Senin, 08 September 2008

Siapa Yang Membunuh Munir ?

Tidak terasa sudah empat tahun tokoh aktivis Hak Asasi Manusia ( HAM ),Munir meninggalkan kita semua yang selama ini tidak peduli yang namanya HAM, baik penculikan terhadap mahasiswa, bahkan terlebih beliau meninggalkan istri dan kedua anaknya yang masih membutuhkan peran dari seorang ayah dan kepala rumah tangga.

Siapa yang membunuh Munir ? itulah pertanyaan yang selalu membayangi sang istri dan kedua putra-putrinya serta para keluarga yang merasa menjadi korban HAM yang dibantu beliau, karena sampai usia kematian beliau yang memasuki keempat tanda-tanda dari tokoh yang benar melakukan dan menyuruh untuk membunuh Munir belum juga terungkap.

Sudah berapa orang diperiksa oleh pihak penyidik Kepolisian hingga Kejaksaan mulai dari orang tidak terkenal hingga aparat intelijent yang menguasai negeri ini tetapi hasilnya NIHIL, bahkan sampai Badan Urusan Hak Asasi Manusia bentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengirimkan kepala inspeksi mereka sampai tiga kali, hasilnya dari minat Kejaksaan dan Polisi masih tetap NIHIL, sebenarnya inti dari pengungkapan kasus ini adalah berada di tangan sang RI 1, karena sampai sekarang hingga tulisan ini anda baca, laporan team pencari fakta yang dibentuk oleh kawan-kawan seperjuangan Munir beserta pemerintah belum dibeberkan, di tindaklanjuti bahkan dijelaskan kepada publik, apakah RI 1 takut dan tidak berani dengan tokoh-tokoh yang direkomendasikan oleh team tersebut, sehingga sampai sekarang kasus ini belum ada titik terang walaupun dari pihak kawan-kawan Munir mengatakan bahwa sebenarnya kasus ini bisa selesai kalau nama-nama yang dibeberkan dalam berkas itu di tindaklanjuti bahkan di proses hingga vonis hukuman ketika palu hakim bertindak.

Atau jangan-jangan berkas yang diberikan oleh team pencari fakta kepada RI 1 di taruh di paling dasar tumpukan berkas yang harus ditandatangani atau dibaca oleh RI 1 atau bisa saja dibaca sejenak untuk menyenangkan publik tetapi setelah itu ditaruh di tempat sampah atau dibakar oleh staff setelah disuruh RI 1, walaualam…

Apakah kasus ini menjadi kasus yang misterius seperti kasus Marsinah, Udin’bernas, Fabianus Tibo dan kawan-kawan, hanya Tuhan yang bisa memberikan petunjuk kepada kawan-kawan dan keluarga Munir dan memberikan azab kepada orang-orang yang mengaku suci dan tidak bersalah tetapi hati nuraninya nangis..

Munir..berikan petunjukmu kepada 220 juta jiwa rakyat Indonesia dari Ujung Sumatera hingga Ujung Papua siapa yang membunuhmu biar kami yang membereskannya untuk mu kawan…



Selasa, 02 September 2008

Aktivis Reformasi Masuk Senayan..Bisakah Mereka Merubah Negara ini ?

Rabu, 27 Agustus 2008 bertempat di Gedung Mahkamah Konstitusi sedang berlangsung pertemuan antar sesama mantan aktivis yang pada tahun 1998 mengkudeta dinasti Cendana untuk mundur dan tahun itulah Indonesia dimata dunia telah melakukan semacam Reformasi Demokrasi lewat aksi yang dilakukan oleh kalangan Aktivis 98 ini.


Mungkin karena bosan atau lain hal, sebagian para aktivis ini setahun setelah reformasi memilih jalur Senayan untuk memperbaiki negara ini yang sudah hancur, tetapi kenyataannya apa ? suara mereka ibarat iklan sebuah mobil bertenaga diesel Nyaris tak terdengar begitu juga aktivis 98 yang masuk pada periode 2004-2009 nasibnya sama dengan kawan mereka terdahulu.


Ehh..pesta demokrasi tahun 2009 yang tidak menghitung bulan, makin banyak aktivis 98 yang masuk ke Senayan, salahsatunya ada pembesar dan perintis dari sebuah organisasi aktivis yang terkenal dengan jiwa frontal dan berkobar menyuarakan pembubaran sebuah partai bonekanya dinasti Cendana dan memahkamah rakyatkan sang dinasti Cendana, malah masuk Senayan lewat partai politik yang jargonnya mengusung rakyat jelata.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, ada apa dengan para aktivis’98 ini masuk ke Senayan terutama aktivis yang satu ini, padahal sepengetahuan RKM kalau tidak salah tokoh aktivis ini pernah menyindir temannya yang satu organisasi ini bahkan mengdaftar hitamkan dua rekannya karena masuk partai yang mereka larang tetapi kenyataannya masuk juga ini orang.


Sah-sah saja seorang aktivis masuk ke Senayan walaupun agak aneh dan janggal, karena kita tahu bagaimana pola aktivis yang pekerjaannya tidak kenal yang namanya tepat waktu dan hanya satu tempat.


Tapi pertanyaannya sekarang adalah, sejauh mana peran dari para aktivis ini terutama satu orang ini yang background pergerakannya selalu masuk dalam buku pengawasan intel tiap wilayah kepolisian di Indonesia jika masuk dan duduk di DPR secara kita bisa lihat bagaimana teman-teman mereka yang sudah duduk di Senayan mulai dari tahun 1999 hingga 2004, ternyata apa ? tidak ada tuch suara mereka yang lantang bahkan kontroversi melawan pemerintah dalam hal kebijakan untuk rakyat, kemana suara lantang anda wahai para aktivis yang masuk Senayan mulai periode 1999-2005 dan 2004-2009 ketika anda di Jalan one by one ketika berhadapan adu argumen dengan komandan keamanan lapangan yang mengamankan mereka berdemo pada saat sang aktivis ini menjadi anggota rapat mulai dari komisi hingga paripurna yang penulis dengar, apakah ini juga akan sama dengan aktivis yang sekarang mengantri untuk masuk dan merasa aura demokrasi di Senayan yang jelas-jelas semu belaka dan penuh kebohongan serta kemunafikan ?


Memang kita akui bahwa tanpa angkatan 98 ini, negara ini tidak akan menjadi negara seperti ini bebas dari kungkungan pemerintahan dinasti yang tidak tahu diri, serta para pejabat yang lulusan universitas yang kalau orang Indonesia bilang bagus tetapi belum tentu di negara asalnya walaupun nyatanya masih saja banyak orang lulusan pegang jabatan strategis. Tetapi begitu Reformasi sampai detik ini negara ini belum juga menunjukkan arti dari kata Reformasi itu sendiri secara nyata ?


Memang disatu sisi tanpa partai apalah arti dari pemikiran kita, karena negara kita baru bisa meraba yang namanya independen atau jalur netral seperti yang digunakan dalam pemilihan kepala daerah tetapi belum sampai ke arah anggota dewan secara perseorangan sehingga bisa dimaklumi kalau sebelum masuk ke Senayan para tokoh-tokoh aktivis yang selalu lantang bersuara hingga hilang suaranya setelah masuk Senayan malah diam seribu bahasa dan menganut diam adalah emas, tapi itulah yang ada sekarang ini.


Wahai para Aktivis, gunakanlah pemikiran anda yang selama anda andalkan di jalan ketika anda berkoar-koar atas nama rakyat jelata dan miskin di rumah rakyat, jangan Cuma bisa cuap-cuap saja di jalan begitu masuk rumah rakyat seperti orang bego tapi terima uang berlimpah tanpa melihat nasib rakyat jelata. Nasib 220 juta rakyat Indonesia berada di pundak dan tanganmu demi negara yang maju, kami tunggu suara lantang dan keras anda di rumah rakyat..

Di Istana, ada Televisi tidak ya ?

Itulah pertanyaan RKM kepada Presiden Republik Indonesia, Bapak DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono di Istana ada Televisi tidak ? kenapa RKM menanyakan itu, ini terkait dengan masalah yang banyak muncul di banyak media.

Kita bisa lihat bagaimana nasib 220 juta rakyat Indonesia dengan permasalahan salahsatunya ekonomi, seperti yang baru-baru kemarin dimana gas elpiji ukuran 12 Kg naik dari harga Rp.57,000 menjadi kisaran Rp.79-85,000. Kemudian banyaknya penggusuran yang berujung kontak fisik bahkan perang batu seperti yang terjadi di kawasan Barito, taman BMW dan yang terakhir di Kantor Pusat Persatuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Salemba 10, kemudian aksi-aksi anarkis daripada organisasi masyarakat yang mengaku suci dan selalu mengagungkan nama Tuhan tapi kerjaannya menghancurkan, menindas bahkan menjuluki setiap orang yang tidak sepaham dengan mereka dengan kata KAFIR.

Dari semua kejadian itu yang berlangsung di Ibukota dan masih banyak lagi di daerah mulai dari Aceh hingga Papua apakah Presiden menonton itu semua di televisi dan bagaiamana perasaan dan hati nuraninya berkata ketika menyaksikan itu ? atau jangan-jangan SBY tidak berani membuka televisi terutama jam-jam yang menampilkan siaran berita takut memicu jantung dan tekanan darahnya naik, sehingga lebih senang menyaksikan acara infotainment dan sinetron secara mantunya seorang selebritas negeri ini ?

Kenapa RKM mengatakan itu, dikarenakan kenapa selama RI 1 yang sekarang mimpin semakin hari arah negara ini terutama kesejahteraan rakyat tidak jelas mau dibawa kemana, dimana-mana setiap 6 bulan sekali pasti ada kemajuan tetapi di negara ini terutama presiden yang sekarang boro-boro kemajuan, kemunduran malah iya, kita bisa lihat bagaimana beberapa hari yang lalu ada sekelompok demonstran yang berdemo kalau tidak salah di Istana dan Kantor Badan Pusat Statistik mempertanyakan data keakuratan jumlah penduduk miskin yang kata badan ini dan dibacakan sang RI 1 jumlah penduduk miskin telah berkurang sekian persen, tetapi kenyataannya ? RKM juga ragu dan curiga dengan data yang keluar dari Kantor yang berlokasi di daerah Pasar Baru itu, apakah mereka mendata setiap inci dari mulai propinsi hingga pedesaan di negara ini hingga kebawah- bawah kolong jembatan dan pinggiran kali atau hanya kira-kira saja selama periode tertentu dan langsung memberikan data itu ke sejumlah pejabat seperti Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat-Menko Kesra dan Menteri Sosial setelah dibaca tanpa di cek-ricek lagi langsung diberikan penjelasan dan datanya kepada RI 1, kalau seperti ini berarti budaya ABS- Asal Bapak Senang masih jaman.

RKM sangat setuju dengan tindakan RI1 yang marah ketika memimpin rapat kabinet dimana ada tiga pejabat sedang asik masyuk berbicara sendiri, tetapi alangkah lebih baiknya kalau RI 1 turun langsung inspeksi mendadak tanpa ada kawalan khusus melihat kalau perlu hitung sendiri data penduduk miskin kemudian cocokkan dengan data yang dipegang BPS, baru disanalah ketahuan siapa yang benar dan salah datanya, dan juga pesan RKM kepada RI 1 tolonglah kalau mau mengambil kebijakan atas nama rakyat seperti kenaikan BBM dan Gas dengarlah jeritan rakyat miskin dan jelata dengan cara turun dan inspeksi mendadak tanpa kawalan dan pemberitahuan khusus, dan lebih sering ingat-ingat lagi apa yang anda ucapkan ketika anda berkampanye 5 tahun lalu di depan 220 juta jiwa rakyat Indonesia mulai dari Aceh hingga Papua sebelum menjadi RI 1 saat ini, karena jangan lupa apa yang anda ucapkan dalam kampanye itu telah di catat dengan rapi oleh sang Khalik dan sewaktu-waktu kontrak hidup anda berakhir, apa yang anda bisa jawab dan jelaskan ketika catatan dari sang Khalik itu tentang ucapan, dan tindakan anda selama anda di dunia dibacakan ?

Apakah nasib 220 juta jiwa rakyat Indonesia yang mana 90 % rakyat miskin dan jelata akan naik statusnya pada saat pemimpin baru datang untuk periode 5 tahun mendatang, atau malah tambah banyak dan makin miskin dan jelata saja 90 % dari 220 juta jiwa rakyat Indonesia ini ? hanya Tuhan yang tahu.. Tuhan.. sadarkanlah para pemimpin dan pembesar negara ini jangan hanya perutnya dan kacamatanya saja yang besar tapi rakyatnya juga harus besar dalam kesejahteraannya..amin..

Kalah..Kok Bisa Juara Turnament ya..

Judul itu penulis ambil ketika sedang membaca sebuah tabloid olahraga dimana Tim Nasional sepakbola Indonesia A juara Piala Kemerdekaan padahal secara fakta di lapangan Timnas kita tertinggal 0-1 dari Tim Libya U-23, apa yang menyebabkan Timnas kita menang ?


Ternyata Timnas Libya U-23 walk out karena pelatih mereka tidak mendapatkan perlindungan dari panitia, dikarenakan adanya aksi pemukulan yang dilakukan oleh Pelatih Kiper Timnas Indonesia, ini menurut penjelasan dari sang Pelatih Libya U-23 yang mengatakan bahwa lensa kacamatanya pecah karena pemukulan itu, sehingga sang Pelatih Libya U-23 melapor ke Federasinya dan waktu itu juga Federasi Sepak Bola Libya memutuskan tidak melanjutkan pertandingan karena tidak ada jaminan keamanan dari pihak Indonesia selaku panitia.


Inikah bentuk tidak sportif dari insan sepakbola nasional disaat ketinggalan pertandingan langsung melakukan aksi yang tidak simpati ? kita bisa lihat bagaimana kondisi sepakbola kita terutama di ajang liga dimana setiap klub yang menjadi tuan rumah pasti menang dan diberi keuntungan oleh wasit ketimbang tim tamu, pantas saja kalau ini menular sampai ke Timnas seperti apa yang terjadi di ajang Pertamina Independece Cup 2008 kemarin.

Seharusnya PSSI harus berkaca dan menurunkan komdis untuk menyelidiki ini, karena ini bisa presden buruk kalau Federasi Sepak Bola Libya melaporkan kasus ini kepada Komisi Disiplin FIFA, dan tidak menutup kemungkinan sanksi tidak boleh berlaga di semua ajang internasioanl hingga periode tertentu, apakah sepakbola kita seperti macan kertas saja, jago kandang tapi ga bisa kemana-mana karena sanksi.


Tapi kalau menurut RKM memang sudah harus begini kali biar semua pengurus PSSI sadar akan tugasnya dan berjiwa satria untuk mundur dari kursinya, ada benarnya kalau Federasi Sepak Bola Libya melaporkan ke FIFA biar Indonesia terutama PSSI kena sanksi karena menurut RKM ada dua sisi kalau kita kena sanksi dari FIFA, yang pertama secara kualitas kita akan tertinggal jauh tetapi disatu sisi dengan adanya larangan bertanding dari FIFA di setiap kalender FIFA setidaknya kita semua bisa intropeksi terutama pengurus PSSI sekarang karena FIFA sebenarnya sudah tidak percaya dengan struktur organisasi yang dipimpin oleh pesakitan, tetapi karena keras kepala, muka penjilat dan kepala batunya para pengurus yang ada membuat kompetisi dan aura sepakbola kita semakin tidak jelas arahnya. Betul tidak ?


Apakah Federasi Sepakbola Libya mau melaporkan insiden final Pertamnia Independence Cup 2008 ke FIFA dan merekomendasikan Indonesia untuk di hukum tidak boleh bertanding di ajang internasional yang masuk kalender FIFA, atau di biarkan begitu saja dengan diselesaikan secara kekeluargaan seperti apa yang selalu digunakan oleh rakyat Indonesia yang sampai tidak pernah maju karena paham ini ? kita lihat saja kelanjutannya.