Tampilkan postingan dengan label BBM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BBM. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Agustus 2010

Cara Efektif Mengatasi Kemacetan di Jakarta


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf.

Kita tahu bahwa Jakarta saat ini bukan Jakarta ketika tahun 1960 sampai 1980 yang masih sepi dan jalannya masih sangat luas tetapi Jakarta tahun 2010 yang mana jalan sudah tidak bisa lagi menampung jenis kendaraan mulai dari motor, mobil, kendaraan umum dan sekarang adalah sepeda dan banyak juga para pengamat transportasi dan juga jalan layaknya (alm) Mama Lauren yang memperkirakan bahwa tahun 2015 Jakarta akan mengalami kelumpuhan dalam artian hampir semua jalan tidak bisa lagi dikatakan lancar atau sepi.

Jangankan menunggu tahun 2015 sekrang saja di beberapa tempat sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kelumpuhan karena kemacetan bahkan ada suatu tempat yang sudah macet muali pukul 04:30 dan baru normal pukul 10:00 dan itu hanya sementara setelah itu macet lagi hingga mungkin dinihari. Sudah banyak cara dilakukan oleh Pemerintah Propinsi Daerah Khusus Ibukota-DKI Jakarta dalam mengatasi kemacetan ini tetapi nyatanya di jalan raya selalu kita temui jalan yang selalu penuh layaknya rakyat mengantre sembako ketika memasuki bulan ramadhan, seperti adanya pemberlakuan kawasan 3 in 1 atau adanya moda transportasi massal yang bernama Transjakarta tetapi kenyataannya tetap saja macet.

Menurut penulis ada beberapa hal yang kiranya harus diperhatikan oleh para pejabat Pemerintahan Daerah Khusus Ibukota-Jakarta dan juga masyarakat serta negara jika mau Ibukota negara ini bebas dari kemacetan yaitu.

Pertama, kiranya para pejabat di jajaran Pemprov DKI harus tegas dan keras jika mau memang DKI bebas dari kemacetan, maksudnya ? kita bisa lihat seperti contoh kasus jalur transjakarta dimana awal berdirinya Transjakarta ini adalah untuk mengurangi dampak kemacetan dan jalurnya harus bebas daripada kendaraan lain, tetapi nyatanya ? masih banyak jalur busway yang dimasuki mobil, motor dan angkutan umum dengan alasan mengurangi kemacetan, atau dibiarkan masuk oleh aparat Dishub atau Kepolisian setempat memang mengurangi kemacetan tetapi jadwal tiba dan berangkat busway pun yang secara SOP hanya sekitar 2-3 menit mundur bisa menjadi 30 menit bahkan lebih, seharusnya Pemprov membuat semacam kerjasama dengan pihak kepolisian (baca: MOU) dimana semua jalur busway tidak boleh dimasuki dalam keadaan apapun oleh semua kendaraan umum termasuk kendaraan militer atau mobil aparat negara dan hanya boleh dimasuki oleh kendaraan seperti Ambulance.

Kedua, Kemudian memperbanyak armada kendaraan busway yang kapasitas lebih besar seperti armada busway yang ada di koridor Terminal Kampung Melayu-Ancol yang menggunakan busway gandeng, dan juga petugas busway pun SADAR, BERANI dan TEGAS terhadap keberadaan busway dan penumpang kalau memang kapasitas busway itu 85 orang ya sesuai dengan kapasitas bukan seperti yang ada saat ini dimana satu busway bisa dijejali lebih dari 85 orang sudah seperti sauna berjalan pantas saja banyak terjadi pelecehan seksual di busway karena adanya petugas yang memberikan keleluasaan para pelaku untuk melakukan pelecehan karena memasukkan penumpang melebihi kapasitas mobil

Ketiga, penulis sangat setuju dengan program 3 in 1 tetapi itu sepertinya kurang efektif dalam mengurangi penggunaan kendaraan pribadi jika melihat kondisi DKI saat ini, saran penulis kepada DKI-01 kalau bisa program 3 in 1 tersebut diubah menjadi 5 in 1 atau 9 in 1 dan berlaku setiap Senin-Jumat dari jam 05 pagi sampai 03 pagi, maksudnya kalau dulu kita kenal 3 in 1 dimana satu mobil harus ada 3 orang menurut penulis itu tidak efektif kenapa ? penulis dan juga anda tahu jenis mobil yang sering ada di jalan itu jenisnya sedan hingga minibus, dan berapa banyak sedan yang isi penumpangnya hanya 3 orang atau minibus yang isinya Cuma 4-5 orang yang selalu ada di jalan raya ? lebih baik sedan yang berkapitas 5 itu benar-benar terisi full dari pada hanya tiga orang benar tidak, setidaknya kegiatan 5 in 1 atau 9 in 1 ini bisa mengurangi penggunaan dan itu berlaku di semua jalan yang ada di Jakarta, tetapi program 5 in 1 atau 9 in 1 ini BUKAN dikategorikan me-LEGAL-kan omprengan tetapi lebih kepada disiplin dan memberi efek jera kepada para pengemudi yang mengganggap remeh keberadaan angkutan umum padahal sumber kemacetan itu sendiri adalah para pengendara mobil yang SOK-SOK menunjukkan kepada masyarakat, ini loh mobil baru saya !! benar tidak ?!

Lagi pula kenapa penulis mengatakan program 5 in 1 atau 9 in 1 efektif dan membuat jera pengemudi mobil pribadi karena kalau 3 in 1 para pengemudi pasti hanya memikirkan bagaimana caranya mendapatkan orang yang pas menjadi 3 dalam satu mobil misalnya mengajak joki taruhlah uang terima kasih joki sekitar Rp. 10-20,000/orang sedangkan kalau 5 in 1 para pengemudi dipastikan akan mengalami pusing dan agak berat serta berpikir ratusan kali untuk mengeluarkan uang untuk para joki ini hanya untuk memaksimalkan 5 orang di mobilnya benar tidak jika dilihat nominal yang penulis katakan ?!

Ketiga, menaikkan beban pajak kendaraan keluaran terbaru dan seterusnya misalnya pajak kendaraan bermotor keluaran terbaru tahun 2010 sebesar 20 % kemudian tahun depan naik lagi 25% dan seterusnya sehingga membuat para calon pemilik mobil memikirkan kembali untuk membeli kendaraan bermotor yang terbaru, karena menurut penulis para calon pembeli kendaraan di negara ini sebenarnya MUNAFIK dengan alasan mahal sekali persentase pajak ketika adanya isu kenaikan pajak kendaraan padahal sebelum mempunyai dana untuk membeli kendaraan biasa naik kendaraan umum yang kumal dan tidak bersahabat atau memang punya dana TAPI PELIT jika untuk mengeluarkan, coba kita lihat negara asing di luar sana tiap tahun pasti pajak kendaraannya naik terus sesuai dengan keluaran terbaru benar tidak ? jangan lah beralasan rakyat kita masih terbatas, kalau memang terbatas ya sudah nikmati perjalanan dengan angkutan umum jangan berceloteh seperti ibu-ibu arisan ketika pajak kendaraan akan dinaikkan atau bensin di batasi hanya untuk kendaraan pribadi..tapi masih saja menggunakan mobil pribadi di jalan benar tidak ?!

Kiranya tiga pendapat penulis di atas bisa memberikan solusi untuk mengurangi kemacetan di ibukota kalau masih macet juga itu berarti rakyat kita yang tidak menghargai pemerintah yang sudah bersusah payah mengeluarkan kebijakan untuk mengurangi kemacetan lalu lintas.

Merdeka Selatan, 240710 16:09

Rhesza
Pendapat Pribadi

Selasa, 05 Januari 2010

Kisah Mobil Dinas (part 1)


Menjelang tutup tahun 2009 pemerintah membuat semacam berita yang membuat sebagian rakyat Indonesia agak berpikir dengan tindakan pemerintah ini, yaitu pemerintah telah menganggarkan dan membeli mobil yang kabarnya satu unitnya mencapai Rp. 1,3M (WouWW) dan itu dibagi-bagikan mulai dari Menteri, Pejabat Lembaga Tertinggi seperti Pimpinan dewan Senayan dan masih banyak yang lainnya.

Maka timbul pertanyaan penulis dan juga rakyat Indonesia yang tersebar dari ujung Sabang hingga Merauke dari Mianggas hingga Rote, mobil jenis apa yang seharga Rp. 1,3 M ini ?

Sebenarnya mobil ini bermerek (maaf bukan maksud untuk promosi) Toyota Crown Royal Saloon, dimana mobil ini adalah jenis built up a.k.a diimpor langsung dari negaranya Maria Ozawa dan yang memesankan itu adalah oleh PT. Toyota Astra Motor (TAM) yang mana sudah mempersiapkan kedatangan mobil ini, kepastian itu di dapat dari Kementerian Perindustrian Republik Indonesia dimana TAM sudah mengantongi tanda pendaftaran tipe kendaraan bermotor (TPT) dengan register nomor 1027/IATT/TPT/2009 untuk mengirimkan 150 Toyota Crown Royal Saloon ke Indonesia dari Jepang walaupun di bantah bukan 150 buah tetapi sekitar 80 buah oleh kesekretariat negara.

Kapasitas mesin dari mobil ini adalah 3,000 cc dan bertransmisi otomatis dengan kecanggihan-kecanggihan misalnya bisa mendeteksi kesehatan dari pengemudi layak atau tidak membawa mobil ini, mesin pemijat dan ada sunrooff ckckckc…Adapun harga dari mobil ini dijual di negara Maria Ozawa berkisar US$ 59,400 atau di konversikan ke Rupiah sekitar Rp. 572,3 juta

Karena mobil ini di Indonesia dikategorikan mobil mewah dan impor maka harus dikenakan pajak bea masuk senilai 45% karena kapasistas mesin dari mobil ini masih dibawah 3,000 cc atau lebih tepatnya 2,998 cc yang mana mobil ini tidak bisa memenuhi kriteria kesepakatan kerjasama ekonomi Indonesia-Jepang atau istilahnya Indonesia-Jepang Economic Partnership Agreement (IJ-EPA)..

Dimana salahsatu isi kesepakatan itu adalah semua impor mobil yang berkapasitas mesin 3,000 cc ke atas akan dibebani pajak 8 persen tahun ini tetapi selanjutnya pajak berangsur turun menjadi 0 persen pada tahun 2012, belum lagi ditambah pajak penambahan nilai barang mewah (PPnBM), bea balik nama dan lainnya.

Ada beberapa pertanyaan yang timbul dalam pikiran penulis setelah mendengar dan melihat mobil ini yaitu, pertama, apa dasar Negara membeli mobil ini, kedua, mau dikemanakan mobil dinas yang lama ? dari pertanyaan penulis itu ada beberapa jawaban yang bisa dijawab lewat pertanyaan atau press release yang dikeluarkan oleh negara dimana katanya ada menteri kabinet jilid satu yang mengadu karena mobil dinas yang selama ia pakai itu (jenis Camry) sering ngadat, kemudian yang kedua adalah bahwa mobil jenis ini sudah sering digunakan oleh para petinggi daerah dan militer seperti Pangdam, Bupati jadi tidak ada yang istimewa.

Dari beberapa jawaban itu menurut penulis jawaban itu bukan menunjukkan bahwa yang mengeluarkan pernyataan itu adalah seorang pejabat publik, seharusnya Negara sebelum membeli yang menggunakan uang negara atau uang rakyat kiranya berpikir berpuluh-puluh juta kali sebelum membeli, kita bisa lihat satu unit mobil itu senilai Rp. 1,3 M atau sekitar Rp. 800 juta setelah dihitung kembali, mungkin bagi para pejabat ini uang Rp. 1,3 M ini seperti uang Rp. 1 atau 5 juta tetapi bagi rakyat miskin seperti Gadis cilik yang bernama Sinar mungkin uang Rp. 1,3 M ini bisa mengobati ibunya yang yang lumpuh sampai sembuh bahkan bisa digunakan untuk biaya sehari-hari dan pendidikan dia sampai mencapai cita-citanya atau dana Rp. 1,3 M ini bagi adik-adik di salahsatu SD di Banyuwangi bisa dibelikan meja dan kursi atau menambah inventarisasi sekolah yang selama ini kurang, karena selama mereka disekolah mereka harus belajar lesehan.

Kita tidak bisa pungkiri lah bagaimana negara ini memanjakan pejabatnya tetapi negara pun tidak bisa meminta fasilitas itu ketika pejabat ini sudah tidak menjabat sebagai abdi negara kita bisa lihat bagaimana ganti rezim ganti kebijakan seperti sekarang ganti pemerintahan ganti pula kebijakan seperti mobil dinas, yang menjadi pertanyaan adalah KEMANA mobil dinas yang digunakan para pejabat 5 tahun lalu atau 10 tahun yang lalu, kalaupun tidak dikembalikan kepada negara sudahkah para pejabat negara ini membuat bea balik nama menjadi nama pejabat ini dalam hal administrasi atau MASIHnegara yang menanggung ?

Sekedar untuk membandingkan saja soal mobil dinas, penulis selama beberapa hari ini mendapatkan email-email dari beberapa kawan di luar negeri sana yang mencoba membandingkan mobil dinas di negara tempat kawan bernaung dengan yang ada di Indonesia.

Pertama dari harga mobil dinas pejabat dunia ternyata Indonesia lah yang paling mahal coba bandingkan dengan harga mobil dinas pejabat di Belanda yang seharga Rp.650 juta atau negara tetangga yang sering BANCI klaim budaya kita harga mobil dinas cuma Rp. 280 Juta bahkan mobil dinas di negaranya yang pernah heboh dengan film Slumdog Millioner saja harganya cuma Rp. 100 juta, dari sini saja seharusnya para pemimpin kita lebih bijak donk, Belanda, Malaysia, India adalah BUKAN negara superpower seperti Amerika Serikat atau Inggris atau Rusia tetapi para pemimpin di negara itu MASIH PUNYA nurani, sedangkan pemimpin negara kita ?

Kedua, soal umur mobil, kalau dinegara kita seperti tadi setiap pemerintahan baru semuanya harus baru, bukankah kebijakan ini dari segi lingkungan akan menambah jumlah polusi udara walaupun kadar knalpot di mobil baru itu sudah lulus misalnya emisi tetapi tetap saja yang namanya asap dari knalpot adalah polusi ! kita bisa lihat di negaranya Edwin Van Der Sar dimana, hanya mobil dinas Perdana Menteri saja yang dibebaskan dari segala hal sementara mobil dinas menteri yang digunakan menteri pada kabinet baru menggunakan mobil dinas yang lama, dan mobil dinas itu hemat bbm ! sedangkan di negara kita ?

Ketiga, penulis agak bingung dengan ucapan salahsatu menteri yang mengatakan bahwa Camry-nya selalu ngadat dan macet, sekedar ilustrasi penulis beberapa waktu lalu sempat menumpang mobil kawan kebetulan Camry yang sama dengan mobil menteri yang mengatakan ngadat itu, kesan spontan penulis ketika melihat mobil ini adalah nyaman dan kekedapan suara luar mobil ini oke melebihi daripada mobil dinas seperti Volvo jaman dinasti Cendana, soal ketangguhan mesin Toyota ? semua orang didunia pun sudah tahu, lantas kenapa mobil menteri itu sering ngadat? Apakah mobil ini dirawat semana mestinya dalam dunia permobilan atau dana perawatannya yang tidak jelas ?

Penulis setuju dengan salah satu argumen dalam email yang terkirim ke penulis dimana tidak adalah alasan cukup kuat untuk menjadikan mobil naik kelas ke kelas yang lebih berat dari Camry ke Crown Royal Saloon, lebih baik dan elegan kalau Pemerintah MENGAKU bahwa negara dan pemimpin negara ini TIDAK PUNYA visi berhemat energi dan lingkungan apalagi ingat rakyatnya yang miskin dan pengangguran serta utang negara ini sebesar US$ 167,86 Miliar atau Rp. 1, 602, 86 trilyun semua itu bias saja sama Presiden bahkan ketika di dua acara skala Internasional dimana Indonesia akan bertekad mereduksi emisi karbon hingga 26% pada 2020 (G-20 Summit di Pittsburgh dan COP 15 Copenhagen), tetapi fakta di lapangan dan dimata rakyat menterinya secara berjamaah menggunakan mobil ber- cc besar dan boros BBM…

311209 15:30
Gie Gustan
Pendapat Pribadi

Rabu, 24 Desember 2008

Elpiji dimana engkau berada ?


Beberapa minggu ini ada sedikit di DKI dan sekitarnya dimana setiap warung pada tulisan di depan pintunya selalu menuliskan GAS KOSONG atau di setiap agent pertamina terutama gas selalu mengantri dan juga banyaknya tabung gas kosong hingga menutupi pintu masuk, dan ternyata tidak hanya di JABODETABEK bahkan di belahan daerah di negara ini pun nasibnya sama, ada apa ini?

Ternyata pasokan gas lpj untuk ukuran 3 kg dan 12 kg kosong sudah beberapa hari, karena pabrik ntuk mengisi dan mengedarkan gas lpj yang selama ini dikonsumsi oleh ibu-ibu, tukang mie ayam dan gorengan sedang mengalami kerusakan sehingga arus distribusi sedikit terganggu ?

Kejadian ini bukan untuk pertama kali setidaknya menurut catatan RKMdalam satu tahun pasti ada 3 kali kejadian hilangnya gas elpiji di pasar, alasan yang mereka keluarkan selalu itu kilang pertamina di Balongan kalau tidak rusak pasti
dalam tahap perawatan, sementara rakyat hanya bisa mengantri dan mengelus dada sampai bertanya dalam hati sampai kapan ini terus terjadi.

Seharusnya Pertamina sebagai badan yang di akui negara untuk mengurusi masalah ini kalau menurut ( maaf!?) tidak BECUS, kenapa tidak becus ? kita bisa lihat setiap ada masalah hilangnya gas, pihak Pertamina hanya bisa mengucapkan maaf tanpa ada tindakan lanjut misalnya mengejar perbaikan secepat mungkin misalnya 24 jam terus \endash menerus, tetapi yang ada malah mengatakan perbaikan membutuhkan waktu paling cepat 21 hari misalnya..

Yang menjadi pertanyaan adalah dengan kondisi ini berarti semua pihak harus menunggu sampai ada kejelasan dan nyata di lapangan, apakah Pertamina MAU menanggung kerugian yang diakibatkan kelalain perusahaan terhadap masyarakat pengguna ? misalnya menggratiskan biaya gas mulai dari kilang itu rusak hingga diperbaiki, dan juga mengganti rugi uang sebesar 10 x jumlah tabung yang dimiliki oleh ibu-ibu rumah tangga, tukang mie ayam, tukang bakso, tukang nasi goreng misalnya tukang mie ayam dia akan mendapatkan ganti rugi sebesar Rp. 170,000 untuk satu tabung ukuran 3 kg atau misalnya seorang ibu rumah tangga akan mendapat kerugian sebesar Rp. 550,000 untuk satu tabung ukuran 12 kg mau pertamina ?

Seharusnya sebagai badan yang diakui negara dalam urusan perminyakan dan tambang bisa benar-benar melayani rakyat dengan sepenuh hati bukan seperti ini hanya dengan dibalas dengan ucapan maaf dengan sangat manis sekali oleh bagian hubungan masyarakat
dengan senyuman, sementara rakyat hanya bisa menunggu, sependapat dengan ucapan salahsatu pejabat kalau bisa kilang itu tersebar disemua pulau di Indonesia bukan hanya satu-dua tempat saja sehingga jika ada kilang yang rusak bisa langsung diambil alih oleh kilang di daerah lain untuk memasok kebutuhan gas untuk rumah tangga dan UKM, dan yang paling utama adalah transparansi dalam apapun. Juga adanya kelangkaan ini bukti kelalaian dan ketidak pekaan pemerintah dalam memperhatikan rakyatnya, kita bisa lihat dulu gas 3 kg dibuat untuk apa? Untuk menghilangkan minyak tanah dari dapur rakyat miskin, tetapi pada awal-awal pemerintah tidak mempersiapkan segalanya seperti untuk isi ulangnya bahkan jaminan keamanan dari gas 3 kg itu tidak diperhatikan, pembaca mungkin sudah beberapa kali baca berita di media massa tentang ledakan kompor dan kebakaran yang diakibatkan gas 3 kg ini bukan ? tetapi tidak ada jawaban dan permintaan maaf sama sekali yang ada mana menyalahkan konsumen.

Kemudian setelah banyaknya beredar gas 3 kg lambat laun minyak tanah ditinggalkan karena harganya yang menjulang hingga ada yang mencapai Rp. 10,000 untuk satu liter, dan sekarang dengan hilangnya gas, tidak mungkin rakyat kembali ke minyak tanah dengan kondisi harga minyak tanah Rp. 10,000 untuk satu liter sedangkan dananya saja pas-pasan.

Yang harus menjadi perhatian oleh perusahaan ini supaya jelas benarkah kilang minyak itu rusak atau hanya sekedar isu, kiranya perusahaan ini dan negara menjelaskan secara detail dan nyata kalau perlu jurnalis di ajak ke tempat kerusakan dan memberitakannya
sehingga rakyat percaya bahwa hilangnya gas dari peredaran karena kerusakan bukan karena misalnya di timbun atau dikuasai oleh agent-agent gas besar yang kepemilikkannya dimiliki oleh pejabat dan mantan pejabat.

Apakah hilangnya gas-gas ini tidak akan terulang lagi di tahun 2009 yang tinggal menghitung hari atau masih saja terjadi ? kita lihat saja nanti bagaimana tanggung jawab perusahaan ini terhadap rakyat yang telah menggunakan
gas walaupun sangat berat dari segi dana dan lebih baik menggunakan minyak tanah walaupun tidak baik untuk kesehatan kita lihat saja nanti.

Gas..gas.. dimana engkau..

Senin, 03 November 2008

Harga BBM di turunkan ? Yakin tuch !


Beberapa minggu ini, disejumlah media banyak menurunkan berita tentang banyak pihak yang meminta pemerintah untuk menurunkan harga minyak terutama premium, karena melihat turunnya harga minyak dunia.

Tetapi sampai sekarang pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia belum ada penjelasan dan langkah nyata dalam menjawab saran daripada kalangan perminyakkan untuk menurunkan harga premium yang ketika pemerintah menaikkan sempat terjadi beberapa demo yang hampir mengakibatkan pertumpahan darah.

Pertanyaan sekarang perlukah harga Premium yang biasa di”minum” transportasi masyarakat Indonesia terutama angkutan umum diturunkan ? kalau menurut penulis apa yang dikatakan oleh para pengamat perminyakkan dan gas untuk diturunkan harga minyak terutama premium mengingat harga minyak dunia turun drastis ada perlunya tapi harus diingat para pengamat (penulis dalam tulisan ini bukan ahli perminyakkan yang setiap pernyataan yang dikeluarkan dinantikan oleh sejumlah media), apakah kapasitas turunnya harga minyak dunia selamanya atau hanya sementara ?

Kalau harga minyak itu turun yang bersifat selamanya, bolehlah kita meminta pemerintah untuk menurunkan harga premium paling tidak turun sekitar Rp.1,000 – 5,000 kalau ini diturunkan harga minyak, secara tidak langsung harga kebutuhan pokok pun turun dan kembali normal, ITU kalau bersifat selamanya, bagaimana kalau harga minyak dalam negeri kita diturunkan kemudian TIBA-TIBA harga minyak dunia naik, kalau naiknya hanya sekian persen tetapi kalau naiknya sampai lima puluh bahkan seratus persen dari harga minyak dunia saat ini, apakah pemerintah mau mengembalikan harga minyak ke harga semula, dan pemerintah mau meminta maaf dan menjaga emosi rakyat Indonesia yang semakin hari tidak terkontrol, dan stabilitas keamanan dan pasokan kebutuhan pokok terganggu, apakaj anda berani turun ke jalan membantu pemerintah untuk mengontrol emosi rakyat kalau harga minyak naik!

Ini bukan maksud melecehkan para pengamat perminyakkan dan Sumber Energi, tetapi kalau menurut penulis, untuk menjaga kestabilan negara ini, lebih baik harga minyak tidak perlu diturunkan, kenapa? Ya ..seperti yang penulis utarakan diatas, kalau bersifat selamanya harga minyak itu stabil kita bisa turunkan tetapi kalau ditengah jalan tiba-tiba harga minyak dunia naik bagiamana, tentunya akan merepotkan semua lapisan pemerintah dalam hal ini kalkulasi keuangan negara, toch lagipula hanya negara kita kok dari semua negara dunia manapun yang harganya minyaknya paling murah, kalau dibandingkan dengan negara gajah putih, Thailand dimana harga satu liter bensin kalau tidak salah kalau dikurs-kan ke Rupiah sekitar Rp.13,000 sementara Indonesia Rp. 6,000 untuk satu liter bensin !

Kita tidak tahu apa yang menyebabkan harga minyak dunia turun, bisa turun karena adanya krisis global yang melanda semua negara di bumi ini, atau nantinya harga minyak naik mungkin pada saat pemilihan Presiden Amerika Serikat dan berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh Ruang Ouval oleh Presiden baru ketika memulai kegiatan kenegaraannya untuk pertama kali sebagai Presiden, kita juga tidak tahu bagaimana negara-negara penghasil minyak melihat kinerja Amerika dengan Presiden barunya terkait kebijakan politik luar negeri dalam hal ini soal masalah timur tengah dan keberadaan pasukan mereka dinegara-negara konflik, itu harus menjadi catatan kita.

Jadi apakah negara akan menurunkan harga minyak karena desakan para pengamat perminyakkan dan masyarakat tetapi tiba-tiba harga minyak naik di tengah jalan, atau tetap berpendirian bahwa harga minyak dunia turun tidak berpengaruh terhadap minyak dan pasokannya untuk dalam negeri karena bagaiamanapun naik-turun harga minyak tetap saja rakyat hidup susah, kita lihat saja !…


Tj.Priok 021008 15:45

RKM – 21

Senin, 27 Oktober 2008

Pelayanan VS Kesehatan


Judul diatas untuk memperingatkan kepada para pengusaha semua bidang agar lebih memperhatikan kesehatan karyawannya ketimbang meningkatkan mutu pelayanan, kenapa penulis menulis itu dikarenakan ada sebuah surat terbuka yang ditulis oleh seseorang dan dikirim melalui email ke penulis.

Jadi ada seseorang sebut saja Budi, dia seorang eksekutif muda mempunyai mobil mewah keluaran Eropa dan mempunyai kebiasaan selalu mengajak ngobrol siapa saja yang ia temui, suatu ketika ia sedang mengisi bensin disebuah pom bensin (tidak disebutkan apakah pom bensin ini milik negara atau milik perusahaan minyak asing) dan mengajak ngobrol daripada para karyawan pomp bensin ini dan itu selalu terus dia lakukan ketika mobil mewahnya kehabisan bensin, dan pertanyaan dari si Budi kepada setiap karyawan pom bensin yang ia temui adalah apakah mereka tidak pusing dengan bau atau uap dari bensin setiap hari dan kenapa tidak menggunakan master ?

Perusahaan melarang mereka memakai masker karena demi pelayanan ke pelanggan. Mereka diwajibkan untuk tetap tersenyum ketika melayani pelanggan. Mereka bilang, kalau mereka pakai masker, mereka tidak bisa lagi menunjukkan senyum mereka ke nasabah dan itu akan dianggap tidak sopan karena tidak menghargai pelanggan

Karena Budi baru berdiri sebentar saja ketika menghirup uap bensin itu badannya sudah sempoyongan dan sedikit pusing, dan jawaban mereka sama seperti apa yang dilakukan oleh Budi, mereka merasakan sesak di dada dan akan menjadi sesak sekali kalau mereka sedang dihinggapi penyakit flu, lalu ketika ditanya oleh Budi kenapa tidak menggunakan master saja kalau mereka merasakan sesak di dada, tetapi jawaban mereka inilah yang membuat Budi dan penulis serta banyak pembaca dan pengunjung akan terkaget dengan jawaban dari karyawan pom bensin ini.

Jawaban mereka adalah kebijakan perusahaan. Perusahaan melarang mereka memakai masker karena demi pelayanan ke pelanggan. Mereka diwajibkan untuk tetap tersenyum ketika melayani pelanggan. Mereka bilang, kalau mereka pakai masker, mereka tidak bisa lagi menunjukkan senyum mereka ke nasabah dan itu akan dianggap tidak sopan karena tidak menghargai pelanggan, dan jam kerja mereka adalah 24 jam dengan sistem pergantian karyawan atau Shift 8-9 jam, Kaget dan bisa bayangkan kah anda kondisi itu jika anda menjadi mereka !

Memang memberikan pelayanan kepada pelanggan memang sangat perlu tapi apakah perlu harus mengorbankan fisik seseorang untuk memuaskan pelanggan terhadap kerja kita ? kalau menurut penulis apa yang menjadi kebijakan perusahaan pom bensin ini sudah sangat konyol mereka hanya mementingkan kepuasaan pelanggan, dan keuntungan nominal Rupiah ketimbang memperhatikan kesehatan karyawannya, karena tanpa karyawan ini sebagai ujung tombak keuntungan nominal Rupiah itu tidak akan didapat.

Mungkin bukan Cuma bidang pom bensin saja kali yang hanya berorientasi kepada keuntungan nominal Rupiah daripada segi kesehatan, kita bisa lihat pabrik-pabrik garment, kuli bangunan proyek pembangunan gedung atau pabrik yang cara kerjanya menggunakan suatu bahan yang mungkin kalau tercium menimbulkan sesak atau gangguan pernapasan tidak mengindahkan kaidah yang sudah diterapkan oleh Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia dimana setiap pekerjaan harus menggunakan masker.

Lantas kalau karyawan pom bensin ini terinfeksi atau mendapatkan penyakit misalnya flu atau sesak yang sangat akut dan menyerang otak hanya karena harus memberikan senyuman kepada pelanggan setiap hari selama 8-9 jam, apakah perusahaan bensin itu mau menanggung penuh sampai sembuh penyakitnya seperti normal kembali ? paling juga hanya berapa persen kalau tidak ya disuruh mengundurkan diri, itulah kebijakan yang selama ini penulis lihat di perusahaan di negara ini kalau ada karyawan yang menurut perusahaan tidak bisa lagi membantu bahkan menyusahkan perusahaan disuruh mundur.

Jadi tolonglah kepada perusahaan minyak baik milik negara atau asing yang mengoperasikan sejumlah pom bensin di negara ini kiranya anda lebih memperhatikan kesehatan karyawan anda, penulis lebih setuju dan elegant kalau mereka menggunakan masker ketika bekerja, konsumen pun mengerti kalau mereka bekerja ditempat yang beresiko, toch tanpa senyuman pun kalau mereka bekerja dengan baik dan pelanggan mereka puas tidak menjadi masalah daripada hanya memamerkan gigi mereka yang putih bersih bak mutiara dengan lesung pipi yang menjorok kedalam tetapi pelayanannya tidak jauh daripada tukang bensin eceran di pinggir jalan percuma saja, betul tidak !

Menurut anda, memuaskan pelanggan dan mendapatkan keuntungan nominal Rupiah dengan resiko mengorbankan kesehatan karyawan, ATAU memuaskan pelanggan dan mendapatkan nominal Rupiah sejalan bersamaan dengan memperhatikan kesehatan karyawan ?

Itulah jawaban anda untuk anda sampaikan kepada para pemilik bahkan pimpinan perusahaan minyak ketika anda sedang mengisi bensin !

Plumpang 251008 13:30

RKM 21-28-30


Sabtu, 16 Agustus 2008

SBY… Penghematan apa lagi yang anda mau !


