Sabtu, 25 September 2010

Antara MDGs, 1 Billion hungry dan Indonesia


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf

Tanggal 18 September 2010 lalu bertempat di Pantai Indah-Taman Impian Jaya Ancol sedang berlangsung kegiatan yang diadakan oleh FAO dan UNDP yang bertajuk “ 1 Billion hungry and MDGs Stand Up Make a Noise “ yang diikuti oleh ratusan bahkan ribuan pengunjung. Tujuan dari aksi ini adalah untuk mengingatkan kita dan Negara bahwa masih banyak penduduk di belahan dunia dan juga Negara kita yang masih membutuhkan bantuan dan tenaga kita.

MDGs atau Millenium Development Goals atau Tujuan Pembangunan Millenium adalah sebuah kesepakatan bersama dari 192 kepala Negara dan pemerintahan se-dunia dalam mengatasi masalah-masalah yang selalu ada dalam Negara seperti kelaparan, kesetaraan gender, pendidikan, sampai pada masalah AIDS, sedangkan 1billion hungry adalah program yang dirancang oleh badan PBB bidang pangan FAO-Food and Agriculture Organization untuk menangani dan memberantas kelaparan yang semakin hari semakin menjadi di dunia.

Itu tentang keadaan secara mendasar sebagai pengantar lantas bagaimana dengan keadaan Negara kita jika mengacu pada dasar kesepakatan yang berjumlah delapan point ini apakah sudah jalan dan berhasil mencapi target atau tidak ? ternyata belum sepenuhnya terlaksana seperti point pertama yaitu pemberantasan kemiskinan dan kelaparan kita semua tahu bagaimana kondisi warga kita terutama yang berada di daerah pinggiran kali-kali yang ada di Negara ini atau apakah pemerintah kita khususnya Kementerian Sosial Republik Indonesia yang memperhatikan para gelandangan, tuna wisma yang berada ditiap-tiap perempatan lampu merah termasuk yang berada di sekitar kantor kemeterian tersebut ?

Memang pemerintah sudah berusaha mencoba menekan angka kemiskinan tetapi fakta di lapangan masih kemiskinan terjadi seperti masih banyak warga Indonesia yang menyantap nasi aking atau nasi tiwul karena tidak mampu untuk membeli beras atau kebutuhan pokok lainnya..kemudian soal pendidikan dasar pun Negara ini sepertinya masih setengah seperti kita lihat berapa banyak sekolah di luar pulau jawa atau di daerah pedalaman yang boleh dibilang tidak lebih bahkan lebih hina daripada kandang binatang sekalipun atau masih lebih bagus Kantor Pos Polisi Bunderan HI, bagaimana bisa berpreatasi kalau sarana dan prasarana penunjang tidak sesuai dengan harapan..

Kemudian soal angka kematian ibu melahirkan, Negara kita sepertinya masih setengah hati dalam pelaksanaannya kita bisa lihat bagaimana pemerintah tidak konsern dalam hal memberikan pengarahan bagaimana pola hidup ibu hamil misalnya memberikan penyuluhan atau memberikan akses kesehatan bagi ibu hamil dari golongan ekonomi menengah hingga yang dibawah garis kemiskinan atau asupan gizi yang kurang sehingga mengakibatkan banyak bayi yang berat tubuhnya tidak sesuai dengan standar berat tubuh bayi pada umumnya.

Soal kesetaraan gender pun Negara ini sepertinya berada pada tahap belajar dan saling mengenal dan memahami dimana kita lihat masih banyak anak perempuan terutama di daerah yang harusmenjadi kelas dua karena harus memberikan kesempatan kepada anak laki-laki karena dianggap sebagai tumpuan keluarga dan panutan untuk adik-adiknya, selain itu juga dalam masalah hukum kita sering mendengar banyak wanita yang menjadi korban ketika mengajukan sebagai tindak pidana tidak pernah diteruskan karena masalah kekerasaan dalam rumah tangga ini masih dianggap aib ketika masuk ke ranah public dan lebih baik diselesaikan atau ketika TKW kita di luar sana bermasalah kita hanya bisa bersuara tanpa ada tindakan sama sekali dan hanya beretorika saja..

Dalam hal penanganan masalah HIV/AIDS pun juga Negara ini masih setengah-setengah bahkan ada beberapa Rumah Sakit negara yang mentelantarkan bahkan membiarkan warga yang menderita HIV/AIDS yang membutuhkan pengobatan di Rumah Sakit dan juga kurangnya ketersediaan obat penghilang rasa sakit khusus penderita HIV/AIDS kalau pun ada harganya masih tergolong mahal, lalu dalam hal lingkungan pemerintah kita juga masih setengah-setengah dalam menindak perusahaan-perusahaan yang jelas-jelas merusak lingkungan di Negara ini.

Kembali ke masalah yang terkait dengan judul diatas kiranya Pemerintah sudah lebih focus kembali terhadap kesepakatan yang telah di tanda tangani di New York pada sepuluh tahun yang lalu sebagai bukti bahwa Negara ini terutama para pejabat Negara sanggup dan bisa mengubah keadaan yang tercantum dalam kesepakatan tersebut, karena bagaimanapun Negara ini bisa maju dan sejahterah tidak lepas dari semua element termasuk kesejahteraan daripada rakyat itu sendiri percuma saja negaranya maju pesat tetapi kenyataannya rakyatnya untuk membeli beras saja susahnya minta ampun.

Waktu yang ditentukan oleh PBB dalam MDGs atau Tujuan Pembangunan Millenium ini tinggal hitungan tahun yaitu 2015 dan dalam waktu hitungan tahun itu juga kiranya Negara dan para pemimpin Negara ini juga ikut memikirkan bagaimana agar tujuan pembangunan itu bisa terlaksana dengan sukses bukan sekedar ucapan manis dibibir ketika acara itu berlangsung tiap tahun karena selama ini para pejabat Negara ini selalu kena penyakit lupa ingatan dan baru ingat ketika acara berlangsung begitu selesai acara langsung lupa dan semoga tidak ada lagi masyarakat Indonesia yang miskin dan kelaparan

Let’s Make NOISE for the MDGs and 1Billion hungry for Indonesia !!

Thamrin, 240910 12:24
Rhesza
Pendapat Pribadi

Tidak ada komentar: