Senin, 10 November 2008

Tugas Berat Tribrata-01 yang baru !


Sudah beberapa minggu setelah menjabat sebagai orang nomor wahid di jajaran Tribrata, Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri-BHD melakukan gebrakan setelah mengumumkan nama perwira yang menduduki posisi sebagai Direktur Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kabareskrim Mabes Polri) Kapolri meminta orang-orang atau kelompok yang selama ini meresahkan masyarakat agar diamankan dan diproses secara hukum bahkan ada lima Kepala Kepolisian Daerah (KAPOLDA) untuk selalu mengaktifkan handphonenya selama 24 jam serta jajaran Polres Se-Jabodetabek dan dua Polres khusus yaitu Bandara dan Pelabuhan jika ada masyarakat yang butuh bantuan jika mereka mengalami tindak kriminal.

Kategori orang-orang yang di release oleh Bareskrim Mabes Polri adalah kawanan kapak merah, pencopet-penodong, preman dan kawanan Debt Collector yang memang kelompok-kelompok ini selalu meresahkan dan menakutkan warga ketika berada di jalan.

Apakah ini sudah membuat DKI dan wilayah Indonesia aman dari orang-orang ini, atau ini hanya sesaat saja atau ibarat anget-anget tai ayam untuk menunjukkan kepada 220 juta jiwa rakyat Indonesia bahwa 100 hari pertama tugas Kapolri untuk menyenangkan rakyat Indonesia adalah menyingkirkan orang-orang yang menurut warga adalah sampah masyarakat ? kalau menurut penulis apa yang di lakukan oleh BHD masih kecil dari permasalahan yang ada di dalam korps baju cokelat itu.

Maksudnya, adalah bahwa sebenarnya ibarat rumah supaya dilihat orang rumah itu bagus kiranya yang didalam harus dibersihkan dulu baru yang luar dibersihkan bukan sebaliknya, apa yang dilakukan BHD adalah sebaliknya sehingga kebusukan dari korps ini masih saja ada.

Apakah anda sambil menunggu kendaraan yang anda naiki sesekali memperhatikan gerak-gerik aparat korps baju cokelat di sekitar pertigaan Halim, atau mulai dari KODAM JAYA hingga HALIM ? kalau anda sudah pernah memperhatikan tidak masalah, kalau belum penulis perlu sampaikan bahwa kawasan Cawang mulai dari lampu merah Kodam hingga putaran Halim dekat terowongan adalah surga bagi petugas tribrata, penulis beberapa kali bahkan setiap hari mempergoki para petugas ini menerima sejumlah lembar rupiah daripada entah itu kenek, atau timer yang ada disana, dan jumlahnya bervariasi mulai dari Rp. 5,000 hingga Rp. 20,000 dan modus yang terapkan oleh mereka adalah seperti orang salaman tetapi didalamnya terselip beberapa lembar uang, jadi sekarang anda bayangkan berapa banyak uang haram yang masuk kedalam saku baik saku depan, samping kanan-kiri dan belakang personel polisi itu kalau satu kendaraan angkutan jenis Bus AKAP kenek atau timer memberikan Rp.5,000 dan anda tahu berapa banyak bus baik AKAP maupun reguler ditambah kendaraan kecil yang setiap jam keluar masuk halim, silakan anda hitung sendiri berapa sehari polisi itu mendapatkan penghasilan sampingan yang haram !

Itu baru personel Polisi yang bertugas di jalan, bagaimana dengan satuan polisi yang tiap hari berpakaian layaknya pria metroseksual dengan kemeja lengan panjang ditambah dasi dan celana bahan mengkilap setiap hari berada di belakang layar komputer model plasma atau note book merek terbaru. Beberapa hari ini penulis mendapatkan sebuah email yang dikirim secara berantai ke tiap milis (dilihat dari tujuan si pengirim email mengirimkannya) bahwa ada semacam bad cop good cop layaknya film-film barat yang bersetting kepolisian. Jadi surat elektronik yang dikirimkan berisi tentang kebusukan daripada suatu satuan khusus elite yang dimiliki oleh Kepolisian negara ini dimana dua orang pejabat dari satuan elite ini ( inisial GM dan SD) “membebaskan” A.I. salahsatu dari sekian banyak tersangka teroris yang meresahkan Bali untuk tidak tinggal di dalam Hotel Prodeo dengan hukuman seumur hidup sementara saudara-saudaranya tinggal menunggu mati dari keputusan tanggal mati mereka yang ditetapkan oleh Kejaksaan Agung padahal dari segi barang bukti dan keikutsertaan paling berat adalah orang ini dimana sebagai otak pembuat sementara ketiga saudaranya hanya menyimpan 1 ton karbit, bahkan mereka sering keluar-masuk kedai kopi yang terkenal didunia, bahkan makan malam bersama dengan pejabat SD ini di rumah pribadinya, padahal dua pejabat dan orang awam tahu bagaimana sadisnya kelompok ini membuat nyawa 80 lebih jiwa rakyat yang kebetulan warga Australia

Kalau di lihat dari latar belakang dua pejabat ini, memang satu diantaranya GM sudah bermasalah dari dahulu, nama beliau mencuat ketika berhasil menangkap seorang wanita yang menyimpan lebih dari 1 kilo ekstasi yang kabur dari salahsatu LP di sebuah negara bagian di Amerika, setelah itu nama beliau tidak muncul hingga akhirnya muncul sebagai pelaksana kerja harian dari pada sebuah badan yang di Amerika disebut DEA selain merangkap sebagai penyidik daripada satuan elite yang mana satuan elite dibentuk dan didanai oleh Amerika dan Australia bahkan satuan ini paling elite dari semua satuan elite yang ada didunia.

Kalau begini caranya, sangat disayangkan sekali Polisi kok mau diperalat dan bekerja sama dengan teroris, dasarnya apa ? okelah kalau mereka digunakan diluar penjara dengan tujuan untuk mengorek informasi dan memancing teman-temannya keluar dari persembunyian dan ditangkap tidak masalah tetapi tokoh A.I. ini dimasukkan kembali ke dalam LP walaupun hukumannya beda, tapi kalau hanya sebagai kado atas tertangkapnya teman-temannya tapi dia tidak menjalankan hukuman dan berada diluar sangat tidak masuk akal sekali, apalagi yang diluar ini adalah biang dari segala biang terorisme, apa kata dunia ?

Lantas A.I. dianggap sebagai pahlawan bagi Polisi karena bisa membongkar jaringan mereka dan memvonis hukuman tembak bagi tiga temannya yang mana dua dari tiga tersangka ini adalah kakak dari A.I ? pahlawan memang iya tapi pahlawan kesiangan.

Kalau begini caranya, sia-sialah dana yang dihibahkan oleh AS dan Aussie untuk mendirikan satuan elite ini karena tidak digunakan maksimal, kasus ini harus segera ditindak lanjuti oleh Kapolri, bagaimanapun ini akan menjadi bertambah citra buruk bagi kepolisian dimata rakyat.

Karena dua tokoh ini juga telah menjelekkan instusi sendiri dan juga beberapa personel berpangkat jenderal serta dengan sombongnya bahwa kedua pejabat ini mengatakan hanya mereka berdualah yang bisa menangkap dan mengungkap jaringan teroris yang ada di Indonesia, bahkan pernah ingin “mengkudeta” Tribrata-01 yang kemarin baru saja pensiun dengan bekerja sama dengan seorang perwira loreng hijau, selain itu juga pernah mengadakan makan malam bersama dengan pengusaha yang sedang bermasalah ditingkat Mabes dan konyolnya kasus pengusaha ini tidak pernah selesai sehingga akhirnya beliau lapor dan terungkaplah, tetapi tetap saja dua manusia ini tidak pernah diperiksa.

Kalau memang mau meningkatkan citra kepolisian ke arah positif dimata masyarakat adalah dengan. Pertama, menata kembali struktur kepolisian karena seperti kasus dua pejabat ini adanya rangkap jabatan, kedua membentuk tim yang benar-benar tegas dan berani menindak aparat yang bersalah walaupun itu komandan mereka sendiri.

Karena selama ini banyak kasus yang melibatkan aparat penyelesaiannya selalu dengan cara kalau pejabat teras dimutasi ke tingkat Polda atau Mabes dengan tanpa jabatan dari 6 bulan sampai 2 tahun, setelah itu kalau ada berita mutasi jabatan atau kenaikan pangkat pejabat yang bermasalah pasti dimasukkan dalam daftar mutasi jabatan bahkan lebih tinggi jabatannya dari jabatan yang bermasalah itu, kalau memang bersalah walaupun pajabat teras sekalipun harus dipenjara dan BUKAN penjara khusus tetapi penjara umum, biar mereka tahu dan merasakan gimana rasanya hidup penjara bersama dengan mungkin orang yang pernah ditangkap oleh pejabat ini, karena yang ada sekarang setiap pejabat terutama kalangan militer ditangkap selalu dimasukkan ke dalam Hotel Prodeo milik mereka sendiri seperti yang ada di Kelapa Dua-Depok.

Keempat, adanya reward dan punishment kepada setiap personel kepolisian dimana kalau melakukan kesalahan harus dihukum dan mendapatkan penghargaan kalau mereka berprestasi. Kelima, selalu mendengarkan dan menjalankan apa yang menjadi keluhan daripada masyarakat, karena selama ini banyak masyarakat merasa diabaikan ketika berurusan dengan polisi seperti laporan kehilangan, prosesnya pun lama kalau mau cepat UUD-Ujung-Ujungnya Duit betul tidak ?

Apakah Preman yang ada di Indonesia tidak akan muncul lagi di jalan-jalan dan kedua pejabat satuan elite itu diproses serta diinapakan di Hotel Prodeo bersamaan dengan tokoh teroris ini dilihat kembali hukumannya ? hanya BHD dan Tuhan yang tahu, semoga Polisi di tangan BHD bisa menciptakan Good and Honour Police dimata rakyat Indonesia not Corrupt and Bad Police

Sudirman 101108 10:50

RKM-48

Tidak ada komentar: