Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Desember 2010

Jangan Salah kan Kondom, Salahkan Kelamin dan Orangtua mu !!


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagaian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf

Setiap tanggal 1 Desember tiap tahun semua negara merayakan yang namanya Hari AIDS se-dunia (World AIDS Day) dimana setiap tanggal tersebut setiap tahun kita selalu diingatkan tentang bahaya yang namanya AIDS yang sekarang ini seperti sudah menjalar dan lebih berbahaya daripada penyakit apapun.

AIDS- Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah sekumpulan gejala dan fisik atau lebih dikenal dengan sindrom yang timbul karena rusaknya sistem kekealan tubuh manusian akibat infeksi virus HIV. AIDS sendiri adalah penyakitnya, sedangkan virus yang membuat AIDS ini bertumbuh dan berkembang biak dalam tubuh manusia yang menderita adalah HIV-Human Immunodeficiency Virus. Awal mula penyakit ini banyak ditemukan dalam komunitas penyimpangan seksual homoseksual, tetapi lambat laun perkembangan daripada virus ini bukan hanya karena hubungan kelamin sejenis atau seksual yang berganti-ganti pasangan tetapi sudah lebih kepada para pengidap dan pemakai narkoba.

Banyak acara yang di buat oleh berbagai komunitas dan NGO dalam menyadarkan masyarakat agar waspada supaya tidak terjerat dan terinfeksi yang namanya AIDS itu mulai dari penyuluhan hingga apresiasi musik, tetapi ada satu hal yang membuat penulis agak heran dengan sebuah kelompok yang berbasis sebuah agama yang agak fundamentalis dan konservatif dimana pemikiran mereka tentang AIDS maupun HIV-nya masih sedikit dimana mereka menolak himbauan pemerintah agar mencegah AIDS dengan memberikan kondom secara gratis, karena menurut mereka dengan adanya pemberian kondom secara gratis maka pemerintah secara tidak langsung melegalkan praktek sex bebas ?

Pertanyaan sekarang adalah bukankah fungsi kondom itu adalah sebagai media untuk mencegah tertularnya penyakit menular seksual yang mungkin ada dalam tubuh si pria atau wanita, kalau tidak begitu mau berapa banyak lagi manusia harus hidup dengan penyakit menular seksual di bumi ini kalau tidak dicegah dengan penggunaan kondom benar tidak ?!

Salahkan Orangtua Anda !

HIV-AIDS sekarang ini bukan lagi bersumber dari komunitas penyimpangan seksual tetapi sudah menyebar dari manapun, pemakai narkoba pun bisa tertular atau orang yang mentransfusikan darahnya pun bisa tertular walaupun masih banyak orang beranggapan bahwa dengan hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan bisa tertular.

Kenapa hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan bisa tertular atau beberapa bulan lalu ada semacam riset yang mengatakan bahwa hampir 50 % daripada jumlah penduduk golongan remaja di beberapa kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Yogyakarta, Medan, Bandung dan Surabaya SUDAH TIDAK PERAWAN !! dan pernah melakukan hubungan intim karena tidak ada penjelasan apa itu seks dari orangtua, guru kita benar tidak ?

Coba penulis bertanya kepada orang-orang yang membaca tulisan ini, ketika ada memasuki usia pubertas (antara umur 12 sampai 20 tahun ) PERNAH kah sekali lagi PERNAH kah anda duduk bersama dengan orang tua anda berdiskusi tentang apa itu seks, apa itu Penis, apa itu Payudara, Apa itu Vagina, Bagaimana bayi bisa terbentuk dan keluar dari rahim seorang wanita setelah sembilan bulan di dalam PERNAH KAH ? atau PERNAH kah anda bersama orang tua anda duduk bersama menjelaskan dengan menggunakan media misalnya film porno untuk menceritakan bahwa apa yang boleh di lakukan seperti di tayangan itu ketika sudah menikah dan kalau belum menikah sudah melakukan itu maka resikonya adalah hamil dan terkena penyakit menular, PERNAH KAH ? atau sebaliknya anda sebagai orang tua PERNAH KAH anda memberikan pendidikan seksual seperti apa itu Penis, apa itu Vagina, apa itu Payudara, apa itu kondom, apa itu menstruasi kepada anak anda baik itu yang pria maupun yang wanita ketika memasuki masa pubertas PERNAH KAH ?

