Selasa, 06 April 2010

Mudahnya Membawa Pulang Drakula Rupiah dari Negeri Singa !


Seperti biasa penulis menghaturkan permintaan maaf jika dalam tulisan ini kurang berkenan dengan pihak-pihak terkait dan apapun tulisan ini adalah bersifat pendapat pribadi daripada penulis sesuai dengan nurani penulis ketika melihat suatu kejadian, sekali lagi penulis minta maaf..

Akhirnya pengembaraan seorang staff Direktorat Jenderal Pajak (Dirjen Pajak) Republik Indonesia berakhir juga dengan kepulangan beliau ke Indonesia oleh tim Satuan Tugas Anti Mafia Hukum dan juga tim Independen yang dibentuk oleh Kepolisian Republik Indonesia.

Penulis tidak akan menjelaskan kronologi tersebut karena itu sudah ada pihak-pihak yang berkepentingan untuk membedahnya, tetapi menurut pandangan penulis ada yang janggal dari kepulangan sang penimbun pajak ke Indonesia.

Kenapa penulis bilang ada keanehan dengan kembalinya sang penimbun pajak ini setidaknya ada beberapa hal yang ganjil menurut penulis berdasarkan kronologis-kronologis yang beredar yaitu pertama, kok bisa secara kebetulan satuan tugas anti mafia ini tahu bahwa sang buron ini sedang makan malam disebuah food court di Singapura ? padahal kita tahu satgas ini beberapa hari belakang sedang “tour” ke lembaga-lembaga yang terindikasikan dengan kasus ini tiba-tiba ada berita kalau dua orang ini telah menemukan sang buron dan lagi yang aneh kok bisa mengenali beliau secara photo yang beredar sekarang ini adalah photo lama!

Kedua, kita tahu bahwa Indonesia dan Singapura tidak mempunyai perjanjian diplomatik dalam hal ekstradisi karena faktor inilah banyak drakula-drakula Rupiah yang kabur dari Indonesia ke Singapura dan sampai sekarang hidup berleha-leha disana tanpa bisa disentuh oleh aparat Indonesia, tetapi kenapa giliran Gayus semua hal itu bisa lancar seperti ibarat keluar masuk rumah orang ? yang menjadi pertanyaan apakah Kedutaan Besar Singapura untuk Indonesia dan juga Pemerintah Singapura terutama pihak Imigrasi Bandara TAHU dengan kegiatan daripada aparat Indonesia ini mulai dari masuk Singapura, mencari, menangkap dan membawa pulang kembali atau keluar dari Singapura walaupun kabarnya Kedutaan Besar Republik Indonesia membantu dengan mengeluarkan surat laksana pasport karena paspor Gayus yang diblokir oleh Imigrasi Indonesia? lalu penulis penasaran dengan isi visa dan pasport serta pertanyaan yang dilontarkan petugas Kedutaan Singapura dan otoritas imigrasi Bandara Changi terhadap kedatangan tim satgas anti mafia dan beberapa perwira tinggi Mabes Polri, karena menurut pemikiran penulis yang namanya perwira tinggi mulai dari Brigadir Jenderal hingga Jenderal itu kalau disamakan dengan birokrat itu hampir sama dan setara dengan Walikota bahkan Menteri dengan kategori VIP dan perlu pengawalan dan pengawasan !

Ketiga, masih soal urusan nomor dua diatas kalau memang model operandinya seperti itu dengan cara mungkin (maaf) dengan kunjungan biasa misalkan bisnis atau liburan tetapi begitu di dalam negara Singapura bekerja mencari Gayus, dapat dan dibawa pulang ke Jakarta kenapa drakula-drakula Rupiah yang jumlah hisapan Rupiahnya lebih besar daripada Gayus seperti Maria Pauline, Nursalim, Anggoro dan masih banyak lain susah sekali ditangkap hingga saat ini apakah ini bentuk diskriminasi atau tebang pilih ?

Keempat, penulis melihat proses Gayus ini di Singapura sampai ke Jakarta ibarat menonton sinetron striping yang setiap hari kita tonton di hampir semua televisi di negara ini dan bisa ditebak arah akhir dari sinetron itu, dimana cepat sekali Gayus ditangkap, tanggal 24 Maret Malam Gayus berangkat bersama istri dan anak dari bandara Soekarno-Hatta ke Singapura dengan paspor resmi atau aspal, kemudian sang isteri sudah mengajukan surat cuti sakit kepada pimpinannya satu hari sebelum berangkat dengan isi surat keterangan cuti bahwa beliau cuti sakit dari tanggal 25 hingga 30 Maret, Gayus ditangkap tanggal 30 Maret Malam dan diterbangkan ke Jakarta tanggal 31 Maret 2009 dari bandara Changi, apakah ini sudah disetting dengan asumsi sang sutradara adalah satgas Anti mafia, kemudian artis penjahatnya adalah Gayus dan Isteri kemudian pemain jagoannya adalah tim independent Polisi ?!

