Selasa, 19 Agustus 2008

Indonesia..contohlah negara Amerika Latin dan Iran , Jangan Amerika


Kalau bicara soal negara ini beserta isinya tidak akan pernah abis untuk dibicarakan apalagi menjelang hajatan 220 juta jiwa rakyat Indonesia dalam hal demokrasi yaitu Pemilihan Umum tahun 2009 yang tinggal menghitung hari ke depan.

Indonesia telah memasuki usia 63 tahun, tetapi kenyataannya tidak sesuai dengan umurnya, terbukti masih banyak rakyat masuk kategori berada dalam bawah garis kemiskinan, korupsi dimana-mana, skandal-skandal yang tidak jelas dan membuat aib keluarga, tidak punya tanggung jawab apa yang telah diperbuat kepada rakyat dan itu terus-menerus hingga hari ini kalau kita menyimak berita-berita yang tersaji oleh kawan-kawan jurnalis.

Pembaca dan pengunjung blog ini pasti bertanya ada apa dengan judul diatas ? memang judul di atas sengaja penulis buat untuk sekedar menjadi bahan perenungan bagi para anak bangsa yang ingin maju dalam pesta demokrasi tahun depan atau yang mencalonkan diri menjadi Presiden untuk lima tahun kedepan.

Kenapa Amerika Latin, kita tahu bagiamana kondisi negara-negara dalam lingkungan Amerika Latin tidak jauh berbeda dengan negara kita dalam berbagai bidang misalnya dalam kondisi ekonomi negara kita dengan negara kawasan Latino tidak jauh berbeda dalam posisi berkembang dan banyak rakyat miskin, dalam geografis juga sama-sama dilintasi oleh garis khatulistiwa yang juga mendapatkan sinar matahari yang lama ketimbang negara-negara lain seperti Eropa dan Amerika Utara, termasuk dalam urusan kriminal pun sama dengan negara kita banyaknya tingkat korupsi yang tinggi dan nepotisme yang diluar kewajaran akal sehat manusia.

Tetapi ada yang beda dengan negara Latino ini dengan negara kita apakah itu ? mereka mau bangkit dari keterpurukan misalnya ekonomi dengan cara mereka sendiri tanpa ada stempel atau embel-embel daripada negara adikuasa Amerika Serikat, sedangkan negara kita ? bangkit ya bangkit tapi dengan bantuan Amerika Serikat.

Terbukti ketika tahun 1997 kala itu krisis ekonomi melanda semua negara di dunia termasuk negara Indonesia, Amerika berperan untuk menawarkan paket ekonomi yang cukup dijangkau oleh negara-negara berkembang lewat badan keuangan internasional – Internasional Monatary Fund-IMF, sebenarnya Indonesia lewat dinasti Cendana tidak mau menggunakan, tetapi karena di desak oleh anak buahnya yang alumni dari sebuah universitas yang mungkin di Indonesia terkenal tapi disana sepertinya tidak ubahnya seperti Universitas ecek-ecek akhirnya negara kita menggunakan jasa IMF dan akhirnya apa ? berkat “kecerdasan” daripada orang-orang lulusan universitas tidak jelas inilah hingga sekarang ekonomi kita tidak beraturan, beda dengan negara-negara Latino walaupun mereka terkena imbas dari krisis ekonomi tapi mereka bisa menolak tawaran Amerika dan terbukti hingga sekarang, meskipun hidup mereka sederhana bahkan miskin tetapi perekonomian mereka terutama sektor pertanian bisa stabil beda dengan negara ini.

Seperti inilah yang harus dicontoh oleh calon Presiden negara ini yang akan duduk manis di Komplek Merdeka Utara hingga Selatan, contohlah kiprah dari Presiden Evo Morales dari Bolivia yang dengan tegas dan keras meminta para CEO perusahaan minyak asing yang berada di Bolivia untuk menuruti apa yang diinginkan Morales mewakili rakyat Bolivia dalam pengaturan bagi hasil dimana pemerintah berhak mendapatkan bagi hasil sebanyak 80-85 % sedangkan perusahaan minyak asing tersebut sisanya, walaupun pertamanya para CEO ini menolak tetapi akhirnya mengalah juga, lalu Presiden Cuba Fidel Alejandro Castro yang jelas-jelas menentang kebijakan Amerika mulai dari Presiden Roosevelt hingga Bush Jr hingga harus diembargo ekonominya hingga saat ini masih dapat bertahan walaupun digantikan oleh saudaranya Raul tetap saja Cuba masih menjaga jarak dengan Amerika, begitu juga Presiden Venezuela, Hugo Chavez yang bersuara keras dan lantang dipodium kehormatan dan di depan 192 anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ketika sidang tahunan menyebut negara Amerika Serikat dan Presidennya George Bush sebagai Setan Dunia karena kebijakannya yang sedikit aneh, sehingga membuat para Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB beserta Staffnya meninggalkan ruang sidang karena tersinggung dengan ucapan Chavez, dan satu lagi yang harus ditiru oleh para Calon pemimpin negara ini adalah sikap dari presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad yang keras menentang kebijakan Amerika bahkan menantang Amerika jika Iran diembargo karena proyek nuklirnya.

Kalau tidak dengan Amerika, Indonesia butuh bantuan siapa ? mungkin itu banyak pertanyaan kalau membaca diatas, sebenarnya tidak apa-apa kita berhubungan dengan Amerika tetapi kita sebagai negara harus punya prinsip jangan sampai seperti sekarang setiap apa yang kita kerjakan selalu di singgung oleh Amerika lewat kedutaan mereka di Jakarta, seperti kasus di Monas 1 Juni 2008 lalu, apa dasarnya Kedutaan Amerika Serikat di Jakarta mengeluarkan pernyataan sikap dan press release yang dikirim ke semua media termasuk penulis yang mengatakan mereka mengutuk peristiwa itu, sementara negara lain lewat Kedutaan atau Sekretaris II bidang Media yang ada di Jakarta tidak ada yang mengirimkan press release terkait kasus itu, hal seperti perlu ditanyakan ?

Dalam hal bantuan juga kita harus memikirkan ada apa dibalik bantuan itu, apakah murni dan tulus dari rakyat Amerika melalui pemerintah Amerika Serikat kepada rakyat Indonesia, atau ada unsur terkait misalnya membantu Amerika di forum Internasional untuk menekan suatu negara.

Negara kita memang menganut sistem politik luar negeri yaitu Politik Bebas Aktif dimana bebas dalam artian kita melakukan pembicaraan dengan semua negara tanpa membedakan negara ini berpihak pada dunia barat atau komunis walaupun ada satu negara yang maaf najis bagi para peminpin negara ini untuk mendekatinya walaupun dari semua pemimpin bangsa ini hanya satu yang berani mendekati negara yang bernama Israel itu, kemudian aktif dalam artian Indonesia selalu aktif dalam organisasi dunia mulai dari PBB hingga organisasi tingkat regional seperti ASEAN.

Yang menjadi pertanyaan sekarang untuk para calon pemimpin yang akan bersaing untuk menduduki kursi empuk di Istana adalah apakah berani mereka menolak apa yang diberikan oleh Amerika, dan lebih mementingkan dan berdiri sendiri bersama rakyat membangun negara ini seperti apa yang dilakukan oleh Presidente Latino ?

Jadi tidak salahnya kita mencontoh kebijakan yang dilakukan oleh para pemimpin dari negara Latino ini yang memang memegang teguh prinsip mensejahterahkan rakyat daripada bertekuk lutut dengan yang namanya kapitalisme ekonomi, walaupun memang di satu sisi kapitalisme ekonomi diperlukan untuk menunjang ekonomi negara.

Ada pesan buat para calon pemimpin kita ini yang penulis kutip dari pernyataan seorang tokoh kulit hitam amerika yang coba penulis rubah kata-katanya yaitu

Jangan engkau tanyakan apa yang sudah rakyat lakukan untuk negara ini, tetapi tanyakan kepada para pemimpin ini mulai dari Presiden, Parlement, hingga Kepala Desa apa yang sudah mereka lakukan untuk rakyatnya dan negara ini ?

Tidak ada komentar: