Tampilkan postingan dengan label Hukum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hukum. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 November 2010

Benarkah Soeharto Pahlawan Bagi Semua Rakyat Indonesia ?


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagaian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf

Setiap tanggal 10 November setiap tahun negara kita dan juga rakyat Indonesia selalu memperingati hari Pahlawan untuk mengenang dan terima kasih atas jasa-jasa mereka sehingga negara ini merdeka dan maju seperti ini dan setiap menjelang tanggal 10 pemerintah selalu mengeluarkan daftar rincian orang-orang yang menurut pemerintah layak di berikan bintang jasa atas pengabdian mereka atasnegara ini tetapi tahun ini ada yang menarik ketika negara akan memberikan bintang lencana kepada satu dari (mohon dikoreksi jika salah) 10 masyarakat Indonesia yang telah berjasa terhadap negara ini.

Satu dari 10 tokoh tersebut adalah Haji Muhammad Soeharto yang tidak lain tidak bukan adalah Mantan Presiden Republik Indonesia periode 1966 hingga 1998 kenapa penulis menarik karena begitu release nama-nama penerima bintang lencana itu oleh pihak-pihak terkait dalam hal ini Kementerian Sosial Republik Indonesia banyak masyarakat yang menolak pemberian bintang lencana kepada Soeharto karena masyarakat sudah tau bagaimana tokoh ini ketika menjabat sebagai Presiden.

Semua orang tahu bagaimana Soeharto ini memimpin negara ini, (bolehkah penulis mengatakan) kejahatan beliau di mulai ketika tahun 1965 ketika menumpas PKI dimana semua orang yang di lihat beliau memiliki keterikatan dengan PKI maka tidak sungkan-sungkan menangkap dan menahannya hingga bertahun-tahun tanpa ada pembelaan diri daripada sang korban, kemudian pada peristiwa Malam LimA januaRI atau biasa kita kenal dengan Malari pada tanggal 15 Januari 1974 dimana terjadi kerusuhan dan pembakaran produk-produk Jepang ketika PM Jepang kala itu Tanaka Berkunjung, kemudian adanya pembentukan Petrus-Penembak Misterius yang tujuannya untuk mengurangi tingkat criminal kala itu sedang tinggi-tingginya, tetapi yang lebih banyak disorot adalah pelanggaran HAM oleh tentara yang kala itu bernama ABRI-Angkatan Bersenjatan Republik Indonesia ketika itu melakukan Operasi Seroja di Timor-Timur, kemudian Operasi Jaring Merah di Aceh yang kita kenal sebagai Daerah Operasi Militer-DOM Aceh, penculikan aktivitis dan mahasiswa hingga adanya peristiwa Mei 1998 yang melengserkan beliau

Itu soal HAM bagaimana dengan bidang lain selama di pimpin oleh Soeharto terutama bidang Ekonomi, ternyata tidak jauh berbeda dimana sebuah badan internasional yang bergerak dalam bidang analisa korupsi mengatakan bahwa Soeharto masuk dalam daftar kepala negara terkoru di dunia sepanjang 20 tahun terakhir ini, selain itu juga kita semua sudah tahu bagaimana keluarga ini menjalankan negara dengan seenaknya dimana hampir semua anaknya mendapatkan kemudahan dalam menjalankan bisnisnya padahal mereka sama sekali tidak mengerti bahkan ada sebuah buku yang pernah penulis baca (maaf lupa judul bukunya tapi penulis membacanya di Toko buku terkemuka di daerah Pejaten) bahwa pendidikan anak-anak sampai cucu dari mantan pemimpin negara ini tidaklah begitu pintar bahkan berapa kali tidak naik kelas mungkin karena pengaruh ayah dan kakeknya makanya mereka sekeluarga lenggang kangkung sampai pendidikan tinggi padahal nyatanya !

Kasus-kasus yang melibatkan jaringan Cendana ini sudah berapa kali coba di masukan ke Pengadilan tetapi nyatanya hasilnya tetap di tengah jalan dengan stempel “sakit” dan “sakit hingga sampai beliau meninggal dunia pada tanggal 27 Januari 2008 lalu. Kembali ke soal pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto memang ibarat dua sisi mata uang dimana satu sisi kita bisa lihat kebrutalan beliau di balik senyumannya yang manis dimana sepanjang beliau memimpin negara ini sudah berapa banyak rakyat yang harus menderita mulai dari intimidasi seperti adanya “stempel Ex-Tapol “ bagi kelompok PKI sampai dengan penghilangan nyawa yang sampai hari ini entah kemana jasad mereka di kebumikan tetapi di sisi lain karena kepemimpinan beliau maka negara ini paling tidak bisa disegani oleh negara luar tetapi masih lebih disegani ketika masih di pimpin oleh Bung Karno.

Kalau penulis seorang pemimpin sebuah negara dan dipilih langsung oleh rakyat maka nasib Soeharto ini penulis akan menolaknya dengan mentah-mentah kenapa ? pertama, walaupun dia selalu mengatakan tidak bersalah dan sakit bagaimana bisa kita mempercayainya kalau yang berbicara hanya pengacaranya BUKAN beliaunya sendiri yang jelas-jelas mungkin bisa bicara, yang kedua adalah, kiranya para keluarganya menyerahkan semua asset mereka yang selama ini mereka pegang dengan mengatasnamakan rakyat atau negara ini tetapi yang paling utama adalah PENGAKUAN PERMINTAAN MAAF dan GANTI RUGI sebesar-besarnya yang disampaikan keluarga besar Cendana yang di rekam dan di publikasikan ke seantero dunia yang isinya bahwa orangtua mereka telah bersalah dan kami siap untuk menggantikannya ! kenapa penulis mengatakan itu diatas jika penulis berandai RI-01 karena penulis seorang pemimpin yang dipilih langsung oleh rakyat dan penulis berhak melayani rakyat dengan prioritas dan kekebalan yang dipunya seorang pemimpin BUKAN menjadi budak dari golongan mulai dari partai politik sampai lingkaran keluarga benar bukan ?!

Apakah nanti H-2 tanggal 10 November 2010 pemerintah akan memberikan predikat “Pahlawan “ kepada H.M. Soeharto atau tidak yang pasti rakyat pun sudah punya jawaban sendiri ketika pemerintah kita ini memberikannya dan Tuhan pun tau siapa yang membuat negara ini seperti ini…

Merdeka Selatan, 031110 10:25
Rhesza
Pendapat Pribadi

Sabtu, 28 Agustus 2010

Apa Kabar Situs Porno di Indonesia ?


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf.

Seperti kita ketahui dimana pada bulan Juli ada kebijakan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia akan mengawasi dan menutup segala situs-situs yang berkaitan dengan kontent pornografi dalam bentuk apapun dan sebisa mungkin sebelum awal puasa atau akhir bulan Agustus semua situs-situs yang berkaitan dengan pornografi sudah tidak ada lagi, benarkah sudah tidak ada ?

Ternyata kebijakan dari Kementerian tersebut (mungkin) bagi penulis dan kawan-kawan penulis hanya isapan jempol belaka karena sampai tulisan ini dibuat masih banyak kok situs-situs, blog yang berkaitan dengan kontent pornografi dalam bentuk apapun ketika penulis dan kawan-kawan mencoba test dengan berbagai kata kunci yang berkaitan dengan pornografi di mesin pencari (baca:Google)

Soal pornografi ini penulis teringat dengan diskusi udara lewat jejaring sosial tuider dengan salah satu warga Indonesia yang kebetulan juga pengurus daripada perwakilan luar negeri sebuah partai Indonesia yang berkedudukan di Jepang, beliau mengatakan bahwa pornografi di Jepang sangat bebas beredar tetapi pemerintah dan masyarakatnya sangat patuh dengan UU yang ada, kalaupun video ataupun web-site pornografi yang beredar di wilayah Jepang harus di mosaik atau di buat bebayang terutama pada bagian vital seperti layaknya pembluran muka tersangka atau korban kasus seksual pada acara kriminal, tidak seperti di negara ini semakin kelihatan semakin keren atau hebat benar tidak ?

Kemudian dalam hal transaksi jual-beli video ini jika pembeli membeli cakram yang ternyata isinya belum di sensor atau dalam bahasa jepangnya uragara maka akan di kenakan pasal kriminal dan hukumannya sangat berat sekali, masyarakat Jepang pun sampai saat ini masih teguh memegang adat ketimuran dan tabu yang namanya pornografi walaupun kita tahu industri pornografi di negara ini grafiknya sangat padat.

Lanjut beliau yang mempunyai akun tuider pdjpg ini mengatakan bahwa industri ini dibidangi oleh sekelompok orang yang berafiliasi dengan Yakuza tetapi kembali lagi mereka pun tetap mematuhi aturan pemerintah yang berlaku yaitu untuk selalu mensensor setiap produknya, ketika berdiskusi di udara ini ada yang mengelitik bagi penulis ternyata kalau di negara kita khususnya fans berat pornografi Jepang pasti selalu mengagungkan yang namanya Maria Ozawa atau biasa di panggil Miyabi, setiap teman atau penggermar video menunjukkan sebuah cakram video yang baru pasti nanya “Miyabi yach…Miyabi bukan” ternyata nama Miyabi itu TIDAK DIKENAL di negaranya bahkan warga jepang pun TIDAK TAHU siapa itu Miyabi karena aturan yang tadi dan kedewasaan daripada warganya beda dengan warga negara kita yang sok munafik !

Soal pendidikan seks dan kesehatan reproduksi pun di Jepang berlaku berdasarkan jenjang pendidikannya dan ketika ada murid yang bertanya soal seks dan kesahatan reporduksi kepada gurunya, sang gurunya pun menjawab dengan metode yang menarik penyampaiannya BEDA sekali dengan pendidikan di negara ini dimana ketika ada murid yang bertanya soal seksualitas pasti gurunya diam atau mengalihkan ke pembicaraan yang lain benar tidak ?!

Kembali ke pekerjaan dari pada kementerian ini menurut penulis akan sia-sia untuk menutup situs-situs yang berbau pornografi kenapa? Karena kita bisa lihat sebuah grafik dan riset yang pernah penulis baca dimana SETIAP 39 DETIK ada situs-situs pornografi yang baru jadi percuma saja di tutup, di blokir tapi nyatanya seperti yang penulis bilang SETIAP 39 DETIK ada yang baru dan lagi pula masyarakat kita pun sebenarnya sudah paham kok mana yang baik dan mana yang tidak baik tidak perlu lagi di arahkan, justru yang harus dipikirkan oleh pemerintah saat ini adalah membuat semacam kurikulum pendidikan tentang pendidikan seksual dan kesehatan reproduksi yang ditujukan kepada para pelajar sehingga paling tidak bisa menekan sekecil mungkin angka perilaku seks bebas daripada menutup akses situs yang berbau pornografi, jangan sampai penutupan massal situs-situs yang berbau pornografi ini berdampak pada beberapa pihak seperti mahasiswa-mahasiswa Kedokteran atau Biologi dimana dalam materi belajarnya pasti ada yang berkaitan dengan pornografi misalnya kesahatan reproduksi dan anatomi tubuh manusia, kalau situs yang berkaitan dengan pornografi ditutup lantas bagaimana mereka mendapatkan bahan tersebut jika mereka diminta dosennya untuk membuat semacam karya tulis atau tugas akhirnya yang mana itu berkatitan dengan pornografi (baca: anatomi tubuh manusia) apakah Kominfo bertanggung jawab jika mereka tidak lulus ?

Jadi apakah Kementerian ini masih terus berperang dengan pornografi sementara masih banyak persoalan di negara ini yang harus utama di brantas ? kita lihat saja sejauh dan sekuat mana jajaran menteri ini berperang dengan pornografi jika melihat hasil riset per-39 detik itu ?!

Tj. Priuk 250810 08:30
Rhesza
Pendapat Pribadi

Selasa, 03 Agustus 2010

Buat Apa LP Teroris


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf.

Beberapa hari ini ada kabar tentang permintaan Detasemen Khusus Anti Teror 88 kepada negara agar dibuatkan sebuah lembaga pemasyarakatan khusus teroris dengan alasan agar mudah diawasi pergerakannya walaupun sampai saat ini belum di tanggapi oleh negara dalam hal ini Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.

Tetapi menurut penulis tentang kabar permintaan ini agak aneh dan apakah tidak takut kalau LP khusus teroris ini bisa nantinya menjadi usaha Makar jika melihat falsafat hidup daripada teroris ini terhadap negara ini ?

Penulis pribadi dan mungkin juga banyak masyarakat pun pasti tidak setuju dengan ide dari Detasemen Khusus 88 tentang adanya LP khusus terorisme mungkin idenya bagus dalam pengawasan bisa fokus tetapi apakah dengan dibentuknya LP khusus terorisme itu bisa membuat para teroris ini SADAR dan BISA kembali ke jalan yang benar seperti dahulu kala mereka sebelum mengenal tentang jihad yang salah ketika mendengarkan ceramah-ceramah di masjid ?

Kita sudah lihat lihat misalnya tujuan daripada keberadaan LP khusus Narkotika diperuntukkan bagi para tersangka atau orang-orang yang berkaitan dengan narkoba dan hukum tetapi nyata dan faktanya di lapangan ? tingkat pengguna narkoba apakah turun ? jumlah transaksi narkoba di jalan turun ? TIDAK ! bahkan di LP khusus narkotika sendiri penulis pernah dengar sebagai pusat daripada peredaran narkoba di luar sana, segala instruksi transaksi dan pembuatan berasal dari kamar sel LP

Atau kehidupan LP umum apakah menjamin orang itu sadar ? tidak buktinya kita bisa lihat selain sebagai pusat peredaran narkoba, bahkan pusat kegiatan untuk menjalankan teroris kabarnya berasal dari kamar sel bahkan untuk memesan makanan enak, (maaf) wanita yang sesuai selera syahwat pun bisa dilakukan dari kamar sel atau sebagai pabrik narkoba!

Menurut penulis ide dari Densus 88 ini kiranya dikaji kembali, kalau memang Densus tetap berkenyakinan penulis hanya bersaran kenapa para teroris ini dititipkan di rumah tahanan militer negara selama mereka ditahan baik itu dalam masa penyidikan, sidang dan vonis hakim atau Densus 88 sendiri meminta ijin Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia untuk bisa membuat tahanan sendiri dengan tujuan yang anda berikan ketika mencetuskan ide tersebut sehingga kita bisa lihat apakah mereka benar-benar BEBAS dari apa yang terdoktrin selama ini sampai mereka tertangkap oleh Densus 88 karena LP sekarang TIDAK MENJAMIN orang yang ada di dalam begitu keluar langsung seperti orang yang baru lahir !

Kita lihat saja nanti apakah ide ini terwujud dengan catatan adanya pencucian otak secara bersih oleh Densus 88 dan pihak-pihak terkait untuk membersihkan doktrin-doktrin yang ada dikepala mereka ATAU malah menjadi kuat doktrin mereka ketika mereka bersatu di kamar sel dan tentunya seperti ini yang ditakuti oleh penulis dan mungkin seluruh rakyat Indonesia yang dari Sabang sampai Merauke dari Miangas hingga Pulau Rote..

Halimun, 290710 02:10
Rhesza
Pendapat Pribadi

Jumat, 16 Juli 2010

Antara Gie, Munir dan Tama

Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf.

Ada kah para pembaca dan pengunjung blog ini kenal dengan sosok muda yang kritis bernama Soe Hoek Gie atau biasa di panggil GIE, dia adalah (menurut penulis) mahasiswa cerdas dan kritis walaupun semua orang tahu bagaimana kondisi dia yang masuk dalam lingkungan termarjinalkan (baca: kaum Tioghoa) tetapi GIE tidak pernah takut untuk bersuara lantang
Soe Hok GIE lahir di Jakarta pada tanggal 16 Desember 1942, GIE anak keempat dari lima bersaudara dari keluarga Soe Lie Piet atau Salam Sutrawan GIE adalah adik kandung dari Soe Hok Djin atau yang kita kenal sebagai Arief Budiman yang sekarang menjadi dosen Universitas Kristen Satya Wacana yang juga sama dengan GIE vokal dan kritis dan sekarang bermukin di Australia. GIE menamatkan pendidikan SMA di Kolose Kanisius dan melanjutkan ke Fakultas Sastra UI Jurusan Sejarah pada tahun 1962-1969.
GIE adalah anak muda yang memiliki pendirian yang sangat teguh dalam memegang prinsipnya dan sangat rajin untuk mendokumentasikan perjalan hidupnya dalam sebuah buku harian, dan kemudian buku harian tersebut di terbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran pada tahun 1983, selain menuliskan di sebuah buku harian sosok GIE pun dikenal sebagai penulis produktif pada jaman itu hampir semua media selalu memuat tulisannya misalnya KOMPAS, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia dan Indonesia Raya dalam waktu tiga tahun Orde Baru tulisan-tulisan itu dibukukan dan diterbitkan dengan judul Zama Peralihan (Bentang, 1995). Dalam dunia kampus pun GIE sempat menjadi staff redaksi dari Mahasiswa Indonesia sebuah koran mingguan yang diterbitkan oleh para mahasiswa angkatan 66 di Bandung yang mengkritik pemerintahan Orde Lama, bahkan skrispi sarjana mudanya pun berkaitan dengan sejarah Sarekat Islam Semarang bahkan diterbitkan oleh Yayasan Bentang dengan judul Di Bawah Lentera dan skripsi S-1nya GIE mengulas tentang pemberontakan PKI di Madiun dan ini juga dibukukan dengan judul Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan (Bentang, 1997)
Karena hobinya mendaki gunung inilah yang membuat GIE harus meninggalkan segala cita-cita dan ke-vokalannya terhadap pemerintah negara ini tepat sehari sebelum GIE ulang tahun yaitu tanggal 16 Desember 1969 di usia 26 tahun GIE menghembuskan napas terakhirnya karena menghirup asap beracun yang ada di gunung tersebut, GIE meninggal bersama rekannya, Idhan Dhavantari Lubis.

Kalau tadi GIE, sekarang Munir siapa yang tidak kenal tokoh HAM yang satu ini iya benar beliau adalah Munir Said Thalib pria keturunan Arab kelahiran Malang, Jawa Timur 8 Desember 1965 ini adalah aktivis HAM Indonesia, sosok ini terkenal ketika beliau menjabat sebagai Dewan Kontras karena beliau memperjuangkan orang-orang yang hilang karena diculik pada masa iatu, ketika itu beliau membela para aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar dari Kopassus. Setelah Soeharto jatuh, penculikan itu menjadi alasan pencopotan Komandan Jenderal-Danjen Kopassus Prabowo Subianto dan diadilinya para anggota Tim Mawar walaupun sampai sekarang tidak jelas hukuman bagi tim mawar dan juga pejabat-pejabat militer yang terkait dalam peristiwa ini..

Akhirnya sang aktivis ini pun harus meninggalkan cita-cita dan kevokalannya sama seperti GIE dimana beliau meninggal di atas udara negara Hongaria pada tanggal 7 September 2008 karena diracun ketika akan berangkat ke Utrech untuk melanjutkan kembali kuliah S-2nya di Belanda jenazahnya pun di makamkan di Taman Pemakaman Umum Kota Batu, dan sampai sekarang pun yang bertanggung jawab atas kematiannya pun masih tanda tanya !

Kemudian Tama Satrya Langkun seorang aktivis yang sekarang menjabat sebagai anggota Divisi Investigasi ICW mengalami penganiayaan dan pembacokkan oleh sejumlah orang yang tidak di kenal pada Kamis dinihari pada tanggal 8 Juli 2010 sekitar pukul 03.45, kejadiannya pun berawal dari Tama dan Khaddafi (rekan mitra ICW dari Sulteng) baru pulang dari nonton bola bareng di kawasan Kemang, Jakarta Selatan untuk kembali ke Kantor ICW di daerah Kalibata, tidak jauh dari perempatan lampu merah Jalan Duren Tiga Raya dan Jalan Mampang Prapatan motor yang dikendarai Tama dipepet oleh dua sepeda motor dan satu buah mobil Avanza Silver karena terdesar moto Tama pun jatuh ke arah belakang dan terseret di Jalan Raya, sang penumpang, Khadafi mengalami memar pada punggung belakang dan lecet di belakang tangan.

Tama yang jatuh kemudian terseret oleh sepeda motor, setelah jatuh Tama yang masih menggunakan helm standar kemudian didatangai oleh empat orang, dua orang pengemudi motor dan dua orang yang ikut berboncengan, insiden pemukulan kemudian terjadi, helm Tama dibuka oleh pelaku dan Tama dipukuli berkali-kali dan kemudian dibacok di bagian kepala, pemukulan yang dilakukan menyisakan luka memar di bagian belakang dan lengan atas, sedangkan pembacokan di bagian kepala menyebabkan tiga buah luka sayatan yang terbuka lebar, satu luka di kepala bagian depan dengan 12 jahitan, dan dua luka di bagian belakang, masing-masing dengan 11 jahitan dan tujuh jahitan sehingga total luka di bagian kepala sekitar 29 jahitan. Dan kondisinya saat ini masih dalam tahap pemulihan.

Dari ketiga tokoh ini penulis kemudian secara spontan dalam hati berkata, inikah imbalan dan taruhan yang harus diterima dari seorang aktivis yang bersuara vokal demi keadilan dan kebenaran dalam mengetuk nurani para penjaga negara ini agar tidak semena-mena terhadap rakyat ? BUKANkah HANYA Tuhan yang berhak untuk memberikan hukuman kepada ciptaanNya kalau seperti ini berarti orang-orang ini sejajar dengan Tuhan atau (tidak mungkin donk) di suruh Tuhan.

Kalau memang ini upah dari pada ke-vokal-an para aktivitis ini kenapa sampai hari ini seperti kasus Munir belum terungkap dan malah mengulur-ngulur waktu bahkan rakyat hanya ingat ketika hari kematiannya saja begitu lewat dua sampai satu bulan dari hari kematiannya hilang begitu saja dan baru muncul lagi tahun depan dan seterusnya , bukankah sebuah negara itu harus bisa menjamin dan melindungi rakyatnya dari segala macam yang menghadang dan termasuk HAM tetapi nyatanya negara kita ini sepertinya tidak bisa menyelesaikannya..

Penulis juga heran dengan sikap dunia termasuk PBB tentang Indonesia yang (katanya) menjunjung tinggi HAM dan demokrasi bahkan kalau tidak salah Indonesia pernah menjabat sebagai Direktur Komisi HAM PBB, DIMANA letak keberhasilan itu KALAU kasus Munir saja sampai detik ini belum terungkap bahkan berkas tim Pencari Fakta kematian Munir saja entah ditaruh dimana oleh sang Presiden, atau kasus 1998 yang seharusnya menyeret beberapa personel tentara mulai dari tingkat Kopral hingga Jenderal ke Pengadilan dan di Hotel Prodeo kan tetapi mana hanya segelintir saja yang di penjara dan juga setelah itu malah dapat posisi “raja kecl” di pos TNI di daerah INIKAH yang disebut menjunjung tinggi HAM dan Demokrasi tuan-tuan dan nyonya pemimpin dunia ?
Kalau memang apa yang diperjuangkan oleh aktivisi membuat risih negara atau pihak-pihak terkait, kenapa juga negara dan pihak terkait itu ikut juga memberikan pejelasan dan tindakan kalau apa yang dikatakan aktivis itu tidak benar, seperti kasus rekening babi gendut, kan secara jelas data-data dari aktivisi ini ada nyatanya tetapi oleh pihak kepolisian membantah tetapi tidak ada bukti-bukti keras yang bisa membantah perkataan atau data-data dari aktivis yang membongkarnya.

Kalau memang membantah keras seperti kasus contoh celengan babi Polri, seharusnya Polri dan pihak yang di tuduhkan memberikan keterangan bantahan dengan memberikan bukti misalnya memperlihatkan BUKU TABUNGAN yang terkait akan bukti dari aktivis itu benar atau tidak aliran dana itu tetapi NYATAnya mana ? jadi wajar lah kalau penulis serta mungkin masyarakat luas AGAK sedikit mempercayai apa yang disampaikan oleh para aktivis ini karena Polri sampai detik ini tidak bisa membuktikan apa yang aktivis sampaikan termasuk memperlihatkan BUKU TABUNGAN dari pihak-pihak yang di sebutkan oleh aktivis ini !

Jadi, mau sampai kapan para aktivis kita harus di BUNGKAM dengan cara-cara seperti yang di alami oleh Munir, Tama oleh orang-orang yang tidak suka dan tidak menghargai HAM dan demokrasi kalau sampai seperti ini terus dimana negara TIDAK PERNAH melindungi para aktivis yang juga bagian dari negara ini lebih baik negara luar dan PBB berpikir dua kali untuk memberikan predikat Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi HAM dan Demokrasi kalau TERNYATA di negaranya sendiri pemerintah tidak bisa melindungi Hak-hak dan mengakui daripada keberadaan para aktivis ini..

Hanya satu kata bagi para aktivis melihat ini semua… LAWAN !!!

Bekasi, 170710 09:10
Rhesza
Pendapat Pribadi

Senin, 17 Mei 2010

12 tahun Mei 98, MANA SUARA Dan Tindakan Nyata MU AKTIVIS 98 ?

Sudah menjadi ciri khas daripada blog ini dan penulis sebelum menulis mengenai sesuatu hal yaitu permintaan maaf jika dalam penulisan dibawah ini membuat sebagian orang merasa terpojokkan atau marah, tulisan ini berdasarkan pendapat pribadi penulis dan tidak ada maksud untuk menghasut atau apapun, sekali lagi mohon maaf.

Tidak terasa tragedi kemanusiaan yang berlangsung tanggal 12-14 Mei 1998 memasuki tahun ke-10 dan selama 10 tahun itu pula keluarga korban tragedi Trisaksi dan korban kerusuhan sosial masih berharap akan keadilan bagi mereka oleh negara ini tetapi negara ini pun seperti setengah hati bahkan nuraninya pun tertutup jika ditanya soal tragedi yang mengubah sistem negara ini.

Siapapun tidak akan lupa akan kerusuhan sosial ini, dimana ditandai dengan tewasnya 4 mahasiswa Trisakti, Elang Mulya, Hafidin Royan, Hendriawan Sie dan Hery Hartanto di pelataran kampus mereka dengan peluru tajam yang dilontarkan dari senjata milik Pasukan Hura-Hura (maksudnya Huru-Hara) Polda Metro Jaya dan Kodam Jaya dari luar kampus pada pukul 17.05 begitu mendengar ada mahasiswa yang tewas maka keesokkan harinya massa yang tidak jelas dari mana datangnya mulai melakukan penjarahan di setiap pusat perbelanjaan atau apapun yang dilihat mereka termasuk diantara melakukan tindakan pelecehan seksual bahkan sampai pemerkosaan secara berantai terhadap rakyat keturunan.

Akibat dari kerusuhan ini setidaknya ratusan ribu orang meninggal dan hilang entah kemana, ratusan trilyun rupiah kegiatan ekonomi lumpuh total dan masih banyak lagi kerugian-kerugian lainnya, akibat dari peristiwa ini juga membuat peta politik kita berubah yang tadinya selama 32 tahun lebih negara ini dikuasai oleh KAKEK tua dari Cendana yang arogan dan seenak OTAKnya mulai berubah dan kaum muda menandakan peristiwa ini sebagai peristiwa REFORMASI.

10 tahun sudah berlalu peristiwa itu walaupun sampai detik ini ketika ditanya atau disuruh mengingat, rakyat Indonesia terutama warga Jakarta tidak akan pernah lupa dengan peristiwa itu, pertanyaannya sekarang adalah BAGAIMANA KABAR dari peristiwa ini dari segi hukum ?

Ternyata kabar peristiwa ini dari segi hukum sama seperti ingatan manusia yang baru teringat ketika tanggal peristiwa itu datang setelah peristiwa itu pergi maka pergi juga kabar peristiwa itu, kita bisa lihat bagaimana sampai detik ini belum ada juga jenderal yang diseret ke Mahkamah Militer dengan dakwaan OTAK atau AKTOR intelektual daripada peristiwa ini yang ada hanya KROCO-KROCO atau Prajurit Pangkat Bawah yang harus melakukan apa yang diperintahkan komandan kompi mereka atau komandan kompi mereka harus melakukan apa yang komanda lapangan perintahkan sementara komandan paling tinggi yang duduk manis di kursinya sambil (mungkin) merokok dan mendengarkan arahan dari apa yang ia lakukan lewat HT.

Kita bisa lihat bagaimana hukuman badan bagi para prajurit pangkat bawah dan komandan mereka yang pangkatnya Cuma berbeda tiga kelas HANYA di hukum kalau tidak salah sekitar beberapa bulan dan paling tinggal hanya 2,5 tahun dan TIDAK DIPECAT dari Korps Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (sekarang TNI) tetapi apa, begitu 6 bulan hingga satu tahun dari vonis tersebut para prajurit ini mendapatkan potongan tahanan bahkan sekarang daripada para pelaku ini menduduki posisi-posisi yang strategis seperti Komandan Distrik Militer atau Komandan Rayon Militer di Pulau Jawa, sedangkan sang Jenderal AKTOR intelektual ini duduk manis dan selalu tersenyum dan pekerjaan mereka pun sangat tak bisa diungkapkan dengan kata-kata mulai dari pendiri partai politik, calon Wakil Presiden bahkan ada yang dahulu sebagai “bang jago”nya Jakarta naik menjadi sekretaris sebuah kementerian dan sekarang menjadi orang nomor dua di Kementerian yang berhubungan dengan senjata dan keamanan negara hebat bukan ?!

Tetapi dari itu semua seharusnya kita prihatin dan perlu menggugat para aktivitis-aktivis yang ketika tahun 1998 bersuara lantang hingga berbusa menuntut REFORMASI yang sekarang sudah merasakan apa yang mereka teriakan tetapi mereka sepertinya LUPA akan tujuan dan isi yang mereka tuntut dimana salah satu dari tuntutan itu adalah mensejahterahkan rakyat dengan menurunkan harga sembako tetapi kenyataannya sekarang ?!

Kita tahu para aktivitis yang pada tahun 1998 dengan lantang bersuara keras menuntut REFORMASI sudah merasakan apa yang mereka suarakan seperti duduk sebagai anggota dewan, ada yang menjadi Staff Khusus Presiden, atau staff ahli pejabat di negara ini, tetapi apakah mereka juga merasakan nasib dari pada orangtua ke empat Mahasiswa yang mati dan harus mengubur cita-cita mereka setelah mendapatkan title sarjana, atau masyarakat Tionghoa yang mengalami pelecehan seksual hingga perkosaan menyebabkan kematian ?

Kalau mereka memang berlatar belakang aktivisi 1998 yang selalu menyuarakan nasib rakyat SEHARUSnya begitu mereka duduk nyaman dan memiliki kuasa seharusnya mereka BISA membuaka arsip sejarah ini dan meminta dengan keras kepada pemerintah untuk membuka kembali, menangkap dan menghukum orang-orang yang terkait dengan peristiwa ini walaupun dibilang kurang bahan dan barang bukti BUKANnya DIAM, DUDUK setiap rapat dewan ketika ditanya oleh media HANYA LIP SERVICE saja, PERCUMA anda KETIKA menjadi aktivis bersuara lantang, setiap orasi selalu membawa nasib rakyat miskin yang setiap hari harus bingung mau makan karena harga-harga yang mahal, atau dalam orasinya selalu membawa bahwa masih banyak anak-anak Indonesia yang putus sekolah karena tidak ada biaya dan masih banyak lagi, kalau anda begini BOLEHKAH penulis mengatakan bahwa anda BUKAN AKTIVIS SEJATI tetapi PENJILAT MUNAFIK !!!

Seharusnya para anggota dewan, Staff Ahli Kepresidenan dan pejabat negara baik di pusat maupun daerah yang dahulu tahun 1998 bergabung dan menduduki gedung DPR/MPR RI BERKACA dan MERENUNG DENGAN NURANI karena TANPA peluru tajam PHH Kodam dan Polda Metro Jaya, TANPA darah dan bau daging terbakar, TANPA suara rintihan perkosaan ANDA MANA BISA SEPERTI SEKARANG !!!

Akankah peristiwa sosial ini yang oleh CNN disamakan dengan tragedi Tianmen, RCC tahun 1990 akan terus tertutup dan para keluarga yang ditinggalkan hanya bisa bersedih walaupun air mata yang mereka keluarkan sudah tidak ada lagi ? HANYA para aktivis-aktivis 98 inilah yang SUDAH DUDUK MANIS yang BISA menyelesaikan kasus ini untuk MEMINTA Presiden Republik Indonesia membuka kembali dan memerintahkan aparat-aparat terkait untuk serius menangani kasus ini ?!

LEBIH BAIK DIASINGKAN DARIPADA MENYERAH PADA KEMUNAFIKKAN SOE HOEK GIE


Grogol, 120510 17:05

Rhesza
Pendapat Pribadi

Rekomendasi Yang Aneh

Tidak terasa sebulan penuh aksi anarkis yang terjadi di Tanjung Priuk berlalu dan berakhir juga tim investigasi indenpenden yang melakukan penyelidikan atas aksi anarkis ini walaupun banyak pihak mengatakan bahwa hasil rekomendasi ini tidak menyimpulkan secara detail siapa saja yang harus dan benar-benar ditindak.

Rekomendasi itu sendiri mengatakan bahwa Pemerintaha Daerah Khusus Ibukota-DKI Jakarta menyantuni korban-korban dari tragedi ini, kemudian meminta PemProv DKI agar mereposisi keberadaan Satuan Polisi Pamong Praja dan masih banyak lagi rekomendasi-rekomendasi yang dikeluarkan oleh Palang Merah Indonesia – PMI juga Komisi Nasional Hak Asasi Manusia – KomNas HAM, Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia – KPAI dan KomNas Anak Indonesia

Penulis mengacungi jempol atas kinerja daripada tim investigasi independent ini yang susah payah mencari, mencatat dan mewawancarai para korban tragedi karena trauma yang masih teringat dalam ingatan mereka jika ditanya soal kejadian itu yang menyebabkan tiga aparat Satuan Polisi Pamong Praja Tewas dan puluhan mobil dinas Satpol PP dan Polisi rusak berat.

Tetapi penulis menilai ada yang aneh dalam rekomendasi ini, kalau soal rekomendasi terhadap kinerja Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta – PemProv DKI dan juga Satpol PP masih bisa penulis hargai tetapi kenapa rekomendasi terkait keberadaan dua organisasi masyarakat FPI-FBR tidak dimasukkan misalnya meminta Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia untuk meninjau kembali keberadaan dua organisasi dan juga perangkat hukum yang membuat mereka “hidup”

Kita tahulah bagaimana aksi-aksi dua organisasi ini ketika berada di jalan-jalan Jadetabek serasa mereka yang punya jalan dan wilayah ini, seperti ketika bulan Ramadhan dimana mereka seenaknya melakukan razia bahkan melakukan pengrusakan di tempat-tempat hiburan atau kejadian yang terjadi di wilayah Depok beberapa hari yang lalu dimana di sebuah hotel ada acara yang dibuat oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia dengan komunitas Waria tanpa angin tanpa hujan puluhan FPI ini melakukan pengrusakan dan pengusiran padahal acara ini resmi dan mendapatkan ijin dari keamanan dalam hal ini Kepolisian Resort Kota Depok tetapi kenyataannya tetap saja bagi mereka Polisi itu tidak ada, kalau memang buat mereka Polisi tidak ada lantas kemana rakyat mendapatkan perlindungan dari tindakan mereka ? pada saat kejadian juga mereka entah sengaja atau tidak menggunakan anak-anak sebagai tameng hidup untuk mempertahankan makam tersebut ini terlihat ketika banyak anak yang terlibat perang batu dengan petugas Satpol PP dan juga ikut menjarah dan membakar mobil-mobil operasional daripada Satpol PP dan Kepolisian jangan-jangan anak-anak ini juga iku membantu menewaskan 3 petugas Satpol PP tetapi ya itu penulis lihat TIDAK ADA REKOMENDASI kepada dua kelompok ini terutama dari Komisi Nasional Anak dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia padahal jelas-jelas anak-anak ini dijadikan tameng hidup oleh dua kelompok ini !!

Kalau kita melihat kembali kejadian ini ( bukan maksud untuk membela Pemprov dan tidak mempercayai hasil rekomendasi tim independen) sebenarnya tidak ada niatan Pemprov untuk membongkar makam itu tetapi hanya untuk membongkar lahan-lahan yang tidak masuk dalam perjanjian tetapi kenyataannya permintaan Pemprov ini dipelintir oleh dua kelompok ini benar tidak ? kemudian terjadilah peristiwa tersebut kalau dilihat Pemprov disini di buat menjadi terdakwa padahal dua organisasi inilah yang jelas-jelas TIDAK BISA MEMBACA dan MENDENGAR apa yang tertulis dan terucap daripada putusan Pengadilan yang harus dijalankan oleh Satpol PP.

Bicara rekomendasi yang tertulis mereposisi keberadaan Satpol PP, sekali lagi bukan maksud untuk membela Pemprov DKI tetapi kiranya Satpol PP ini masih diperlukan karena bagaimana pun tanpa Satpol PP kenyamanan kita berjalan di trotoar dan juga kemacetan bisa teratasi kita bisa lihat yang membuat DKI ini sumpek dan tidak enak dilihat mata adalah keberadaan para kaki lima yang seenak OTAKnya menggelar dagangan di tempat yang jelas-jelas sebagai kawasan pejalan kaki atau tempat parkir kendaraan, sebenarnya yang membuat DKI macet ini adalah selain jalan yang kecil adalah keberadaan warung-warung makan yang berada di pinggir jalan yang akhirnya jalan-jalan tersebut terbagi porsinya antara jalan raya sekaligus warung sekaligus tempat parkir benar tidak ?!

Semoga kasus Priok ini menjadi yang terakhir di Ibu kota ini, dan juga pihak-pihak yang diminta menjadi team investigasi indenpenden agar lebih berimbang dalam memberikan rekomendasi bukan hanya Pemerintah yang harus menjalankan rekomendasi tetapi semua pihak yang terlibat dan terlihat langsung di tempat kejadian buat jelas dan team investigasi independen sesuai dengan pengertian daripada independen itu sendiri dalam memberikan rekomendasi !

Menteng, 120510 14:00
Rhesza
Pendapat Pribadi

Kamis, 06 Mei 2010

12 tahun Tanpa Kejelasan Akhir


Andai saja Elang Mulya, Hafidin Royan, Hendriawan Sie dan Hery Hartanto bisa datang lewat mimpi setiap malam dan membisikkannya ke telinga orangtua dan orang-orang tercinta mereka siapa yang sebenarnya memerintah dan menembak mereka dan juga kampus mereka secara membabi buta pada hari Selasa 12 Mei 1998 antara pukul 17.05 hingga 18.30 petang tentunya peristiwa ini akan tuntas dan membuat senyum puas bagi keluarga mereka, karena selama ini orang-orang terkasih mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat demi tegaknya kebenaran dan keadilan yang sering di agungkan oleh para pendekar hukum di negara ini.

Sudah hampir 12 tahun peristiwa itu terjadi dimana dalam perjalanannya pembuktian adanya pelanggaran berat HAM dan dituntaskan dalam vonis hukuman yang diketukkan oleh ketua Hakim ternyata hanya isapan jempol kaki belaka, sudah ratusan bahkan ribuan kali kalangan LSM, Komnas HAM bahkan keluarga korban sendiri mengadakan acara Kamisan di depan Istana Negara agar ada tindakan daripada negara dalam menuntaskan sebuah peristiwa yang menjadi awal sebuah sejarah daripada pemerintahan Republik ini tetapi hasilnya nihil ! bahkan rekomendasi daripada Tim Gabungan Pencari Fakta-TGPF pun dimana adanya pengusutan lanjut hanya dilihat saja dan kemudian (mungkin) ditumpuk begitu saja bersamaan dengan berkas-berkas kasus HAM lainnya.

Kalau kita boleh mengingatkan para pemimpin di negara ini, seharusnya para pemimpin negara ini yang sedang duduk nyaman di kursi empuk dengan ruangan yang full AC seharusnya BERTERIMA KASIH kepada empat pahlawan reformasi dan mahasiswa angkatan 98 ini kenapa penulis berkata begitu ? karena tanpa adanya peristiwa ini sehingga empat mahasiswa (maaf) rela berkorban dan juga aksi daripaa para mahasiswa’98 ini anda para pemimpin tidak bisa hidup enak dan nyaman dengan gaji serta fasilitas yang setiap tahunnya meningkat drastis walaupun banyak konstituen anda di daerah sampai saat ini masih di jajah yang namanya nasi aking, di jajah dengan raskin yang berwarna dan berbau apek dan busuk, hidup dengan rumah beralaskan tanah merah atau beratapkan beton jembatan seperti sebuah kehidupan rumah tangga yang berada di bawah kolong jembatan Jalan Guntur dekat Kantor Polisi Militer AD, benar tidak ?

Kalau tidak salah ketika masa berakhirnya anggota dewan periode 2004-2009 di bentuk sebuah komisi tentang kasus ini sempat membuka harapan para korban dan keluarga korban akan kepastian hukum mereka tetapi nyatanya mana ? sampai detik ini dan penulisan ini di baca oleh anda dan pengunjung blog lain tidak ada kabarnya bahkan tidak ada satupun hasilnya terpampang di berbagai halam di media massa, lantas penulis berpikir apakah komisi ini hanya untuk menghibur atau memberikan oase kepada para keluarga korban yang hampir sepuluh tahun ini haus akan kepastian hukum tetapi kenyataannya tidak ada hasilnya !

Apakah peristiwa ini setiap taunnya selalu diakhiri dengan acara tabur bunga di tugu reformasi dan juga keputusasaan para ibu yang anggota keluarganya menjadi korban HAM lalu bisa berakhir dengan manis atau setiap tanggal 12 Mei para ibu ini masih terus menerawang ke langit dengan linangan air mata yang mungkin sudah tidak keluar lagi serta batinnya berkata, Nak dimana kamu berada sekarang dan siapa yang tega membunuhmu ? kita lihat saja apakah negara ini masih menghargai yang namanya sejarah dan menjunjung tinggi yang namanya Keadilan dan Kebenaran, karena kita selalu diagung-agungkan serta direkomendasi oleh berbagai pihak internasional bahwa kita negara yang menjunjung tinggi HAM bahkan pernah menduduki sebagai Presiden Dewan HAM PBB tetapi FAKTAnya negaranya sendiri TIDAK BISA menjunjung tinggi HAM dari orang-orang yang tertindas !! mari kita tunggu nurani daripada anggota dewan dan pemimpin negara ini apakah mereka berpihak kepada rakyat kecil ATAU KARMA itu akan berjalan kepada mereka dan mereka BARU SADAR ketika apa yang sedang mereka lihat dan dengar itu terjadi di lingkungan keluarga mereka !!

Grogol, 120510 18:30

Rhesza
Pendapat Pribadi

Saatnya FPI Bubar !!!


Untuk kesekian kalinya FPI membuat ulah di negara ini, seperti yang terjadi beberapa waktu lalu dimana sekelompok orang melakukan tindakan yang tidak terpuji dimana dengan seenaknya membubarkan sebuah acara yang di hadiri oleh komunitas kalangan waria di daerah Depok, dan anehnya Pihak Kepolisian terutama Polres Depok hanya diam seribu kata ketika menghadapi kelompok ini dan hanya MENGEKOR kelompok ini untuk membubarkan, padahal acara ini berdasarkan narasi berita terdapat beberapa orang dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia-Komnas HAM.

Apa yang dilakukan oleh Front Pembela Islam ini bukan pertama kalinya sudah banyak aksi mereka yang membuat sebagian orang MUAK melihat tingkah laku mereka yang selalu mengatasnamakan Tuhan tetapi tindakannya tidak yang diajarkan oleh Tuhan, kita bisa lihat bagaimana ketika memasuki awal-awal bulan puasa dimana mereka layaknya Polisi Tuhan yang berpatroli di setiap ujung-ujung jalan yang memantau pusat-pusat hiburan yang masih buka, jika masih beroperasi jangan harap bisa di tutup tanpa cacat, kalau anda pernah baca atau dengar berita dimana ada sebuah arena bola tangkas-billyard di (kalau tidak salah) daerah Jakarta Barat di razia oleh FPI dimana dalam razia tersebuat semua peralatan yang ada di sana dihancurkan berkeping-keping tanpa ada yang utuh bahkan salahseorang karyawan dari arena tangkas tersebut yang kebetulan memiliki kekurangan ikut juga “dihancurkan” oleh mereka bahkan karyawan ini kabur dan bersembunyi di saluran air yang bau dan keruh sampai laskar-laskar ini pergi baru di temukan oleh warga dan Polisi setempat dengan kondisi yang memprihatinkan.

Pertanyaannya sekarang adalah, apa sich yang dicari oleh FPI ini ? inikah (maaf) Islam versi FPI yang dalam kegiataannya selalu berteriak Allahuakbar tetapi ketika dilapangan menciderai warga yang seiman dengan FPI dan tidak tahu apa-apa ? penulis bukan maksud untuk menistakan agama atau memojokkan suatu agama, tetapi menurut penulis semua agama manapun tidak ada dalam kitabnya meminta untuk dalam menegakkan agamanya selalu menciderai sesama umatnya benar tidak ? lagipula NEGARA INI merdeka dari keringat, darah bukan dari satu agama dan satu suku saja.

Tetapi dari semua aksi-aksi FPI ini yang membuat penulis heran adalah kok TIDAK ADA SIKAP TEGAS dari pemerintah terutama PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA dalam melihat aksi-aksi mereka yang menurut penulis sudah mengganggu kenyaman dan ketertiban rakyat, kemudian TIDAK ADA SIKAP TEGAS dari aparat Kepolisian Negara Republik Indonesia ketika mereka sedang melakukan aksi di jalan, seperti kasus penyerangan Kantor Redaksi Majalah Playboy adakah Polisi langsung menangkap, memukul dengan brutal, menyeret mereka ke Mobil Tahanan ? jangan Cuma mahasiswa dan pendemo saja yang selalu di tangkap, di hajar, diseret LAYAKNYA BINATANG ke mobil tahanan sementara ketika FPI melakukan pengrusakan di-DIAM-kan saja, tetapi giliran di tanya wartawan kenapa sikap Polisi diam di jawabnya layaknya arogan!! Dan lagi MEMANG ADA PRESTASI APA FPI ini BAGI Republik Indonesia sehingga dalam aksinya di jalan yang agak brutal dan tidak manusiwai pihak Kepolisian Negara Republik Indonesia DIAM SERIBU BAHASA !!!

Sudah saatnya negara (mungkin) dalam hal ini Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Agama, Kementerian Hukum dan HAM, Kementeriaan Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Kejaksaan Agung Republik Indonesia untuk duduk bersama, membahas apakah apa yang dilakukan oleh FPI sudah termasuk kategori teroris atau apa, kalau tidak salah bukankah negara ini memiliki UU tentang organisasi kemasyarakatan, kalau ada, sudah waktunya UU itu ditinjau lagi kalau memang ada, kalau tidak ada jika pihak-pihak terkait termasuk DPR juga ikut membantu agar kejadian seperti yang dilakukan oleh FPI ini tidak berlanjut lagi..

Apakah nantinya Republik Indonesia AKAN mengambil tindakan tegas dengan membubarkan organisasi ini dan MUNGKIN mengikuti apa yang dilakukan Amerika dalam menjaga keamanan rakyatnya misalnya oleh Pemerintah Indonesia memasukkan atau mengklasifikasi FPI sebagai organisasi terlarang atau setingkat dengan Al-Qaeda karena dianggap meresahkan masyarakat dan kestabilan negara ! atau FPI ini terus menganggu kenyamanan, keamanan, kententraman rakyat Indonesia karena ulahnya yang selalu mengAGUNGkan Tuhan tetapi ajaran Tuhan tentang cinta kasih terhadap sesama itu TIDAK ADA dan digantikan dengan KEKERASAN !!! kita nantikan saja sikap tegas dari Pemerintah Republik Indonesia!!!

Petamburan, 300410 15:30
Rhesza
Pendapat Pribadi

Selasa, 06 April 2010

Kenapa Selalu Terlambat ?


Saat ini sedang marak sekali dengan pemberitaan kasus Pajak senilai Rp. 25 Milyar yang diambil oleh seorang staff Dirjen Pajak, penulis tidak akan menganalisa tentang masalah ini karena penulis bukan ahli ekonomi atau ahli perpajakan yang setiap saat selalu dimintai keterangannya oleh kawan-kawan jurnalis.

Tetapi penulis melihat ada yang salah daripada kasus ini yaitu dari segi pencegahan keamanan daripada para tersangka ini, seperti kita ketahui setelah 3 hari kasus pajak ini digelontorkan oleh seorang Jenderal, pihak-pihak terkait seperti Kepolisian baru meminta pihak Direktorat Jenderal (Dirjen) Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia untuk melakukan cegah dan tangkal (CeKal) kepada pihak-pihak yang terkait kasus pajak Rp. 25 M ini tetapi apa yang terjadi ? sebelum Kepolisian Negara Republik Indonesia-Polri meminta Dirjen Imigrasi melakukan CeKal sang pembawa uang ini sudah pergi ke negara tempat para drakula Rupiah menikmati kepuasannya dalam membawa uang rakyat.

Yang menjadi pertanyaan penulis dan juga mungkin rakyat Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke dari Mianggas hingga Rote adalah KENAPA SELALU TERLAMBAT pihak-pihak yang terkait dalam mencegah para pelaku drakula Rupiah ini, apakah ini disengaja atau terlalu lambat dan leha-leha penyidik menyidik berkas suatu perkara ?

Sudah berapa banyak para drakula Rupiah ini kabur dari Indonesia dan sekarang berada di luar negeri dan susah ditangkap oleh pihak keamanan karena keterlambatan pihak Polri dan Imigrasi dalam membuat surat perintah Cekal jadinya hanya bisa mengelus dada benar tidak ? sudah saatnya pihak Polri dan Imigrasi belajar dari kesalahannya padahal Polri dan Imigrasi adalah pihak yang diharapkan ratusan juta masyarakat dalam memberantas korupsi di negara ini agar Rupiah ini tidak dibawa kabur ke luar negeri.

Salah satu cara para drakula Rupiah ini tidak bisa kemana-mana yaitu, pertama, ketika sedang menerima berkas perkaranya kiranya Polri langsung berkoordinasi dengan Imigrasi langsung membuat surat perintah CeKal kepada pihak-pihak yang sedang disidik oleh Polri, karena seperti pengalaman yang sudah-sudah ketika akan benar-benar disidik dan membuat surat CeKal ternyata orang yang akan di CeKal sudah kabur duluan..

Lebih baik langsung di CeKal dulu walaupun nantinya bersalah atau tidak daripada dinyatakan bersalah ternyata orangnya sudah hilang entah kemana benar tidak ? kedua, pihak Imigrasi pun lebih selektif dalam membuat dan mencetak paspor bagi warga negara, karena penulis melihat banyak para drakula Rupiah ini minggat dari wilayah Indonesia dengan identitas aspal, dan ketika para drakula Rupiah ini kabur kiranya memeriksa arsip kembali adakah paspor yang keluar bersamaan dengan kaburnya drakula Rupiah ini sehingga bisa diketahui..

Semoga kejadian kabur-kaburan para drakula Rupiah ini keluar negeri menjadi pelajaran bagi pihak Polri dan Dirjen Imigrasi agar dikemudian hari bisa diperbaiki dan uang rakyat tidak dibawa lagi ke luar negeri atau memang dua pihak ini membiarkannya dengan pergi kemudian meminta maaf kepada rakyat dengan alasan STD yaitu alat yang digunakan tidak pernah diperbaiki dengan asumsi paling dua-tiga bulan rakyat sudah lupa benar tidak ?

Sudirman, 260310 07:10:00

Gie Gustan
Pendapat Pribadi

Jumat, 09 Januari 2009

Dimana Nuranimu HAMAS ?











Pertama-tama penulis ingin menghaturkan simpati dan duka yang dalam kepada seluruh rakyat tepi Gaza-Palestina dengan apa yang terjadi selama beberapa hari menjelang pergantian tahun hingga saat ini, semoga keluarga yang ditinggalkan dapat diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi ini semua. Kedua, lewat tulisan ini penulis meminta maaf kalau dalam penulisan yang pembaca atau pengunjung blog ini agak sedikit menyinggung soal agama atau ideologi, bukan maksud memojokkan tapi itulah yang ada didepan penulis yang penulis tuliskan serta untuk intropeksi dalam diri kita masing-masing jika anda membaca tulisan ini, sekali lagi mohon maaf.



DIMANA batang hidungmu sang Pemimpin HAMAS, Ismael
Haniya beserta jajarannya ketika ratusan anak, balita, wanita mati secara perlahan karena cuaca dingin dan kelaparan, dimana engkau Haniya jangan Cuma berkoar dengan mengatakan bahwa Israel akan Kalah Buktikan Haniya?!



Ini bukan pertama kalinya Israel menggempur Palestina, setidaknya menurut catatan penulis dalam konflik ini sudah 11 peristiwa yang terjadi dimulai pertama kali pada tahun 1953 sebuah peristiwa yang bernama Pembantaian Qabiyyah, dimana tentara Israel menyisir habis dan meratakan daerah itu dengan tanah. Setelah mengisolasi penduduknya dari semua kemungkinan pertolongan, pasukan gila ini menembak ke segala arah. Mereka meledakkan seluruh rumah dan membantai penduduknya tanpa ampun. Pembantaian ini berlangsung selama 32 jam. Dan peristiwa yang terakhir adalah yang terjadi baru-baru ini tepatnya 27/11/08. Hari pertama telah syahid 271 orang, 750 orang luka-luka dan tidak kurang dari 200 orang dalam keadaan kritis, dan itu masih terjadi sampai tulisan ini dimuat dalam blog ini.

Ada apa dengan Israel dan Palestina ? penulis tidak perlu kronologikan kejadian yang sering terjadi ini biarlah opini publik yang tahu, penulis hanya kasihan dimana rakyat sipil lah yang tidak menahu akan konflik ini menjadi korban, pembaca dan pengunjung blog ini mungkin bertanya dengan judul diatas, memang penulis menulis judul diatas sangat sesuai dengan apa yang terjadi di negara tersebut.



semut di seberang kita lihat tetapi gajah dipelupuk mata tidak terlihat. Tetapi inilah yang saat ini terjadi dinegara kita.




Dimanakah nuranimu HAMAS ? itulah yang menjadi pertanyaan kita kepada HAMAS, kita tahu HAMAS adalah salah satu faksi yang ada di Palestina dimana mereka memperjuangkan kedaulatan dan kemerdekaan Palestina tidak dengan jalan diplomasi tetapi lebih kepada aksi frontal dan brutalisme dan pada tahun 2006 kemarin memenangkan pemilu Palestina dan berhak atas posisi strategis dalam pemerintahan Palestina yaitu Perdana Menteri, akibat dari kemenangan HAMAS dan latarbelakang dari gerakan HAMAS inilah yang membuat Israel berang, padahal ketika akan pemilu Palestina, Israel pernah berujar bahwa Israel akan melakukan konsolidasi perdamaian dengan pihak Palestina manapun yang memenangkan pemilu, tetapi dibalas oleh HAMAS bahwa Palestina tidak perlu berdamai dengan Israel.

Selama HAMAS memimpin pemerintahan Palestina, rakyat sipil selalu menjadi korban dari tindakan radikal HAMAS terhadap Israel bahkan situasi ekonomi pun sempat mendera mereka dimana puluhan karyawan tidak dibayarkan haknya kemudian pasokan makanan dan distribusi makanan mereka terhenti karena diboikotnya oleh beberapa negara akibat kepemimpinan HAMAS yang dinilai mata dunia sebagai organisasi radikal dan tidak jauh dan tidak lebih dari organisasi teroris.

Ditambah dengan kejadian baru-baru ini yang mana lebih dari 1,000 orang tewas yang dominan adalah anak-anak dan wanita, masih keras kepala dan mati nurani kah dari para pemimpin HAMAS ini melihat rakyatnya tewas padahal yang mereka butuhkan adalah makanan dan hidup yang layak dan damai tanpa peduli apa yang dilakukan HAMAS, dan HAMAS masih saja terus berjuang melawan Israel dengan kekerasan ?
Memang kalau kita lihat Palestina ini ibarat dua sisi mata koin logam, kenapa ? ini hasil dari pengungkapan salah seorang pensiunan diplomat yang pernah bertugas di KBRI kawasan Timteng dalam suatu forum yang penulis ikuti, dimana kata beliau negara arab bingung dengan Palestina, kalau Palestina benar-benar menjadi sebuah negara maka negara-negara arab ini akan merasa seperti (maaf!) kacung mereka karena kemampuan dan analisis mereka terhadap suatu masalah diatas kemampuan dan analisis orang arab, dan kalau tidak merdeka, mereka prihatin dengan kondisi warga Palestina itu sendiri, memang sangat ironis kalau kita bayangkan dengan ucapan yang diucapkan oleh pensiunan diplomat tersebut, tetapi mau bagaimana !



Negara masih susah dan belum bisa bayar hutang kok bantu negara susah, lalu jawaban pak beye mewakili 220 juta rakyatnya apa ?




Bagaimana dengan Indonesia ?

Akibat dari tindakan Israel ini semua negara di dunia termasuk Indonesia mengecam dan mengutuk keras ini, bahkan Indonesia meminta PBB untuk membuat resolusi seperti yang dilakukan PBB ketika Lebanon dan Israel bertempur dimana Israel klaim bahwa mereka melakukan itu karena ingin memusnahkan faksi Hizbullah.

Itu baru tingkatan pemerintahan, sementara ditingkat bahwa yaitu rakyat Indonesia terutama umat Islam menyerukan untuk menggalang dana bahkan ada yang menyerukan untuk mengirimkan jasa mulai dari jasa relawan kesehatan hingga melakukan jihat.

Apa yang dilakukan Indonesia ditingkat pemerintahan sudah baik paling tidak dunia akan segan melihat tindakan kita yang keras meminta Sekjend PBB untuk mengeluarkan semacam resolusi walupun diveto oleh AS, tetapi yang konyol menurut penulis adalah tindakan yang dilakukan tingkat bawah terutama penggalangan dana hingga pengiriman bantuan mulai dari bantuan kesehatan hingga jihad.

Kenapa konyol, maaf sebelumnya kalau tulisan ini membuat anda marah, tetapi coba anda pikirkan kembali, soal pengiriman bantuan menurut penulis sah-sah saja toch kita didunia ini tidak bisa hidup sendiri harus ada simbiosis mutualisma, tetapi alangkah baiknya kalau kita mengurus kebutuhan di dalam negara ini dahulu baru kita urus kebutuhan yang dibutuhkan oleh Palestina, jangan sampai sebuah peribahasa itu terjadi pada kita yaitu semut di seberang kita lihat tetapi gajah dipelupuk mata tidak terlihat. Tetapi inilah yang saat ini terjadi dinegara kita.

Kita bisa lihat begitu peristiwa ini pecah, semua element menghujat habis tindakan Israel dan langsung menyerukan bantuan dari semua pihak dengan berbagai bentuk misalnya adalah salahsatu partai mulai dari tahun 2006 mengatakan bantuan dimana setiap orang menyumbang US$ 1 untuk 1 orang atau istilahnya
One Man One Dollar, bahkan ada salah satu partai menerapkan pola ini tetapi beda mata uang yaitu One Man One Dinar tetapi menurut pengamatan penulis program itu sampai detik ini TIDAK ADA LAPORAN KEUANGAN baik itu termuat dalam media atau release dari partai itu bahwa program ini SUKSES sampai ke tanah Palestina dan diNIKMATI oleh rakyat Palestina atau TIDAK!! Kemudian ada lagi Organisasi Masyarakat beraliran agama keras yang ngotot dan kepala batu mengirimkan pasukan jihad untuk menyerang Israel ke daerah Palestina, padahal sebelum Israel invasi ke Palestina terlebih dahulu invasi ke Lebanon mereka sudah mengirimkan tetapi tetap saja TIDAK ADA LAPORAN apakah yang berangkat itu SELAMAT semua tanpa ada cacat tubuh dan kembali ke Jakarta atau TEWAS !!!

Pertanyaan untuk para pemimpin baik partai ataupun organisasi masyarakat maupun rakyat sipil yang tergerak untuk mengikuti kegiatan menjadi relawan hingga melakukan jihad adalah apakah anda sudah siap mental menghadapi situasi disana, padahal situasi kondisi baik geografis, budaya, berbeda dengan negara kita walaupun disana ada persamaannya yaitu bahwa sama-sama hamba Allah, kemudian kalau memang anda berangkat ke sana, lalu SIAPA yang akan MENANGGUNG kebutuhan dan kesejahteraan istri, anak dan anggota keluarga lainnya dalam sehari-hari kalau anda sendiri menjadi TULANG PUNGGUNG ekonomi ? memangnya negara MAU memberikan pertolongan ekonomi kepada keluarga anda selama anda pergi? tolong dipikirkan kembali !!!

Penulis juga mengkritik kalangan media, dengan kekuatan media bisa meraih simpati kepada rakyat tanpa memberikan perimbangan berita contohnya dengan cara mempertontonkan tayangan yang bersifat simpati seperti membeli gambar televisi yang sedang meliput kegiatan bantuan kepada korban invasi di rumah sakit, sementara korban rakyat Israel atau tentara Israel yang cidera hingga meninggal tidak pernah disorot atau ditayangkan walaupun kita tahu bahwa tayangan-tayangan itu dibeli stasiun televisi di Indonesia dari televisi asing. Jadi tolonglah kepada pihak media kalau memang anda mempunyai jiwa jurnalis dimana menurut Bill Kovach dan Tom Rosenstiel yang berjudul Elemen-Elemen Jurnalis adalah Tugas Jurnalis itu adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan warga agar mereka bisa hidup merdeka dan mengatur dirinya sendiri, serta kewajiban jurnalis adalah pada kebenaran, tetapi kalau di Indonesia apa yang dibilang oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel ini sepertinya tidak berlaku.

Padahal sebelum peristiwa ini terjadi, kita dikejutkan dengan peristiwa banyaknya banjir dibeberapa daerah seperti wilayah Kalimantan, Sumatera yang mana Pemda setempat tidak mampu memberikan bantuan yang layak,
seharusnya kita lah sebagai mahkluk sosial dan sesama warga Indonesia ikut membantu meringankan beban mereka, atau ketika terjadi gempa kekuatan 5,6 SR di kepulauan Talaud, serta Gempa di Papua Barat yang memicu adanya Tsunami di Jepang , atau langkanya BBM, atau kondisi korban Tsunami yang sampai sekarang tidak sejahtera dan terbuai dengan rayuan yang dilontarkan oleh Pemerintah dan pihak asing bahwa mereka akan hidup layak tetapi kenyataannya, atau nasib para pengungsi korban Lumpur Lapindo yang mungkin sekarang banyak yang GILA atau anak-anak usia produktif nyambi (maaf!) jadi PEREK/ JABLAY karena tidak ada biaya untuk sekolah, seharusnya isu-isu ini kita harus bantu dan tekan pemerintah untuk mensejahterahkan rakyatnya BUKAN meminta pemerintah membuka akses rakyat Indonesia untuk bisa berjihad atau memberikan bantuan, memang solidaritas, tapi apalah arti solidaritas itu kalau negara dunia melihat kondisi Indonesia yang mungkin sama dengan Palestina, sama-sama kekurangan dan saling butuh, mau dikemanakan muka kita sebagai rakyat Indonesia kalau dalam forum internasional dan direkam oleh media, ada salahsatu pemimpin celetuk Negara masih susah dan belum bisa bayar hutang kok bantu negara susah, lalu jawaban pak beye mewakili 220 juta rakyatnya apa ?

Apakah Nasib Palestina yang memimpikan menjadi sebuah negara akan tercapai atau sebaliknya mereka akan menjadi kuburan hidup bagi Israel, dan bagi Indonesia dengan moment ini akankah masih terus mengirimkan bantuan walaupun kondisi dinegaranya sendiri sama bahkan lebih tragis daripada tragedi Palestina ? kita lihat saja dan kita semakin tahu bahwa yang namanya KEDAMAIAN itu mahal harganya….


Peace, Love, Pluarism, Unity and Respect

Jakarta 010109 10:10

Rhesa Ivan Lorca
Pendapat Pribadi

Susah sekali Cak menemukan yang merencanakan dan yang membunuhmu…


Halo Cak Munir apa kabar disana ? Tidak terasa Cak tahun 2008 sudah berganti tahun 2009, tidak terasa juga kematianmu telah lima tahun meninggalkan kita untuk selamanya akibat racun yang masuk ke dalam tubuhmu ketika sedang berada di atas udara negara Hongraria ketika akan kembali ke Belanda untuk sekolah setelah liburan dan kangen dengan anak-istri di Jakarta.

Tidak terasa juga Cak… proses hukum dari kematianmu mengambang di tengah jalan dengan vonis hakim yang membingungkan rakyat terutama kolega anda yang pernah menjadi korban kebringasan institusi loreng hijau dan cokelat ketika mereka bersatu yang selalu anda bela setiap anda melakukan pembicaraan.

Mungkin ada tahu cak tentang sosok yang dianggap kawan-kawan anda sebagai eksekutor daripada racun yang melekat ditubuh anda yaitu Pollycarpus Budihari Priyanto pernah kenal cak? Katanya dia kenal baik dengan anda, bahkan ketika anda berada di pesawat, beliau ini yang memberikan kursinya di kelas bisnis untuk anda, tapi ketika dipersidangan, kolega anda ini cak dinyatakan oleh ketua majelis hakim divonis berapa tahun dengan dipotong masa tahanan, hilang sudah harapan rakyat Indonesia terutama kolega korban HAM anda untuk membuat anda tenang di dunia sana, yang uniknya ketika berlangsung penyidikan sampai ke tahap sidang, istri dari sang kolega anda ini yang menjadi pesakitan, terus-terusan tatattoet kesana kemari dengan mengatakan bahwa suaminya tidak bersalah, dan akan menulis surat ke Paus Benedictus XVI sesuai dengan keyakinan bahwa proses hukum di Indonesia melanggar HAM, dan apa hasilnya tidak ada itu laporan bahwa istrinya telah mengirim surat ke Paus atau Pihak Keduatan Tahta Suci Vatikan untuk Indonesia memberikan press release bahwa Paus sudah menerima, membaca dan memberikan jawaban atas surat yang apa diucapkan oleh sang istri tersebut. Padahal intinya kan mudah ya cak..tinggal bilang saja kalau memang dia tidak bersalah siapa yang menyuruh, betul tidak cak ?

Setelah vonis itu cak..hampir tidak ada yang mempedulikan kematian anda cak, barulah awal atau pertengahan tahun 2008 mulai lagi terbuka siapa-siapa yang terindikasi dibelakang terracunnya anda cak, sejumlah pihak mulai dipesankan kamar mereka di hotel prodeo, mulai dari pejabat teras perusahaan penerbangan tempat anda menumpang pergi dari Jakarta ke Amsterdam hingga pejabat lembaga sandi negara, akhirnya terungkap satu nama yaitu Muchdi Pr dimana ketika itu menjabat Deputy V lembaga sandi negara alias Badan Intelijen Negara, mau tahu cak selama proses penyidikan hingga persidangan, sang deputy ini mendapatkan kamar yang wah di hotel prodeo Markas Komando Brigade Mobil –Mako Brimob kelapa dua, seharusnya kan Cak yang namanya kalau berada dihotel tidak perlu di jaga, kalau tokoh ini Cak dijaga sepertinya layaknya Barrack Obama Presiden AS yang terpilih dengan Secret Service, disetiap jengkal beliau jalan selalu ada pengawalnya bahkan Polisi yang menjaga sidangnya seperti makan gaji buta atau mungkin lebih dibilang (maaf!) kacung dari para pengawal ini, akhirnya apa yang sudah diduga ternyata benar Cak..nasib dari pesakitan ini tidak jauh berbeda dengan pesakitan yang diawal tetapi lebih enak yang ini, entah apa karena majelis hakimnya takut karena yang didepannya adalah aparat sandi negara yang kalau di jaman dinasti cendana lembaga ini sangat ditakuti bahkan mungkin lebih sadis daripada Alcapone atau mafia Sisilia-Italia, ketukan palu bebas lah yang diberikan oleh Ketua Majelis Hakim dimana ketukan palu itu dilakukan pada tanggal 31 Desember 2008 hari terakhir di tahun 2008 dan hitungan jam menuju tahun 2009.

Bahkan Cak istri anda dan kolega anda di Kontras akan diseret oleh Mabes karena mencemarkan nama baik dan berita bohong akibat memasukkan aparat sandi negara ini ke Hotel Prodeo..bagaimana ini Cak semakin tidak jelas nasibmu di negara ini, tetapi banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh orang-orang yang tidak suka dengan kegiatan anda bahwa anda dibunuh, diracun karena anda adalah pengkhiat bangsa, membeberkan data kekerasan korps loreng hijau dan Tribrata kepada pihak asing, supaya negara asing menekan Indonesia sudah lebih menghormati HAM terutama sipil, benarkah anda pengkhiat bangsa Cak ?

Tapi Cak tolonglah berikan kami tanda, siapa sebenarnya yang merencakan dan mengeksekutor anda Cak, jangan buat kami merasa terganggu karena selama ini kami aman dari berbagai intimidasi yang dilontarkan oleh orang-orang yang berseragam atau yang mengaku-ngaku militer, tetapi setelah engkau tidak ada cak.semua berubah tidak ada berani lagi vokal seperti anda, tolonglah Cak beritahu kepada kami siapa orang biar kami yang menyeretnya atau mungkin Cak sendiri yang menghampiri orang-orang yang telah merencanakan sehingga orang-orang inilah dengan sendirinya mengakui perbuatannya begitu Cak..tapi sampai kapan ?

Jaka Permai, 080109 23:10


Rhesa Ivan

Rabu, 24 Desember 2008

Brutalnya Polisi di Negara ku tercinta ini


Percuma saja Jenderal BHD selaku Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia-Kapolri beserta jajarannya membuat citra polisi kita semakin hari semakin bagus lewat cara operasi citra Polisi 2008 yang dicanangkan oleh Direktorat Lalu Lintas Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia-Ditlantas Mabes Polri dimana seorang polisi harus menunjukkan citra yang positif kepada masyarakat dengan cara tidak menerima suap dari para calo atau timer, serta memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat yang ingin bertanya, kemudian program yang kedua adalah bagian Direktorat Reserse Kriminal Mabes Polri bersama dengan Direktorat I keamanan Transnasional Mabes Polri menggelar operasi preman dimana semua preman dan kelompok yang terindikasi sebagai preman atau pengacau lingkungan ditangkap dan diproses secara hukum.



"Waktu dibawa polisi dia terlihat pingsan," ujar seorang saksi mata yang tidak ingin disebutkan namanya.


Tetapi dua usaha yang dilakukan oleh Jenderal BHD dalam program 100 hari itu rusak karena anggotanya sendiri yang berada di dua tempat wilayah, yaitu di wilayah hukum Makassar dan Yogyakarta dimana hanya satu kata untuk polisi di dua wilayah ini yaitu BRUTAL !

Kenapa brutal ? ini terkait dengan dua peristiwa di dua wilayah hukum polisi yaitu yang pertama adalah di Jogjakarta dimana puluhan pendemo ditangkap polisi bahkan dengan kekerasan seperti ditangkap lalu para polisi tersebut membentuk lingkaran kecil dan memukul secara bergantian tersebut para prajurit tersebut ke arah mahasiswa atau menyeret mereka bergesekan dengan aspal jalan sambil dipukul, kejadian ini terkait dengan kedatangan kunjungan RI-1 ke Jogjakarta, yang kedua tidak jauh beda bahkan lebih tragis daripada kejadian di Jogjakarta, kejadian ini berlangsung di kota Makassar tepatnya yang bertikai adalah mahasiswa Universitas Hasanuddin-Makassar dengan aparat Polisi dari unit perintis Poltabes Makassar dimana ada beberapa mahasiswa yang diinjak-injak oleh Polisi, dipukul dan tindakan keji lainnya.

Apa yang dipertontonkan oleh para aparat ini sungguh memalukan apalagi ditayangkan oleh semua stasiun televisi nasional maupun lokal, percuma saja Kapolri, Ditlantas dan BaReskrim Mabes Polri membuat kebijakan yang gunanya lebih memasyarakatkan polisi ditengah masyarakat kalau dirusak oleh sekelompok polisi hanya karena urusan yang sebetulnya bisa diselesaikan dengan negosiasi dan dialog tetapi adu fisiklah yang lebih berkuasa daripada dua hal yang halus itu.



"Saya tadi menelepon Kapolda agar menarik pasukannnya karena dosisnya sudah tidak wajar,"
Rektor Unhas, Idrus Paturusi



Menurut penulis apa yang di tampilkan oleh para aparat kepolisian ini sudah dibatas kewajaran norma tentang HAM dan ini perlu diselesaikan dengan hukum, penulis berpandangan bahwa polisi sekarang semakin menunjukkan jati dirinya sebagai polisi setelah “cerai” dari ABRI dan langsung berada di Presiden selaku “The God Father” mereka ketimbang TNI yang berada dalam kekuasaan Menteri Pertahanan Republik Indonesia, salah satu yang mencolok sekali arogannya adalah pada saat mengawal dan mengamankan demo terutama demo yang dilakukan oleh mahasiswa dan kaum minoritas seperti buruh migran selalu diwarnai ketegangan sampai berakhir kericuhan.

Yang sangat disayangkan adalah dari tindakan polisi ini adalah tidak ada tanggung jawab moral daripada komandan lapangan mereka terhadap anak buah mereka, kita tahu latar belakang pendidikan dari para perwira polisi yang selalu berada berhadapan face to face dengan pendemo adalah lulusan SMA, jadi kalau ada kericuhan atau bentrok itu sama saja kita melihat anak SMU sedang tawuran sementara KEMANA para komandan mereka dilapangan yang mulai berpangkat letnan dua hingga mayor berada ketika itu terjadi ? ini terbukti berdasarkan pengalaman dan pengamatan penulis ketika kampus sedang rusuh akibat tawuran atau demo yang berakhir rusuh, dimana puluhan personel dikerahkan untuk menetralisir keadaaan sampai terkendali turun ke jalan, tetapi kemana para komandan mereka, disaat para anak buah sedang menjaga keamanan dari kericuhan tadi ternyata para komandan mereka sedang ongkang-ongkang kaki disalah satu rumah makan padang sambil mengorek sela gigi karena ada sisa makanan dengan tusuk gigi sambil bercanda dengan sejawatnya, tulisan ini bukan sekedar tulisan sensasi tetapi berdasarkan fakta yang penulis lihat sendiri, ketika itu sedang membantu kawan membeli sebungkus nasi, ketika berada disana agak kaget dengan banyaknya beberapa komandan duduk bersama di dua meja jadi satu makan besar sepertinya, tetapi apakah di nurani mereka terpikir bagaimana dengan anak buahnya yang terus-terusan menjaga situasi tanpa tahu apakah anak buahnya sudah makan atau belum dari tadi pagi.

Sudah sepantasnya dan selayaknya para personel polisi ini baik yang terjadi di Jogjakarta maupun di Makassar untuk diproses secara hukum dan transparan kepada publik, karena selama ini penulis melihat banyak kasus seperti bentrok aparat dengan mahasiswa sampai brutal diajukan ke dewan pengawas dan Propam Polri tetapi tidak terbuka hasil akhir kasus ini kepada publik yang ada hanya mungkin teguran dan mutasi ke tingkat Polda kalau personil ini berada dari lingkungan Polsek, Polres, Polwil, Poltabes atau Polri kalau tingkatan Polda dengan jabatan non struktural kemudian dalam hitungan 6 bulan sampai 1 tahun begitu ada telegram rahasia Kapolri instruksi mutasi, personil yang kena kasus dan ditarik ke Polda atau Mabes ini akan masuk dalam mutasi tersebut, kalau sudah seperti ini apanya yang namanya adil dan kebenaran ? padahal bukti sudah ada seperti banyaknya kamera televisi nasional bahkan asing yang jelas-jelas menyorot secara dekat muka daripada para personil yang melakukan kekerasan..

Menurut penulis yang terpenting adalah dalam kasus ini semua pihak tanpa terkecuali di panggil termasuk dari kalangan mahasiswa untuk berani melaporkan institusi ini ke meja hijau dan dalam proses hukumnya pun bukan hanya komandannya yang kena sanksi tetapi semua anak buah yang menjadi tanggungannya harus bertanggung jawab karena selama ini komandannya lah yang bertanggung jawab sementara anak buahnya merajalela memang disatu sisi ada sifat dari seorang ksatria tetapi itu bukan sebagai pembelajaran buat anak buah malah makin menjadi karena mungkin prinsip mereka berbuat salah terus saja yang penting saya tidak kena, yang kena kan komandan saya.

Apakah program 100 hari Kapolri akan rusak karena kasus ini dan seterusnya atau program 100 ini tetap berjalan walaupun banyak masyarakat yang sudah tidak simpati dengan korps baju cokelat tribrata ini..kita lihat saja bagaimana tindakan kapolri dalam menindak anak buahnya apakah Cuma dengan mutasi komandannya mulai dari komandan lapangan, Kanit Intelkam Polres hingga Polda atau melikuidasi unit polisi yang menjadi biang kerok dari dua peristiwa ini seperti yang dilakukan oleh Mantan KSAD ketika kota Binjai bergejolak dimana salahsatu unit TNI disana dibubarkan dan baru dibuka lagi 2 tahun kemudian..bisakah seperti itu Kapolri sekarang ? kita lihat saja nanti..waktu yang akan berbicara….

Trunojoyo, 191208

Rh. Lorca
Pendapat Pribadi

Kamis, 18 Desember 2008

Mahalnya Cucian DKI 1

Semakin hari ada saja pembicaraan tentang negara ini terutama para pejabatnya kali ini menimpa kalangan pejabat yang ada di Kawasan Merdeka Barat atau lebih tepatnya dari Kantor DKI 1.

Ada apa dengan DKI 1 ? ini berawal dari isu adanya pemberian laptop kepada semua jajaran Kepala Dinas Pemprov DKI bahkan anggaran laptop ini melebihi anggaran laptop yang dahulu pernah diminta anggota dewan Senayan, kalau anggaran laptop anggota dewan Senayan sebesar Rp. 21,5 juta kalau pemprov sebesar Rp. 35 juta untuk satu unit !

Yang bikin hebohnya adalah bahwa anggaran Rp.35 juta untuk satu unit ini dibebankan kepada kas APBD Pemprov DKI, alasan pemberian laptop ini menurut Kepala Humas dan Protokoler Pemprov DKI adalah untuk meningkatkan kinerja pejabat terutama pejabat bidang luar negeri yang membutuhkan laptop dengan kecepatan tinggi. Selain itu juga Pemprov juga menganggarkan komputer dengan harga satu unitnya Rp. 20 juta, kemudian memanjakan Dinas Pemadam Kebakaran dengan memberikan alat musik yang harganya sekitar Rp. 1 Miliar ! ( alat musik seperti apa sampai harganya segitu?) serta biaya perawatan komputer selama satu tahun dengan nominal Rp. 4 Juta.

Tapi yang menjadi pertanyaan saat ini, apakah dengan pembelian alat-alat tersebut sudah pasti akan menunjang kinerja mereka makin bagus dalam hal melayani kebutuhan publik? Menurut penulis kalau dilihat satu sisi dengan alasan yang diutarakan oleh Kepala Humas dan Protokoler Pemprov DKI ada benarnya tetapi kalau kita lihat lagi bagaimana dengan mutu pelayanan para pejabat itu sendiri kepada masyarakat?

Kita bisa lihat bagaimana pelayanan publik yang semakin hari semakin tidak jelas, seperti banyaknya pungutan dalam mengurus dokumen mulai dari KTP hingga mungkin surat keterangan untuk saudara kita yang keturunan dan itu nominalnya bukan dalam hal satuan melainkan ratusan bahkan puluhan ribu rupiah, tetapi yang ada ketika dikonfirmasi kepada para pejabat, pejabat ini selalu mengatakan bahwa semua pengurusan dokument adalah Gratis tanpa dipungut biaya !!! aneh bukan ?

Itu baru sekedar isu, tetapi ada yang lebih heboh untuk pembaca dan pengunjung disimak yaitu bahwa DKI 1 dan DKI 2 dalam memelihara kebersihan pakaiannya saja Pemprov memparkirkan dana untuk cuci bajunya sebesar Rp 70 juta Wowww!!

Apa yang dipikirkan oleh para pejabat pemprov ini sangat tidak manusiawi, penulis sependapat dengan salahsatu LSM yang mengkritiknya bahwa anggaran itu hanya untuk memanjakan para pejabatnya bukan para rakyat yang seharusnya mendapatkannya.

Dalam data anggaran kas DKI, kita bisa lihat Kas DKI untuk tahun 2009 sebesar Rp. 22,2 triliun, dan berapa persenkah dari Rp. 22,2 triliun itu untuk alokasi rakyat miskin ? ternyata dana untuk rakyat miskin yang diparkirkan oleh Pemprov HANYA sekitar 1,7 % sisanya ? ya..seperti yang penulis sajikan di atas.

Kalau sudah seperti ini tidak ada artinya slogan yang selama kita dengar di kalangan pejabat publik yaitu Melayani BUKAN Dilayani melainkan Dilayani terus-menerus BUKAN Melayani. Betul tidak ?

Sudah saatnya para pejabat kita bukan saja dari DKI tetapi mulai dari ujung Sumatera hingga Ujung Papua bersama-sama bersatu dalam melayani apa yang rakyat mau, bukan untuk kesenangan pribadi dengan mengatasnamakan rakyat dan kebutuhan akan rakyat…betul tidak ?!

Kebon Sirih, 101208

RKMD- 01 / Rvanca

Senin, 08 Desember 2008

Akhirnya…. Pak Beye Marah Besar


Mungkin sepanjang karier pak beye sebagai orang nomor wahid di negara ini, baru kali ini menutup tahun 2008 dengan kemarahan.


Ini terjadi ketika beberapa hari lalu ratusan penduduk Perumahan di Sidoarjo datang ke Istana untuk meminta bantuan kepada pemerintah pusat untuk meminta PT.Lapindo Brantas membayarkan apa yang menjadi hak mereka, karena sudah dua tahun peristiwa ini terjadi, dan hingga saat ini belum ada kejelasan sama sekali soal ganti rugi.


