Tampilkan postingan dengan label Istana Watch. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Istana Watch. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 April 2011

Sama Wikileaks Kok Takut ?


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf

Wikileaks kembali membuat heboh dunia kali ini yang menjadi korban adalah negara kita sendiri yaitu Indonesia, dimana dalam laporan tersebut yang akhirnya di muat dalam dua koran Australia adalah adanya penyalahgunaan wewenang Presiden dalam menjalankan tugasnya seperti mengintervensi kasus korupsi pejabat nasional untuk segera di hentikan dan masih banyak kasus lainnya.

Akibat dari pemuatan berita Wikileaks di dua koran Australia yang kebetulan terbit berbarengan dengan kedatangan Wakil Presiden Republik Indonesia, Boediono ke negara tersebut kalangan istana pun kalang kabut mempersiapkan bantahan dan keterangan pers terkait dengan pemberitaan tersebut.

Ada beberapa pertanyaan yang penulis lihat ketika menyaksikan itu semua yaitu pertama, benarkah itu berita ada selama ini ? kedua, kenapa harus di bantah sampai beberapa pejabat ? ketiga, kenapa hanya Amerika yang di protes Indonesia tidak sekalian dengan Australia ?

Kita semua tahu lah bagaimana awal mula dari pada Wikileaks dimana web-site tersebut memuat semua laporan-laporan tentang situasi dunia yang di kirim oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat di dunia kepada Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat.

Kalau banyak orang terutama pejabat di negara ini mengatakan bahwa laporan itu adalah laporan sampah tetapi menurut penulis laporan tersebut ada benarnya kenapa ? kita semua tahu bagaimana fungsi dan kerja daripada para diplomat dunia dan Kedutaannya yaitu memberikan laporan baik itu berita atau analisis terhadap apa yang terjadi di negara yang diplomat tersebut bertugas ataupun gossip-gosip yang beredar di kalangan diplomat jadi sangat wajar lah apa yang di ungkap oleh Wikileaks terlepas itu sampah atau tidak ?! kita bisa kok bertanya kepada para pejabat di kementerian atau staff Kedutaan Besar dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di dunia bagaiamana mereka bekerja pasti tidak jauh dengan apa yang di lakukan oleh pejabat Kedutaan Amerika yang diungkap oleh Wikileaks benar tidak ?!

Soal Republik ini HANYA mengajukan protes kepada Pemerintah Amerika Serikat melalui Kedutaan Besar Amerika di Jakarta sepertinya bagi penulis janggal kenapa ? memang yang melakukan itu adalah Pemerintah Amerika Serikat tetapi yang mempublikasikan itu siapa ? media Australia bukan ? kenapa juga pemerintah kita tidak mengirimkan nota protes kepada pemerintahan Australia melalui Kedutaan mereka di Jakarta terkait pemberitaan media mereka selain melakukan hak jawab kepada dua media tersebut.

Yang harus di lakukan sekarang oleh para pejabat di negara ini adalah selain membantah sana-sini kepada media kiranya para pejabat kita bisa membalasnya dengan kerja nyata kepada rakyat dan dunia pun akan melihatnya, penulis pun berkeyakinan kenapa dua harian terkemuka dan terpandang di Australia itu bisa mendapatkan arsip kawat diplomatic Kedubes Amerika di Jakarta dan memuatnya secara eksklusif di karenakan ada yang aneh dari negara ini terutama dalam hal pekerjaan mereka sebagai pejabat dan pelayan rakyat benar tidak ?!

Kita bisa lihat bagaimana kabarnya kasus-kasus yang menyangkut korupsi seperti kasu Gayus, Century, atau kekerasaan atas nama suatu agama, rekening gendut perwira tinggi Polri, kasus Munir, Kasus Penganiayaan aktivis ICW, apakah ini sudah di tuntaskan dan membuat rakyat senang dan berkata bahwa keadilan itu memang ada di Republik Indonesia ? tetapi nyatanya malah para pejabat ini sibuk berhitung ria kira-kira berapa kursi yang bisa di dapat dan posisi yang lain benar tidak ?!

Jadi kalau memang apa yang di tulis oleh Harian The Age dan Sydney Morning Herald soal laporan Wikeleaks tentang penyalagunaan wewenang dan jabatan Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono dan beberapa pejabat yang terkait dan di sebutkan TIDAK BENAR dan SAMPAH kiranya dapat di jawab dengan kerja nyata kepada rakyat berikan apa yang rakyat mau, kalau tidak bisa juga BERARTI berita itu benar adanya betul tidak ?!

Pejambon, 140311 15:45
Rhesza
Pendapat Pribadi

Republik Lupa !

”Perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa.”
Milan Kundera


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf.

Mungkin bagi sebagian pembaca kutipan di atas sudah tidak asing bagi anda karena kutipan di atas sering di kutip oleh para ilmuwan Indonesia atau pengamat-pengamat dalam memberikan opini mereka terhadap sesuatu hal di negara ini.

Kutipan di atas juga penulis kutip berkaitan dengan beberapa situasi yang beberapa waktu lalu marak tetapi sekarang malah melempem kayak kerupuk ya.

Mari kita berpikir dan berkhayal sejenak dengan beberapa pertanyaan yang penulis ajukan yaitu, APA KABAR 12 instruksi Presiden tentang penanganan kasus Gayus, kemudian APA KABAR hasil Kongres Sepakbola Nasional, lalu APA KABAR Kasus tewasnya aktivis HAM, Munir, kemudian APA KABAR kasus penganiayaan aktivis Indonesian Corruption Watch-ICW, Tama Satrya Langkun atau APA KABAR 3 Instruksi Presiden soal Pajak. Itu masih sebagian kecil yang penulis ingat sepanjang 7 tahun dan 2 periode pemerintahan ini di kelola dan di pimpin oleh SBY tetapi kembali lagi ke pertanyaan APA KABAR !

Apakah “ APA KABAR “ itu sudah di tuntaskan oleh anak buah atau pihak yang di sentil oleh Presiden, kita semua tahu Presiden dalam membuat instruksi atau perintah itu selalu ada limit waktunya tetapi kembali lagi apakah “APA KABAR” itu sudah di tuntaskan sebelum limit waktu yang di berikan ? TIDAK !!

Kita bisa lihat seperti kasus penganiayaan aktivis ICW, apakah sampai sekarang sudah tertangkap orang yang menganiaya beliau ? BELUM ! padahal kalau kita melihat kasus ini baru kali ini sepanjang sejarah Indonesia merdeka seorang Presiden membesuk seorang aktivis yang teraniaya karena sikap kritisnya terhadap lembaga kepolisian yang mana Kapolri bertanggung jawab dalam kerjanya kepada Presiden langsung tetapi nyatanya ?!

Kalau seperti ini boleh kah penulis mengatakan bahwa negara ini bukan Republik Indonesia tetapi Republik Lupa Indonesia ? karena ya seperti itulah yang terjadi di negara ini kebanyakan lupa daripada kerja !

Pemerintah kita seperitnya lebih banyak jago bersilat lidah atau membuat masyarakat selalu optimis di awal tetapi dalam pelaksanannya terkesan hilang begitu saja baru timbul lagi ketika ada segelintir orang atau media yang mengangkatnya baru sadar dan itu pun tidak lama hanya sementara selanjutnya begitu terus dan kita hanya bisa berkata MAU SAMPAI KAPAN seperti ini, benar tidak ?!

Indonesia sudah 66 tahun merdeka dan 7 tahun pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono tetapi kenapa kondisi negara kita ini tidak ada kemajuan ya ada kah yang salah dari pemimpin ini sehingga rakyat yang terus menderita ? kenapa instruksi-instruksi tidak pernah di jalankan dengan segenap hati nurani dan limit waktu yang diberikan atau memang fungsi pemimpin kita ini sudah dianggap sebelah mata oleh kolega-kolega kita yang bisanya hanya memberikan instruksi tetapi tidak pernah turun tangan ke masyarakat dengan menyingsingkan lengan bajunya seperti ketika membantu warga yang sedang menjadi korban banjir atau apa ?

Karena penulis melihat, mulai dari pemerintahan beliau jilid dua sepertinya negara ini berjalan di tempat banyak sekali instruksi yang di keluarkan tetapi tidak ada hasil nyata, seharusnya sebagai pemimpin yang di pilih langsung oleh rakyat bisa memberikan hukuman yaitu pemecatan bagi jajarannya yang tidak bisa menjalankan apa yang di instruksikan tetapi nyatanya ? tidak perlu lah di sebutkan satu-persatu siapa saja atau manusia siapa yang ada di jajaran beliau yang secara nyata tidak menjalankan apa yang di instruksikan beliau.

Tetapi itulah negara kita di saat negara luar sudah mengenal yang namanya tanggung jawab dimana jika ada pemimpin yang tidak mampu menjalankan apa yang ditugaskan atau di amanatkan untuk melayani rakyat pemimpin itu dengan nurani mengundurkan diri tetapi di negara Indonesia yang secara kita lihat di peta dimana secara otomatis mata langsung tertuju kepada bentuk negara kita ketika ada pemimpin yang gagal menjalankan fungsi tugasnya terhadap negara dan masyarakat malah tetap dan bersikukuh tidak akan mundur !

Pesan penulis buat para manusia (yang katanya) pemimpin di negara ini (yang katanya) di pilih oleh rakyat karena suara rakyat adalah suara Tuhan, mengutip dari kata pembuka daripada sebuah fraksi di Senayan ketika memulai jawaban atas isu yang ada ketika rapat paripurna yaitu…..


SAATNYA HATI NURANI BERBICARA !!


Merdeka Barat, 040311 16:30
Rhesza
Pendapat Pribadi

Rabu, 16 Februari 2011

Di Saat Rakyat Merusak Atas Nama Agama, Pemimpin dan Penjaga Negara ini Di Mana ?

Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf.

Kekerasan massal yang menyebabkan 3 orang langsung mengakhiri kontrak hidupnya di dunia dan melukai belasan anggota jemaah Ahmadiyah di Pandeglang serta adanya insiden pembakaran mobil dan pengrusakan beberapa gereja dan saran pendidikan di wilayah Temanggung terkait dengan pelecehan agama sungguh miris dan menyayat hati.

Nilai Pancasila sila kedua. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab seakan pepesan kosong saja ketika melihat kasus ini, dalam tayangan ini bahkan sampai masuk dalam jaringan media sosial seperti Youtube dan di tonton oleh dunia seakan negara kita mengamini atau membiarkan tindakan ini yang berataskan agama, Polisi seakan tidak jauh berbeda dengan pengejut kendaraan di jalan (baca:Polisi tidur) padahal semboyan Polisi di negara ini seperti yang tercetak di samping dua pintu depan mobil patroli adalah MELINDUNGI DAN MENGAYOMI MASYARAKAT tetapi faktanya ?

Negara ini, Republik Indonesia juga dengan sadar dan tidak telah melanggar hukum internasional yaitu Kovenan Internasional mengenail hak-hak sipil dan politik yang telah di tanda tangani dan di ratifikasi oleh pemerintahan pak Beye pada tahun 2005 itu berarti bahwa Konvenan Internasional ini sudah menjadi bagian dari hukum positif yang berlaku di negara ini.

Terlepas dari berbagai isu yang beredar seperti adanya yang beredar bahwa ini adalah rekayasa atau adanya aksi balas dendam terkait tuduhan tokoh lintas agama beberapa minggu yang lalu dengan menyebutkan 9 kebohongan lama dan 9 kebohongan baru yang membuat para pemimpin negara ini sangat murka tetapi tetap saja pemerintah dan aparat keamanan tidak mampu melindungi warganya dari rasa takut..

Kalau di lihat dari semua ini sepertinya negara ini tidak mempunyai pemimpin, kita bisa lihat kasus Pandeglang dan Temanggung mengapa aparat Polri setempat dalam hal ini Kapolsek hingga Kapolres tidak ada inisiatif untuk meminta bantuan tambahan kekuatan dari Brimob atau TNI yang berada di wilayah tersebut ? kenapa mereka hanya jadi penonton di belakang massa ketika melihat pembunuhan biadab dan perusakan di depan mata mereka ? bahkan penulis pernah membaca sebuah kicauan (twitter) dari seorang pengikut Ahmadiyah yang menjadi korban dan lolos dari serangan itu menulis bahwa beliau melihat dengan mata kepalanya bahwa para penyerang ketika pulang bersalaman dengan para aparat yang ada di situ sambil senyam-senyum, ada apa ini ?!

