Sabtu, 06 Maret 2010

Kiamat 2012 ala PSSI


Judul diatas bukan maksud menyindir akan film yang tahun lalu sempat membuat heboh masyarakat dunia tetapi itulah yang mungkin terjadi di kalangan sepakbola nasional, tetapi seperti biasa penulis meminta maaf jika dalam tulisan ini menyinggung atau memojokkan beberapa kelompok, tetapi mungkin lewat tulisan ini bisa membuka mata hati kita akan permasalahan ini.



“ Kami juga tak akan mengeluarkan izin pertandingan jika sepak bola di Jateng di pimpin wasit yang tidak adil “


Irjen Pol. Alex Bambang Riatmodjo




Mungkin hanya itu kali yang tengah terjadi di kalangan sepakbola nasional, dimana Timnas kita berbagai usia GATOT-GAgal TOTal dimana PSSI U-19 gagal maju ke Piala Asia U-19, PSSI U-23 harus diajari bagaimana cara belajar mengolah kulit bundar dari tuan rumah Laos serta negara junta militer Myanmar di ajang SEA GAMES 2009 padahal dua negara ini selalu menjadi lumbung gol bagi Indonesia tetapi yang ada sekarang, kemudian para senior mereka juga tidak jauh berbeda bahkan lebih para untuk pertama kalinya dalam 16 tahun kita tidak bisa lagi menikmati udara pertandingan Piala Asia di Qatar karena lagi-lagi kita diajari bagaimana cara bermain bola yang baik oleh Oman, Kuwait dan negara Kangguru, Australia walaupun pertandingan terakhir melawan sang Kangguru pun menang kita pun tidak bisa berangkat.

Itu baru dari segi Timnas bagaimana dengan yang lain, ternyata tidak jauh berbeda dimana PSSI di tantang atau mungkin di lecehkan oleh Kepolisian Daerah Jawa Tengah karena tidak bisa tegas dalam membawa sepak bola Indonesia ke arah fair play, dimana sudah dua kali Kepala Polisi Daerah Jawa Tengah (Kapolda) Inspektur Jenderal Polisi ( Irjen Pol ) Alex Bambang Riatmodjo melakukan “hukuman” kepada insan sepakbola yaitu mempidanakan dua pemain sepakbola, Noval Zaenal (Persis Solo) dan Bernard Trokon Mamadou (Gresik United) karena berkelahi di lapangan hijau, kemudian pada saat laga PSIS Semarang melawan Mitra Kukar, Jumat (19/2) turun ke pinggir lapangan dari tribun hanya untuk menegur sang pengandil lapangan dan inspektur pertandingan agar wasit dan perangkat bersifat netral dan tidak berat sebelah, setelah pertandingan selesai ternyata sang pengandil dan perangkat pertandingan langsung di “jamu” oleh Kapolda Jawa Tengah di Markas Kepolisian Wilayah Kota Besar (Mapolwiltabes) Semarang hingga pukul 22.00 bahkan alat komunikasi mereka untuk sementara di tahan oleh Kapolda selama “menjamu” para wasit dan perangkat pertandingan ini.



“ Saya hanya meminta sepak bola dijalankan dengan sportivitas dan fair play. Saya tidak mau di wilayah saya ada praktek suap “

Kapolda JaTeng,
Irjen Pol. Alex Bambang Riatmodjo



Setelah kejadian di Jawa Tengah, publik sepak bola tanah air harus disuguhkan sebuah berita sensasional yang di lakukan oleh salahsatu pejabat di PSSI dimana, sang pejabat ini dengan sadis membunuh istrinya dengan cara memukul kepalanya menggunakan laptop, tetapi sebelum dua kejadian ini kita sudah dikagetkan dan juga senang karena pemerintah dalam hal ini Presiden Republik Indonesia, H. DR. Susilo Bambang Yudhoyono dalam menerima kunjungan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Panitia Nasional Hari Pers Nasional di Istana meminta pengurus PWI untuk membuat semacam acara kongres (walaupun dikemudian hari diganti menjadi sarasehan nasional) nasional yang materinya tentang masa depan sepak bola.



“ Sulit bagi kami menerima tindakan itu, karena sudah ada campur tangan yang terlalu jauh. Kami sangat menyesalkan tindakan itu “

Sekretaris PT Liga, Tigorshalom Boboy



Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah ada apa dengan sepakbola kita, sejak hajatan olah raga SEA GAMES di Laos tahun lalu sepakbola kita selalu disorot, menurut penulis ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh PSSI sebagai otoritas paling tinggi di Indonesia dalam mengurusi sepakbola dan juga (katanya) organisasi paling tua dari semua organisasi olahraga di Indonesia, pertama, soal intervensi Kapolda Jateng menurut penulis, sah-sah saja sang Kapolda melakukan itu kenapa harus diributkan ? memang satu sisi apa yang dilakukan oleh Kapolda ini telah melecehkan atau mengintervensi kerja PSSI dalam hal ini Komdis, tetapi menurut penulis apa yang dilakukan oleh Kapolda atau tindakan seorang Hendri Mulyadi yang merebut bola dari Boaz dan melakukan solo run ke arah gawang Oman para pertandingan kualifikasi Pra-Piala Asia beberapa waktu lalu adalah cerminan daripada masyarakat Indonesia yang MUAK akan ketidak beresan daripada perangkat pertandingan sepakbola di tanah air. Memang kalau Hendri Mulyadi melakukan aksi tersebut wajar karena dia hanya rakyat sipil kecil yang biasa dan tahunya dia kecewa dengan PSSI, sedangkan Komandan Alex Bambang dia melakukan itu karena dia tahu bahwa apa yang di depan mata adalah perbuatan melanggar hukum dan harus ditindak.

Seharusnya PSSI ngaca dan intropeksi dengan nurani setelah melihat tindakan yang dilakukan oleh Kapolda bukannya malah berkomentar bak seorang yang paham akan aturan, sekarang kalau memang para pengurus ini tahu akan kapasitasnya akan sepakbola termasuk aturan yang berlaku di sepakbola kenapa prestasi sepakbola kita tidak menanjak ya ?

Menurut penulis ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh PSSI supaya tidak ada lagi aksi-aksi Hendri Mulyadi dan Komandan Alex Bambang di tiap-tiap daerah misalnya, pertama, Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) berserta jajaran pengurus pusat MENGAKUI kegagalan apa yang telah kerjakan terutama janji-janji mereka ketika Munas maupun Munaslub PSSI, meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke dari Mianggas hingga Pulau Rote, dan pernyataan itu disiarkan dan dicetak oleh media massa. Kenapa penulis bilang ini karena bukan maksud menyindir tentang tingkah laku masyarakat Indonesia dalam hal ini pejabat negara tetapi dinegara ini penulis tidak pernah melihat satu pejabat dengan jantan dan ksatria mengakui kesalahannya tetapi yang ada malah merasa dirinya hebat dan tidak bersalah padahal bukti dan fakta sudah jelas, beda sekali dengan di luar negeri seperti kasus Tiger Wood dimana begitu skandal pesta sex dan perselingkuhannya terbongkar oleh media, Tiger Wood langsung berdiri dipodium disorot kamera dengan ksatria meminta maaf dan mengakui apa yang telah media bongkar walau sekitar 3-4 bulan menghilang, atau skandal walikota suatu negara bagian di Amerika yang mengundurkan diri karena mengakui dirinya selingkuh dengan wanita lain dan memiliki anak dari wanita itu..

Kedua, menggelar rapat kerja atau musyawarah yang melibatkan semua unsur sepakbola termasuk diantaranya komunitas pecinta klub sepakbola atau fans club dan wartawan karena apa pun klub dan prestasinya tanpa fans klub akan sia-sia, dalam mencari sosok yang pas untuk menjabat ketua umum PSSI, kalau bisa mencari sosok yang benar-benar paham akan sepakbola termasuk didalamnya aturan-aturan sepakbola yang di buat oleh FIFA dan AFC bukan tokoh publik, karena selama ini kita tahu semua organisasi-organisasi olahraga di tanah air di ketuai oleh tokoh-tokoh publik seperti pejabat-pejabat negara seperti Perbakin yang dipimpin oleh perwira Mabes Polri yang menjabat sebagai Inspektur Pengawasan Umum-Irwansum, Irjen Pol Nanan Sukarna, atau Ketua Umum Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) yang berlatar belakang Panglima Tentara Nasional Indonesia- Panglima TNI, Jenderal Djoko Santoso dan masih banyak lagi, memang kita tahu dan tidak bisa ditutupi dengan budaya dinegara ini dimana tokoh publik lah yang dicari daripada tokoh yang sudah lama mengenal akan bidangnya tetapi tetap saja tokoh publik itu hanya digunakan sebagai cara untuk mendatangkan sponsor tetapi prestasinya juga hanya beberapa saja yang seimbang maksudnya tokoh publik ini bisa menjaring sponsor untuk organisasinya serta prestasi atlet yang bernaung di organisasi ini tetapi ada juga yang tokoh publik tetapi prestasinya tidak ada ya seperti kasus PSSI ini.