Penulis tidak perlu lagi menuliskan awal kisah ini, karena mungkin para pembaca sudah tahu kisah ini dari banyak media, yang menjadi pertanyaan sekarang termasuk penulis Kenapa SBY baru saat ini Marah, seharusnya ketika satu tahun peristiwa ini terlewati Marah ?


Selain soal ganti rugi yang tidak jelas, SBY juga marah dan mungkin sedikt geram karena sang bos dari peristiwa ini datang terlambat, padahal menurut staff protokel istana yang memantau mengatakan bahwa sang bos NB telah berada didekat istana sekitar pukul 12.00 karena terjebak massa dari korban Lapindo.
“terima kasih kepada pak sunarno yang telah bekerja keras dan bertangung jawab. masalah ini telah berjalan bertahun-tahun dan mengganggu pikiran saya berhari-hari. masalah aceh saja bisa kita selesaikan! kenapa ini tidak juga!”
Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden RI –

Kalau menurut penulis apa yang menjadi alasan SBY marah adalah sudah jelas, karena rakyat yang menjadi korban tidak pernah mendapatkan apa yang menjadi hak mereka, selain itu penyelesaian yang kesannya tidak profesional dan tidak bertanggung jawab, tapi ada satu kritikan RKM buat Presiden adalah, apa yang dilakukan oleh Lapindo Brantas seperti setengah-setengah dalam hal membayar kewajiban ganti rugi karena tidak tegas dan beraninya SBY terhadap perusahaan ini, bahkan menerbitkan surat keputusan, padahal kita tahu bahwa apa yang dilakukan oleh Lapindo Brantas adalah salah dan murni kecelakaan bahkan ketegori Kriminal kalau boleh mengadopsi pasal di Kepolisian BUKAN faktor alam dan itu dibuktikan lagi dengan adanya pertemuan sedunia ahli geologi.

Sehingga mungkin dengan adanya Surat Keputusan ini, membuat NB selaku bos Lapindo Brantas bisa santai-santai sejenak dan mungkin lebih memikirkan Timnas Indonesia menjelang SuzukiAFF Cup 2008, karena mungkin dipikiran beliau toch negara ini akan membantu sementara dalam hal ganti rugi karena alasan tidak punya dana buat ganti rugi (seharusnya perusahaan yang bekerja berada di lingkungan perumahan dan beresiko tinggi harus bisa mendepositkan keuangannya untuk hal yang tidak diinginkan), sehingga masalah ini berlarut hingga 2 tahun! Coba dari awal pemerintah tegas dalam menyelesaikan ini dengan aturan misal dalam jangka waktu 1 tahun semua korban baik yang terpeta-kan atau tidak akan mendapatkan ganti rugi (misalnya!) 300 sampai 1,000 kali lipat dari ketentuan ganti rugi yang berlaku di negara ini, kalau tidak sanggup sampai jangka waktu yang ditentukan maka pemerintah atas nama korban secara otomatis melaporkan ke pihak Mabes Polri, tetapi kenyataannya ?

Memang dengan marahnya Pak Beye membuat point atau citra positifnya naik paling tidak sudah ada modal awal untuk masuk Pemilu2009 mendatang, tetapi bagaimanapun pemerintah juga mempunyai andil dalam kasus ini, karena ya itu tadi adanya Keppres, kalau tidak ada Keppres mungkin rakyat Sidoarjo yang menjadi korban baik yang lahannya ter-peta atau tidak ter-peta tidak akan merasakan pahitnya seperti ini.

Menjadi pertanyaan adalah buat NB, adakah anda pernah datang, melihat, mendengarkan dari hati ke hati keluh kesah mereka dimana setiap hari mereka memikirkan bagaimana mereka hidup, anak mereka putus sekolah, bahkan untuk (maaf!?) perang kelamin antar suami-istri saja tidak lagi mereka lakukan karena sudah letih dan capai memikirkan nasib hidup mereka, apakah NB mau bertanggung jawab secara nurani dan moril mengembalikan psikologi mereka ke semula, karena setahu penulis sudah ada beberapa warga yang menjadi korban ini menjadi GILA !!!

Dan juga apakah NB mau bertanggung jawab secara nurani dan moril kalau ternyata di Sidoarjo banyak anak-anak usia sekolah dan produksi menjadi “Kupu-Kupu Malam” ataua bahasa anak sekarang adalah Lady Escort ++ karena tidak mampu bersekolah dan juga ingin meringankan beban orangtua, apakah anda NB mau bertanggung jawab secara moril ? coba Bapak NB bayangkan kalau dua hal ini terjadi pada anda, istri dan anak-cucu, menantu anda, sakit bukan !? itulah yang dirasakan oleh ribuan bahkan ratusan ribu korban kebringasan pekerja anda di Sidoarjo yang hanya mementingkan bagaimana minyak ini dijual ke luar negeri dan mendapatkan ratusan lembar kertas yang bergambar Mantan Presiden AS, George Washington, tentunya ini bukan warisan atau pepatah bijak yang disampaikan ayahanda anda bukan ketika berdiskusi tentang makna hidup antara kaya dan miskin ?

Benarkah kemarahan SBY mampu mengobati nasib dari ribuan korban Lapindo baik yang terpeta-kan atau tidak terpeta-kan, atau sama seperti yang lalu-lalu, marah sebentar tetapi dua minggu hingga satu bulan ke depan kemarahan dan bukti itu tidak ada yang ada hanya kegaulan kembali dari korban..dan itulah sikap yang selalu diberikan pejabat kepada rakyatnya dalam meraih empati dan simpati demi tingkat kepopularitas positif yang sesaat dan rakyat selalu menjadi korban!

Merdeka Selatan, 031208
RKM-21 / RKM- 29 / RKM-32 / Rvanca

Senin, 17 November 2008

Soeharto di Jadikan Pahlawan Nasional ? Amit-amit jangan sampai !



"Terimakasih Guru Bangsa!
Terimakasih Pahlawan!
Kami akan melanjutkan
langkah bersama (edit) untuk Indonesia sejahtera !"

Maaf sebelumnya kalau ada kata-kata yang penulis edit untuk menghindari suata hal tetapi tidak mengubah pesan dari tulisan iu. Cuplikan diatas mungkin sudah familiar dengan mata dan telinga kita, ya.itu adalah tagline dari iklan suatu partai berbasis agama dalam rangka menyambut hari pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November setiap tahunnya.

Sebenarnya tidak ada masalah dengan iklan itu karena berkaitan dengan perayaan hari Pahlawan yang masalah adalah adanya cuplikan gambar dari Presiden Soeharto ditambah dengan kata-kata diatas inilah yang membuat sebagian masyarakat gerah dengan iklan itu.

Memang bukan hanya Soeharto saja yang ditampilkan dalam iklan itu setidaknya ada beberapa tokoh nasional seperti Ir. Soekarno, lalu Soeharto, kemudian KH. Achmad Dahlan, Hasyim Asy'ari, M Natsir, M Hatta, Jenderal Sudirman dan Bung Tomo.



"Iklan ini hanya akan menimbulkan blunder, malah bisa melakukan penyesatan
kepada pemuda,"


Budiman Sudjatmiko, mantan aktivis PRD -




Munculnya Soeharto diantara tokoh-tokoh itu sempat memicu kontroversial dimana, semua tokoh-tokoh yang ditampilkan sebagai”model” dari iklan partai itu adalah sudah berpredikat atau gelar Pahlawan Nasional sedang sang penguasa Jl. Cendana belum mendapatkan titel apapun. Isu ini sempat membuat heboh negara karena setahun lalu sempat memunculkan nama beliau untuk mendapatkan “label” pahlawan nasional.

Pantaskah Soeharto menyandang gelar Pahlawan Nasional ? kalau menurut penulis, apa yang dibuat oleh partai dan partai yang dibuat ketika beliau masih menjabat ini untuk menghormati pahlawan nasional dengan menampilkan sang penguasa Jl. Cendana adalah SALAH BESAR ! kenapa ? pertama, okelah menurut partai ini Soeharto membawa perubahan terhadap negeri ini, tetapi apakah itu sudah dasar untuk dijadikan “model” padahal kita tahu bagaimana perbuatan beliau ketika berkuasa !




"Soeharto memang pembangun paling besar di Indonesia, tapi dia juga perusak
terbesar seperti meninggalkan utang US$ 150 juta. Itu kan membebani kita dan
tidak akan lunas selama 7 turunan,"


- Asvi Warman Adam -




Memang penulis akui dengan dipimpin oleh sang penguasa Jl. Cendana, kondisi negara ini stabil tidak seperti sekarang, tetapi itu hanya semu saja bukan ketika beliau lengser barulah semua terbongkar ibarat pertunjukan kesenian topeng dipanggung para penari lenggak-lenggok menggunakan topeng supaya tidak dikenali dan penasaran oleh para penonton begitu turun barulah ketahuan rupa dari penari itu, itulah yang terjadi dengan pemerintahan dibawah dinasti cendana, penuh dengan kebohongan dan kemunafikan.

Kita bisa lihat bagaimana atau berapa banyak orang yang harus mati sia-sia karena tidak mau menuruti apa yang diinginkan beliau melalui tindakan seperti intimidasi yang dilakukan pihak loreng-loreng atau orang suruhan, kita bisa lihat bagaimana kasus Talangsari, Tanjung Priok, 27 Juli 1996, Senin Cawang Berdarah, Trisakti, Marsinah, Udin, penculikan sejumlah aktivis belum termasuk ketika beliau menjabat strategis militer sampai masuk menjadi RI-1, banyaknya korupsi dengan mengatasnamakan rakyat miskin, atau banyaknya alumni sebuah universitas di AS, yang kalau disini selalu dielu-elukan karena terkenal sementara kita tidak tahu apakah universitas itu disana terkenal juga atau sebaliknya.

Bagaimana bisa dikatakan seorang H.M. Soehato dikatakan dan ingin disahkan menjadi pahlawan nasional kalau selama hidupnya negara dirugikan berpuluh-puluh milyar bahkan trilyun yang sampai sekarang tidak jelas uang itu berada dimana. Ketika didesak selalu mengatakan tidak mempunyai uang sepeser pun, apakah ini disebut pahlawan ?

Penulis tidak sependapat dengan apa yang diucapkan oleh sang Presiden Partai yang membuat iklan ini bahwa Soekarno dan Soeharto selama hidupnya punya kesalahan dalam membawa negara ini, menurut penulis justru Soeharto lah yang merusak negara ini dengan meninggalkan utang yang harus dibayar anak-cucu-cucu kita selama 7 turunan dengan nominal US$ 150 juta (silakan konversikan sendiri ke Rupiah dan dibagi tiap satu anak yang baru lahir harus menanggung berapa juta hingga hayatnya! Itu baru kerugian yang dilakukan oleh seorang bapak bagaimana dengan anak-anaknya) dengan alasan Indonesia harus menjadi negara besar dan berkembang jadi harus meminta bantuan luar negeri, mengajak investor asing tapi hasil untuk rakyat kecil ada? Lebih baik Soekarno dengan pedomannya Berdikari- BERDIri pada KAki sendiRI terbukti semua negara segan dan sedikit takut dengan Indonesia, kalau boleh mencontohkan negara didunia saat ini yang modelnya seperti pedoman Soekarno adalah negara yang dipimpin oleh Hugo Chavez dan Evo Morales yang mampu membuat perusahaan minyak asing berlutut dan mencium kaki rakyat dari dua negara ini biar bisa beroperasi, sementara Indonesia era Soeharto justru kita seperti pengemis ke negara luar, bukan negara luar yang mengemis ke negara kita.

Jadi menurut penulis kiranya semua insan sebelum melakukan suatu kegiatan kiranya mengadakan riset dengan cara turun ke masyarakat untuk mengetahui apa yang mereka inginkan bukannya seperti sekarang, kalau sampai terjadi perpecahan bahkan menjadi konflik karena perbuatan dari satu partai ini, apakah partai ini mau bertanggung jawab kepada rakyat dan terutama konstituennya ?


Cendana, 121108

Rvanca/ RKM-01/ RKM-35





*) gambar dikutip dari Google