Minggu, 21 Maret 2010

Obama Vs HTI

Tulisan ini terkait dengan tayangan yang penulis saksikan semalam (17/3) disalah satu stasiun televisi tentang debat pro dan kontra kedatangan Presiden Amerika Serikat Barrack Husein Obama ke Indonesia.

Dalam tayangan tersebut adalah menampilkan dua narasumber yang pro dan kontra, yang kontra berasal dari organiasasi sekuler yang bernaman Hizbut Tahrir Indonesia-HTI dan yang pro menampilkan anggota Jaringan Islam Liberal, Ulil Absar kenapa tayangan ini menarik bagi penulis, pertama adanya rasa ingin tahu seberapa tolaknya organisasi ini terhadap kedatangan Obama yang menurut mereka adalah penjahat perang dan HAM dan kedua karena adanya tokoh inspirasi dan idolah penulis disana hehehe…

Tulisan ini bukan maksud untuk membela satu orang atau tidak, tetapi ini pandangan penulis terhadap narasumber-narasumber yang menentang kedatangan Obama, dan juga penulis meminta maaf kalau ada tulisan yang membuat pembaca atau pihak-pihak terkait merasa tersinggung atau terpojokkan tetapi ini tulisan murni pendapat pribadi penulis.

Jika tidak ada halangan mulai tanggal 21 sampai 26 Maret 2010, Obama akan melakukan kunjungan kerja kenegaraan ke wilayah Asia Pasific dimana Indonesi akan dikunjungi oleh Obama pada tanggal 22-24 Maret, kemudian dilanjutkan ke negara Kangguru, Australia walaupun akhirnya dibatalkan oleh Gedung Putih dikarenakan adanya masalah domestik. Kita sudah paham setiap kepala negara asal negeri Paman Sam ini ke Indonesia selalu di demo besar-besaran mungkin kita lupa bagaimana kehebohan masyarakat Indonesia terutama kaum HTI dalam menyambut kedatangan Presiden asal partai Republik, George Bush Jr yang berlangsung di Bogor, demo Bush ini terkait invasi Amerika ke Afganistan dan Irak dengan sandi memusnahkan jaringan teroris yang telah menghancurkan lambang ekonomi Amerika yaitu gedung WTC.

Kali ini HTI pun melakukan demo besar-besaran dalam rangka menolak kedatangan Presiden Obama ke Indonesia, alasan HTI berdemo menolak kedatangan Obama karena Obama tidak menepati janjinya ketika kampanye dimana akan menarik total tentara Amerika dari tanah Afganistan dan Irak jika terpilih dan menutup penjara teroris di Teluk Guantanamo.

Apa yang dijadikan agenda para masyarakat HTI ini adalah hak dari mereka, tetapi kalau menurut penulis agak ganjil apalagi dengan pernyataan juru bicara mereka di acara itu kenapa penulis bilang ganjil ?

Pertama, dasar mereka menolak Presiden Amerika ke Indonesia karena penjahat perang dan janji yang tidak ditepati ketika kampanye soal penarikan tentara AS di Irak dan Afganistan, serta penutupan penjara Guantanamo pertanyaannya adalah memang HTI ini siapa bisa seenaknya menolak kedatangan seorang kepala pemerintahan suatu negara ?! Soal penarikan tentara AS di Irak, afganistan bukankah Presiden Obama pernah mengatakan setelah dilantik bahwa AS tidak mungkin menarik pasukannya dari tanah Irak dan Afganistan karena adanya permintaan daripada kepala negara dan pemerintahan negara itu karena jika 100 % ditarik pulang tentara AS maka tidak bisa dibayangkan jika terjadi perang saudara antara kaum syah dan sunni terhadap taliban sendiri, kalau pihak HTI meminta apakah HTI bisa menjamin kalau tentara AS itu ditarik tidak akan ada perang saudara ?

Kita bisa lihat sendiri bagaimana situasi politik Nigeria, Somalia, serta negara-negara benua Afrika bisa terjadi perang saudara tanpa ada campur tangan bahkan kehadiran fisik daripada tentara AS !

Kedua, soal kapitalisme AS di negara kita misalnya pembagian hasil atau apapun yang ternyata bangsa kita mendapatkan lebih rendah, kita tidak usah menutup mata dinegara manapun pasti ada yang namanya kapitalisme, kita bisa lihat negara Arab Saudi yang sekaya itu saja mereka masih saja ada rakyat miskinnya bagaimana dengan kita, kita bisa mencontoh negara-negara seperti Cuba, Korea Utara, Bolivia atau Venezuela tetapi pertanyaannya kepada HTI apakah kita bisa jangan-jangan nasib kita lebih tragis daripada negara-negara yang penulis sebutkan diatas ? soal kapitalisme itu kembali kepada nurani para pemimpin negara, apakah pemimpin negara ini berpihak kepada rakyat dan transparan atau tidak, kalau memang pemimpin negara ini bersikap, berpihak kepada rakyat dan transparan masalah pembagian ini pun tidak masalah !

Soal perdagangan, penulis sependapat dengan narasumber yang pro kedatangan dengan Obama ke Indonesia, kita seharusnya belajar dari pada China bagaimana mengendalikan perdagangan yang selama ini dipegang dan dikuasai oleh AS, kita bisa lihat bagaimana China sekarang lebih perkasa daripada Amerika Serikat dimana China membayar surat utang perdagangan daripada Amerika yang saat ini sedang membutuhkan banyak dana untuk perbaikan krisis ekonomi mereka.

Ketiga, soal ideologi mereka kepada negara ini yang harus sesuai dengan mereka, dengan sangat penulis menolak keras karena negara ini dibangun bukan hanya satu agama saja atau satu budaya saja tetapi berbagai macam agama, budaya dan lainnya, hal ini sudah terbukti dengan tulisan yang ada dibawah burung garuda lambang negara kita “Bhinneka Tunggal Ika”, andaikan ideologi daripada HTI ini dipergunakan oleh negara ini apakah rakyat sudah siap termasuk anda misalkan dalam hukum dimana tangan dibalas dengan tangan, sementara kasus hukuman mati kasus teroris saja anda menolak dengan alasan kemanusiaan, atau ketika banyak TKI yang siap dihukum gantung kenapa HTI TIDAK BERSUARA KERAS dan MALAH DIAM SERIBU BAHASA padahal TKI ini tidak tahu apa-apa, tetapi ketika Presiden Amerika datang ke Indonesia atau kebijakan Amerika terhadap Internasional anda semua bersuara keras !

Tetapi dalam tayangan tersebut membuat penulis sedikit geli dan heran yaitu dimana mereka mengatakan bahwa Amerika Serikat adalah negara pelanggar HAM paling banyak di dunia, ketika ditanya oleh narasumber yang pro mendapatkan dari mana datanya, mereka mengatakan bahwa berdasarkan data Amnesty Internasional, lho ! bukankah Amnesty Internasional adalah sebuah LSM bentukan dan kedudukan di Amerika, sementara HTI adalah organisasi yang paling benci dengan yang namanya Amerika !

Walaupun bulan Juni nanti Presiden Amerika Serikat Barrack Husein Obama baru berkunjung ke Indonesia paling tidak kita bisa meniru apa yang dilakukan oleh China dalam hal perdagangan serta paling tidak kita punya kunci untuk lebih dekat dan menekan tindakan Amerika terhadap kebijakan internasional mereka karena pemimpin mereka memiliki ikatan emosional dengan negara ini.


Veteran, 160310 09:00

Gie Gustan – Rhesza Ivan
Pendapat Pribadi

Bisakah Rokok di hapus di Indonesia ?


Belakangan ini marak sekali pemberitaan tentang adanya fatwa haram bagi para perokok oleh salah satu organisasi keagamaan yang ada di negara ini, akibat munculnya fatwa haram merokok ini banyak menimbulkan pro dan kontra, bahkan ada isu bahwa organisasi keagamaan ini mengeluarkan fatwa merokok ini terkait adanya gelontoran puluhan ribu Dollar Amerika Serikat dari salahsatu pengusaha yang juga kalau tidak salah menduduki posisi penting di salahsatu negara bagian Amerika Serikat.

Terlepas dari itu semua penulis coba melihat dari sisi penulis bukan mendukung atau menolak fatwa haram ini, kita semua tahu bagaimana efek terutama kesehatan bagi para perokok tidak hanya perokok aktif tetapi perokok pasif, sudah banyak orang yang mati akibat merokok seperti Jantung, TBC, kelainan pada janin dan sebagainya tetapi pertanyaannya adalah bisakah negara ini menutup bahkan menjamin kalau Indonesia dari ujung Sabang sampai Merauke dari Mianggas hingga Pulo Rote bebas asap rokok ?


Kalau menurut penulis pemerintah tidak akan mampu menutup pabrik rokok, kenapa ? kita tahu bagaimana “asetnya” rokok ini untuk negara ini, 80 % dari pendapatan negara berasal daripada cukai rokok, kemudian kita bisa lihat tayangan olahraga yang anda tonton misalnya Liga Inggris, Liga Spanyol, Liga Indonesia atau tayangan siaran langsung balap motor, bulutangkis, konser musik itu semua berasal daripada produsen rokok walaupun salahsatu konser musik sudah tidak lagi berhala kepada produsen rokok untuk mendapatkan dana operasional mereka dan berahli kepada produsen operator selular dan perbankan tetapi tetap saja rokok lah yang berperan dalam kehidupan di negara ini benar tidak ?

Ada dua pertanyaan untuk para yang membuat fatwa larangan rokok dan yang menyetujui penutupan pabrik rokok adalah pertama, kalaupun pabrik rokok ini ditutup atau dilarang oleh negara, apakah negara bisa menjamin kehidupan ratusan ribu karyawan pabrik rokok ini beserta keluarganya setelah ditutup sementara kita tahu berapa persen dari penduduk Indonesia yang mengalami kemiskinan, pengangguran, gizi buruk dan masih banyak masalah sosial lainnya bisa tidak ?

Kedua, apakah negara ini bisa menyediakan beratus bahkan beribu hektar tanah dan juga bibit tanaman unggul untuk menjadi modal para pekerja pabrik rokok ini jika benar di tutup dan dilarang beredar di wilayah Indonesia, sementara kita tahu bagaimana kondisi geografis di negara ini, sudah tidak ada lagi lahan untuk pertanian yang ada sekarang adalah lahan untuk apartemen, Mall, jembatan atau fly-over bahkan untuk sarana olahraga pun negara dan pemerintah daerah tidak mampu menyediakannya, bahkan pada periode tertentu kita harus bersabar dengan iklim yang sulit diprediksi bisakah itu terwujud ?

Menurut penulis, masalah rokok itu haram atau tidak lebih baik dikembalikan kepada orangnya, janganlah kita ingin seperti atau jauh lebih depan daripada Tuhan, toch yang melakukan dan merasakan efek langsung dari rokok itu adalah para pengguna atau perokok itu sendiri walaupun kita juga yang tidak merokok malah lebih banyak kenanya, dan juga nantinya pada akhirnya ketika kita diminta pertanggungan jawab oleh sang Kuasa di akhir dunia kita bukan sang fatwa melainkan diri kita masing-masing betul tidak ?!


Malang, 100310 :14:00

Gie Gustan
Pendapat Pribadi

Minggu, 14 Maret 2010

Roy Suryo antara (maaf) Upil, Huuhhuu dan Pembunuhan Karakter

Seperti biasa dalam pembukaan penulis selalu menghaturkan permintaan maaf jika dalam penulisan ini membuat beberapa orang tersinggung atau terpojok, apa yang penulis tulis ini adalah bentuk pendapat pribadi penulis berdasarkan apa yang penulis lihat, baca, dan dengar dan tentunya dengan nurani, sekali lagi mohon maaf.

Awal bulan ini kita disuguhkan berita yang cukup panas walaupun sudah panas yaitu hasil kerja panitia khusus kasus Bank Century akhirnya masuk dalam wilayah paripurna dimana hasil ini membuat negara harus memproses kasus ini ke dalam wilayah hukum pidana.

Penulis tidak akan membahas hasil pansus ini karena sudah ada banyak yang menganalisa tetapi kali ini penulis mencoba melihat dari sisi rapat paripurna ini yang mungkin cukup menggelitik yaitu dimana ada tayangan ketika ketua Panitia Khusus (Pansus) Bank Century menyampaikan laporan kerja mereka selama ini tiba-tiba ada suara sorak-sorai huhhuuu dari jajaran anggota dewan yang terletak di belakang dan itu disorot oleh beberapa kamera televisi dan orang yang meneriakkan huhuhuhu ketika ketua Pansus Bank Century menyampaikan laporan kerja mereka adalah Roy Suryo, sang pakar telematika yang sekarang menjadi anggota dewan mewakili konstituen yang ada di Jogjakarta sepanjang ketua Pansus melaporkan suara huhuhu selalu membahana diseluruh ruangan sidang dan yang menyuarakan suara itu bersumber dari Roy Suryo, selain teriakan huhuhu mungkin tanpa sadar sang pakar telematika yang kabarnya tidak diterima oleh salahsatu forum diskusi yang berbasis dunia maya ini terekam kamera sedang melakukan kegiatan (maaf) membersihkan kotoran yang ada di hidung a.k.a NGUPIL.

Akibat dari tindakan ini banyak sekali kecaman-kecaman bahkan di salahsatu jejaring sosial mikroblogging dibuat semacam groups untuk ledek-ledekkan atau sekedar hiburan, merasa dirinya menjadi bahan cemoohan masyarakat, sang telematika ini berang dan mengatakan bahwa media telah membuat pembunuhan karakter terhadap dirinya di depan masyarakat Indonesia.

Menurut penulis apa yang dilakukan oleh pakar telematika ini adalah tindakan yang sangat tidak sopan karena dengan entah itu sengaja atau tidak tetapi jelas sekali terekam seharusnya sebagai anggota dewan yang nota bene adalah wakil dari masyarakat dalam mengawasi jalannya pemerintahan bisa menjaga sikap dan sudah pasti usia beliau bukan usia-usia ABG atau memasuki dewasa tetapi memang sudah dewasa dan mengerti akan mana yang benar dan mana yang pantas bukan seperti yang ia pertontonkan.

Soal pembunuhan karakter yang dialamatkan beliau kepada media menurut penulis seharusnya beliau berkaca dengan perbuatannya jangan menyalahkan media dengan langsung menyebut pembunuhan karakter, mungkin saking terlalu hebat ke-telematika-annya sehingga tidak tahu fungsi media bahwa media sendiri secara awam dan kasat mata berfungsi mengawasi jalannya pemerintahan atau bisa kata lain media bisa menaikkan popularitas seseorang bisa juga menurunkan popularitas seseorang.

Mungkin kejadian apa yang dilakukan oleh sang telematika ini bisa menjadi pelajaran bagi semua orang yang di mata masyarakat sebagai panutan atau tokoh agar dalam bersikap sehingga tidak ada lagi pejabat-pejabat yang sok mengatakan pembunuhan karakter padahal mereka lah yang telah melakukan pembunuhan diri karakter mereka !

Senayan, 150310 15:00

Gie Gustan
Pendapat Pribadi

Turunkan Nurdin Halid dan Nugroho Besoes SEKARANG !!!

Mungkin bulan ini adalah bulan paling kejam bagi beberapa pejabat dilingkungan sepakbola Indonesia walaupun isu ini sudah berkembang dari mulai akhir tahun tetapi mungkin dengan adanya ancaman ini membuat para pejabat ini berpikir dengan nurani bukan dengan egonya.


Mungkin beberapa dari para pembaca sudah tahu akan isu ini, penulis tidak akan membahasnya karena sudah banyak yang nulis tetapi penulis hanya menulis berdasarkan pendapat pribadi, kita tahu sejak perjalanan sosialisasi Piala Dunia 2010 dengan mendatangkan Piala Dunia ke Jakarta isu akan ketidakpuasan PSSI dalam kerjanya dan keras kepalanya para jajarannya ingin menggelar Piala Dunia 2018 atau 2022 di Jakarta sudah ada bahkan Presiden Republik Indonesia kita buat tidak suka dengan prestasi PSSI melebihi orang impoten.


Keinginan Presiden Indonesia agar sepakbola Indonesia kembali berprestasi ketika jaman Bung Karno dan Dinasti Cendana mulai berasap dimana ketika menerima panitia nasional Hari Pers Nasional yang dipimpin oleh Ketua PWI, dalam perbincangan tersebut selain meminta kesediaan Presiden untuk hadir dan membuka acara Hari Pers Nasional yang didakan di Palembang-Sumatera Selatan, Presiden meminta Ketua PWI dan jajarannya untuk membuat semacam pertemuan yang diberi label Kongres Sepakbola Nasional alasan Presiden meminta PWI agar dibuatkan Kongres ini karena Presiden prihatin dengan sepakbola Indonesia yang prestasinya tidak kunjung datang.

Begitu ketua PWI memberikan pernyataan pers terkait pertemuan dengan Presiden yang didalamnya ada ide untuk membuat Kongres, sontak para pengurus PSSI yaitu duet maut mereka sang Ketua Umum, Nurdin Halid dan Sekretaris Jenderal PSSI, Nugraha Besoes panik dan mengatakan ide yang terlontar dari Presiden tidak bisa dilaksanakan kalaupun dilaksanakan maka Indonesia akan di skorsing atau dihukum oleh FIFA karena negara ikut campur akan urusan federasi sepakbola.


Menurut penulis, ide dan permintaan pak beye ketika menerima pengurus dan panitia Hari Pers Nasional PWI ada benarnya, kenapa penulis bilang begitu ? sejak organisasi yang paling tua diantara semua organisasi olahraga di Indonesia yang mengurus sepakbola dipegang oleh duet maut PSSI, NH dan NB ini tidak ada prestasi yang bisa dibanggakan walaupun bagi duet maut ini PSSI ada prestasi yaitu menang di Turnament Piala Kemerdekaan, tetapi bagi penulis dan juga rakyat Indonesia prestasi juara di Turnament Piala Kemerdekaan itu bukanlah prestasi kenapa ? pertama, turnament itu PSSI yang gelar, yang kedua Timnas menang dan memegang Piala itu tidak dalam semangat fair play baik didalam lapangan maupun diluar lapangan karena terbukti ketika turun minum salahsatu official kita mencoba melakukan provokasi dan tindakan menganiaya kecil sehingga seluruh tim Libya mengundurkan diri berdasarkan rapat kecil antara official mereka di Jakarta dengan Pengurus PSSI-nya Libya walaupun sampai detik ini tidak ada ujung dari masalah ini siapa yang menganiaya pelatih timnas U-23 Libya !


Seharusnya para pengurus ini berkaca dan merenung dengan apa yang mereka lakukan selama ini demi sepakbola Indonesia, kita bisa lihat bagaimana sepakbola kita yang dulu jelas-jelas selalu ditakuti kini malah jadi ayam sayur setiap pertandingan semua orang sudah pesimis duluan walaupun jiwa nasionalisme itu selalu tinggi, tetapi percuma saja kalau nasionalisme tinggi dan dibarengi dengan prestasi maka hasilnya nol besar benar tidak ?


Kita bisa lihat bagaimana kegagalan sepakbola kita di tangan PSSI seperti gagal di ASIAN GAMES Doha-Qatar dengan skor cukup telak padahal tim ini berlatih di Belanda dengan pelatih Timnas Belanda U-23 yang setelah kejadian ini berhasil membawa Belanda juara Piala Eropa U-23, kemudian gagal lagi di dua SEA GAMES Thailand dan Laos dengan di pecundangi serta diajarkan bagaimana cara mengolah bola yang baik dan benar oleh Myanmar dan Laos, kemudian gagal dalam kualifikasi Piala Asia U-19 kalah bersaing dengan Jepang dan Australia walaupun tampil gemiliang ketika melawan Taiwan tetapi tetap saja tidak lolos, kemudian timnas senior yang untuk pertama kalinya dalam gelaran Piala Asia dengan menelan kekalahan tiga kali dan empat kali seri, itu baru “prestasi” PSSI di tangan sang Ketum bagaimana dengan “prestasi” klub ?


Ternyata tidak jauh berbeda dengan timnas dimana klub-klub yang bermain di Indonesian Super League masih berlabel jago kandang ini terbukti partai kemarin dimana klub Indonesia Persipura ketika di ajang ISL selalu garang dan ditakuti ternyata ketika bertandang ke kandang klub China malah seperti menonton tayangan video games Winning Eleven dengan skor cukup telak 9-0 klub-klub ISL belum bisa menandingi kejayaan Persib Bandung tahun 1994 yang bisa masuk ke babak kedua Piala Champion Asia sebelum dikalahkan kalau tidak salah dengan Royal Thai Force FC klub Thailand.


Itu baru “prestasi” sepakbola kita, lalu bagaimana “prestasi” dari perorang yang menduduki organisasi itu ? ternyata tidak jauh berbeda dengan prestasi timnas dan klub, kita bisa lihat berapa kali sang ketum “check-in – check-out” hotel prodeo bahkan beberapa minggu yang lalu ada sebuah organisasi yang melaporkan sang ketum dengan dakwaan yang tidak jauh berbeda dengan yang dulu-dulu, itu baru ketum sedangkan anak buah juga 11-12 dengan beliau setidaknya sudah ada dua-tiga orang yang harus pindahan kehidupan di hotel prodeo dengan kasus korupsi dan satu lagi yang lebih parah yaitu dakwaan penganiayaan dengan disertai pembunuhan terhadap istri tercinta.

Kemudian dalam hal penyusunan AD/ART PSSI, tidak sesuai dengan ketentuan AD/ART yang dikeluarkan oleh FIFA (baca: Statuta) dimana dengan pedenya mereka mengatakan bahwa statuta itu sudah berdasarkan statuta FIFA dan disetujui oleh FIFA padahal jelas-jelas mereka salah menerjemahkan bahkan mengurangi beberapa kata termasuk diantaranya pasal yang mengatakan bahwa TIDAK BOLEH ada catatan kriminal seseorang dalam organisasi sepakbola.


Jadi pertanyaan penulis kepada sekelompok orang yang mencoba akan menghalang-halangi bahkan berencana memboikot acara Kongres Sepakbola Nasional, ini “prestasi” yang anda banggakan kawan ? asal anda tahu kawan, kalau anda terus-terusan mempertahankan “prestasi” ini maka sepakbola kita tidak akan maju, bagaimana mungkin kita dengan percaya diri menyatakan tahun 2018 atau 2022 akan menjadi tuan rumah semetara ketika di tanya oleh FIFA, Anda siapa ? percaya diri sekali anda mencalonkan diri sebagai tuan rumah, sementara liga anda tidak beres, federasi anda berisikan orang-orang yang tidak sesuai dengan statuta kami serta berlabel kriminal apalagi peringkat anda itu tidak masuk 100 besar rangking kami ? jawaban anda ke FIFA apa ?! kemudian apakah anda tidak malu dengan aksi Hendri Mulyadi yang masuk lapangan ketika Timnas melawan Oman disorot jurnalis asing yang akibatnya PSSI di denda US$ 10,000 kemudian hari terus berlanjut atau intervensi Kepala Kepolisian Daerah Jawa Tengah (Kapolda Jateng) yang selalu memantau pertandingan yang berlangsung di wilayah Jawa Tengah dan sempat memesankan kamar di hotel prodeo untuk dua pemain Persis Solo dan Gresik United serta memeriksa wasit dan perangkat pertandingan ketika PSIS melawan Mitra Kukar atau PSIS melawan PPSM.


Seharusnya kita belajar dari Australia dan Kuwait, kenapa kita harus belajar dari mereka? Australia dan Kuwait adalah dua negara yang pernah di hukum atau di skorsing oleh FIFA karena keterlibatan pemerintah dalam federasi mereka, Australia dihukum karena pemerintah Australia curiga dengan penggunaan dana operasional liga yang tidak jelas, akhirnya pemerintah Australia membentuk tim independe untuk menginvestigasi organisasi sepakbola mereka, dan menghukum orang-orang yang terlibat, begitu juga di Kuwait dimana pemerintah mereka kalau tidak salah tidak mengakui kepengurusan organisasi sepakbola negara mereka, akibat dari keterlibatan negara dalam federasi sepakbola negaranya ditentang FIFA dan dihukum, tetapi apa yang terjadi dampak dari penghukuman FIFA terhadap dua negara ini ? prestasi yang gemilang kita bisa lihat Kuwait bisa lolos ke putaran final Piala Asia dengan mengalahkan Indonesia di kandang dan tandang mereka, sedangkan Australia lolos ke putaran final Piala Asia dengan mengalahkan (lagi) Indonesia dan tentunya yang sangat prestisius adalah bermain di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, sedangkan kita ?


Saran penulis kepada para kelompok yang mencoba memasang badan bagi PSSI dalam menghadang rencana pemerintah untuk membuat Kongres Sepakbola Nasional, sudahlah lebih baik kita duduk bersama, satu pikiran bagaimana caranya membangkitkan persepakbolaan kita yang dulu jaman bung Karno dan dinasti cendana berjaya dan ditakuti hidup kembali walaupun kita harus dihukum oleh FIFA daripada bertahan seperti ini tetapi tidak ada prestasi yang ada malah berita yang negatif terus, apakah ini yang anda mau ?


Penulis sebagai penikmat dan pecinta sepakbola Indonesia 100% mendukung kegiatan yang diusulkan oleh Presiden Republik Indonesia toch tujuannya ini positif mengangkat kembali sepakbola Indonesia seperti sedia kala.


Apakah Kongres ini akan berjalan dengan mulus atau di hadang oleh sekelompok orang yang mencoba pasang badan untuk menggagalkan kongres ini atau kita di hukum oleh FIFA karena intervensi pemerintah tetapi dengan dihukumnya FIFA membuat sepakbola kita menjadi lebih kuat dan ternama kembali seperti dahulu kala…semoga saja !


Bubarkan PSSI sekarang juga…Hukum Ketum, Sekjend dan semua orang yang di PSSI untuk tidak berada dalam lingkungan sepakbola Indonesia hingga akhir hayat mereka !!



Pintu IX GBK 100310 18:00

Gie Gustan

Pendapat Pribadi