Tampilkan postingan dengan label MDGs. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MDGs. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Oktober 2010

Antara AIDS dan Tifatul


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf

Setiap Menteri Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia, Yang Mulia Tuan Tiffatul Sembiring melakukan kegiatan “kicauan” (baca: Tweet) di twitternya pasti selalu mengundang kehebohan termasuk yang satu ini.

Kehebohan itu ketika sang menteri ini berkicau tentang HIV/ AIDS dimana ada beberapa yang menurut para twitter’s agak janggal dan sepertinya mencoba menggurui semua masyarakat karena merasa dia paling benar.

Ada beberapa point tweet yang menurut penulis dan (mungkin) janggal seperti kicauan beliau nomor dua dimana beliau mengatakan dengan mengutip dari sebuah harian ibukota dimana "Penyebab HIV/AIDS dr Kaum Gay Meningkat Tajam". Kata dokter: perilaku seks yg menyimpang adalah sbg penular virus tsb benar kah demikian ? kalau seperti ini dsara-dasar HIV/AIDS itu datang berarti DANGKAL sekali pemahaman seorang Menteri tentang HIV/AIDS padahal semua orang tahu bahwa penyebab penularan HIV/AIDS itu sendiri bukan Cuma hanya lewat kaum gay tetapi juga lewat penggunaan jarum suntik yang berlebihan oleh pengguna narkoba, selain itu juga salah satu dari pasangannya terinfeksi HIV/AIDS.

Kemudian satu hal yang menggelitik penulis dan (mungkin) semua orang adalah ketika tuidnya mengatakan bahwa kepanjangan AIDS itu adalah Akibat Itunya Dipakai Sembarangan, maksudnya apa coba ? dari semua soal tuider itu penulis hanya bisa berkata KOK BISA MANUSIA SEPERTI INI DIPILIH MENJADI MENTERI ?!

Kasus GA BANGET yang di lakukan oleh seorang Tifatul ini bukan yang pertama kalinya ia lakukan selama beliau menjabat sebagai menteri, mungkin kita semua tahu ketika awal-awal menjadi menteri dimana beliau langsung mengeluarkan perangkat hokum yang bernama Rancangan Peraturan Menteri atau kita kenal dengan RPM Konten dimana semua perangkat elekteronik seperti jaringan social pertemanan, blog dan lainnya akan di awasi oleh pemerintah jika di dalamnya terkait dengan pornografi dan penghasutan karena kalau tidak salah perangkat UU ini keluar ketika sedang marak aksi teroris, akhirnya kasus perangkat UU ini tidak terdengar lagi karena adanya gelombang “Tsunami” lewat jejaring social twitter yang dilontarkan masyarakat penikmat dunia maya, kemudian ada lagi kehebohan dimana ketika marak kasus video selangkangan artes sang menteri ini dengan berapi-api mengatakan akan mengawasi peredaran lalu lintas dunia maya bahkan dengan lantang akan menutup semua situs-situs atau apapun yang berkaitan dengan pornografi di internet dalam waktu dua bulan yaitu sebelum akhir Agustus atau sebelum hari pertama bulan puasa tetapi faktanya sampai satu minggu bulan puasa masih saja situs-situs pornografi baik itu web site atau blog yang terakses bebas, kemudian masih terkait dengan kasus video ini dimana sang menteri mencoba mengkaitkan dengan perumpamaan dalam agama..

Selain soal twitt-twittnya ada lagi kebiasaan beliau yang selalu memblokir orang-orang yang tidak berkenan dengan “omongan” beliau di jejaring social, setidaknya menurut penulis sudah ada dua orang yang di blok atau di coret dalam kumpulan tuidernya seperti Fadjroel Rahman dan sutradar Laskar Pemimpi, Monty Tiwa karena mereka mengkritik terhadap tuidernya sangat kontras sekali dimana negara kita sudah reformasi tetapi kok masih saja ada orang yang bermental menurut penulis seperti kumpulan pejabat-pejabat orde baru asuhan kakek cendana yang selalu benar dan tidak bisa di kritik apalagi dengan jantan mengeluarkan kata maaf dan sifat inilah yang mungkin ada dalam benak sang Menteri.

Kalau memang isu pergantian menteri dan rakyat boleh di suruh siapa yang harus di lengserkan maka penulis akan merekomendasikan menteri ini sebagai urutan pertama yang harus diganti oleh Presiden karena kredibilitasnya tidak sesuai dengan apa yang dibebankan ibarat halusnya ya seperti pejabat ABS gaji buta alias Asal Bapak Senang bergaji buta karena bingung apa yang harus di kerjakan walaupun sebenarnya latar belakang pendidikannya tidak jauh berbeda dengan pekerjaannya sekarang tetapi tetap bagi penulis beliau tidak berkualitas karena factor politis jadinya mau tidak mau harus di pilih benar tidak ?!

Apakah pejabat ini akan selalu membuat sensasi yang GA BANGET besok-besok atau sensasi yang GA BANGET ini menjadi sensasi terakhir sebagai pejabat (baca: di PECAT) ? kita lihat saja nanti..

Tifatul oh Tifatul….

Merdeka Selatan, 011010 17:05
Rhesza
Pendapat Pribadi

Rabu, 29 September 2010

SBY dan MDGs


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf

Pada tanggal 20-22 September 2010 di Markas Besar PBB New York lalu berlangsung Sidang PBB yang membahas tentang evaluasi sepuluh tahun tujuan pembangunan millennium atau biasa di kenal sebagai MDGs, sekedar info Millenium Development Goals atau MDGs adalah sebuah kesepakatan yang dibuat PBB dan di tanda tangani oleh sekitar 192 negara anggota PBB sebagai wujud bahwa mereka akan menjalankan program yang dirancang oleh PBB yaitu tentang pemberantasan kemiskinan, kesetaraan gender, masalah pendidikan, tingkat kematian ibu hamil dan melahirkan, HIV/AIDS, lingkungan dan komitmen dalam perdagangan.

Memang tidak terasa kesepkatan tujuan pembangunan millennium ini sudah memasuki tahun ke 10 dan itu berarti tinggal 5 tahun kedepan tujuan pembangunan millennium ini akan memasuki babak akhir lantas apakah semua Negara sudah menjalankan kesepakatan yang di keluarkan oleh PBB ? ternyata belum semua Negara menjalankan kesepakatan ini termasuk Negara-negara maju dalam membantu pertumbuhan Negara-negara berkembang, berdasarkan data yang penulis pernah baca adalah dimana Negara-negara yang tergabung dalam komunitas G-8 hanya lima Negara yang berkomitmen dalam hal tujuan kedelapan daripada MDGs ini yaitu Swedia sebesar 1,12 persen, kemudian Norwegia (1,06 persen), Luxembourg (1,01 persen), Denmark ( 0,88 persen ) dan Belanda ( 0,82 persen) sedangkan sisanya ingar janji dalam hal pembiayaan kepada Negara-negara di Afrika janji ini di sampaikan oleh komunitas G-8 pada pembiayaan pencapaian MDGs Afrika dalam skema Gleneagles Promise for Afrika.

Kemudian juga terkait dengan MDGs ini juga banyak Negara yang ingkar janji seperti kurangnya lapangan pekerjaan, atau masih banyak rakyat di Negara-negara berkembang yang hidup di bawah garis kemiskinan atau susahnya mencari pangan yang sesaui dengan standar yang berlaku dalam ini seperti yang terjadi di Indonesia dimana pemerintah memberikan bantuan berupa beras miskin atau biasa kita kenal dengan beras Raskin tetapi kondisinya tidak layak untuk di konsumsi seperti baunya yang apek atau berwarna keruh dan bau tetapi pemerintah sepertinya tidak peduli !

Bagaimana dengan Indonesia

Uraian yang di atas adalah tentang beberapa pencapaian dan janji-janji komunitas internasional dalam melihat MDGs lantas bagaimana dengan Indonesia sendiri dalam melihat MDGs ini jika dikaitan dengan masalah yang ada di sekitar kita ?

Sebelum menguraikan “prestasi” Indonesia dalam MDGs kiranya penulis menyampaikan keprihatian dan bela sungkawa atas apa yang dilakukan Indonesia dalam forum MDGs Summit ini kenapa penulis mengatakan bela sungkawa ? karena pada MDGs Summit ini Presiden ataupun Wakil Presiden Republik Indonesia TIDAK DATANG menghadiri pertemuan ini dan mendelegasikan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia untuk berbicara mewakili Presiden Republik Indonesia dan Republik Indonesia di depan forum, padahal semua Negara yang mengikuti MDGs Summit ini adalah Presiden atau Perdana Menteri sedangkan Negara kita HANYA diwakili oleh Menteri Luar Negeri itu berarti Presiden kita TIDAK PEKA dan TIDAK PEDULI dengan kesepakatan PBB ini dalam hal tujuan pembangunan millennium dan LEBIH PEKA terhadap isu-isu yang menurut penulis TIDAK PENTING seperti kasus video selangkangan artis atau isu target teroris yang dialamatkan kepada beliau !

Dan juga penulis agak heran dan geleng kepala ketika Indonesia mendapatkan waktu untuk berbicara di podium memaparkan evaluasi MDGs yang sudah di jalankan oleh Negara ini, mengatakan bahwa Indonesia sedang dalam jalur sesuai dengan isi MDGs kata lain on the track apakah benar Negara kita On The Track dalam menjalankan MDGs ? menurut penulis tidak kenapa ? logikanya begini saja kalau memang negara kita dalam posisi On The Track dalam hal MDGs kenapa masih banyak anak-anak usia produksi tidak bisa mendapatkan haknya dalam hal pendidikan entah itu dalam hal sarana prasaran seperti bangunan sekolah yang masih rusak atau tiadanya guru di beberapa sekolah khususnya yang berada di pedalaman Indonesia.

Atau ketika Menlu dan jajaran (yang mengaku) pejabat negara ini mengatakan bahwa Indonesia sejalan dengan Program MDGs apakah para pejabat ini sudah mensejahterahkan rakyatnya dalam hal urusan perut ? ternyata impian itu masih tersangkut dalam bibir manis para pejabat ini kita bisa lihat bagaimana rakyat masih susah mendapatkan 1-2 liter beras untuk kebutuhan sehari-hari bahkan badan PBB bidang Pangan sedunia FAO merelease bahwa Indonesia masuk dalam negara dengan kategori negara yang paling banyak memiliki penduduk yang kekurangan pangan jadi kembali pertanyaan, inikah yang dinamakan ON TRACK OF MDGs ?

Kemudian dalam hal kemiskinan, pemerintah dengan bangganya dalam sebuah forum Internasional di Bali mengatakan bahwa indeks penduduk miskin TELAH TURUN sebesar 13,3% per Maret 2010 padahal kita semua tahu KALAU MEMANG indeks penduduk miskin Indonesia sudah turun kenapa setiap menjelang bulan puasa kemarin para pemangku kekuasaan daerah melancarkan operasi yustisi dimana semua yang kategori gelandangan harus di masukkan kedalam mobil layaknya binatang liar, atau kalau memang indeks penduduk miskin Indonesia sudah turun kenapa penulis masih melihat di setiap perempatan lampu merah atau didalam bus penulis masih melihat banyak ibu-ibu yang menggendong bayi untuk di jadikan “boneka” kepada orang yang melihat agar di beri koin atau selembar kertas bernominal dan berlogo “BI” benar tidak ?

Dalam hal tingkat angka kematian ibu hamil dan melahirkan pemerintah lagi-lagi mengatakan sudah menjalankan sesuai dengan tujuan pembangunan millennium nomor 5 bahkan mengatakan dengan bangga bahwa negara sudah (seperti kata Dora Explorer) berhasil menurunkan tingkat kematian ibu hamil dan melahirkan tetapi faktnya di lapangan seperti yang di release badan-badan internasional yang mengatakan bahwa masih banyak kasus dimana gizi ibu hamil terlantarkan dan juga mengatakan bahwa angka kematian ibu hamil dan melahirkan masih sangat tinggi..

Menurut penulis sudah saatnya negara ini JANGAN SELALU menganggap dirinya benar kemudian bersuara lantang dengan egosentrisnya walaupun akhirnya jatuh juga keegosentriannya lewat data-data yang lebih akurat misalnya data-data yang di release dari badan-badan internasional atau NGO baik yang ada di negara ini sendiri maupun skala internasional, akhirnya seperti apa yang terjadi ketika Summit kemarin dimana banyak pihak kecewa dengan “suara” yang terlontar dari pada mulut para pejabat yang datang ke Markas Besar PBB mewakili Republik Indonesia..

Apakah tahun 2015 tepat berakhirnya MDGs, kedelapan tujuan pembangunan millennium ini bisa dicapai oleh Republik Indonesia dengan maksimal ? hanya Tuhan dan manusia-manusia YANG MENGAKU Pejabat Republik Indonesia dan rakyat hanya bisa menunggu dan mengurut dada ketika mulut manis mereka mengeluarkan suara-suara rayuan layaknya seorang pemuda yang mendekati seorang gadis..

Thamrin, 290910 16:31
Pendapat Pribadi

Sabtu, 25 September 2010

Antara MDGs, 1 Billion hungry dan Indonesia


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf

Tanggal 18 September 2010 lalu bertempat di Pantai Indah-Taman Impian Jaya Ancol sedang berlangsung kegiatan yang diadakan oleh FAO dan UNDP yang bertajuk “ 1 Billion hungry and MDGs Stand Up Make a Noise “ yang diikuti oleh ratusan bahkan ribuan pengunjung. Tujuan dari aksi ini adalah untuk mengingatkan kita dan Negara bahwa masih banyak penduduk di belahan dunia dan juga Negara kita yang masih membutuhkan bantuan dan tenaga kita.

MDGs atau Millenium Development Goals atau Tujuan Pembangunan Millenium adalah sebuah kesepakatan bersama dari 192 kepala Negara dan pemerintahan se-dunia dalam mengatasi masalah-masalah yang selalu ada dalam Negara seperti kelaparan, kesetaraan gender, pendidikan, sampai pada masalah AIDS, sedangkan 1billion hungry adalah program yang dirancang oleh badan PBB bidang pangan FAO-Food and Agriculture Organization untuk menangani dan memberantas kelaparan yang semakin hari semakin menjadi di dunia.

Itu tentang keadaan secara mendasar sebagai pengantar lantas bagaimana dengan keadaan Negara kita jika mengacu pada dasar kesepakatan yang berjumlah delapan point ini apakah sudah jalan dan berhasil mencapi target atau tidak ? ternyata belum sepenuhnya terlaksana seperti point pertama yaitu pemberantasan kemiskinan dan kelaparan kita semua tahu bagaimana kondisi warga kita terutama yang berada di daerah pinggiran kali-kali yang ada di Negara ini atau apakah pemerintah kita khususnya Kementerian Sosial Republik Indonesia yang memperhatikan para gelandangan, tuna wisma yang berada ditiap-tiap perempatan lampu merah termasuk yang berada di sekitar kantor kemeterian tersebut ?

Memang pemerintah sudah berusaha mencoba menekan angka kemiskinan tetapi fakta di lapangan masih kemiskinan terjadi seperti masih banyak warga Indonesia yang menyantap nasi aking atau nasi tiwul karena tidak mampu untuk membeli beras atau kebutuhan pokok lainnya..kemudian soal pendidikan dasar pun Negara ini sepertinya masih setengah seperti kita lihat berapa banyak sekolah di luar pulau jawa atau di daerah pedalaman yang boleh dibilang tidak lebih bahkan lebih hina daripada kandang binatang sekalipun atau masih lebih bagus Kantor Pos Polisi Bunderan HI, bagaimana bisa berpreatasi kalau sarana dan prasarana penunjang tidak sesuai dengan harapan..

Kemudian soal angka kematian ibu melahirkan, Negara kita sepertinya masih setengah hati dalam pelaksanaannya kita bisa lihat bagaimana pemerintah tidak konsern dalam hal memberikan pengarahan bagaimana pola hidup ibu hamil misalnya memberikan penyuluhan atau memberikan akses kesehatan bagi ibu hamil dari golongan ekonomi menengah hingga yang dibawah garis kemiskinan atau asupan gizi yang kurang sehingga mengakibatkan banyak bayi yang berat tubuhnya tidak sesuai dengan standar berat tubuh bayi pada umumnya.

Soal kesetaraan gender pun Negara ini sepertinya berada pada tahap belajar dan saling mengenal dan memahami dimana kita lihat masih banyak anak perempuan terutama di daerah yang harusmenjadi kelas dua karena harus memberikan kesempatan kepada anak laki-laki karena dianggap sebagai tumpuan keluarga dan panutan untuk adik-adiknya, selain itu juga dalam masalah hukum kita sering mendengar banyak wanita yang menjadi korban ketika mengajukan sebagai tindak pidana tidak pernah diteruskan karena masalah kekerasaan dalam rumah tangga ini masih dianggap aib ketika masuk ke ranah public dan lebih baik diselesaikan atau ketika TKW kita di luar sana bermasalah kita hanya bisa bersuara tanpa ada tindakan sama sekali dan hanya beretorika saja..

Dalam hal penanganan masalah HIV/AIDS pun juga Negara ini masih setengah-setengah bahkan ada beberapa Rumah Sakit negara yang mentelantarkan bahkan membiarkan warga yang menderita HIV/AIDS yang membutuhkan pengobatan di Rumah Sakit dan juga kurangnya ketersediaan obat penghilang rasa sakit khusus penderita HIV/AIDS kalau pun ada harganya masih tergolong mahal, lalu dalam hal lingkungan pemerintah kita juga masih setengah-setengah dalam menindak perusahaan-perusahaan yang jelas-jelas merusak lingkungan di Negara ini.

Kembali ke masalah yang terkait dengan judul diatas kiranya Pemerintah sudah lebih focus kembali terhadap kesepakatan yang telah di tanda tangani di New York pada sepuluh tahun yang lalu sebagai bukti bahwa Negara ini terutama para pejabat Negara sanggup dan bisa mengubah keadaan yang tercantum dalam kesepakatan tersebut, karena bagaimanapun Negara ini bisa maju dan sejahterah tidak lepas dari semua element termasuk kesejahteraan daripada rakyat itu sendiri percuma saja negaranya maju pesat tetapi kenyataannya rakyatnya untuk membeli beras saja susahnya minta ampun.

Waktu yang ditentukan oleh PBB dalam MDGs atau Tujuan Pembangunan Millenium ini tinggal hitungan tahun yaitu 2015 dan dalam waktu hitungan tahun itu juga kiranya Negara dan para pemimpin Negara ini juga ikut memikirkan bagaimana agar tujuan pembangunan itu bisa terlaksana dengan sukses bukan sekedar ucapan manis dibibir ketika acara itu berlangsung tiap tahun karena selama ini para pejabat Negara ini selalu kena penyakit lupa ingatan dan baru ingat ketika acara berlangsung begitu selesai acara langsung lupa dan semoga tidak ada lagi masyarakat Indonesia yang miskin dan kelaparan

Let’s Make NOISE for the MDGs and 1Billion hungry for Indonesia !!

Thamrin, 240910 12:24
Rhesza
Pendapat Pribadi

Senin, 17 Mei 2010

MDGs # 6 : Sudahkah Pejabat Negara dan Rakyat Republik Indonesia Memeluk dan Bergandengan tangan dengan Para Pengidap HIV-AIDS ?

Kalau ditanya beberapa orang penyakit apa yang paling berbahaya di dunia ini ? ada yang mengatakan penyakit jantung, ada juga yang bilang stroke, ada juga yang bilang kanker dan masih banyak lagi.

Baik itu menurut pendapat orang jika ditanya tentang penyakit, lantas bagaimana dengan HIV-AIDS apakah penyakit itu lebih berbahaya daripada penyakit-penyakit yang ada di atas ?

Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome atau biasa kita kenal dengan istilah AIDS ini adalah sekempulan gejala dan fisik atau lebih dikenal dengan sindrom yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV. AIDS sendiri adalah penyakitnya sedangkan virus yang membuat AIDS ini bertumbuh dan berkembang biak dalam tubuh manusia yang menderita adalah HIV- Human Immunodeficiency Virus

Awal mulai penyakit ini banyak ditemukan di komunitas penyimpangan seksual seperti kaum homoseksual, tetapi lambat laut perkembangan daripada virus ini bukan hanya karena hubungan sejenis atau seksual yang berganti-ganti pasangan tetapi sudah lebih kepada para pengidap dan pemakai narkoba.

Asal muasal munculnya penyakit ini pun beragam, tetapi banyak pengamat yang mengatakan bahwa AIDS ini pertama kali berasal dari Afrika Sub-Sahara, populasi penderita AIDS ini diperkirakan telah mencapai 38,6 juta orang di seluruh dunia, dan juga mengklaim populasi kematian akibat AIDS ini mencapai 2,5 hingga 3,3 juta jiwa dari tahun 2005 dan lebih dari 600,000 jiwa diantaranya anak-anak dan boleh di katakan bahwa penyakit ini merupakan salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah dunia, akibat dari penyakit ini banyak pertumbuhan ekonomi dan sumber daya manusia terhambat seperti yang terjadi di Afrika Sub-Sahara.

Itu tentang AIDS di dunia lantas bagaimana dengan kondisi AIDS di Indonesia ? ternyata tidak jauh berbeda bahkan memprihatinkan, kita bisa lihat atau mendengar dan menonton bagaimana masyarakat masih menganggap pasien atau orang yang mengidap penyait AIDS ini adalah orang terkutuk bahkan orang yang paling hina dari semua orang yang berdosa

Seperti kasus yang terakhir di Medan dimana tiga orang anak harus terusir dari kampungnya karena tahu orangtua mereka meninggal dan juga adik mereka yang paling kecil sakit dan tampilan fisik yang seperti kurang gizi dikarenakan HIV-AIDS, perlakuan mereka tidak hanya sampai disitu ternyata ketika dibawah di rumah sakit, para perawat dan dokter pun tidak ada yang berani menangani mereka bahkan dibiarkan begitu saja beberapa jam, baru ditangani begitu ada anggota dewan yang datang karena mendapat laporan dari jurnalis. Atau ada juga pihak rumah sakit yang menolak bahkan memulangkan kembali seorang pasien yang teridap HIV-AIDS ke keluarganya bahkan ada rumah sakit yang tega menaruh begitu saja pasien di depan pagar rumahnya tanpa ada memberitahukan kepada orang di dalam rumah tersebut terkait pasien ini.

Lantas bagaimana peran pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam mencegah dan memperhatikan rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke dari Miangas hingga Rote yang menderita HIV-AIDS ternyata masih berjalan ditempat saja, terbukti ketika penulis membaca keluhan para pengidap HIV-AIDS atau lembaga-lembaga yang konsen pada HIV-AIDS di berbagai milis dimana mereka mengeluhkan ketersediaan obat penahan rasa sakit mereka (kalau tidak salah) ARV yang sangat-sangat jarang bahkan langka di pasaran, kalaupun ada juga kualitasnya rendah, atau sudah kadarluarsa dan juga harganya yang sangat mahal dan tidak terjangkau oleh pasien.

Begitu juga dengan sarana dan fasilitas rumah sakit ketika para pasien HIV-AIDS ini berobat, ada rasa (mungkin) JIJIK di mata para petugas para medis ketika pasien yang akan ditanganinya adalah seorang penderita HIV-AIDS, atau sarana rumah sakit seperti kamar yang seadanya saja tanpa ada fasilitas yang menunjang paling hanya terpisah atau di isolasi jika sang pasien sudah agak “sembuh” segala yang ada di dalam kamar itu di musnahkan atau kata orang jaman dulu kamar itu disiram pake air kembang tujuh rupa biar tidak menyebar.

Kemudian sarana sanitasi dan pengawasan seperti di dalam Penjara yang kurang diperhatikan oleh Direktorat Pemasyarakatan, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, karena kalau tidak salah Penjara pun juga masuk dalam daftar penyalur HIV-AIDS paling banyak melalui jarum suntik atau penyimpangan seksual sesama tahanan.

Lalu dalam hal sosialisasi kepada masyarakat yang masuk kategori “daftar hitam:” penyebaran HIV-AIDS masih kurang, kita bisa lihat adakah dinas kesehatan di wilayah-wilayah yang masuk daftar hitam mensosialisasi pentingnya penggunaan kondom jika berhubungan dengan yang bukan pasangan hidupnya, atau beberapa waktu yang lalu Pemerintah membuat ATM kondom untuk mencegah penyebaran HIV-AIDS tetapi apa daya, pelaksanaannya pun setengah hati atau ada artis dangdut yang merelease albumnya bekerjasama dengan perusahaan kondom dimana didalam kaset/ Cdnya terdapat bonus, ide ini untuk menimalisasikan penyebaran HIV-AIDS TETAPI APA ?! oleh kaum agama, dan masyarakat luas ide ini DIPROTES dengan alasan adanya bonus kondom ini berarti sang penyanyi mengajak masyarakat yang telah membeli albumnya untuk berhubungan sex dengan siapa saja, aneh kan padahal menurut penulis sah-sah saja artis dan perusahaan kondom ini memberikan bonus toch tujuannya mulia untuk meniminaliskan penyebaran HIV-AIDS dan penyakit menular seksual BUKAN untuk mengajak masyarakat untuk seks bebas dan semaunya benar tidak ?!

Pertanyaanya sekarang adalah buat para pembaca tulisan atau pejabat negara di Republik ini, SUDAHKAH ANDA MEMBANTU PARA PENGIDAP HIV-AIDS DALAM KEHIDUPANNYA seperti menemani, mendengarkan cerita mereka ketika sedang kesusahan ?

Soal HIV-AIDS ini juga membuat PBB memberikan perhatian karena semakin hari semakin banyak saja di dunia ini masyarakat yang terjangkit dan meninggal karena HIV-AIDS karena belum memasuki tahun 2000 saja jumlahnya sudah ratusan juta, karena itu ketika memasuki tahun 2000 PBB membuat semacam resolusi pembangunan yang di beri nama Tujuan Pembangunan Millenium- Millenium Development Goals dan resolusi ini disepakati oleh 192 negara termasuk Republik Indonesia dimana setiap negara HARUS BISA menekan seminimal mungkin program-program MDGs ini hingga 2015, kenapa harus 2015 karena menurut badan internasional ini, rentang waktu 15 tahun adalah waktu yang cukup bagi setiap negara yang telah menandatangani kesepakatan ini untuk membenahi program-program yang menjadi masalah atau isu internasional saat ini, dan bukan PBB yang menghukum atau mengucilkan negara yang telah menandatangani tetapi ketika sampai tahun 2015 TIDAK BISA memenuhi atau membenahi isu tersebut TETAPI rakyat lah yang AKAN menuntut negara !!

Berhubung masih ada waktu kiranya Pemerintah Republik Indonesia terutama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia lebih memperhatikan nasib daripada para pasien HIV-AIDS, penuhilah yang menjadi hak mereka, mereka ini juga manusia seperti anda, punya mulut, punya nurani, punya kelamin, sama-sama bayar pajak, sama-sama makan nasi, kalau sama-sama mempunyai dan juga sama-sama diciptakan Tuhan lewat hembusan nafasNya lantas apa yang BEDA ? benar tidak ?!

Buat Pemerintah Republik Indonesia penulis Cuma mengingatkan saja, tahun 2015 tinggal menghitung hari, negara ini sudah menandatangani kesepakatan bersama dengan 192 negara dalam membenahi negara sesuai dengan isu yang ada saat ini yang terangkum dalam Tujuan Pembangunan Millenium a.k.a. Millenium Development Goals- MDGs JADI JANJI ADALAH HUTANG DAN YANG NAMANYA HUTANG HARUS DILUNASI !!!

JADI… SUDAHKAH HARI INI PEJABAT NEGARA dan RAKYAT REPUBLIK INDONESIA salah satunya ANDA MEMELUK dan BERGANDENGAN TANGAN DENGAN PARA PENGIDAP HIV-AIDS ?

14th floor, 110510 10:20

Rhesza
Pendapat Pribadi

MDGs # 5 dan 6 : Sudahkah Rakyat Indonesia Sehat Jasmani ?

Semua orang dalam perjalanan hidupnya selalu berkeinginan hidup sehat dan umur panjang apalagi sepanjang hidupnya tidak pernah sakit apalagi minum satu butir atau satu sendok obat benar tidak ?

Tetapi itu semua untuk mencapai umur panjang dan sehat tidaklah mudah dan penuh perjuangan seperti pola makan yang benar dan teratur, selalu berolahraga, pola istirahat yang benar dan juga kondisi pikiran juga tidak terlalu banyak masalah, dari semua ini sudah kah kita jalani sebagai warga yang berada di kota yang menjadi urat nadi negara dan juga ekonomi seperti Jakarta atau Surabaya dan kota-kota besar lainnya ? ternyata belum.

Mungkin urusan kesehatan dan istirahat adalah urutan ke sekian dan mereka memilih untuk bagaimana cara saya mendapatkan uang dengan cara kerja keras tanpa mengenal waktu bahkan waktu untuk istirahat pun dan makan hanya sekedarnya itupun kalau ingat, karena model hidup seperti ini sering kali kita temui banyak yang menderita sakit jantung, stroke karena apa ? karena mereka tidak punya waktu yang minimal 2 jam untuk istirahat dan makan.

Itu potret kehidupan masyarakat di perkotaan dan lebih kepada kalangan eksekutif muda atau sering kita kenal dengan esmud, lantas bagaimana dengan kehidupan rakyat jelata yang selalu kita temui di pinggiran kota Jakarta atau di bantaran kali, apakah mereka juga sama nasibnya dengan kalangan esmud, ternyata sama tapi berbeda maksudnya ?

Kalau kalangan esmud mencari uang dengan cara bekerja keras dan hasilnya bisa menikmati dengan enak dan kalaupun sakit tinggal ke luar negeri misalnya ke Singapura atau Malaysia, sementara kalau kalangan jelata bekerja keras untuk mendapatkan beberapa lembar dan koin yang berlogo BI tetapi hasilnya belum juga mencukupi apa yang mereka butuhkan terutama biaya kesehatan dan pendidikan.

Soal kesehatan, setiap hari kita selalu disuguhkan oleh televisi berita-berita tentang adanya seorang anak yang menderita penyakit-penyakit yang membutuhkan biaya yang bukan hanya 1-2 juta saja untuk sembuh karena orangtuanya tidak sanggup dan mampu untuk mencari uang 1-2 juta untuk berobat, jangankan untuk berobat memikirkan lauk apa yang akan disuguhkan saja masih bingung dan menjadi langka bagi mereka bisa makan nasi walaupun hanya 1 liter tanpa lauk !

Atau televisi menyuguhkan berita tentang banyaknya bayi yang tersandera oleh pihak rumah sakit karena orangtua sang bayi tak mampu membayar biaya persalinan dan juga biaya kamar rumah sakit, atau ada berita tentang rumah sakit yang menelantarkan pasien khususnya dari kalangan jelata, tetapi ada saja alasan rumah sakit ini ketika di konfortasi mengenai hal ini alasan mereka banyak saja misalnya alasan kapasitas rumah sakit dan tempat tidur sudah penuh benar tidak ?!

Inilah yang harus menjadi perhatian bagi pemerintah terutama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam mewujudkan masyarakat yang sehat tetapi kenyataannya mana, terbukti sampai saat ini masih banyak masyarakat terutama kaum jelata yang susah sekali mengakses untuk mendapatkan pelayanan kesehatan atau para petugas medis ini terutama di daerah pedalaman yang masih sulit mendapatkan fasilitas kesehatan sama seperti yang ada di kota.

Memang beberapa tahun belakangan ini Kementerian Kesehatan Republik Indonesia membuat sebuah kebijakan khusus bagi para kaum papa ini yaitu dengan membuat semacam kartu tanda miskin dimana para kaum papa yang sakit akan mendapatkan fasilitas untuk berobat yaitu mendapatkan kelas 3 jika menginap dan di gratiskan biaya administrasi tetapi apakah pemerintah juga menyediakan fasilitas yang memadai sesuai dengan kebijakan kartu tanda miskin ini ? ternyata tidak ini terbukti dimana seperti yang penulis tulis diatas di mana masih banyak rakyat miskin yang datang ke rumah sakit untuk berobat dengan membawa kartu miskin tetapi apa daya selalu ditolak oleh pihak rumah sakit, atau selalu di lama-lama dan tidak diperhatikan oleh petugas medis baru bergerak ketika media menyorotinya.

Sementara beberapa waktu lalu Menteri Kesehatan Republik Indonesia meresmikan sebuah fasilitas kesehatan yang ditujukan kepada masyarakat borjuis dan yang berkantong tebal alasan fasilitas kesehatan yang berstandar internasional ini di resminkan untuk mengurangi para kaum borjuis untuk berobat keluar negeri dan lebih baik berobat di dalam negeri karena fasilitasnya pun sama, sementara fasilitas kesehatan untuk kaum papa ?

Atau ada ketika masyarakat miskin ingin mengurus kartu miskin selalu dihambat urusan birokrasi entah itu harus di lihat dulu kondisi rumahnya oleh birokrat setempat mulai dari tingkat Rukun Tetangga-RT hingga kelurahan itu baru dilihat kondisinya belum lagi dengan segala macam printil-printil yang ga jelas seperti biaya-biaya siluman walaupun kata negara kartu tanda miskin itu GRATIS tetapi kenyataan di lapangan ?!

Kalau masalah seperti ini masih selalu ada setiap hari muncul di televisi bagaimana negara ini bisa sehat masyarakatnya ? bukankah indeks baik atau majunya negara ini dilihat dari sejauh mana sehat para rakyatnya selain faktor ekonomi benar tidak ? kalau masyarakatnya tidak bisa merasakan akses kesehatan bagaimana negara ini bisa maju Walaupun banyak rumah sakit dengan fasilitas setara dengan negara luar.

Masalah kesehatan ini juga yang membuat PBB pada tahun 2000 membuat semacam kesepakatan dalam hal pembangunan ke depannya, kesepakatan itu yang bernama Millenium Development Goals-MDGs dimana 192 kepala negara menandatangani kesepakatan itu untuk membuat negara-negara di dunia lebih maju daripada sebelum millenium nantinya pada tahun 2015.

Sudah waktunya negara ini lebih memperhatikan kesehatan jasmani daripada rakyatnya bukankah masa depan ini ada di tangan-tangan anak-anak, bagaimana bisa negara ini maju kalau kesehatan mereka tidak diperhatikan penuh dan masih ada jurang antara miskin dan kaya ?!

14th floor 170510 13:45

Rhesza
Pendapat Pribadi

Senin, 10 Mei 2010

MDGs # 5 : Masih Adakah Ibu Meninggal Ketika Melahirkan di Negara ini ?


Bagi seorang wanita akan lebih terhormat derajatnya sebagai seorang ibu jika bisa hamil dan melahirkan bahkan sampai mendidik anaknya menjadi orang yang berguna bagi keluarga dan tentunya bangsa dan negara, tetapi bagaimana dengan wanita yang sudah bersusah payah melakukan itu tetapi ketika anaknya telah lahir dia tidak bisa melindungi dan mendidik karena dipanggil sang Khalik ?

Kita bisa lihat bagaiamana di negara ini atau belahan dunia lain dimana masih banyak ibu yang meninggal beberapa jam setelah melahirkan sang anak ke dunia setelah sembilan bulan sepuluh hari berada dalam rahimnya yang selalu ia jaga dan lindungi.. ada banyak faktor yang membuat banyak Ibu yang tidak bisa melihat anaknya tumbuh ketika melahirkan.

Kita bisa lihat kebanyakan atau rata-rata ibu yang meninggal ketika melahirkan adalah berlatar belakang kemiskinan tetapi tidak menutup juga banyak ibu yang berlatar belakang keluarga mapan tetapi kembali kebanyakan berasal dari keluarga miskin. Tidak bisa dipungkiri karena faktor miskin inilah banyak ibu yang tidak mengindahkan apa yang harus diperhatikan sang ibu untuk anak dan juga ibu itu sendiri seperti asupan gizi baik ibu dan sang bayi, bagi keluarga miskin jangan kan memikirkan asupan gizi untuk bertahan dan bernapas saja sudah cukup bagi mereka dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Selain faktor gizi ada juga kurangnya informasi soal kehamilan mulai ketika sang calon bayi tumbuh dirahim hingga persiapan ketika akan melahirkan salah satunya adalah kurangnya tenaga medis untuk memantau para ibu hamil ini di karenakan faktor geografis dimana misalnya terkendala karena jarak antara rumah bersalin atau rumah bidan ini dengan sang pasien hamil sangat jauh naik-turun bukit dan memakan waktu bisa berhari-hari, atau sarana sanitasi air dan sterilisasi yang ada di klinik-klinik bersalin yang jauh dari harapan bisa juga membuat tingkat kematian ibu melahirkan sangat tinggi dan masih banyak lagi faktor yang membuat angka kematian ibu hamil dan melahirkan ini sangat tinggi..

Karena di dunia tingkat kematian ibu melahirkan ini sangat tinggi membuat badan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB membuat semacam program tujuan pembangunan millenium pada tahun 2000 dimana 192 negara satu kesepakatan dalam awal tahun 2000 hingga 2015 ini seminimal mungkin menekan angka kematian ibu melahirkan, kesepakatan itu tertuang dalam nama Tujuan Pembangunan Millenium-Millenium Development Goals, kesepakatan ini tidak mempunyai efek dimana jika sampai tahun 2015 masih ada negara yang tidak bisa menekan seminimal mungkin angka kematian ibu melahirkan akan di hukum oleh PBB tetapi yang menghukum adalah rakyatnya sendiri karena bagaimanapun negara ini sudah berjanji kepada PBB dan masyarakat negaranya bahwa yang ada di kesepakatan itu akan dijalani hingga batas yang sudah ditentukan oleh PBB.

Sudah saatnya Republik Indonesia ini terutama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia lebih memperhatikan kesehatan ibu dengan cara memberikan akses informasi seluas-luasnya bagi para ibu hamil di seluruh pelosok desa karena bagaimanapun negara ini akan dipimpin oleh anak-anak cerdas yang tentunya harus dipasok kebutuhan gizi yang cukup dan baik tentunya juga kesehatan dari ibunya itu sendiri.

14th floor, 090510

Rhesza
Pendapat Pribadi

Kamis, 06 Mei 2010

MDGs # 4 : Sudah Menikmati kah Anak-Anak Indonesia Dengan Dunianya ?



Tanggal 23 Juli adalah tanggal dimana semua anak-anak Indonesia bisa merasa seperti anak dan melakukannya dengan dunianya, yap tanggal 23 Juli setiap tahun adalah Hari Anak Indonesia, tetapi sudah kah anak-anak kita memperoleh haknya sebagai anak oleh keluarganya bahkan oleh Republik Indonesia ?

Mungkin bagi keluarga berada dan terpandang, anak-anak mereka sudah mendapatkan haknya seperti sekolah, memperoleh perlindungan keamanan, memperoleh kebebasan misalnya memiliki waktu untuk bermain, beristirahat tetapi bagaimana dengan anak-anak yang berasal dari keluarga yang tidak mampu ?

Kalau penulis bilang anak-anak Indonesia sejauh negara ini merdeka tidak pernah mendapatkan hak-haknya selaku anak oleh Republik Indonesia, Kita bisa lihat berapa banyak anak usia sekolah ketika jam masuk sekolah dan pulang sekolah bahkan tengah malam berada di pinggir-pinggir jalan, perempatan lampu merah, pintu-pi
ntu angkutan umum sambil membawa alat musik dan bernyanyi atau berjuang dengan panasnya matahari dan dinginnya hujan dalam menjual koran demi sekeping dan selembar uang yang berlogo BI, atau mereka mengalami kekerasan baik secara fisik seperti dipukul orangtua atau kepala keamanan mereka ketika uang yang mereka berikan tidak sesuai dengan keinginan orangtua atau orang-orang yang mempekerjakan mereka atau korban pelampiasan nafsu birahi orang dewasa yang sudah sangat tidak bisa ditahan lagi bahkan setelah melampiaskannya di potong-potong layaknya lebaran kurban, atau berapa banyak anak yang kekurangan gizi atau harus menyantap nasi aking, nasi gaplek yang menurut kesehatan itu makanan tidak layak tetapi kembali lagi kepada keberadaan orangtuanya.

Atau banyak anak-anak yang direkrut untuk menjadi tentara atau pemberontak di belahan dunia lain serta masih banyak lagi, atau adakah taman-taman yang menyediakan sarana permainan khusus anak. Padahal kita tahu bahwa yang namanya anak itu adalah titipan Tuhan dan harus dipelihara dalam artian diberikan hak-haknya sebagai anak misalnya diberi kasih sayang, diberi pendidikan, dunianya pun harus senang dan sebagainya dan negara pun juga harus melindungi mereka bukannya seperti sekarang ini ketika banyak anak yang berkeliaran di jalan-jalan bukannya di berikan tempat sebagai aspirasi mereka tetapi malah di kejar-kejar layaknya seorang maling ayam kemudian di hajar oleh petugas karena melawan.

Kalau masih banyak anak-anak Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke dari Miangas hingga Rote masih belum memperoleh hak dan dunianya sebagai anak, BUAT AP
A tanggal 23 itu di-RAYA-kan secara nasional ! lebih baik benahi dan berikan yang menjadi hak-haknya sebagai anak baru bicara dan rayakan tanggal 23 itu benar tidak ?

Menurut penulis sendiri walaupun mungkin agak bertentangan pasti ketika banyak membaca pendapat penulis dimana, kalau memang tidak bisa memberikan hak dan dunia dari sang anak LEBIH BAIK TIDAK USAH memiliki anak atau menikah, karena bagaimanapun jika diberikan titipan anak oleh Tuhan, sudah pastinya nanti di akherat akan dipertanggung jawabkan apa yang sudah diberikan anda sebagai orang tua kepada anak-anak titipan Tuhan ini seperti dalam hal asupan gizi, pendidikan, hiburan d
an masih banyak lagi, kasarnya JANGAN CUMA BISA teriak Oh yes Oh No dengan berbagai posisi dan manuver sex di ranjang sampai bebanjirkan keringat tetapi ketika anak ini bertumbuh pesat bingung bagaimana caranya membiayai dan memberikan haknya seperti membeli susu, atau memasukkan mereka ke dunia pendidikan mulai dari tingkat dasar hingga menengah atas dan juga pendidikan diluar yang menunjang sekolah seperti les bimbel yang akhirnya ujung-ujungya di telantarkan begitu saja atau diperas untuk memenuhi kebutuhan rumah dan orangtua mereka benar tidak ?

Keprihatinan inilah yang mungkin membuat Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ketika memasuki tahun 2000 dimana membuat sebuah draft kesepakatan yang nama kesepakatan ini ditandatangani oleh 192 negara di dunia salah satunya adalah Indonesia, kesepakatan itu diberi nama Millenium Development Goals (MDGs, Tujuan Pembangunan Millenium) dimana ada tujuh tujuan yang diperhatikan oleh PBB untuk dunia dimana pada tahun 2015 apa yang menjadi tujuan dan permasalahan PBB untuk dunia tidak ada lagi, masalah yang menjadi konsisten PBB untuk membantu negara ini adalah mengurangi PE/Ke miskinan, Pendidikan, kesetaraan gender, menurunkan Angka Kematian Ibu Hamil, HIV-AIDS, Lingkungan dan tentunya masalah anak-anak karena menurut penulis anak-anak ini harus bisa dilindungi karena anak-anak aset berharga karena bagaimana pun anak-anak ini adalah ujung tombak daripada perubahan negara ini, tanpa anak-anak apalah negara ini dalam berkembang benar tidak !?

Sudah saatnya nasib anak-anak Indonesia diperhatikan kembali oleh negara dalam hal apa yang menjadi haknya, percuma saja lembaga-lembaga yang konsen akan anak-anak Indonesia seperti Komisi Nasional Anak Indonesia, Komisi Perlindungan Anak Indonesia kalau ternyata negara dalam hal ini Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia dalam menyediakan yang menjadi hak anak TIDAK ADA dan hanya sekedara pelayanan mulut ( Lip Service ) ketika media mengangkat potret tentang anak-anak yang harus berjuang dengan panas dan dingin demi sekeping dan selembar kertas yang berlogo BI !!

14th Floor, 050510 07:10

Rhesza
Pendapat Pribadi

MDGs # 3 : Sudah Setara kah Wanita Indonesia ?


Tangaal 21 April dan tanggal 22 Desember adalah tanggal keramat bagi kaum wanita yang ada di negara ini, kenapa ? karena tanggal 21 April adalah Hari Kartini dan tanggal 22 Desember sebagai hari Ibu, kenapa keramat karena dua tanggal inilah yang menjadi puncak dari keberadaan para wanita ini…

Tetapi pertanyaannya adalah sudah setara kah para wanita-wanita Indonesia saat ini ? mungkin banyak yang bilang sudah, tetapi banyak juga yang mengatakan belum karena kembali lagi kepada kodrat dan keberadaannya sebagai wanita..

Kalau penulis sendiri melihat posisi wanita ini adalah 50-50 dalam kesetaraan karena kita bisa lihat wanita Indonesia sudah bisa menduduki posisi-posisi strategis yang selama ini di pimpin oleh kaum pria, mulai dari tingkat kepala bagian hingga Presiden sudah pernah di perankan atau dipimpin oleh wanita benar tidak ?

Tetapi sebagus-bagusnya wanita dalam menduduki sebuah posisi pekerjaan maka semakin banyak juga terpaannya, kita tahu dibelahan dunia manapun terutama di wilayah Asia terutama Indonesia keberadaan wanita ini masih dianggap sebagai kelas dua atau pelengkap bagi para pria.

Kita bisa lihat bagaimana perempuan ini hampir 24 jam lebih setiap hari harus memberikan pelayanan kepada keluarganya misalnya memasak dan menyiapkan segala kebutuhan keluarga misalnya mencuci, menjemur, mensterika baju dan masih banyak lagi termasuk diantaranya melayani kebutuhan biologis daripada sang suami dan masih banyak lagi, tetapi adakah yang memperhatikan atau membantu para wanita ini dalam mengerjakan perannya sebagai seorang ibu dan isteri ?Seperti contoh adakah para pria dan anak-anak ini membantu pekerjaan misalnya mencuci, atau membersihkan rumah ketika sang ibu rumah tangga sedang sakit ?
Memang kita akui bahwa wanita khususnya di Asia terutama Indonesia masih dianggap kelas dua, kita bisa lihat bagaimana masih banyak cibiran ketika wanita mendapatkan posisi yang lebih tinggi daripada sang kepala rumah tangga dalam hal pekerjaan, atau ketika wanita harus bekerja dan pulang sampai rumah hingga larut malam dan pergi pagi-pagi sekali, atau banyak wanita yang tidak mendapatkan haknya sebagai wanita ketika ia sudah berumah tangga, misalnya melakukan aktivitasnya ketika sebelum menikah, atau banyak wanita ketika menjadi TKW di luar negeri tidak pernah dilindungi atau di perhatikan ketika mereka sedang mengalami kesukaran dalam suatu masalah seperti menjadi korban perdagangan manusia yang sekarang sedang marak

Masalah ini juga lah yang menjadi perhatian bagi Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam melihat kesetaraan wanita dalam menyambut tahun millenium, dimana pada tahun 2000 192 pemimpin dunia di 5 benua termasuk Indonesia menandatangani sebuah kesepakatan bersama soal tujuan pembangunan millenium- Millenium Development Goals (MDGs) dimana pada tahun 2015 tidak ada lagi negara yang miskin, hak anak terabaikan, kesehatan dan masih banyak lagi salahsatunya adalah Kesetaraan Gender/wanita, dan kenapa tahun 2015 ? karena menurut PBB tahun 2000 hingga 2015 adalah waktu yang sangat tepat untuk negara membenahi masalah-masalah yang menjadi tujuan PBB dalam pembangunan millenium, tetapi apakah ini sudah dilaksanakan oleh negara lain termasuk Indonesia ? kalau negara lain mungkin sudah ada yang sukses tetapi kalau Indonesia menurut pengamatan penulis belum ada sama sekali kita bisa lihat setiap hari ada saja wanita yang mengalami nasib dimana haknya tidak bisa diberikan oleh negara terutama wanita yang berada di daerah pinggiran atau pedalaman. Kita bisa lihat bagaimana banyak wanita tidak mendapatkan perlindungan hukum ketika mereka mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dimana pelaku hanya diganjar dalam hitungan puluhan bulan hingga tahunan yang sangat minim sementara efek dari KDRT itu sendiri seperti psikis tidak seperti hukuman yang diterima !

Sudah saatnya negara khususnya Kementerian Negara Pemberdayaan Wanita dan Perlindungan Anak Republik Indonesia lebih gencar lagi dalam mengangkat dan memberikan pengertian serta bahwa wanita itu bisa sejajar dengan pria dalam hak apapun, walaupun kodratnya pun tidak bisa dilupakan sebagai wanita rumah tangga dan bukan hanya seperti barang atau patung pemuas biologis belaka seperti yang terekam dalam masyarakat kita !

Apakah wanita-wanita Indonesia bisa memperoleh haknya dalam hal kesetaraan gender tanpa menutup kodratnya sebagai isteri dan ibu dari anak-anaknya, atau harus tertutup karena kearoganan masyarakat sekitar karena tidak senang wanita bisa sukses ? kita lihat saja nanti walau waktunya tinggal 5 tahun lagi..

14th Floor, 040510 15:10

Rhesza
Pendapat Pribadi

MDGs # 2 : Sudah Bagus kah Pendidikan di Negeri ini ?




Tanggal 2 Mei adalah tanggal keramat bagi dunia pendidikan di Republik ini kenapa ? karena tanggal 2 Mei setiap tahunnya di peringati sebagai hari Pendidikan karena tanggal 2 Mei ini adalah tanggal kelahiran daripada pendiri Taman Siswa dan juga Menteri Pendidikan Pertama Republik Indonesia yaitu Suwardi Suryadiningrat atau biasa kita kenal dengan nama Ki Hajar Dewantara.

Mungkin ketika para pembaca dan pengunjung blog ini termasuk penulis juga pernah merasakan dimana setiap tanggal 2 Mei kita selalu mengadakan upacara bendera untuk memperingatinya walaupun sekarang ini kegiatan ini sudah jarang kita temui di setiap sekolah benar tidak ?

Sudah Bagus kah Pendidikan di Negeri ini ? itulah pertanyaan-pertanyaan yang selalu muncul setiap memasuki tanggal 2 Mei benar tidak ? jawaban penulis ketika pertanyaan itu ditanyakan kepada penulis adalah Pendidikan di negeri ini belum bagus karena apa ? karena Pendidikan itu masih barang mewah bagi beberapa orang, karena kita bisa lihat berapa puluh juta orangtua harus menyiapkan dana untuk memasukkan anak belajar di sekolah-sekolah, untuk sekolah swasta yang telah malang melintang di dunia Pendidikan Indonesia saja sudah puluhan juta bagaimana dengan sekolah negeri yang nota bene sebagian dananya berasal dari anggaran belanja negara !

Itu baru soal dana pendidikan, bagaimana dengan mutu dan infrastruktur penunjangnya ? ternyata tidak jauh berbeda bahkan lebih jauh kita bisa bagaimana para pembuat dan pen
gambil keputusan di Kantor Kementerian Pendidikan Nasional Republik selalu membuat dan mengambil keputusan tanpa melihat keadaan apakah keputusan itu bisa di jalankan atau tidak.

Maksudnya ? begini..kita ambil contoh soal Ujian Nasional-UN. UN bagi masyarakat terutama pelajar adalah produk yang jelas-jelas menyiksa ba
tin dan otak daripada pelajar karena selama 3 tahun belajar setiap hari dari pukul 07.00 hingga 14.00 hanya ditentukan dalam waktu 5 hari dengan 5 mata pelajaran dengan waktu 1 mata pelajaran 120 menit sementara selain 5 mata pelajaran itu tidak diperhitungkan, inikah Bagusnya Pendidikan di negara ini ?

Kita bisa lihat dalam waktu tiga tahun belakangan ini sudah berapa ratus siswa SLTP/A yang tidak lulus dalam UN ? kemudian berapa ratus siswa SLTP/A yang mungkin mengalami depresi bahkan sakit jiwa atau bunuh diri karena tidak lulus UN ? apakah faktor-faktor ini tidak diperhatikan para pejabat Kementerian Pendidikan Nasional Republik I
ndonesia terutama Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah ketika memasuki tahun ajaran baru ?

Menurut penulis percuma para bapak-bapak ini membuat kebijakan untuk men-SERAGAM-kan otak para pelajar yang tersebar dari Sabang sampai Merauke dari Miangas hingga Rote demi popularitas dan sejajar dengan negara-negara maju, percuma saja otak para pelajar ini pintar dan encer tetapi infrastruktur dan sarana penunjang para siswa ini yang menjadi HAK mereka sebagai pelajar diabaikan oleh para pejabat Kementerian Pendidikan Nasional.

Kenapa penulis mengatakan itu ? penulis ingin bertanya dan pengen tahu PERNAH-KAH Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia dan staff BERKUNJUNG ke sekolah-sekolah yang dari segi geografis sangat jauh dari perkotaan dan memakan waktu kalau berjalan kaki 2-8 jam, seperti yang ada dalam adegan film Denias di Papua atau film Laskar Pelangi di pedalaman Sumatera, Kalimantan, atau harus melewati lautan dan sungai PERNAH-KAH ? atau PERNAH-KAH berkunjung ke sekolah-sekolah yang bangunan fisiknya boleh dikatakan sangat tidak layak DAN MASIH LEBIH BAGUS Pos Polisi Bunderan HI daripada sekolah ini ?

Kalau itu sudah bisa di jawab maka Menteri tahu apa yang me
reka butuhkan dalam hal pendidikan, BUKAN hanya soal lulus atau tidak dalam hal mengerjakan UN tetapi lebih faktor ketidaknyaman mereka dalam hal belajar dan berinterakasi, seperti kita ketahui banyak sekolah-sekolah yang bangunan fisiknya sangat tidak layak untuk digunakan untuk kegiatan belajar, selain bangunan fisik dari sekolah para siswa ini yang terutama yang berada di daerah pedalaman juga harus berjuang dengan alam ketika akan berangkat dan pulang sekolah, kalau anda teringat dengan usaha Lintang, salah satu tokoh dalam film Laskar Pelangi, itulah potret anak bangsa dalam mencari ilmu tetapi yang ada apa ? pemerintah terutama Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia hanya bersikap diam saja kalau pun ditanya HANYA bermain kata dan silat lidah saja tanpa ada BUKTI NYATA, padahal SEHARUSnya Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia MALU kepada media karena media terutama media televisi yang berkantor satu tanah dan atap dengan sebuah mall ini setiap berkala selalu menyiarkan potret pendidikan Indonesia mulai dari berjuangnya para siswa ini dalam memperoleh ilmu dimana ada yang berangkat dari rumah pukul 03.00 pagi melewati hutan dan bukit, menyebrang sungai demi yang namanya ilmu dan itu mereka lakukan dengan berjalan kaki dan menggunakan kaos padahal mereka memiliki sepatu dan baju seragam, tetapi ketika mereka ditanya kenapa sepatu dan seragamnya BARU DIPAKAI ketika memasuki gerbang sekolah, jawaban mereka sangat menyentuh sekali bahwa mereka TIDAK MAU seragam dan sepatu mereka rusak karena mereka TIDAK MEMILIKI uang untuk mengganti jika seragam dan sepatu mereka rusak ! coba BAYANGKAN Pak Menteri dan Pak Dirjen DikDasMen ?!

Selain itu penulis juga heran dengan sikap negara ini terutama Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia, apakah para staff ini LUPA akan ucapan daripada sang pendiri negara ini yaitu JAS MERAH-JAngan Sekali-kali MElupakan sejaRAH, kenapa penulis berkata seperti ini karena ada hubungannya, anda tahu dengan lagu Hymne Guru yang sering dinyanyikan dahulu jaman sekolah ? tahu pencipta ? kalau anda tahu pencipta apakah tahu bagaimana pencipta lagu ini hidup setelah pensiun menjadi guru dan APAKAH ADA pengharga
an dari negara terutama Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia disaat menghabiskan hari tuanya ?

Berkaitan dengan fasilitas dan penghargaan yang sedikit kurang diperhatikan oleh Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia di daerah pedalaman, BUKANkah negara mengganggarkan dana pendidikan dalam daftar belanja negara itu 20 % ? lantas KEMANA dana itu Pak Menteri ? padahal logika dasarnya adalah dana 20% itu bisa menutup apa yang dibutuhkan siswa yang ada di pedalaman terutama dalam hal bangunan dan sarana seperti buku
pelajaran benar tidak ?

Masalah pendidikan ini ternyata menjadi perhatian bagi Perserikatan Bangsa-Bangsa-PBB ketika berakhirnya era tahun 1900-an dan memasuki era Millenium, dimana pada tahun 2000 192 negara di 5 benua menandatangi sebuah kesepakatan yang di rancang oleh PBB dengan nama Millenium Development Goals-MDGs (Tujuan Pembangunan Millenium) dimana pada tahun 2015 tidak ada lagi negara-negara yang mengalami kemunduran dalam hal apapun termasuk dalam hal pendidikan, kenapa sampai 2015 ? karena berdasarkan kalkulasi yang dilakukan oleh PBB waktu 15 tahun itu
cukup untuk membangun sebuah negara terbebas dari segala permasalahan yang terjadi di dunia termasuk Indonesia seperti Ke/Pe miskinan, Anak-anak, HIV-AIDS dan juga pendidikan.

Tetapi pertanyaannya adalah Indonesia sudah menandatangani kesepatakan ini, apakah sudah dijalankan oleh Indonesia ? ternyata belum dan bisa dilihat daripada yang penulis utarakan di atas tadi padahal kesepakatan ini dalam Pendidikan sudah TERCETAK dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dan juga Pasal 31 tentang Pendidikan dimana rakyat BERHAK mendapatkan pendidikan dan negara BERHAK memberikan dan MENCERDASKAN bangsa tetapi kenyataannya ?

Semoga dalam waktu 5 tahun menuju 2015, masalah pendidikan ini bisa di realisasikan dan tidak ada lagi siswa-siswa seperti Denias dan Lintang harus naik-turun-berputar bukit, menyebrang sungai demi yang namanya ilmu, PERCUMA SAJA Indonesia JUARA olimpiade dengan menyabet puluhan medali emas, juara umum, TETAPI BANYAK bangunan sekolah yang TIDAK LEBIH seperti kandang ayam, BANYAK Siswa/I menjadi KORBAN daripada SERAGAM OTAK yang namanya Ujian Nasional, BANYAK guru terutama di pedalaman yang TIDAK PERNAH diPERHATIKAN bahkan PENCIPTA Hyme guru yang menjadi LAGU Wajib bagi guru dan MUNGKIN lingkungan Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia TIDAK di-APRESIASI-kan oleh negara di kala tuanya..

Apakah nantinya akan banyak Lintang-Lintang dan Denias-Denias Indonesia yang harus berjuang demi yang namanya ilmu, atau berapa banyak lagi siswa/I yang depresi, sakit jiwa hingga bunuh diri KARENA program penyeragaman OTAK yang bernama Ujian Nasional ? kita lihat saja “ MAINAN “ apa lagi yang di keluarkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia untuk para siswa/I ini untuk bisa mensejajarkan Indonesia di tingkat dunia pendidikan internasional !!

Selamat Ulang tahun Ki Hajar Dewantara

14th Floor, 020510 07:00

Rhesza Ivan
Pendapat Pribadi

MDGs # 1 : SUDAH Kenyang dan Kaya kah Rakyat Indonesia ?



Mungkin akan banyak jawaban ketika penulis bertanya ini kepada masyarakat luas yang penulis jumpai ketika penulis berada di jalan, di angkutan umum atau dalam forum apa saja, mungkin jawabannya kalau para pejabat mungkin sudah kenyang dan kaya, atau kalau rakyat mungkin tidak pernah kenyang tetapi lapar terus tetapi kaya mungkin urutan kesekian kali, dan masih banyak lagi

Kalau pertanyaan itu dikembalikan kepada penulis, maka jawaban penulis adalah bahwa rakyat kita belum keny
ang dan kaya kenapa begitu ? kita bisa lihat yang kaya itu hanya orang-orang yang leluhur-leluhurnya sudah kaya jadinya mereka kaya, sementara rakyat yang leluhur-leluhurnya hidupnya masih terawang-terawang dengan impiannya kapan kaya sampai saat ini belum kaya.

Adakah media yang beredar di negara ini mulai dari Sabang sampai Merauke dari Miangas hingga Rote yang TIDAK MEMUAT berita tentang kemiskinan ? pasti jawabnya semua media memuat tulisan atau photo tentang kemiskinan daripada rakyat Indonesia ben
ar tidak ?

Sudah 65 tahun Indonesia merdeka dan 12 tahun reformasi dengan darah dan keringat, tetapi adakah 65 tahun Indonesia merdeka dan 12 tahun reformasi itu merubah kehidupan masyarakat negara ini ? menurut penulis belum bahkan lebih parah mungkin perimbangannya adalah 10 orang Indonesia sembilan masih tergolong miskin dan hanya ada satu orang yang kaya.

Kalau 65 tahun negara ini untuk ukuran manusia seharusnya negara ini seharusnya sudah lebih maju tidak ada lagi masyarakat yang miskin tetapi kenyatannya ? kita bisa lihat di beberapa daerah pinggiran Jakarta, masih banyak warga yang tidak di bantaran kali, atau masih menikmati makanan yang namanya nasi aking alasan mereka makan nasi aking karena tiadanya dana untuk membeli beras, kalau pun ada beras yang diberikan pemerintah melalui pemerintah daerah menurut mereka tidak layak untuk di konsumsi karena selain warna berasnya yang beda dengan beras yang sering dijumpai di pasar atau warung dan juga baunya pun seperti menyerupai karung yang membungkusnya walaupun para pejabat ini mengatakan bahwa b
eras yang diberikan kepada warga beras yang masih dan layak dikonsumsi..

Soal nasi aking penulis tertawa geli dimana teringat dengan sebuah kunjungan dari salahsatu calon presiden ketika pemilihan Presiden 2009-2014 dimana sang calon ini mengunjungi sebuah rumah yang keluarganya dalam kehidupan sehari-harinya bersantap nasi aking, dan ketika sang calon ini berada di dalam rumah keluarga tersebut, sang keluarga menyuguhkan nasi aking kepada sang calon presiden dan dihadapan para wartawan yang meliput sambil bertanya apakah nasi aking itu enak atau tidak, secara spontan sang calon presiden ini menjawab bahwa nasi aking itu ENAK dan LEBIH ENAK kalau ditambah dengan sambal hijau yang banyak, dasar cari mukanya calon presiden ini bisa saja padahal kita semua tahu bagaiaman rasa nasi aking itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah nasi bekas yang dikeringkan dipanas matahari dan kemudian di kukus kembali..

Hal pemiskinan dan kemiskinan inilah yang membuat Perserikatan Bangsa-Bangsa membuat semacam resolusi terhadap pembangunan ketika memasuki tahun 2000 atau tahun millenium, dan gagasan itu tertuang dalam sebuah kesepatan yang ditanda tangani oleh 192 negara di 5 benua i
ni termasuk Indonesia, dimana semua negara harus bisa menciptakan kehidupan atau mengatasi masalah yang telah dituangkan dalam gagasan PBB ini. Ada 7 tujuan pembangunan millenium yang di buat oleh PBB dan harus dijalan oleh 192 negara ini menjelang tahun 2015, dimana tahun 2015 tidak ada lagi negara yang miskin, kesenjangan gender, tingkat angka kematian ibu hamil turun dan masih banyak lagi.

Kalau Indonesia ikut menandatangani kesepakatan tujuan pembangunan millenium ini bagaimana keadaannya ? ternyata tidak jauh beda seperti pemaparan penulis di atas tadi kita bisa lihat bagaimana para penduduk kita terutama yang tergolong miskin masih hidup di bantaran kali bahkan ada yang tinggal di bawah jembatan seperti yang terdapat di dekat Markas Komandan Polisi Militer daerah Guntur ! makan pun masih berpikir ratusan kali untuk membeli seliter beras karena harus memikirkan lain seperti biaya listrik, sewa kontrakan yang nominalnya bagi mereka sangat mahal dan masih banyak lainnya apalagi kalau mereka sudah mengalami sakit tetapi pemerintah kita hanya berdiam saja baru bergerak jika media menyiarkan secara terus-terusan soal KE/PE miskinan ini seperti yang terjadi di Yakuhimo, Papua dimana media menyiarkan bahwa puluhan warga setempat meninggal karena kelaparan tetapi oleh pemerintah data tersebut dipelintir bahkan di bantah, baru terjun ketika ada bukti visual yang dimuat media secara luas apakah ini bentuk lepas tangan dari pemerintah terhadap rakyatnya seperti yang tertuang dalam alinea ke empat pembukaan !

Sudah banyak Pemerintah lakukan untuk menekan angka kemiskinan tetapi tetap saja angka kemiskinan itu bukannya berkurang malah bertambah, seperti adanya program Bantuan Langsung Tunai dimana setiap warga yang kategori miskin berhak mendapatkan bantuan senilai Rp. 300, 000/ bulan dari pemerintah, pertanyaannya adalah adakah nilai Rp. 300 ribu bagi rakyat miskin untuk sebulan ? mungkin sangat bermanfaat tetapi apakah cukup dengan kondisi yang sudah kita tahu bagaimana bentuk nyata daripada masyarakat miskin, walaupun bantuan itu sekarang di stop dan akibat di stop bantuan itu mungkin makin bertambah jumlah rakyat miskin..

2015 sudah didepan mata, dan kesepakatan sudah ditanda tangan bersama dengan 192 negara pada tahun 2000 dan yang namanya kesepakatan itu adalah janji dan janji adalah hutang yang harus dibayarkan, Bukan PBB yang menuntut atau menghukum tetapi rakyat yang akan menagih janji itu, dan rakyat sekarang sudah bersiap untuk menagih janji-janji para pemimpin negara BUKAN sekedar tanda tangan kesepakatan itu tetapi JANJI ketika diatas panggung sewaktu orasi agar rakyat memilih beliau untuk memimpin dan menjadi “ayah-ayah dan ibu-ibu” bagi rakyat ini mulai dari anggota dewan hingga RI-01 jangan sampai terjadi pertumpahan darah dimana-mana hanya karena 1-2 liter beras yang sedang dibagikan atau yang langka !

Akankah Pemerintah Republik Indonesia bisa menyelesaikan janjinya dalam kesepakatan Tujuan Pembangunan Millenium-Millenium Development Goals-MDGs yang akan berakhir tahun 2015 dalam hal memberantas KE/PE miskinan dan tidak ada lagi masyarakat miskin ? kita nantikan saja bagaimana Pemerintah menanggulangi dan memberantas yang namanya KE/PE miskinan ini


14th floor, 010510 16:00

Rhesza
Pendapat Pribadi

Jumat, 30 April 2010

Menggugat Indonesia lewat MDGs


Seperti biasa penulis sebagai ciptaan Tuhan menghaturkan permintaan maaf jika dalam penulisan ini membuat pembaca atau pengunjung tersinggung atau terpojokkan tetapi apa yang penulis tulis di bawah ini adalah murni pendapat pribadi..



Ada yang menarik dalam rapat kerja nasional yang berlangsung di Istana Tampak Siring, Bali dimana Presiden dan jajaran kabinetnya duduk bersama dengan para Gubernur dan jajaran daerah yang terdiri dari Ketua DPRD, Kepala Penanaman Modal dari Sabang sampai Merauke dari Mianggas sampai Rote dalam membahas masalah-masalah daerah yang juga menjadi masalah nasional salah satunya adalah program pemerintah yang terkait dalam hal MDGs.



Mungkin diantara para pembaca dan pengunjung blog ini bingung dengan mengeritkan dahi dan bertanya apakah MDGs itu ? MDGs adalah Millenium Development Goals atau bahasa kerennya adalah Tujuan Pembangunan Millenium dimana pada tahun 2000 semua kepala negara di dunia di 5 benua ini menandatangi sebuah pernyataan sikap atau janji bersama dimana setiap negara sebisa mungkin atau HARUS BISA menekan angka-angka dalam hal tujuan pembangunan ini hingga tahun 2015, tujuan itu sendiri berjumlah tujuh tujuan (Goals) yang harus harus di lakukan oleh setiap negara yaitu, Pengentasan Pe/Ke miskinan dan kelaparan, Pendidikan, Kesetaraan Gender, Anak-Anak, Angka Kematian ibu Hamil dan melahirkan, HIV-AIDS, Lingkungan Hidup dan Kemitraan Global, dan anda juga akan bertanya kenapa harus 2015 ? karena berdasarkan hitungan kalkulasi PBB 15 tahun adalah waktu yang sangat pas untuk negara dalam memperbaiki masalah-masalah yang terjadi di dunia ini dan kalaupun lewat dari tahun yang disepakati bersama, PBB selaku penyelenggara tidak akan dan bisa menuntut kepada negara atau yang menandata tangani Janji Bersama itu tetapi rakyatnya lah yang akan menuntut kepada negara karena hak-haknya sebagai warga negara tidak pernah diberikan oleh negara.



Itulah sekilas tentang MDGs, lalu pertanyaan kita kalau Indonesia pada tahun 2000 ikut menandatangani kesepakatan bersama dengan seluruh dunia, bagaiamana kabarnya ? apakah sudah dijalankan dengan membuahkan hasil dan membuat staff PBB khusus MDGs di New York atau di Jakarta tersenyum puas ? ternyata tidak, mari kita bahas satu persatu 7 tujuan dari MDGs dengan hasil konkrit dari pemerintah, yaitu pertama Pengentasan Pe/Ke miskinan dan kelaparan apakah sampai tulisan ini dibuat sudah ada rakyat kecil yang mampu beli dan masak beras ? ternyata tidak ! ini terbukti dimana kita selalu disuguhkan oleh media tentang kehidupan rakyat miskin dan kecil yang selalu tidak bisa mendapatkan akses untuk membeli beras karena harganya yang sangat-sangat mahal dan lagi kalaupun mendapatkan dari pemerintah yaitu Beras Miskin-Raskin itupun tidak sesuai dengan logika dimana beras yang mereka dapat itu beras yang bau apek atau tidak layak dikonsumsi walaupun pemerintah mengatakan beras itu masih layak untuk di masak dan dikonsumsi, pertanyaannya apakah beras yang bau apek dan warnanya tidak seperti beras pada umumnya SUDAH PERNAH di konsumsi oleh pejabat daerah mulai dari Kepala Bulog hingga Gubernur beserta keluarga ?



Kedua, soal Pendidikan ada berapa kali media massa terutama koran baik yang beroplah nasional atau daerah yang mengangkat masalah pendidikan terutama dalam hal bangunan fisik dari sekolah, ternyata masih banyak sekolah-sekolah yang bangunannya sangat memprihatinkan kalau boleh membandingkan sekolah di pedalaman dengan bangunan Pos Polisi Bunderan HI atau kandang ayam bekisar para pejabat MASIH LEBIH BAGUS Pos Polisi Bunderan HI dan juga kandang ayam bekisar para pejabat, tetapi tetap saja banyak pejabat yang marah ketika para guru mengatakan bahwa sekolah kami tidak lebih bagus daripada kandang ayam tetapi tetap saja TIDAK ADA NURANI daripada para pejabat ini untuk tanggap darurat terhadap kondisi gedung sekolah ini apalah arti prestasi dunia meraih ratusan medali emas, berapa kali juara umum olimpiade tetapi bangunan fisik sekolah tidak seprestasi muridnya benar tidak ?!

Ketiga, Kesetaraan Gender memang negara kita boleh dibilang sudah bisa menerapkan kesetaraan gender tetapi masih lebih banyak kasus-kasus yang tidak setara gender seperti berapa banyak kasus KDRT yang korbannya adalah wanita, berapa banyak wanita yang mengalami kekerasan seksual ketika mereka bekerja di Luar Negeri tanpa ada proses hukum bagi pelaku dan juga perlindungan daripada negara ketika tertimpa musibah ?



Keempat, soal anak-anak pertanyaan penulis adalah berapa banyak anak Indonesia khususnya yang ada di Kota-kota besar ketika jam sekolah atau jam istirahat berada di perempatan-perempatan lampu merah kemudian, berapa banyak anak-anak yang Haknya di rampas oleh orangtua bahkan oleh negara, seperti tidak adanya lahan kosong untuk tempat bermain atau tidak ada acara yang khusus benar-benar menceritakan tentang dunia anak-anak kalaupun ada hanya segelintir saja.

Kelima, soal Angka Kematian Ibu Hamil dan Melahirkan yang sangat tinggi di karenakan minimnya akses informasi dan perawatan khususnya bagi yang kurang mampu, selain itu juga banyak faktor yang mempengaruhi Angka Kematian Ibu Hamil dan Melahirkan misalnya soal asupan gizi yang sangat kurang bagi Ibu Hamil khususnya yang kurang mampu yang akibatnya banyak Ibu yang meninggal saat meninggal atau anaknya menderita kelainan pada sebuah penyakita karena kurangnya asupan gizi ketika sedang mengandung.


Keenam, HIV-AIDS pertanyaannya adalah SUDAHkah Pemerintah dan masyarakat memberi perhatian kepada para penderita HIV-AIDS ? jawabnya BELUM karena apa ? karena HIV-AIDS bagi masyarakat adalah AIB PALING HINA atau KUTUKAN dari Tuhan karena perilaku mereka ini terbukti dimana tidak pedulinya warga dan rumah sakit ketika menerima warga atau pasien yang menderita HIV-AIDS untuk mendapatkan perawatan, atau pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tidak menjamin ketersediaan obat ARV obat khusus HIV-AIDS karena berdasarkan informasi yang beredar dikalangan mereka bahwa obat khusus ini sangat jarang ditemui karena persediaannya sedikit bahkan ada yang kadarluarsa dan itupun harganya sangat mahal, selain itu juga Pemerintah juga tidak memfasilitasi kegiatan acara yang justru sebenarnya bisa memberikan arahan tentang HIV-AIDS yang terkait dengan program MDGs seperti kasus acara yang ada di Surabaya beberapa waktu lalu, dimana pemerintah hanya diam seribu bahasa karena tidak bisa melindungi bahkan membiarkan aksi-aksi yang dilakukan oleh beberapa ormas yang mengusir para peserta.



Ketujuh, Lingkungan Hidup adakah pemerintah memperhatikan nasib hutan kita yang sudah sangat memprihatinkan atau pernahkah pemerintah menegur dengan sangat keras bahkan menutup pabrik-pabrik yang mencemarkan lingkungan dengan membuang limbah pabrik ke aliran sungai yang menjadi urat nadi warga setempat ? jawabnya TIDAK ADA padahal sudah banyak LSM-LSM yang memberikan perhatian terhadap lingkungan mengkritik, berdemo tentang keberadaan perusahaan-perusahaan yang mencemarkan lingkungan di Indonesia tetapi tidak ada tanggapan sama sekali dari beberapa instansi pemerintah seperti Kementerian Kehutanan dan Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, padahal negara kita dijuluki oleh dunia sebagai paru-parunya dunia, yang mampu memberi keteduhan bagi dunia lewat jutaan hektar hutan namum sekarang paru-paru itu ibarat penyakit kanker sedang sekarat bahkan sudah tinggal menunggu waktunya untuk diangkat..



Jadi menurut penulis bukan hanya tiga tujuan (Goals) saja dari tujuan pembangunan millenium-MDGs yang TIDAK MAMPU direalisasikan Republik Indonesia sampai pada tahun 2015 tetapi 7 Goals itu juga sampai sekarang tidak ada bukti realisasinya, kalau seperti ini percuma saja negara ini ikut menandatangani bersama 192 negara ketika tahun 2000 selain 7 tujuan ini pemerintah juga sepertinya tidak peduli dan turut serta dalam acara yang berkaitan dengan MDGs seperti konser BANGKIT BERAKSI yang setiap tanggal 16-18 Oktober setiap tahun di gelar dimana tidak ada satupun pemimpin negara ini baik pusat maupun daerah entah itu Menteri, Walikota, anggota Dewan bahkan Presiden sama sekali ikut berpartisipasi, sementara negara dibelahan dunia lain banyak pemimpin negara, anggota dewan ikut perpartisipasi bahkan ikut berjuang bersama-bersama dalam menjalankan MDGs ini.



Semoga dengan waktu sisa 5 tahun ini kiranya pemerintah bisa merealisasikan proyek yang dibentuk oleh PBB dan berlaku di seluruh dunia kepada masyarakat, bukankah pemerintah dalam pembukaan UUD wajib memberikan hak bagi rakyatnya ? INGAT !!! JANJI ADALAH HUTANG DAN YANG NAMANYA HUTANG HARUS DILUNASI !!!

14th floor 230410 07:55

Rhesza

Pendapat Pribadi