Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 November 2010

Terima Kasih Obama…


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagaian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf

Tulisan ini masih berkaitan dengan kunjungan Presiden Obama beserta Isteri ke Jakarta setelah dari India, kita tahu bagaimana kedatangan Presiden ini membuat sebagian jalan di Jakarta mengalami kelumpuhan karena adanya sistem buka-tutup jalan sekitar Thamrin-Sudirman, Kalibata hingga Depok yang katanya Kepolisian dari Direktorat Lalu Lintas Mabes Polri mengatakan buka-tutup jalan sekitar 5-7 menit tetapi nyatanya penulis melihat setidaknya hampir tiga puluh menit..

Penulis tidak akan mempermasalahkan soal jalur buka-tutupnya jalan yang di lalui oleh Obama tetapi ada yang ingin penulis tulis soal Obama yang membuat penulis sedikit kaget, dan angkat topi serta dua jempol buat beliau kenapa ?

Kita bisa lihat bagaimana Obama berpidato tentang Indonesia dan Amerika tentunya yang menurut beberapa orang termasuk penulis belum tentu bisa menjelaskan tentang paham daripada sebuah negara seperti Indonesia kepada warga asing tetapi beliau menurut penulis bisa menjelaskan apa itu Indonesia baik politik maupun ideologinya walaupun jadinya seperti menggurui dan sok tahu..

Seperti pada pidato beliau di Balirung, komplek Universitas Indonesia-Depok, pada awal pidato beliau mengucapkan Assalamualaikum dan salam sejahtera yang selalu menjadi bahasa wajib bagi semua pejabat Indonesia ketika berpidato pada sebuah kegiatan, dari kalimat itu saja Presiden Obama ingin merasakan sebagai orang Indonesia dengan bahasa Indonesia yang dilontarkan pun tidak seperti orang asing yang sedang berbicara bahasa Indonesia dengan terbata-bata tetapi Obama sangat lancer sekali.

Tetapi dari itu semua penulis mengangkat jempol dan topi kepada beliau karena beliau telah mengingatkan kita semua yang merasa warga negara Indonesia tentang Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, kenapa penulis harus mengangkat jempol dan topi kepada Presiden Obama karena kita bisa lihat bagaimana seorang warga negara Amerika Serikat yang juga Presiden Amerika Serikat ini menjabarkan arti dari Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan juga arti dari Istiqlal yang kita sendiri sebegai warga Indonesia pun belum tentu bisa selancar tuan Presiden Obama..

Soal Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika penulis ingin bertanya kepada para pembaca apakah kita sudah mengamalkan dan menjalankan dengan nyata apa itu Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan kita sehari-hari ? pasti banyak yang berpikir dahulu baru menjawabnya benar tidak ?

Tidak usah bohong, banyak dari kita yang sampai saat ini belum bisa menjalankan apa isi dari Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, salah satunya adalah kasus penolakan terhadap aktivitas kaum nasrani di Ciketing-Bekasi oleh sekelompok orang yang sok suci (bagi penulis) padahal arti dari Bhinneka Tunggal Ika sendiri adalah Berbeda-beda tetap satu dan dalam Pancasila pun pada sila Pertama adalah, Ketuhanan Yang Maha Esa jadi kasus Ciketing tersebut apanya yang salah kalau muara dari peribadatan itu untuk satu orang yaitu TUHAN, benar tidak ?!

Yang menjadi pertanyaan saat ini adalah apakah para pejabat ini dalam hal ini mulai dari eksekutif hingga legislative menjalankan apa yang di tulis dan di ucapkan oleh Obama dalam hal ini Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika? Pasti beragam jawabannya tetapi intinya tetap kita malu dan harus intropeksi dalam nurani kita masing-masing benar tidak ?!

Sebenarnya paham negara kita dengan Amerika itu tidak jauh berbeda seperti yang diucapkan oleh Obama dan benar yaitu kalau Indonesia punya semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti Berbeda-beda tetapi satu sedangkan Amerika punya semboyan E pluribus unum yang artinya adalah Dari Banyak Menjadi Satu, bukan kah itu juga mengandung dari banyak pemikiran menjadi satu yaitu demi Amerika sama seperti dengan Indonesia benar tidak ?!

Sudah waktunya kita sebagai dan yang mengaku warga negara Indonesia agar kehidupan bangsa ini sesuai dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika jangan Cuma ucapan saja ketika kita jaman kakek tua Cendana kita bisa hapal dan pengamalkan secara nyata tetapi sekarang sudah luntur, apa mesti kita di cambuk lagi dengan ucapan seorang Obama-Obama lainnya ketika berkunjung ke Indonesia dan lebih tahu daripada kita dan baru kita sadar ?

Tuan Obama…terima kasih atas pidato terbuka yang anda sampaikan karena pidato anda ini penulis merasa malu karena anda yang hanya 4,5 tahun hidup di Indonesia tahu dan paham apa itu Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika daripada penulis dan mungkin rakyat Indonesia yang sudah beberapa generasi dan terima kasih telah diingatkan kembali soal pentingnya Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika karena selama ini para pemimpin di negara ini bekerja tidak di landasi dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika tetapi lebih bekerja dengan di landasai ideologi partai-partai, golongan dan perut mereka sendiri…sekali lagi terima kasih Obama…

Depok, 101110 10:00
Rhesza
Pendapat Pribadi

Minggu, 21 Maret 2010

Contolah Sikap Kenegaraan Obama Para Pejabat Indonesia !!!!

Untuk kedua kalinya pejabat Gedung Putih Amerika Serikat memberitahukan kepada wartawan tentang tertundanya kunjungan negara Presiden Amerika Serikat Barrack Obama ke kawasan Asia Pasific salahsatunya adalah Indonesia.

Presiden Obama dijadwalkan akan berkunjung ke kawasan Asia Pasific mulai tanggal 18 sampai 24 Maret kemudian tertunda dengan adanya masalah domestik di Amerika yang meminta agar Presiden Amerika Serikat agar tetap tinggal di Ibu Kota Negara Washington DC, akhirnya dirubah jadwalnya menjadi tanggal 21 hingga 26 Maret dan kemudian pada pukul 01.00 dinihari waktu Indonesia Barat Gedung Putih mengeluarkan peryataan pers yang mengatakan bahwa Presiden Amerika Serikat untuk kedua kalinya membatalkan kunjungan kenegaraan ke Indonesia dan Australia, dan penundaan ini sudah diberitahukan kepada Presiden Indonesia dan Perdana Menteri Australia

Memang disatu sisi penulis sebagai bagian dari rakyat Indonesia merasa kecewa dengan tertundanya dua kali kedatangan Obama ke Indonesia tetapi disisi lain masalah domestik terutama politik harus didahulukan karena bagaimanapun Presiden Amerika ini dipilih oleh rakyat paling tidak sang Presiden harus memperhatikan rakyatnya.

