Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Juli 2010

Tanah Air Beta v Balibo Five


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagaian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf.

Adakah diantara para pembaca yang sudah nonton Film terbaru dari Perusahaan Alenia Picture yang berjudul Tanah Air Beta ? film ini bersetting daerah Timor Barat serta pasca jajak pendapat internasional dimana Propinsi Timor-Timur harus segera keluar dari ke-propinsi-an Indonesia dan menjadi negara yang sekarang kita sebut Republica Democratica of Timor Leste.

Film ini dibuka dengan ada eksodus warga Timor-Timur yang memilih untuk tinggal di tanah Indonesia yang kemudian di tempatkan di kawasan Timor Barat, diantara para penduduk Timor-Timur yang memilih hidup di Indonesia ada sepasang ibu dan anak yang bernama Tatiana (diperankan oleh Alexandra Gottardo) dan putrinya Merry (Griffit Patricia) karena mereka memilih Indonesia ibu dan anak ini harus kehilangan sang anak pertama dan kaka dari Merry karena memilih tinggal dengan pamannya.

Singkat cerita penantian-penantian untuk bertemu walau hanya sementara akhirnya sampai dan di atas jembatan Motangin ( jembatan perbatasan RI-TL) mereka bertemu hanya dengan sandi yaitu mereka menyanyikan lagu “Kasih ibu, kepada beta, tak terhingga sepanjang masa ...”
Tapi dari film ini penulis ada sedikit kritikan kepada Ari sang sutradara, kenapa tidak di eksplor lagi lewat tayangan-tayangan dokumentasi berita tentang jajak pendapat itu sendiri sehingga penonton lebih tahu karena pada saat pembukaan film hanya ditampilkan satu tulisan dan langsung tayangan para pengungsi yang berjalan dari arah Tim-Tim masuk ke Timor Barat, NTT .

Menurut penulis, apa yang di ceritakan oleh Ari Sihasale ini tentang potret kehidupan para pengungsi TimTim ini bisa membuka mata hati dan nurani daripada para pemimpin kita di Jakarta, karena bagaimanapun para pengungsi ini adalah Warga Negara Indonesia dan negara harus memberikan apa yang menjadi hak mereka sebagai WNI karena mereka rela berpisah dengan keluarga demi Merah Putih dan Indonesia Raya dan hanya bisa bertemu kembali dengan keluarganya di Motangin dan itu hanya sebentar saja serta di bantu relawan-relawan, bahkan ada yang harus melewati jalan tikus supaya tidak di periksa oleh para petugas penjaga perbatasan.

Pertanyaannya sekarang adalah adakah peran nyata dari pada negara mulai dari Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, Kementerian Perumahan Rakyat, Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak, Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Timur, Pemerintahan Kabupaten Timor Barat kepada para pengungsi ini sejak tahun 2000 hingga sekarang yaitu 2010 dalam artian sepuluh tahun ? jawabnya TIDAK ADA karena (mungkin) negara menganggap ada lembaga asing atau badan asing yang membantu terbentuknya TimTim menjadi negara yang bisa mengurus para pengungsi ini padahal kita tahu pengungsi ini adalah WNI dan seharusnya Republik Indonesia lah yang harus mengurus semua !!

Kita tahu bahwa NTT itu adalah daerah yang sebagian gersang karena suhu panasnya yang sangat tinggi sehingga bercocok tanam pun sangat susah kalau sudah susah bagaimana mereka bisa mencari kehidupan sementara tanah yang mereka diami tidak bisa digunakan untuk kegiatan apapun, begitu juga sarana sanitasi untuk keperluan MCK jadi sudah seharusnya pemerintah lebih aktif lagi jangan hanya berdiam dan selalu berkata itu sudah ada pola kerjanya bagaimana bisa pola kerja itu di jalankan kalau pejabatnya tidak ada yang melihat. Bahkan ada catatan bahwa di Indonesia ada 300 kasus diare per 1000 orang dan diare adalah penyebab kematian balita tertinggi ke 2, kemudian tertinggi ke-3 untuk bayi serta tertinggi ke-5 di Indonesia untuk segala umur dan itu berada di Daerah Kupang

Setelah penulis melihat film ini hanya satu kata buat negara yaitu DISKRIMINASI !! kenapa penulis bilang DISKRIMINASI ? kalau Tanah Air Beta bisa disaksikan di jaringan-jaringan bioskop dan menjadi tayangan keluarga KENAPA Balibo Five tidak bisa diputar di Indonesia khususnya Jakarta padahal kita tahu thema yang di angkat adalah soal Timor-Timor, dimana kalau Tanah Air Beta soal pengungsi dari Timor-Timur setelah jajak pendapat dan lahirnya sebuah negara yang bernama Timor Leste sedangkan Balibo Five tentang lima jurnalis Australia yang mati tertembak ketika meliput perang yang mana Indonesia berhasil menarik Timor-Timor masuk kedalam wilayah Indonesia.

Tetapi FAKTAnya adalah bahwa Film Tanah Air Beta BEBAS di tayangkan di semua jaringan bioskop dan di tonton pula oleh para pejabat bahkan ada memuji, sedangkan Balibo Five ? jangankan ditayangkan, begitu selesai produksinya saja sudah menuai perdebatan bahkan ketika ada ajang sebuah festival film internasional di negara ini beberapa waktu lalu sudah di wanti-wanti agar tidak mempublikasikannya walaupun akhirnya negara melunak dan hanya sekali di putar, sangat miris sekali kalau melihat ini semua, apakah karena Balibo Five ini produksi sineas luar negeri jadi terkesan negara mencoba menutupi fakta sejarah itu, kalau memang negara ini khususnya para prajurit dan Jenderal-Jenderal yang mungkin ketika peristiwa ini menjabat Komandan Pleton atau setingkat Komandan Distrik merasa tidak bersalah atas kematian lima jurnalis ini KENAPA harus memberikan pernyataan yang layaknya kebakaran jenggot dengan mengatakan jangan di ungkit lagi masa lalu ! Ingat, Bung Karno pernah berkata “ JAS MERAH- JAngan Sekali-kali MElupakan sejaRAH yang namanya sejarah itu tidak akan pernah dan bisa di tutupi oleh apapun, semakin di tutup-tutupi sejarah itu semakin terang kenapa sejarah itu di tutup-tutupi !

Kalau memang negara ini menganut sistem demokrasi seharusnya Film Balibo Five juga bisa menikmati oleh masyarakat, toch masyarakat kita ini bukan masyarakat yang jaman dinasti Cendana yang diam dan ABS mereka sudah bisa mencerna mana yang bisa dijadikan tauladan mana yang tidak, kalaupun memang dalam adegan film Balibo Five ini ada yang salah atau memberatkan pemerinth, pemerintah yang di wakili oleh Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Pertahanan dan Panglima Tentara Nasional Indonesia bisa membuat semacam penjelasan atau hak jawab atas film tersebut di media atau mengirimkan surat ke produser dan perusahaan film tersebut bukannya melarang beredar !

Kembali ke Film Tanah Air Beta, sekali lagi penulis mengapresiasikan karya dari Ari Sihasale dan seluruh kru bahwa film anda ini layak dan wajib di tonton serta menjadi renungan bagi Pemerintah lewat Kementerian-Kementerian yang terkait dalam muatan film itu agar lebih memperhatikan dan tidak melakukan diskriminasi karena bagaimanapun yang berada di kawasan Timor Barat, NTT ini adalah saudara-saudara kita juga yang butuh pengakuan dan perhatian dari negara sesuai dengan hak-hak yang sudah diatur dalam hukum internasional dan UUD 1945

Bekasi, 240610 14:00
Rhesza
Pendapat Pribadi

Senin, 03 November 2008

Eagle Eye : Hati-hati dengan perangkat elektronik anda


Pernahkah anda berpikir bahwa perangkat elektronik seperti Handphone bisa mengubah bahkan mengatur hidup anda ?

Inilah yang harus diperhatikan anda jika anda benar-benar maniac dengan yang namanya peralatan elektronik seperti handphone, notebook atau bahkan data dan photo anda yang terpampang di jaringan pertemanan seperti facebook dan friendster atau myspace.

Kenapa penulis bilang tersebut, karena ini berkaitan dengan film yang baru-baru ini penulis tonton atau mungkin anda juga suka menonton film itu. Ya.. film itu adalah Eagle Eye..

Eagle Eye adalah hasil ide briliant daripada sineas terkemuka abad ini yaitu Steven Spielberg selaku produser Executive dan disutradarai oleh D.J. Caruso. Film ini berkisah tentang sebuah perangkat kerja komputer buatan Kementeria Pertahanan Amerika Serikat-Pentagon yang diberi nama ARIA, fungsi dari ARIA ini untuk melindungi kepentingan Amerika Serikat dari setiap ancaman musuh.

Cara ARIA melakukan kerjanya yaitu dengan cara menyadap pembicaraan telepon, menggunakan akses kamera satelit, sampai pada masuk jaringan perbankan. Sampai pada suatu kejadian dimana ARIA mengeluarkan rekomendasi untuk membatalkan misi pembunuhan daripada gembong teroris di timur tengah dibatalkan begitu saja oleh Presiden Amerika Serikat, akibat dari aksi ini terjadi balas dendam dan menewaskan ribuan warga AS diseluruh dunia.

Dengan analisa pemprograman ARIA membaca tindakan pemerintah AS yang diwakili oleh Presidennya sebagai ancaman keselamatan negara, yang kata lain mereka menjadi musuh negara dan harus disingkirkan. Di film ini kita bisa dengan jelas bagaimana perbedaan antara manusia dan pemprograman dimana manusia lebih meggunakan emosi seperti kekhawatiran dan ketakutan, sementara logika Program ARIA menggunakan matematika taktis yang tak mengenal emosi belaka.

Untuk menjalankan program ARIA dalam menghabisi orang-orang yang tidak taat, ARIA (suaranya diisi oleh Aktris Julianne Moore, tetapi di credit title tidak tercantum karena permintaan sang aktris ) memilih dua warga sipil yang tidak tahu apa-apa untuk menjalankan misi ARIA,mereka adalah Jerry Shaw (yang diperankan oleh Shia LaBeouf) seorang pegawai Photocopy yang menolak apa yang diinginkan oleh orangtuanya yaitu sebagai seorang Tentara sama seperti saudara kembarnya dan Rachel Holloman (Michelle Monaghan), seorang ibu rumah tangga, ARIA memaksa dan mengontrol mereka berdua untuk melaksanakan apa yang ARIA lakukan, seperti tiba-tiba Jerry diminta kabur dari apartemennya ketika ditelepon oleh seorang wanita yang ternyata ARIA ketika di apartemennya ditemukan beberapa bahan kimia dan persenjataan modern melebihi persenjataan yang dimiliki militer AS, bukan Cuma itu yang dilakukan ARIA terhadap 2 warga sipil ini seperti memantau pergerakan mereka mulai dari kamera ATM, GPS, hingga jaringan listrik dan kamera sinar X-ray ketika mereka disuruh ARIA untuk terbang menggunakan pesawat terbang militer untuk menghindari komandan tim anti teror Tim Morgan (Billy Bob Thornton) mereka berdua pun tidak bisa meloloskan dari dan menghindar karena setiap jengkalnya mereka diawasi oleh ARIA sehingga ARIA pun bisa disingkirkan dengan cara “membunuhnya”.

Dari segi film, menurut penulis tidak begitu berat mungkin karena film ini bergenre Sci-fi jadi banyak menampilkan kecanggihan teknologi yang tidak terpikirkan sama sekali oleh kita kalau itu ada pada diri kita dan lingkungan sekitar.

Inti dari film ini adalah sebenarnya sederhana sekali jangan sekali mengumbar apa yang ada pada diri kita kedalam sebuah mesin untuk dibaca, didengar oleh umum, seperti memasang photo, data pribadi yang selengkap-lengkapnya hingga membuat rekaman kegiatan pribadi mulai dari yang positif hingga negatif (anda tahu sendirilah, tidak usah diperjelas ) di situs-situs social dan pertemanan seperti yang sekarang lagi marak dan jadi bahan omongan orang-orang muda termasuk politikus seperti Friendster atau facebook jangan sampai anda menjadi korban seperti yang dialami oleh tokoh Jerry dan Rachel.

Tetapi itulah yang namanya Teknologi semakin lama semakin ada saja yang baru dan juga semakin lama akan menguasai dunia ini, dan pertanyaan untuk kita saat ini adalah ketika kita menonton film ini adalah seberapa jauh atau dekatkah kita akan menyerahkan segala sesuatunya termasuk hidup kita sehari-hari pada alat yang namanya teknologi ?

Megaria, 311008

Jumat, 17 Oktober 2008

Laskar Pelangi, Sebuah Potret Nyata Pendidikan Negara Kita

Huh.. akhirnya itulah kata yang keluar dari mulut begitu mendapatkan tiket yang baru saja keluar dari mesin cetak dan diberikan oleh seorang penjaga tiket yang cantik walaupun jam yang tertera di tiket pukul 17.15 padahal penulis ingin menonton film ini pukul 15.00 dan mengantre dari jam 14.30 tapi apa boleh buat.

Ternyata bukan saja waktu yang harus dihadapi oleh penulis untuk menonton film yang kata orang berdasarkan bukunya yang sudah dicetak ulang sampai cetakan keduapuluh ini tetapi menunggu untuk masuk kedalam studio satu dari gedung bioskop yang menurut penulis paling besar yang ada di kota pinggiran DKI, karena sampai pukul yang tertera di karcis belum juga masuk, tetapi tepat pukul 17.30 penulis dan ribuan penonton yang rata-rata ABG labil ini ( apakah mereka tahu tidak ya maksud dan inti dari film ini atau sekedar ikut meramaikan hebohnya cerita ini ).

Akhirnya Film Laskar Pelangi yang disutradarai oleh Riri Riza, seorang sutradara muda kebanggaan Indonesia dengan segudang pengalaman seperti Film Petualangan Sherina,Untuk Rena, Gie, Eliana-Eliana, 3 hari untuk selamanya dan masih banyak lagi. Tentunya seorang Riri Riza tidak seorang diri untuk membangun cerita film ini maka beliau dibantu oleh Mira Lesmana sebagai Produser, penulis tidak meragukan lagi terhadap dua tokoh ini kalau dua tokoh ini membuat sebuah film sudah pasti akan masuk jajaran box office bahkan menjadi sejarah film Indonesia dan itu terbukti disaat perfilman kita hanya menjual selangkangan saja pada awal hingga akhir tahun 80-90-an sehingga membuat bioskop pada waktu itu sepi bahkan ada tutup karena rumah produksi banyak yang mengalihkan kedalam format sinetron, lalu oleh dua tokoh ini dibuatlah film tentang anak-anak dan apa ! terbukti aura nafas bioskop kembali hidup lagi hingga sekarang dan mungkin kalau penulis pesan selamat datang kembali bioskop dan selamat tinggal sinetron !!

Cukup basa-basinya kita kembali ke topik, Laskar Pelangi itulah judulnya, semua orang pasti sudah tahu bagaimana kisah didalam buku, walaupun penulis baru ini membacanya. Subject dari cerita ini berawal dari sebuah sekolah yang boleh dikatakan tidak layak bak kandang ayam (seperti cuplikan puisi yang ditulis oleh seorang guru dan Wapres sempat emosi mendengar itu ) berlokasi di Belitong, dimana sekolah ini setiap tahunnya hanya menerima sepuluh murid saja sampai suatu ketika Dinas Pendidikan Sumatera Selatan mengirim surat bahwa jika sampai tahun ini tidak bisa menambah jumlah murid bahkan kurang harus ditutup, disinilah pergumulan terjadi.

Film ini dibuka oleh adegan dimana seorang Ikal yang memulai hari pertama sekolah harus memakai sepatu model perempuan ( tidak menunjukkan bahwa sepatu itu ditahun 1970-an) yang diberikan bapaknya yang kebetulan bekerja di PT.Timah, dihari itu Ikal dan juga Kepala Sekolah Pak Harfan serta Ibu Muslimah selaku wali kelas Ikal yang baru akan pertama kali mengajar sebagai hari penentuan apakah sekolah mereka akan terus bernapas atau tidak karena harus bisa mengumpulkan 10 murid kalau kurang maka sekolah harus tutup dan anak-anak ini yang rata-rata adalah anak dari karyawan rendah dan kurang mampu harus menguburkan cita-cita mereka.
Ketika semua terkumpul tetapi baru hanya sembilan orang dan ditunggulah sampai siang, begitu sampai siang belum terkumpul sembilan orang maka sang kepala sekolah bersiap memberikan kata sambutan sekaligus kata perpisahan karena masalah ini, tetapi sekonyong-koyong datanglah Harun sang penyelamat sekolah ini, Harun adalah seorang anak yang menderita keterbelakangan mental dan genaplah sepuluh murid itu dan juga sekaligus memperpanjang kisah mereka.

Setiap hari selalu mereka hadapi disekolah itu, sampai tiba-tiba pak Harfan meninggal dunia diruangannya, karena sosok Pak Harfan inilah yang membuat Ibu Muslimah menurun sence of education-nya karena tidak ada lagi yang mendukungnya dalam mengajarkan belajar budi pekerti, agama yang belum tentu ada disekolah lain sekitar sekolah mereka, hampir seminggu kesepuluh murid ini tidak mendapatkan pengajaran dan juga mereka harus kembali “ ke-alam “ mereka, tetapi berkat ikal dan lintang mengumpulkan kembali teman-temannya untuk kembali ke sekolah serta meminta Ibu Muslimah untuk mengajar kembali sehingga sense of education dari Ibu Muslimah bangkit kembali, dan terbukti dengan prestasi dari Ikal, Mahar dan Lintang yang menjuarai cerdas cermat mengalahkan sekolah swasta terkenal disana, dan dengan bangganya mereka pamerkan dua piala mereka di lemari yang didatangkan dari pusat di kelas mereka.