Pemimpin negara ini pun setali tiga uang dengan kondisi keamanan negara ini bahkan kehilangan wibanya dalam menjalankan negara ini, ini terbukti dengan berbagai instruksinya yang sampai sekarang tidak ada kemajuannya yang di harusnya di jalankan oleh bawahannya dalam hal ini para Menteri dan jajarannya.

Kita bisa lihat contohnya, Presiden mengeluarkan 12 instruksi tentang penegakkan hukum atas kasus skandal Century, mafia pajak dan mafia hukum terkait kasus Gayus Tambunan dengan tenggang waktu semiggu sebelum Presiden berangkat ke India sebagai tamu istimewa dalam Perayaan hari kemerdekaan India tetapi SAMPAI HARI INI apakah instruksi itu sudah berjalan dan terbongkar ? BELUM !!!

Kemudian pada tanggal 9 Februari lalu Presiden mengeluarkan pernyataan dalam acara Hari Pers Nasional di Kupang, dimana beliau mengatakan “ Jika ada kelompok dan organisasi resmi yang selama ini terus melakukan aksi kekerasan, kepada penegak hukum agar dicarikan jalan yang sah atau legal, jika perlu di lakukan pembubaran atau pelarangan “ tetapi apa yang terjadi ? dua anak buahnya dalam hal ini Menteri Dalam Negeri dan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia mengomentari pidato majikannya tanpa menjalankan apa yang di perintahkan, seperti ini sangat jelas sekali bahwa pemimpin negara ini sudah tidak punya wibawa dan kuasa lagi. Pantas saja kemudian hari salah satu pemimpin ormas yang membuat masyarakat takut mengeluarkan ancaman kalau sampai ormas ini di bubarkan maka mereka siap meng-MESIR-kan negara ini karena ya itu tidak sinkron dan satu bahasa antara majikan dan pembantu dalam hal ini Presiden dan Menteri !

Pertanyaan sekarang adalah ada apa ini, ada apa hubungan antara pemimpin dengan pembantunya kenapa tidak sinkron dan satu suara ? seharusnya sebagai pemimpin yang baik sebelum mengeluarkan kata-kata atau pernyataan kepada publik ketika ada permasalahan sudah satu suara dengan jajarannya sehingga tidak terjadi seperti saat ini dimana pemimpin berbicara apa anak buahnya bicara aja dan rakyat hanya sebagai orang tolol yang bingung harus mempercayai siapa..

Padahal kita semua tahu bagaimana para manusia ini bisa duduk nyaman di Merdeka Utara atau kantor-kantor kementerian berkat rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke dari Miangas hingga Pulau Rote lewat bilik suara tetapi kenapa para pemimpin ini sekarang seakan seperti kacang lupa pada kulitnya dalam menjalankan tugas mereka sebagai pemimpin.

Sudah saatnya pemimpin di negara ini BEKERJA dengan jujur, tegas dan adil demi rakyat, kalau memang anak buahnya tidak mampu menjawab instruksi anda kiranya anak buah ini harus di pecat tanpa memperdulikan latar belakang dari anak buah ini baik itu partai atau golongan karena partai itu hanya sekian persen dari kerja negara ini yang terpenting dari kerja negara adalah MELAYANI RAKYAT BUKAN MELAYANI PARTAI percuma partai banyak beredar di negara ini tetapi rakyatnya masih saja menikmati nasi tiwul dan nasi aking, percuma partai banyak beredar di negara ini tetapi rakyatnya masih saja di perkosa, hak-haknya sebagai rakyat sipil dunia di nodai oleh negara lain dan partai-partai itu HANYA BISA NATO-Ngomong Asal TANPA Otak !! benar tidak ?!

Merdeka Selatan, 140211 15:20
Rhesza
Pendapat Pribadi

Jumat, 04 Februari 2011

Antara Omong Besar Pemimpin Negara Ini dan Pengingkaran UUD 1945 (Original)


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf.

Mungkin tulisan ini bagi saudara sudah bisa di katakan basi atau tidak layak tetapi bagi penulis, penulis menuliskan tulisan ini untuk mengingatkan kembali para pejabat negara ini akan janji-janji mereka ketika kampanye dan juga janji-janji yang harus di jalankan berdasarkan perangkat hukum negara ini dalam hal ini UUD 1945.

Kita semua tahu pada awal-awal tahun 2011 para tokoh lintas agama mengeluarkan pernyataan yang membuat kaget se-Indonesia dimana para tokoh lintas agama ini mengatakan bahwa Presiden dan jajarannya melakukan kebohongan dimana terdapat 9 kebohongan lama dan 9 kebohongan baru, setelah para tokoh lintas agama mengeluarkan pernyataan bersama banyak bermunculan gerakan-gerakan yang sama seperti tokoh lintas agama menggugat kerja pemerintahan walaupun dari dalam pemerintahan ini sendiri ada berpikir bahwa salah satu tokoh dari lintas agama ini memiliki agenda tersembunyi untuk maju ke hajatan demokrasi negeri ini pada tahun 2014 yaitu pemilihan umum tetapi benarkah itu ?

Bukan maksud latah atau mengekor dengan gerakan-gerakan yang sudah-sudah tetapi bagi penulis ada yang lebih penting dan memang telah terjadi kebohongan publik oleh para pemimpin negara ini kalau melihat dari isi UUD 1945 yang ORIGINAL terutama pasal-pasal yang menjadi HAK dari rakyat Indonesia dan kenapa penulis mengambil isi pasal dari UUD 1945 yang original karena yang original inilah yang menjadi cita-cita luhur dan murni dari dalam nurani para pendiri negara ini daripada amandemen yang sudah terkontaminasi dengan kepentingan-kepentingan walaupun selalu di selipkan kata-kata “DEMI RAKYAT” tetapi kalau di tanyakan “DEMI RAKYAT” yang mana para pemimpin inipun hanya bisa berbasa-basi semata !.

Mari kita lihat kebohongan apa yang telah mereka lakukan yang sesuai dengan HAK kita yang tercantum dalam UUD 1945, Pasal 27 tertulis ayat (1) adalah segala warganegara bersamaan kedudukannya di dalam Hukum dan Pemerintahan dan wajib menjunjung Hukum dan Pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya, FAKTA-nya adalah kasus Gayus sampai sekarang tidak bisa menyentuh sampai ke akar-akarnya termasuk orang-orang di wilayah Kejaksaan Agung Republik Indonesia, Kepolisian Negara Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia padahal Presiden berulang kali akan memimpin langsung pemberantasan korupsi termasuk mafia-mafianya tetapi nyatanya jangankan kasus Gayus pembebasan bersyarat Arthalita Suryani alias Ayin saja pemerintah sampai saat ini hanya diam dan berkata Ayin sudah menjalani apa yang sudah di jalani tanpa melihat KELAKUAN beliau ketika di Rutan Pondok Bambu dengan kemewahan di kamar sel-nya termasuk di Rutan Tangerang dimana beliau membangun fasilitas yang seharusnya negara yang membuat melalui APBN seperti ruang tunggu penjenguk tahanan termasuk sarana untuk para narapidana belajar benar tidak !!

Pasal 27 ayat (2) Tiap-tiap warganegara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan FAKTA-nya adalah saat ini masih banyak rakyat Indonesia yang hidup dalam kemiskinan kemudian masih banyak rakyat Indonesia yang harus berjuang hidup demi sesuap nasi, kita bisa lihat beberapa waktu lalu ada berita tentang satu keluarga yang harus tewas karena memakan nasi tiwul yang ternyata mengandung racun, atau ada seorang ibu muda yang mati gantung diri di bawah jembatan daerah Guntur-Halimun Menteng yang hanya sekitar 1 km dari Istana. Atau kalau kemarin sang Presiden mengatakan akan memberikan telepon selular kepada para TKI/W agar bisa berkomunikasi dengan Kedutaan dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia tetapi NYATA-nya telepon selular sampai sekarang TIDAK PERNAH ADA REALISASI-nya dan MAKIN BERTAMBAH TKW kita di Saudi yang teraniaya seperti kasus TKW asal Pontianak lantas kebijakan OMONG BESAR apalagi yang di lontarkan oleh pak beye kepada masyarakat ?!

Pasal 28 Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang, FAKTA-nya ini berkaitan dengan Pers dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat, kita bisa lihat OMONG BESAR-nya pemimpin ini kepada masyarakat dunia bahwa negara kita adalah negara berdemokrasi tetapi berapa banyak nyawa jurnalis yang tercabut nyawa-nya dalam menjalankan tugasnya sepanjang 6 tahun pemerintahan ini ? berapa banyak anggota LSM/NGO yang mengalami penganiayaan ketika mereka menyuarakan apa yang salah dalam negara ini seperti kasus aktivis ICW, Tama S Langkun atau dua aktivis Bendera yang dianiaya ketika akan menghadiri sidang mereka yang kebetulan hari itu BERSAKSI, putera bungsu pak Beye, Menko Ekonomi, Hatta Rajasa dan pengusaha Hartati Murdaya ? apakah ini sudah di pikirkan atau di perintahkan langsung pak Beye kepada jajarannya dalam hal ini Kepolisian Negara Republik Indonesia agar di usut setuntasnya ? BELUM !!!

Pasal 29 UUD 1945 dimana ayat (1) (original) berbunyi, Negara berdasarkan atas Ke Tuhanan Yang Maha Esa, dan ayat (2) berbunyi, Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Soal pasal ini penulis agak berang dan pemerintah kita sepertinya mengABAI-kan saja seolah tidak terjadi kenapa ? kita bisa lihat berapa banyak kasus kekerasan yang meng-ATAS NAMA-kan agama di negara ini ? seperti contoh kasus penyerangan jemaat Ahmadiyah di seluruh negara ini oleh orang-orang yang SOK SUCI dan SOK DEKAT dengan Tuhan atau kasus PENYEGELAN, PENGUSIRAN, PENUTUPAN GEREJA lagi-lagi oleh orang-orang yang SOK SUCI dan SOK DEKAT dengan Tuhan tetapi apa ? Pemerintah baik pusat maupun daerah serta jajaran Kepolisan Negara Republik Indonesia baik dari tingkat Polda hingga Polsek HANYA DIAM dan DIAM BAHKAN meminta jemaat Ahmadiyah dan warga Nasrani UNTUK MENGIKUTI APA YANG DI MINTA oleh orang-orang yang SOK SUCI dan SOK DEKAT dengan Tuhan ! padahal kalau menurut penulis APA PRESTASI-nya orang-orang yang SOK SUCI dan SOK DEKAT dengan Tuhan ini kepada negara jika kita bandingkan dengan prestasi Ahmadiyah, walaupun kata negara terutama Menteri Agama saat ini Ahmadiyah bertentangan dengan ajaran agama Islam pada umumnya tetapi mereka setidaknya berprestasi dimana PENCIPTA LAGU INDONESIA RAYA yang menjadi lagu kebangsaan negara ini dan selalu di perdengarkan dalam acara apapun termasuk upacara bendera setiap hari Senin ADALAH WARGA AHMADIYAH !!!!

Para pemimpin negara ini terutama Kementerian Agama Republik Indonesia berSIKAP DISKRIMINASI terhadap suatu agama dalam hal pembangunan tempat ibadah, mungkin banyak orang tidak tahu bahwa sampai hari ini MASIH BANYAK rakyat Indonesia terutama yang beragama Nasrani, SUSAH SEKALI MENDAPATKAN IJIN untuk mendirikan tempat ibadah baik dari pemerintah setempat entah itu Kelurahan, Kecamatan, Walikota hingga Gubernur dan Kementerian Agama RI padahal tanah yang mereka ajukan untuk ijin itu adalah tanah mereka sendiri dan sekarang di PERSULIT lagi dengan adanya Surat Ketetapan Bersama 3 Menteri (SKB 3 Menteri) dimana ketika akan mendirikan tempat ibadah kiranya harus mendapatkan persetujuan dan tanda tangan daripada warga yang berada di tanah yang akan didirikan oleh pemeluk agama Nasrani dalam hal ini kaum Muslim.

Kalau BOLEH FAIR dan TRANSPARAN mengacu pada SKB 3 Menteri, apakah Masjid dan Mushollah di tempat anda dan penulis berada atau yang sering kita lihat dan gunakan setiap Jumatan itu BENAR-BENAR BER-IMB dan ADA persetujuan serta tanda tangan terutama daripada warga yang beragama Nasrani, Hindu, Budha termasuk Ahmadiyah ? jadi OMONG BESAR lah pemimpin negara ini ketika pidato kenegaraan tanggal 17 Agustus 2010 menyebutkan bahwa Indonesia HARUS MENDUKUNG kerukunan antarperadaban atau harmony among civilization kalau nyatanya Pasal 29 ayat 1 dan 2 (original) TIDAK PERNAH DI JALANKAN !!!

Pasal 31 ayat (1) original, Tiap Warganegara berhak mendapat pengajaran kemudian ayat (2) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistim pengajaran nasional, yang diatur Undang-Undang.. ternyata tidak semua pasal ini di jalankan oleh pemimpin negara ini kita bisa lihat bagaimana kabarnya gedung-gedung sekolah di daerah pedalaman atau yang berada sekitar radius 10 km dari Istana apakah sudah layak untuk di gunakan dalam proses belajar-mengajar ? TIDAK ! seperti di Jakarta saja masih banyak gedung sekolah yang kondisinya tidak beda dengan (maaf) kandang BABI yang mana atapnya sudah hampir sama dengan langit atau dindingnya yang terkelupas padahal anggaran belanja negara untuk pendidikan kalau tidak salah sekitar 20% lantas kemana aliran dana itu ?! bahkan sekarang sekolah TIDAK JAUH seperti usaha nirlaba yang semuanya di ukur berdasarkan nominal Rupiah bahkan mata uang asing !!

Ternyata yang namanya pendidikan sampai sekarang pun masih dianggap atau setara dengan barang mewah, kita bisa lihat bagaimana berapa banyak anak usia sekolah ketika jam-jam sekolah beredar di perempatan-perempatan lampu merah dengan membawa alat musik yang terbuat dari beberapa lempengan tutup botol untuk dimainkan di kaca mobil pribadi sambil menunggu lampu merah berganti dengan hijau tetapi itu TIDAK PERNAH di sadari oleh para pemimpin di negara ini. Benar tidak ?!

Pasal 32 UUD 1945 berbunyi, Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia FAKTA-nya sekarang adalah Pemerintah masih setengah hati terhadap kebudayaan nasional kita, kita bisa lihat kebudayaan kita tidak hanya satu-dua buah saja tetapi ratusan juta yang tersebar dari Sabang sampai Merauke dari Miangas hingga Pulau Rote tetapi kenapa hanya Batik, Keris, Angklung yang BARU DIAKUI oleh dunia dalam hal ini Badan PBB bidang Pengetahuan-UNESCO ? kemudian KOK BISA negara ini mengajukan Pulau Komodo sebagai bagian dari 7 keajaiban dunia sementara kita sendiri TIDAK PUNYA PENELITI yang berspesifikasi untuk Komodo dan juga apakah rakyat sekitar Pulau Komodo ini BISA TERIMA kalau Komodo ini bagian dari 7 keajaiban dunia jika di lihat dari sosiologi dan budaya setempat yang mungkin masih pribumi ?

Pasal 33 UUD 1945 yang berbunyi, ayat (1) ; Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas azas kekeluargaan, ayat (2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara dan ayat (3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran Rakyat.

FAKTA-nya Kita bisa lihat kalau memang ayat 2 ini dimana cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara tidak mungkin kita mempersoalkan siapa saja yang boleh menggunakan bensin berlabel Premium benar tidak ? tetapi yang sangat memprihatinkan bagi negara ini terutama rakyatnya adalah ayat 3, dimana bumi, air dan kekayaan alam yang harusnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk rakyat nyatanya TIDAK ADA!! Kita bisa lihat bagaimana Freeport menguasai lahan Papua tanpa ada satupun rakyat Papua merasakannya apalagi negara tetapi yang merasakan itu hanya segelintir orang saja yang berlabel “Pemimpin, Pemerintahan, APARAT” dan orang-orang yang berlabel itu pun tidak berani tegas bahkan terkesan menjalankan (maaf) POLITIK JILAT PANTAT dan rakyat lah yang kena getahnya dalam hal ini KEMISKINAN ! benar tidak ?

Atau kita mau tidak mau harus membeli air minum mineral dengan harga paling murah Rp. 500 untuk ukuran gelas kecil padahal kalau melihat isi ayat 3 Pasal 33 ini kita tidak perlu membayar bahkan bisa mengambil air itu sesuka kita tetapi itulah negara kita dengan politiknya yang lebih mementingkan kepentingan koleganya daripada rakyatnya ! benar tidak ?! atau kita harus memakan nasi yang berasal dari beras yang di impor dari negara Paman Ho, Vietnam padahal secara fakta tertulis dan mata negara kita pernah disebut oleh dunia sebagai negara agraria, sebuah negara yang sekitar 40 persennya adalah hamparan tanah luas yang banyak ditumbuhi berbagai macam tanaman termasuk diantaranya padi tetapi para pejabat kita malah mengubahnya dengan cara ya seperti itu setiap tahun selalu mendatangkan beras Cap Paman Ho dari Vietnam dengan alasan untuk cadangan padahal nyatanya para petani padi kita sanggup kok menyediakan ratusan ribu ton beras bahkan lebih daripada yang diminta pemerintah kepada Paman Ho ! bahkan sekarang pun Cabai pun harus menggunakan paspor China dan Thailand (baca: impor) karena cabai lokal tidak mau turun harganya…


Pasal 34 UUD 1945 tertulis Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar diperliahara oleh Negara FAKTA-nya penulis dan mungkin pembaca masih melihat di setiap perempatan lampu merah terdapat anak-anak yang harus mencari sekeping-dua keping logam tembaga yang di sisinya terdapat lambang “BI” ketika jam-jam sekolah atau seorang anak harus menangis sekeras-kerasnya karena dagangan orangtuanya yang selama ini untuk makan harus di rusak paksa oleh aparat Satuan Polisi Pamong Praja karena tempat mereka berdagang merusak pemandangan dan tata kota apakah ini pernah di perhatikan oleh negara terutama Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat dan Kementerian Sosial Republik Indonesia ?

Jadi menurut penuis sangat wajar lah kalau saat ini banyak kelompok-kelompok yang mengkritik pemerintah karena memang rakyat pantas untuk mengkritik terlepas apakah kritikan itu murni dari nurani atau tidak yang terpenting mereka merasakan apa yang mereka rasakan daripada ADA ORANG yang bisanya mencibir dan menyindir tokoh atau orang-orang yang mengkritik pemerintah tetapi TAKUT untuk menyuarakan apa yang nurani mereka rasakan TETAPI mereka ikut menikmati hasil dari kritikan itu !!

Sudah saatnya para manusia-manusia yang di PILIH oleh Tuhan sebagai pemimpin ini BEKERJA LAYAKNYA PEMBANTU kepada para rakyatnya !!!

Merdeka Barat, 030211 15:46
Rhesza
Pendapat Pribadi

Gerakan Koin Rp. 1,000 untuk Pak Beye


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf.

Mungkin awal tahun 2011 ini adalah awal tahun yang paling berat bagi seorang Presiden Republik Indonesia yang bernama Susilo Bambang Yudhoyono, dimana satu minggu setelah tahun baru, para tokoh lintas agama “turun gunung” untuk bersuara terhadap negara ini yang ternyata negara ini mengalami banyak kebohongan terutama kepada rakyat walaupun apa yang diucapkan oleh para tokoh lintas agama ini coba di bantah dan ditutupi oleh pemerintah dengan segala ucapan manisnya.

Setelah permainan bohong dan tidak bohong ala pemerintah ini bukannya sikap diam dan berkaca daripada pemerintah ini terutama sang Presiden tiba-tiba sang Presiden ini sedikit curhat di depan “junior”nya dalam rapat pimpinan TNI/Polri yang berlangsung di kawasan Kelapa Gading-Jakarta Utara dimana entah darimana awalnya tiba-tiba sang Presiden mengatakan bahwa sudah 6-7 tahun ini gaji Presiden Republik Indonesia tidak naik !

Pertanyaan sekarang adalah apakah pantas seorang Presiden Republik Indonesia berkeluh kesah atau mencurahkan isi hati dan otaknya kepada para Jenderal tentang gajinya yang senilai Rp. 62 juta ini yang mungkin di rasa beliau sangat kurang ? banyak kalangan yang mengatakan bahwa Presiden tidak pantas mengutarakan isi hatinya kepada publik di saat rakyat masih miskin beliau membicarakan gajinya, tetapi ada juga yang mengatakan bahwa sang Presiden bukan curhat benarkah demikian ?

Kalau menurut penulis apa yang di ucapkan beliau ketika bertemu dengan jajaran para Jenderal di kawasan Kelapa Gading tersebut adalah sebenarnya setengah curhat tetapi tepat untuk mencurahkan isi “gaji” tersebut tidak pada tempatnya karena menurut penulis kalau memang ingin menenangkan para tentara ini soal gaji mereka yang tidak pernah naik sama dengan gaji Presiden seharusnya beliau berbicara itu di depan sebuah barak militer atau sebuah detasemen yang berisikan prajurit berpangkat Prajurit Satu, Kopral hingga Sersan seperti ketika kunjungan ke daerah pos perbatasan seperti di kawasan perbatasan antara Indonesia dengan Papua Nugini BUKAN di depan Jenderal benar tidak ?!

Pertanyaan sekarang kepada sang Presiden dan Ibu Negara adalah KURANG-kah gaji bulanan Presiden sebesar Rp. 62 juta terhadap kelangsungan hidup beliau ? itu pun belum termasuk beberapa tunjangan seperti tunjangan beras, tunjangan kendaraan layaknya tunjangan yang diberikan negara kepada para pegawai negeri sipil, KURANG-kah ? kalau menurut penulis kalau dana sebesar Rp. 62 juta itu kurang di karenakan beliau harus mengeluarkan kocek Rp. 62 juta itu untuk bayar tol untuk mobil beliau beserta rombongan sirkusnya (baca: Pengawal) ketika keluar dari kediaman pribadi beliau di Cikeas menuju Istana, atau membayar tagihan telepon mulai dari telepon selular hingga telepon rumah dan jaringan internet atau membayar bensin mobil dinas beliau dan mobil pengawalnya atau membayar tiket pesawat, visa dan fiskal beliau dan rombongan ketika kunjungan ke negara-negara sahabat dalam rangka kerjasama misalnya ekonomi dan budaya, atau membeli sayur-mayur, daging untuk makan siang dan malam beliau beserta pengawal-pengawalnya itu bisa di maklumi tetapi ini semua kebutuhan beliau dan keluarga di-TANGGUNG oleh negara jadi apanya yang kurang benar tidak ?!

Semua orang juga tahu dimana kalau ingin meminta sesuatu yang lebih harus juga diimbangi dengan prestasi yang sepadan, seperti anak sekolah jika ia mau sepeda tentunya orang tua tidak langsung memberikan itu dengan mentah-mentah tentunya dengan hasil yang sepadan misalnya harus bisa rangking satu dan juara umum di sekolah baru di berikan sepeda, begitu juga dengan Presiden kalau memang Presiden ingin atau minta di naikkan gajinya dari yang sekarang tentunya harus ada hasil yang sepadan yang bisa diberikan atau supaya rakyat senang, kalau sekarang Presiden (misalnya) naik gaji apakah pantas ? harga cabai yang sampai menembus Rp. 100,000 untuk 1 kg sepanjang Indonesia merdeka saja TIDAK BISA diturunkan sama beliau bagaimana nanti kalau naik gaji jangan-jangan beliau cuek dengan rakyat miskin yang hidupnya tinggal berbalut tulang dan kulit, benar tidak ?!

Penulis sangat setuju saja kalau ada penggalangan dana Rp. 1,000 untuk gaji Presiden berbarengan dengan kegiatan penggalangan dana Rp. 1,000 untuk memulangkan TKI yang berada di bawah kolong jembatan di sebuah kawasan di negara Saudi Arabia, supaya para pejabat negara ini MALU karena seharusnya yang utama dalam memperhatikan negara ini termasuk rakyatnya adalah negara dalam hal ini Presiden Republik Indonesia beserta jajaran kabinetnya dan tentunya jajaran parlemen BUKAN RAKYAT !! karena rakyat beserta pengamat bekerja dengan cara mengkritik dan mengawasi sedangkan para pemimpin negara ini mulai dari Presiden, Wakil Presiden, Menteri beserta jajarannya, pimpinan DPR-MPR-DPD dan jajarannya di seluruh Indonesia tugasnya adalah MELAYANI LAYAKNYA PEMBATU apa yang di minta rakyat sesuai dengan konsitusi negara ini yaitu Pembukaan UUD1945 alinea ke-empat, Pasal 26 sampai Pasal 24 UUD 1945 (ORIGINAL) walaupun saat ini rakyat-lah yang MELAYANI para pejabat di negara ini seperti harus menyediakan segalam macam keperluan-keperluan yang tidak penting layaknya artis luar yang mau konser ketika mengadakan kunjungan benar tidak ?!

Apakah ini curhatan terakhir sang Presiden atau masih banyak curhat-curhatan beliau ketika dalam suatu acara, sepertinya tiap sudut istana HARUS DIPASANG BANYAK kaca ukuran besar supaya manusia-manusia yang ada didalamnya BERKACA dahulu sebelum benar-benar keluar dari Istana untuk melakukan pekerjaan terhadap rakyat !!!

Taman Suropati, 240111
Rhesza
Pendapat Pribadi

Suara Tokoh Lintas Agama Suara Rakyat


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagaian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf.

Tidak di sangka dan tidak di duga sekelompok tokoh agama yang selama ini kita hanya mendengar petuah-petuah mereka lewat khotbah di setiap kegiatan keagamaan tiba-tiba berkumpul dalam satu ruangan dan melahirkan sebuah kesimpulan dimana membuat negara ini kaget terutama kalangan Istana dan jajaran menteri yang tergabung dalam Kabinet Indonesia Bersatu.

Karena tokoh-tokoh agama ini melahirkan sebuah pernyataan yang dikenal sebagai “ kebohongan [rezim] Presiden SBY ? akibat dari pernyataan para tokoh lintas agama ini membuat sebagian masyarakat negara ini yang tersebar dari Sabang sampai Merauke dari Miangas hingga Rote bertanya-tanya kenapa mereka ini “ turun gunung” secara bersamaan dan langsung mengeluarkan sejumlah daftar “kebohongan” tersebut ?

Memang para tokoh lintas agama ini sepertinya tidak secara resmi mewakili organisasinya atau umatnya masing-masing tetapi kalau dilihat posisi mereka, mereka sangat representatif atau mewakili suara dari umat lintas agama. Kita bisa lihat dalam pertemuan ini ada Buya Ahmad Syafii Maarif ( mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah), Andreas Yewangoe ( Ketua Persekutuan Gereja-gereja Indonesia-PGI), Din Syamsuddin (Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia-MUI), Mgr Martinus D Situmorang (Ketua Konferensi Wali Gereja Indonesia-KWI), Biksu Sri Mahathera Pannyavaro ( Mahanayakka Budha Mahasangha Theravada Indonesia), KH Salahuddin Wahid ( Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng dan tokoh nasional asal Nahdlatul Ulama-NU), serta I Nyoman Udayana Sangging ( Parisada Hindu Dharma Indonesia-PHDI)

Kalau dilihat dari kehadiran daripada para tokoh ini jelas sekali para tokoh lintas agama ini tidak akan gegabah mengeluarkan pernyataan terbuka yang agak keras dan frontal ini. Sebelum pertemuan yang menghebohkan ini mereka sudah berkali-kali mengadakan pertemuan di tempat para tokoh agama berbeda ini, berkali-kali juga mereka menyusun susunan data yang kemudian di jadikan sebuah pernyataan terbuka yang mengungkapkan berbagai masalah serius yang harus dan wajib di tanggulangi oleh bangsa ini.

Akibat dari kehebohan ini banyak media mempublikasikan hasil pertemuan terakhir bahkan ada sampai sebuah media cetak dan televisi menurunkan dalam bentuk tajuk rencana bersama, dan bisa di tebak dimana semua pemberitaan itu termasuk editorial bersama itu di salahkan oleh Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto. Tetapi lantas apakah dengan media mempublikasikan pertemuan itu lantas di salahkan ? menurut penulis apa yang di tulis oleh kawan-kawan jurnalis adalah membahas fakta yang ada tetapi itulah birokrasi negara ini begitu keluar berita, langsung secara berjamaah menteri dan staff Istana membela dengan mengatakan pemerintah tidak pernah berbohong kepada publik, tetapi nyatanya ?

Tetapi pertanyaan sekarang adalah benarkah atau apakah pemerintah berbohong ? kalau melihat pertanyaan ini kita bisa debat kusir panjang sekali tentang hal ini. Daripada berdebat istilah dan makan kiranya kita bicara substansi yang ada saat ini yaitu perbedaan antara yang di katakan dan yang di lakukan pemerintah

Pertama, pemerintah mengklaim bahwa pengurangan kemiskinan mencapai 31,02 juta jiwa ? nyatanya ? kalau memang kemiskinan itu berkurang mencapai 31,02 juta jiwa KENAPA penulis dan (mungkin) kita masih melihat ratusan anak kecil dengan alat musik sederhananya, ibu-ibu sambil gendong balitanya, pejual rokok, penjual poster dan mainan anak serta majalah setiap hari berdiri di bawah tiang lampu lalu lintas setiap perempatan menunggu lampu merah menyala untuk mengetuk kaca jendela berharap pengemudi tersebut membeli barang dagangannya atau sekedar berharap mendapatkan koin dari tembaga berwarna putih bertulisan 500 dan lambang BI, atau kalau memang (KATANYA) tingkat kemiskinan berkurang, KENAPA penulis sering melihat sebuah keluarga hidup di bawah kolong jembatan di atas aliran sungai ciliwung di daerah dekat dengan Detasemen Polisi Militer Komando Daerah Militer Jakarta Raya ( Det POM Kodam Jaya) daerah Guntur atau potret keluarga yang hidup di daerah pinggiran rel kereta api di daerah Jatinegara ? atau kalau (KATANYA) tingkat kemiskinan berkurang, KENAPA dan APAKAH para pemimpin negara kita ini MELIHAT DENGAN MATA, OTAK dan NURANI mereka ke daerah Belu- Nusa Tenggara Timur yang berbatasan dengan negara termuda di dunia, Timor Leste dimana mereka rela meninggalkan istri, suami dan keluarga yang ada di Timor Leste demi Merah Putih, Garuda serta Pancasila tetapi NYATA-nya, mereka seperti layaknya (maaf) seorang pelacur yang di rayu om-om senang untuk memberikan lubang kenikmatannya setelah itu ditinggal begitu saja dengan beberapa lembar Rupiah, penulis pernah melihat di daerah sana bagaimana seorang bocah usia 10 tahun HARUS menjadi tukang sayur atau kondektur angkutan umur, padahal kalau tidak salah berdasarkan ketentuan pekerja yang di keluarkan oleh badan pekerja internasional (baca: ILO) dimana seorang anak di bawah umur tidak boleh bekerja atau menjadi pekerja..

Kedua, Presiden SBY pernah mencanangkan program 100 hari untuk swasembada pangan, NYATA-nya ? harga cabai yang sampai menembus angka Rp. 100 ribu untuk 1 kg saja pemerintah kita lewat Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan saja TIDAK MAMPU menurunkan harga cabai sampai ke titik kemampuan warga Indonesia… Ketiga, presiden kita mendorong terobosan ketahanan pangan dan energi berupa pengembangan varietas Supertoy HL-2 dan program Blue energi, NYATAnya ? NOL BESAR bahkan sang penciptanya pun sekarang menginap di hotel prodeo !!! Keempat, ini yang sangat konyol bagi penulis dimana Presiden melakukan prescon terkait dengan pem-bom-an Hotel JW Marriot dimana beliau mendapatkan informasi (katanya akurat A-1) data intelijen yang mengatakan bahwa mereka menemukan beberapa foto beliau yang menjadi sasaran tembak ternyata setelah diselidiki photo-photo tersebut adalah photo JADUL yang sudah dipublikasikan terlebih dahulu kepada anggota komisi I DPR pada tahun 2004 huahahahahaha….

Kemudian dalam bidang Hukum dan HAM Presiden SBY berjanji menuntaskan kasus pembunuhan aktivis HAM Munir sebagai a test of our history tetapi NYATA-nya ?! OMONG KOSONG !! sampai penulis menulis tulisan ini penulis tidak pernah melihat kemajuan daripada kasus ini, begitu juga kasus penganiayaan aktivis Indonesia Corruption Watch-ICW Tama S Langkun terkait kasus rekening BABI para perwira Polri, NYATA-nya juga OMONG KOSONG bahkan Kapolri Bambang Hendarso Danuri mengatakan kasus aktivis ICW tutup buku !! atau ketika kasus Lapindo dimana pada Debat Calon Presiden tahun 2009 MENJANJIKAN akan menyelesaikannya tetapi NYATA-nya ? sampai saat ini dompet negara (baca: APBN) masih terus di kuras untuk para korban padahal kasus ini BUKAN pemerintah yang buat atau bencana alam tetapi keluarga Bakrie lah yang membuat tetapi ya itulah pemerintah kita seperti terserang IMPOTEN ketika melihat keluarga ini !!

Atau dalam Pidato Kenegaraan 17 Agustus 2010 dimana Presiden menyebutkan bahwa Indonesia harus mendukung kerukunan antarperadaban atau Harmony among civilization tetapi NYATA-nya ?! sebuah catatan dari The Wahid Institute yang pernah penulis baca dimana sepanjang 2010 terdapat 33 PENYERANGAN FISIK dan PROPERTI ATAS NAMA AGAMA dan Kapolri ketika itu Bambang Hendarso Danuri mengatakan berdasarkan data Polri ada sekitar 49 kasus KEKERASAN ORMAS AGAMA sepanjang tahun 2010. Kemudian kasus kekerasan pada Pers dimana Presiden menginstruksikan kepada polisi untuk menindak kasus kekerasan pada Pers tetapi NYATA-nya ? berdasarkan data dari LBH Pers terdapat 66 kekerasan fisik dan non fisik terhadap pers sepanjang tahun 2010. Dalam hal TKI/W dimana Presiden mengeluarkan kebijakan dimana akan ada pembagian telepon selular kepada semua TKI/W dengan pertimbangan ketika TKI/W ini bermasalah bisa langsung menghubungi pihak-pihak terkati misalnya KBRI dan KJRI tetapi NYATA-nya ? sampai detik ini pembagian telepon selular tersebut TIDAK ADA KABAR-nya bahkan berdasarkan data Migran Care sepanjang tahun 2010 setidaknya 1,075 TKI mendapatkan perlakukan kekerasan dan pemerintah kita HANYA DIAM dan NATO-Ngomong Asal TANPA OTAK !! bahkan kasus vonis majikan Sumiyati, TKI yang di aniaya berat di Saudi Arabia di ganjar 3 tahun oleh Pengadilan setempat atau kasus dugaan Perkosaan TKW oleh Menteri Komunikasi Malaysia sampai saat ini BELUM ADA REAKSI sama sekali yang membuat negara tujuan TKI/W ini ketakutan hanya PETUNJUK Presiden kepada Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Tenaga Kerja dan Tranmigrasi Republik Indonesia.

Lalu dalam kasus perlakuan tidak baik selama 36 jam atas tiga petugas KKP oleh Kepolisian Diraja Malaysia pada September 2010 Presiden mengatakan akan menindaklanjuti kasus ini tetapi NYATA-nya ? sampai detik ini penulis TIDAK mendengar lagi langkah pemerintah dalam hal ini Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dalam menuntaskan kasus ini sampai jelas termasuk memperbaiki hubungan dalam hal perbatasan dengan negara Malaysia. Dalam kasus Korupsi presiden negara ini berkali-kali MENJANJIKAN sebagai pemimpin pemberantasan korupsi terdepan, tetapi NYATA-nya ? hanya 24 % dari September 2009 sampai September 2010 keberhasilan dan dukungan dari Presiden dalam pemberantasan korupsi !!

Dalam kasus Gayus pun pemerintah dalam hal ini Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia-Kapolri Jenderal Timur Pradopo BERJANJI akan menyelesaikan kasus tamasya tahanan Gayus dan Istrinya ke Bali DALAM WAKTU 10 HARI tetapi NYATA-nya ? sampai DETIK INI kasus ini tidak ada kejelasan sama sekali dalam penangannya, malah sekarang Gayus NAIK KELAS, kalau dulu tamasya dari tahanan ke bali sekarang tamasya dari tahanan ke Makau, Malaysia, Singapura, dan HongKong.

Dari uraian yang penulis utarakan di atas, kiranya kita bisa lihat substansinya adalah adanya keresahan dari masyarakat daripada janji pemerintah yang tidak ditepati, penulis tahu bahwa para tokoh lintas agama ini tidaklah memiliki latar belakang atau belajar politik tetapi fungsi mereka adalah mengingatkan pemerintah agar mengerjakan pekerjaan rumahnya (baca: janji) dengan sungguh-sungguh.

Seharusnya pemerintah tidak reaktif atau marah besar ketika mendengar, melihat dan membaca pernyataan daripada para tokoh lintas agama ini bahkan berterima kasih kepada mereka karena mereka mengeluarkan unek-unek yang merepresentatifkan kehidupan masyarakat dengan jujur, terus terang, dan berani tanpa peduli melihat resikonya ketika kita melihat jaman dinasti Cendana dimana orang yang berkritik keras langsung di “amankan” dalam artian nyawa.

Jika Presiden dan jajaran menteri yang tergabung dalam Kabinet Indonesia Bersatu ini mau tercatat dalam tinta emas dalam sejarah Republik Indonesia negara yang berpenduduk lebih dari 230 juta jiwa ini kiranya mulai dari sekarang bekerja dengan sungguh-sungguh, berani, tegas, tidak ada kompromi terutama dari kumpulan partai-partai politik dan selalu membumi pasti tinta emas itu akan tercatat, percuma latar belakang militer berprestasi yang mana kita semua tahu bahwa yang namanya militer itu tegas, keras, tidak mau berkompromi atau istilahnya saya atau anda yang mati tetapi NYATA-nya klemar-klemer kayak banci salon, JAIM padahal beliau di pilih oleh rakyat !! Jadi Pak Beye dan Kabinet Indonesia Bersatu SAATnya MELAYANI RAKYAT PASANG KUPING LEBAR-LEBAR, SIDAK BERKALI KE LAPANGAN, BUKAN NATO-Ngomong ASAL TANPA OTAK !!!

Merdeka Barat, 17011 15:30
Rhesza
Pendapat Pribadi

Minggu, 16 Januari 2011

Maafkan Kami Lopa, Hoegeng….


kendatipun kapal akan karam, tegakkan hukum dan keadilan.
Baharuddin Lopa

Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagaian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf.

Kalau kita bicara tentang hukum di negara ini maka tidak akan habis cerita itu di ceritakan dan tidak akan pernah habis untuk di akhiri dan seperti dalam labirin kehidupan dimana satu cerita tentang hukum yang sedang ada akan terus berkaitan seperti saat ini.

Siapa yang tidak kenal Gayus Tambunan, seseorang pekerja (maaf) kelas kambing dari pada Direktorat Jenderal Pajak tiba-tiba posisi dia sekarang tidak jauh berbeda bahkan setara dengan pemberitaan kehebatan daripada pesepakbola yang di gilai oleh ABG-ABG puteri, Irfan Bachdim.

Kita semua tahu bagaimana masyarakat gemas akan perilaku daripada Gayus Tambunan dimana seorang yang tidak kita kenal dan menjadi tersangka tiba-tiba dengan gampangnya berplesiran ke luar negeri berulang kali dimana itu semua dilakukan dalam penjara dimana dengan gampang beliau mengeluarkan puluhan juta Rupiah untuk diberikan kepada para penjaga penjara supaya dia dan istrinya bisa menikmati dunia walaupun hanya satu-dua hari kemudian kembali ke dalam penjara seperti layaknya tokoh pahlawan BATMAN dimana siang berkeliaran tetapi ketika di tanya keberadaannya baru di ada di tempatnya.

Kita bisa lihat dengan mudahnya para petugas yang diangkat sebagai abdi negara tergiur dengan lembaran-lembaran Rupiah tanpa memikirkan bahwa apa yang mereka lakukan bisa membuat citra negara ini negatif di mata dunia tetapi tetap saja hanya dengan seorang Gayus yang mukanya tidak ganteng ini pun para petugas abdi negara ini ibarat (maaf) seekor anjing yang sedang duduk sambil mengibaskan ekor dan menjulurkan lidahnya untuk menantikan hidangan yang disediakan oleh sang majikan.

Apa yang mungkin penulis rasain mungkin di rasain juga oleh dua tokoh yang juga tokoh insipirasi penulis terutama dalam kerja mereka demi menegakkan hukum di negara ini, dua tokoh ini memang telah tiada tetapi kalaupun masih hidup pun akan marah besar dengan cacian makin paling hina untuk korps mereka pernah bekerja.

Dua tokoh ini adalah Baharuddin Lopa dan Hoegeng Imam Santoso, dua tokoh ini sempat membuat beberapa orang ketakutan karena tegasnya mereka dalam bekerja sebagai pejabat negara terutama dalam menegakkan hukum di negara ini.

Baharuddin Lopa, siapa yang tidak kenal beliau. Sosok kelahiran Pambusuang, Balanipa, Polewasi Mandar Sulawesi Selatan, 27 Agustus 1935 ini terkenal dengan keras dan tegas dalam menjalankan tugasnya, kita bisa lihat ketika beliau menjabat sebagai Jaksa Tinggi Makassar, dengan kenyakinannya ia memburu seorang koruptor kakap akibat dari keinginan kerasnya ia harus masuk kotak dengan jabatan menjadi penasihat menteri, beliau juga pernah memburu kasus mantan Presiden Soeharto dengan lantang mendatangi teman-temannya di Kejaksaan Agung untuk menanyakan kemajuan proses perkara Pak Harto ketika itu beliau menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Sekjend Komnas HAM) yang akhirnya kasus Soeharto ini maju ke pengadilan tetapi tidak mendapatkan vonis karena alasan kesehatan.

Dalam usia 25 saja Baharuddin Lopa sudah menjabat menjadi Bupati di Majene, Sulawesi Selatan sudah menentang Andi Selle seorang Komandan Batalyon 710 yang terkenal kaya karena melakukan penyeludupan. Bahkan ketika menjabat sebagai Menteri Hukum dan HAM beliau menjadi satu-satunya pejabat di negara ini yang BERANI menggiring seorang kolega dari dinasti kakek tua asal Cendana yang bernama Bob Hasan ke dalam Nusa Kambangan, kemudian membuaru koruptor kelas kakap seperti Sjamsul Nursalim yang sedang dirawat di Jepang atau Projogo Pangestu yang di rawat di Singapura untuk segera pulang ke Jakarta dan juga memutuskan untuk mencekal Marimutu Sinivasan walaupun akhirnya ketiga koruptor ini mendapat penangguhan proses pemeriksaan langsung dari Presiden saat itu Gus Dur.

Bahkan jam kerja beliau dalam menyelesaikan perkara ini sampai memakan waktu hingga jam 23.00 setiap hari, walaupun akhirnya Tuhan juga memanggil beliau ketika berada di Negara Saudi Arabia, tetapi satu kalimat yang membuat penulis terpukau dengan kerja beliau adalah kendatipun kapal akan karam, tegakkan hukum dan keadilan.

Kalau itu tentang sosok tegas dan keras dari Baharuddin Lopa, di institusi Kepolisian pun tidak kalah hebatnya memiliki perwira yang keras dan tegas, beliau adalah Hoegeng Imam Santoso.Hoegeng Imam Santoso atau biasa di panggil Hoegeng ini adalah perwira biasa-biasa saja sebelum daerah Medan yang membuatnya tegas, kenapa Medan ? Hoegeng mendapatkan tugas pertama menjadi “bos” dalam institusi Kepolisian tepatnya menjadi Kepala Direktorat Reserse dan Kriminal Polda Sumatera Utara, pada saat kedatangannya Hoegeng dan keluarganya lebih memilih tinggal di Hotel dan hanya mau pindah ke rumah dinas yang disediakan negara jika isi dari rumah dinas itu hanya berisi barang inventaris kantor, kenapa Hoegeng berkata begitu karena seperti yang kita ketahui bahwa Medan bagi kehidupan Polisi adalah ujian berat mereka karena Medan rata-rata di kuasai oleh pengusaha-pengusaha keturunan yang berperilaku seenak kehendak mereka bahkan polisi pun bisa di pegang oleh mereka supaya bisnis mereka bisa lancar. Dan apa yang dikatakan Hoegeng tersebut benar bahkan sempat menantang para pengusaha ini dengan cara mengeluarkan barang-barang yang ada di rumah dinas beliau dan menaruhnya di pinggir jalan dan ini membuat heboh satu Medan !!

Hoegeng pun tidak bisa disuap atau di berikan barang seperti para pejabat sekarang yang senang jika diberi sesuatu yang ternyata gratifikasi, bahkan ketika itu Hoegeng mendapatkan dua buah sepeda motor dari perusahaan motor Lambretta sebagai (mungkin) rasa terima kasih dan perkenalan karena bisa ber-usaha di Indonesia dan sepeda motor ini juga di berikan kepada setiap pejabat di negara ini, dengan lantang Hoegeng meminta ajudannya untuk mengembalikan motor itu kepada sang pengirim, saking jujurnya Hoegeng dalam pekerjaannya, rumah pun baru di miliki setelah memasuki masa pensiun itu pun juga berkat kebaikan daripada Kapolri penggantinya beserta jajaran Kapolda sebagai rasa terima kasih mereka kepada Hoegeng dimana rumah dinas beliau di kawasan Menteng menjadi hak milik keluarga Hoegeng.

Sikap tegasnya pun hampir sama dengan sikap jujurnya, beliau tidak segan untuk menyamar dalam beberapa penyidikan, salah satunya adalah kasus Sum Kuning kasus perkosaan yang dialami oleh Sum, tukang jamu gendong dimana melibatkan anak pejabat serta kasus penyeludupan mobil yang dilakukan oleh Robby Tjahjadi yang nota bene dekat dengan keluarga Cendana, karena kasus terakhir inilah yang membuat posisi Hoegeng sebagai Kapolri di turunkan oleh Soeharto, tetapi bukan Hoegeng kalau tidak keras dan tegas dimana Presiden Soeharto mencoba memberikan tugas sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belgia sebagai rasa terima kasih negara kepada beliau ketika menjabat Kapolri, tetapi oleh Hoegeng jabatan Duta Besar itu di tolak mentah-mentah dengan alasan dia seorang Polisi bukan politisi.

Pertanyaan sekarang adalah bagaimana sikap Kapolri, Jaksa Agung kita saat ini ? apakah sama keras dan tegasnya seperti yang di lakukan senior mereka yaitu Baharuddin Lopa dan Hoegeng ? jawabnya TIDAK !! bahkan Kapolri dan Jaksa Agung kita terkesan mencoba menutup-nutupi bahkan dengan isu yang baru kasus yang lama otomatis akan hilang dari ingatan rakyat Indonesia benar tidak ? Mungkin kalau Lopa dan Hoegeng saat ini masih hidup mungkin akan memaki-maki Jaksa Agung dan Kapolri yang ada saat ini karena tidak becus memberantas korupsi di negara ini !

Lantas bangga kah kita dengan Kapolri, Jaksa Agung, Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia bahkan Presiden Republik Indonesia dalam memberantas korupsi seperti memilih buah mangga mana yang bagus dan harum dan mana yang busuk, BANGGA kah anda ?! penulis TIDAK !!

Padahal kita semua tahu Pemimpin nomor satu di negara ini memiliki rekam jejak dan prestasi yang bagus dalam bidang militer tetapi kenapa sekarang dalam memberantas negara ini dari lilitan korupsi dan mafia-mafia hukum pemimpin kita sepertinya tidak jauh berbeda dengan pecundang hanya bisa NATO-Ngomong Asal TANPA OTAK atau NATO-NOT ACTION TALK ONLY !! kalau memang beliau mengatakan Indonesia harus bersih dari korupsi CONTOHLAH sikap kerja dari Lopa dan Hoegeng TURUN, SIDAK kalau perlu MENYAMAR sebagai rakyat biasa keluar dari Istana tanpa kawalan kemudian coba bikin trik ke LP misalnya mau berkunjung apakah benar setiap pos penjagaan itu harus mengeluarkan uang atau tidak ? jadi jangan cuma bisa denger terus anda angguk-angguk kepala saja dan memberitahukan kepada masyarakat kalau besuk tahanan GRATIS padahal nyatanya di lapangan ?

Saran penulis kepada manusia yang MENGAKU sebagai Presiden Republik Indonesia kalau mau negara ini bebas dari korupsi dan membongkar siapa saja yang membuat Gayus ini bisa leluasa keluar-masuk penjara yaitu panggil Gayus ke suatu tempat tetapi tentunya tanpa diketahui oleh orang banyak termasuk petugas pengawal presiden, ajak beliau berbicara empat mata hanya anda dan Gayus yang berada di ruangan, kalau itu bisa di lakukan dan tentunya sikap tegas anda ketika anda tugas di kemiliteran muncul maka tidak mustahil perkara ini akan terselesaikan, buang lah rasa JAIM, TEBAR PESONA pak karena bagi penulis JAIM, TEBAR PESONA itu adalah ciri-ciri orang tidak mampu, MUNAFIK, PENAKUT !!

Jadi kapan negara ini mempunyai tokoh yang memiliki sifat keras, tegas, jujur, sederhana seperti Baharuddin Lopa dan Hoegeng Imam Santoso ? hanya Tuhan yang tahu kapan itu terjadi dan semoga para pemimpin negara ini di sadarkan kembali akan tugasnya jangan sampai Tuhan dan malaikat-malaikatnya lah yang menyadarkan itu semua nantinya ketika penghakiman terjadi ketika para pemimpin ini sudah di liang lahat dan mengantri antara melewati pintu gerbang surga atau negara !!

Untuk Bung Lopa dan Bung Hoegeng di alam baka, maafkan Presiden Republik Indonesia, Menteri Hukum dan HAM, Kapolri, Jaksa Agung yang TIDAK BECUS dan TIDAK MAMPU MENERUSKAN cita-cita anda berdua dalam mewujudkan Indonesia yang bersih dari kejahatan terutama korupsi !!


Merdeka Selatan, 120111 15:30
Rhesza
Pendapat Pribadi

Sabtu, 11 Desember 2010

Batalkan RUU Ke-Istimewaan Jogjakarta Sekarang Juga !!!


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagaian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf.

Jogja kembali di selubung awan kelabu kalau kemarin tentang bencana Gunung Merapi yang telah menghancurkan beberapa desa dengan awan panasnya walaupun sekarang sudah sedikit kembali normal kali ini bukan bencana Gunung Merapi tetapi bencana dari ucapan yang terlontar dari bibir seorang pemimpin kita yang mungkin menyinggung warga Jogja, dimana pak Beye melontarkan tentang Monarkhi didalam negara demokrasi akibatnya banyak warga Jogja yang marah dan meminta pak Beye untuk meminta maaf tetapi kesalahan itu terlontar kembali oleh pak beye dengan mempertontonkan perangkat elektronik terbaru miliknya, Ipad Apple ketika membacakan pidatonya tetapi tetap permintaan rakyat Jogja agar pak Beye minta maaf tidak terdengar dalam presscon tersebut..

Ada apa dengan Jogjakarta mungkin itu pertanyaan yang mungkin terlontar ketika melihat kondisi ini, Daerah Istimewa Jogjakarta adalah sebuah daerah yang berada di Selatan Pulau Jawa dan berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah di sebelah utara dengan wilayah Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Palualaman ditambahkan pula mantan-mantan wilayah Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Praja Mangunagaran yang sebelumnya merupakan enklave di Yogyakarta. Provinsi D.I. Yogyakarta memiliki lembaga pengawasan pelayanan umum yang bernama Ombusman Daerah Yogyakarta yang dibentuk dengan keputusan Gubernur DIY. Sri Sultan Hamengkubuwono X pada tahun 2004.

Kenapa pak beye mengatakan monarkhi dalam negara demokrasi tidak bisa sejalan maka di perlukan perangkat UU yang sekarang sedang di kerjakan dengan nama Rancangan Undang-Undang Ke-Istimewaan Yogyakarta apakah benar seperti itu ?

Kalau di tanyakan kepada penulis justru pak Beye dan jajaran kabinet dan yang merasa pemimpin di negara ini tidak terkecuali anggota dewan Senayan HARUS dan WAJIB untuk belajar kembali tentang sejarah Indonesia termasuk di dalamnya sejarah Yogyakarta ! kenapa ? pertama kita sudah tahu bagaimana struktur kepemimpinan daripada daerah Yogyakarta yang kedua, KENAPA BARU SEKARANG keberadaan kata-kata “ DAERAH ISTIMEWA “ “KERATON” di pertanyakan ?! ini kan aneh bagi penulis dan mungkin rakyat Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke dari Miangas hingga Rote.

Dalam draft RUU Ke-Istimewaan itu sendiri menurut penulis seperti ada usaha negara untuk mengubah pola politik di sana kenapa ? kebetulan penulis sudah membaca draft itu (entah itu benar atau tidak semoga ada kemiripan :D) karena ada beberapa pasal yang menurut penulis membuat posisi Sultan dan PakuAlam di “awet”kan dalam membuat semacam kebijakan.

Seperti Sultan dan PakuAlam di plot oleh RUU ini sebagai simbol, pelindung dan penjaga budaya serta pengayom dan pemersatu masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta, SIMBOL ? kalau Sultan dan PakuAlam menurut RUU ini sebagai simbol daripada DI. Yogyakarta berarti boleh kah penulis mengatakan jika melihat RUU ini nantinya menjadi UU posisi Sultan dan PakuAlam TIDAK JAUH BEDA DENGAN BONEKA MANEKIN yang sering kita lihat di etalase-etalase toko pakaian benar tidak ?!

Penulis juga TIDAK PERCAYA dengan adanya jajak pendapat yang dilakukan oleh Direktorat Otonomi Daerah- Dirjen Otda Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia yang mengatakan 71% rakyat Yogyakarta MENDUKUNG adanya pilkada secara langsung oleh rakyat di bumi Yogyakarta, kenapa ? kalau memang Jajak Pendapat itu ada MESTInya DITAMPILKAN donk di media massa baik itu cetak, elektronik ataupun media online atau kalau perlu di tampilkan di website Dirjen Otda atau web-sites Kementerian Dalam Negeri tetapi NYATA-nya dua hari setelah YANG MULIA TUAN Dirjen Otda ini mengatakan adanya angka 71% itu penulis mencoba mencheck ke website Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia dan Juga Dirjen Otda TERNYATA TIDAK ADA !!!! BOLEH KAH penulis mengatakan kalau Yang Mulia Tuan Dirjen Otda ini melakukan KEBOHONGAN PUBLIK ?! bahkan kalau kita lihat jajak pendapat yang dikeluarkan oleh sebuah harian beroplah nasional tentang Yogyakarta mayoritas masih menginginkan Sultan dan PakuAlam menjadi pemimpin mereka secara langsung tanpa ada pilkada !!

Penulis justru berterima kasih angkat topi dan jempol kepada Yogyakarta beserta masyarakatnya kenapa ? kalau melihat sejarah bangsa ini, tanpa Yogyakarta kita bisa apa dalam mengusir penjajah Belanda yang menguasai Batavia, benar tidak ? kemudian tanpa ada Yogyakarta dan pemikiran daripada Ki Hajar Dewantara dalam menyusun pendidikan Indonesia mana bisa kita pintar dan bersekolah serta bisa menjadi anggota dewan di Senayan atau seperti Pak Beye benar tidak ?! toch kalau pun ada yang bilang jika RUU ini tidak disahkan maka banyak daerah yang merasa iri ? daerah yang mana ? semua daerah sudah tahu kok porsi pemerintahan mereka jadi apa yang dikatakan para pejabat kita ini seperti TONG KOSONG NYARING BUNYINYA

Jadi daripada membuat gundah hati dan nurani masyarakat Yogyakarta sampai beredar di situs-situs jejaring sosial adanya KTP, Paspor, Bendera sampai Pesawat Terbang dengan logo kesultanan Yogyakarta lebih baik RUU ini di batalkan saja lah dan para pemimpin kita ini duduk kembali ke bangku sekolah baik itu di tingkat SD, SLTP, SMU untuk belajar sejarah Indonesia sampai hatam, mungkin para guru sejarah daripada pemimpin kita ini mulai dari Presiden, Menteri hingga anggota dewan baik di SD, SLTP, SMU yang sudah susah-susah mengajarkan tentang sejarah Indonesia terutama sejarah sebelum dan sesudah kemerdekaan Indonesia sedih berat karena apa yang mereka ajarkan ternyata tidak diserap dalam otak mereka !!!

JAS MERAH- JAngan Sekali- (kali) MElupakan sejaRAH !!!

Merdeka Selatan 071210 16:30
Rhesza
Pendapat Pribadi

Jumat, 26 November 2010

Malu Punya Pemimpin Bermental Amnesia dan Ayam Sayur

Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagaian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf

Menjelang akhir tahun ini kondisi negara ini semakin tidak jelas terutama kelakuan daripada para pemimpinnya dan rakyat yang bisa mengelus dada saja melihat kelakuan para pemimpin kita yang katanya bekerja dan dipilih oleh rakyat.

Kita bisa lihat sudah berapa banyak kasus yang sampai sekarang tidak jelas ujungnya, seperti Kasus HAM Trisakti, Semanggi I dan II, kasus tewasnya aktivis HAM Munir, kasus pelemparan molotov ke Kantor Redaksi Tempo, Penganiayaan aktivis ICW ketika maraknya gelaran Piala Dunia, Pengrusakan aset dari kelompok Jemaah Ahmadiyah, kasus penusukan dan penganiayaan anggota Jemaat HKBP Ciketing, kasus penganiyaan TKI/W di luar negeri atau yang sekarang kasus Gayus yang bisa keluar masuk sebanyak 68 kali dari penjara polisi..

Dari semua kasus yang penulis utarakan di atas hampir semuanya tidak pernah berujung pada kesimpulan misalnya menangkap dan menjatuhkan hukuman yang setimpal atau paling tinggi mati kepada orang-orang yang secara sah dan menyakinkan dengan nurani melakukan kejahatan itu dan keluarga korban pun puas dengan hasil nyata daripada kerja aparat keamanan atau pemimpin kita dalam memerintahkan langsung kepada institusi yang berwenang tetapi nyatanya ?

Kita bisa lihat seperti kasus Tewasnya Munir aktivis HAM dan Penganiayaan aktivis ICW, Tama di mana Pemimpin tertinggi di negara ini membentuk Tim Pencari Fakta untuk mengusut kasus Munir kemudian mendatangi Tama seorang aktivis ICW di Rumah Sakit dan mengecam tindakan itu kemudian ada satu hal yang membuat penulis agak sedikit sumringah terhadap kedua kasus ini adalah sang pemimpin meminta aparat Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk segera mengusut dan menemukan pelaku karena itu berarti sang pemimpin kita ini SADAR dan TAHU BETUL kalau dia adalah pemimpin dipilih oleh rakyat dan bekerja untuk rakyat tetapi NYATA-nya sampai detik ini BELUM ADA TUCH pelaku dari pada kasus ini !

Kemudian kasus penusukan dan penganiayaan Jemaat HKBP Ciketing dimana Pemimpin Kepala Kepolisan Daerah Metropolitan Jakarta Raya mengatakan akan menuntaskan kasus ini setuntas-tuntasnya tetapi MANA, sampai detik ini pun kasus ini sepertinya ditinggal begitu saja bahkan wajah dan suara daripada pelaku ini pun tidak pernah di publikasikan kepada media padahal pemimpin ini saat ini “NAIK KELAS” menjadi Orang nomor satu di Kepolisian Indonesia.

Pertanyaan sekarang adalah apa yang membuat kasus-kasus seperti yang penulis utarakan di atas tidak pernah jelas dan memuaskan masyarakat Indonesia yang ingin membuktikan kalau yang namanya keadilan itu benar-benar ada bukan hanya sekedar tulisan dan kata-kata tetapi nyatanya menurut penulis yang namanya keadilan hanya berlaku di bibir dan kertas bukan dalam dunia nyata !

Apakah karena pemimpin kita ini terbelenggu atau terpasung dengan kepentingan-kepentingan misalnya kalau kasus ini terbuka seluas-luasnya maka kesepakatan antar partai akan sia-sia begitu ? atau kalau kasus ini terbuka seluas-luasnya maka nasib kehidupan sang pemimpin kita juga akan ikut terancam karena nantinya bisa tersangkut ? padahal logikanya pemimpin kita ini DIPILIH LANGSUNG oleh rakyat BUKAN Partai Politik benar tidak ?!

Kalau keadaannya seperti ini boleh kah penulis mengatakan kalau semua manusia yang mengaku mereka pemimpin di negara ini adalah PEMIMPIN BERMENTAL AYAM SAYUR dan Gangguan Amnesia akut ? pasti banyak juga yang memprotes dengan apa yang penulis katakan tetapi itulah kenyataannya kalau memang pemimpin kita seorang pemimpin yang tegas, keras dan tahu akan tanggung jawabnya kepada siapa beliau dipilih dan diplot menjadi Pemimpin seharusnya Kasus HAM Trisakti serta Tragedi Mei 98, Semanggi I dan II, kasus Munir, Penganiayaan aktivis ICW, Penusukan dan penganiayaan jemaat gereja HKBP Ciketing, rekening gendut Polri dan kasus Gayus biar selesai dan jentikan jari benar tidak ?

Seperti contoh Munir dan aktivis ICW padahal sudah jelas ucapan dari pada pemimpin kita dan kalau bisa kawan-kawan pers kiranya bisa mengeluarkan membuka kembali kaset yang berisi suara daripada pemimpin ini untuk mengusut tuntas tetapi faktanya mana ? terkesan awalnya simpati dan ingin menjadi pahlawan biar di mata keluarga Munir dan aktivis ICW serta rakyat Indonesia kalau pemimpin kita itu membumi bahkan ingin menunjukkan kalau pemimpin itu bisa membumi dan akan membatu rakyatnya yang sedang susah dan menjadi korban, NYATA-nya itu semua PALSU dan terbukti sekarang !!!

Pantas saja negara kita selama hampir 65 tahun merdeka ternyata merdeka itu hanya berlaku ketika jaman Ir. Soekarno menjabat hingga jatuh setelah itu mulai dari Kakek tua arogan dari Cendana hingga sekarang penulis tidak melihat apa itu kemerdekaan atau merdeka bagi rakyat Indonesia, kalau memang negara dan rakyat ini merdeka dari penjajahan seharusnya pelaku tragedi Mei 98, Trisakti, Semanggi I dan II, Pembunuhan Munir, Penganiayaan aktivis ICW, Pelemparan bom molotov ke Kantor Redaksi Tempo, Penusukan serta penganiayaan terhadap jemaat gereja HKBP Ciketing, perwira penyimpan rekening gendut, pengrusakan aset Ahmadiyah SUDAH DI TANGKAP dan DI EKSEKUSI !! benar tidak ?!

Buat manusia-manusia yang ganteng dan cantik, berijazah S1 sampai S-sekian, rambut di sisir dengan gel rambut dan berkonde, berbaju safari, kebaya dan berkemeja necis dengan dasi dan jas yang serasi, bersepatu kulit yang kinclong yang bertebaran dan mejeng di bawah hembusan pendingin udara dan kursi empuk entah itu di kawasan Merdeka Selatan, Barat, Utara, Senayan TOLONG anda itu di PILIH oleh rakyat kiranya anda BEKERJA UNTUK RAKYAT BUKAN UNTUK PARTAI, janganlah urusan RANJANG dan lendir ARTIS seperti aksi Trio Ranjang ARL-CT-LM anda langsung HEBOH SEPERTI INDONESIA MAU KIAMAT tetapi giliran kasus seperti Trisaksi dan tragedi Mei 98, Semanggi I dan II, Munir, penganiayaan aktivis ICW, pelemparan molotov ke kantor Redaksi Tempo, pengrusakan aset kelompok Ahmadiyah, Century, rekening gendut Polri, penusukan dan penganiayaan jemaat HKBP Ciketing, kematian David Hartanto, penganiayaan TKI/W di luar negeri, kasus Gayus anda diam saja atau hanya berkomentar layaknya komentator sepak bola tetapi nyatanya tidak ada, anda itu semua hanya bisa NATO- Ngomong ASAL TANPA OTAK !! padahal anda semua adalah ciptaan Tuhan paling sempurna dan juga anda paling sempurna di mata rakyat karena anda mewakili suara nurani rakyat demi “merdeka” nya negara dan rakyat dari penjajahan yang bukan penjajahan seperti jaman perang tetapi penjajahan masa kini yang namanya KETIDAK ADILAN !!!

Taman Suropati, 241110 10:40
Rhesza
Pendapat Pribadi

Kamis, 18 November 2010

Terima Kasih Obama…


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagaian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf

Tulisan ini masih berkaitan dengan kunjungan Presiden Obama beserta Isteri ke Jakarta setelah dari India, kita tahu bagaimana kedatangan Presiden ini membuat sebagian jalan di Jakarta mengalami kelumpuhan karena adanya sistem buka-tutup jalan sekitar Thamrin-Sudirman, Kalibata hingga Depok yang katanya Kepolisian dari Direktorat Lalu Lintas Mabes Polri mengatakan buka-tutup jalan sekitar 5-7 menit tetapi nyatanya penulis melihat setidaknya hampir tiga puluh menit..

Penulis tidak akan mempermasalahkan soal jalur buka-tutupnya jalan yang di lalui oleh Obama tetapi ada yang ingin penulis tulis soal Obama yang membuat penulis sedikit kaget, dan angkat topi serta dua jempol buat beliau kenapa ?

Kita bisa lihat bagaimana Obama berpidato tentang Indonesia dan Amerika tentunya yang menurut beberapa orang termasuk penulis belum tentu bisa menjelaskan tentang paham daripada sebuah negara seperti Indonesia kepada warga asing tetapi beliau menurut penulis bisa menjelaskan apa itu Indonesia baik politik maupun ideologinya walaupun jadinya seperti menggurui dan sok tahu..

Seperti pada pidato beliau di Balirung, komplek Universitas Indonesia-Depok, pada awal pidato beliau mengucapkan Assalamualaikum dan salam sejahtera yang selalu menjadi bahasa wajib bagi semua pejabat Indonesia ketika berpidato pada sebuah kegiatan, dari kalimat itu saja Presiden Obama ingin merasakan sebagai orang Indonesia dengan bahasa Indonesia yang dilontarkan pun tidak seperti orang asing yang sedang berbicara bahasa Indonesia dengan terbata-bata tetapi Obama sangat lancer sekali.

Tetapi dari itu semua penulis mengangkat jempol dan topi kepada beliau karena beliau telah mengingatkan kita semua yang merasa warga negara Indonesia tentang Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, kenapa penulis harus mengangkat jempol dan topi kepada Presiden Obama karena kita bisa lihat bagaimana seorang warga negara Amerika Serikat yang juga Presiden Amerika Serikat ini menjabarkan arti dari Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan juga arti dari Istiqlal yang kita sendiri sebegai warga Indonesia pun belum tentu bisa selancar tuan Presiden Obama..

Soal Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika penulis ingin bertanya kepada para pembaca apakah kita sudah mengamalkan dan menjalankan dengan nyata apa itu Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan kita sehari-hari ? pasti banyak yang berpikir dahulu baru menjawabnya benar tidak ?

Tidak usah bohong, banyak dari kita yang sampai saat ini belum bisa menjalankan apa isi dari Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, salah satunya adalah kasus penolakan terhadap aktivitas kaum nasrani di Ciketing-Bekasi oleh sekelompok orang yang sok suci (bagi penulis) padahal arti dari Bhinneka Tunggal Ika sendiri adalah Berbeda-beda tetap satu dan dalam Pancasila pun pada sila Pertama adalah, Ketuhanan Yang Maha Esa jadi kasus Ciketing tersebut apanya yang salah kalau muara dari peribadatan itu untuk satu orang yaitu TUHAN, benar tidak ?!

Yang menjadi pertanyaan saat ini adalah apakah para pejabat ini dalam hal ini mulai dari eksekutif hingga legislative menjalankan apa yang di tulis dan di ucapkan oleh Obama dalam hal ini Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika? Pasti beragam jawabannya tetapi intinya tetap kita malu dan harus intropeksi dalam nurani kita masing-masing benar tidak ?!

Sebenarnya paham negara kita dengan Amerika itu tidak jauh berbeda seperti yang diucapkan oleh Obama dan benar yaitu kalau Indonesia punya semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti Berbeda-beda tetapi satu sedangkan Amerika punya semboyan E pluribus unum yang artinya adalah Dari Banyak Menjadi Satu, bukan kah itu juga mengandung dari banyak pemikiran menjadi satu yaitu demi Amerika sama seperti dengan Indonesia benar tidak ?!

Sudah waktunya kita sebagai dan yang mengaku warga negara Indonesia agar kehidupan bangsa ini sesuai dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika jangan Cuma ucapan saja ketika kita jaman kakek tua Cendana kita bisa hapal dan pengamalkan secara nyata tetapi sekarang sudah luntur, apa mesti kita di cambuk lagi dengan ucapan seorang Obama-Obama lainnya ketika berkunjung ke Indonesia dan lebih tahu daripada kita dan baru kita sadar ?

Tuan Obama…terima kasih atas pidato terbuka yang anda sampaikan karena pidato anda ini penulis merasa malu karena anda yang hanya 4,5 tahun hidup di Indonesia tahu dan paham apa itu Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika daripada penulis dan mungkin rakyat Indonesia yang sudah beberapa generasi dan terima kasih telah diingatkan kembali soal pentingnya Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika karena selama ini para pemimpin di negara ini bekerja tidak di landasi dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika tetapi lebih bekerja dengan di landasai ideologi partai-partai, golongan dan perut mereka sendiri…sekali lagi terima kasih Obama…

Depok, 101110 10:00
Rhesza
Pendapat Pribadi

Selasa, 16 November 2010

Malu Punya Pejabat Munafik (bagian 2) !!


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagaian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf

Tulisan ini masih terkait dengan kedatangan atau kata beliau PULANG KAMPUNG NIH Presiden Amerika Serikat, kalau anda membaca tulisan penulis bagian yang pertama (disini) maka masih ada pejabat yang menurut penulis munafik bahkan pangkatnya lebih tinggi daripada pejabat yang penulis tulis pertama kali.

Adegan ini masih di tempat yang sama yaitu Istana Negara, kejadian ini terjadi ketika jamuan makan malam internasional yang di adakan oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono untuk menjamu Presiden Amerika Serikat beserta Istri, dimana tanpa disangka tanpa di duga pada bagian depan samping kanan (kalau melihat di televisi) muncul seseorang yang selama ini ketika diundang negara tidak pernah hadir seperti upacara kenegaraan 17 Agustus atau Hari Pahlawan tanpa alasan tetapi ketika jamuan makan malam internasional beliau datang dan tampak anggun beserta suami, siapakah dia ?

Dia adalah Diah Permata Megawaati Setiawati Soekarnoputri atau biasa kita kenal sebagai Megawati Soekarnoputri, mantan Presiden Republik Indonesia Periode 23 Juli 2001 sampai dengan 20 Oktober 2004 .

Kenapa penulis menulis judul diatas, karena melihat sikap beliau yang memang munafik, kenapa penulis mengatakan munafik kita bisa lihat, bagaimana perang saraf dan sindiran antara presiden dengan Megawati dalam berbagai hal dan masalah terutama urusan kenegaraan dimana mbak Mega selalu mengkritik kerja pemerintah yang tidak beres dalam hal melayani dan mensejahterahkan rakyat.

Seperti contoh ada ungkapan dari beliau kalau pemerintah kita saat ini seperti permainan Yoyo yang naik-turun seperti halnya pemerintah yang selalu naik-turun dalam menjalankan roda pemerintahan negara ini, atau ada lagi beliau menyebut pemerintah seperti sedang melakukan tari poco-poco karena tidak konsisten dalam menjalankan roda perekonomian negara ini. Benarkah demikian ?

Menurut penulis sich dua istilah yang di lontarkan oleh beliau kepada pemerintah soal kerja mereka terhadap negara masih dianggap wajar daripada kerja beliau ketika masih menjabat dimana beliau dengan mudah dan gampangnya menjual yang menjadi aset negara kepada pihak asing yang mana rakyat Indonesia belum menikmatinya seperti contoh kasus penjualan sebuah perusahaan negara yang bergerak di bidang telekomunikasi yang di jual kepada perusahaan telekomunikasi asal Singapura atau penjualan kapal tanker milik Pertamina dengan harga murah padahal kapal tanker tersebut baru saja di buat dan di beli !

Kembali kepada acara jamuan makan malam internasional yang di hadiri beliau dan penulis mengatakan bahwa belaiau adalah pejabat paling munafik di negara ini, kenapa penulis menjulukinya munfik ? kita bisa lihat dan mungkin juga bertanya ada apa ini ketika perayaan-perayaan kenegaraan seperti Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan tiap tanggal 17 Agustus dimana Istana selalu mengirimkan undangan kepada beliau untuk menghadiri upacara tersebut karena sebagai mantan kepala negara tetapi beliau tidak pernah datang sebagai mantan kepala negara atau sebagai bagian dari keluarga besar Bung Karno dengan berbagai alasan, TETAPI KENAPA ketika Presiden Obama beserta istri datang ke Jakarta dan Presiden Yudhoyono menjamu beliau sebagai rasa terima kasih telah datang ke Indonesia dengan jamuan makan malam kenegaraan beliau datang dengan busana khasnya warna merah dan tersenyum lepas ketika bersalaman dan mengobrol sejenak dengan Presiden Obama, ada apa ini ?!

Terlepas dari itu semua kiranya para pejabat negeri ini menjaga sikap dan perilakunya dengan konsisten jangan sampai seperti yang dilakukan oleh dua pejabat ini, sok menjaga imej dan ego mereka di hadapan kolega politik dan rakyat tetapi akhirnya termakan sendiri imej dan ego mereka dengan keadaan yang ada seperti yang terjadi di Istana beberapa hari yang lalu dan rakyat termasuk penulishanya bisa diam, atau tertawa lebar sambil berkata MUNAFIK !!!

Merdeka Selatan, 131110 06:40
Rhesza
Pendapat Pribadi

Rabu, 10 November 2010

Protokoler Ternyata Lebih Kejam Daripada Pembunuhan (bag 1)


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagaian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf

"Tidur di kasur baru kemarin, dari 29 balita kemarin sore dipinjamin tiga kasur busa. Besok dikembalikan, “ Agustinus Mujimin


(lengkapnya )


Kenapa penulis menuliskan judul di atas seperti itu di karenakan adanya berita yang tidak mengenakann di samping berita tentang duka saudara-saudara kita yang ada di Wasior, Mentawai, Merapi dan tempat lainnya. Tulisan ini lebih kepada peringatan buat orang-orang yang merasa pemimpin atau koleganya agar lebih respek dan menggunakan nurani daripada mengikuti apa kata protokoler atau anak buah.

Kita tahu bagaimana para pemimpin ini selalu di awasi gerak-geriknya oleh sejumlah kelompok yang memperkenalkan diri sebagai pasukan pengawal, ajudan atau apapun namanya bahkan fungsi mereka ini lebih vital daripada para pemimpin atau bos mereka tetapi dari vitalnya itu malah lebih menyesengsarakan masyarakat atau orang-orang yang sedang di kunjungi oleh pemimpin mereka.

Kasus yang penulis utarakan adalah terjadi di kawasan Merapi dimana para pemimpin kita datang kesana untuk meninjau situasi terakhir baik itu kondisi Merapinya sendiri begitu juga dengan rakyatnya tetapi apa yang di dapat tidak sesuai dengan apa yang kita bayangkan dengan apa yang di sebut empati secara nurani.

"Kamu pimpinan kelompok, yah. Nanti kalau Bapak Presiden datang bilang 'Hormat kepada Bapak Presiden Republik Indonesia siap grak'," kata guru lain kepada seorang siswa. Si murid hanya manggut-manggut.


[Lengkapnya]


Ada beberapa jurnalis yang menulis bagaimana persiapan sebelum pemimpin ini meninjau yang menurut penulis agak kurang masuk akal dan terkesan menutup-nutupi apa yang sudah terjadi di depan mata atau istilahnya dibersihkan dulu padahal kita mau pemimpin kita tahu dan merasakan apa yang dirasakan oleh kita.

Seperti yang terjadi di Merapi dimana seorang jurnalis melaporkan bahwa sebelum kedatangan sang pemimpin negara ini semua akses jalan yang akan di lewati oleh sang pemimpin di perbaiki supaya nyaman padahal sebelumnya kondisi jalan tersebut memprihatinkan dan sangat parah kondisinya tetapi begitu sang pemimpin ini datang maka jalan yang tadinya memprihatinkan dan parah kondisinya berubah menjadi mulus tanpa ada lubang sedikit pun Walah seperti adegan sulap di tipi-tipi.

Kalau urusan mengubah jalanan yang tadinya rusak parah menjadi bagus bagi penulis tidak ada masalah walaupun dilemma tetapi yang lebih menyakitkan adalah ketika para korban mengungsi ini di arahkan layaknya seorang pemain sinetron yang diarahkan oleh seorang sutradara, sutradara dalam kali ini adalah Rombongan sirkus (baca: Protokoler dan keamanan) daripada lingkaran sang pemimpin yang kemana-mana SELALU menyusahkan rakyat entah itu di jalan hingga mengakibatkan beberapa orang pada tahun 2004 harus tercabut nyawanya di tol atau sampai membuat seorang gadis kecil mengalami trauma karena ke-egoisan daripada rombongan sirkus ini walaupun sang juru bibir mengatakan bahwa iringan-iringan akan di kurangi tetapi nyatanya ? sampai kemarin ( 4/11) sekitar pukul 13.00 melintas rombongan sirkus pemimpin ini yang terdiri dari 4 motor patwal, 2 motor gede jenis sport dan lebih dari 20 mobil katergori SUV dan minivan melintas di daerah Taman Suropati, Jakarta Pusat apakah ini yang di sebut penghematan iring-iringan seperti yang di ucapkan oleh JURU BIBIR ISTANA ?

"Di sini senang di sana senang...di mana-mana hatiku senang. Di sini senang...di sana senang, di mana-mana SBY senang," teriak anak-anak tersebut.


Seperti contoh yang di tuliskan oleh para jurnalis ini adalah pada saat bencana wasior dimana menurut salah satu korban yang bercerita kepada media bahwa mereka diangkut oleh beberapa truk tronton untuk di drop di sebuah tempat yang ternyata tempat untuk berbicara dengan sang pemimpin lengkap layaknya sebuah kegiatan resmi dimana ada tenda dan sebagainya, begitu ditanya oleh Jurnalis salah satu korban itu mengatakan bahwa sebelum mereka diangkut ke tempat itu, tempat itu tidak jelas dan tidak berbentuk karena dampak dari bencana tetapi ketika pemimpin itu datang maka tempat itu pun di sulap menjadi lebih bagus.

Itu yang di Wasior lantas apakah di Merapi sama atau beda tau lebih parah daripada Wasior ? ternyata Kondisi Merapi lebih parah daripada Wasior dan lebih parah daripada settingan di Wasior dimana yang dituliskan oleh seorang Jurnalis dan beredar di jejaring social dimana tempat para korban Merapi di tampung (baca: BARAK) di rapikan oleh rombongan sirkus untuk menjamu sang pemimpin untuk melihat kondisi, yang lebih tragis adalah (mungkin) tanpa sepengetahuan sang pemimpin para rombongan sirkusnya men-set layaknya sutradara sinetron stripping orang-orang di sekitar dan tinggal di barak agar di latih bahasa tubuhnya ketika sang pemimpin mencoba mangajak bicara atau apa apun yang sang pemimpin lihat termasuk nyanyian selamat datang yang dinyanyikan oleh anak-anak sekolah ketika sang pemimpin ini memasuki tempat Barak.

Atau ketika bencana Tsunami Mentawai dimana pak Beye berada di Hanoi dan memutuskan untuk kembali sejenak ke tanah air untuk meninjau Mentawai tiba-tiba sebuah portal berita menuliskan bahwa rombongan sirkus sudah datang ke Mentawai untuk mempersiapkan itu semua, dan LEBIH LUCUNYA adalah KALAU MEMANG pak Beye itu pemimpin dengan latar belakangnya Militer kenapa juga HARUS MENUNGGU INSTRUKSI dengan menginap satu hari di Kota Padang daripada rombongan sirkus ini dan bukannya langsung datang ke TKP menit itu juga !!!

Dari itu semua penulis Cuma melihat bahwa pemimpin negara ini TIDAK BERANI alias TAKUT sama rombongan sirkusnya, kenapa penulis mengatakan itu ? kita bisa lihat BAGAIMANA pemimpin kita HANYA BISA menerima BUKAN melakukan tindakan SPONTAN dari ketentuan yang sudah dirancang oleh rombongan sirkusnya, tindakan ini mengingatkan penulis dengan sebuah acara talkshow dimana salah satu menterinya mengatakan tentang sistem keamanan “bos”nya ketika di jalan terkait dengan kasus Tol Cibubur dan surat pembaca dimana sang menteri ini mengatakan bahwa beliau ketika di dalam kendaraan tidak tahu apa yang terjadi di luar sana begitu sampai baru di beritahu jika ada kecelakaan seperti kasus Cibubur empat tahun yang lalu

Padahal kita semua tahu kalau seorang manusia mendapatkan predikat sebegai pemimpin di sebuah negara karena dipilih oleh rakyat dan bekerja untuk rakyat tetapi nyatanya yang terjadi saat ini adalah pemimpin kita memang bekerja tetapi apakah itu untuk rakyat atau tidak kita tidak tahu. KALAU MEMANG pak Beye itu seorang pemimpin SEHARUSNYA kasus Cibubur 4 tahun yang lalu sehingga membuat seorang supir bus yang usia lanjut harus menjadi TUMBAL daripada KELAKUAN rombongan sirkus ini bisa membuat pak Beye memerintahkan iring-iringan berheni dan pak Beye turun dan ikut membantu BUKANnya jalan terus dan sampai di Istana baru di beri tahu kalau tadi ada kecelakaan, memang pemimpin kita ini TIDAK PUNYA MATA untuk melihat sekitar baik depan belakang samping kanan dan samping kiri yang ia lewati bersama iring-iringan sampai baru tahu di Istana kalau jalan yang ia lewati itu sudah memakan korban jiwa dan menyebabkan satu orang harus menjadi pesakitan apa yang ia tidak perbuat atau SEBELUM MASUK ke mobilnya pak Beye DIBERIKAN semacam kaca mata dan penyangga leher yang HANYA BISA MENATAP KE DEPAN oleh rombongan sirkus !!

Penulis sich berpikir sudah saatnya para pemimpin kita ini mulai dari Presiden hingga Kepala Desa HARUS BERONTAK terhadap sistem protokoler YANG MEMUAKKAN jangan lah para pemimpin kita ini seperti KERBAU DICUCUK HIDUNGnya oleh protokoler dan sistem pengamanan kalau memang bekerja untuk negara dalam hal ini rakyat, sudah banyak pemimpin negara di dunia yang mulai melepaskan atau menolak tawaran daripada rombongan sirkus ketika beliau bekerja seperti Presiden Philipina, Benigno Aquino III dan Perdana Menteri Inggris Raya, David Camerron bahkan menteri-menteri di negara Eropa pun kemana-mana tanpa raungan sirene dan merasakan macet bersama dengan rakyat di jalan raya karena menteri-menteri di negara Eropa dan benua lainnya SADAR DIRI kalau mereka DIPILIH dan BEKERJA untuk rakyat, rakyatlah YANG MEMBAYAR mereka lewat pajak termasuk jalan yang mereka lewati atau halusnya adalah Menteri dan Kepala Negara di negara luar sana seperti Eropa adalah (maaf) KACUNG dan rakyat adalah MAJIKAN !!! dan kalau TIDAK SANGGUP bekerja atau ada aib dalam diri mereka, SECARA LANGSUNG tanpa harus dipaksa atau dimunculkan dulu ke media lewat tulisan-tulisan tajam jurnalis, mereka RELA MUNDUR sebagai rasa tanggungjawab mereka terhadap rakyat, sedangkan para pejabat di negara ini dengan rakyatnya ??!!!

Taman Suropati, 061110 16:00
Rhesza
Pendapat Pribadi