Apa yang dilakukan oleh Presiden Obama seharusnya menjadi catatan yang berharga bagi kita rakyat Indonesia khususnya orang-orang yang mengaku pejabat negara, kenapa penulis bilang seperti itu ? kita bisa lihat alasan Obama menunda kunjungannya ke Indonesia dan Australia dikarena adanya masalah domestik yaitu masalah RUU Kesehatan dimana dalam ada beberapa pasal yang menuai pro dan kontra soal jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin berupa asuransi kesehatan yang disediakan pemerintah, karena jika pemerintah jika menjaminkan maka masyarakat kurang mampu akan membayar dua kali lipat biaya pengobatan dirumah sakit, sementara saat ini Amerika Serikat sedang dilanda krisis ekonomi.

Karena hal inilah yang membuat Presiden Obama diminta tetapi tinggal di Washington hingga RUU ini disahkan oleh parlement, coba bandingkan dengan para pejabat dinegara ini apakah ada diantara mereka yang bertahan ketika suatu masalah yang menyangkut soal rakyat ? kita bisa lihat pada kasus Century sebenarnya bisa diredam seandainya Presiden tahu masalah ini dan tetapi di Jakarta masalah ini tidak akan seperti sekarang ini benar bukan?

Kita juga sering membaca dan menyaksikan berita tentang adanya demo masyarakat daerah dengan permasalahannya ke kantor kepala pemerintahan setempat entah itu Walikota, Bupati, Camat, atau Gubernur sekalipun ketika diminta para pejabat ini keluar untuk menemui demonstran para staff kadang-kadang selalu mengatakan bahwa pejabat yang di minta sedang berkunjung ke Jakarta atau tidak ada di tempat, kalau memang para pejabat daerah ini ke Jakarta karena ada panggilan misalnya oleh Menteri Dalam Negeri atau bahkan Presiden tidak ada masalah tetapi kalau ke Jakarta hanya sekedar bertemu dengan pejabat yang ternyata hanya kamuflase itu sangat disayangkan tetapi banyak pejabat daerah melakukan seperti ini.

Penulis pernah diceritakan oleh beberapa kolega yang kebetulan merantau ke Jakarta karena pendidikan mengatakan, bahwa kolega ini secara tidak diduga bertemu dengan salah satu pejabat tinggi kampungnya ( tidak perlu dijelaskan detail karena sangat-sangat menjijikan) yang mana kebetulan kampungnya ini sedang ada masalah, begitu tahu kolega penulis ini adalah warganya sang pejabat ini lantas mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya untuk yach semacam suap sambil berkata kalau butuh sesuatu hubungi sang pejabat ini, tetapi oleh kolega penulis ditolak dengan tegas sambil memaki sang pejabat ini !

Sudah seharusnya para pejabat di negara ini mengambil contoh sikap yang dilakukan oleh Presiden Obama, bukankah para pejabat ini dipilih dan diamanatkan oleh rakyat untuk memimpin daerahnya atau negara sudah seharusnya para pejabat ini mengabdi dan memenuhi apa yang diinginkan rakyatnya sehingga tidak ada lagi misalnya rakyat yang miskin, rakyat yang tinggal di bawah-bawah kolong jembatan seperti yang dapat dilihat di sekitar dekat kantor Polisi Militer Guntur, anak kecil yang busung lapar, gizi buruk atau harus terlambat ke sekolah karena harus membantu ibunya yang lumpuh seperti yang dilakukan oleh Gadis Sinar…

Obama…kami tunggu kedatanganmu kawan…


Veteran, 180310 15:00

Rhesza Lorca

Selasa, 05 Januari 2010

Selamat Jalan Sang Penjaga Pluralisme Indonesia…


2 hari menjelang tutup buku di tahun 2009 Indonesia diguncang berita duka bak petir disiang bolong dimana seorang tokoh bangsa atau guru bangsa yang selalu dekat dengan rakyat terutama rakyat minoritas dan termarjinalkan meninggal dunia…

Ya dialah KH. Abdulrahman Wahid atau biasa di kenal dengan sebutan Gus Dur, Gus Dur meninggalkan rakyat Indonesia pada tanggal 30 Desember 2009 pukul 18.45 di Rumah Sakit Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, Gus Dur Meninggal karena ganguan Diabetes dan darah tinggi.

Kenapa penulis bilang kematian Gus Dur ibarat bak petir disiang bolong, karena Gus Dur oleh kaum minoritas, termarjinalkan atau korban diskriminas Suku Agama Ras dan Antar golongan (SARA) dianggap sebagai pahlawan mereka, berkat Gus Dur lah para kaum minoritas dan termarjinalkan bisa hidup sejajar dengan yang lain tidak seperti jaman dahulu yang ibarat langit dan bumi.

Gus Dur, siapa yang tidak kenal beliau sosok yang boleh dibilang lain daripada yang lain dimana gaya bicaranya yang ceplas-ceplos atau kalau boleh ngutip bahasa gaul anak sekarang adalah gaya bicaranya seperti ga ada filternya, pemikiran dan pengetahuannya pun luas, pertemanannya pun cukup luas semua golongan bisa dia terima..

Memang keberadaan sosok Gus Dur ini dimata sejumlah orang agak aneh dan tidak masuk akal tetapi itulah Gus Dur, dimana ketika ia menjadi orang nomor satu di Indonesia ini ada saja kebijakan-kebijakan yang ia buat tetapi berkat kebijakan ia ini beberapa kaum merasa di hormati misalnya, ketika jaman Dinasti Cendana pasca peristiwa Gerakan 30 September 65 mengeluarkan semacam ketetapan dimana semua acara keagamaan yang dianut oleh etnis Tionghoa tidak boleh dirayakan secara terbuka seperti Imlek dan Cap Goh Meh, tetapi oleh Gus Dur ketika dipilih menjadi Presiden Republik Indonesia keempat pelarangan kegiatan keagamaan itu dicabut dan acara keagamaan dan agama itu sendiri ditetapkan sebagai hari libur nasional dan agama resmi di Indonesia.

Dalam hal penyusunan kabinet, Gus Dur secara tidak diduga-duga oleh masyarakat memBUBARkan Kementerian Penerangan Republik Indonesia dan Kementerian Sosial Republik Indonesia alasannya kalau Kementerian Penerangan di bubarkan supaya ada kebebasana dan media tidak bisa di intervensi lagi oleh negara yang selama ini kita tahu dimana media sebagai congornya Pemerintah, sedangkan alasan pembubaran Kementerian Sosial adalah menurut beliau kementerian ini adalah kalau tidak salah gudangnya korupsi.

Itu baru urusan dalam negeri, ada yang lebih heboh semasa Gus Dur menjabat sebagai Presiden dimana beliau berencana membuka perwakilan Indonesia setingkat kamar Dagang di Tel-Aviv begitu sebaliknya, akibat rencana beliau ini banyak kalangan muslim melakukan protes keras dengan turun ke jalan beberapa hari menentang kebijakan Gus Dur karena kalau itu terjadi maka Indonesia mendukung aksi-aksi Israel terhadap warga Palestina.

Dalam hal kemiliteran Gus Dur pun mempunyai peranan dimana di masa beliau bertugas berhasil menCERAIkan TNI-POLRI yang selama dinasti Cendana bersatu dengan nama Angkatan Bersenjata Republik Indonesia-ABRI, dan juga untuk pertama kalinya sejak Indonesia merdeka, Gus Dur mengangkat seorang perwira tinggi Angkatan Laut, Laksamada Laut Widodo Adi Sucipto sebagai Panglima Tentara Nasional Indonesia, ketika ditanya alasan dipilihnya Widodo AS sebagai Panglima TNI karena didasarkan pada letak geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dimana Angkatan Laut harus berperan lebih dalam menjaga pertahanan seperti halnya negara Jepang.

Terlepas dari itu semua tetapi dimata kaum marjinal Gus Dur adalah orangtua bagi mereka karena mereka merasa negara tidak pernah memperhatikan mereka atau memandang sebelah mata. Seperti kasus goyangan Inul yang ditentang kalangan musisi melayu dan kaum agawan yang menganggapnya pornoaksi, atau kasus pengrusakan gereja dan tempat ibadah kaum Ahmadiyah oleh sekelompok orang tidak jelas, Gus Dur langsung mendatangi ke tempat kejadian dan juga ke Kantor PGI untuk memberi dukungan dan semangat..kalau penulis boleh mengandaikan Gus Dur dan rakyat Indonesia dengan benda yaitu Kereta dimana Gus Dur ini adalah kapala atau (maaf) moncong kereta super cepat Eropa-TGV yang kecepatannnya diatas 100km/jam sedangkan kita rakyat Indonesia adalah gerbong kereta Jabodetabek atau KRL Jabodetabek yang usang, pasti anda bingung dengan pengandaian penulis atau merasa tersinggung tetapi itulah kenyataannya !

Kenapa Gus Dur penulis ibaratkan (moncong) kereta super cepat Eropa TGV ? karena didasarkan pemikiran-pemikirannya soal humanisme atau kemajemukan masyarakat atau apapun yang sudah jauh lebih maju ke depan dan pemikiran itu yang dicoba diterapkan di negara kita tetapi masalahnya kita ini sebagai rakyat Indonesia belum bisa menerima konsep yang diciptakan oleh Gus Dur ya kita ini seperti gerbong KRL Jabodetabek sudah penuh masih saja dijejali dan juga tidak pernah diganti dan dibiarkan rusak begitu saja betul tidak ?

Tapi itulah Gus Dur, kita selama ini selalu memandang pikiran beliau bagai punuk merindukan bulan atau sebelah mata, tetapi kenyataannya HANYA dialah yang BISA menggoyangkan mafia dan dinasti Cendana, sedangkan pemerintah kita saat ini mana, Anggodo dan Anggoro masih bisa menikmati udara bebas padahal dosa mereka terhadap rakyat ini besar, benar tidak ?!

Gus..ilmu dan pandangan mu akan kami kenang demi maju dan pluralismenya negara ini walaupun ketika engkau hidup pemikiran-pemikiran mu kami anggap sebelah mata dan angin lalu..semoga engkau nyaman di duniamu yang baru..

311209 14:30
Rhesza Ivan Lorca
Pendapat Pribadi

Jumat, 09 Januari 2009

Susah sekali Cak menemukan yang merencanakan dan yang membunuhmu…


Halo Cak Munir apa kabar disana ? Tidak terasa Cak tahun 2008 sudah berganti tahun 2009, tidak terasa juga kematianmu telah lima tahun meninggalkan kita untuk selamanya akibat racun yang masuk ke dalam tubuhmu ketika sedang berada di atas udara negara Hongraria ketika akan kembali ke Belanda untuk sekolah setelah liburan dan kangen dengan anak-istri di Jakarta.

Tidak terasa juga Cak… proses hukum dari kematianmu mengambang di tengah jalan dengan vonis hakim yang membingungkan rakyat terutama kolega anda yang pernah menjadi korban kebringasan institusi loreng hijau dan cokelat ketika mereka bersatu yang selalu anda bela setiap anda melakukan pembicaraan.

Mungkin ada tahu cak tentang sosok yang dianggap kawan-kawan anda sebagai eksekutor daripada racun yang melekat ditubuh anda yaitu Pollycarpus Budihari Priyanto pernah kenal cak? Katanya dia kenal baik dengan anda, bahkan ketika anda berada di pesawat, beliau ini yang memberikan kursinya di kelas bisnis untuk anda, tapi ketika dipersidangan, kolega anda ini cak dinyatakan oleh ketua majelis hakim divonis berapa tahun dengan dipotong masa tahanan, hilang sudah harapan rakyat Indonesia terutama kolega korban HAM anda untuk membuat anda tenang di dunia sana, yang uniknya ketika berlangsung penyidikan sampai ke tahap sidang, istri dari sang kolega anda ini yang menjadi pesakitan, terus-terusan tatattoet kesana kemari dengan mengatakan bahwa suaminya tidak bersalah, dan akan menulis surat ke Paus Benedictus XVI sesuai dengan keyakinan bahwa proses hukum di Indonesia melanggar HAM, dan apa hasilnya tidak ada itu laporan bahwa istrinya telah mengirim surat ke Paus atau Pihak Keduatan Tahta Suci Vatikan untuk Indonesia memberikan press release bahwa Paus sudah menerima, membaca dan memberikan jawaban atas surat yang apa diucapkan oleh sang istri tersebut. Padahal intinya kan mudah ya cak..tinggal bilang saja kalau memang dia tidak bersalah siapa yang menyuruh, betul tidak cak ?

Setelah vonis itu cak..hampir tidak ada yang mempedulikan kematian anda cak, barulah awal atau pertengahan tahun 2008 mulai lagi terbuka siapa-siapa yang terindikasi dibelakang terracunnya anda cak, sejumlah pihak mulai dipesankan kamar mereka di hotel prodeo, mulai dari pejabat teras perusahaan penerbangan tempat anda menumpang pergi dari Jakarta ke Amsterdam hingga pejabat lembaga sandi negara, akhirnya terungkap satu nama yaitu Muchdi Pr dimana ketika itu menjabat Deputy V lembaga sandi negara alias Badan Intelijen Negara, mau tahu cak selama proses penyidikan hingga persidangan, sang deputy ini mendapatkan kamar yang wah di hotel prodeo Markas Komando Brigade Mobil –Mako Brimob kelapa dua, seharusnya kan Cak yang namanya kalau berada dihotel tidak perlu di jaga, kalau tokoh ini Cak dijaga sepertinya layaknya Barrack Obama Presiden AS yang terpilih dengan Secret Service, disetiap jengkal beliau jalan selalu ada pengawalnya bahkan Polisi yang menjaga sidangnya seperti makan gaji buta atau mungkin lebih dibilang (maaf!) kacung dari para pengawal ini, akhirnya apa yang sudah diduga ternyata benar Cak..nasib dari pesakitan ini tidak jauh berbeda dengan pesakitan yang diawal tetapi lebih enak yang ini, entah apa karena majelis hakimnya takut karena yang didepannya adalah aparat sandi negara yang kalau di jaman dinasti cendana lembaga ini sangat ditakuti bahkan mungkin lebih sadis daripada Alcapone atau mafia Sisilia-Italia, ketukan palu bebas lah yang diberikan oleh Ketua Majelis Hakim dimana ketukan palu itu dilakukan pada tanggal 31 Desember 2008 hari terakhir di tahun 2008 dan hitungan jam menuju tahun 2009.

Bahkan Cak istri anda dan kolega anda di Kontras akan diseret oleh Mabes karena mencemarkan nama baik dan berita bohong akibat memasukkan aparat sandi negara ini ke Hotel Prodeo..bagaimana ini Cak semakin tidak jelas nasibmu di negara ini, tetapi banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh orang-orang yang tidak suka dengan kegiatan anda bahwa anda dibunuh, diracun karena anda adalah pengkhiat bangsa, membeberkan data kekerasan korps loreng hijau dan Tribrata kepada pihak asing, supaya negara asing menekan Indonesia sudah lebih menghormati HAM terutama sipil, benarkah anda pengkhiat bangsa Cak ?

Tapi Cak tolonglah berikan kami tanda, siapa sebenarnya yang merencakan dan mengeksekutor anda Cak, jangan buat kami merasa terganggu karena selama ini kami aman dari berbagai intimidasi yang dilontarkan oleh orang-orang yang berseragam atau yang mengaku-ngaku militer, tetapi setelah engkau tidak ada cak.semua berubah tidak ada berani lagi vokal seperti anda, tolonglah Cak beritahu kepada kami siapa orang biar kami yang menyeretnya atau mungkin Cak sendiri yang menghampiri orang-orang yang telah merencanakan sehingga orang-orang inilah dengan sendirinya mengakui perbuatannya begitu Cak..tapi sampai kapan ?

Jaka Permai, 080109 23:10


Rhesa Ivan

Kamis, 18 Desember 2008

Budi Sudarsono, sang Voridjer Timnas


Apalah jadinya kalau Timnas Indonesia tidak ada sosok sekaliber Budi Sudarsono dalam hal urusan gol mungkin akan beda ceritanya. Pernahkah anda sebagai penikmat sepakbola nasional khususnya Timnas melihat tentang sosok pemain yang dijuluki Phyton ini karena liukannya dalam hal mengontrol bola dan ketika berada di kotak penalti.

Penulis juga heran, tetapi ada satu hal yang membuat mantan pemain Persik Kediri ini memiliki ciri khas yaitu tanpa dia Timnas kita tidak akan berjalan mulus ke depan, maksudnya adalah ? ciri khasnya karena dialah sang pembuka jalan bagi timnas lewat gol-golnya.


“Budi dalam kondisi tidak terlalu baik, Ia punya persoalan internal karena belum memiliki pelabuhan (baca: klub). Ia sedikit terpengaruh permasalahan itu” Beny Dollo-Pelatih Timnas

Kenapa penulis bilang Budi Sudarsono adalah sebagai pembuka, coba kita lihat catatan yang sempat penulis rangkum, aksi Budi sebagai gol pembuka Indonesia selama di Timnas dan Timnas ketika bertanding di kejuaraan dunia dimulai pada Piala Asia 2004 yang bertempat di China, ketika itu Indonesia berhadapan dengan Qatar dan Indonesia menang 2-1, kemudian dilanjutkan pada Piala Asia 2007 di Gelora Bung Karno- Jakarta ketika Indonesia berhadapan dengan Bahrain dan lagi-lagi Budi membuka gol pembuka dan menang 2-1 (kalau tidak salah satu gol disumbangkan oleh Bambang Pamungkas hasil rebound dari Firman Utina), dan terakhir di Piala Suzuki AFF Cup 2008 dimana ia membuka gol pembuka ketika laga Indonesia melawan tim Myanmar yang secara rekor dalam dua minggu kalah telak ketika di Myanmar dalam turnament Grand Royal Cup kali ini mereka bungkam dengan skor 3-0 dengan tambahan dari Firman Utina dan Bambang Pamungkas.



“Saya hanya bisa katakan padanya, jika main bagus di timnas, klub-klub bakal datang dengan sendirinya.” Beny “Bendol” Dolo- Pelatih Timnas

Sudah layaknya kita mengangkat topi dan mengacungkan dua jempol (bahkan lebih!) kepada sosok pemain kelahiran Kediri, 19 September 1979 walaupun sebelum program TC Timnas untuk mempersiapkan ke ajang ini Budi sempat kena larangan bermain dan denda Rp. 50 Juta akibat melakukan pemukulan kepada Bek PSMS Medan, Erwinsyah Hasibuan, ketika Persik menang 2-1 atas PSMS di Stadion Brawijaya-Kediri, tetapi setelah melewati banding dan sebagainya akhirnya vonis larangan bermain diperingan menjadi percobaan selama satu tahun, tetapi vonis ini tidak terkait dengan aktivitas Timnas Indonesia walaupun sudah menjadi etika bagi Badan Tim Nasional-BTN, kasus Budi ini mengingatkan penulis dengan Isnan Ali dan Hariono yang ketika itu dicoret dari Timnas.

Bahkan pemain yang pernah merumput disalah satu klub Malaysia ketika musim kompetisi Ligina libur, PDRM Malaysia mencetak hattrick atau tiga gol dalam satu pertandingan ketika melawan tim lemah Kamboja, ada yang membuat penulis sedih dan miris melihat sosok ini dalam selebrati golnya, Budi berlari ke arah bangku cadangan dengan menaruh kedua tangannya ke kepala sambil berputar dan satu lagi kedua jari telunjuknya mengarah ke arah bawah matanya, dua gaya selebrasi golnya ini menandakan bahwa pemain ini sedang mengalami kesulitan.

Dan benar sekali, sebelum masuk Timnas untuk TC Budi memutuskan kontraknya dengan Klub Persik Kediri, dia memutuskan kontrak karena nasib keuangan klub yang tidak menentu akibat diHARAMkannya Anggaran Belanja Pendapatan Daerah-APBD untuk digunakan keperluan klub sepakbola dan lagi ditambah krisis keuangan global, sementara pemasukan dari klub hanya berdasarkan pemasukan tiket pertandingan yang kadang-kadang tekor karena sering banyaknya yang penonton gelap.

Tapi itulah Budi, tanpa sosok Budi mana mungkin Timnas kita berjaya dan berhasrat ingin menang apalagi menang besar, betul tidak ?

Tingkatkan Prestasi mu Budi, Kami yakin pasti ada jalan keluar dari keluh kesahmu..yang penting sekarang adalah bawalah Timnas ini menjadi juara dan disegani kembali dikalangan sepakbola dunia terutama tingkat ASEAN dan ASIA lewat gol pembukamu..

