Sabtu, 16 Agustus 2008

Anda Mau Suara Saya, Calon Legislatif ?


Menjelang pesta demokrasi tahun depan, banyak partai berlomba-lomba untuk mendapatkan suara untuk mempertahankan dan menunjukkan kepada masyarakat Indonesia bahwa partai yang anda pilih tidak salah, tetapi apakah dengan banyak suara lantas nasib bangsa ini tidak salah pilih juga dan tambah maju ? tentu tidak !

Kenapa judul penulis seperti itu, bukan maksud sombong tapi memang antara partai dengan konsituennya adalah sebuah simbiosis mutualisma dimana, sama harus menguntungkan, begitu juga dengan penulis, suara penulis bagi semua partai politik yang akan ikut pesta tahun depan pasti membutuhkan suara penulis tapi tidak begitu mudah bagi partai untuk mendapatkan suara penulis walaupun harus dengan rayuan maut dan gombal. Untuk mendapatkan suara penulis tidak mudah ada beberapa hal yang harus diperhatikan calon legislative dan partai yang ingin suara penulis yaitu,

Pertama, harus bisa memberikan pernyataan sikap yang mana isinya adalah latar belakang dan tujuan dia masuk partai itu dan mencalonkan diri untuk duduk di Senayan apakah sudah sesuai dengan hati nurani atau sekedar ingin coba-coba merasakan bagaimana rasanya duduk di Senayan dan membalik modalkan usaha dia setelah masuk ? kalau modelnya seperti yang terakhir jangan harap dapat suara penulis..sory goodbye dech. Kedua, harus bisa memberikan program kerja yang nyata ketika nantinya akan masuk Senayan seperti apakah akan berjuang sampai habis membela rakyat miskin dan keadilan seperti menggertak pemerintah terutama Kejaksaan Agung Republik Indonesia dan Kepolisian Republik Indonesia untuk membuka dan menyeret orang-orang yang terkait kasus-kasus yang sudah ditutup seperti kasus HAM contohnya Kasus Talang Sari, Tanjung Priok, Penculikan Mahasiswa dan aktivis, Tragedi Trisakti dan May 98, Semanggi I dan II, Marsinah, Udin’ Bernas, 27 Juli 1997, Munir, pembuktian kasus PKI 1965, serta Kementerian Luar Negeri terutama Kantor Kedutaan Besar dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Luar Negeri pada kasus-kasus penganiayaan terhadap Tenaga Kerja Indonesia terutama Tenaga Kerja Wanita, contohlah apa yang dilakukan oleh Pengadilan Tinggi di salahsatu negara bagian Amerika yang memenjarakan sepasang suami istri keturunan India dengan hukuman di atas 20 tahun penjara dan mengganti rugi dengan total kerugian satu orang sebesar Rp. 1,6 Miliar.

Ketiga, penulis ingin melihat ketegasan daripada anggota dewan supaya suara penulis memilih anda adalah dalam bidang ekonomi terutama dalam hal kesejahteraan dari 200 juta jiwa rakyat jelata yang hidup tidak jelas, apakah anda berani menentang kebijakan pemerintah yang selalu meminjam dana baik bentuh hibah atau pinjaman lunak, mau sampai kapan negara ini sebagai hamba peminjam ? anggota dewan yang ingin suara penulis juga harus menentang kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dalam hal kontrak migas, karena kita tahu bagaimana isi perut minyak bumi kita diperkosa habis-habisan oleh perusahaan minyak asing tapi bagi negara ini tidak ada untung sama sekali, kalau anda berani meminta pemerintah memanggil para CEO dari perusahaan minyak asing yang telah memperkosa habis-habisan isi perut kita untuk diulang kontraknya dan komposisi keuntungan dimana pemerintah berhak mendapatkan 80-85 persen dari hasil “perkosaan” itu dan sisanya adalah perusahaan minyak tersebut, kalau mereka tidak mau silakan angkat kaki..contolah apa yang dilakukan oleh Presiden Bolivia, Evo Morales yang berani meminta para CEO perusahaan minyak asing yang ada di negaranya untuk tunduk kepada kebijakan yang dikeluarkan oleh beliau dan terbukti minyak mereka stabil kenapa juga kita tidak mencoba, kemudian anda juga harus tegas dan mengawasi kerja daripada Kasus Lapindo karena selama ini penulis lihat semakin lama semakin tidak jelas ganti ruginya dan pemerintah yang harus keluar dana padahal itu bukan pemerintah yang melakukannya.. jadi anda sebagai wakil rakyat jika ingin mendapatkan suara penulis harus bisa meyakinkan penulis akan kerja anda.

Keempat, penulis tidak suka dengan Korupsi walaupun tidak munafik siapa yang tidak kenal dengan namanya korupsi dan uang ? paling tidak bisakah anda meyakinkan penulis bahwa kekayaan dan hasil yang anda dapat adalah usaha dan perjuangan sendiri, supaya tidak berandai-andai kiranya anda setiap enam bulan sekali menayangkan daftar harta anda di media cetak seperti apa yang dilakukan oleh perusahaan atau perbankan jika menjelang tutup buku, setidaknya rakyat terutama kaum jelata tahu berapa total kekayaan anda sebelum masuk ke Senayan, selama di Senayan hingga berakhir tugas anda, kalau seperti niscaya tidak ada lagi yang namanya praktek korupsi di negara ini.

Kalau keempat itu segera di jalankan dengan sebuah kontrak politik yang ditandatangani dengan disertai materai sebesar Rp.6,000 dan kontrak politik itu di muat pada semua harian baik yang terpandang hingga ecek-ecek, maka bolehlah anda meminta suara penulis untuk anda supaya masuk ke sana kalau tidak itu ada dalam benak hati nurani anda, maaf suara penulis lebih berharga kepada orang-orang yang benar-benar prihatin akan negara ini dan mendorongnya untuk maju tetapi dengan bersih dan elegan.


MAU ??

Tidak ada komentar: