Tampilkan postingan dengan label PSSI Watch. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PSSI Watch. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Desember 2011

Hare Gene Masih Nonton ISL ! Cuapek Dechhhh


Sebelum memulai isi tulisan ini ijinkan penulis menghaturkan kata maaf jika ada yang kurang berkenan dalam tulisan ini, karena apa yang penulis utarakan adalah pendapat pribadi berdasarkan apa yang penulis lihat, dengar dan baca.

Bicara tentang sepakbola nasional maka tidak akan pernah habis untuk dibicarakan termasuk saat ini tentang masalah liga yang terlebih seperti dendam pribadi.
Kenapa penulis mengatakan dendam pribadi kita bisa lihat ketika jaman si tukang mimpi dan selalu ngarep yang namanya Nurdin Halid mengatakan bahwa Indonesian Primer League-IPL yang digagas oleh Arifin Panigoro ini dikatakan tidak sah karena berada diluar kompetisi yang disahkan oleh PSSI.

Tetapi sekarang ketika si tukang mimpi dan ngarep keluar dari Pintu IX dan digantikan oleh Djohar Arifin yang menerapkan IPL sebagai kompetisi yang sah dan ISL adalah kompetisi ilegal, kalau dilihat seperti dejavu ya ?

Kalau penulis disuruh pilih apakah menghalalkan kompetisi IPL atau ISL, maka penulis akan memilih IPL kenapa penulis memilih IPL bukan ISL silakan anda melihat pemikiran penulis dengan alasan tadi.

Kenapa IPL ? kita bisa lihat bagaimana ketua PSSI yang ingin menciptakan kompetisi yang benar-benar kompetisi bukan kompetisi jadi-jadian seperti ISL.

Kita bisa lihat hal pertama yang dilakukan oleh Djohar Arifin ketika memimpin PSSI, dia mengundang AFC dan meminta kerjasamanya untuk menata kompetisi termasuk klub yang ada di Indonesia supaya bisa sejajar dengan klub dan kompetisi yang diatur oleh AFC dan FIFA, bagi yang ngefans ama ISL COBA PIKIRKAN DENGAN NURANI dan OTAK KALIAN, apakah ketika jaman NH setiap memulai kompetisi pernah memanggil AFC untuk konsultasi dan berdialog ? tidak kan !

Lalu, IPL ketika NH memimpin mengatakan bahwa liga tersebut adalah liga haram dan sekarang di era Djohar Arifin mengatakan bahwa ISL adalah haram, wajar ? kenapa, karena mental bangsa ini adalah bangsa pendendam dimana ketika ia diinjak-injak maka terbersit dalam nuraninya kalau ia jadi pemimpin maka ia akan lakukan apa yang ia rasakan dan itu terjadi saat ini di PSSI, benar tidak ?!

Sebenarnya kalau mau ditelusuri yang BODOH dan TOLOL dari semua masalah ini adalah klub-klub yang bernaung di ISL kok bukan PSSI, kenapa ? PSSI sudah memberikan kesempatan untuk para klub membenahi supaya lebih maju dalam hal administrasi, apakah kita tidak mau lihat klub Indonesia secara administrasi seperti halnya klub Eropa atau paling tidak klub di Jepang yang mandiri, bangga ada nama perusahaan asing atau BUMN nempel di bagian tengah depan kaus tim, tapi yang terjadi apa ya seperti saat ini masih KAMPUNGAN memangnya klub-klub yang bernaung di ISL itu bisa mandiri ? buktinya saja sekarang kempas-kempis bahkan tidak jauh beda dengan (maaf) PSK yang jual diri di pinggir jalan dengan pakaian seronok dalam artian klub dapat dana segar karena selama ini mereka terbuai dengan yang namanya APBN dan APBD yang akhirnya rakyat menderita, banyak yang busung lapar karena dananya dipakai untuk klub bola yang tidak pernah berprestasi, berprestasi sisch tapi secara fisik dalam artian selalu tawuran tetapi ketika di-MINTA PERTANGGUNG JAWABAN SOAL KEUANGAN, KLUB HANYA MENULISKANnya DALAM SELEMBAR KERTAS yang berisi pemasukan dan pengeluaran tanpa detail layaknya laporan keuangan di perusahaan-perusahaan.

Padahal yang diberikan PSSI kepada peserta IPL sangat jelas kok, kalau tidak berubah ya.. ketika IPL dinyatakan haram coba liat apakah berapa banyak perusahaan asing yang ada di pinggir lapangan mulai dari penerbangan hingga minuman soda yang selalu digemari masyarakat dunia termasuk Indonesia, MEMANG BISA ISL dan PT Badan Liga Indonesia taruh nama perusahaan asing sebagai sponsor ? paling ujung-ujungnya produk rokok padahal kita semua sudah tahu bahwa negara-negara Eropa dan dunia tidak lagi menggunakan rokok sebagai sponsor hanya Indonesia yang masih CUPU menggunakan rokok sebagai sponsor !!

Kalau klub-klub itu bicara soal statuta, PSSI Djohar Arifin diminta menjalankan statuta dan hasil kongres, kalau penulis jadi Djohar Arifin maka akan bertanya kembali kepada klub statuta dan kongres yang mana, bukan kah PSSI selalu buat statua dan kongres yang tidak jelas serta penuh dengan permainan kotor, kalau memang berdasarkan statuta pernah kah para klub ini yang bernaung di PT Badan Liga Indonesia menjalankan statua FIFA secara benar dan terperinci satu-persatu ?! gayanya sok ngomong statuta, bahasa Inggris aja masih blepetan terbukti kan statuta yang dibuat berapa kali oleh NH ditolak sama FIFA!!

Kalau menurut penulis, daripada ribut-ribut tidak jelas lebih baik FIFA menghukum PSSI secara benar bukan sekedar wacana, karena dengan menghukum PSSI, kita bisa duduk bersama-sama dalam hal menyusun program selanjutnya seperti liga tetapi sebelumnya PSSI harus menegur keras dan membubarkan serta memfatwakan kalau PT Badan Liga Indonesia dan orang-orang didalamnya termasuk media yang menyiarkannya adalah ilegal dan melawan hukum, kalau itu bisa dijalankan penulis yakin kok sepakbola Indonesia akan maju.

Semoga pihak-pihak terutama klub-klub yang selama ini TERBUAI dengan ucapan manis layaknya om senang kepada seorang perawan sadar diri, ini demi kepentingan sepakbola nasional, masih mau terbuai dengan harapan kosong, coba pikirkan kembali jangan menuduh bahwa IPL, PSSI yang sekarang adalah “boneka” dari seseorang, bukankah NH dulu juga “boneka” dari dinasti yang jelas-jelas merugikan rakyat, lihat nasib warga porong di Sidoarjo mereka menderita sampai saat ini karena siapa ?! BUAT KLUB-KLUB ISL, KALAU MAU NGOMONG di-PIKIR DULU DI OTAK dan NURANI JANGAN ASAL NGOMONG !!!

Taman Menteng, 11122011
Ervanca
Pendapat Pribadi

Rabu, 06 April 2011

Apa Dasar LPI (Jika Masuk PSSI) Main di Divisi 3


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf

Di tengah kericuhan dan simpang siurnya terhadapa organisasi paling tua di negara ini yaitu Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia-PSSI ada berita yang mengejutkan dan membuat penulis agak aneh yaitu bahwa Liga Primer Indonesia akan di masukan ke dalam Liga Divisi 3 jika PSSI tidak mau di hukum atau skorsing oleh FIFA.

Ketika membaca, mendengarkan dan menyimak apa yang di sampaikan oleh juru bibir PSSI tentang LPI yang akan di taruh pada divisi 3 sebagai solusi dan jawaban untuk menghindari ancaman skorsing dari FIFA secara nurani penulis spontan teriak, HAH ! Yang benar saja LPI di taruh di Divisi 3 dasarnya apa ?!

Lanjut kata juru bibir PSSI kenapa LPI di tempatkan di Divisi 3 karena sesuai dengan aturan yang ada dan tidak mungkin sebuah kompetisi yang baru di bentuk sudah langsung menjadi kompetisi utama di sebuah negara, tetapi LPI memiliki alasan sendiri karena mereka berpatokan pada sebuah aturan darurat kalau tidak salah dan mohon di koreksi kalau salah yaitu Task Force rule the game for fair play competition dan juga aturan dari AFC jadi apa yang di lakukan oleh konsorsium LPI sudah benar dan legal secara hukum FIFA dan AFC.

Pertanyaan sekarang adalah APAKAH PSSI TIDAK BERKACA pada dirinya sendiri apa yang terjadi kalau sampai LPI di taruh di Divisi 3 kenapa tidak klub-klub ISL saja yang di taruh di Divisi 3 benar tidak ?!

Sangat tidak pantas lah sebuah liga yang benar-benar menurut kaidah FIFA dimana sebuah liga harus professional dalam aspek apapun dan tidak bergantung pada pemerintah harus bermain di divisi paling rendah sementara liga yang klubnya JELAS-JELAS mengandalkan atau ibaratnya (maaf) SEPERTI PENGEMIS yang sering kita jumpai di tiap perempatan lampu merah malah asih-masyuk bermain di liga yang di akui dan prestise di negara ini apakah ini pantas ?!

Kita semua tahu lah bagaimana klub-klub yang ada di negara ini mulai dari Sabang sampai Merauke dari Miangas hingga Pulau Rote (kecuali klub LPI) dalam membiayai klubnya seperti membayar gaji pemain, pelatih, official dan staff bahkan membayar sewa lapangan saja masih ngemis kepada negara (baca: APBN-APBD) kalaupun ada klub yang mandiri pun itu baru tahap meraba tidak seperti dengan klub-klub LPI yang 100% MURNI tanpa APBN atau APBD !!

Yang menjadi pertanyaan dan harus di jawab secara nurani oleh pemegang kepentingan klub terutama para pemain termasuk jajaran pemain nasional (YANG KATANYA) termahal di Indonesia KOK MAU terima gaji atau bonus dari uang yang jelas-jelas uang itu di pergunakan untuk kebutuhan rakyat dan fasilitas umum yang ada di daerah tempat klub itu bernaung seperti perluasan dan perwatan jalan, bangunan sekolah, apakah para pemain ini (YANG KATANYA) gajinya MELEBIHI gaji Presiden Republik Indonesia punya nurani ketika mereka mendapatkan gaji setiap bulan tetapi ketika mereka harus berlatih pasti melintasi jalan propinsi yang mana kondisinya sangat memprihatinkan dan harus di perbaiki tetapi dananya sudah terserap untuk gaji pemain apakah ini pernah terpikirkan secara nurani ?!

Seperti contoh, di Jakarta ada berapa sekolah rusah bahkan tinggal menunggu waktu untuk rata dengan tanah, ketika ditanya kok pemerintah daerah tidak turun tangan untuk merenovasi lantas jawaban dari para pemangku kepentingan di Jakarta pasti mengeluarkan jurus manisnya bahwa dana yang di butuhkan tidak sedikit tetapi kenapa bayar gaji pemain yang ber-Milyar-Milyar untuk satu pemain BISA ketika untuk perbaikan sekolah yang jelas-jelas menjadi potret dari maju-tidaknya negara ini TIDAK BISA padahal prestasi dari klub itu sendiri tidak ada hasilnya yang ada hanya membuat kerusuhan yang dibuat para pecinta klub tersebut benar tidak !

Menurut penulis, biarlah Indonesia di hukum oleh FIFA sampai pada akhirnya kita mendapatkan Ketua Umum dan Pengurus dari Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia yang baru, ketika itu sudah di dapat baru kita memikirkan format kompetisi, kalau boleh penulis kasih saran sekaligus bisa mengangkat prestasi Indonesia bagaimana kalau kompetisi Indonesia Super League inilah yang di taruh pada koridor Divisi Utama atau Divisi 3 ?!

Dasar dan alasan penulis member saran kenapa ISL di taruh dalam koridor Divisi Utara atau Divisi 3 karena untuk memperbaiki para pemangku kepentingan klub ini untuk “meruwat” klubya supaya bebas dari kutukan yang bernama APBD sehingga ketika mereka bermain di LPI bisa mandiri karena selama ini penulis melihat para pemangku kepentingan klub seperti HIDUP SEGAN MATI PUN TAK MAU untuk melepaskan yang namanya APBD.

Selain itu juga dengan keberadaan ISL dalam koridor Divisi Utama atau Divisi 3 bisa melihat dan belajar kepada klub LPI bagaimana cara mengelola klub termasuk perilaku pemainnya karena selama ini penulis melihat para pemain yang bermain di ISL termasuk para pemain Timnas itu TIDAK LEBIH SEPERTI PEMAIN AMATIRAN atau Pemain yang baru belajar bermain sepak bola kita bisa lihat sepanjang 90 permainan adakah pemain yang bermain di ISL menerima putusan wasit dengan senyuman dan mengakuinya sambil bersalaman dengan pemain serta wasit tanpa harus tarik urat leher ? atau adakah sepanjang 90 menit kedua pemain yang bermain di ISL memainkan pertandingan tanpa memancing kerusuhan penonton ?

Apakah LPI akan masuk dalam lingkaran PSSI dan berada dalam Divisi 3 atau LPI akan menggeser posisi ISL sebagai liga prestise yang ada di Indonesia ? kita lihat saja nanti yang penting mungkin saat ini adalah menantikan antara FIFA menghukum Indonesia atau Indonesia akan mendapatkan Ketua Umum dan Pengurus Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia yang baru dan benar-benar kredibel dan tahu serta paham tentang sepakbola termasuk peraturan yang di keluarkan oleh FIFA dan AFC !


Std Patriot Kota Bekasi, 130311 16:30
Rhesza
Pendapat Pribadi

Antara Nurdin Halid dan A.M. Fatwa


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf

Ada menarik ketika sebuah harian memuat berita tentang wawancara antara wartawan harian tersebut dengan tokoh yang sekarang mungkin menjadi sosok yang paling di cari oleh seluruh rakyat Indonesia terutama pecinta sepakbola Indonesia yaitu Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia-PSSI, Nurdin Halid.

Apa yang menurut penulis menarik ketika membaca hasil wawancara Ketum ini yaitu adanya curahan hati dimana beliau mempertanyakan kepada rakyat terutama pecinta sepakbola Indonesia kenapa dirinya selalu di kaitan dengan hal-hal yang negative sementara di luar dari diri dia malah ada yang di penjara sekarang menduduki beberapa posisi strategis dalam hal politik, beliau mengambil contoh A.M. Fatwa yang pernah menduduki sebagai Wakil Ketua DPR-RI.

Akibat dari wawancara ini karena nama A.M Fatwa di sebut-sebut sebagai contoh maka yang punya nama pun memberikan penjelasan melalui kontak pembaca pada harian yang sama, tetapi pertanyaan sekarang adalah benarkah apa yang di katakan oleh Nurdin Halid bahwa dirinya merasa terzalimi sedangkan banyak orang seperti A.M. Fatwa yang nasibnya hampir sama dengan dia masih bisa memegang posisi strategis ?

Kalau menurut penulis apa yang di ucapkan oleh NH ketika di wawancarai itu adalah bualan omong kosong dan tidak guna dari seorang manusia, kenapa penulis mengatakan itu semua orang sudah tahu dan paham kasus antara yang di alami dengan Nurdin Halid dengan kasus yang di alami oleh bapak A.M. Fatwa walaupun ya (maaf) sama-sama terpidana dan pernah di penjara tetapi di sini ada bedanya yang mungkin tidak pernah atau memang Nurdin Halid itu tidak pernah tahu, kasus Nurdin Halid adalah kasus korupsi yang mana jelas-jelas dari apa yang ia berbuat membuat kerugian baik kepada negara maupun rakyat sedangkan bapak A.M. Fatwa adalah kasus politik pada tahun 1984 ketika itu terjadi kerusuhan Priok yang di mulai adanya isu seorang perwira yang masuk ke dalam sebuah tempat ibadah tanpa memperhatikan kaidah atau peraturan yang sudah semestinya ketika memasuki tempat ibadah, lantas apakah dari kasus ini bapak A.M. Fatwa ini merugikan negara dan juga rakyat ?

Kemudian kita semua tahu kalau dalam dunia sepakbola atau dunia olahraga itu di kenal dengan semangat sportivitas, kejujuran dan fair play dalam artian mau mengakui apa yang telah di lakukan itu telah melanggar apa yang sudah di tetapkan baik yang tertulis maupun tidak sementara apakah ini sudah di laksanakan oleh Nurdin Halid ? kita semua tahu selain dalam semboyan dunia olahraga tersebut juga ada peraturan dimana seorang yang telah di nyatakan bersalah dan di penjara tidak boleh memimpin sebuah organisasi olah raga benar tidak ? bahkan dalam AD/ART FIFA (baca: Statuta) dan IOC pun memuat pasal yang melarang terpidana atau manusia yang pernah menjalani hukuman penjara di larang memimpin organisasi olaharaga apakah ini di baca dan di pahami oleh NH ? atau jangan-jangan kemampuan bahasa Inggris atau TOEFL beliau di bawah standar yang di minta pasar :D, lalu apakah dalam dunia perpolitikan ada ketentuan di mana seorang narapidana atau penjahat dilarang menduduki posisi dalam pemerintahan baik itu dalam koridor legislative, eksekutif atau yudikatif ? rasanya sampai sekarang penulis belum mendapatkan sebuah peraturan resmi baik di negara ini ataupun di dunia internasional dimana seorang tahanan politik tidak boleh menduduki sebuah posisi seperti Presiden kecuali kalau hak manusia itu di cabut oleh negara !

Jadi boleh kah penulis mengatakan kalau NH ini sedang mengalami penyakit yang namanya penyakit HALUSINASI ? karena sudah beberapa kali sang Ketum ini selalu membela diri tetapi pembelaannya selalu mentah bahkan menjebak dirinya sendiri dan membuat orang-orang tertawa padahal kalau di lihat pribadi beliau ini adalah pribadi yang terpandang kalau di lihat gelar beliau di namanya tetapi ya kita lihat saja apakah itu sesuai atau tidak ?!

Sudahlah Puang, menyerah saja percuma saja anda membela diri toch tidak ada lagi yang mendengarkan suara anda !!

Pintu IX GBK Std, 110311
Rhesza
Pendapat Pribadi

Senin, 07 Februari 2011

Menantikan keberanian dan kejujuran dari M. Zein dan Nurdin Halid ?

The members of the Executive Committee shall be older than thirty (30)
years. They shall have already been active in football for at least 5 (five)
years, must not found guilty of a Criminal Offence and have residency within the territory of Indonesia

Statuta FIFA Pasal 35 ayat 4



Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf.

Kongres PSSI di Pulau Bintan, Riau, 19 Maret tinggal menghitung hari dan selama menghitung hari tersebut banyak tokoh-tokoh yang di usung oleh para penggila bola yang kira-kira bisa menggulingkan posisi Nurdin Halid yang kabarnya akan bertahan dengan kursinya, salah satu dari sekian banyak yang di calonkan oleh penggila bola adalah Jenderal TNI George Toisutta yang tidak lain tidak bukan adalah Kepala Staff Angkatan Darat (KASAD) pendeklarasian Jenderal asal Maluku kelahiran Makassar ini baru diketahui publik dua hari menjelang batas waktu penyerahan formulir pencalonan oleh anggota PSSI sebagai pemegang suara di kongres.

Sebelum Jenderal Toisutta mendeklarasikan diri untuk maju sebagai calon Ketum PSSI kita sudah mendengar nama seperti Nurdin Halid dan pencipta dari Liga Primer Indonesia, Arifin Panigoro bahkan kehadiran Jenderal Toisutta ini pun sangat direspon positif oleh pihak Arifin. Sekedar ilustrasi, Nurdin Halid kita semua sudah tahu latar belakang beliau sebagai Ketum PSSI sejak tahun 2003 sebelum terlibat dalam klub PSM Makassar dan Pelita Jaya Jakarta, sedangkan Arifin Panigoro, beliau sudah lebih dari lima tahun terlibat dalam sepakbola nasional melalui kompetisi usia dini, Liga Medco pada medio tahun 2000-an, sedangkan Jenderal Toisutta sejak tahun 1980-an sudah menjadi pembina sepakbola di lingkungan TNI Angkatan Darat-PSAD

Mengacu pada peraturan (baca: Statuta) FIFA dalam hal pemilihan ketua/ Presiden Federasi sepakbola pasal 35 ayat 4 tertulis : The members of the Executive Committee shall be older than thirty (30) years. They shall have already been active in football for at least 5 (five) years, must not found guilty of a Criminal Offence and have residency within the territory of Indonesia atau terjemahan dasarnya adalah, Anggota Komisi Eksekutif harus berusia lebih dari 30 (tiga puluh) tahun, mereka harus telah aktif di sepak bola sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun, dan tidak dinyatakan bersalah atas tindakan kriminal, dan berdomisili di wilayah Indonesia.

Dari Statuta FIFA ini adalah membuat penulis menarik yaitu pada dua buah kata, Criminal Offencen dimana FIFA memakai huruf besar pada huruf C dan O dengan kata lain bahwa FIFA sangat peduli dengan mereka yang pernah terlibat dalam sebuah tindakan pidana atau kriminal. Sesuai aturan yang berlaku dimana setiap pendaftar calon Ketum harus menyertakan curriculum vitae (CV)-nya setelah itu tim verifikasi menyeleksi dengan cermat latar belakang dari tiap calon yang mendaftar, JIKA Tim Verifikasi yang di ketuai oleh M. Zein ini BEKERJA DENGAN JUJUR, BERANI, ADIL dan PROFESSIONAL maka ketentuan atau Statuta FIFA pasal 35 ayat 4 sebagaimana penulis utarakan di atas, 100 % CV Nurdin akan gugur sebagai calon Ketum.

Tetapi pertanyaan sekarang bagi penulis dan kita semua penggila sepakbola yang tersebar mulai Sabang sampai Merauke dari Miangas hingga Pulo Rote adalah BISAKAH Nurdin berkata jujur pada nuraninya dengan mencantumkan dalam daftar CV-nya kalau ia PERNAH di penjara karena kasus pidana korupsi, dan BERANIKAH Tim Verifikasi PSSI dengan tegas dan keras MENOLAK Nurdin sebagai kandidiat ketika Nurdin mencalonkan diri WALAUPUN di CV beliau TIDAK TERDAPAT tulisan PERNAH DI PENJARA ? BERANIKAH ?! itu lah tantangan bagi Tim Verifikasi PSSI saat ini

Kita juga tahu bagaimana kebusukan dan kebohongan daripada PSSI selama ini bahkan mereka sekarang menutup telinga dan mata atas semua kritikan kita bisa lihat ketika kongres PSSI di Bali seperti kasus penyaluran formulir pendaftaraan calon Ketum, Wakil Ketum dan Komite Eksekutif yang mana beredar ada beberapa anggota yang belum menerima formulis itu tetapi oleh PSSI lewat Sekretaris Jenderal Nugraha Besoes bahwa PSSI telah mengirim formulir kesemua anggota yang memiliki hak suara sejak tanggal 17 Januari lalu, kemudian PSSI tidak bisa menyebutkan dengan pasti daftar klasemen per-tanggal berapa yang menjadi ukuran untuk menentukan peserta dari kelompok divisi utama, tetapi PSSI berkilah bahwa yang menjadi ukuran adalah ketika kongres di Bali, aneh bukan ?!

Jadi apakah Tim Verifikasi yang di pimpin oleh M. Zein yang kata beberapa orang termasuk kawan-kawan jurnalis mempunyai komitmen kuat dalam membawa perubahan sepakbola Indonesia BERANI menindak Nurdin Halid yang akan maju menjadi ketum PSSI JIKA CV-nya TERCANTUM atau TIDAK kata-kata PERNAH DIPENJARA sesuai dengan Statuta FIFA Pasal 35 ayat 4, dan BERANI kah Nurdin Halid mencantumkan kata-kata PERNAH DIPENJARA dalam draf CV-nya ketika akan mengajukan diri sebagai Calon Ketum PSSI, kita lihat saja nanti !!

Salam Satu Hati dan Revolusi untuk PSSI

Taman Suropati, 050211 16:20
Rhesza
Pendapat Pribadi

Jumat, 04 Februari 2011

Dagelan ala Timnas…


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf

From: eli cohen

Subject: Mohon Penyelidikan Skandal Suap saat Piala AFF di Malaysia

Kepada Yth. Bapak Susilo Bambang Yudhoyono Presiden Republik Indonesia
Di Jakarta

Dengan Hormat, Perkenalkan nama saya Eli Cohen, pegawai pajak dilingkungan kementrian Keuangan Republik Indonesia. Semoga Bapak Presiden dalam keadaan sehat selalu.

Minggu ini saya membaca majalah tempo, yang mengangkat tema khusus soal PSSI. Saya ingin menyampaikan informasi terkait dengan apa yang saya dengar dari salah satu wajib pajak yang saya periksa dan kebetulan adalah pengurus PSSI (maaf saya tidak bisa menyebutkan namanya).

Dari testimony yang disampaikan ternyata sangat mengejutkan yaitu adanya dugaan skandal suap yang terjadi dalam Final Piala AFF yang dilangsungkan di Malaysia.

Disampaikan bahwa kekalahan tim sepak bola Indonesia dari tuan rumah Malaysia saat itu adalah sudah ditentukan sebelum pertandingan dimulai. Hal ini terjadi karena adanya permainan atau skandal suap yang dilakukan oleh Bandar Judi di Malaysia dengan petinggi penting di PSSI yaitu NH dan ADS

Dari kekalahan tim Indonesia ini baik Bandar judi maupun 2 orang oknum PSSI ini meraup untung puluhan miliar rupiah.

Informasi dari kawan saya, saat dikamar ganti dua orang oknum PSSI ini masuk ke ruang ganti pemain (menurut aturan resmi seharusnya hal ini dilarang) untuk memberikan instruksi kepada oknum pemain. Insiden “laser” dinilai sebagai salah satu desain dan pemicunya untuk mematahkan semangat bertanding.

Keuntungan yang diperoleh oleh dua oknum ini dari Bandar judi ini digunakan untuk kepentingan kongres PSSI yang dilangsungkan pada tahun ini. Uang tersebut untuk menyuap peserta kongres agar memilih NH kembali sebagai Ketua Umum PSSI pada periode berikutnya.

Saya bukan penggemar sepak bola, namun sebagai seorang nasionalis dan cinta tanah air saya sangat marah atas informasi ini. Nasionalisme kita seakan sudah dijual kepada bandar judi untuk kepentingan pribadi oleh oknum PSSI yang tidak bertanggung jawab.

Oleh karenanya saya meminta Bapak Presiden untuk melakukan penyelidikan atas skandal suap yang sangat memalukan ini.

Semoga Tuhan memberkati Negara ini.

Hormat Kami, Eli Cohen Pegawai Pajak

Tembusan:
1. Menteri Olah Raga
2. Ketua KPK
3. Ketua DPR
4. Ketua KONI

Tulisan di atas adalah transkrip email yang di tulis oleh seseorang yang bernama Elin Cohen kepada Presiden Republik Indonesia isi emailnya adalah mengindikasikan bahwa ada dugaan suap ketika pertandingan Final Leg 1 Piala AFF antara tuan rumah, Malaysia melawan Timnas Indonesia di Stadion Bukit Jalil, Malaysia ketika itu Timnas Indonesia kalah 3-0 dari Malaysia.

Akibat dari email ini membuat jajaran pemerintahan terutama Kementerian Negera Pemuda dan Olahraga serta Pengurus KONI dan PSSI panas telinga, kalau memang ini benar adanya maka sangat memalukan sekali.

Tetapi penulis hanya tertawa terbahak-bahak sampai sakit perut ketika membaca isi email dan juga pengakuan dari sang “legenda” sepakbola nasional yang juga wakil kapten Timnas di AFF dalam blognya yang menyoroti email ini. Huahahahahaha…

Kenapa penulis tertawa terhadap isi email dan klarifikasi dari sang wakil kapten ini karena, kita semua sudah tahu lah bagaimana kondisi PSSI saat ini terutama dalam 10 tahun terakhir ini, bahkan ketika tahun 1950-an dan 1970-an pun negara ini terutama sepakbola kita PERNAH terkena penyakit yang namanya SUAP-MENYUAP jadi apa yang di tulis Cohen (yang ternyata nama email itu diambil dari nama seorang wanita agen rahasia Israel, Mossad) ada benarnya.

Soal klarifikasi sang wakil kapten soal email Cohen seperti sang wakil kapten ini harus baca sejarah dan juga harus bisa VOKAL dalam apapun, jangan cuma bisa VOKAL di web-nya tetapi ngomong manis di depan kamera !

Kita bisa lihat dalam tulisannya beliau dimana mengatakan

“Sejujurnya boleh dikatakan, saya juga termasuk orang yg tidak puas dengan kinerja dari organisasi bernama PSSI. Akan tetapi dengan menyebarkan isu seperti diatas, kok rasanya orang yg bersangkutan tidak lebih baik dari seorang pengecut, yg tidak berani bermain secara fair. Menurut pendapat saya, isu tersebut sangatlah kejam dan tidak manusiawi… “

kalo memang sang wakil kapten ini berkata tidak puas dengan kinerja PSSI KENAPA BERTERIAK di web-nya atau BERKICAU di akun tuidernya KENAPA TIDAK NGOMONG LANGSUNG di depan MUKA sang ketum yang secara kebetulan ada dan di liput oleh teman-teman jurnalis, justru dari perkataan itu yang mengkritik sang “Cohen” penulis berpikir sang wakil kapten timnas TIDAK JAUH BERBEDA dengan “Cohen” SAMA-SAMA PENGECUT padahal sang wakil kapten ini boleh di bilang tahu segalanya dalam dunia sepakbola benar tidak !?

kemudian dalam klarifikasinya beliau soal “ Cohen” adalah

“ Seperti yg pernah saya sampaikan dalam interview saya bersama majalah Rolling Stone Indonesia: “Sepakbola akan sangat indah jika di biarkan murni sebagai sebuah olahraga, tanpa ada embel-embel apapun”. Biarkanlah olahraga bernama sepakbola tersebut, terbebas dari isu-isu politik, persaingan bisnis atau dendam pribadi… “

Pertanyaan-nya sekarang buat sang wakil kapten kalau benar anda mengutarakan ini kepada sebuah majalah musik, KENAPA anda dan kawan-kawan anda beserta Pelatih dan Official Timnas MENERIMA undangan sarapan pagi dari pengusaha lumpur ? seharusnya kalau anda berkata seperti di atas MESTI-nya anda sebagai PEMAIN SENIOR dan DI HORMATI oleh semua pemain Timnas karena jam terbangnya cukup tinggi BISA MENOLAK tawaran sarapan pagi itu bukan begitu bung ?!

Kemudian yang paling lucu adalah tulisan beliau tentang pertanyaan Pelatih Timnas soal ketum dimana sang pelatih berkata

“Bambang apakah ketua umum tadi masuk keruangan ini..??” sayapun menjawab “Tidak coach”, Alfred pun kembali berkata “Saya sangat kecewa, mengapa Ketua Umum datang ke ruang ganti hanya saat tim ini menang, dan saat kita kalah dia tidak datang kemari”, kata-kata Alfred tersebut saya yakin di dengar oleh semua orang yg ada di dalam ruangan tersebut…

Tetapi FAKTA-nya yang penulis lihat adalah SEMALAM (3/2) dalam sebuah acara berita olahraga di stasiun televisi A*Tv termuat “HOT COMMENT” dari sang pelatih dimana dalam hot comment itu pelatih mengatakan “ tidak ada pengurus yang masuk ke dalam ruang ganti, kalau pun ada yang masuk pasti saya tendang keluar “ pertanyaan sekarang adalah MANA yang harus di percaya ? OMONGAN Pelatih yang ditulis oleh sang wakil kapten timnas atau HOT COMMENT yang semalam penulis tonton ?!

Kembali ke soal email “Cohen” menurut penulis apa yang ditulis beliau ada benarnya walaupun mungkin tipis kebenarannya tetapi kalau di lihat sejarah sepakbola negara ini maka mungkin ada keterkaitannya dengan email tersebut bahkan sebuah majalah terkemuka di Jakarta pun menurunkan tulisan tentang dunia hitamnya sepakbola Indonesia yang mungkin sang wakil kapten Timnas ini tahu tetapi tidak mau mengakuinya.

Kita bisa lihat dalam isi majalah tersebut bahwa klub-klub di Indonesia ini dalam hal pengelolaan keuangan MASIH LEBIH BAGUS anak SMEA atau mahasiswa akuntansi dalam mengelola keuangan pribadi, dimana sebuah auditor internasional mengeluarkan temuannya dimana HANYA 3 KLUB yang PUNYA laporan keuangan teraudit, kemudian HANYA 4 KLUB yang memiliki badan hukum selebihnya ? silakan anda kira-kira sendiri !

Dalam hal laporan keuangan klub yang ada di Indonesia TIDAK PUNYA sistem pembukuan standar, bentuk laporannya pun hanya di buat dalam program Excel yang semua orang bisa menggunakan tanpa ada proteksi misalnya menggunakan kata kunci. Dalam hal inventarisasi pun klub TIDAK PUNYA ASET seperti stadion, asrama dan kendaran operasional merupakan NGEMIS kepada pemerintah setempat.

Soal perdagangan pertandingan, penulis pernah membaca bahkan tertawa dimana artikel tersebut mengatakan bahwa ada pemain MENJUAL DIRI-nya untuk BERSANDIWARA dan itu di lakukan beberapa hari sebelum pertandingan, bahkan ada sandi-sandi khusus untuk kasus ini seperti “ Nich ada lima kambing siap disembelih, tertarik atau tidak ? “ dan tarifnya pun tidak main-main yaitu berkisar antara Rp. 5 juta dan Rp. 10 juta itu pun tergantung dari tim dan penting tidaknya pertandingan tersebut, alasan “kambing” ini di sembelih karena gaji yang mereka dapat sering terlambat bahkan nilai kontrak di manipulasi.

Sebelum pertandingan para pemain yang berlabel “kambing” ini pun memulai aksinya seperti ketika team A melawan team B, beberapa hari sebelum bertanding manajer team B menelepon beberapa pemain team A untuk tidak bermain ketika hari pertandingan dengan imbalan uang yang setara dengan gaji yang di terima atau sisa gaji yang belum diterima oleh management team A ditambah dengan adanya transfer pemain tersebut ke team B biasanya mereka melakukan dengan menggunakan nomor yang sekali pakai.

Atau ketika di lapangan, pemain yang berlabel “kambing” ini memulai aksinya seperti berpura-pura marah dan berakhir dengan kartu oleh wasit atau modus lain adalah bermain kasar di daerah permainan sendiri atau pura-pura tidak bisa menjaga bola, khusus kiper seperti trik suap tahun 1980-an dan masih di pakai sampai sekarang adalah Kiper menyatukan telunjuk dan jari tengah dalam satu lubang jari sarung. Lalu jari manis disatukan dengan kelingking, juga di satu lubang. Alhasil, dua lubang jari sarung kosong. Tentu saja, bola gampang lolos dari tangkapan. Setelah kebobolan, kiper akan segera pasang tampang kesal dan kecewa. Ia melepas dan membuang sarung tangannya. ( kalau kiper, bukan maksud memojokkan tetapi kalau di lihat isi email Cohen serta tulisan investigas dari majalah ini dan sikap dari kiper timnas di leg 1 sepertinya ada kesamaan….uuuuppppssss)

Jadi menurut penulis apa yang di tuliskan oleh orang yang mengaku Elin Cohen ada benarnya dan harus di tanggapi serius kalau mau sepakbola kita maju dan bisa bermain di level Piala Dunia mau sampai kapan seperti ini terus benar tidak ?

Buat orang yang bernama Elin Cohen , terima kasih walaupun anda bukan penggemar sepakbola dan juga di katakan oleh sang wakil kapten Timnas dengan pertanyaan APAKAH ANDA JUGA MEMPUNYAI HATI…??? tetapi paling tidak nasionalisme anda masih ada.

Dan buat wakil kapten timnas Indonesia sebaiknya anda belajar kembali sejarah kompetisi sepakbola negara ini sebelum menulis !! penulis juga ingin menanyakan kembali pertanyaan yang anda tanyakan kepada Elin Cohen APAKAH ANDA JUGA MEMPUNYAI HATI…??? Ketika masih banyak gedung sekolah di pinggiran Jakarta yang kondisinya TIDAK JAUH BEDA dengan kandang BABI dan KAMBING atau MASIH LEBIH BAGUS Pos Polisi Thamrin samping Kedubes Inggirs seperti ketika kunjungan Wakil Gubernur DKI ternyata diusut kenapa masih banyak gedung sekolah yang tidak layak ini karena dana (baca: APBD) yang digunakan untuk merevonasi gedung sekolah itu 90 % DIGUNAKAN untuk membayar biaya operasional klub yang anda naungi salah satunya MEMBAYAR GAJI+BONUS anda yang kabarnya masuk dalam PEMAIN INDONESIA TERMAHAL di Indonesia kalau seperti ini APAKAH ANDA MASIH PUNYA HATI wahai wakil kapten Timnas Indonesia ?!

Taman Menteng, 040211
Rhesza
Pendapat Pribadi

Kapan 4 Sekawan itu Tidak Ada Lagi di Bumi Indonesia ?


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf.

Penulis agak tergelitik terbahak-bahak ketika membaca sebuah berita yang mana Ketum PSSI beserta jajarannya melaporkan Majalah Tempo ke pihak kepolisian berkaitan dengan materi berita yang disuguhkan yaitu tentang mengangkat indikasi korupsi yang terjadi di lingkungan PSSI.

Kenapa penulis tergelitik terbahak-bahak dengan berita itu, karena bagi penulis apa yang di tuliskan oleh rekan-rekan majalah Tempo adalah benar dan fakta dari beberapa narasumber yang menjadi korban dan kita semua tahu bagaimana kotornya sepakbola di negeri ini apalagi setelah di pegang oleh Nurdin Halid untuk kedua kalinya dan akan menjadi jilid ke-tiga pada tanggal 19 Maret mendatang di Pulau Bintan, Pulau yang agak-agak mirip dengan Nusakambangan jauh dari segalanya dan disanalah sang Ketum ini beserta tiga koleganya meracik layaknya teroris mendoktrin semua pengurus klub dan Pengcab PSSI untuk memilih beliau untuk ketiga kalinya dengan imbalan uang Rp. 2 Milyar !

Kita semua sudah tahu lah bagaimana busuknya sepakbola negara ini, kalau kata sang ketum itu apa yang di tulis Majalah Tempo itu tidak benar bisakah para pengurus ini memberikan bukti secara nyata kalau kompetisi yang mereka buat itu berdasarkan ketentuan yang berlaku di FIFA misalnya tidak ada protes bahkan kekerasan fisik dari pemain, official dan penonton ketika wasit memberikan kartu ketika ada pemain yang jelas-jelas melanggar sesuai ketentuan FIFA adakah ? kita semua tahu kok bagaimana kompetisi sepakbola di negara ini hampir setiap hari dalam 90 menit selalu di penuhi dengan kontroversi bahkan di akhiri dengan kerusuhan seperti kasus pertandingan di bumi Siliwangi yang lalu benar tidak ?

Kenapa Liga Primer Indonesia atau LPI itu muncul pun karena ada beberapa alasan salah satunya tidak becusnya organisasi ini dalam membuat kompetisi yang terdalamnya harus ada unsur FAIR PLAY termasuk tidak netralnya wasit dalam memimpin serta masih “nyusu”nya klub sepakbola kepada dana rakyat yang bernama APBD. Kita bisa lihat banyak klub-klub sepakbola yang terang-terangan beli pemain mahal tetapi ketika melintasi daerahnya masih banyak jalan yang kondisinya 11-12 dengan kubangan mandi kerbau atau gedung sekolah yang tidak jauh berbeda dengan kandang babi ketika di tanya dana untuk ini semua maka pemegang kekuaasaan dengan mudahnya mengatakan kalau dana di gunakan untuk biaya klub sepakbola.

Selama 4 sekawan ini memimpin sepakbola Indonesia selama dua periode tidak pernah kita melihat ada prestasi yang menjanjikan misalnya kita bisa tembus main di ajang Piala Dunia atau menjuarai Piala Asia, padahal kalau di lihat dari usia organisasi ini berdiri yaitu 1930 seharusnya kita sudah berprestasi paling tidak babak kedua Piala Dunia atau menjuarai setidaknya 4 Piala Asia tetapi nyatanya di Piala AFF yang ruang lingkupnya di sepak bola internasional seperti kecamatan hanya mampu mendapatkan predikat MENANG TANPA PIALA !! atau memang menang ketika tahun 2008 Piala Kemerdekaan tetapi itu pun menang dengan cara TIDAK FAIR PLAY dimana ada unsur teror serta intimidasi dan penganiayaan terhadap lawan.

Sudah banyak gelombang protes untuk menentang dan menurunkan 4 sekawan ini untuk meninggalkan dunia sepakbola Indonesia tidak menyurutkan 4 sekawan ini untuk berjaya dan terbukti pada Kongres PSSI di Bali beberapa waktu lalu. Mungkin kalau penulis di tanya kira-kira kapan 4 sekawan ini bisa benar-benar lengser dari dunia sepakbola Indonesia maka penulis akan menjawab SILAKAN TANYA KEPADA TUHAN kapan Tuhan mencabut nyawa mereka karena mungkin dengan pertolongan Tuhan dalam hal ini mencabut kontrak hidup duniawi 4 sekawan ini yang bisa merubah sepakbola Indonesia benar tidak ?!

Bagi penulis kalau memang suara-suara untuk menurunkan 4 sekawan ini tidak di dengar, kalau memang banyak tulisan yang mengkritik 4 sekawan ini tidak di gubris mungkin saatnya para suporter di SELURUH INDONESIA UNTUK BOIKOT PERTANDINGAN ! kenapa penulis mengatakan itu ? karena dengan kita memboikot pertandingan dengan cara MENGOSONGKAN STADION ketika ada pertandingan kompetisi baik dari ISL, T-Phone atau amatir TERMASUK Timnas berarti pemasukan bagi klub dan PSSI TIDAK ADA dan mereka akan pusing sendirinya bagaimana cara memutar uang operasional ini karena mereka berpikir hanya dari tiket mereka mendapatkan dana dan disitulah kita bisa mendesak para petinggi ini termasuk 4 sekawan itu untuk mundur tetapi balik lagi kepada para suporter ini apakah anda sebagai suporter mau menjalankan ini karena penulis melihat masih banyak suporter kita yang bermental munafik !

Kenapa munafik, kita bisa lihat kejadian AFF kemarin dimana banyak suporter kita mengelu-elukan para pemain timnas dan tidak menghiraukan keberadaan PSSI tetapi ketika timnas kita kalah BARU para suporter kita menghina-hina jajaran PSSI padahal kita semua tahu bahwa yang namanya Timnas sepakbola atau yang berbau sepakbola di negara ini bernaung dalam induk yang bernama Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia atau PSSI benar tidak ?!

Proses pemilihan Ketua Umum PSSI tinggal menghitung hari, apakah sepakbola kita HARUS DI PIMPIN LAGI oleh 4 sekawan ini atau akan ada tokoh baru ? kita lihat saja yang pasti buat suporter Indonesia KIRANYA anda semua juga BERCERMIN kenapa sepakbola kita bisa rusak seperti ini SELAIN EFEK dari 4 sekawan ini serta JANGAN SELALU MENGATASNAMAKAN Oknum !!!

Wahai Tuhan KAPAN Engkau memutuskan kontrak hidup duniawi 4 sekawan PSSI ini ?

Salam Revolusi Sepakbola Indonesia

Pintu IX GBK Stadium, 010211 14:00
Rhesza
Pendapat Pribadi

Malang Nian Nasibmu Soeratin Sosrosoegondo


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf.

Sebuah acara yang di kelola oleh PSSI yang berlangsung di sebuah resort di Bali telah berakhir dengan beberapa keganjilan tetapi bukan PSSI namanya kalau setiap kegiatan selalu berakhir keganjilan dan banyak pertanyaan.

Tetapi itulah PSSI, setiap sudut kota di Indonesia mulai dari Sabang sampai Merauke dari Miangas hingga Pulo Rote membicarakan apa yang telah diperbuat PSSI dalam hal ini ketum-nya Nurdin Halid dalam prestasi sepakbola Indonesia, banyak yang mengatakan bahwa saatnya Ketum PSSI ini untuk mundur karena tidak bisa memberikan rakyat Indonesia gelar juara padahal sudah dua periode memimpin.

Penulis tidak akan mencampuri persoalan PSSI termasuk aksi-aksi kawan suporter dimana selalu meneriakkan turun NH setiap laga pertandingan atau adanya PSSI akan seperti Sinterklas dimana akan membagi-bagikan uang Rp. 2 Milyar kepada setiap klub ASALkan pada bulan Maret nanti di Pulau Bintan memilih formasi pengurus PSSI yang saat ini untuk bekerja kembali pada periode 2011-2015, tetapi ada yang lebih penting daripada itu yaitu bahwa kita sendiri lupa akan sejarah PSSI ini terutama founding father daripada organisasi ini.

Adakah kita terutama kawan-kawan suporter Indonesia yang selalu meneriakkan turunkan NH kenal dengan Soeratin Sosrosoegondo ? Soeratin Sosrosoegondo adalah warga negara Indonesia, lahir di Yogyakarta pada tanggal 17 Desember 1898 beliau berasal dari kalangan terpelajar, ayahnya adalah R. Soesrosoegondo, seorang guru pada Kweekscholl dan juga penulis buku Bausastra Bahasa Jawi sedangkan Ibunya Soeratin, R.A. Srie Woelan adalah adik kandung dari Dr. Soetomo pendiri Budi Utomo. Beliau menamatkan sekolahnya di Koningen Wilhelmina School di Jakarta, kemudian Soeratin belajar di Sekolah Teknik Tinggi di Hecklenburg dekat Hamburg, Jerman pada tahun 1920 dan lulus dengan gelar insinyur sipil pada tahun 1927.

Sekembalinya dari Eropa pada tahun 1928, ia bergabung dengan sebuah perusahaan konstruksi terkemuka milik Belanda dan membangun antara lain jembatan serta gedung di Tegal dan Bandung. Pada tahun 1930 inilah realisasi konkret dari peristiwa Sumpah Pemuda 1928 nasionalisme itu coba dikembangkan melalui ajang olah raga, khususnya sepak bola seperti halnya Om-nya, Dr. Soetomo yang berkeliling Pulau Jawa untuk menemui banyak tokoh dalam rangka menekankan pentingnya pendidikan dan kemudian berlanjut dengan pendirian Budi Utomo beliau pun banyak melakukan pertemuan dengan tokoh sepakbola pribumi di Solo, Yogyakarta, Magelang, Jakarta dan Bandung, pertemuan ini sendiri di lakukan secara sembunyi-sembunyi untuk menghindari sergapan dari Intel Belanda.

Pada tanggal 19 April 1930 beberapa tokoh dari berbagai kota berkumpul di Yogyakarta untuk mendirikan sebuah organisasi yang diberi nama PSSI ( Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia) dimana istilah “Sepakraga” diganti dengan “Sepakbola” dalam kongres PSSI di Solo pada tahun 1950 dan selama 11 tahun berturut-turut Soeratin menduduki Ketua Umum, akibat dari keberadaan dan mengurusi PSSI, Soeratin keluar dari perusahaan Belanda dan mendirikan usaha sendiri. Setelah Jepang menduduki Indonesia dan perang kemerdekaan terjadi, kehidupan daripada Soeratin menjadi sangat sulit dimana rumahna diobrak-abrik oleh Belanda, ia kemudian aktif dalam Tentara Keamanan Negara dengan pangkat Letnan Kolonel. Beliau meninggal dunia dalam kesulitan ekonomi pada 1 Desember 1959.

Itulah sekilas tentang bapak bangsa pendiri PSSI, dan lebih tragisnya adalah di saat kita menyuarakan “turunkan NH’ atau “ Katakan TIDAK untuk seorang napi mimpin PSSI” dan masih banyak lagi atau PSSI dengan arogannya mengatakan bahwa Liga Primer Indonesia adalah ilegal, kita TIDAK SADAR baik otak dan nurani kalau makam beliau yang berada di TPU Sirnaraga Blok A, Jalan Pajajaran, Bandung kondisinya memprihatinkan bahkan pagar-pagarnya pun yang melindungi makam ini sudah terlihat karatan dan keropos.

Seperti inikah yang di namakan cinta sepakbola, cinta hanya pada pemain, permainan dengan mimpi-mimpi besar TEMBUS Piala Dunia, tetapi di sisi lain kita TIDAK PERNAH memperhatikan sedikit pun seorang manusia yang telah berjuang setengah mati menghindari dari serbuan intel dan tentara Belanda demi harga diri bangsa ini terutama sepakbola bahkan matinya pun dalam keadaan ekonomi sulit, inikah cara kita menghormati pendiri PSSI dengan membiarkan makamnya terbengkalai dan baru di kunjungi ketika PSSI berulang tahun, atau beliau ulang tahun atau ketika media mengangkatnya begitu ? bahkan PSSI pun sudah tiga tahun terakhir TIDAK LAGI memperhatikan makam ini baik dalam kunjungan atau biaya perawatan !!

Mungkin di alam baka sana pun Soeratin akan menangis dan marah sekeras-kerasnya karena apa yang ia cita-citakan kini musnah dengan arogansi daripada seorang NH yang tidak mau turun tahta, begitu juga kita sebagai suporter hanya memetingkan nasionalisme yaitu sepakbola bisa maju TETAPI di internal sendiri atau hubungan dengan sesama suporter TIDAK BISA di jaga terutama kalangan akar rumput..

Maafkan kami bung Soeratin yang tidak bisa mewujudkan cita-citamu ketika engkau mendirikan PSSI ini…maafkan kami…

JAS MERAH-JAngan Sekali-kali MElupakan sejaRAH !!!

Taman Menteng, 250111 14:50
Rhesza
Pendapat Pribadi

Dan Mall-lah Yang Jadi Pemenangnya



Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf.

Kalau bicara tentang sepakbola Indonesia maka tidak akan ada habisnya dan selalu muncul isu-isu baru seperti sebelum Piala AFF bergulir, maka isu tentang penurunan Ketum PSSI tetapi begitu Piala AFF bergulir maka isu itu sendiri bergeser sedikit karena para pecinta sepakbola terbuai oleh “rayuan”dari PSSI lewat penampilan sempurna dari Timnas tetapi kesempurnaan dan “rayuan” itu kembali ke isu semula yaitu penurunan Ketum PSSI setelah timnas mendapatkan hadiah “ kemenangan TANPA Piala” dan isu itu sampai sekarang.

Tetapi dari isu besar itu sepertinya para pecinta sepakbola kita dan tentunya PSSI tidak menyadari akan hal-hal yang kecil yang sebenarnya hal-hal kecil inilah yang bisa membuat sejarah yaitu Lapangan, apakah PSSI dan kita semua pecinta sepakbola Indonesia tentang kabar yang kurang mengenakkan dari sebuah tempat di kawasan Mangga Besar dimana Mahkamah Agung-MA memutuskan lapangan bola milik UMS yaitu Lapangan bola Petak Singkian untuk di eksekusi melalui Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat. Peristiwa peng-eksekusian ini tidak di pantau oleh LSM yang bergerak di bidang olahraga atau pun pejabat negeri ini yang membidangi olah raga seperti jajaran Menpora atau KONI-KOI bahkan PSSI sekalipun acuh atau cuek terhadap eksekusi ini bahkan tidak ada pembelaan atau penolakan keras terhadap putusan ini, padahal lapangan ini sudah di gunakan SEBELUM Indonesia merdeka yaitu tahun 1935.

Lapangan UMS mungkin lapangan paling tertua di Indonesia dan dari lapangan ini sudah banyak pemain-pemain Indonesia meraih prestasi demi nama Indonesia, Garuda dan Merah Putih sebut saja Asisten Pelatih Timnas, Widodo C. Putro sebelum menjadi pemain top bahkan mendapatkan predikat GOL SEPANJANG ABAD 20 ketika Piala Asia di UEA tahun 2000 belajar, berlatih sepakbola di lapangan ini, kemudian ada 3 anggota Tim Olimpiade Legendaris Melbourne 1956 yang berhasil menahan tim kuat kala itu Uni Sovyet berasal dari lapangan ini sebut saja Tan Liong Houw, Kwee Kiat Sek dan Pwa Sian Liong bahkan pelatih legendaris negara ini yang juga seorang dokter gigi, Endang Witarsa pun menghabiskan sisa hidupnya di lapangan ini

Awal sengketa lapangan ini berdasarkan dari beberapa media yang penulis baca adalah dimana Petak Singkian ini didirikan pada tahun 1905 dan dipakai oleh Klub United Makes Strength-UMS sejak tahun 1935, sebenarnya pemilik dari lapangan ini sudah menjualnya ke pihak UMS sejak tahun 1954, tetapi karena beberapa teknis sehingga terjadi silang sengketa yang berakhir dengan penyitaan seperti yang tersaji oleh beberapa media.

Kejadian penyitaan lapangan UMS mengingatkan penulis pada tahun 2006 dimana ada stadion bersejarah yang harus menjadi korban daripada penguasa dan pengusaha negeri ini, siapa yang tidak kenal dengan Vios Veld sebuah lapangan yang berdiri tahun 1921 oleh dua arsitek asal Belanda, PAJ Moojen dan FJ Kubatz yang berlokasi di HOS Cokroaminoto-Menteng, Jakarta Pusat, lapangan yang lebih di kenal sebagai stadion menteng ini telah melahirkan beberapa pemain nasional sebut saja Anjas asmara, Iswadi Idris hingga pelatih Persija saat ini, Rahmad Dharmawan tetapi nasib lah yang merubah itu semua di mana pada tanggal Rabu 27 Juli 2 006 Pukul 07.30 stadion yang menjadi sejarah sepakbola negara ini terutama DKI Jakarta rata dengan tanah dan sekarang berubah menjadi sebuah taman dan kantor militer..

Tetapi itu lah negara ini ketika uang yang berasal dari kantong manusia-manusia yang ngaku orang Indonesia tetapi muka dan cara bicaranya bukan orang Indonesia berbicara maka sejarah atau suatu perabadan akan hilang dan para pejabat yang berkepentingan pun hanya diam dan senyum ketika di pertanyakan ketika aksi itu terjadi.

Kalau sudah seperti ini, masih kah kita meng-klaim kepada masyarakat sepakbola dunia bahwa negara kita negara pecinta sepakbola atau negara gila bola sementara di negara kita sendiri yang namanya lapangan sepakbola saja yang layak kita tidak punya dan yang kita punya jajaran bangunan mewah dengan lampu kerlap-kerlip dengan kaca bening yang memuat barang-barang seperti tas, baju merek Channel, Louis Vitton benar tidak ?!

Jangan banyak bicara “ Ini Kandang Kita” atau nyanyi “ Garuda di Dadaku” atau “ Turunkan Nurdin Halid” atau “ W cinta Timnas dan ISL tapi tidak dengan PSSI “ kalau lapangan sepakbola saja kita harus MENGALAH dengan yang namanya Mall, KONDOM-unium ATAU kita BARU TERSENTUH dan SADAR ketika SATU-SATUnya stadion kebanggaan negara ini Gelora Bung Karno-Senayan mengikuti apa yang terjadi di Menteng dan Petak Singkian ?!

JAS MERAH- JAngan Sekali-kali MElupakan sejaRAH !!

Taman Galaxy, 220111 15:30
Rhesza
Pendapat Pribadi

Jumat, 07 Januari 2011

Yth : Yang (tidak) Mulia Tuan Nurdin Halid


Yth : Yang (tidak) Mulia Tuan Nurdin Halid, Yang (tidak) Mulia Tuan Nugraha Besoes, Yang (tidak) Mulia Tuan Nirwan Dermawan Bakrie, Yang (tidak) Mulia Tuan Andi Darussalam Tabusala.
- Ditempat-


Salam Olahraga

Apa kabar bapak-bapak sekalian. Saya adalah pecinta sepak bola baik internasional ataupun nasional tetapi kali ini mungkin kegundahan saya sebagai pecinta sepak bola Indonesia. Satu bulan kemarin anda berhasil membuat semua permasalahan di negara ini mulai dari rapat rakyat soal RUU Istimenwa Yogyakarta, Gayus Tambunan, lahar dingin Merapi dan erupsi Bromo, Bencana Wasior, Mentawai hilang karena gelaran Piala AFF Suzuki 2010.

Kemenangan 5-1 atas saudara yang mengaku sekandung tetapi bermental pencuri, Malaysia berhasil membuat rakyat terperangah, kemudian mengalahakan team “kemarin sore” yang pernah mengalahkan kita di ajang SEA GAMES, Laos dengan skor telak 6-0 dan terakhir melawan negeri terkuat di Asia Tenggara, Thailand dengan skor tipis 2-1 kemudian lolos ke semifinal dengan mengalahkan dua kali 1-0 melawan team yang kata anda adalah team setengahnya timnas Inggris dan masuk final dimana kita ketemu lagi denagan saudara yang mengaku sekandung bermental pencuri, kita kalah telak 3-0 dimana banyak beredar katanya kekalahan itu karena faktor laser padahal memang fisik pemain kita yang sudah drop, dengan lantang banyak masyarakat mengatakan bahwa timnas kita akan membalas kekalahan ini dan memang benar kita menag 2-1 di Gelora Bung Karno tetapi kita tidak dapat memegang Piala AFF itu !

Akibat pesta hajatnya pesepakbola Asean ini hampir setiap jalan banyak menjumpai orang-orang yang mengenakan kaus berwarna merah dengan garis hijau di lengan dengan nama Irfan Bachim atau Christian Gonzales di punggung mereka, akibat ini juga banyak kalangan remaja puteri yang tadinya tidak peduli dengan sepakbola Indonesia tiba-tiba muncul begitu aja di jejaring sosial seperti tuider, facebook menyebutkan nama Irfan bahkan mereka rela berpanas matahari di pinggir lapangan tempat timnas sedang berlatih sambil berteriak-teriak menyebutkan nama Irfan sesekali mengambil gambar bintang favoritnya melalui telepon selular mereka atau rela merogoh kocek mereka untuk membuka kamar hotel di hotel yang menjadi tempat menginap para timnas ini agar bisa melihat dengan jelas pemain favoritnya.

Bung Nurdin saya sebagai pecinta sepakbola terutama sepak bola Indonesia malu melihat kondisi sepak bola Indonesia sekarang ini jika melihat negara-negara yang sebenarnya luas negaranya tidak besar Indonesia seperti contoh Selandia Baru yang luas wilayahnya HAMPIR SAMA dengan luas wilayah Jakarta Pusat bisa tembus dan menahan imbang team besar Italia sedangkan kita ? boro-boro main di Piala Dunia ajang terkecil dari kalender sepakbola internasional saja seperti Piala AFF saja kita kalah, apakah ini juga anda alami ?

Saya mengenal sosok anda dan teman-teman anda itu sudah dari jaman saya masih mengenakan seragam putih merah dimana anda memulai pekerjaan di dunia sepakbola ketika menjadi manager team dari kampung halaman anda yaitu PSM Makassar kemudian masuk timnas dan sampai sekarang menjabat Ketua Umum PSSI tetapi kalau di tanya apa prestasi anda penulis pun sampai sekarang tidak bisa menemukan prestasi anda di semua harian olahraga atau menuliskan di situs pencari macam Google.com yang ada “prestasi” anda di luar dunia sepak bola yaitu menjadi kriminal dan dua kali harus check-in di hotel prodeo.

Anda di lantik sebagai Ketua Umum Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia-PSSI tanggal 21 Oktober 2003 hingga saat ini dimana anda sudah dua periode memimpin organisasi sepakbola Indonesia tetapi kok selama anda dua periode memimpin TIDAK ADA SATUPUN gelar prestasi yang di torehkan timnas untuk rakyat Indonesia ? kemudian selama anda dua periode memimpin organisasi sepakbola Indonesia TIDAK ADA SATUPUN pertandingan liga baik itu Liga Indonesia yang sekarang bernama Indonesia Super League-ISL sampai divisi utama sampai wasit meniupkan peluit tanda berakhir pertandingan DENGAN SEMANGAT FAIR PLAY dalam artian kedua kesebelasan baik itu pemain, pelatih dan officialnya baik itu menang atau kalah selalu tersenyum dan menerima apa yang ada selama 90 menit itu pasti selalu rusuh entah itu wasit dikejar-kejar layaknya copet pasar atau pemain bertawuran dengan pemain atau official team lawan atau penonton yang menjebol stadion karena tidak mempunyai tiket tapi pengen nonton, bisa anda menjelaskan kepada saya dan juga ratusan pecinta sepakbola Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke dari Miangas hingga Pulau Rote ?

Saya acungi dua jempol kepada anda terhadap ide-ide cemerlang soal kemajuan sepakbola Indonesia misalnya membentuk program pembinaaan usia muda seperti kita ketahui seperti Baretti, Primavera yang di titipkan ke klub Sampdoria atau program pemusatan latihan U-23 di Belanda dengan arahan pelatih timnas U-21 Belanda sampai pada program timnas Indonesia U-19 di liga Uruguay tetapi pertanyaan sekarang adalah HASIL dari program-program itu kemana pak dalam artian prestasi ? logikanya semua program ini kalau benar jalan seharusnya kita dalam hal timnas setidaknya kita sudah masuk final Piala Asia 4 kali dan Juara 1 kali atau Piala Dunia tembus 16 besar tetapi nyatanya ?

Bagi saya anda dan kawan-kawan saat ini TIDAK LEBIH dari seorang pecundang atau peribahasa Bagai Punduk Merindukan Bulan, anda ini selalu menebar iming-iming prestasi membuat semua orang terbuai dengan rencana-rencana anda tetapi hasilnya NOL BESAR !! Banyak yang meminta anda mundur tetapi anda menolaknya dengan alasan PSSI itu seperti negara dimana anda di angkat berdasarkan konstitusi dalam hal ini pengurus cabang PSSI di Indonesia, tetapi apakah anda tidak malu ketika semua orang meminta anda mundur tetapi anda tetap pada pendirian anda bahwa anda mundur berdasarkan hasil kongres yang kabarnya anda mundur sampai Desember 2011 dengan alasan takut mengganggu persiapan timnas Indonesia ?

Kalau anda laki-laki jantan seharusnya anda mundur tanpa harus diminta atau lewat kongres karena anda jelas-jelas TIDAK BISA memberikan prestasi yang menjanjikan bagi rakyat Indonesia, lihat saja Piala AFF yang porsi dunia sepakbola internasional tidak lebih seperti kejuaraan Piala CAMAT saja kita TIDAK MAMPU !!

Kiranya anda bisa mencontoh pemimpin-pemimpin negara di dunia yang mengundurkan diri karena tidak mampu dalam pekerjaannya atau malu, seperti Menteri Keuangan Jepang yang mundur karena malu memberikan keterangan pers dalam keadaan mabuk ketika mengikuti acara forum ekonomi internasional, memang awalnya beliau di cemooh seluruh masyarakat Jepang tetapi akhirnya dia sekarang di hormati karena mau mengakui kekurangannya dan mundur dan sekarang banyak orang Jepang yang menghormatinya. Atau mencontoh keteladanan Presiden Amerika Serikat Richard Nixon yang mundur karena kasus Water Gate dalam pemilihan umum Amerika.

Apakah anda tidak pernah mendapatkan keluhan dari istri, anak, mantu atau cucu anda ketika mereka sedang bertemu dengan koleganya dan setengah berbisik dalam sebuah forum “ itu kan anaknya ketum PSSI yang ga pernah berikan Indonesia juara “ atau “ itu kan istrinya ketum PSSI yang kerjaan mengumbar janji manis, omdo tapi ga ada prestasinya “ atau anda mendengarkan kemudian membuangnya begitu saja kayak angin lalu ?

Mau sampai kapan pak anda berpendirian seperti ini, rakyat saat ini sudah tidak mau lagi melihat bapak dan kawan-kawan yang ada di gedung itu, atau anda baru mundur ketika semua pertandingan liga itu berakhir dengan darah, gas airmata dan kematian seperti kasus antrian tiket final AFF ? atau sampai negara ini di skorsing oleh FIFA, AFC ? atau sampai kapan pak ? atau sampai gedung PSSI rata dengan tanah karena ulah pecinta sepakbola Indonesia yang sudah muak dengan anda, saya tahu ketika kasus antrian Tiket AFF kemarin anda dan kawan-kawan sebenarnya ketakutan bukan ketika massa mendatangi kemudian merusak kantor hingga membakar bendera PSSI yang akhirnya anda semua memberikan massa tiket basi yang dibelakangnya ada nomor urut walaupun akhirnya itu juga tidak berfungsi.

Semoga surat terbuka ini bisa menjadi bahan renungan atau cerminan untuk anda supaya berpikir untuk mundur, pak saya cuma mau bilang kalau seekor keledai itu HANYA BUTUH 2 KALI JATUH PADA LUBANG YANG SAMA LALU BANGKIT sementara timnas kita ? berapa kali jatuh dalam artian kalah dalam 10 tahun terakhir, kalau ada binatang yang LEBIH HINA dan berkali-kali jatuh tetapi tidak bisa bangkit kembali MUNGKIN itu anda, 3 teman anda yang saya tulis di atas dan 23 pemain timnas beserta official.

Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih banyak. Mohon maaf kalau ada kata-kata yang kurang berkenan tetapi itu kenyataannya yang saya lihat semoga Tuhan memaafkan kesalahan anda berempat ketika tidak ada lagi di dunia ini.

Hormat Saya

Rhesza
Pecinta sepak bola




Kenapa Kau Marah PSSI terhadap LPI

Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagaian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf.


Tidak terasa hasil-hasil pemikiran-pemikiran daripada sekelompok orang di negara ini yang ingin memajukan sepakbola Indonesia akan terwujud dalam hitungan hari kedepan. Iya pemikiran itu bernama Liga Primer Indonesia.

Liga Primer Indonesia adalah sebuah liga yang di bentuk oleh sekelompok orang di negara ini dengan satu tujuan yaitu memajukan sepak bola Indonesia walaupun sekelompok orang ini adalah (maaf) yang sakit hati dengan dunia sepak bola Indonesia yang semakin lama semakin tidak jelas arahnya.

Keberadaan LPI ini pun berbuah protes terutama dari organisasi sepakbola Indonesia, PSSI yang mengatakan bahwa keberadaan LPI ini tidak sesuai dengan pedoman dasar serta ilegal bahkan ada kelompok orang yang menganggap sinis akan keberadaan LPI sebagai kendaraan politik seorang pengusaha untuk menduduki kursi nomor satu di PSSI.

Pertanyaan penulis untuk PSSI adalah kenapa anda semua harus marah dengan adanya LPI ini memangnya anda sudah bisa apa terhadap sepakbola Indonesia ? mungkin ada beberapa pertanyaan kepada para pengurus PSSI ini kalau memang menganggap keberadaan LPI ini ilegal bahkan mengancam para pemain di klub-klub yang berkompetisi di LPI tidak akan masuk dalam timnas, padahal timnas itu adalah tim yang berisikan pemain-pemain berkualitas melalui kompetisi dan pemain itu adalah WARGA NEGARA INDONESIA !!

Pertanyaannya adalah, pertama APA SICH yang sudah diberikan oleh PSSI terutama Ketumnya yang sudah 2 PERIODE dalam hal ini Liga Indonesia selama 13 jilid sejak tahun 1994 yang bernama Liga Indonesia hingga saat ini kepada pecinta sepak bola Indonesia ? kedua, SUDAH BISA kah PSSI dan PT. Liga Indonesia selama 13 jilid Liga Indonesia dan 3 tahun Indonesian Super League ini MEN-DAMAI-KAN perselihan antara Viking-bobotoh dengan Jak Mania atau Benteng Viola dengan pecinta Persikota ketika klub mereka bertanding atau paling tidak kedua massa pecinta klub ini ketika masuk, di dalam hingga ke luar tetap tersenyum manis tanpa memikirkan hasil dari pertandingannya ? ketiga, ADAKAH pemain dari kompetisi Indonesia Super League yang SUDAH MEMASUKI jilid 3 ini dilirik oleh liga-liga Eropa seperti Ajax Amsterdam atau liga-liga Asia seperti Gamba Osaka-Jepang ? keempat, SUDAH BERAPA BANYAK pemain muda usia 19-23 tahun yang ada di klub peserta kompetisi Indonesian Super League YANG DI MAINKAN penuh selama 90 menit dalam satu pertandingan ?

Penulis pun yakin jawaban daripada para pengurus PSSI ini terhadap pertanyaan penulis tidak jauh berbeda dengan jawaban “ngeles” ala pejabat-pejabat negara ini ketika melihat sesuatu yang salah tetapi ditutup-tutupi benar tidak ?! seharusnya PSSI ini malu karena apa yang di lakukan oleh LPI ini adalah CERMIN daripada kebusukan PSSI kita bisa lihat masih hari ini apakah mereka MAU MEMBUKA DIRI kepada masyarakat soal keuangan PSSI, statuta atau program kerja mereka yang sesuai dengan kerja FIFA ? TIDAK ?! dengan terbukti seperti kasus tiket AFF yang tidak jelas bahkan sampai men-TUMBAL-kan nyawa manusia tetapi hasilnya apa ? sampai detik ini pun kita tidak tahu berapa ratus milyar hasil penjualan tiket tersebut dan berapa banyak lembar tiket yang terjual murni (bukan termasuk tiket untuk Presiden dan pejabat negara)

Contohlah kasus FORKI dan INKAI mereka berbeda tetapi akhirnya sejalan dan seirama demi satu tujuan yaitu memajukan olahraga karate di Indonesia, kenapa PSSI tidak belajar dari konflik FORKI dan INKAI ini toh LPI ini tidak NGEMIS kepada PSSI soal dana atau apapun benar tidak ?! atau PSSI ini tunggu di tinggal oleh para pecinta sepakbola dan barisan sponsor yang lebih menikmati LPI yang LEBIH DEWASA, LEBIH PROFESSIONAL baru sadar dan menyerah ?

kita lihat saja seberapa panjang napas dari PSSI ini menghadapi LPI, kalau sampai PSSI melaporkan kepada Polisi soal LPI padahal secara tidak langsung juga PSSI terkena UU Persaingan Usaha karena MEMONOPOLI kompetisi sepakbola secara sepihak dan tidak memberikan tempat untuk yang lain dan akhirnya terkuak juga praktek-praktek kotor dari PSSI ini..

Salam Revolusi dan Pengusiran serta Pencabutan Hak-hak sebagai WNI daripada NH, NB, ADT, NDB !!

Menteng Std, 050111 16:30
Rhesza
Pendapat Pribadi

Curiga Dengan IANI

Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagaian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf.

Akhir-akhir ini sepertinya sepakbola menjadi perbincangan paling hangat di Indonesia bahkan sampai sama dengan pemberitaan harga cabai yang naik atau hampir sama dengan pembicaraan seputar paspor yang digunakan untuk berplesiran sejenak dari kehidupan hotel prodeo.

Perbincangan sepakbola yang hangat itu adalah adanya sebuah kompetisi yang prakarsai oleh sekelompok orang yang ingin memajukan sepakbola Indonesia, nama kompetisi itu adalah Liga Primer Indonesia atau LPI. Kompetisi alternatif ini pun di komentari banyak pihak baik yang pro maupun yang kontra bahkan PSSI pun langsung dengan lantang mengatakan bahwa LPI itu adalah kompetisi ilegal dan mengancam klub, pemain atau perangkat pertandingan yang membantu kegiatan LPI akan mendapatkan sanksi keras.

Penolakan LPI ini oleh PSSI mendapatkan dukungan dari Ikatan Atlet Nasional Indonesia-IANI yang mana dalam keterangan pers-nya mengatakan bahwa hampir sama dengan PSSI bahwa LPI ini ilegal dan meminta Menteri Negara Pemuda dan Olahraga agar tegas dan mengambil sikap terkait dengan LPI.

Tetapi menurut penulis agak geli dan ketawa dengan keterangan pers dari organisasi ini yang di ketuai oleh mantan pemain bulu tangkis, Icuk Sugiarto. Kenapa penulis geli dan ketawa melihat keterangan pers dari IANI ini adalah, Pertama ; benarkah pernyataan ini berdasarkan semua suara dari semua atlet nasional termasuk yang sepuh ? kedua, benarkah organisasi ini RESMI ? dan ketiga, benarkah hasil keterangan pers tentang keberadaan LPI ini MURNI dari nurani atau adanya ORDER dari pihak tertentu.

Apakah IANI ini adalah badan resmi ? karena menurut penulis keberadaan IANI ini agak janggal, kenapa janggal ? kita bisa lihat ketika LPI mau bergulir mereka tanpa angin tanpa hujan tiba-tiba muncul begitu saja, tetapi kalau mereka mengatakan RESMI nantinya setelah melihat tulisan ini, pertanyaan penulis adalah KEMANA anda wahai manusia-manusia ini yang tergabung dalam Ikatan Atlet Nasional Indonesia ini ketika medio tahun 200-an ketika adanya perselisihan antara FORKI-INKAI dan FTKI yang sekarang dua organisasi olahraga karate ini yaitu FORKI dan INKAI ini berdiri sejajar setelah diakui oleh KONI dan negara ? KEMANA ?

Kemudian penulis juga tidak yakin dengan keterangan pers dari organisasi ini BENAR-BENAR MURNI dari hati mereka, bukan maksud memojokkan atau merendahkan mereka, tetapi dengan segala rasa hormat penulis terhadap mereka yang telah mengabdi kepada negara ini tetapi kita bisa lihat DIMANA kegiatan daripada sang ketua organisasi ini adalah mengepalai sebuah klub bulu tangkis yang pemiliknya adalah dinasti keluarga LUMPUR LAPINDO dan salah satu dari anggota organisasi ini juga pernah mengurusi sebuah turnament tennis yang diprakarsai oleh keluarga LUMPUR LAPINDO !! dan seperti kita tahu bagaimana keluarga lumpur lapindo ini selalu eksis dalam hal dunia olahraga terutama sepakbola dimana salah satu anggota keluarga ini menduduki posisi nomor dua di PSSI dan juga memiliki klub sepakbola yang (katanya) memiliki sertifikat standar Eropa.

Kalau melihat ini boleh kah penulis mengatakan kalau organisasi ini TIDAK LAIN TIDAK BUKAN kepanjangan tangan daripada keluarga lumpur lapindo, karena KALAU MEMANG MURNI dari mereka KENAPA ketika konflik FORKI dan INKAI tahun 2000-an mereka tidak ada dan melakukan kegiatan yang sama seperti sekarang ? benar tidak ?!

Jadi menurut penulis, LPI entah itu ilegal atau tidak itu hak semua orang tetapi kiranya sebelum mengatakan ilegal atau tidak kita BERCERMIN dahulu apakah pantas kita mengatakan LPI itu ilegal tetapi di dalam kata-kata ilegal terselip agenda-agenda terselubung seperti kasus SARAPAN PAGI timnas yang kemarin-kemarin membuat heboh !!

Salam Revolusi dan Pengusiran serta Pencabutan Hak-hak sebagai WNI daripada NH, NB, ADT, NDB !!

Menteng Std, 050111 11:30
Rhesza
Pendapat Pribadi

Ngaca PSSI…NGACA !!!


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagaian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf.

Setelah kemarin kita di hebohkan dengan pesta hajat sepakbola ASEAN kali ini kita di hebohkan kembali yaitu adanya liga sepak bola baru di Indonesia yang membuat sebagian orang terutama pecinta sepakbola Indonesia bertanya-tanya dan juga ada yang membuat seperti panik serasa dunia mau kiamat dan orang-orang yang panik ini adalah PSSI.

Iya, kalau tidak ada halangan rencananya tanggal 8 Januari 2011 adalah kick-off daripada Liga Primer Indonesia dan apa itu Liga Primer Indonesia yang bisa membuat PSSI seperti kebakaran jenggot ? Liga Primer Indonesia atau bisa di sebut LPI adalah sebuah liga yang memberikan tayangan atau pertandingan yang beda daripada liga yang ada di PSSI seperti ISL dimana LPI bertumpu pada professionalisme dan kemandirian.

Pertanyaan sekarang adalah apakah LPI ini ilegal seperti yang dikumandangkan oleh para pengurus PSSI seperti Nurdin Halid, Nugraha Besoes, Nirwan Bakrie hingga Max Boboy ? menurut penulis apa yang di katakan oleh para petinggi-petinggi PSSI ini sebagai bentuk ketakutan mereka ketika nantinya LPI ini bisa menggeser posisi ISL dari segi apapun misalnya share rating di stasiun televisi atau lebih banyak penonton yang menyaksikan LPI daripada ISL !

Bukan maksud membandingkan antara LPI dan ISL tetapi kiranya dengan pembandingan ini kita bisa lihat mana yang bagus dan mana yang tidak bukankah kompetisi sepakbola itu bertujuan atau bermuara satu yaitu mengangkat nama negara di pentas dunia dalam hal ini timnas benar tidak ?

LPI memang sebuah kompetisi yang berasal dari gagasan orang-orang atau kelompok yang menurut penulis agak sakit hati dengan PSSI tetapi punya satu visi yaitu mengangkat sepakbola Indonesia untuk berprestasi. Bagi penulis apa yang digagas oleh kawan-kawan kelompok sakit hati PSSI ini dalam membentuk LPI perlu kita acungi jempol dan penulis setuju dengan gagasan kelompok sakit hati tersebut.

Kita bisa lihat bagaimana liga Indonesia yang dimulai pada tahun 1994 sampai saat ini yang berganti nama menjadi Indonesian Super League apakah setiap tahun meningkat indeksnya ? coba lihat dari segi penonton, apakah setiap tahun jumlah penonton meningkat ? memang meningkat tetapi apakah setiap tahun penonton itu selama 90 menit pertandingan dan keluar dari stadion dengan muka cerah dan puas ketika timnnya menang atau kalah telak, seimbang dengan harga tiket dan penampilan klub tersebut ? ada yang jawab ya tetapi pasti banyak yang jawab tidak karena kita bisa lihat berapa persen penonton yang melakukan aksi anarkis mulai dari melempar botol air mineral ke dalam lapangan sambil masuk dan membakar papan iklan, memukul wasit dan hakim garis ? pasti di atas 50 persen bukan ?!

Atau apakah sudah professional kah para pemain, wasit beserta perangkat pertandingan menurut pedoman dasar FIFA soal FAIR PLAY ketika di lapangan mulai Liga Indonesia jilid pertama hingga sekarang bernama ISL ? TIDAK !! kita bisa lihat bagaimana para pemain dengan arogannya memukul wasit seperti layaknya pencopet yang tertangkap, meludahi wasit, berkelahi antar pemain tetapi apakah itu di hukum keras oleh PSSI dalam hal ini Komisi Disiplin ? TIDAK, sudah banyak ke-TIDAK PROFESSIONAL daripada PSSI seperti pada kasus PEMAIN BULE yang kemarin main di timnas AFF dimana pada tahun 2004 pemain ini melakukan tindakan PEMUKULAN terhadap pengurus Persita Tangerang, kemudian tahun 2006 melakukan tindakan PENANDUKAN kepada penyerang PSIS Semarang, Emanuel de Porras. Tahun 2007 melakukan PERKELAHIAN dengan pemain belakang Persija, Abanda Herman dan terakhir pada tahun 2008 melakukan tindakan PEMUKULAN terhadap pemain belakang PSMS Medan, Erwinsyah Hasibuan bahkan ini sampai masuk dalam penyelidikan Kepolisian di Medan, tetapi APAKAH hukuman itu di jalankan ? TIDAK karena BULE ini dapat AMPUNAN dari sang ketua ! INIKAH yang dinamakan Professional fair play menurut PSSI ?!

Kemudian bagaimana dengan keuangan dari klub yang bermain di Liga Indonesia mulai dari 1994 hingga sekarang berganti dengan nama ISL, apakah dana mereka hasil dari usaha mereka seperti layaknya klub-klub di Eropa dimana pendapatan klub berasal dari penjualan saham, sponsorship, penjualan merchandise, tiket pertandingan, hak siar televisi ? ternyata TIDAK ?! klub-klub sepakbola di Indonesia atau yang bermain di Liga Indonesia sampai berubah nama menjadi ISL TIDAK LEBIH SEPERTI BAYI dimana pasokan keuangan mereka berasal dari APBD-Anggaran Pembangunan Belanja Daerah, yang mana dana ini sebenarnya adalah dana untuk operasional sehari-hari daripada pemerintahan daerah dalam mendukung pembangunan daerah seperti perbaikan jalan, sarana pendidikan tetapi nyatanya pemerintah daerah kita mempunyai prinsip hidup LEBIH BAIK jalan banjir, LEBIH BAIK gedung sekolah lebih hina daripada kandang babi DARIPADA sepakbola daerahnya di hina daerah lain karena tidak bisa prestasi apalagi membeli pemain bagus dan itu sampai sekarang terjadi benar tidak ?

Dalam hal keuangan pun PSSI ataupun Liga Indonesia tidak transparan, kita bisa lihat apakah PSSI terbuka kepada umum berapa banyak dana yang masuk dari sponsor utama ISL dan juga media dalam hal hak siar pertandingan ? kemudian apakah TERBUKA KEPADA UMUM berapa persen dana dari sponsor utama ISL ini untuk klub atau operasional liga dan timnas selama satu musim ? TIDAK ! bahkan PSSI tidak berdaya dan lepas tangan dalam menengahi klub-klub yang sponsornya adalah kompetitor atau saingan daripada sponsor utama ISL dan itu selalu menjadi penyakit ketika memulai musim kompetisi baru.

Pertanyaan penulis sekaligus menantang PSSI termasuk Pengurus Cabang PSSI di Indonesia adalah ketika PSSI mengatakan bahwa LPI adalah kompetisi ilegal, BERANI KAH PSSI memberi jaminan kepada pecinta sepakbola kalau ISL itu liga terbaik yang ada di Indonesia ? BERANI KAH PSSI membentuk timnas Indonesia hasil dari kompetisi ISL BUKAN BAGI-BAGI PASPOR buat bule-bule ? BERANI KAH PSSI membuat liga usia dini mulai dari liga U-10, U-15, U-17, U-20 sampai U-23 TANPA BERGANTUNG dari sponsor atau swasta ? BERANI KAH PSSI memberikan hukuman kepada pemain yang jelas-jelas melanggar semangat fair play ? BERANI KAH PSSI memberikan jaminan kepada masyarakat Indonesia TIDAK ADA LAGI pelemparan botol mineral ke arah lapangan, memukul wasit dalam sebuah pertandingan ? atau BERANI KAH Pengcab PSSI yang ada di daerah MEMINTA dan MEMAKSA MUNDUR NH, NB, ADT, NDB karena tidak pernah memberikan prestasi yang menjanjikan kepada masyarakat pecinta sepak bola Indonesia. Kalau ini bisa di JAWAB oleh PSSI dan Pengcab dengan bukti nyata di lapangan, BARU anda pengurus pusat dan cabang PSSI BOLEH MENGATAKAN LPI itu Liga ilegal selama pertanyaan dan tantangan penulis yang mungkin mewakili pecinta sepakbola Indonesia tidak bisa diterapkan dalam lapangan JANGAN ASAL NGOMONG !! itu sama saja MALING TERIAK MALING !!

Terakhir, untuk para pengurus Liga Primer Indonesia penulis mengucapkan selamat datang Liga Primer Indonesia beserta 19 anggotanya bermainlah dengan semangat fair play dan berikan pertandingan yang menarik dan professional kepada masyarakat Indonesia sesuai dengan pedoman yang dikeluarkan oleh FIFA dan AFC dan buat PSSI adalah NGACA memangnya anda semua sudah bisa berikan apa kepada masyarakat Indonesia ? kemenangan 5-1 atas Malaysia, 6-0 atas Laos, 2-1 atas Thailand, 2-0 ata Philipina dan 2-1 atas Malaysia tetapi TIDAK ADA GELAR gitu ?

Tekad penulis adalah SELAMA NH, NB, ADT, NDB MASIH DI PSSI dan di Indonesia penulis akan SELALU MENGACUNGI (maaf) JARI TENGAH dan JEMPOL KE BAWAH UNTUK TIMNAS dan ISL !!!

Salam Revolusi dan Pengusiran serta Pencabutan Hak-hak sebagai WNI daripada NH, NB, ADT, NDB !!

Menteng Std, 040111 11:30
Rhesza
Pendapat Pribadi

Ada Negeri Gila Bola Tetapi Tidak Ada Lapangan Bola

Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagaian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf.

Ada sebuah ungkapan daripada seorang Kuntowijoyo yang membuat penulis agak angkat dahi yaitu “ Muslim tanpa Masjid” tetapi ungkapan itu ada kaitan dengan kondisi sepak bola di negara kita, di penghujung tahun 2010 kemarin hampir seluruh rakyat Indonesia mulai dari ibu-ibu, bapak-bapak, para gadis, tua-muda selalu membicarakan soal keberhasilan timnas Indonesia walaupun akhirnya kalah-kalah juga. Negeri ini selama sebulan kemarin telah menjadi semacam sorga yang berwarna merah (walaupun banyak orang dan buku mengatakan bahwa sorga itu adalah putih ) dengan kaos atau atribut yang berwarna merah putih atau merah strip hijau seperti hiasan pohon natal.

Tapi bagi penulis turnament sepak bola se-ASEAN itu tidak jauh berbeda alunan musik yang di mainkan disk jockey-DJ hanya di depan saja hingar bingar setelah itu selesai atau kasarnya itu semua MIMPI ! negara kita tidak pernah sadar dari bangun serta tidak pernah dewasa dalam mengurusi yang namanya sepak bola, kalau kita bicara sepak bola maka komponen yang paling dan wajib ada dalam urutan teratas adalah LAPANGAN !! benar tidak ?! tetapi fakta di lapangan apakah ada ?

Republik Indonesia akhir tahun 2010 dan awal 2011 sangat berbeda dengan Republik Indonesia ketika jaman pemerintahan Ir. Soekarno hingga awal Soeharto memimpin, Indonesia ketika jaman pemerintahan Ir. Soekarno hingga awal Soeharto bisa mengatasi bahkan MENGAJARKAN bagaimana cara mengolah kulit bundar yang baik dan benar tersebut kepada tim Uruguay, Australia bahkan Jepang dan Korea Selatan karena saat itu lapangan bola ada di mana-mana, setiap ujung gang pasti ada lapangan sepakbola, bahkan penulis sering mendengarkan cerita orang tua bagaimana anak muda ketika itu banyak menghabiskan waktu sore dan luangnya dengan bermain bola. Setiap pukul 16.00 adalah waktu wajib untuk bermain sepakbola dan akan selalu ada suara riuh rendah dan teriakan daripada anak-anak ketika bermain bola hingga waktu Maghrib memanggil.

Itu kondisi Indonesia ketika tahun 1950-an hingga 1980-an lantas bagaimana dengan kondisi anak muda dan sepak bola di tahun 2011 ? ternyata sangat jauh berbeda walaupun sama, maksudnya ? memang masih tetap ada suara riuh rendah dan teriakan tetapi bukan dari lapangan sepakbola tetapi dari sebuah ruangan dimana ada dua anak sedang memegang semacam balok dari bahan plastik yang mana di dalamnya itu ada tombol-tombol yang diarahkan melalui kabel beraliran listrik ke monitor televisi atau PC dari monitor televisi atau PC ini menampilkan gambar animasi tiga dimensi sosok pemain bola, memang aneh permainan tetapi itulah permainan mereka di kala senggang atau sore hari. Kalau tidak itu mereka akan berkumpul di sebuah bangunan yang berhawa sejuk sambil melihat-lihat sebuah kaca yang dalamnya berisikan barang-barang entah itu tas, baju, buku bahkan manusia pun ada.

Pertanyaan kita sekarang, apakah kita harus menyalahkan anak-anak kecil ini ketika waktu luangnya harus bermain dengan monitor televisi atau PC bukan berada di luar rumah seperti kebiasaan orang tuanya dahulu ketika muda bermain sepak bola di lapangan ? anak-anak itu tidak salah YANG SALAH ADALAH KITA-KITA ini terutama para manusia-manusia yang memiliki banyak uang dan di otaknya selalu berorientasi keuntungan yang hanya untuk dia dan keluarnya. Kita bisa lihat Stadion Menteng yang ada di kawasan H.O.S Cokroaminoto dimana dahulu banyak sekali kegiatan dan turnament sepakbola untuk membina bibit pemain usia dini yang nantinya sekitar 10-20 mendatang akan seperti Bambang Pamungkas tetapi nyatanya ? stadion itu kini di sulap menjadi taman dan sebuah kantor militer, atau dulu banyak lapangan bola sekarang berubah menjadi apartement, mall, hotel atau komplek perumahan yang menggunakan nama asing padahal pemiliknya peranakan tapi SOK bilang warga pribumi.

Seperti kata musisi kawakan Iwan fals dalam sebuah lirik lagunya dimana sepakbola di awal-awal tahun 2000 hingga saat ini sama berharganya dengan sebongkah berlian yang belum di asah asal afrika, dimana kalau mau main bola (baca: futsal) harus jadi member selama setahun, kalau mau main sepakbola harus masuk sekolah sepak bola dan harus juga mengikuti serangkaian test yang tentunya juga memasukkan nominal Rupiah, padahal yang namanya bakat itu dari alam dan juga anak-anak yang berbakat ini rata-rata berlatar belakang ekonomi yang pas-pas-an bahkan ada yang tidak sekolah karena tidak sanggup membayar uang sekolah dan pembangunan.

Seperti contoh pemain sayap timnas kita, Octo kalau itu terasah dengan benar mungkin sekarang dia berdampingan dengan Messi atau CR-7 dalam bermain sepakbola tetapi nyatanya apa, kita bisa lihat kondisi ekonomi dari Octo ini yang mungkin juga mewakili ratusan-ratusan Octo-Octo kecil yang sebenarnya bakatnya bagus dan di atas rata-rata tetapi harus mengalah dengan yang namanya kondisi ekonomi !

JANGAN BICARA Ganyang Harimau Malaya, atau JANGAN BICARA tuan rumah Piala Dunia 2026 atau JANGAN BICARA emas SEA GAMES, JANGAN BICARA Juara Piala AFF 2012 atau JANGAN BICARA Timnas bisa kalahkan Jepang dengan skor telak kalau sampai saat ini saja di sekitar rumah kita TIDAK ADA LAPANGAN BOLA !! Coba kita lihat di Jakarta, ada berapa banyak lapangan bola (lapangan sebenarnya BUKAN tanah kosong yang sebagian saja berumput dengan masing-masing ujung di beri 2 tongkat bambu) ? pasti hitungan jari bukan ?

Penulis juga ragu dengan kebijakan daripada Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia berupa pembangunan 1000 lapangan sepakbola di seluruh Indonesia karena sampai sekarang kebijakan itu belum ada dalam bentuk nyata seperti peletakan batu pertama pembangunan 1000 lapangan sepakbola itu, seharusnya kalau mau Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga bekerja sama dengan Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Keuangan Republik Indonesia beserta Direktorat Jenderal Pajak dalam bentuk Surat Keputusan Bersama, seperti SKB 3 Menteri tentang tempat ibadah, dimana setiap provinsi atau mulai dari unit pemerintahan terkecil di negara ini yaitu Dusun atau RT sampai Ibukota Provinsi di seluruh Indonesia HARUS dan WAJIB menyediakan lahan kosong untuk lapangan bola seseuai dengan ketentuan yang ada seperti sistem drainase dan perawatan rumput serta pembinaan kompetisi usia dini. Dalam hal keuangan kiranya negara ini bisa menggunakan pos dana misalnya dari pajak, karena selama ini penulis tidak pernah melihat realisasi daripada hasil pajak, KALAU MEMANG pajak ini untuk pembangunan negara seharusnya TIDAK ADA LAGI sekolah-sekolah yang LEBIH HINA daripada kandang babi yang ada di pedalaman benar tidak ? atau TIDAK ADA LAGI penumpang berdesak-desakan kayak pepes di dalam busway atau shelter busway, benar tidak ?

Kalau ini di jalankan dengan konstisten dan bukan (maaf) HANGAT-HANGAT TAHI KERBAU seperti tabiat daripada negara ini, BOLEH LAH kita berucap dengan lantang, GANYANG HARIMAU MALAYA atau Piala Dunia 2022 KAMI AKAN JUARA, tetapi sebelum itu terrealisasi kan dengan sempurna dan nyata di depan mata maka negara dan sepakbola kita ini masih akan terus lebih hina dari apa seekor keledai KECUALI Republik Indonesia adalah negeri pesulap yang rakyatnya seperti kisah Harry Potter dimana mampu menjadikan negeri ini juara bola tanpa harus ada lapangan bola !!!

Salam Revolusi dan Pengusiran serta Pencabutan Hak-hak sebagai WNI daripada NH, NB, ADT, NDB !!

Taman Suropati, 030111 16:30
Rhesza
Pendapat Pribadi