Inilah yang masih harus dipertanyakan dan dijelaskan walaupun apa yang dilakukan oleh tim Satgas dan Kepolisian patut di aspresiasikan tetapi alangkah lebih elegant kalau semua drakula-drakula penghisap Rupiah ini ditangkap, dibawa pulang dan diadili di Indonesia bukan Cuma sekedar sensasi atau mencoba “menghibur” rakyat Indonesia yang butuh kepastian soal keadilan dalam hukum yang sekarang ini sangat mahal harganya, benar tidak ?!

Terminal 2F SoeTta, 300310 15:20

Gie Gustan-Rhesza Ivan
Pendapat Pribadi

Minggu, 21 Maret 2010

Jujur itu lebih terhormat daripada Keras Kepala Bung !


Entah sengaja atau kebetulan ketika sedang membereskan gudang, tiba-tiba penulis menemukan sejumlah artikel tentang PSSI dari sebuah koran karena menemukan arikel tersebut sejenak penulis membaca kembali artikel tersebut.

Artikel pertama adalah tentang berita MUNDURnya kandidat Ketua Umum PSSI periode 2003-2007, Evert Erenst Mangindaan atau yang kita kenal sebagai E.E. Mangindaan (sekarang menjabat Menteri Negara Pendayagunaan Aparat Negara-Meneg PAN) alasan beliau MUNDUR dari kandidat Ketum PSSI karena ia tidak mau terlibat dalam pemilihan ketua umum organisasi olahraga yang diwarnai dengan ketidakjujuran. Padahal ketika itu sosok E.E.Mangindaan sangat diharapkan kontribusinya ketimbang tiga kompetitornya yaitu Jacob Nua Wea, Sumaryoto dan Nurdin Halid.



“ Saya mundur karena ada kandidat yang memakai uang untuk
mendapatkan suara. Kemenangan dengan cara-cara tidak jujur seperti ini tidak akan direstui Tuhan “


E.E. Mangindaan.


Akhirnya Nurdin Halid terpilih menjadi Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia-PSSI menggantikan Agum Gumelar, dan lewat sebuah kongres yang cukup kontroversi pada tahun 2007 di Makassar, Sulawesi Selatan Nurdin kembali memperpanjang masa kerjanya sampai pada tahun 2011.

Kemudian jauh sebelum E.E. Mangindaan mundur sebagai kandidat ketum PSSI, seorang Azwar Anas, kala itu menjabat Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) pada kabinet Pembangunan VI MEMILIH MUNDUR jabatan Ketua Umum Persatuan Sepabbola Indonesia-PSSI pasca memalukan dan menjijikannya permainan Timnas di arena Piala Tiger 1998 dimana memainkan “sepak bola gajah” untuk menghindari tuan rumah Vietnam pada partai semifinal dan klimaksnya adalah pemain belakang Mursyid Effendi melakukan dengan sengaja dan tidak pantas dikatakan sebagai pemain bola professional gol bunuh diri agar kalah dari Thailand walaupun akhirnya tetapi tuan rumah Vietnam yang keluar sebagai juara !

Memang pada saat Azwar Anas memimpin PSSI dunia persepabolaan Indonesia mengalami masa suram yang sesuramnya dimana kompetisi sepakbola atau dulu dikenal sebagai Liga Indonesia IV di hentikan karena situasi politik yang sangat-sangat parah. Pertunjukan Mursyid Effendi inilah yang menjadi puncak akan merosotnya sepakbola (mungkin) hingga saat ini, namun sama seperti E.E.Mangindaan, Azwar Anas dengan sikap jantan dan ksatria mundur dari kursi Ketum PSSI dan mengantarkan seoarang Agum Gumelar sebagai penerusnya.



