nyatanya menurut penulis apa yang dilakukan beliau sepertinya berat sebelah seperti tidak adanya rekomendasi kepada pihak penyidikan dalam hal ini Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya), Kepolisian Resort Metropolitan Jakarta Utara dan Kepolisian Sektor Metropolitan Koja untuk menyelidiki pihak-pihak yang berada di dalam areal makam mbah priuk ketika peristiwa berdarah itu terjadi karena kita bisa lihat sendiri kok siapa yang arogan terlebih dahulu bahkan ada kelompok yang melibatkan anak-anak untuk melawan petugas tetapi nyatanya tidak ada kan hasil rekomen itu yang ada malah berujung pergantian Kepala Satpol PP !

Sudah saatnya para pejabat pemerintah baik aktif maupun pensiun baik sipil maupun militer agar mau membantu dalam membangun dan menjaga negara ini termasuk manusia-manusianya contohlah sikap keteladanan daripada mantan-mantan Presiden Amerika Serikat walaupun sudah pensiun mereka masih perhatian dan membantu rakyatnya yang memang membutuhkan perhatian dan bantuannya termasuk ke luar Amerika BUKANNYA malah mencibir koleganya yang masih aktif dan tidak membantu atau mempermudah permasalahan dan juga para pemimpin negara ini yang masih aktif kiranya juga giat melindungi warganya bahkan berani pasang badan kepada negara lain seperti yang dilakukan oleh Bung Karno ketika Menlu tidak bisa memberikan jawaban dan keterangan yang resmi karena mendadaknya waktu dan tidak tersedianya waktu yang panjang untuk memberikan bahan dan menjawab pertanyaan yang diajukan..

Pejambon, 010910 15:40
Rhesza
Pendapat Pribadi

Tidak ada komentar: