Tampilkan postingan dengan label Pemilu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemilu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Mei 2010

Pilkada : Cacat Moral dan HAM


Ada wacana baru di ranah pemerintahan kali ini dimana ada usulan yang terlontar dari Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia dimana ada catatan syarat untuk bisa dicalonkan sebagai pimpinan entah itu mulai dari Bupati hingga Gubernur yaitu TIDAK BOLEH cacat moral seperti adanya photo-photo atau video-video syur dan yang bisa dikatakan tidak bermoral

Akibat dari usulan ini banyak kalangan yang pro dan kontra, yang pro sangat setuju dengan usulan ini karena mau jadi apa warganya kalau pemimpinnya memiliki cacat moral, sementara yang kontra mengatakan bahwa usulan ini melanggar Hak seseorang untuk dipilih terutama kaum selebritis.

Menurut penulis sah-sah saja kalau Menteri Dalam Negeri ini mengusulkan, lagipula mungkin menurut beliau banyak partai yang mengusung selebritis sebagai “jagoan”nya sebagai pemimpin hanya berdasarkan sensasi tanpa memikirkan nasib warga yang selebritis naungi karena komunikasi dan pendekatan politiknya tidak ada walaupun usulan ini agar bertentangan dengan demokrasi yang diusung oleh negara ini.

Penulis juga meragukan kalangan selebritis ini bisa mewakili masyarakat jika terpilihi sebagai pemimpin di suatu daerah kita bisa lihat bagaimana salahsatu selebritis yang menjadi wakil pemimpin suatu daerah baru beberapa bulan terpilih sudah membuat kebijakan (walau itu kebijakan sang orang nomor satu) dimana salahsatu tarian khas daerah yang sudah ada sejak turun temurun tersebut harus dirubah gaya tari dan pakaiannya karena berorientasi pornoaksi !

Terlepas dari pada masalah tempo dahulu atau apa tetapi bagaimanapun apa yang dilakukan oleh pemimpin yang mempunyai cacat moral tetap saja ingatan itu tidak akan bisa terhapuskan oleh masyarakat, karena masyarakat kita (mungkin) teringat akan dengan sebuah kata dari sang pendiri negara ini yaitu JAS MERAH- Jangan Sekali-kali MElupakan SEjaraH, terpilih juga kita masyarakat yang menganut dengan budaya ke-timur-an (walaupun penulis bingung ke-timur-an yang bagaimana ?)

Apakah usulan ini akan terwujud atau tidak nantinya, paling tidak dengan adanya usulan ini kita sebagai warga negara atau siapapun yang mempunyai cita-cita untuk memimpin suatu wilayah agar berpikir kembali apakah kita layak menjadi pemimpin kalau moral kita saja tidak bisa dijaga.. bagaimana ?

Veteran, 240410 10:10
Rhesza
Pendapat Pribadi

Senin, 27 Oktober 2008

Nama Beken Vs Nama Asli

Beberapa minggu ini dunia perpolitikan Indonesia di hebohkan dengan sebuah polling-jajak pendapat yang dibuat oleh sebuah badan independent yang mengurus polling dimana mereka membuat polling siapa caleg yang paling populer dikalangan masyarakat Indonesia, ternyata hasil dari polling tersebut membuat banyak pihak bahwa hasil dari polling menunjukkan caleg yang populer dimata masyarakat yang menduduki nomor satu dari hasil itu adalah seorang komedian yang wajahnya sering kita lihat ditayangan-tayangan komedi ketika menuju waktu berbuka pada bulan puasa kemarin, sedangkan tokoh politik yang benar-benar hidupnya murni untuk politik dan partai menduduki posisi kedua.

Apakah ini aneh ? menurut penulis apa yang dikeluarkan oleh badan LSM urusan polling tidaklah aneh dan mengherankan karena itu pandangan dan pemikiran secara spontan dan reaktif dari 220 juta jiwa ketika ditanya siapa caleg yang mereka kenal dan itulah hasilnya, yang membuat penulis heran adalah ketika artis ini sedikit keberatan dengan kebijakan Komisi Pemilihan Umum-KPU dengan aturan dimana pada kertas pemilihan atau kertas suara, dimana mereka tidak boleh menggunakan nama komersil yang selama ini mereka gunakan dengan kata lain mereka para artis ini yang mencalonkan diri sebagai legislator baik yang di Senayan maupun tingkat kota dan kabupaten harus menggunakan nama asli mereka sesuai yang tercatat dalam arsip pribadi mereka seperti KTP.

Alasan para artis ini menolak menggunakan nama asli mereka dalam kertas pemilihan adalah takut para pemilih tidak memilih mereka karena tidak tahu nama asli mereka dan para pemilih hanya tahu nama mereka yang selama ini digunakan maksudnya adalah nama komersil atau nama panggung mereka, atau halusnya kalau mereka menggunakan nama komersil setidaknya kemungkinan untuk duduk enak dikursi empuk Senayan bisa diraih dengan mudah.

Menurut penulis hanya ketakutan kecil saja daripada para artis untuk bersaing dengan para kader-kader asli partai dalam meraih kursi empuk di Senayan, padahal kalau dilihat hanya dengan mukapun para artis ini sudah bisa meraih kursi secara dini ketimbang para kader asli parpol.

Apalah arti sebuah nama ? itu adalah ungkapan daripada sastrawan terkemuka ketika ditanya soal namanya, memang betul apalah arti sebuah nama, tapi penulis ingin mengingatkan kepada para artis yang bersikeras untuk mencantumkan nama artisnya ketimbang nama asli di kertas suara saja bahwa nama yang diberikan oleh Orangtua adalah mempunyai sejarah tersendiri bagi orangtua anda, anda mungkin hanya tahu nama itu diberikan oleh orangtua anda, tapi apakah anda tahu bagaimana orangtua bersusah payah mencari dan mengsinkronisasikan beberapa nama agar sesuai dengan apa yang diharapkan orangtua anda dikemudian hari entah itu nama mempunyai sifat bahwa anak yang mempunyai nama ini kelak dikemudian hari menjadi seorang pengusaha sukses.

Kalau anda mengganti nama asli dengan nama komersil anda itu berarti anda tidak menghargai pengorbanan daripada orangtua anda yang susah payah mencari nama untuk anda, dan itu juga akan merepotkan dalam hal administrasi misalnya kalau anda terpilih di Senayan dalam hal pembayaran hasil kerja anda, karena didata yang ada nama anda berdasarkan identitas misalnya KTP atau akta lahir, kalau anda bersikeras mengubah nama asli anda dengan nama komersil itu berarti anda harus mengubah semua identitas dan tidak setengah-setengah mulai dari Akta Lahir, surat-surat peribadi misalnya data bank, Surat-surat anda ketika menjalankan pendidikan sampai sekarang termasuk akta pernikahan dan perceraian apakah anda sudah siap ?

Sebenarnya simple dan mudah kok supaya calon konstituen anda memilih anda yaitu ketika anda sedang mengadakan kampanye atau dialog di tengah-tengah orasi, anda menyelipkan pesan kepada konstituen anda bahwa mereka jangan hanya mengenal nama komersil anda tetapi nama asli anda, karena yang diakui oleh negara dan administrasi adalah nama asli, kalau pesan ini selalu anda selipkan ketika anda berjumpa dengan masyarakat niscaya dengan kuasa Tuhan Yang Maha Esa, nama asli anda yang dicoblos oleh masyarakat, bukankah nama asli itu lebih tinggi derajatnya dan abadi ketimbang nama beken yang anda dapat ketika jaya tetapi setelah anda tidak jaya lagi apakah masih bisa anda pergunakan kalau anda jayanya secara positif dan berprestasi kalau bermasalah terutama dengan hukum ?

Apakah perdebatan soal nama yang tercetak di kertas suara nama asli atau komersil khusus bagi artis, atau memang sang artis harus merubah semua data-data yang selama ini menggunakan nama asli menjadi nama komersil walaupun itu berarti mengkhianati orangtua mereka untuk bisa duduk enak dikursi empuk di Senayan, kita lihat saja dan apalah arti sebuah nama itu ?

Imam Bonjol 271008 13:59

RKM-16

Iklan yang Menyesatkan = Kebohongan Publik !



Beberapa hari belakangan ini banyak sekali iklan-iklan yang dibuat oleh beberapa partai politik untuk memperkenalkan partai mereka kepada masyarakat supaya apa yang ingin dibayangkan para pemimpin parpol ini lewat iklan bisa terlaksana yaitu pada saat pencoblosan partai mereka yang di conteng di kertas.

Tapi ada yang membuat penulis sedikit gerah dan sedikit geram dengan satu iklan partai yang mengusung pemerintah saat ini, dimana iklan itu dibuat berkaitan dengan usia dari partai itu dan juga usia dari pemerintahan yang partai ini usung, bentuk iklan tersebut lebih kepada kesaksian yang dibawakan oleh pimpinan partai atau dengan kata lain hanya menggambarkan kebanggaan serta kesombongan hasil pemerintah kepada khalayak umum, hal inilah yang membuat penulis geram karena apa yang mereka tampilkan sebagai bukti kerja pemerintah tidak sesuai bahkan ibarat bumi dan langit dengan kenyataan didepan mata.

Misalnya disana dikatakan bahwa tingkat pengangguran dan kemiskinan turun populasinya yang benar ! pertanyaan penulis buat partai ini anda mendapatkan data bahwa kemiskinan dan pengangguran turun dari badan mana ? penulis tidak yakin dengan data yang diberikan itu karena, kita bisa lihat sendiri kok tanpa harus ada data, berapa banyak rakyat yang hidup dikolong-kolong jembatan, atau diperumahan kumuh sepanjang rel kereta api Jabodetabek, atau yang hidup di gerobak-gerobak sampah, atau berapa banyak pengemis dan gelandangan yang berkeliaran di tiap-tiap perempatan lampu merah seperti contoh yang ada di perempatan lampu merah Arion-Jakarta Timur yang dekat dengan kantor pusat partai ini, jadi apa yang diucapkan oleh kader partai itu tidak benar, dan penulis ingin berasumsi jangan-jangan data itu dibuat hanya untuk mendata tingkat kemiskinan yang berada di belakang kompleks Istana saja atau data per-lima tahunan tanpa di hitung dalam lima tahunan itu berapa banyak yang lahir, berapa banyak yang meninggal, makanya kader ini bisa bilang tingkat kemiskinan turun a.k.a data itu hanya sebagai data ABS-Asal Bapak Senang !

Kemudian, soal kesuksesan mereka bisa menggolkan dana pendidikan sebesar 20 % dari APBN, bangga sekali mereka, tapi penulis tidak bangga bahkan miris melihat pendidikan di Indonesia ! kenapa, percuma saja anggaran 20% itu ada dan kalau jadi dikeluarkan mulai tahun depan, karena sampai saat ini saja banyak guru di daerah terutama pedalaman tidak merasakan dan dihargai oleh pemerintah selaku pengabdi dan penjaga ilmu dan akhlak daripada calon penerus bangsa, itu baru guru status PNS bagaimana dengan guru honorer dan swasata apakah mereka akan merasakan ! belum lagi sarana fasilitas penunjang, kasarnya begini mengenai hal itu, apakah dengan anggaran pendidikan 20% ini semua pendidikan lebih maju dan tidak ada lagi yang kita lihat seperti kisah di Film Laskar Pelangi, Film Laskar Pelangi adalah bukti dari ketidakmampuan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional dari jaman dulu hingga sekarang, soal film ini penulis hingga tulisan di tayang dan anda baca belum mendengar dan membaca pernyataan dari Menteri Pendidikan beserta jajarannya tentang film ini apa mereka
merasa malu sehingga mereka diam-diam nonton atau malah tidak menonton sama sekali !!

Soal pertanian pun, penulis agak senyum kecut mendengar penjelasan mereka kenapa! Karena kita bisa lihat bagaimana proyek pemerintah yang digagas oleh salahsatu staff kepresidenan bidang kerakyatan yang diberi nama Super Toy gagal total untuk kedua kalinya setelah proyek blue energi, mereka bilang pemerintah ini kembali kepada swa sembada beras ! yakin tuch ? kalau tidak salah awal-awal tahun kepemimpinan RI-1 ini pernah dihebohkan sampai diwarnai bentrokan diberbagai daerah dengan adanya import beras se-kapal penuh dari negara Paman Ho kalau tidak salah dua kali dengan alasan untuk backup stok beras lokal, kalau begini sangat disayangkan sekali pernyataan itu !

Itu baru iklan dari partai pengusung pemerintah, bagaimana dengan iklan yang dibuat oleh partai baru dengan model atau spokeperson partai itu seorang mantan komandan (anda sudah tahu nama partainya tidak perlu penulis sebutkan), dimana iklan itu tidak jauh beda dengan iklan partai pengusung pemerintah, beliau dengan lantang mengkritik pemerintah, kalau menurut penulis apa yang dilakukan oleh partai baru ini tidak jauh berbeda dengan iklan yang baru penulis bedah di atas, sebenarnya sama saja, bahkan yang konyolnya ketika publik dan media ramai-ramai meng-gosip-kan Super Toy spokeperson ini tidak berkomentar sama sekali a.k.a diam seribu bahasa padahal, secara background sang spokeperson adalah ketua kerukunan tani (?)

Jadi menurut penulis kiranya anda meriset terlebih dahulu ke bawah, benarkah data yang ada di tangan anda sesuai dengan kenyataan dilapangan dan kita lihat dengan mata kepala kita sendiri, jangan sampai seperti iklan testimonial partai pemerintah dengan bangga padahal kenyataan dilapangan (?) sekali-sekali partai merangkul LSM dalam hal pendataan karena menurut penulis data yang ada disebuah badan yang urusin angka dan per-dataan kadang tidak sesuai dengan range per-lima tahunan, sedangkan LSM biasanya setiap periode 6 bulan sampai satu tahun, jadi perlulah LSM ini dilirik jangan hanya dikucilkan karena kerjanya menghujat pemerintah.

Kita lihat saja lagi apakah masih ada partai dalam membuat iklan masih berjualan semu dan sedikit narcis padahal kenyataannya jauh berbeda daripada yang mereka iklankan ! penulis hanya berharap apa yang mereka iklankan sesuai dengan pengertian Iklan dalam hal positif dalam kaitan dan kajian Ilmu Komunikasi serta Komunikasi Politik dan Komunikasi Massa, bukan sebagai rayuan bak seorang pria yang merayu dengan sejuta kata-kata manis dari mulutnya untuk mendapatkan sebuah kehormatan dari wanita setelah itu dihempaskan begitu saja ibarat pakaian kotor dan itulah yang terjadi di negara ini ketika akan Pemilu atau yang berkaitan dengan kedudukan !!

Matraman 241008, 01:10
RKM- 35

Apakah Politik Kekeluargaan = Nepotisme ?






Menjelang Pemilu yang sedang menghitung hari, ada saja perdebatan yang selalu muncul untuk menjatuhkan lawan politik mereka serta mencari muka kepada 220 juta jiwa rakyat Indonesia paling tidak 30 % suara dari 220 juta jiwa itu masuk dalam kantong suara mereka supaya hak mereka untuk memilih presiden dapat terwakili.

Setiap perdebatan pasti ada saja masalahnya, masalah yang menjadi perdebatan saat ini adalah banyak sekali partai dengan segala upaya memasukkan kader partai mereka untuk masuk Senayan dari kalangan internal dalam hal ini bukan kader asli tetapi kader yang berasal dari anggota keluarga selain artis tentunya.

Yang ingin penulis kemukakan kali ini bahwa untuk pemilu mendatang, para partai politik sekarang ini cenderung menggunakan anggota keluarga mereka untuk dijadikan kader politik mereka dan tentunya partai untuk masuk ke arena Senayan. Kita bisa lihat bagaimana partai-partai peninggalan rezim cendana maupun partai besar pemenang dua pemilu reformasi menggunakan entah anak kandung mereka, adik bahkan ipar mereka untuk mendulang suara partai supaya nantinya ketika akan memilih Presiden sesuai dengan UU yang mereka buat ramai-ramai partai mereka bisa ikutan menentukan.

Yang menjadi pertanyaan penulis dan mungkin 220 juta jiwa lebih rakyat Indonesia adalah dengan maraknya pengkaderan oleh anggota keluarga untuk masuk ke Senanyan atau istilahnya Partai Keluarga bukankah ini malah merusak tatanan yang sedang coba dibangun negeri ini untuk lebih maju yaitu memerangi Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN), kalau Korupsi dan Kolusi mungkin sekarang ini sudah membuahkan hasil dengan banyaknya para pejabat mulai dari Senayan hingga daerah-daerah yang dipesankan kamarnya oleh KPK tetapi untuk urusan Nepotisme sepertinya belum sejalan dan seirama dengan Korupsi dan Kolusi dengan terbukti kasus Parpol Keluarga ini.

Memang disatu sisi dengan pola ini jelas sekali menyimpang daripada program anti KKN yang sedang marak digelembungkan tetapi kalau kita bertanya kepada orang partai, mereka pun akan susah menjawabnya paling juga mereka menjawab hanya untuk menjaga keutuhan partai. Menurut penulis apa yang dilakukan oleh parpol dengan memasukkan anggota keluarga ibarat dua sisi mata koin.

Sisi pertama, memang dengan masuknya para anggota keluarga terutama anak, suami/istri atau ipar pemimpin parpol atau pengurus kedalam struktur parpol dan ikut serta dalam pencalonan legislatif bisa mengamankan suara mereka diparlement kalau anggota keluarga ini masuk semua ke Senayan, tetapi disatu sisi maraknya anggota keluarga masuk ke dalam bursa pencalonan legislatif bisa berdampak tidak percayanya lagi masyarakat melihat partai politik apalagi mereka mewacanakan gerakan anti KKN di setiap kampanyenya tetapi kenyataan mereka hanya munafik bicara panjang lebar tentang apa itu KKN tetapi pada kenyataannya mereka justru pemain daripada KKN itu sendiri.

Serta yang membuat heran penulis adalah para anggota ini misalnya anaknya yang jelas-jelas baru mengenal yang namanya dunia politik Indonesia oleh partai apa karena segan orangtua dari anak ini salahsatu pimpinan pusat lantas dimasukkan kedalam daftar calon legislatif untuk bertarung di Senayan dan tidak tanggung-tanggung ada yang ditaruh pada urutan pertama ! ini jelas salah sekali, ibarat anak baru kemarin sore yang baru mengenal namanya politik bisa ditempatkan di urutan pertama, sedangkan kader yang sudah lama berjuang untuk mendapatkan nomor satu dalam pencalonan harus mengalah dengan anak pimpinan, bukankah lebih elegant dan sebagai bahan belajar mereka para anggota keluarga partai yang mencalonkan memasukkan nama mereka kedalam daftar pencalonan legislatif tingkat daerah kotamadya atau kabupaten (DPRD) daripada nantinya mereka tidak tahu apa-apa ketika mereka harus duduk di Senayan, Apa Kata Dunia nanti !

Penulis setuju dengan sikap yang dilakukan oleh anak seorang petinggi partai yang dulu sempat di ganggu oleh rezim Cendana, dimana sebagian anak pimpinan parpol dimasukkan kedalam bursa legislatif Senayan, gadis cantik ini malah memilih untuk berjuang di DPRD DKI Jakarta, ketika ditanya kenapa tidak berjuang di Senayan, gadis cantik ini menjawab bahwa kapasitas dia untuk duduk di Senayan belum waktunya lebih baik saya berjuang di tingkat daerah baru di pusat sehingga saya tidak kaget begitu masuk, mestinya para parpol termasuk anak petinggi parpol melihat sikap elegant dari anak ini, rakyatpun pasti akan memilih dia lima tahun mendatang, karena kerja dia di tingkat daerah sudah terasa kalau dia mencalonkan diri masuk Senayan.

Bagaimana nasib keluarga para pemimpin parpol ini akan sukses masuk ke Senayan dan mengubah negara ini lebih maju ATAU malah hanya sebagai chearleaders a.k.a. penggembira dan tidak tahu apa-apa karena ya itu tadi kebijakan dan adanya budaya saling menghormati serta balas budi antara tim pemilu dengan pemimpin partai..semoga apa yang ada dibayangan penulis bukan yang terakhir…

Salemba 231008, 22:10
RKM-19

Selasa, 02 September 2008

Aktivis Reformasi Masuk Senayan..Bisakah Mereka Merubah Negara ini ?

Rabu, 27 Agustus 2008 bertempat di Gedung Mahkamah Konstitusi sedang berlangsung pertemuan antar sesama mantan aktivis yang pada tahun 1998 mengkudeta dinasti Cendana untuk mundur dan tahun itulah Indonesia dimata dunia telah melakukan semacam Reformasi Demokrasi lewat aksi yang dilakukan oleh kalangan Aktivis 98 ini.


Mungkin karena bosan atau lain hal, sebagian para aktivis ini setahun setelah reformasi memilih jalur Senayan untuk memperbaiki negara ini yang sudah hancur, tetapi kenyataannya apa ? suara mereka ibarat iklan sebuah mobil bertenaga diesel Nyaris tak terdengar begitu juga aktivis 98 yang masuk pada periode 2004-2009 nasibnya sama dengan kawan mereka terdahulu.


Ehh..pesta demokrasi tahun 2009 yang tidak menghitung bulan, makin banyak aktivis 98 yang masuk ke Senayan, salahsatunya ada pembesar dan perintis dari sebuah organisasi aktivis yang terkenal dengan jiwa frontal dan berkobar menyuarakan pembubaran sebuah partai bonekanya dinasti Cendana dan memahkamah rakyatkan sang dinasti Cendana, malah masuk Senayan lewat partai politik yang jargonnya mengusung rakyat jelata.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, ada apa dengan para aktivis’98 ini masuk ke Senayan terutama aktivis yang satu ini, padahal sepengetahuan RKM kalau tidak salah tokoh aktivis ini pernah menyindir temannya yang satu organisasi ini bahkan mengdaftar hitamkan dua rekannya karena masuk partai yang mereka larang tetapi kenyataannya masuk juga ini orang.


Sah-sah saja seorang aktivis masuk ke Senayan walaupun agak aneh dan janggal, karena kita tahu bagaimana pola aktivis yang pekerjaannya tidak kenal yang namanya tepat waktu dan hanya satu tempat.


Tapi pertanyaannya sekarang adalah, sejauh mana peran dari para aktivis ini terutama satu orang ini yang background pergerakannya selalu masuk dalam buku pengawasan intel tiap wilayah kepolisian di Indonesia jika masuk dan duduk di DPR secara kita bisa lihat bagaimana teman-teman mereka yang sudah duduk di Senayan mulai dari tahun 1999 hingga 2004, ternyata apa ? tidak ada tuch suara mereka yang lantang bahkan kontroversi melawan pemerintah dalam hal kebijakan untuk rakyat, kemana suara lantang anda wahai para aktivis yang masuk Senayan mulai periode 1999-2005 dan 2004-2009 ketika anda di Jalan one by one ketika berhadapan adu argumen dengan komandan keamanan lapangan yang mengamankan mereka berdemo pada saat sang aktivis ini menjadi anggota rapat mulai dari komisi hingga paripurna yang penulis dengar, apakah ini juga akan sama dengan aktivis yang sekarang mengantri untuk masuk dan merasa aura demokrasi di Senayan yang jelas-jelas semu belaka dan penuh kebohongan serta kemunafikan ?


Memang kita akui bahwa tanpa angkatan 98 ini, negara ini tidak akan menjadi negara seperti ini bebas dari kungkungan pemerintahan dinasti yang tidak tahu diri, serta para pejabat yang lulusan universitas yang kalau orang Indonesia bilang bagus tetapi belum tentu di negara asalnya walaupun nyatanya masih saja banyak orang lulusan pegang jabatan strategis. Tetapi begitu Reformasi sampai detik ini negara ini belum juga menunjukkan arti dari kata Reformasi itu sendiri secara nyata ?


Memang disatu sisi tanpa partai apalah arti dari pemikiran kita, karena negara kita baru bisa meraba yang namanya independen atau jalur netral seperti yang digunakan dalam pemilihan kepala daerah tetapi belum sampai ke arah anggota dewan secara perseorangan sehingga bisa dimaklumi kalau sebelum masuk ke Senayan para tokoh-tokoh aktivis yang selalu lantang bersuara hingga hilang suaranya setelah masuk Senayan malah diam seribu bahasa dan menganut diam adalah emas, tapi itulah yang ada sekarang ini.


Wahai para Aktivis, gunakanlah pemikiran anda yang selama anda andalkan di jalan ketika anda berkoar-koar atas nama rakyat jelata dan miskin di rumah rakyat, jangan Cuma bisa cuap-cuap saja di jalan begitu masuk rumah rakyat seperti orang bego tapi terima uang berlimpah tanpa melihat nasib rakyat jelata. Nasib 220 juta rakyat Indonesia berada di pundak dan tanganmu demi negara yang maju, kami tunggu suara lantang dan keras anda di rumah rakyat..

Rabu, 20 Agustus 2008

Tidak Konsistennya Para Calon Pemimpin Negara ini


Gendering pesta demokrasi tahun 2009 sudah terdengar bahkan kabar terakhir sejumlah partai politik sudah memasukkan data anggota partai mereka yang akan berebutan kursi manis di Senayan untuk periode 2009-2014, mulai ada partai yang mengusung anak muda, ada juga yang mengusung artis-artis karbitan dan ada juga partai sebagai tempat penampungan anggota partai lain layaknya TPA Bantar Gerbang kalau TPA Bantar Gebang itu sampah kalau bidang politik adalah orangnya.

Kenapa RKM mengatakan itu, ini terkait dengan adanya pemberitaan bahwa ada salahsatu anggota dewan dari salahsatu parpol yang didepak karena menghina Presiden dan menganut paham poligami tiba-tiba masuk kedalam partai yang dibina oleh seorang yang telah dihinanya yaitu siapa lagi kalau bukan Partai Demokrat.

Adakah yang salah dengan orang ini ? penulis memang sengaja tidak mencantumkan nama seseorang ini bukan karena takut kena pasal pencemaran nama baik tetapi biarlah para pembaca yang mengiranya dan mungkin juga sudah tahu siapa orangnya. Memang disatu sisi tidak ada salahnya pindah partai tiap ada pesta demokrasi tetapi yang RKM heran adalah kenapa beliau masuk ke partai yang jelas-jelas beliau hina pembina dan pendiri dari partai itu, mau dikemanain itu muka ?

Alasan beliau karena mimpi ? tidak mungkinlah kalau menurut RKM masuk democrat karena mimpi belaka, apa yang dilakukan oleh orang ini lebih kepada pencitraan dia yang sudah rusak karena tuntutan penghinaan Presiden dan berpraktek poligami yang mana mungkin partai yang beliau bernaung dahulu melarang praktek Poligami, sehingga orang ini keluar.

Tetapi kalau menurut catatan seperti berita yang sering RKM baca dan lihat orang ini agak sedikit pengecut dan munafik kenapa ? RKM pernah mencatat ketika partainya mengadakan Munas yang mana beliau mencalonkan diri sebagai ketua umum bersaing dengan kandidat lainnya, kemudian beliau pernah berkomentar dengan lantang kalau saya kalah maka saya mundur dari jabatan Wakil Ketua DPR, ternyata Munas tidak mengkehendaki beliau duduk sebagai orang nomor satu dipartainya yang konyolnya adalah apa yang beliau ucapkan tidak sesuai dengan perilakunya karena sampai ada kasus pencemaran dan penghinaan Presiden beliau masih tetap duduk manis di podium Senanyan, apakah ini mental ksatria ?

Yang perlu ditanyakan kepada beliau adalah, apa alasan masuk ke Demokrat apakah ingin dikasihani karena tidak ada partai yang mau menerimanya atau hal lain ? RKM agak sedikit prihatin dengan sikap Demokrat yang jelas-jelas secara institusi dan nurani sudah dirusak oleh tokoh ini tapi kok bisa begitu saja diloloskan menjadi anggota partai bahkan masuk jajaran anggota legislative walaupun katanya menerima tokoh ini dengan jiwa besar tapi apakah tidak rusak citra democrat dengan masuknya tokoh ini yang pernah menghina dan mencemarkan sang Pendiri partai sudah begitu menganut paham Poligami, bukankah kalau tidak salah istri dari pendiri partai ini pernah merekomen salahsatu menteri dikabinet untuk diganti karena menganut paham poligami, kalau sudah begini bagaimana partai memberikan penjelasan kepada konstituennya yang sejalan dengan paham sang istri pendiri partai ?

Seharusnya KPU sebagai otoritas dalam hal administrasi partai harus membuat semacam kebijakan yang berbadan hukum dimana seorang warga negara Indonesia tidak boleh berpindah-pindah partai sampai batas waktu tertentu, misalnya warga negara Indonesia yang ingin pindah partai baru boleh dilakukan lewat dari dua kali pemilu, walaupun itu jelas melanggar HAM, tapi kalau tidak dibeginikan mau jadi apa politik tanah air kita, sementara negara lain menurut pantauan RKM tidak ada tuch seorang warga negara yang menjadi bagian partai pindah-pindah ideologinya ke partai lain..memang aneh Politik Indonesia kita ini.

Ambon 5 , 2008

Selasa, 19 Agustus 2008

Pencitraan =Tukang Tipu


Ini peringatan untuk para pemimpin dan calon pemimpin yang ingin menunjukkan kepada rakyat Indonesia siapa anda sebenarnya walaupun harus menipu orang banyak..

Maksudnya ? kita bisa lihat bagaimana mulai bulan Mei kemarin yang bertepatan dengan perayaan 100 tahun kebangkitan nasional hampir diseluruh stasiun televisi menayangkan iklan tentang seorang tokoh partai ( penulis tidak perlu membeberkan siapa tokoh ini biar anda yang memikirkannya toch anda sudah tahu siapa beliau) dengan kata-kata yang puitis tidak jelas untuk mengingatkan rakyat atau untuk memilih beliau ya ?

Ternyata ada akibat dari banyaknya iklan beliau di televisi berujung adanya semacam keberatan daripada seorang tokoh masyarakat yang merasa kehidupannya yang masyarakat Indonesia tahu berbalik 180 derajat karena iklan beliau.

Adalah suster apung yang merasa ditipu oleh seorang tokoh partai ini, karena menurut pengakuan ibu ini, beliau ditawari oleh seseorang untuk membintangi sebuah iklan yang mungkin menurut beliau iklan yang akan dibintanginya adalah iklan layanan masyarakat karena menyambut kemerdekaan Indonesia, begitu iklan itu sudah selesai dan sang suster belum pernah lihat iklannya tetapi beberapa orang sempat mencibir dan bertanya bahwa profesinya sekarang ini sudah dipolitisasi suatu partai, dan akhirnya beliau lihat iklannya dan merasa keberatan sekaligus ditipu walaupun dari pihak konsultan media dan perusahaan iklan yang membuatnya bahwa sang suster sudah tau bahwa iklan itu untuk pencitraan dan bahkan diberi gambaran story board iklan tersebut dan sudah menerima uang dari iklan tersebut.

Apakah ini sikap dan sifat daripada pemimpin dan calon pemimpin negara ini supaya harga dirinya dan citra kepada masyarakat berbuah positif karena bisa merangkul dan dekat dengan masyarakat walaupun dengan gaya yang tipu menipu dan sedikit munafik ?

Kita tidak perlu menutup matalah bagaimana kelakuan daripada pembesar negara ini jika ada maunya, selalu membuat citra dan memposisikan badan mereka dekat dengan masyarakat yang kecil, termarjinalkan bahkan tersudutkan padahal setelah citra dan kepopuleran mereka terangkat sang pembesar ini tidak lagi melihat mereka yang kecil, termarjinalkan ini, pembesar dan rakyat negara ini diibaratkan (maaf) seorang Om senang dengan seorang Pelacur dimana setelah om senang ini puas mendapatkan sesuatu yang diinginkan dari sang pelacur ini lantas langsung ditinggal begitu saja tanpa ada ucapan apapun, dan inilah yang terjadi di negara ini kalau menjelang Pemilihan Kepala daerah misalnya Gubernur hingga ke Pemilu Nasional yang tinggal menghitung hari menuju ke pentas 2009 betul tidak ?

Saran dan tantangan dari penulis kepada para calon pemimpin negara ini adalah jangan Cuma anak berprestasi serta anak jalanan yang anda bisa rangkul, terus ibu-ibu tua renta dengan rayuan-rayuan maut anda, coba dan beranikah anda rangkul kaum marjinal seperti komunitas PSK, Gay dan lesbian, kawan-kawan narapidana serta penderita HIV untuk menunjang populer anda dan masuk dalam iklan anda,bagaimanapun kelompok ini juga bagian dari 220 juta jiwa rakyat Indonesia. Betul tidak dan berani ?

Kalau saran dan tantangan penulis anda jawab, penulis yakin tingkat populis anda akan semakin lama semakin positif dan tidak ragu lagi 220 juta jiwa rakyat Indonesia memiliha anda dan tentunya iklan dan rayuan yang tim anda lakukan kepada para “bintang iklan” ini harus dengan tulus,iklas dan transparansi serta harus terus dijaga komunikasinya bukan sekedar hanya untuk iklan begitu selesai iklan ditinggal begitu saja.

Anda berani ?

Sabtu, 16 Agustus 2008

Anda Mau Suara Saya, Calon Legislatif ?


Menjelang pesta demokrasi tahun depan, banyak partai berlomba-lomba untuk mendapatkan suara untuk mempertahankan dan menunjukkan kepada masyarakat Indonesia bahwa partai yang anda pilih tidak salah, tetapi apakah dengan banyak suara lantas nasib bangsa ini tidak salah pilih juga dan tambah maju ? tentu tidak !

Kenapa judul penulis seperti itu, bukan maksud sombong tapi memang antara partai dengan konsituennya adalah sebuah simbiosis mutualisma dimana, sama harus menguntungkan, begitu juga dengan penulis, suara penulis bagi semua partai politik yang akan ikut pesta tahun depan pasti membutuhkan suara penulis tapi tidak begitu mudah bagi partai untuk mendapatkan suara penulis walaupun harus dengan rayuan maut dan gombal. Untuk mendapatkan suara penulis tidak mudah ada beberapa hal yang harus diperhatikan calon legislative dan partai yang ingin suara penulis yaitu,

Pertama, harus bisa memberikan pernyataan sikap yang mana isinya adalah latar belakang dan tujuan dia masuk partai itu dan mencalonkan diri untuk duduk di Senayan apakah sudah sesuai dengan hati nurani atau sekedar ingin coba-coba merasakan bagaimana rasanya duduk di Senayan dan membalik modalkan usaha dia setelah masuk ? kalau modelnya seperti yang terakhir jangan harap dapat suara penulis..sory goodbye dech. Kedua, harus bisa memberikan program kerja yang nyata ketika nantinya akan masuk Senayan seperti apakah akan berjuang sampai habis membela rakyat miskin dan keadilan seperti menggertak pemerintah terutama Kejaksaan Agung Republik Indonesia dan Kepolisian Republik Indonesia untuk membuka dan menyeret orang-orang yang terkait kasus-kasus yang sudah ditutup seperti kasus HAM contohnya Kasus Talang Sari, Tanjung Priok, Penculikan Mahasiswa dan aktivis, Tragedi Trisakti dan May 98, Semanggi I dan II, Marsinah, Udin’ Bernas, 27 Juli 1997, Munir, pembuktian kasus PKI 1965, serta Kementerian Luar Negeri terutama Kantor Kedutaan Besar dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Luar Negeri pada kasus-kasus penganiayaan terhadap Tenaga Kerja Indonesia terutama Tenaga Kerja Wanita, contohlah apa yang dilakukan oleh Pengadilan Tinggi di salahsatu negara bagian Amerika yang memenjarakan sepasang suami istri keturunan India dengan hukuman di atas 20 tahun penjara dan mengganti rugi dengan total kerugian satu orang sebesar Rp. 1,6 Miliar.

Ketiga, penulis ingin melihat ketegasan daripada anggota dewan supaya suara penulis memilih anda adalah dalam bidang ekonomi terutama dalam hal kesejahteraan dari 200 juta jiwa rakyat jelata yang hidup tidak jelas, apakah anda berani menentang kebijakan pemerintah yang selalu meminjam dana baik bentuh hibah atau pinjaman lunak, mau sampai kapan negara ini sebagai hamba peminjam ? anggota dewan yang ingin suara penulis juga harus menentang kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dalam hal kontrak migas, karena kita tahu bagaimana isi perut minyak bumi kita diperkosa habis-habisan oleh perusahaan minyak asing tapi bagi negara ini tidak ada untung sama sekali, kalau anda berani meminta pemerintah memanggil para CEO dari perusahaan minyak asing yang telah memperkosa habis-habisan isi perut kita untuk diulang kontraknya dan komposisi keuntungan dimana pemerintah berhak mendapatkan 80-85 persen dari hasil “perkosaan” itu dan sisanya adalah perusahaan minyak tersebut, kalau mereka tidak mau silakan angkat kaki..contolah apa yang dilakukan oleh Presiden Bolivia, Evo Morales yang berani meminta para CEO perusahaan minyak asing yang ada di negaranya untuk tunduk kepada kebijakan yang dikeluarkan oleh beliau dan terbukti minyak mereka stabil kenapa juga kita tidak mencoba, kemudian anda juga harus tegas dan mengawasi kerja daripada Kasus Lapindo karena selama ini penulis lihat semakin lama semakin tidak jelas ganti ruginya dan pemerintah yang harus keluar dana padahal itu bukan pemerintah yang melakukannya.. jadi anda sebagai wakil rakyat jika ingin mendapatkan suara penulis harus bisa meyakinkan penulis akan kerja anda.

Keempat, penulis tidak suka dengan Korupsi walaupun tidak munafik siapa yang tidak kenal dengan namanya korupsi dan uang ? paling tidak bisakah anda meyakinkan penulis bahwa kekayaan dan hasil yang anda dapat adalah usaha dan perjuangan sendiri, supaya tidak berandai-andai kiranya anda setiap enam bulan sekali menayangkan daftar harta anda di media cetak seperti apa yang dilakukan oleh perusahaan atau perbankan jika menjelang tutup buku, setidaknya rakyat terutama kaum jelata tahu berapa total kekayaan anda sebelum masuk ke Senayan, selama di Senayan hingga berakhir tugas anda, kalau seperti niscaya tidak ada lagi yang namanya praktek korupsi di negara ini.

Kalau keempat itu segera di jalankan dengan sebuah kontrak politik yang ditandatangani dengan disertai materai sebesar Rp.6,000 dan kontrak politik itu di muat pada semua harian baik yang terpandang hingga ecek-ecek, maka bolehlah anda meminta suara penulis untuk anda supaya masuk ke sana kalau tidak itu ada dalam benak hati nurani anda, maaf suara penulis lebih berharga kepada orang-orang yang benar-benar prihatin akan negara ini dan mendorongnya untuk maju tetapi dengan bersih dan elegan.


MAU ??

Yang Muda Yang Bergairah… Yang Tua Mbok Sadar diri..Ingat Umur !


Pesta demokrasi yang selalu dinantikan orang-orang di negara ini akan segera di gelar dan tinggal menunggu harinya..sudah banyak individual-individual negeri ini yang berkompeten berlomba membuat iklan politiknya bahkan ada yang numpang semaraknya ajang sepakbola warga Eropa dengan menyelipkan unsure politik negara ini.Ada satu fenomena yang mungkin menurut pengamatan penulis agak aneh tapi kok baru sekarang bergerak ya.. yaitu adanya beberapa anak muda ( dari segi umur sich udah tua, tapi kalau disejajarkan dengan para pemimpin bangsa ya paling muda ) yang mendeklarasikan untuk maju menjadi pemimpin negara ini a.k.a RI 1.Kita bisa lihat ada sosok Rizal Mallarangeng, Ratna Sarumpaet, Yusril Ihza Mahendra dan Fadjroel Rahman yang berlomba untuk mencuri perhatian 220 juta jiwa penduduk Indonesia ini untuk memilih mereka menjadi RI 1, trak record mereka di dunia dan panggung perpolitikan negara ini tidak dapat diragukan lagi, berbagai macam analisis politik mereka sering dimuat wara-wiri pada sejumlah media.


Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, apakah mereka mampu membawa negara ini menjadi berubah dan lebih maju dengan kelemahan mereka adalah usia mereka yang masih muda ? sementara yang tua dengan segala macam asam garam politik mereka ternyata tidak mampu membawa negara ini bangkit dan maju.Kalau menurut penulis dari sekian itu, hanya ada satu yang menurut penulis agak berpontesi untuk duduk di kursi empuk Istana Negara, karena visi-misinya sangat jelas sekali ditunjang dengan latarbelakang yang membuatnya geram melihat kelakuan dari para tokok-tokoh tua negara ini.


Sudah banyak masalah yang membuat negara ini hancur selain ekonominya yang sudah sepuluh tahun masih saja tiarap, bila kita bandingkan dengan negara tetangga Thailand, dalam beberapa tahun saja hingga saat ini perekonomian mereka sudah melesat jauh, yaitu penegakkan hukum, kita bisa lihat dalam pemberitaan media massa setiap harinya ada berapa kolom berita yang dimuat redaksi terkait dengan penegakkan hukum baik korupsi, penyelewengan kekuasaan, hingga HAM, seperti contoh tidak jelasnya berbagai kasus HAM yang ada di negara ini misalnya kasus kematian akibat racun dari aktivis HAM Munir, Marsinah, Wartawan Bernas Udin, penculikan aktivis HAM, kasus trisakti, Semanggi I dan II, 27 Juli 1997, Tanjung Priok September 1984, Talang Sari, Lapindo Brantas dan masih banyak lagi termasuk yang uzur seperti nasib korban G 30s PKI yang sampai sekarang masih termarjinalkan oleh negara dan masyarakat karena mereka tidak tahu apa-apa..


Memang disatu sisi kemampuan calon pemimpin dari komunitas anak muda belum bisa diragukan kemampuannya oleh para kaum tua, tapi kalau tidak sekarang dimulai mau sampai kapan negara ini akan berserah kepada kaum tua yang jelas-jelas tidak mampu membawa negara ini lebih maju setelah tahun 1996 hingga sekarang.Intinya sich bagi penulis buat para calon muda yang ingin duduk empuk dan nyaman di istana Negara adalah pertama, Jangan lagi membuat rayuan gombal kepada rakyat, karena rakyat sudah muak dan pengen muntah sampai dehidrasi karena selama lebih dari 63 tahun Indonesia merdeka dan 10 tahun Reformasi banyak pemimpin negara ini yang selalu janji-janji manis kepada rakyat bahwa negara ini akan lebih maju tetapi kenyataannya ? jadi Berkaryalah dengan NYATA BUKAN!! Dengan KATA-KATA.Kedua, adanya sikap tegas dan keras dalam artian kalau memang dilingkungan kerjanya ada yang salah harus bisa menghukum dan meminggirkan dulu orangnya kalau perlu PECAT tanpa harus memikirkan siapa dia, latar belakangnya apa, terus prestasi untuk negara ini apa, kalau yang namanya kriminal ya kriminal, karena selama ini penulis lihat banyak pemimpin negara ini tidak bisa tegas dalam menindak anak buahnya, jadi saran penulis adalah berikan surat keputusan dimana jika ada pejabat negara mulai dari pusat hingga ke daerah yang terlibat bisa langsung diperiksa bahkan di penjara tanpa harus ada surat ijin, karena masalah surat ijin berlogo kepresidenan lah yang membuat banyak kasus pidana dan perdata seperti kasus korupsi terbengkalai bahkan gantung, karena aparat penyidik khususnya di lingkungan Mabes Polri dan Polda hingga Kejaksaan tidak berani karena belum keluar surat berlogo itu, kalau surat berlogo itu tidak ada lagi niscaya banyak kasus baik yang lama atau yang baru akan langsung proses hingga vonis. Selain itu juga harus berani membongkar kejahatan yang sifatnya mata rantai atau lingkaran setan seperti kasus Soeharto, kenapa negara ini bisa hancur dari segala dimensi dan bidang ya..karena tokoh otoriter inilah semua bermula sehingga beliau dan orang-orangnya bebas berkeliaran untuk memperkosa secara asal ekonomi negara ini dan sudah terbukti hingga sekarang, kalau ini bisa di berantas, walaupun secara kenyataan sang RI 1 ini pun kena harus mundur juga..tapi penulis yakin satu dari sekian orang yang penulis sebutkan ada satu yang bisa membongkar itu semua, karena ya.. itu ia tidak suka, Alergi atau anti dengan yang berbau namanya SOEHARTO dan CENDANA.Kalau dua hal yang bisa di jalankan oleh para kandidat yang penulis utarakan di atas, tidak mustahil negara ini akan maju, dan tentunya suara penulis akan penulis berikan jika kedua hal di atas dilaksanakan dan bukan sekedar rayuan ibarat lelaki meminang pujaan hatinya begitu dapat apa yang diinginkannya lantas ditinggal begitu saja..


Selamat Berjuang kawan muda negeri ini untuk 2009 RI.1

Rhivan Lorca
mahasiswa Dept.Komunikasi Fisipol - UKI

Indonesian Artist be a Member of Indonesian Parlieament and be a leader regional government ? F*#* Off Go to Hell


Pesta demokrasi 2009 sudah di depan mata, banyak parpol yang mulai merapatkan posisi terhadap segala bidang dalam mengamankan suara untuk partai mereka ketika pesta itu akan dilaksanakan, berbagai upaya dilakukan mulai dari iklan, rayuan-rayuan maut kepada rakyat jelata agar memilih partai mereka termasuk menjaring tokoh-tokoh yang bisa menjalankan roda partai mereka di rumah rakyat jika memang 3 persen dari jumlah rakyat Indonesia yang mencoblos partai mereka dan menempatkan orang-orang dari partai mereka di rumah rakyat..


Soal pemilihan atau pengkaderan dari suatu partai sekarang semakin hari semakin tidak jelas, kalau dulu bolehlah pengkaderan yang dilakukan sebuah partai sudah sesuai, tapi kalau sekarang penulis agak ragu dan tidak percaya dengan konsep pengkaderan dari partai saat ini baik yang baju lama atau baru yang membuat penulis tidak percaya dengan konsep pengkaderan partai politik saat ini adalah banyak artis-artis baik yang baru terkenal hingga yang sudah tidak terkenal lagi sebagai anggota partai bahkan anggota dewan, yang menjadi pertanyaan saat ini adalah sudah sebegini parahkah atau tidak sanggup lagi partai menjaring masyarakat untuk dicalonkan menjadi anggota dewan sehingga artis yang digunakan, atau hanya sebagai bumbu penyedap supaya bisa naik popularitas dari partai itu di mata masyarakat walaupun jelas-jelas sudah bobrok.


Tapi pantaskah artis masuk rumah rakyat dengan segala jenjang karier di bidang politik yang boleh dibilang masih bau kencur ? bagi penulis artis masuk rumah rakyat adalah tindakan bodoh atau bunuh diri, karena apa ? pertama, kita tahu bagaimana kehidupan artis itu apalagi yang sering wara-wiri masuk redaksi infotainment dengan berita perceraian, menikah berulang-ulang, selingkuh atau intinya dunia artis itu tidak ada positifnya ditambah dengan masuk ke rumah rakyat..


Kenapa penulis menulis judul di atas dengan nada sedikit marah dan sedikit arogan (mohon sujud maaf kepada artis yang ingin nyalek ke Senayan atau jadi pemimpin daerah), karena ya itu selebritis kita belum bisa menjadi politisi atau yang bahasa halusnya adalah selebritis kita masih bau kencur walaupun ada beberapa mengklaim pernah ikut organisasi seperti OSIS di sekolahnya, dan terbukti sudah banyak artis kita yang periode tahun 2004-2009 saat ini hanya sebagai macan ompong atau mau lebih tragis artis kita yang jadi politisi hanya makan gaji buta yang bermiliar-miliar rupiah sambil planga-plongo itu tanpa ada bukti konkret buat warga Indonesia termasuk konstituennya yang telah memilihnya dengan harapan hidup mereka di negara ini bisa terangkat dari dibawah garis kemiskinan paling tidak naik sedikit tepat di Garis Kemiskinan Setidaknya ada lima artis yang menghuni rumah rakyat periode 2004-2009, tapi bukti nyata buat rakyat termasuk konstituennya mana ? BBM tetap naik, kemiskinan masih ada, korupsi masih ada bahkan dirumah rakyat sendiri yang nota bene pembuat undang-undang anti korupsi, dan tidak pernah penulis baca koran atau nonton di televisi ada anggota dewan yang latar belakang artis berkoar-koar sampai marah besar banting meja trus buang mic hingga melakukan Walk Out menolak apa yang menjadi kebijakan Lembaga mereka tanpa melihat nasib rakyat, kemudian apakah anggota dewan yang akan tugas mulai Juli 2009 hingga 2014 dan yang duduk di kursi orang nomor satu atau nomor dua di daerah seperti mulai dari Gubernur hingga Bupati yang berasal dari kalangan artis nasibnya sama planga-plongo atau lebih maju ?Coba anda tanyakan kepada lima artis yang kebanyakan Planga Plongo di Senayan, terus tanyakan kepada wakil Bupati Tangerang, kemudian Wakil Gubernur Jawa Barat sudahkah mereka bekerja dengan nyata yang sesuai dengan ucapan mereka ketika kampanye kepada rakyatnya paling tidak dalam jangka pendek 100 hari sampai dengan hari ini ? BELUM TUCH ? karena penulis belum membaca semua harian tentang berita kegiatan mereka, kemudian tanyakan kembali kepada Bung H.Y Calon Gubernur Sumatera Selatan, terus Calon Walikota Serang Bang S.J, kemudian Kang D.C. calon Wakil Bupati Garut, lalu Kang P.Y. calon wakil Bupati Sumedang.


Jadi menurut penulis, artis yang nyalek ke Senayan sampai jadi pemimpin di daerah belum bisa menjadi wakil rakyat karena mereka bagi penulis tidak mengerti dan paham akan politik, percuma saja kalau mereka jualan untuk mendapatkan dan menaikkan suara partai dan kursi dia lewat paras dan body yang aduhai cantik dan ganteng, sering masuk Tipi lewat sinetron sampah tapi begitu masuk ke Senayan hanya planga – plongo kayak wong deso katro apa yang mesti di kerjakan karena mereka hanya di beri pengkaderan tentang sistem politik, demokratisasi secara instan paling Cuma 3 bulan di intensifkan seperti anak sekolah yang mau ikut ujian SPMB di tempat bimbingan belajar.Jadi pesan penulis untuk kalangan selebritis Indonesia yang katanya nuraninya diminta bergerak untuk mensejahterahkan rakyat agar berpikir dua kali ini bukan sinetron yang biasa anda bintangi dimana dapat rating dan ada bonus untuk anda, TAPI ini pengabdian ibaratnya anda itu Budak yang harus bekerja apa yang Tuan anda yaitu rakyat anda sendiri minta seperti kesejahteraan ya..anda harus bisa memanjakan mereka, bukan sekedar tebar pesona atau tebar kepopuleran biar banyak yang milih, rakyat sekarang BUTUH bukti nyata di depan mata mereka BUKAN tebar pesona atau jualan kecap yang semua orang terhanyut akan jualan anda.Apakah Senayan akan dipenuhi oleh artis-artis yang sudah kalah pamor di dunianya sehingga Senayan menjadi pelampiasan kantong mereka yang sudah menipis, atau dengan kata lain Senayan tempat pengungsian artis yang sudah tidak popular lagi, atau mereka bisa merubah negara ini menjadi lebih baik dengan keVOKALan mereka melihat rakyat makin miskin berkaitan dengan ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah.


Kita nantikan saja kiprah mereka…


Cawank..Agustus 2008

Selamat Berjuang ATM Demokrasi Bangsa


Pertama-tama penulis ingin mengucapkan selamat kepada para partai-partai politik yang dinyatakan lulus verifikasi yang dikeluarkan oleh Komisi Pemilihan Umum, dan tepat tiga hari yang lalu yaitu pada tanggal 12 Juli 2008 telah memasuki masa kampanye yang mana disinilah partai akan merayu ibarat rayuan gombal kepada setiap warga agar memilih mereka karena jika mereka rakyat ini memilih partai mereka maka negara akan makmur dan berubah, ternyata ?


Kenapa judul diatas penulis tulis, karena partai politik di negara ini tidak lebih dari mesin Anjungan Tunai Mandiri dimana setiap ada event yang mengundang massa banyak pasti UUD-Ujung-Ujungnya Duit dan itulah yang berlaku hingga akhir masa jabatan sampai harus pindah rumah dari rumah dinas ke Hotel Prodeo KPK,apakah ini yang disebut partai ?Penulis setuju dengan apa yang diucapkan oleh pengamat terkemuka dan agak sedikit menggelitik setiap mengeluarkan statementnya yaitu bahwa partai ini selain sudah menjadi ATM Demokrasi dan yang lebih para sudah rusak demokrasi di negara ini dimana kita mengenal semboyan dari Vox Populi Vox Dei yang artinya suara rakyat adalah suara Tuhan tetapi kenyataannya adalah Vox Populi Vox Genum yaitu suara rakyat suara gemericik emas dan itulah yang dijadikan patokan untuk partai menyerap warga untuk menyuruhnya.


Kita tidak usah munafiklah, bagaimana kerja partai politik di Indonesia yang semakin lima tahun pasti bertambah, semua rata-rata adalah berbau UUD- Ujung-ujungnya duit entah itu masuk menjadi anggota partai atau pada saat mendaftar untuk menjadi anggota legislative dan itu semua harus menyertakan beratus-ratus ribu lembar hvs persegi panjang dengan nominal rupiah yang nolnya berderetan panjang..


Sebenarnya apa fungsi dari partai itu sendiri, kalau menurut penulis yang dimaksud dengan partai politik adalah sebuah organisasi yang mana job desknya adalah menyalurkan aspirasi masyarakat terhadap kinerja pemerintah yang berlangsung dan mengawasi jalannya pemerintahannya, tetapi kenyataannya apa ?Pemerintah atau negara ini hanya berubah pada saat tahun 1998, selanjutnya ? masih hanya ibarat ganti baju saja karena basah tetapi tetap saja tidak ada yang berubah bahkan mundur jauh, kita bisa lihat berapa banyak anak yang putus sekolah, berapa banyak wanita yang sekarang berprofesi sebagai Pekerja Seks Komersial mulai dari yang terang-terangan hingga kamuflase seperti ayam kampus atau ayam putih abu-abu atau sekretaris pribadi plus-plus karena apa ?, trus berapa banyak keluarga yang setiap harinya bingung dan selalu berkata dalam hati “ besok kita makan apa ya ?” lalu berapa banyak pengemis yang berkeliaran di setiap perempatan lampu merah baik di Jakarta maupun di daerah mulai Ujung Pulau Sabang hingga ujung Pulau Merauke apakah hal seperti diperhatikan oleh partai untuk mengkritik pemerintah ? NON SEN !! yang ada mungkin mereka-mereka inilah yang berkerja di Senayan yang membuat ini semua hanya satu UANG itulah malapetakanya.Karena Uang banyak pejabat yang harus menginap atau Check-in di Hotel Prodeo baik yang ada di Kuningan-Jakarta Selatan, atau di Jend. Sudirman atau yang ada disekitar Trunojoyo- Blok M, karena uang juga banyak pejabat kita selalu melakukan pekerjaan dengan instant, kalau seperti ini apalah fungsi dari Partai Politik yang semakin hari semakin banyak saja, kalau begini tidak ubahnya seperti pesta ulangtahun bocah dimana selalu ada pembagian kue yang mana selalu berebutan untuk mendapatkan porsi yang tersebar, dan itulah yang banyak dialami oleh partai politik di negara ini jadinya negara ini bukannya semakin baik malah semakin hancur.


Soal adanya rencana golput pun mengemuka, kalau menurut penulis secara pribadi jika kita melihat seperti sepertinya indeks orang Indonesia untuk melakukan golput untuk pemilu mendatang akan semakin banyak, karena banyak sekali partai yang melakukan kebohongan publik ya ibaratnya sudah memperawani wanita sampai (maaf!) ketagihan wanitanya diawalnya manis akan bertanggung jawab tetapi begitu hamil ditinggal begitu saja..nah seperti itulah partai di Indonesia.Yang menjadi pertanyaan besar adalah mau sampai kapan partai ini selalu melakukan kebohongan publik ke rakyat demi sesuap nasi dan segenggam berlian segentong perut tanpa memperhatikan negara ini dan tentunya rakyat, dan berapa banyak persentasi golput di negara ini tahun depan pada saat pemilu 2009 melihat hancurnya perilaku partai baik secara perorangan atau secara Lembaga.


Kita nantikan saja….

Bung Indra.. Bung Indra.. Kenapa Kau di Golkar ?


Mungkin judul diatas ada pertanyaan bagi setiap orang ketika bertemu dengan analisis politik dari Centre for Strategic and International Studies – CSIS Indra Jaya Piliang ketika memutuskan ber-transformasi politik ( kata beliau ) dari pengamat ke politisi yang mana kendaraan yang beliau bawa adalah Partai Golkar pimpinan saudara saudagar dari Kawasan Timur Indonesia


Beliau memang tidak lagi menjadi seorang pengamat politik dari CSIS lagi karena semenjak tanggal 6 Agustus 2008 di salahsatu kampus terkemuka hasil ide dari Cak Nur yang berlokasi tepat di depan Rumkit Medistra tapi sayangnya mahasiswa dari kampus itu sepertinya hanya mementingkan kuliah dan dugem tanpa ada nurani untuk memikirkan bagaimana cara membangun negara ini dan membalas jasa-jasa pahlawan beliau berpamitan kepada rekan-rekan beliau mulai dari media hingga kawan sejawat bahwa sejak tanggal itu beliau menjadi seorang calon legislative dari Partai Golkar ( walaupun sampai acara ini berlangsung di Slipi masih sibuk untuk menentukan nomor jadi untuk semua caleg termasuk beliau ) untuk daerah pemilihan Sumatra Barat II meliputi Kota Pariaman, Kota Payakumbuh, Kota Bukittinggi, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten 50 Kota, Kabupaten Agam, Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Pasaman Barat.


Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa harus GOLKAR ? bukan partai yang baru tapi muka lama, bukankah selama dua tahun ke belakang beliau yang hampir 500 lebih artikel yang ia buat termuat di semua harian dinegara ini menjadi fungsionaris di partai garapan sang reformator.
Kita tahulah bagaimana GOLKAR selama hampir 32 tahun lebih berkarya di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, sudah berapa banyak rayuan-rayuan gombal yang membuat pundi-pundi suara yang mayoritas dari kalangan jelata tapi hasilnya mana memang di awal-awal saja program mereka bagus tetapi masuk tahun 1996 hingga sekarang mana, hancur lebur ibarat mayat yang coba disembunyi tetapi bau bangkainya tidak bisa ditutupi walaupun sudah dikamuflase dengan aroma kopi atau durian tapi tidak bisa juga, walaupun pada akhirnya ada satu tokoh yang bisa menyelamatkan partai ini dari hujatan agar ini partai ini dibubarkan yang akhirnya nasib tokoh ini ibarat habis manis sepah dibuang, tanpa ada ucapan terimakasih langsung dilengserkan dan digantikan oleh seorang pedagang yang orientasi otaknya hanya bagaimana cara mendapatkan untung besar dan itulah yang diterapkan di Partai ini.
Menurut penulis ada beberapa hal yang membuat hubungan antara bung Indra dengan Golkar mesra ibarat pasangan Ryan dan Novel asal jombang.. pertama, adanya beberapa fasilitas yang disediakan oleh partai kepada setiap orang yang ingin bergabung, kita tidak usaha munafiklah bagaiamana fasilitas yang diberikan Golkar dari tahun ke tahun, kemudian bung Indra pun sudah bosan hanya dengan mengkritik lewat tulisan-tulisan panasnya di media sehingga dia butuh kritikan nyata dilapangan tetapi ya itu tidak fasilitas dan sponsor yang mendukung mau tidak mau harus masuk partai dan Golkarlah yang dipilih karena semua yang mungkin dipikirkan oleh bung Indra ada semua di sana walaupun di salahsatu media online, beliau mengatakan alasan dia masuk ke Golkar setelah dua penjahat kemanusiaan Indonesia keluar dari partai itu dan membentuk partai baru. Kedua, Golkar ibarat anak remaja yang baru pubertas sedang mengalami pencaharian jati diri, kenapa penulis menggambar itu ? mungkin dengan bergabungnya bung Indra di Partai rumahnya kaum makhluk halus ini setidaknya bisa mendongkrak lagi pundi suara mereka yang beberapa bulan ini keok, kita bisa lihat beberapa bulan ini setiap pilkada di wilayah Indonesia, tidak ada satupun calon pimpinan mulai dari tingkat Bupati hingga Gubernur yang di usung Golkar tampil sebagai jawara, rata-rata tiarap hanya mendapatkan suara kurang dari ketentuan election thresold dengan pemikiran dan gagasannya terhadap Golkar kedepan, atau yang ketiga menurut penulis, maaf sebelumnya kalau salah, Bung Indra ingin mengubah ideology partai Golkar dengan ideology beliau yang mungkin dilandasi jiwa kepemudaan dengan sikap-sikap yang kritis setelah melihat tindak-tanduk daripada rekan sejawatnya di sana terlebih dahulu yaitu Bung Yudhi Chisnandi yang sudah dua kali mendapatkan surat peringatan yang langsung ditanda tangani oleh sang saudagar karena menolak kebijakan pemerintah menaikkan BBM dalam interplasi paripurna DPR, sementara partai yang dinaunginya mendukung 100 % kebijakan yang dipelopori sang saudagar ini.


Apakah Uda Indra Jaya Piliang dengan ideology dan kritikannya masih setajam setelah masuk dan terpilih menjadi anggota DPR hingga masa tugasnya ? kita hanya bisa menunggu..

selamat berjuang Uda tunjukkan ketajaman ideology dan kritikanmu di dalam atas nama penderitaan rakyat


Cawank...Agustus 2008

Rhivan Lorca

Pendapat Pribadi