Itulah Budi Sudarsono..sang Voridjer Timnas

Budi Sudarsono Fact

Nama
Budi Sudarsono

Tempat Tanggal Lahir
Kediri, 19 September 1979

No Punggung
13
Caps/Penampilan di Timnas
31 / 14 gol

Karier Klub
2008 – Persik Kediri
2007 – PDRM Malaysia
2006-2007 Persik Kediri
2004-2005 Persija Jakarta
2003-2004 Deltras Sidoarjo
2001-2003 Persija Jakarta
1999-2000 Persebaya Surabaya
1997-1999 Persebaya Surabaya Junior
1994-1996 SSB Fatahilah Surabaya
1992-1993 SSB Fatahilah Jakarta
1987-1991 SSB PETA Kediri

GBK Stadium, 121208 19:41

Rh. Lorca
Visitor Editor of RKM

Senin, 17 November 2008

Bung Tomo diberi Gelar Pahlawan, lalu Tan Malaka Kapan ?








Kita toendjoekkan bahwa kita adalah benar-benar orang jang ingin merdeka…lebih baik kita hantjoer leboer daripada tidak merdeka –

Bung Tomo dalam siaran radio
menyongsong serangan sekutu ke Surabaya, 9 November 1945


Bulan November 2008 ini warga Surabaya boleh berbangga karena tokoh pergerakan serangan pemuda Indonesia kepada kaum penjajahan pada tanggal 10 November 2008 yang dikemudian kita kenal sebagai Hari Pahlawan yaitu Bung Tomo mendapatkan predikat Gelar Pahlawan Nasional berdasarkan keputusan yang tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 041/TK/Tahun 2008 tertanggal 6 November 2008 didasarkan pada hasil sidang Badan Pembina Pahlawan Pusat Tahun 2008 dan sidang DewanTanda-tanda Kehormatan RI.

Selain bung Tomo, pemerintah juga menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Natsir, mantan Perdana Menteri RI (1950-1951) pertama dan Abdul Halim, mantan Ketua Umum Persatuan Umat Islam.

Khusus untuk bung Tomo menurut penulis apa yang diberikan oleh Pemerintah Republik Indonesia dengan menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional adalah
TERLAMBAT!!
Siapa yang tidak tahu dan kenal yang namanya Bung Tomo, hampir semua buku-buku cetak pelajaran sejarah dan Pendidikan Moral Pancasila (sekarang Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) selalu memuat photo dengan posisi tangan kanan dan jari telunjuk mengarah ke depan dengan latar belakang labirin dan juga termuat pesan moral kebangsaan bung Tomo untuk membangkitkan semangat pejuang, dan tanggal 10 November setiap tahun kita selalu upacara bendera untuk mengenang jasa-jasa para tentara yang telah berkorban dengan darah mereka agar negara ini bebas dari penjajahan, tetapi KENAPA baru sekarang tahun 2008 di berikan gelar pahlawan itu ?

apakah yang dimakamkan di Taman Makam diseluruh negara ini adalah benar-benar pejuang yang rela berjuang hingga titik darah yang ada didalam tubuhnya habis untuk negara ini atau hanya kebetulan berada di medan perang dan tewas padahal mereka bukan pejuang sekalipun misalnya yang bertugas di dapur umum atau pengantar pesan ?

Penulis agak bingung dengan sistem “penjurian” untuk menetapkan beberapa anak bangsa untuk diberi gelar Pahlawan nasional, karena mungkin pandangan penulis banyak sekali anak bangsa yang benar-benar harus diberikan karena jasa-jasanya dalam memperjuangakan negara ini tidak mendapatkan gelar pahlawan atau terlambat seperti kasus pemberian gelar pahlawan kepada Bung Tomo.

Ada satu hal yang menurut penulis, pemerintah harus memberikan kembali gelar pahlawan nasional yang dahulu sempat tetapi sampai sekarang tidak ada yang memperhatikan bahwa beliau adalah pahlawan, yaitu Tan Malaka, siapa yang tidak kenal dengan tokoh ini.

Tan Malaka, pemuda sumatera yang mampu membuat sejumlah sekutu kalang kabut karena tulisan-tulisan dan pernyatannya yang cukup lantang, beliaulah yang pertama kali membuat konsep negara Indonesia termasuk ideologi dan perangkat negara lainnya, Bukan Soekarno atau para pemuda lainnya walaupun beliau terlambat mengetahui bahwa Indonesia sudah merdeka dari sebuah tempat pengasingan dan koran yang ia baca, dan meninggalnya pun tragis bukan meninggal ditangan tentara sekutu tetapi justru oleh tentara negaranya dalam sebuah penggrebekan, sebelumnya oleh pemerintah Soekarno pernah diberi gelar pahlawan nasional pada tahun 1963, tidak tahu kenapa ketika era Cendana nama beliau hilang dari peredaran termasuk dalam catatan sejarah dibuku-buku sejarah sekolah

Atau mungkin mantan Kapolri Jenderal Hoegoeng yang juga anggota petisi 50, prestasi beliau adalah bersikap jujur dan tanpa kompromi bahkan ketika bertugas di Medan dengan lantangnya mengeluarkan segala perabotan rumahtangga yang telah disediakan oleh tokoh kriminal disana dan ditaruh begitu saja dipinggir jalan depan rumahnya atau memilih mundur karena dalam menangani suatu kasus yang ternyata melibatkan pejabat yang dekat dengan Presiden Soekarno dan adanya intervensi, yang seperti ini harus diberi penghargaan

Penulis setuju dengan film yang menggambarkan tentang makna kemerdekaan dan nasionalisme dimana tokoh ini ketika berkunjung ke Taman Makam mempertanyakan kepada alam dan mungkin Tuhan karena ketika itu tokoh ini mengadahkan kepalanya ke atas, apakah yang dimakamkan di Taman Makam ini adalah benar-benar pejuang yang rela berjuang hingga titik darah yang ada didalam tubuhnya habis untuk negara ini atau hanya kebetulan berada di medan perang dan tewas padahal mereka bukan pejuang sekalipun misalnya yang bertugas di dapur umum atau pengantar pesan ?

Semoga Pemerintah lebih selektif memilih tokoh yang akan dianugerahkan sebagai pahlawan nasional dengan mendengarkan aspirasi dari semua pihak termasuk pengamat sejarah bukan dari badan bentukan yang orang-orangnya bukan memiliki sifat sejarah atau hobi dengan sejarah.

Cikutra, 111108 08:15

RKM-35/RKM-31/RKM-32/Rvanca

Senin, 10 November 2008

Celebrate Speech Obama


Hello, Chicago.


If there is anyone out there who still doubts that America is a place where all things are possible, who still wonders if the dream of our founders is alive in our time, who still questions the power of our democracy, tonight is your answer.


It's the answer told by lines that stretched around schools and churches in numbers this nation has never seen, by people who waited three hours and four hours, many for the first time in their lives, because they believed that this time must be different, that their voices could be that difference.


It's the answer spoken by young and old, rich and poor, Democrat and Republican, black, white, Hispanic, Asian, Native American, gay, straight, disabled and not disabled. Americans who sent a message to the world that we have never been just a collection of individuals or a
collection of red states and blue states.


We are, and always will be, the United States of America. It's the answer that led those who've been told for so long by so many to be cynical and fearful and doubtful about what we can achieve to put their hands on the arc of history and bend it once more toward the hope of a better day.


It's been a long time coming, but tonight, because of what we did on this date in this election at this defining moment change has come to America.


A little bit earlier this evening, I received an extraordinarily gracious call from Sen. McCain.
Sen. McCain fought long and hard in this campaign. And he's fought even longer and harder for the country that he loves. He has endured sacrifices for America that most of us cannot begin to imagine. We are better off for the service rendered by this brave and selfless leader.


I congratulate him; I congratulate Gov. Palin for all that they've achieved. And I look forward to working with them to renew this nation's promise in the months ahead.


I want to thank my partner in this journey, a man who campaigned from his heart, and spoke for the men and women he grew up with on the streets of Scranton and rode with on the train home to Delaware, the vice president-elect of the United States, Joe Biden.


And I would not be standing here tonight without the unyielding support of my best friend for the last 16 years the rock of our family, the love of my life, the nation's next first lady Michelle Obama. Sasha and Malia I love you both more than you can imagine. And you have earned the new puppy that's coming with us to the new White House.


And while she's no longer with us, I know my grandmother' s watching, along with the family that made me who I am. I miss them tonight. I know that my debt to them is beyond measure.
To my sister Maya, my sister Alma, all my other brothers and sisters, thank you so much for all the support that you've given me. I am grateful to them.


And to my campaign manager, David Plouffe, the unsung hero of this campaign, who built the best -- the best political campaign, I think, in the history of the United States of America.
To my chief strategist David Axelrod who's been a partner with me every step of the way. To the best campaign team ever assembled in the history of politics you made this happen, and I am forever grateful for what you've sacrificed to get it done. But above all, I will never forget who this victory truly belongs to. It belongs to you. It belongs to you.


I was never the likeliest candidate for this office. We didn't start with much money or many endorsements. Our campaign was not hatched in the halls of Washington. It began in the backyards of Des Moines and the living rooms of Concord and the front porches of Charleston. It was built by working men and women who dug into what little savings they had to give $5 and $10 and $20 to the cause. It grew strength from the young people who rejected the myth of their generation's apathy who left their homes and their families for jobs that offered little pay and less sleep.


It drew strength from the not-so-young people who braved the bitter cold and scorching heat to knock on doors of perfect strangers, and from the millions of Americans who volunteered and organized and proved that more than two centuries later a government of the people, by the people, and for the people has not perished from the Earth. This is your victory. And I know you didn't do this just to win an election. And I know you didn't do it for me.


You did it because you understand the enormity of the task that lies ahead. For even as we celebrate tonight, we know the challenges that tomorrow will bring are the greatest of our lifetime -- two wars, a planet in peril, the worst financial crisis in a century. Even as we stand here tonight, we know there are brave Americans waking up in the deserts of Iraq and the mountains of Afghanistan to risk their lives for us.


There are mothers and fathers who will lie awake after the children fall asleep and wonder how they'll make the mortgage or pay their doctors' bills or save enough for their child's college education.


There's new energy to harness, new jobs to be created, new schools to build, and threats to meet, alliances to repair. The road ahead will be long. Our climb will be steep. We may not get there in one year or even in one term. But, America, I have never been more hopeful than I am tonight that we will get there.


I promise you, we as a people will get there. There will be setbacks and false starts. There are many who won't agree with every decision or policy I make as president. And we know the government can't solve every problem.


But I will always be honest with you about the challenges we face. I will listen to you, especially when we disagree. And, above all, I will ask you to join in the work of remaking this nation, the only way it's been done in America for 221 years -- block by block, brick by brick, calloused hand by calloused hand.


What began 21 months ago in the depths of winter cannot end on this autumn night. This victory alone is not the change we seek. It is only the chance for us to make that change. And that cannot happen if we go back to the way things were.


It can't happen without you, without a new spirit of service, a new spirit of sacrifice. So let us summon a new spirit of patriotism, of responsibility, where each of us resolves to pitch in and work harder and look after not only ourselves but each other.


Let us remember that, if this financial crisis taught us anything, it's that we cannot have a thriving Wall Street while Main Street suffers. In this country, we rise or fall as one nation, as one people. Let's resist the temptation to fall back on the same partisanship and pettiness and immaturity that has poisoned our politics for so long.


Let's remember that it was a man from this state who first carried the banner of the Republican Party to the White House, a party founded on the values of self-reliance and individual liberty and national unity. Those are values that we all share. And while the Democratic Party has won a great victory tonight, we do so with a measure of humility and determination to heal the divides that have held back our progress.


As Lincoln said to a nation far more divided than ours, we are not enemies but friends. Though passion may have strained, it must not break our bonds of affection.


And to those Americans whose support I have yet to earn, I may not have won your vote tonight, but I hear your voices. I need your help. And I will be your president, too. And to all those watching tonight from beyond our shores, from parliaments and palaces, to those who are huddled around radios in the forgotten corners of the world, our stories are singular, but our destiny is shared, and a new dawn of American leadership is at hand.


To those -- to those who would tear the world down: We will defeat you. To those who seek peace and security: We support you. And to all those who have wondered if America's beacon still burns as bright: Tonight we proved once more that the true strength of our nation comes not from the might of our arms or the scale of our wealth, but from the enduring power of our ideals: democracy, liberty, opportunity and unyielding hope.


That's the true genius of America: that America can change. Our union can be perfected. What we've already achieved gives us hope for what we can and must achieve tomorrow. This election had many firsts and many stories that will be told for generations. But one that's on my mind tonight's about a woman who casther ballot in Atlanta. She's a lot like the millions of others who stood in line to make their voice heard in this election except for one thing: Ann Nixon Cooper is 106 years old.


She was born just a generation past slavery; a time when there were no cars on the road or planes in the sky; when someone like her couldn't vote for two reasons -- because she was a woman and because of the color of her skin.


And tonight, I think about all that she's seen throughout her century in America -- the heartache and the hope; the struggle and the progress; the times we were told that we can't, and the people who pressed on with that American creed: Yes we can.


At a time when women's voices were silenced and their hopes dismissed, she lived to see them stand up and speak out and reach for the ballot. Yes we can.


When there was despair in the dust bowl and depression across the land, she saw a nation conquer fear itself with a New Deal, new jobs, a new sense of common purpose. Yes we can. When the bombs fell on our harbor and tyranny threatened the world, she was there to witness a generation rise to greatness and a democracy was saved. Yes we can.


She was there for the buses in Montgomery, the hoses in Birmingham, a bridge in Selma, and a preacher from Atlanta who told a people that "We Shall Overcome." Yes we can.


A man touched down on the moon, a wall came down in Berlin, a world was connected by our own science and imagination.


And this year, in this election, she touched her finger to a screen, and cast her vote, because after 106 years in America, through the best of times and the darkest of hours, she knows how America can change. Yes we can.


America, we have come so far. We have seen so much. But there is so much more to do. So tonight, let us ask ourselves -- if our children should live to see the next century; if my daughters should be so lucky to live as long as Ann Nixon Cooper, what change will they see? What progress will we have made?


This is our chance to answer that call. This is our moment. This is our time, to put our people back to work and open doors of opportunity for our kids; to restore prosperity and promote the cause of peace; to reclaim the American dream and reaffirm that fundamental truth, that, out of many, we are one; that while we breathe, we hope. And where we are met with cynicism and doubts and those who tell us that we can't, we will respond with that timeless creed that sums up the spirit of a people: Yes, we can.


Thank you. God bless you. And may God bless the United States of America.

Dutanet, 051108 15:45

Berbagai sumber /Rvanca / RKM-17/ CRKM-12

Jumat, 07 November 2008

Obama : Yes U Can !

All Staff, reader and visitor of Republik Kaum Miskin.blogspot.com would say Congratulation to Mr. Barrack Husein Obama as the 44th Presiden Of United State of Amerika

I hope You as a first man in United State of Amerika can change the perspektive world people about Amerika in past year leader by Bush Government can make Amerika in future as you leader be warm and friendly for world peacefull is same with you statement YES WE CAN

God Bless You


Bellagio 051108 23:45

Rvanca
Editor of RKM

Senin, 03 November 2008

Welcome To Indonesia High Majesty Prince of Wales


All reader and visitor of Republik Kaum Miskin.blogspot.com would say Welcome to Indonesia, Prince Of Wales Prince Charles.

I hope Your Visit 5 days ( Nov 2-5, 2008) in Jambi, Jogjakarta dan Meet the Presidente Of Indonesia, Mr. Susilo Bambang Yudhoyono for Indonesian and United Kingdom relation the next future.

God Bless You


Halim PK 011008 17:30

Rvanca
Editor of RKM

Senin, 27 Oktober 2008

Merahnya Muka Pak Beye di RRC



Para pembaca dan pengunjung blog ini pasti akan bingung dan bertanya kenapa dengan judul diatas, sebenarnya tidak ada masalah dengan judul diatas tetapi penulis ingin memberikan sedikit penambahan kata saja biar anda semua bingung.

Kenapa muka Pak Beye di RRC, apakah karena cuaca disana yang mengakibatkan muka Pak Beye merah, ternyata muka Pak Beye berkaitan dengan acara dan topik yang dibawakan oleh Pak Beye ketika berada di RRC. Pak Beye berada di RRC untuk menghadiri pertemuan antar pemimpin negara tingkat Asia dan Eropa atau Asia Europe Meeting, disela-sela menunggu pertemuan tersebut Pak Beye memberikan kuliah umum tentang Indonesia di Peking University.

Kenapa muka Pak Beye merah padam, ini dikarenakan ketika ada sesi tanya jawab ada seorang mahasiswi Peking University bertanya kepada Pak Beye yang intinya adalah kecenderungan muda-mudi etnis Jawa tidak bisa berbahasa Jawa yang baik dan benar, dan pertanyaan ini dibawakan dengan bahasa Indonesia dan Jawa Kromo Hinggil (halus) karena mahasiswi yang bertanya pernah kuliah di UGM Jogjakarta.

"Pak, saya pernah belajar Kromo Hinggil di UGM, dados kulo saget boso Jawi. Tapi yang membuat saya heran, justru di Yogyakarta sendiri warganya jarang yang bisa bahasa Jawa halus, terutama anak mudanya,"


ketika itu terlontar, spontan mahasiswa yang mengerti akan bahasa Indonesia langsung tertawa, tetapi tidak dengan rombongan kepresidenan yang diantaranya para menteri yang nampak seperti tersindir begitu juga Pak Beye yang tidak bisa menahan senyumnya dan memberikan jawaban singkat dimana beliau sebagai kepala negara Pak Beye berkewajiban melestarikan kekayaan budaya Indonesia yang salahsatunya adalah bahasa daerah.

Sebegitu parahkah, muda-mudi di Indonesia sudah meninggalkan bahasa daerah mereka ? itulah pertanyaan penulis dan mungkin sebagian orangtua ketika melihat arus informasi yang begitu luas sehingga tidak ada lagi yang namanya budaya.

Kita tidak usah menutup mata dan telinga kita melihat ini semua, kaum muda-mudi sekarang beda dengan kaum muda-mudi yang sekarang sudah menjadi orangtua, kalau dulu setiap kegiatan pasti selalu berhubungan dengan kaidah-kaidah budaya dan akan teguh terus dipegang, tetapi kalau sekarang itu semua semakin lama semakin pupus, seperti kita jarang melihat upacara perkawinan menggunakan adat suatu etnis sampai detail, kalaupun ada dikarenakan keturunannya masih memegang teguh prinsip upacara itu.

Apa yang dipertanyakan oleh Mahasiswi tersebut ada benar tetapi kita juga harus melihat realita yang ada saat ini, negara kita memiliki kalau tidak salah sekitar 5,000 lebih bahasa daerah yang terhampar dari ujung Sumatera hingga Papua itu belum termasuk dari satu daerah itu memiliki banyak bahasa seperti bahasa batak didaerah utara beda pengucapan dan arti dengan didaerah selatan begitu juga di Jawa.

Soal tidak pedulinya muda-mudi dalam menguasai bahasa daerah sebenarnya ada beberapa faktor seperti, pertama, kurangnya peran orangtua dalam menjelaskan dan memberikan pengetahuan budaya yang menjadi identitas mereka, karena orangtua sekarang dituntun untuk melakukan kegiatan yang hasilnya untuk sang anak seperti bekerja, kedua, tidak adanya informasi seperti pusat kebudayaan daerah sebagai tempat menjawab pertanyaan muda-mudi ini akan identitas latar belakang budaya mereka, sebenarnya ada tempat untuk memberikan informasi tentang budaya Indonesia tetapi kondisinya sangat memprihatinkan dan tidak selalu diperbaharui sehingga mungkin para muda-mudi ini tidak tertaring dengan yang namanya budaya tradisional.

Ketiga, tidak adanya stasiun televisi yang memberikan porsi jamnya untuk menayangkan acara berlatarbelakang budaya suatu etnis, kalaupun ada hanya sekian persen dan itu biasanya kalau sedang ada acara yang melibatkan seorang pejabat penting negara kalau tidak ada ya tidak ditayangkan, misalnya beberapa waktu lalu ada sebuah pesta yang diadakan oleh sebuah marga di Sumatera Utara, atau ada acara kremasi (ngaben) di Bali dimana jenazah adalah seorang anggota kerajaan bali.

Sebenarnya melestarikan bahasa daerah ini sangatlah mudah supaya tidak hilang atau di copy paste oleh negara tetangga yaitu, pertama, selalu orangtua didalam rumah ketika berkumpul atau berbicara selalu menggunakan bahasa daerah sehingga jika anak tidak tahu mereka akan bertanya dan orangtuapun secara tidak langsung mengajarkan dan mengartikan apa yang orangtua ini perbincangkan.

Kedua, lebih mengaktifkan kembali mutu pendidikan lokal yaitu dalam setiap tahun akademik baru memasukkan mata pelajaran bahasa daerah walaupun hanya sebagai muatan lokal syukur kalau bisa jadi mata pelajaran wajib, paling tidak para siswa tahu akan bahasa daerah tempat mereka berpijak dan hidup. Ketiga, peran media pun harus ikut membantu misalnya setiap satu minggu sekali paling tidak satu halaman menyajikan berita dalam bahasa daerah, atau menyiarkan berita dalam bahasa daerah serta menyajikan berita yang berkaitan dengan kegiatan kebudayaan setempat.

Dengan alternatif itu paling tidak budaya kita dalam berbahasa daerah tidak langsung hilang begitu saja karena masih bisa diselamatkan walaupun hanya sedikit yang menggunakan, dan yang paling utama adalah kita harus bangga terhadap bahasa daerah kita, karena bangsa luar saja bisa mengacungi jempol bahkan mereka meninggalkan beratus-ratus mill dari negaranya ke negara kita hanya untuk belajar bahasa daerah sementara kita yang sudah bertahun-tahun berdiam malah meninggalkannya ini akan menjadi aneh.

Apakah bahasa daerah di Indonesia semakin lama semakin hilang akibat arus globalisasi atau semakin kuat sehingga Dunia memberikan apresiasinya kepada Indonesia sebagai warisan budaya dunia yang harus dilestarikan ? kita tunggu saja, kalau bukan kita sebagai warga Indonesia yang menjaganya siapa lagi !…

Stasiun Jatinegara 241008, 22:45
RKM- 34

Sabtu, 16 Agustus 2008

Bung Indra.. Bung Indra.. Kenapa Kau di Golkar ?


Mungkin judul diatas ada pertanyaan bagi setiap orang ketika bertemu dengan analisis politik dari Centre for Strategic and International Studies – CSIS Indra Jaya Piliang ketika memutuskan ber-transformasi politik ( kata beliau ) dari pengamat ke politisi yang mana kendaraan yang beliau bawa adalah Partai Golkar pimpinan saudara saudagar dari Kawasan Timur Indonesia


Beliau memang tidak lagi menjadi seorang pengamat politik dari CSIS lagi karena semenjak tanggal 6 Agustus 2008 di salahsatu kampus terkemuka hasil ide dari Cak Nur yang berlokasi tepat di depan Rumkit Medistra tapi sayangnya mahasiswa dari kampus itu sepertinya hanya mementingkan kuliah dan dugem tanpa ada nurani untuk memikirkan bagaimana cara membangun negara ini dan membalas jasa-jasa pahlawan beliau berpamitan kepada rekan-rekan beliau mulai dari media hingga kawan sejawat bahwa sejak tanggal itu beliau menjadi seorang calon legislative dari Partai Golkar ( walaupun sampai acara ini berlangsung di Slipi masih sibuk untuk menentukan nomor jadi untuk semua caleg termasuk beliau ) untuk daerah pemilihan Sumatra Barat II meliputi Kota Pariaman, Kota Payakumbuh, Kota Bukittinggi, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten 50 Kota, Kabupaten Agam, Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Pasaman Barat.


Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa harus GOLKAR ? bukan partai yang baru tapi muka lama, bukankah selama dua tahun ke belakang beliau yang hampir 500 lebih artikel yang ia buat termuat di semua harian dinegara ini menjadi fungsionaris di partai garapan sang reformator.
Kita tahulah bagaimana GOLKAR selama hampir 32 tahun lebih berkarya di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, sudah berapa banyak rayuan-rayuan gombal yang membuat pundi-pundi suara yang mayoritas dari kalangan jelata tapi hasilnya mana memang di awal-awal saja program mereka bagus tetapi masuk tahun 1996 hingga sekarang mana, hancur lebur ibarat mayat yang coba disembunyi tetapi bau bangkainya tidak bisa ditutupi walaupun sudah dikamuflase dengan aroma kopi atau durian tapi tidak bisa juga, walaupun pada akhirnya ada satu tokoh yang bisa menyelamatkan partai ini dari hujatan agar ini partai ini dibubarkan yang akhirnya nasib tokoh ini ibarat habis manis sepah dibuang, tanpa ada ucapan terimakasih langsung dilengserkan dan digantikan oleh seorang pedagang yang orientasi otaknya hanya bagaimana cara mendapatkan untung besar dan itulah yang diterapkan di Partai ini.
Menurut penulis ada beberapa hal yang membuat hubungan antara bung Indra dengan Golkar mesra ibarat pasangan Ryan dan Novel asal jombang.. pertama, adanya beberapa fasilitas yang disediakan oleh partai kepada setiap orang yang ingin bergabung, kita tidak usaha munafiklah bagaiamana fasilitas yang diberikan Golkar dari tahun ke tahun, kemudian bung Indra pun sudah bosan hanya dengan mengkritik lewat tulisan-tulisan panasnya di media sehingga dia butuh kritikan nyata dilapangan tetapi ya itu tidak fasilitas dan sponsor yang mendukung mau tidak mau harus masuk partai dan Golkarlah yang dipilih karena semua yang mungkin dipikirkan oleh bung Indra ada semua di sana walaupun di salahsatu media online, beliau mengatakan alasan dia masuk ke Golkar setelah dua penjahat kemanusiaan Indonesia keluar dari partai itu dan membentuk partai baru. Kedua, Golkar ibarat anak remaja yang baru pubertas sedang mengalami pencaharian jati diri, kenapa penulis menggambar itu ? mungkin dengan bergabungnya bung Indra di Partai rumahnya kaum makhluk halus ini setidaknya bisa mendongkrak lagi pundi suara mereka yang beberapa bulan ini keok, kita bisa lihat beberapa bulan ini setiap pilkada di wilayah Indonesia, tidak ada satupun calon pimpinan mulai dari tingkat Bupati hingga Gubernur yang di usung Golkar tampil sebagai jawara, rata-rata tiarap hanya mendapatkan suara kurang dari ketentuan election thresold dengan pemikiran dan gagasannya terhadap Golkar kedepan, atau yang ketiga menurut penulis, maaf sebelumnya kalau salah, Bung Indra ingin mengubah ideology partai Golkar dengan ideology beliau yang mungkin dilandasi jiwa kepemudaan dengan sikap-sikap yang kritis setelah melihat tindak-tanduk daripada rekan sejawatnya di sana terlebih dahulu yaitu Bung Yudhi Chisnandi yang sudah dua kali mendapatkan surat peringatan yang langsung ditanda tangani oleh sang saudagar karena menolak kebijakan pemerintah menaikkan BBM dalam interplasi paripurna DPR, sementara partai yang dinaunginya mendukung 100 % kebijakan yang dipelopori sang saudagar ini.


Apakah Uda Indra Jaya Piliang dengan ideology dan kritikannya masih setajam setelah masuk dan terpilih menjadi anggota DPR hingga masa tugasnya ? kita hanya bisa menunggu..

selamat berjuang Uda tunjukkan ketajaman ideology dan kritikanmu di dalam atas nama penderitaan rakyat


Cawank...Agustus 2008

Rhivan Lorca

Pendapat Pribadi