Menyaksikan film ini (kabarnya telah menembus angka 1,1 juta penonton dalam waktu sepuluh hari berdasarkan pengakuan dari sang produser film tersebut kepada RKM pada suatu perjumpaan)batin kita ibarat sedang bermain tong setan karena penuh dengan tawa dan tangisan iba secara bersamaan, kita bisa tertawa melihat kekonyolan mahar yang bak kritikus musik walaupun kita acungi jempol karena bakat seninya bisa membawa sekolahnya juara dalam karnaval mengalahkan sekolah “binaan” PT.Timah yang beda sekali bangunannya, begitu juga kita bisa tertawa melihat aksi Ikal yang terpesona melihat kuku seorang Aliang gadis cina belitong yang mungkin baru ini dilihat ada kuku dari seorang perempuan, atau kelakuan lucu dari Harun, kita juga menangis secara tiba-tiba ketika melihat keteguhan Lintang seorang anak kecil, anak seorang nelayan yang tinggal di pesisir yang jauhnya minta ampun (ibarat tinggal di Tangerang tapi sekolahnya di Bekasi ) dengan keteguhan hatinya bisa mencari ilmu dengan bersepeda ke sekolah itu walaupun harus menunggui seekor buaya yang setiap pergi dan pulang selalu melintas di rute yang ia lalui masuk kedalam kolamnya bisa dibayangkan bukan !

Secara keseluruhan film ini sangat penting dan wajib di tonton khususnya semua jajaran mulai dari menteri hingga jajaran eselon I-IV dan jajaran pejabat suku dinas yang ada mulai dari ujung Sumatera hingga ujung Papua yang berada dalam payungan Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia termasuk Presiden Republik Indonesia dan anggota Dewan Komisi Pendidikan, kenapa penulis bilang wajib ditonton oleh semua lapisan pejabat Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia, karena film ini menurut penulis sebagai tamparan keras dan tidak akan hilang kalau tidak ada kesadaran dari para pejabat itu termasuk yang didaerah terpencil.

Kita bisa lihat dan baca di semua Harian dinegara ini, berapa banyak sekolah yang ada dikawasan pedesaan hingga pedalaman yang tidak pernah dikunjungi bahkan diberi dananya untuk perbaiki karena sekolahnya tidak layak untuk digunakan walaupun surat permintaan untuk meminta dana sudah dikirim hingga berkali-kali ? jawabnya tidak ada.

Jadi jangan heran kalau kita bisa sedikit menyimpulkan kenapa pendidikan kita jauh tertinggal dari negara tetangga sebut saja Malaysia walaupun pada tahun 1970-an Malaysia mengemis kepada negara kita untuk dikirimkan pengajar untuk mengisi pendidikan disana dan mereka sekarang lebih maju sedangkan kita ?

Ada lagi menurut penulis kenapa film ini harus ditonton oleh semua pejabat Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia, karena sekolah negeri sangat berbeda dengan sekolah-sekolah swasta yang murni atau sekolah swasta yang dikelola oleh perusahaan asing, kita bisa dilihat dimana setidaknya ada beberapa sekolah swasta yang dikelola oleh perusahaan asing yang berada dinegara ini seperti di Riau, Papua dan sedikit dikalimantan, karena keberadaan sekolah ini jelas sekali menambah panjang jurang antara anak yang benar-benar ingin sekolah tapi tidak ada biaya dengan anak kaum borjuis yang hanya sebagai formalitas dan menghargai orangtua.

Lewat film Laskar Pelangi ini, mata dan hati kita dibukakan bahwa dari sebuah sekolah yang tidak dilihat sekalipun oleh mata pejabat bisa melahirkan anak muda yang mungkin bisa berubah Indonesia nantinya..dan itulah yang ditunggu oleh 220 juta jiwa rakyat Indonesia..

Yang menjadi pertanyaan penulis dan yang lainnya adalah..dimana dan kapan Laskar-laskar Pelangi itu yang akan merubah Indonesia ini ? tinggal tunggu waktu..

Hai…Laskar Pelangi yang ada di pedalaman Indonesia…mari kita keluar dan ubah mimpi adalah kunci itu untuk merubah Indonesia menjadi lebih baik…

250908

Rvanca

Temporary Board of Director RKM