Pasti jawaban yang terlontar dari mulut pembaca ketika pertanyaan ini diberikan adalah seragam yaitu TIDAK PERNAH, benar tidak ?! karena pastinya orang tua kita masih mengganggap bahwa seks atau seksual itu adalah TABU, PANTANG, TIDAK PANTAS untuk di bicarakan ke publik apalagi kepada anak sendiri yang sedang menjalani masa pubertas, jadi SALAH KAN ANDA SEBAGAI orang tua ketika anak anda misalnya sudah tidak perawan, atau hamil di luar nikah karena apa ? karena dari rumah TIDAK PERNAH di berikan secara transparan dan seluas-luasnya tentang pendidikan seks jadinya anak itu akan mencari tahu dan jawabannya dari apa yang ada di pikiran mereka tentang apa itu Penis, apa itu Vagina, apa itu kondom dari ucapan-ucapan teman-temannya yang sudah mencobanya benar tidak ?!

Dan juga dalam dunia pendidikan pun guru pun tidak pernah memberikan materi tentang Pendidikan Seks, kalaupun diberikan persentasenya pun sedikit dan itu pun secara tidak langsung masuk dalam pelajaran biologi dan materi waktunya pun sedikit benar tidak ? menurut penulis yang pernah baca bahwa pendidikan di luar negeri sana dimana selalu ada materi pendidikan seksual walaupun dalam dunia nyata banyak kasus hubungan intim yang tidak diinginkan tetapi setidaknya pendidikan di luar negeri lebih transparan daripada pendidikan di dalam negeri yang terkesan munafik dan selalu termakan dengan BUDAYA TIMUR tetapi akhirnya terbukti berapa banyak perempuan muda yang sudah terbiasa melakukan hubungan seksual bahkan hamil di luar nikah benar tidak ?

Jadi menurut penulis jangan salah kan kondom atau pemerintah yang membagi-bagikan kondom secara gratis kepada masyarakat luas sebagai alat untuk mencegah terjangkitnya penyakit menular seksual seperti HIV-AIDS sebagai persetujuan akannya seks bebas, tetapi tanya lah dalam nurani anda sebagai orang tua PERNAH kah anda bersama anak anda yang perempuan dan pria duduk bersama untuk menjelaskan tentang apa itu seks beserta isi-isinya atau JANGAN-JANGAN anak anda SUDAH LEBIH MAHIR DAN JAGO dalam ber-seks dengan pasangannya saat ini bahkan bisa menjelaskan kepada anda ketika anda mencoba memancingnya dengan sebuah pertanyaan ?

Medan Merdeka Barat, 021210 11:00
Rhesza
Pendapat Pribadi

Minggu, 21 Maret 2010

Bisakah Rokok di hapus di Indonesia ?


Belakangan ini marak sekali pemberitaan tentang adanya fatwa haram bagi para perokok oleh salah satu organisasi keagamaan yang ada di negara ini, akibat munculnya fatwa haram merokok ini banyak menimbulkan pro dan kontra, bahkan ada isu bahwa organisasi keagamaan ini mengeluarkan fatwa merokok ini terkait adanya gelontoran puluhan ribu Dollar Amerika Serikat dari salahsatu pengusaha yang juga kalau tidak salah menduduki posisi penting di salahsatu negara bagian Amerika Serikat.

Terlepas dari itu semua penulis coba melihat dari sisi penulis bukan mendukung atau menolak fatwa haram ini, kita semua tahu bagaimana efek terutama kesehatan bagi para perokok tidak hanya perokok aktif tetapi perokok pasif, sudah banyak orang yang mati akibat merokok seperti Jantung, TBC, kelainan pada janin dan sebagainya tetapi pertanyaannya adalah bisakah negara ini menutup bahkan menjamin kalau Indonesia dari ujung Sabang sampai Merauke dari Mianggas hingga Pulo Rote bebas asap rokok ?


Kalau menurut penulis pemerintah tidak akan mampu menutup pabrik rokok, kenapa ? kita tahu bagaimana “asetnya” rokok ini untuk negara ini, 80 % dari pendapatan negara berasal daripada cukai rokok, kemudian kita bisa lihat tayangan olahraga yang anda tonton misalnya Liga Inggris, Liga Spanyol, Liga Indonesia atau tayangan siaran langsung balap motor, bulutangkis, konser musik itu semua berasal daripada produsen rokok walaupun salahsatu konser musik sudah tidak lagi berhala kepada produsen rokok untuk mendapatkan dana operasional mereka dan berahli kepada produsen operator selular dan perbankan tetapi tetap saja rokok lah yang berperan dalam kehidupan di negara ini benar tidak ?

Ada dua pertanyaan untuk para yang membuat fatwa larangan rokok dan yang menyetujui penutupan pabrik rokok adalah pertama, kalaupun pabrik rokok ini ditutup atau dilarang oleh negara, apakah negara bisa menjamin kehidupan ratusan ribu karyawan pabrik rokok ini beserta keluarganya setelah ditutup sementara kita tahu berapa persen dari penduduk Indonesia yang mengalami kemiskinan, pengangguran, gizi buruk dan masih banyak masalah sosial lainnya bisa tidak ?

Kedua, apakah negara ini bisa menyediakan beratus bahkan beribu hektar tanah dan juga bibit tanaman unggul untuk menjadi modal para pekerja pabrik rokok ini jika benar di tutup dan dilarang beredar di wilayah Indonesia, sementara kita tahu bagaimana kondisi geografis di negara ini, sudah tidak ada lagi lahan untuk pertanian yang ada sekarang adalah lahan untuk apartemen, Mall, jembatan atau fly-over bahkan untuk sarana olahraga pun negara dan pemerintah daerah tidak mampu menyediakannya, bahkan pada periode tertentu kita harus bersabar dengan iklim yang sulit diprediksi bisakah itu terwujud ?

Menurut penulis, masalah rokok itu haram atau tidak lebih baik dikembalikan kepada orangnya, janganlah kita ingin seperti atau jauh lebih depan daripada Tuhan, toch yang melakukan dan merasakan efek langsung dari rokok itu adalah para pengguna atau perokok itu sendiri walaupun kita juga yang tidak merokok malah lebih banyak kenanya, dan juga nantinya pada akhirnya ketika kita diminta pertanggungan jawab oleh sang Kuasa di akhir dunia kita bukan sang fatwa melainkan diri kita masing-masing betul tidak ?!


Malang, 100310 :14:00

Gie Gustan
Pendapat Pribadi

Sabtu, 26 Desember 2009

Coin Power


Beberapa bulan belakangan ini kita disuguhkan baik itu di media cetak atau media elektronik atau jaringan online seperti blog dan milis adanya mengajak untuk membantu seseorang dengan mengumpulkan uang logam atau koin.

Iya itu adalah gerakan koin cinta, dimana masyarakat Indonesia yang tergerak hatinya bisa memberikan atau menyumbangkan koin yang mereka miliki untuk membantu Prita Mulyasari dalam membayar denda yang diminta oleh Pengadilan kepada Rumah Sakit Omni Internasional.

Penulis tidak perlu lagi menjelaskan apa yang terjadi terhadap kasus Prita karena semua orang pun tahu permasalahannya. Menurut penulis apa yang dicetuskan oleh beberapa ibu terhadap penggalangan koin ini ada dua sisi dimana satu sisi ada rasa kebersamaan senasib dan sepenanggungan sebagai sesama ibu rumah tangga dan sisi lain adalah sebagai bentuk pemberontakan bahwa idiom itu ternyata tidak berlaku bagi rumah sakit ini yaitu “ Pembeli adalah Raja “ pembeli dalam hal ini bisa juga dikatakan sebagai pasien.

Apa yang dialami Prita pun pernah kita alami, masalahnya adalah sebagian orang ada yang tidak seperti apa yang dilakukan Prita dimana ketika haknya sebagai pasien atau konsumen tidak diberikan secara penuh oleh suatu lembaga membeberkannya kepada khalayak supaya sebagai pembelajaran agar apa yang dialaminya tidak terjadi oleh banyak orang.

Penulis berpikir apa yang dilakukan oleh Prita dalam hal membeberkan masalahnya kepada khalayak adalah tidak ada masalah, yang menjadi masalah adalah pihak yang dituliskan oleh Prita yang tidak senang karena mereka berprinsip (mungkin) apa yang mereka lakukan sudah benar walaupun didalamnya tetap bobrok. Seperti apa yang menjadi HAK dari prita selaku konsumen dan pasien tidak diberikan oleh pihak Rumah Sakit terutama dua dokter tersebut.

Penulis heran ketika aksi ini sudah mulai menunjukkan keseriusannya tiba-tiba pihak rumah sakit mengeluarkan isu bahwa pihak mereka setuju dengan mediasi yang direkomendasikan oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia untuk berdamai dan mencabut tuntutan perdata dengan denda Rp. 204 juta dengan syarat meminta Prita meminta maaf kepada pihak Rumah Sakit atas apa yang diperbuat untungnya Prita tidak gentar dan larut dengan apa yang diminta rumah sakit itu, penulis salute dengan sikap mbak Prita…

Bahkan penulis sempa guyon kepada beberapa temen setelah mendengar isu adanya akan dicabutnya pelaporan perdata oleh rumah sakit setelah maraknya pengumpulan koin, mungkin rumah sakit bingung menghitungnya kalau Rp. 204 juta itu dalam bentuk koin diberikan kepada mereka makanya mereka mencabut gugatan perdatanya :-D

Yang menjadi pertanyaan sekarang terutama kepada pihak rumah sakit adalah, kalau Prita sudah minta maaf lalu bagaimana dengan dua dokter yang memeriksa Prita apakah mereka juga akan menjelaskan dan juga meminta maaf kepada Prita atas apa yang mereka lakukan karena tidak bisa memberikan apa yang menjadi hak dari Prita dan bagaimana dengan kasus Pidanannya?

Mungkin kejadian ini menyadarkan kepada siapapun terutama para lembaga publik agar dalam memberikan pelayanan itu selalu berprinsip “ Konsumen adalah Raja” dan melayani dengan sepenuh hati dan jangan ada yang ditutup-tutupi begitu juga dengan konsumen agar jangan ragu untuk bertanya dan meminta jawaban yang sedetail-detailnya dengan bahasa yang mudah kita mengerti karena apa yang dialami oleh Prita ini adalah bukti refleksi dari kita semua karena kita orang awam dan buta akan yang namanya medis atau apapun jadinya kita hanya iya-iya saja walaupun itu hak kita untuk meminta penjelasan secara detail.

Dan juga dengan kejadian ini mengkritik juga kinerja aparat keamanan, agar dalam melihat masalah ini lebih kepada nurani bukan kepentingan, dan juga pesan penulis kiranya para aparat keamanan ini mulai dari penyidik lebih mengenal dan tahu akan perkembangan teknologi yang sedang marak saat ini..

Apakah kasus Prita ini pertama dan terakhir serta bisa membuka mata dan hati bagi para lembaga konsumen agar memberikan penjelasan secara detail dengan bahasa yang mudah dimengerti kepada konsumen yang meminta dan sesuai dengan idiom “ Pembeli adalah Raja” itu ada ? kita lihat saja nanti

Terus Berjuang Mbak Prita koin dan 220 juta lebih rakyat Indonesia dari sabang sampai Merauke dari Mianggas hingga Rote akan berada di belakang mu untuk mendukungmu…

Alam Sutera, 101209 15:10

Minggu, 22 November 2009

Menkes Gate

Tulisan ini bukan maksud untuk menjadikan suatu masalah tersebut menjadi sebuah skandal atau apa tetapi ada hal yang menarik untuk di liat dari kasus ini, dan sebelumnya penulis memohon maaf jika nanti didalam tulisan ini ada yang menyinggung atau membuat kuping pembaca panas dan merah karena tulisan ini hanya tulisan pendapat pribadi dan tidak bersifat memojokkan siapa pun.

Ada semacam tanda Tanya di semua kalangan ketika pak beye mengumumkan susunan cabinet ketika giliran pembacaan tokoh yang akan menduduki posisi menteri kesehatan ternyata apa yang diharapkan beberapa masyarakat termasuk wartawan jauh berbeda, padahal kita tahu beberapa hari sebelum dan sesudah pak beye di lantik banyak tokoh yang silih berganti ke kediaman pribadi beliau untuk di interview layaknya calon karyawan termasuk tokoh yang di prediksi tetapi apa karena semua keputusan itu berada di tangan pak beye maka hasilnya akhirnya pun ada di tangan pak beye.
Banyak orang melihat apa yang dilakukan oleh pak beye adalah sebuah langkah kontroversi, karena selama ini tokoh yang di gadang-gadang untuk posisi RI-30 ternyata tidak masuk dalam daftar urutan menteri yang ada nama baru yang sebenarnya agak masuk daftar hitam di lingkungan kerjanya.

Isu yang beredar kenapa tokoh ini tidak dipilih karena masalah test kesehatan yang gagal, karena itulah maka diganti dengan orang lain tetapi orang yang diganti ini justru bermasalah juga di internnya.

Terlepas dari itu semua, ada hal yang perlu dipertanyakan adalah kok bisa seorang yang jelas-jelas berlatarbelakang kesehatan bisa tidak lolos test medis dan kejiwaan, padahal sangat jelas sekali kalau tokoh ini adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia bidang Mata dan juga mempunyai ijin praktek yang tidak main-main, kenapa juga bisa sampai di tolak dan lebih memilih seseorang yang juga kontroversi dimana pernah membawa beberapa sample virus Flu Babi ke luar Indonesia tanpa ijin dari Menteri Kesehatan Republik Indonesia dan juga dekat dengan lembaga kajian riset kesehatan milik Amerika yang ada di Indonesia, NAMRU-2

Tapi bagaimanapun itu hak dari Presiden, penulis berharap dengan controversial dalam hal pemasangan menteri tidak menyurutkan kinerja Negara dalam mensejahterahkan rakyat dan memajukan bangsa ini.

14th floor

231009

Senin, 08 Desember 2008

Akhirnya…. Pak Beye Marah Besar


Mungkin sepanjang karier pak beye sebagai orang nomor wahid di negara ini, baru kali ini menutup tahun 2008 dengan kemarahan.


Ini terjadi ketika beberapa hari lalu ratusan penduduk Perumahan di Sidoarjo datang ke Istana untuk meminta bantuan kepada pemerintah pusat untuk meminta PT.Lapindo Brantas membayarkan apa yang menjadi hak mereka, karena sudah dua tahun peristiwa ini terjadi, dan hingga saat ini belum ada kejelasan sama sekali soal ganti rugi.


Penulis tidak perlu lagi menuliskan awal kisah ini, karena mungkin para pembaca sudah tahu kisah ini dari banyak media, yang menjadi pertanyaan sekarang termasuk penulis Kenapa SBY baru saat ini Marah, seharusnya ketika satu tahun peristiwa ini terlewati Marah ?


Selain soal ganti rugi yang tidak jelas, SBY juga marah dan mungkin sedikt geram karena sang bos dari peristiwa ini datang terlambat, padahal menurut staff protokel istana yang memantau mengatakan bahwa sang bos NB telah berada didekat istana sekitar pukul 12.00 karena terjebak massa dari korban Lapindo.
“terima kasih kepada pak sunarno yang telah bekerja keras dan bertangung jawab. masalah ini telah berjalan bertahun-tahun dan mengganggu pikiran saya berhari-hari. masalah aceh saja bisa kita selesaikan! kenapa ini tidak juga!”
Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden RI –

Kalau menurut penulis apa yang menjadi alasan SBY marah adalah sudah jelas, karena rakyat yang menjadi korban tidak pernah mendapatkan apa yang menjadi hak mereka, selain itu penyelesaian yang kesannya tidak profesional dan tidak bertanggung jawab, tapi ada satu kritikan RKM buat Presiden adalah, apa yang dilakukan oleh Lapindo Brantas seperti setengah-setengah dalam hal membayar kewajiban ganti rugi karena tidak tegas dan beraninya SBY terhadap perusahaan ini, bahkan menerbitkan surat keputusan, padahal kita tahu bahwa apa yang dilakukan oleh Lapindo Brantas adalah salah dan murni kecelakaan bahkan ketegori Kriminal kalau boleh mengadopsi pasal di Kepolisian BUKAN faktor alam dan itu dibuktikan lagi dengan adanya pertemuan sedunia ahli geologi.

Sehingga mungkin dengan adanya Surat Keputusan ini, membuat NB selaku bos Lapindo Brantas bisa santai-santai sejenak dan mungkin lebih memikirkan Timnas Indonesia menjelang SuzukiAFF Cup 2008, karena mungkin dipikiran beliau toch negara ini akan membantu sementara dalam hal ganti rugi karena alasan tidak punya dana buat ganti rugi (seharusnya perusahaan yang bekerja berada di lingkungan perumahan dan beresiko tinggi harus bisa mendepositkan keuangannya untuk hal yang tidak diinginkan), sehingga masalah ini berlarut hingga 2 tahun! Coba dari awal pemerintah tegas dalam menyelesaikan ini dengan aturan misal dalam jangka waktu 1 tahun semua korban baik yang terpeta-kan atau tidak akan mendapatkan ganti rugi (misalnya!) 300 sampai 1,000 kali lipat dari ketentuan ganti rugi yang berlaku di negara ini, kalau tidak sanggup sampai jangka waktu yang ditentukan maka pemerintah atas nama korban secara otomatis melaporkan ke pihak Mabes Polri, tetapi kenyataannya ?

Memang dengan marahnya Pak Beye membuat point atau citra positifnya naik paling tidak sudah ada modal awal untuk masuk Pemilu2009 mendatang, tetapi bagaimanapun pemerintah juga mempunyai andil dalam kasus ini, karena ya itu tadi adanya Keppres, kalau tidak ada Keppres mungkin rakyat Sidoarjo yang menjadi korban baik yang lahannya ter-peta atau tidak ter-peta tidak akan merasakan pahitnya seperti ini.

Menjadi pertanyaan adalah buat NB, adakah anda pernah datang, melihat, mendengarkan dari hati ke hati keluh kesah mereka dimana setiap hari mereka memikirkan bagaimana mereka hidup, anak mereka putus sekolah, bahkan untuk (maaf!?) perang kelamin antar suami-istri saja tidak lagi mereka lakukan karena sudah letih dan capai memikirkan nasib hidup mereka, apakah NB mau bertanggung jawab secara nurani dan moril mengembalikan psikologi mereka ke semula, karena setahu penulis sudah ada beberapa warga yang menjadi korban ini menjadi GILA !!!

Dan juga apakah NB mau bertanggung jawab secara nurani dan moril kalau ternyata di Sidoarjo banyak anak-anak usia sekolah dan produksi menjadi “Kupu-Kupu Malam” ataua bahasa anak sekarang adalah Lady Escort ++ karena tidak mampu bersekolah dan juga ingin meringankan beban orangtua, apakah anda NB mau bertanggung jawab secara moril ? coba Bapak NB bayangkan kalau dua hal ini terjadi pada anda, istri dan anak-cucu, menantu anda, sakit bukan !? itulah yang dirasakan oleh ribuan bahkan ratusan ribu korban kebringasan pekerja anda di Sidoarjo yang hanya mementingkan bagaimana minyak ini dijual ke luar negeri dan mendapatkan ratusan lembar kertas yang bergambar Mantan Presiden AS, George Washington, tentunya ini bukan warisan atau pepatah bijak yang disampaikan ayahanda anda bukan ketika berdiskusi tentang makna hidup antara kaya dan miskin ?

Benarkah kemarahan SBY mampu mengobati nasib dari ribuan korban Lapindo baik yang terpeta-kan atau tidak terpeta-kan, atau sama seperti yang lalu-lalu, marah sebentar tetapi dua minggu hingga satu bulan ke depan kemarahan dan bukti itu tidak ada yang ada hanya kegaulan kembali dari korban..dan itulah sikap yang selalu diberikan pejabat kepada rakyatnya dalam meraih empati dan simpati demi tingkat kepopularitas positif yang sesaat dan rakyat selalu menjadi korban!

Merdeka Selatan, 031208
RKM-21 / RKM- 29 / RKM-32 / Rvanca

Senin, 27 Oktober 2008

Pelayanan VS Kesehatan


Judul diatas untuk memperingatkan kepada para pengusaha semua bidang agar lebih memperhatikan kesehatan karyawannya ketimbang meningkatkan mutu pelayanan, kenapa penulis menulis itu dikarenakan ada sebuah surat terbuka yang ditulis oleh seseorang dan dikirim melalui email ke penulis.

Jadi ada seseorang sebut saja Budi, dia seorang eksekutif muda mempunyai mobil mewah keluaran Eropa dan mempunyai kebiasaan selalu mengajak ngobrol siapa saja yang ia temui, suatu ketika ia sedang mengisi bensin disebuah pom bensin (tidak disebutkan apakah pom bensin ini milik negara atau milik perusahaan minyak asing) dan mengajak ngobrol daripada para karyawan pomp bensin ini dan itu selalu terus dia lakukan ketika mobil mewahnya kehabisan bensin, dan pertanyaan dari si Budi kepada setiap karyawan pom bensin yang ia temui adalah apakah mereka tidak pusing dengan bau atau uap dari bensin setiap hari dan kenapa tidak menggunakan master ?

Perusahaan melarang mereka memakai masker karena demi pelayanan ke pelanggan. Mereka diwajibkan untuk tetap tersenyum ketika melayani pelanggan. Mereka bilang, kalau mereka pakai masker, mereka tidak bisa lagi menunjukkan senyum mereka ke nasabah dan itu akan dianggap tidak sopan karena tidak menghargai pelanggan

Karena Budi baru berdiri sebentar saja ketika menghirup uap bensin itu badannya sudah sempoyongan dan sedikit pusing, dan jawaban mereka sama seperti apa yang dilakukan oleh Budi, mereka merasakan sesak di dada dan akan menjadi sesak sekali kalau mereka sedang dihinggapi penyakit flu, lalu ketika ditanya oleh Budi kenapa tidak menggunakan master saja kalau mereka merasakan sesak di dada, tetapi jawaban mereka inilah yang membuat Budi dan penulis serta banyak pembaca dan pengunjung akan terkaget dengan jawaban dari karyawan pom bensin ini.

Jawaban mereka adalah kebijakan perusahaan. Perusahaan melarang mereka memakai masker karena demi pelayanan ke pelanggan. Mereka diwajibkan untuk tetap tersenyum ketika melayani pelanggan. Mereka bilang, kalau mereka pakai masker, mereka tidak bisa lagi menunjukkan senyum mereka ke nasabah dan itu akan dianggap tidak sopan karena tidak menghargai pelanggan, dan jam kerja mereka adalah 24 jam dengan sistem pergantian karyawan atau Shift 8-9 jam, Kaget dan bisa bayangkan kah anda kondisi itu jika anda menjadi mereka !

Memang memberikan pelayanan kepada pelanggan memang sangat perlu tapi apakah perlu harus mengorbankan fisik seseorang untuk memuaskan pelanggan terhadap kerja kita ? kalau menurut penulis apa yang menjadi kebijakan perusahaan pom bensin ini sudah sangat konyol mereka hanya mementingkan kepuasaan pelanggan, dan keuntungan nominal Rupiah ketimbang memperhatikan kesehatan karyawannya, karena tanpa karyawan ini sebagai ujung tombak keuntungan nominal Rupiah itu tidak akan didapat.

Mungkin bukan Cuma bidang pom bensin saja kali yang hanya berorientasi kepada keuntungan nominal Rupiah daripada segi kesehatan, kita bisa lihat pabrik-pabrik garment, kuli bangunan proyek pembangunan gedung atau pabrik yang cara kerjanya menggunakan suatu bahan yang mungkin kalau tercium menimbulkan sesak atau gangguan pernapasan tidak mengindahkan kaidah yang sudah diterapkan oleh Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia dimana setiap pekerjaan harus menggunakan masker.

Lantas kalau karyawan pom bensin ini terinfeksi atau mendapatkan penyakit misalnya flu atau sesak yang sangat akut dan menyerang otak hanya karena harus memberikan senyuman kepada pelanggan setiap hari selama 8-9 jam, apakah perusahaan bensin itu mau menanggung penuh sampai sembuh penyakitnya seperti normal kembali ? paling juga hanya berapa persen kalau tidak ya disuruh mengundurkan diri, itulah kebijakan yang selama ini penulis lihat di perusahaan di negara ini kalau ada karyawan yang menurut perusahaan tidak bisa lagi membantu bahkan menyusahkan perusahaan disuruh mundur.

Jadi tolonglah kepada perusahaan minyak baik milik negara atau asing yang mengoperasikan sejumlah pom bensin di negara ini kiranya anda lebih memperhatikan kesehatan karyawan anda, penulis lebih setuju dan elegant kalau mereka menggunakan masker ketika bekerja, konsumen pun mengerti kalau mereka bekerja ditempat yang beresiko, toch tanpa senyuman pun kalau mereka bekerja dengan baik dan pelanggan mereka puas tidak menjadi masalah daripada hanya memamerkan gigi mereka yang putih bersih bak mutiara dengan lesung pipi yang menjorok kedalam tetapi pelayanannya tidak jauh daripada tukang bensin eceran di pinggir jalan percuma saja, betul tidak !

Menurut anda, memuaskan pelanggan dan mendapatkan keuntungan nominal Rupiah dengan resiko mengorbankan kesehatan karyawan, ATAU memuaskan pelanggan dan mendapatkan nominal Rupiah sejalan bersamaan dengan memperhatikan kesehatan karyawan ?

Itulah jawaban anda untuk anda sampaikan kepada para pemilik bahkan pimpinan perusahaan minyak ketika anda sedang mengisi bensin !

Plumpang 251008 13:30

RKM 21-28-30