Jumat, 09 Januari 2009

Dimana Nuranimu HAMAS ?











Pertama-tama penulis ingin menghaturkan simpati dan duka yang dalam kepada seluruh rakyat tepi Gaza-Palestina dengan apa yang terjadi selama beberapa hari menjelang pergantian tahun hingga saat ini, semoga keluarga yang ditinggalkan dapat diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi ini semua. Kedua, lewat tulisan ini penulis meminta maaf kalau dalam penulisan yang pembaca atau pengunjung blog ini agak sedikit menyinggung soal agama atau ideologi, bukan maksud memojokkan tapi itulah yang ada didepan penulis yang penulis tuliskan serta untuk intropeksi dalam diri kita masing-masing jika anda membaca tulisan ini, sekali lagi mohon maaf.



DIMANA batang hidungmu sang Pemimpin HAMAS, Ismael
Haniya beserta jajarannya ketika ratusan anak, balita, wanita mati secara perlahan karena cuaca dingin dan kelaparan, dimana engkau Haniya jangan Cuma berkoar dengan mengatakan bahwa Israel akan Kalah Buktikan Haniya?!



Ini bukan pertama kalinya Israel menggempur Palestina, setidaknya menurut catatan penulis dalam konflik ini sudah 11 peristiwa yang terjadi dimulai pertama kali pada tahun 1953 sebuah peristiwa yang bernama Pembantaian Qabiyyah, dimana tentara Israel menyisir habis dan meratakan daerah itu dengan tanah. Setelah mengisolasi penduduknya dari semua kemungkinan pertolongan, pasukan gila ini menembak ke segala arah. Mereka meledakkan seluruh rumah dan membantai penduduknya tanpa ampun. Pembantaian ini berlangsung selama 32 jam. Dan peristiwa yang terakhir adalah yang terjadi baru-baru ini tepatnya 27/11/08. Hari pertama telah syahid 271 orang, 750 orang luka-luka dan tidak kurang dari 200 orang dalam keadaan kritis, dan itu masih terjadi sampai tulisan ini dimuat dalam blog ini.

Ada apa dengan Israel dan Palestina ? penulis tidak perlu kronologikan kejadian yang sering terjadi ini biarlah opini publik yang tahu, penulis hanya kasihan dimana rakyat sipil lah yang tidak menahu akan konflik ini menjadi korban, pembaca dan pengunjung blog ini mungkin bertanya dengan judul diatas, memang penulis menulis judul diatas sangat sesuai dengan apa yang terjadi di negara tersebut.



semut di seberang kita lihat tetapi gajah dipelupuk mata tidak terlihat. Tetapi inilah yang saat ini terjadi dinegara kita.




Dimanakah nuranimu HAMAS ? itulah yang menjadi pertanyaan kita kepada HAMAS, kita tahu HAMAS adalah salah satu faksi yang ada di Palestina dimana mereka memperjuangkan kedaulatan dan kemerdekaan Palestina tidak dengan jalan diplomasi tetapi lebih kepada aksi frontal dan brutalisme dan pada tahun 2006 kemarin memenangkan pemilu Palestina dan berhak atas posisi strategis dalam pemerintahan Palestina yaitu Perdana Menteri, akibat dari kemenangan HAMAS dan latarbelakang dari gerakan HAMAS inilah yang membuat Israel berang, padahal ketika akan pemilu Palestina, Israel pernah berujar bahwa Israel akan melakukan konsolidasi perdamaian dengan pihak Palestina manapun yang memenangkan pemilu, tetapi dibalas oleh HAMAS bahwa Palestina tidak perlu berdamai dengan Israel.

Selama HAMAS memimpin pemerintahan Palestina, rakyat sipil selalu menjadi korban dari tindakan radikal HAMAS terhadap Israel bahkan situasi ekonomi pun sempat mendera mereka dimana puluhan karyawan tidak dibayarkan haknya kemudian pasokan makanan dan distribusi makanan mereka terhenti karena diboikotnya oleh beberapa negara akibat kepemimpinan HAMAS yang dinilai mata dunia sebagai organisasi radikal dan tidak jauh dan tidak lebih dari organisasi teroris.

Ditambah dengan kejadian baru-baru ini yang mana lebih dari 1,000 orang tewas yang dominan adalah anak-anak dan wanita, masih keras kepala dan mati nurani kah dari para pemimpin HAMAS ini melihat rakyatnya tewas padahal yang mereka butuhkan adalah makanan dan hidup yang layak dan damai tanpa peduli apa yang dilakukan HAMAS, dan HAMAS masih saja terus berjuang melawan Israel dengan kekerasan ?
Memang kalau kita lihat Palestina ini ibarat dua sisi mata koin logam, kenapa ? ini hasil dari pengungkapan salah seorang pensiunan diplomat yang pernah bertugas di KBRI kawasan Timteng dalam suatu forum yang penulis ikuti, dimana kata beliau negara arab bingung dengan Palestina, kalau Palestina benar-benar menjadi sebuah negara maka negara-negara arab ini akan merasa seperti (maaf!) kacung mereka karena kemampuan dan analisis mereka terhadap suatu masalah diatas kemampuan dan analisis orang arab, dan kalau tidak merdeka, mereka prihatin dengan kondisi warga Palestina itu sendiri, memang sangat ironis kalau kita bayangkan dengan ucapan yang diucapkan oleh pensiunan diplomat tersebut, tetapi mau bagaimana !



Negara masih susah dan belum bisa bayar hutang kok bantu negara susah, lalu jawaban pak beye mewakili 220 juta rakyatnya apa ?




Bagaimana dengan Indonesia ?

Akibat dari tindakan Israel ini semua negara di dunia termasuk Indonesia mengecam dan mengutuk keras ini, bahkan Indonesia meminta PBB untuk membuat resolusi seperti yang dilakukan PBB ketika Lebanon dan Israel bertempur dimana Israel klaim bahwa mereka melakukan itu karena ingin memusnahkan faksi Hizbullah.

Itu baru tingkatan pemerintahan, sementara ditingkat bahwa yaitu rakyat Indonesia terutama umat Islam menyerukan untuk menggalang dana bahkan ada yang menyerukan untuk mengirimkan jasa mulai dari jasa relawan kesehatan hingga melakukan jihat.

Apa yang dilakukan Indonesia ditingkat pemerintahan sudah baik paling tidak dunia akan segan melihat tindakan kita yang keras meminta Sekjend PBB untuk mengeluarkan semacam resolusi walupun diveto oleh AS, tetapi yang konyol menurut penulis adalah tindakan yang dilakukan tingkat bawah terutama penggalangan dana hingga pengiriman bantuan mulai dari bantuan kesehatan hingga jihad.

Kenapa konyol, maaf sebelumnya kalau tulisan ini membuat anda marah, tetapi coba anda pikirkan kembali, soal pengiriman bantuan menurut penulis sah-sah saja toch kita didunia ini tidak bisa hidup sendiri harus ada simbiosis mutualisma, tetapi alangkah baiknya kalau kita mengurus kebutuhan di dalam negara ini dahulu baru kita urus kebutuhan yang dibutuhkan oleh Palestina, jangan sampai sebuah peribahasa itu terjadi pada kita yaitu semut di seberang kita lihat tetapi gajah dipelupuk mata tidak terlihat. Tetapi inilah yang saat ini terjadi dinegara kita.

Kita bisa lihat begitu peristiwa ini pecah, semua element menghujat habis tindakan Israel dan langsung menyerukan bantuan dari semua pihak dengan berbagai bentuk misalnya adalah salahsatu partai mulai dari tahun 2006 mengatakan bantuan dimana setiap orang menyumbang US$ 1 untuk 1 orang atau istilahnya
One Man One Dollar, bahkan ada salah satu partai menerapkan pola ini tetapi beda mata uang yaitu One Man One Dinar tetapi menurut pengamatan penulis program itu sampai detik ini TIDAK ADA LAPORAN KEUANGAN baik itu termuat dalam media atau release dari partai itu bahwa program ini SUKSES sampai ke tanah Palestina dan diNIKMATI oleh rakyat Palestina atau TIDAK!! Kemudian ada lagi Organisasi Masyarakat beraliran agama keras yang ngotot dan kepala batu mengirimkan pasukan jihad untuk menyerang Israel ke daerah Palestina, padahal sebelum Israel invasi ke Palestina terlebih dahulu invasi ke Lebanon mereka sudah mengirimkan tetapi tetap saja TIDAK ADA LAPORAN apakah yang berangkat itu SELAMAT semua tanpa ada cacat tubuh dan kembali ke Jakarta atau TEWAS !!!

Pertanyaan untuk para pemimpin baik partai ataupun organisasi masyarakat maupun rakyat sipil yang tergerak untuk mengikuti kegiatan menjadi relawan hingga melakukan jihad adalah apakah anda sudah siap mental menghadapi situasi disana, padahal situasi kondisi baik geografis, budaya, berbeda dengan negara kita walaupun disana ada persamaannya yaitu bahwa sama-sama hamba Allah, kemudian kalau memang anda berangkat ke sana, lalu SIAPA yang akan MENANGGUNG kebutuhan dan kesejahteraan istri, anak dan anggota keluarga lainnya dalam sehari-hari kalau anda sendiri menjadi TULANG PUNGGUNG ekonomi ? memangnya negara MAU memberikan pertolongan ekonomi kepada keluarga anda selama anda pergi? tolong dipikirkan kembali !!!

Penulis juga mengkritik kalangan media, dengan kekuatan media bisa meraih simpati kepada rakyat tanpa memberikan perimbangan berita contohnya dengan cara mempertontonkan tayangan yang bersifat simpati seperti membeli gambar televisi yang sedang meliput kegiatan bantuan kepada korban invasi di rumah sakit, sementara korban rakyat Israel atau tentara Israel yang cidera hingga meninggal tidak pernah disorot atau ditayangkan walaupun kita tahu bahwa tayangan-tayangan itu dibeli stasiun televisi di Indonesia dari televisi asing. Jadi tolonglah kepada pihak media kalau memang anda mempunyai jiwa jurnalis dimana menurut Bill Kovach dan Tom Rosenstiel yang berjudul Elemen-Elemen Jurnalis adalah Tugas Jurnalis itu adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan warga agar mereka bisa hidup merdeka dan mengatur dirinya sendiri, serta kewajiban jurnalis adalah pada kebenaran, tetapi kalau di Indonesia apa yang dibilang oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel ini sepertinya tidak berlaku.

Padahal sebelum peristiwa ini terjadi, kita dikejutkan dengan peristiwa banyaknya banjir dibeberapa daerah seperti wilayah Kalimantan, Sumatera yang mana Pemda setempat tidak mampu memberikan bantuan yang layak,
seharusnya kita lah sebagai mahkluk sosial dan sesama warga Indonesia ikut membantu meringankan beban mereka, atau ketika terjadi gempa kekuatan 5,6 SR di kepulauan Talaud, serta Gempa di Papua Barat yang memicu adanya Tsunami di Jepang , atau langkanya BBM, atau kondisi korban Tsunami yang sampai sekarang tidak sejahtera dan terbuai dengan rayuan yang dilontarkan oleh Pemerintah dan pihak asing bahwa mereka akan hidup layak tetapi kenyataannya, atau nasib para pengungsi korban Lumpur Lapindo yang mungkin sekarang banyak yang GILA atau anak-anak usia produktif nyambi (maaf!) jadi PEREK/ JABLAY karena tidak ada biaya untuk sekolah, seharusnya isu-isu ini kita harus bantu dan tekan pemerintah untuk mensejahterahkan rakyatnya BUKAN meminta pemerintah membuka akses rakyat Indonesia untuk bisa berjihad atau memberikan bantuan, memang solidaritas, tapi apalah arti solidaritas itu kalau negara dunia melihat kondisi Indonesia yang mungkin sama dengan Palestina, sama-sama kekurangan dan saling butuh, mau dikemanakan muka kita sebagai rakyat Indonesia kalau dalam forum internasional dan direkam oleh media, ada salahsatu pemimpin celetuk Negara masih susah dan belum bisa bayar hutang kok bantu negara susah, lalu jawaban pak beye mewakili 220 juta rakyatnya apa ?

Apakah Nasib Palestina yang memimpikan menjadi sebuah negara akan tercapai atau sebaliknya mereka akan menjadi kuburan hidup bagi Israel, dan bagi Indonesia dengan moment ini akankah masih terus mengirimkan bantuan walaupun kondisi dinegaranya sendiri sama bahkan lebih tragis daripada tragedi Palestina ? kita lihat saja dan kita semakin tahu bahwa yang namanya KEDAMAIAN itu mahal harganya….


Peace, Love, Pluarism, Unity and Respect

Jakarta 010109 10:10

Rhesa Ivan Lorca
Pendapat Pribadi

Prihatin kepada Anak Putih Biru dan Putih Abu-Abu



eksponen_98, Inilah contoh salah seorang pejabat yang tidak peduli akan hak-hak anak, anak sekolah dianggap biang keladi kemacetan diJakarta..... Padahal tdk ada korelasinya sama sekali antara kemacetan dengan pemajuan jam sekolah.... Liat dong pak.... sukses apaan, macetnya masih parah.... dasar ASBUn... JANGAN
MEMBOHONGI RAKYAT..... LEBIH BAIK ANDA DAN FAUZI BOWO MUNDUR SEKARANG JUGA.... selama kepemimpinan Fauzi Bowo dan anda.... JAkarta malah amburadul konsep yang tidak jelas



Tulisan diatas adalah komentar dari pembaca suatu situs berita tentang diberlakukannya peraturan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota –Pemprov DKI tentang kebijakan waktu masuk sekolah di semua sekolah yang masuk dalam lingkungan DKI yang biasanya masuk pukul 07.00 Wib dengan peraturan ini sejak tanggal 5 Januari 2008 jam masuk pelajar baik pelajar putih biru maupun putih abu-abu dan juga putih merah menjadi 06.30 WIB adapun alasan yang terlontar dari aparat Pemprov DKI adalah untuk menghindari kemacetan yang semakin hari semakin diparah disetiap sudut ibukota.


Benarkah dengan perubahan jam masuk anak sekolah di DKI, kemacetan di jalan-jalan DKI bebas dari kemacetan ? memang disatu sisi dengan adanya kebijakan ini kita tidak bisa pungkiri bahwa sebelum kebijakan ini keluar, kita tahu bagaimana kondisi jalan di ibukota yang semakin hari bukan semakin panjang dan lebar tetapi semakin pendek dan sempit, memang kita seharusnya kita berterimakasih kepada DKI1 dan DKI2 atas kebijakannya sehingga banyak orang DKI tidak pusing lagi tapi dibalik kebijakan itu ada yang membuat penulis miris.

Kenapa miris, karena kebijakan inilah para pelajar harus rela bangun lebih pagi supaya tidak terlambat, padahal kita tahu bagaimana pelajar DKI ini selesai belajar di sekolah ? mungkin kita tahu, sebelum ada kebijakan ini para pelajar baik SD, SLTP dan SLTA masuk pukul 07.00 pagi, dan mereka pulang pukul 15.30-16.00 sore (ini untuk anak putih biru dan abu-abu), itu baru pulang sekolah setelah pulang sekolah apakah mereka langsung pulang kerumah mereka dan langsung beristrirahat dikasur empuk dikamar mereka ? ternyata tidak, setelah mereka keluar dari sekolah mereka langsung menuju ke tempat bimbingan belajar atau les mata pelajaran untuk memantapkan materi belajar mereka apa yang tadi mereka dapat untuk lebih fokus lagi apalagi kalau sudah menginjak kelas 3 SLTP dan SLTA, atau sekedar menyalurkan hobinya seperti les atau latihan futsal atau musik, dan itu baru selesai sekitar pukul 19.00 dan mereka baru sampai di rumah sekitar Pukul 20.00-21.00 belum menyelesaikan tugas-tugas dan pekerjaan rumah mereka, setelah itu semua selesai mereka baru beristirahat dan itu menunjukkan pukul 23.00 bahkan ada yang sampai 01.00 dinihari, dan mereka harus bangun jam 04.00 untuk mempersiapkan diri mereka untuk berangkat ke sekolah dan jam 05.30 mereka sudah harus berada di tepi jalan untuk menyambut angkutan yang akan mengantar mereka ke sekolah mereka, dan itu harus dilakukan setiap hari mulai dari hari senin hingga jumat.



“ Wah, kalau jam masuk sekolah dimanjukan, saya harus bangun pukul 03.30 dan berangkat 04.30. Bisa-bisa saya ketemu maling di jalan “ Kata Suherti, guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Perbanas, Cakung, Jakarta Timur. Rumah Suherti di Rawa Kalong, Bekasi Timur, berjarak sekitar 20 kilometer dari sekolah
( KOMPAS, 201108 hal 29 )




Mungkin waktu longgar mereka hanya sabtu dan minggu dan itu harus mereka harus pergunakan semaksimal mungkin supaya bisa segar kembali untuk “berperang” pada hari senin hingga jumat, yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apa yang dijabarkan penulis adalah kondisi pelajar sebelum ada kebijakan Pemprov dan itu adalah pelajar yang bertempat tinggal di daerah pinggiran seperti Bekasi, Depok dan Tangerang bahkan ada yang dari Bogor, kalau dengan adanya kebijakan ini mau jam berapa anak sekolah yang berada bertempat tinggal didaerah pinggiran untuk bisa sampai di depan pintu gerbang minimal 10 menit sebelum jam 06.30 dengan melihat kondisi jalan akses dari dari daerah pinggiran DKI ke DKI dan juga durasi waktu operasional angkutan umum pada pagi hari ?

Penulis jadi berpikir agak negatif kenapa Pemprov membuat kebijakan ini, apa karena mereka terutama DKI 1 dan DKI 2 sudah tidak lagi merasakan anak yang berusia sekolah atau karena mereka semua bersekolah diluar negeri oleh karena itu mereka berdua membuat kebijakan ini ?

Dan apakah dengan kebijakan anak sekolah ini bisa menentukan bahwa pelajar yang beraktivitas sekolahnya lebih pagi bisa 100% lulus pada UAN tahun ini ?

Apa yang dilakukan oleh Pemprov ini ada bagusnya, tetapi kiranya lebih “manusiawi”lah karena menurut pengamatan dan wawancara kecil sempat penulis lakukan kepada para pelajar yang kebetulan penulis lihat pada saat pulang bahwa hampir 60% pelajar di DKI adalah bukan warga DKI melainkan warga atau pelajar yang bertempat tinggal di daerah pinggir DKI seperti Tangerang, Depok, Bekasi bahkan ada dari Bogor itu baru pelajarnya belum dihitung guru-gurunya, bahkan disalahsatu harian memuat ucapan dari seorang guru bahwa kalau ini (peraturan) diterapkan berarti beliau setiap pagi akan selalu bertegur sapa dengan tukang sayur, satpam kompleks dan tentunya maling yang abis meraup keuntungan (penulis tidak tahu bagaimana kelanjutan dari Ibu guru ini setelah peraturan ini berlaku!)

Penulis berharap kepada pemprov, lebih baik peraturan itu dikaji kembali, memang disatu sisi dunia permacetan tidak ada lagi, tetapi apakah anda tidak kasihan dengan kondisi tubuh pelajar ini yang setiap hari harus bangun pagi, padahal mereka sebenarnya kurang waktu untuk istirahatnya, jadi tidak salah orangtua murid yang anaknya duduk dikelas tiga baik SLTP atau SLTA menggugat DKI 1 dan DKI 2 kalau di bulan Juli nanti pengumuman UAN anak anda tidak lulus karena mereka kurang istirahat termasuk dalam hal dunia hiburan mereka, Ingat manusia memerlukan setidaknya 8 jam untuk istirahat tetapi apakah ada manusia di DKI yang istirahatnya 8 jam!

Sebenarnya kalau boleh jujur ya, yang PANTAS harus masuk jam 06.30 adalah para pegawai negeri sipil-PNS yang berada di wilayah hukum DKI kenapa ? bukan maksud memojokkan atau apa tetapi fakta yang ada dilapangan dan apa yang kita lihat adalah bahwa kita tahu bahwa jam masuk PNS adalah 07.30 tetapi kenapa hingga jam 10 pagi masih saja kita lihat banyak PNS yang berada dalam angkutan umum dan kendaraan pribadi yang ada dijalan ? padahal kalau dibandingkan dengan pelajar seharusnya mereka malu, mereka saja bisa tertib masuk sekolah tepat pada waktunya, sedangkan PNS ? banyak sekali alasan yang keluar dari mulut PNS ini terutama kaum wanita, alasanlah harus ngurus keluarga dulu lah, padahal kalau dilihat dikantor jarang ada yang serius kerjanya, bukankah lebih baik untuk mencontoh budaya kerja keras dan pantang mereka dengan memberlakukan jam 06.30 pagi PNS, contohlah PNS-PNS di luar negeri mereka tahu diri negara membayar mereka tentunya ada simbiosis mutualisma, bukan di negara ini simbiosis mutualismanya lebih mengarah kepada kepentingan perut pribadi dan golongannya betul tidak

Nasibmu nak..nak..bertahan saja nak..toch mereka akan bangga kalau kalian berprestasi tanpa peduli bahwa kebijakan mereka telah melebihi apa yang dilakukan tentara jepang kepada rakyat negara ini..kalian tidak lebih dari korban budak dari kepentingan beberapa golongan…semangat!!!

Balai Kota, 080109 10:35
Rh.Lorca
Pendapat pribadi
ket gambar diambil dari Google.com

Susah sekali Cak menemukan yang merencanakan dan yang membunuhmu…


Halo Cak Munir apa kabar disana ? Tidak terasa Cak tahun 2008 sudah berganti tahun 2009, tidak terasa juga kematianmu telah lima tahun meninggalkan kita untuk selamanya akibat racun yang masuk ke dalam tubuhmu ketika sedang berada di atas udara negara Hongraria ketika akan kembali ke Belanda untuk sekolah setelah liburan dan kangen dengan anak-istri di Jakarta.

Tidak terasa juga Cak… proses hukum dari kematianmu mengambang di tengah jalan dengan vonis hakim yang membingungkan rakyat terutama kolega anda yang pernah menjadi korban kebringasan institusi loreng hijau dan cokelat ketika mereka bersatu yang selalu anda bela setiap anda melakukan pembicaraan.

Mungkin ada tahu cak tentang sosok yang dianggap kawan-kawan anda sebagai eksekutor daripada racun yang melekat ditubuh anda yaitu Pollycarpus Budihari Priyanto pernah kenal cak? Katanya dia kenal baik dengan anda, bahkan ketika anda berada di pesawat, beliau ini yang memberikan kursinya di kelas bisnis untuk anda, tapi ketika dipersidangan, kolega anda ini cak dinyatakan oleh ketua majelis hakim divonis berapa tahun dengan dipotong masa tahanan, hilang sudah harapan rakyat Indonesia terutama kolega korban HAM anda untuk membuat anda tenang di dunia sana, yang uniknya ketika berlangsung penyidikan sampai ke tahap sidang, istri dari sang kolega anda ini yang menjadi pesakitan, terus-terusan tatattoet kesana kemari dengan mengatakan bahwa suaminya tidak bersalah, dan akan menulis surat ke Paus Benedictus XVI sesuai dengan keyakinan bahwa proses hukum di Indonesia melanggar HAM, dan apa hasilnya tidak ada itu laporan bahwa istrinya telah mengirim surat ke Paus atau Pihak Keduatan Tahta Suci Vatikan untuk Indonesia memberikan press release bahwa Paus sudah menerima, membaca dan memberikan jawaban atas surat yang apa diucapkan oleh sang istri tersebut. Padahal intinya kan mudah ya cak..tinggal bilang saja kalau memang dia tidak bersalah siapa yang menyuruh, betul tidak cak ?

Setelah vonis itu cak..hampir tidak ada yang mempedulikan kematian anda cak, barulah awal atau pertengahan tahun 2008 mulai lagi terbuka siapa-siapa yang terindikasi dibelakang terracunnya anda cak, sejumlah pihak mulai dipesankan kamar mereka di hotel prodeo, mulai dari pejabat teras perusahaan penerbangan tempat anda menumpang pergi dari Jakarta ke Amsterdam hingga pejabat lembaga sandi negara, akhirnya terungkap satu nama yaitu Muchdi Pr dimana ketika itu menjabat Deputy V lembaga sandi negara alias Badan Intelijen Negara, mau tahu cak selama proses penyidikan hingga persidangan, sang deputy ini mendapatkan kamar yang wah di hotel prodeo Markas Komando Brigade Mobil –Mako Brimob kelapa dua, seharusnya kan Cak yang namanya kalau berada dihotel tidak perlu di jaga, kalau tokoh ini Cak dijaga sepertinya layaknya Barrack Obama Presiden AS yang terpilih dengan Secret Service, disetiap jengkal beliau jalan selalu ada pengawalnya bahkan Polisi yang menjaga sidangnya seperti makan gaji buta atau mungkin lebih dibilang (maaf!) kacung dari para pengawal ini, akhirnya apa yang sudah diduga ternyata benar Cak..nasib dari pesakitan ini tidak jauh berbeda dengan pesakitan yang diawal tetapi lebih enak yang ini, entah apa karena majelis hakimnya takut karena yang didepannya adalah aparat sandi negara yang kalau di jaman dinasti cendana lembaga ini sangat ditakuti bahkan mungkin lebih sadis daripada Alcapone atau mafia Sisilia-Italia, ketukan palu bebas lah yang diberikan oleh Ketua Majelis Hakim dimana ketukan palu itu dilakukan pada tanggal 31 Desember 2008 hari terakhir di tahun 2008 dan hitungan jam menuju tahun 2009.

Bahkan Cak istri anda dan kolega anda di Kontras akan diseret oleh Mabes karena mencemarkan nama baik dan berita bohong akibat memasukkan aparat sandi negara ini ke Hotel Prodeo..bagaimana ini Cak semakin tidak jelas nasibmu di negara ini, tetapi banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh orang-orang yang tidak suka dengan kegiatan anda bahwa anda dibunuh, diracun karena anda adalah pengkhiat bangsa, membeberkan data kekerasan korps loreng hijau dan Tribrata kepada pihak asing, supaya negara asing menekan Indonesia sudah lebih menghormati HAM terutama sipil, benarkah anda pengkhiat bangsa Cak ?

Tapi Cak tolonglah berikan kami tanda, siapa sebenarnya yang merencakan dan mengeksekutor anda Cak, jangan buat kami merasa terganggu karena selama ini kami aman dari berbagai intimidasi yang dilontarkan oleh orang-orang yang berseragam atau yang mengaku-ngaku militer, tetapi setelah engkau tidak ada cak.semua berubah tidak ada berani lagi vokal seperti anda, tolonglah Cak beritahu kepada kami siapa orang biar kami yang menyeretnya atau mungkin Cak sendiri yang menghampiri orang-orang yang telah merencanakan sehingga orang-orang inilah dengan sendirinya mengakui perbuatannya begitu Cak..tapi sampai kapan ?

Jaka Permai, 080109 23:10


Rhesa Ivan

PSSI Yang Aneh…


Napas Timnas Indonesia di ajang Piala ASEAN atau AFF Suzuki Cup 2008 telah GaTot a.k.a Gagal Total karena dipecundangi oleh tim yang baru dibentuk sekitar 1 bulan oleh pelatih baru mereka sementara Indonesia sang Pelatih sudah dikontrak sejak awal tahun 2008. Kalau berbicara soal sepakbola terutama sepakbola Indonesia tidak pernah habis untuk membahasnya karena memang layak untuk jadi bahan perbincangan di kala senggang. Kalau kita kembali ke masalah sepakbola nasional memang ada yang mengganjal di sanubari rakyat Indonesia terutama penikmat sepakbola nasional dimana mereka sangat rindu ada gelar yang dicapai oleh Timnas Indonesia.

Kita tahu bahwa prestasi Indonesia paling tinggi dan diagung-agungkan diajang internasional adalah arena SEA GAMES 1991 Manila dimana Timnas kita mendapatkan medali perak, setelah itu sepertinya yang namanya prestasi tidak pernah menghinggap di Pintu IX Gelora Bung Karno-Senayan ada apa dengan Timnas kita.

Memang pada tahun 2008 tepat 63 tahun Indonesia Merdeka, PSSI selaku otoritas tertinggi sepakbola di Indonesia menggelar turnament untuk memeriahkan HUT Indonesia yaitu Merdeka Cup dimana diikuti oleh10 team dan Indonesia mengirimkan dua tim yaitu tim senior dan tim U-23, dan final pun digelar dimana Indonesia melawan Tim nasional Libya, tapi lagi-lagi kalau bukan Timnas Indonesia bikin ulah kali ini ada insiden yang bisa mencoreng prestasi timnas kita untuknya tidak terekam oleh Komdis AFC atau FIFA yaitu dimana seorang pelatih melakukan tindakan pemukulan kepada pelatih dari Timnas Libya yang mengakibatkan kacamata dari pelatih ini pecah, akibat dari insiden ini Timnas Libya memutuskan tidak melanjutkan permainan 45 menit babak kedua, karena pertimbangan keamanan akibat dari kejadian ini Indonesia secara otomatis keluar sebagai juara Independen Cup 2008 juara yang aneh.

Kenapa judul diatas PSSI aneh..ya itu tadi kalau kita bicara soal PSSI tidak akan ada habisnya dan juga setiap hari akan ada berita-berita yang keluar dari PSSI yang menurut kita agak aneh, seperti sekarang ini setelah kelar dari ajang Piala AFF, sang pelatih tidak langsung membubarkan para pemain, tetapi lebih di tekan lagi metode pelatihannya karena rencananya kalau tidak salah tanggal 19 Januari Indonesia akan memulai laga hidup matinya dalam pestanya kalangan sepakbola asia, yaitu Penyisihan Piala Asia dimana Indonesia berada dalam grup maut dengan Negaranya Mark Viduka-Australia, Oman dan Kwait, jelas sekali ini tantangan dan jawaban dari ucapan orang banyak di Asia bahwa Indonesia sukses menggelar turnament Piala Asia 2007 lalu bersama Malaysia, Thailand, Vietnam akankah sama nasibnya ketika tidak lagi menjadi Tuan Rumah ?

Yang konyol dari ulah PSSI terutama Badan Tim Nasional dan Badan Liga Indonesia, mungkin hanya Indonesialah yang satu-satunya negara di dunia sepakbola yang tidak becus mengurus jadwal liga dengan jadwal timnas, kenapa konyol dan tidak becus ? masak hanya gara-gara banyak pemain yang dipanggil oleh Timnas, jadwal liga super putaran kedua harus mundur, menurut penulis apa yang menjadi alasan PSSI untuk memundurkan jadwal putaran kedua adalah tindakan tidak professional.
Kalau memang seperti ini, maka kita bisa simpulkan bahwa buruknya kualitas sepakbola kita adalah kurangnya penanganan masalah management perencanaan antara jadwal kompetisi dengan jadwal timnas yang tidak bisa dibedakan, dan terlebih lagi masih ada ketidakpercayaan dalam klub jika pemain bintangnya dipanggil ke timnas dengan kata lain, kalau tidak ada “bunga klubnya” klub itu kalah.

Menurut penulis sistem seperti ini harus sudah harus mulai dihilangkan kenapa ? ada alasan kenapa harus dihilangkan pertama, bahwa supaya tim nasional kita bukan timnas instans seperti tayangan-tayangan realty show semua serba dadakan, kalau dadakan hasilnya memuaskan tetapi kalau beda ? yang kedua, sudah saatnya klub mulai mencari jalan keluar jika pemain andalannya masuk dalam program pelatihan timnas.

Sebenarnya kalau kebijakan memundurkan waktu pelaksanaan kompetisi liga hanya karena alasan program timnas, akan merugikan semua pihak tetapi yang lebih parah adalah klub karena hitungan-hitungan ekonomi mereka sudah pas dan terarah sampai akhir kompetisi dengan berpegangan dengan jadwal yang pertama keluar, sementara dengan tertundanya kompetisi ini hanya untuk timnas, mau tidak mau harus dirubah lagi perencanaan operasional dari klub tersebut, sementara pendapatan dan pengeluaran klub bukan lagi dari APBD, kalau sudah seperti ini apakah BLI dan BTN MAU bertanggung jawab akan keuangan klub?

Cara mengatasi agar jadwal kompetisi dan jadwal pelatihan timnas
tidak bentrok dan juga tidak merugikan semua pihak terutama klub dan sponsor ada baiknya diperhatikan beberapa hal misalnya pertama, sudah saatnya PSSI dalam hal ini BLI dan BTN dari sekarang membuat jadwal kompetisi yang teratur paling tidak untuk 3 musim kompetisi untuk jangka pendek dan 10 musim kompetisi jangka panjang, tetapi itu semua harus terpaku dan terstandar kalender kompetisi yang sah dan dikeluarkan oleh otoritas sepakbola dunia dan Asia, AFC dan FIFA, kalau ini dijalankan dengan serius dan tentunya professional oleh setiap personel PSSI maka tidak ada lagi Timnas Karbitan atau instan seperti yang selama ini kita lihat, kita hanya BANCI pujian dari dunia internasional sehingga membuat timnas lawan takut tetapi ketika sudah peluit dibunyikan baru ketahuan permainan timnas kita yang seperti baru belajar menyentuhkan bola ke kaki.

Kedua, untuk klub sudah saatnya anda tidak bergantung lagi kepada pemain andalan atau pemain bintang anda yang mungkin dipanggil pelatih timnas untuk melakukan pelatnas, kalau anda masih berorientasi seperti itu maka klub anda pun juga tidak ada bisa berkembang, cobalah anda melihat beberapa pemain binaan yang masuk dalam naungan klub anda, karena selama ini penulis melihat banyak klub yang memandang sebelah mata kiprah para pemain muda binaan mereka karena terbayang dengan pemain bintang tersebut, serta alasan pelatih dan manager klub memandang sebelah mata kiprah pemain muda binaan klub adalah kurangnya jam terbang, bagaimana bisa menambah jam terbang kalau klub hanya memberikan permainan klub kepada pemain besar sedangkan pemain muda hanya ditempatkan sebagai penghias atau pelengkap daripada manifest pertandingan betul tidak!!!! padahal kalau kita melihat di kompetisi-kompetisi liga dunia terutama liga eropa banyak klub yang memperhatikan kiprah pemain muda binaannya sebelum memutuskan untuk memantau pemain diluar kompetisi atau diluar klub mereka cobalah metode yang dibuat oleh klub-klub eropa ini diterapkan di negara kita, pastinya kompetisi akan berjalan seiring dan seirama dengan prestasi yang ditorehkan oleh Timnas betul tidak !!

Ketiga, inilah sebenarnya masalah yang paling utama dari semua itu yaitu kurangnya semangat nasionalisme dan loyalitas kepada negara yang ada dalam diri para pemain ini kenapa penulis bisa mengatakan begitu, kita tahu bahwa pemain sepak bola dengan tentara adalah memiliki satu kesamaan yaitu sama-sama bertugas dalam membela negara kalau tentara bertugas dengan sungguh-sungguh tanpa ada paksaan atau keberatan sementara pemain timnas yang dipanggil selalu terganjal dengan masalah klub dan tentunya kesejahteraan mereka jika mereka harus berlama-lama latihan di pelatnas, padahal kalau kita bandingkan lagi dengan jobdesk dari tentara, mana pernah mereka mengeluh akan kesejahteraan keluarga mereka ketika ditinggal bertugas, maksud disini adalah para pemain ini kalau memang dipanggil oleh PSSI kiranya jalankan dan laksanakan amanat itu demi penduduk Indonesia terutama penggemar mu yang haus akan prestasi kalau soal kesejahteraan bukankah klub yang menanggung itu semua seperti hak yang harus dijalankan oleh klub setiap bulan kepada anda, betul tidak!!! Serta yang tidak lupa adalah BONUS, banyak pemain kita sebelum bertanding sudah diiming-imingi bonus dengan alasan motivasi padahal kenyataannya prestasi kita tidak bagus tetapi yang namanya BONUS tetap dikasih dengan alasan ucapan terimakasih, kalau menurut penulis kiranya BONUS itu diberikan jika memang sudah ada prestasi didepan mata atau istilahnya Kapten Timnas mengangkat piala kejuaraan yang kita menangi barulah BONUS keluar, kalau dalam kejuaraan Timnas hanya bisa bertahan dibabak penyisihan maka tidak ada BONUS, kalau seperti ini penulis yakin para pemain akan termotivasi lebih beda dengan sekarang yang penulis lihat karena setiap mau akan mengikuti kejuaraan Federasi selalu mengatakan akan ada bonus dan itulah yang terjadi hingga saat ini, prestasi tidak kunjung datang.

Kalau tiga ini dijalankan penulis yakin Timnas kita bukan lagi Timnas yang BANCI pujian dari lawan tetapi disegani bahkan ditakuti seperti Timnas kita pada era tahun 1970 hingga 1990-an, tetapi semua itu harus dilandasi dengan semangat nasionalisme yang sangat tinggi dan tentunya Professional yang dalam artian sebenarnya bukan dalam tahap belajar.

Berprestasilah Timnas Garuda JANGAN hanya BANCI pujian..Tunjukkan kemampuanmu kepada para pendukungmu…


GBK Stadium, 010109 00:10

Rhesa Ivan Lorca
Pendapat Pribadi