Beberapa hari ini DKI dan kota-kota di negara ini semakin lama semakin tidak menentu nasibnya karena hampir setiap jam selalu ada saja aksi demo yang dilakukan baik oleh mahasiswa atau masyarakat sehubungan dengan naiknya harga Bahan Bakar Minyak – BBM yang tadinya berkisar di Rp. 4,500 sekarang menjadi Rp. 6,000 untuk satu liter, dan lebih parahnya adalah hari-hari ini harga minyak di pasar dunia menembus level US $ 145 untuk satu liter ( silakan anda konversikan sendiri dari Dollar Amerika ke Rupiah, capek ).
Setelah harga BBM menembus isu US $ 145, lantas apakah negara akan menaikkan kembali harga minyak setelah pemerintah melakukan kebohongan publik dimana pada tahun 2005 lalu dengan lantangnya sang Presiden di Istana ketika kalau tidak salah selepas melantik Kepala Staff mengatakan bahwa sehubungan dengan harga minyak yang melambung harga kebutuhan minyak di dalam negeri belum ada perubahan, tetapi kenyataannya malah NAIK !! ini jelas sekali kebohongan publik.


Belum lagi kabarnya Indonesia keluar dari induk organisasi penghasil minyak dunia atau OPEC, alasan keluar hanya untuk menekan dan mengawasi aliran minyak untuk kebutuhan dalam negeri tetapi usut punya usut negara kita sebelum menyatakan keluar dari organisasi OPEC sudah membayar uang keanggotaan sampai Desember tahun depan kalau seperti ini jelas rugi donk udah bayar keanggotaan malah keluar.


Ada apa dengan pemerintah yang semakin lama semakin tidak jelas menghadapi badai minyak dunia ini ibarat orang yang kebakaran jenggot. Sebenarnya kalau kita bisa melihat dari dampak harga minyak ini kita tidak perlu pusing karena kita sebagai penghasil minyak seharusnya kita bisa sabar dan bahkan untung karena kita juga mengekspor minyak, tetapi kenyataannya ?
Mungkin inilah karma yang diterima pemerintah dari Tuhan karena tidak beresnya kinerja daripada para pejabat terutama di sector migas yang seenaknya bahkan dibego-bego-in sama perusahaan minyak dunia, kita bisa lihat di tiap daerah negara ini pasti ada perusahaan minyak asing yang mana komposisi bagi hasilnya tidak jelas apakah yang untung pemerintah atau perusahaan minyak asing itu yang untung besar.
Seharusnya kita bisa menekan tingkat kegiatan dan bagi hasil dari perusahaan-perusahaan minyak asing itu, bagaimana caranya ? contohlah negara yang dipimpin oleh Presiden yang berlatar belakang petani koka Evo Morales yaitu Bolivia, dimana dalam hari-hari pertamanya menjabat sebagai Presiden Bolivia beliau mengundang semua kepala perwakilan dari perusahaan-perusahaan minyak asing yang sedang mengeksploitasi minyak di negaranya dan meminta mereka menandatangani kesepakatan bagi hasil dimana pemerintah Bolivia mendapatkan keuntungan dari eksploitasi perusahaan minyak asing itu sebanyak 70-85 % sedangkan perusahaan minyak tersebut hanya mendapatkan 15-20% saja, awalnya para perusahaan ini menolak dengan keras tapi lambat laun mereka lulu juga, kenapa juga model seperti ini diterapkan di Indonesia ?


Penghematan


Akibat dari harga minyak yang melambung ini, pemerintah mengeluarkan kebijakan penghematan yang ditujukan kepada semua lapisan tapi kalau menurut penulis hanya di lapisan bawah saja yang disuruh berhemat, tetapi bagaimana denga lapisan atas ? sudah terbukti lewat sebuah tayangan dimana sejumlah gedung pemerintahan yang pada siang hari yang mana matahari sudah diatas kepala dan masuk ke ruangan masih menyalakan lampu, soal hemat bensin pun penulis masih sangsi dengan apa yang dianjurkan oleh Presiden karena presiden sendiri setiap melakukan kegiatan yang bersifat kenegaran berapa banyak liter bensin yang keluar jika presiden setiap kegiatan selalu dikawal dengan full kawalan paspamres, belum lagi jika keluar negeri untuk kunjungan kenegaraan atau menghadiri sebuah forum atau konfrensi tingkat kepala negara dan pemerintah.


Jadi saran penulis kepada pemerintah, tolong anda berkaca dulu sebelum anda berbicara atau memberikan wejangan kepada masyarakat lewat media, rakyat sudah dari jaman adam dan hawa melakukan yang namanya penghematan mulai dari listrik hingga bingung apalagi yang harus dihemat, maksudnya adalah berikanlah contoh kepada masyarakat negara ini yang jumlah hampir 220 juta jiwa ini bagaimana pengertian hemat dan bukti nyata dari kata hemat itu sendiri, kalau itu sudah bisa dijalankan secara otomatispun rakyat akan percaya dan akan melakukan apa yang pemerintah lakukan dalam hal berhemat bukan seperti saat ini.
Apakah benar pemerintah menganjurkan agar semua lapisan berhemat untuk menstabilkan konsumsi minyak bumi di negeri ini ? atau hanya lapisan bawah saja yang berhemat ? kita tunggu saja….