Ketiga, masih terkait soal penokohan kiranya para unsur sepakbola lebih seleksi menjaring yang benar-benar tidak terkait dengan persoalan apapun termasuk persoalan yang berkaitan dengan kepolisian, jangan sampai ketua umum yang baru ternyata tidak jauh berbeda dengan ketua umum yang sekarang, bukan maksud untuk memasung HAM dan demokrasi seseorang tetapi kiranya para unsur sepakbola nasional mulai dari pengurus daerah PSSI, klub, komunitas suporter lebih seleksi kalau bisa sosok ketua umum ini bersih dari apapun dan juga kalau bisa para pengurus yang saat ini untuk sementara (maaf) masuk daftar hitam dan tidak boleh dipilih atau berada dalam dunia sepakbola nasional sampai 10-20 periode pengurus PSSI bukan kenapa kita tahu bagaimana rekam jejak daripada pengurus yang ada saat ini, yang kita butuhkan sekarang adalah orang-orang yang benar-benar mau membawa sepakbola ini menuju kasta tertinggi sepakbola dunia yaitu PIALA DUNIA atau kasta paling tinggi di ASIA yaitu PIALA ASIA baik timnas maupun klub BUKAN SEKEDAR MIMPI DI SIANG BOLONG !!! apa yang terjadi para pengurus saat ini adalah orang-orang yang hanya selalu BERMIMPI tanpa pernah bangun atau bergerak sama sekali, kalaupun ditanya kenapa gagal alasan yang selalu diberikan adalah akan mengevaluasi atau kurangnya jam terbang pertandingan persahabatan TANPA MAU mengakui kesalahan, meminta maaf kepada masyarakat bahkan sampai mundur secara sukarela tanpa dipaksa !

Keempat, membenahi segala perangkat yang berkaitan dengan sepakbola Indonesia yang selama ini menjadi masalah utama adalah kompetisi dan wasit dimana sering kita dengar dimana wasit selalu bermasalah dan berat sebelah dalam memimpin, mungkin karena ini Kapolda Jateng sampai mengintrogasi wasit dan perangkat pertandingan karena dilihat sangat berat sebelah dalam memimpin

Semoga dengan adanya sedikit ancaman yang dialamatkan ke PSSI mulai dari ide briliant dari pak Beye, kemudian tindakan Kapolda yang mempidanakan dua pemain sepakbola serta “menjamu” wasit dan perangkat pertandingan ke Mapolwiltabes Semarang, kemudian tindakan Hendri Mulyadi ketika PSSI menjamu Timnas Oman yang harus dibayar dengan denda dari AFC sebesar USD 10,000 dan yang terakhir adalah di tangkap dan dijadikan tersangka bendahara PSSI karena menganiaya istrinya dengan laptop dan membenturkan ke tembok yang mengakibatkan kematian membuat ketua umum NH beserta jajarannya sadar akan nuraninya dengan mundur dan tidak aktif disemua bidang yang bernaung dalam bendera PSSI dan juga menjadi pelajaran bagi insan sepakbola Indonesia dalam memilih ketua bukan hanya dia tokoh publik tetapi harus bisa membawa Timnas Indonesia juara di semua tingkatan dan kejuaran yang bersifat internasional BUKAN sekedar mimpi atau rayuan-rayuan agar tokoh ini dipilih pada saat Munas atau apapun begitu terpilih jadinya pepesan kosong !!!

Menantikan Timnas yang berprestasi…tapi kapan ?

Pintu IX, 280210 15:40

Gie Gustan
Pendapat Pribadi

Tidak ada komentar: