Tampilkan postingan dengan label hak rakyat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hak rakyat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 November 2010

Benarkah Soeharto Pahlawan Bagi Semua Rakyat Indonesia ?


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagaian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf

Setiap tanggal 10 November setiap tahun negara kita dan juga rakyat Indonesia selalu memperingati hari Pahlawan untuk mengenang dan terima kasih atas jasa-jasa mereka sehingga negara ini merdeka dan maju seperti ini dan setiap menjelang tanggal 10 pemerintah selalu mengeluarkan daftar rincian orang-orang yang menurut pemerintah layak di berikan bintang jasa atas pengabdian mereka atasnegara ini tetapi tahun ini ada yang menarik ketika negara akan memberikan bintang lencana kepada satu dari (mohon dikoreksi jika salah) 10 masyarakat Indonesia yang telah berjasa terhadap negara ini.

Satu dari 10 tokoh tersebut adalah Haji Muhammad Soeharto yang tidak lain tidak bukan adalah Mantan Presiden Republik Indonesia periode 1966 hingga 1998 kenapa penulis menarik karena begitu release nama-nama penerima bintang lencana itu oleh pihak-pihak terkait dalam hal ini Kementerian Sosial Republik Indonesia banyak masyarakat yang menolak pemberian bintang lencana kepada Soeharto karena masyarakat sudah tau bagaimana tokoh ini ketika menjabat sebagai Presiden.

Semua orang tahu bagaimana Soeharto ini memimpin negara ini, (bolehkah penulis mengatakan) kejahatan beliau di mulai ketika tahun 1965 ketika menumpas PKI dimana semua orang yang di lihat beliau memiliki keterikatan dengan PKI maka tidak sungkan-sungkan menangkap dan menahannya hingga bertahun-tahun tanpa ada pembelaan diri daripada sang korban, kemudian pada peristiwa Malam LimA januaRI atau biasa kita kenal dengan Malari pada tanggal 15 Januari 1974 dimana terjadi kerusuhan dan pembakaran produk-produk Jepang ketika PM Jepang kala itu Tanaka Berkunjung, kemudian adanya pembentukan Petrus-Penembak Misterius yang tujuannya untuk mengurangi tingkat criminal kala itu sedang tinggi-tingginya, tetapi yang lebih banyak disorot adalah pelanggaran HAM oleh tentara yang kala itu bernama ABRI-Angkatan Bersenjatan Republik Indonesia ketika itu melakukan Operasi Seroja di Timor-Timur, kemudian Operasi Jaring Merah di Aceh yang kita kenal sebagai Daerah Operasi Militer-DOM Aceh, penculikan aktivitis dan mahasiswa hingga adanya peristiwa Mei 1998 yang melengserkan beliau

Itu soal HAM bagaimana dengan bidang lain selama di pimpin oleh Soeharto terutama bidang Ekonomi, ternyata tidak jauh berbeda dimana sebuah badan internasional yang bergerak dalam bidang analisa korupsi mengatakan bahwa Soeharto masuk dalam daftar kepala negara terkoru di dunia sepanjang 20 tahun terakhir ini, selain itu juga kita semua sudah tahu bagaimana keluarga ini menjalankan negara dengan seenaknya dimana hampir semua anaknya mendapatkan kemudahan dalam menjalankan bisnisnya padahal mereka sama sekali tidak mengerti bahkan ada sebuah buku yang pernah penulis baca (maaf lupa judul bukunya tapi penulis membacanya di Toko buku terkemuka di daerah Pejaten) bahwa pendidikan anak-anak sampai cucu dari mantan pemimpin negara ini tidaklah begitu pintar bahkan berapa kali tidak naik kelas mungkin karena pengaruh ayah dan kakeknya makanya mereka sekeluarga lenggang kangkung sampai pendidikan tinggi padahal nyatanya !

Kasus-kasus yang melibatkan jaringan Cendana ini sudah berapa kali coba di masukan ke Pengadilan tetapi nyatanya hasilnya tetap di tengah jalan dengan stempel “sakit” dan “sakit hingga sampai beliau meninggal dunia pada tanggal 27 Januari 2008 lalu. Kembali ke soal pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto memang ibarat dua sisi mata uang dimana satu sisi kita bisa lihat kebrutalan beliau di balik senyumannya yang manis dimana sepanjang beliau memimpin negara ini sudah berapa banyak rakyat yang harus menderita mulai dari intimidasi seperti adanya “stempel Ex-Tapol “ bagi kelompok PKI sampai dengan penghilangan nyawa yang sampai hari ini entah kemana jasad mereka di kebumikan tetapi di sisi lain karena kepemimpinan beliau maka negara ini paling tidak bisa disegani oleh negara luar tetapi masih lebih disegani ketika masih di pimpin oleh Bung Karno.

Kalau penulis seorang pemimpin sebuah negara dan dipilih langsung oleh rakyat maka nasib Soeharto ini penulis akan menolaknya dengan mentah-mentah kenapa ? pertama, walaupun dia selalu mengatakan tidak bersalah dan sakit bagaimana bisa kita mempercayainya kalau yang berbicara hanya pengacaranya BUKAN beliaunya sendiri yang jelas-jelas mungkin bisa bicara, yang kedua adalah, kiranya para keluarganya menyerahkan semua asset mereka yang selama ini mereka pegang dengan mengatasnamakan rakyat atau negara ini tetapi yang paling utama adalah PENGAKUAN PERMINTAAN MAAF dan GANTI RUGI sebesar-besarnya yang disampaikan keluarga besar Cendana yang di rekam dan di publikasikan ke seantero dunia yang isinya bahwa orangtua mereka telah bersalah dan kami siap untuk menggantikannya ! kenapa penulis mengatakan itu diatas jika penulis berandai RI-01 karena penulis seorang pemimpin yang dipilih langsung oleh rakyat dan penulis berhak melayani rakyat dengan prioritas dan kekebalan yang dipunya seorang pemimpin BUKAN menjadi budak dari golongan mulai dari partai politik sampai lingkaran keluarga benar bukan ?!

Apakah nanti H-2 tanggal 10 November 2010 pemerintah akan memberikan predikat “Pahlawan “ kepada H.M. Soeharto atau tidak yang pasti rakyat pun sudah punya jawaban sendiri ketika pemerintah kita ini memberikannya dan Tuhan pun tau siapa yang membuat negara ini seperti ini…

Merdeka Selatan, 031110 10:25
Rhesza
Pendapat Pribadi

Selasa, 06 April 2010

Kemanakah Tanah Lapang itu ?


Kalau ditanya apa yang anda ketahui tentang Daerah Khusus Ibukota Jakarta lantas apa yang anda jawab ? pasti jawabannya beragam ada lah yang mengatakan kota selalu macet, banyak hiburan, warganya cantik-cantik dan ganteng-ganteng (hmm…), warganya ramah-ramah, banyak gedung bertingkat, tetapi kalau ditanya adakah di DKI Jakarta ini lapangan sepakbola ? pasti semua akan mengangkat alis mereka benar tidak ?

Itu lah yang sudah tidak ada lagi di ibukota ini, tanah lapang atau lapangan bola ! kalau dulu ketika jaman penulis kecil atau jaman Indonesia pasca kemerdekaan mungkin masih banyak tanah-tanah lapang yang bisa digunakan bocah-bocah ketika siang menjelang sore untuk bermain diluar rumah dengan kawan-kawan sebelah rumahnya banyak permainan yang bisa dimainkan di luar rumah dan ditanah lapang misalnya bermain sepak bola atau bentengan atau perang-perangan, lapangan ini juga bisa dijadikan sebagai ajang silaturahmi antar warga, dengan tanah lapang atau lapangan ini warga bisa berolah raga atau menggelar acara musik yang khusus untuk warga. Tetapi yang terjadi sekarang adalah banyak anak kecil generasi Spongebob ini lebih kenal dengan joystick Playstation atau Wii atau keyboard komputer game online hingga berjam-jam membuat mata letih daripada berolahraga yang membuat badan bekerja membakar kalori atau nongkrong sambil genjrang-genjreng gitar di depan gang hingga berjam-jam, benar tidak ?

Kalaupun tanah lapang ada hanya sebesar ukuran lapangan bola voli atau bulutangkis dan itu semua orang menumpuk disana untuk melakukan kegiatan olahraga atau kegiatan lainnya, penulis juga heran dengan sikap para pemimpin di negara ini yang tidak memikirkan aspek lingkungan dan lebih memikirkan aspek bisnis saja, kita bisa lihat tanah lapang yang minim bahkan tidak ada, sekarang pun tidak ada tanaman yang mampu meng”adem”kan panasnya dunia disetiap jengkal jalan benar tidak ?

Penulis sampai berpikir dalam hati, pantas saja Timnas kita selalu kalah dan tidak pernah berprestasi karena sudah tidak ada pembinaan usia muda, fasilitas seperti lapangan pun tidak ada beda sekali dengan Singapura padahal sama-sama kota yang dilirik para taipan-taipan internasional tetapi mereka dengan wilayah negara yang tidak jauh beda dengan wilayah Sumatera masih punya respek dengan mendirikan beberapa stadion dan fasilitas lainnya, dan akhirnya ! timnas mereka pun bisa bersuara dengan paling tidak bisa memberikan perlawanan kepada timnas yang lebih kuat dalam ajang kualifikasi Piala Asia walaupun tidak lolos, daripada negara kita HANYA bisa seri dan kalah !

Dan inilah yang pernah rasakan ketika Jakarta merasakan dua kali gempa dan penulis terpaksa mengevakuasikan diri dengan berdiri di tepi jalan padahal yang namanya jalan itu tidak direkomendasikan sebagai tempat aman jika sedang gempa tetapi lapangan !

Sudah seharusnya dimulai dari sekarang pemerintah melalui Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia membuat kebijakan yang tentunya di setujui oleh Presiden Republik Indonesia yang isinya meminta kepada Pemerintah Propinsi, Kota dan Kabupaten agar menyediakan beberapa hektar setiap jengkal luas daerah untuk pembangunan pusat olahraga atau stadion olahraga, supaya tidak ada lagi anak-anak kecil yang selalu duduk manis di depan komputer atau televisi dengan bermain game, walaupun mereka bilang ini olahraga tetapi bukan olahraga bakar kalori tetapi menambah kalori.

Semoga Pemerintah negara ini masih punya nurani dan lebih mementingkan kesehatan dan lingkungan dengan membangun banyak lapangan dan juga menanam pohon daripada harus bertekuk lutut dengan para taipan-taipan yang tidak punya nurani sosial tetapi nurani bisnis dan keuntungan..semoga saja

Thamrin, 260310 15:10

Rhesza Ivan
Pendapat Pribadi