“ Bapak harus mundur dari jabatan Ketua Umum PSSI, karena kalian dianggap mempermalukan bangsa. Bapak yang beranggung jawab atas semua ini

“ Azwar Anas, Ketum PSSI ketika menyambut Timnas Piala Tiger 1998


Dari dua artikel dan sikap dua tokoh ini jika membanding dengan situasi PSSI sekarang sangat beda jauh, kita bisa lihat bagaimana sepakbola kita sangat kritis dimana tidak ada prestasi yang membanggakan seperti kita lihat bagaimana Indonesia untuk pertama kali tidak lolos ke hajatan paling tinggi kompetisi sepakbola Asia, kemudian di lecehkan oleh negara yang selama ini kita ajarkan cara bermain sepakbola, Laos dan Myanmar itu skala Timnas lalu bagaimana dengan klub, ternyata tidak jauh beda dimana terakhir Klub asal Papua, Persipura dimana jika bertanding di kompetisi ISL, garangnya tiada ampun tetapi ketika berhadapan dengan klub China justru para pemain persipura ini ibarat main game Winning Eleven dengan skor cukup telak 9-0, begitu juga dengan saudara mudanya Persiwa Wamena yang kalah dengan klub yang boleh dibilang kualitasnya sangat jauh dibawah Persiwa ibarat gunung dan jurang walaupun ada satu klub yang mampu berbicara tetapi lawan yang dihadapi adalah klub Malaysia masih satu regional !

Itu baru Timnas dan klub bagaimana dengan perilaku para personel dan pejabat PSSI kita, ternyata sama saja ini terlihat sepanjang tahun 2007 sampai 2009, organisasi paling tua di kalangan organisasi olahraga di Indonesia sibuk merekayasa pedoman dasar (statuta) yang dikeluarkan oleh FIFA kenapa di rekayasa agar posisi ketua umum tidak bisa digoyang kesana kemari, hal ini terbukti dengan beberapa isi pedoman dasar yang mengenai pasal kriminal yang mengatur persyaratan anggota komisi eksekutif termasuk didalamnya Ketua Umum PSSI

Kita tahu dalam statuta standar FIFA yang mengatur prasyarat anggota, dalam kalimat itu tertulis “ They..must not have been previously found guilty of criminal offense” oleh PSSI tiga kata dalam statuta “have been previously” dihapus sehingga dalam statuta versi PSSI adalah “ They..must not found guilty of a criminal offense” sudah begitu mungkin dasar para pengurus ini antara paham atau tidak akan Bahasa Inggris tiga kalimat terakhir masih saja di pelintir dalam bahasa menjadi “ Tidak sedang dinyatakan bersalah atas tindakan kriminal pada saat kongres” karena “ide kreatif” ini Nurdin yang pernah dipesankan hotel prodeo karena tersangkut kasus korupsi bisa leha-leha hingga saat ini !

Kalau soal kejujuran sepertinya para pengurus PSSI saat ini sepertinya sudah tidak ada urat jujurnya dimana dengan percaya dirinya bahwa PSSI dengan yakin mencalonkan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia 2018 atau 2022 dengan menggandeng seorang konsultan hebat asal Swiss untuk merealisasi mimpi-mimpi sang ketua, walaupun pertanyaan sekarang DANA dari mana untuk proses pencalonan itu, dan ternyata apa yang ditanyakan mungkin sebagian orang dan pecinta sepakbola Indonesia soal dana terbukti dimana bak petir di siang bolong PSSI disurati oleh seorang pengacara dimana isinya PSSI diadukan ke Court of Abritation of Sport (CAS) karena NGUTANG bayar konsultan sebesar US $ 258,160 atau sekitar Rp. 2,3 Milyar !!

Kita tidak bisa mengharapkan para personel PSSI ini seperti apa yang dilakukan oleh Azwar Anas atau E.E. Mangindaan dengan kejujuran dan kata hati, mungkin hanya kemarahan Tuhan lewat pecinta sepakbola Indonesia yang bisa membuka mata hati para personel PSSI ini yang semakin hari semakin menyusut karena banyaknya yang tinggal di Hotel Prodeo mulai dari kasus nyopet uang rakyat hingga pembunuhan tingkat satu.

Ya Tuhan SAMPAI KAPAN Engkau tunjukkan kemarahanMU kepada para pejabat PSSI ini supaya mereka sadar bahwa kami BUTUH Prestasi nyata BUKAN Mimpi disiang bolong !

Pintu XI GBK Std, 160310 15:00

Rhesza Ivan
Pendapat Pribadi

Contolah Sikap Kenegaraan Obama Para Pejabat Indonesia !!!!

Untuk kedua kalinya pejabat Gedung Putih Amerika Serikat memberitahukan kepada wartawan tentang tertundanya kunjungan negara Presiden Amerika Serikat Barrack Obama ke kawasan Asia Pasific salahsatunya adalah Indonesia.

Presiden Obama dijadwalkan akan berkunjung ke kawasan Asia Pasific mulai tanggal 18 sampai 24 Maret kemudian tertunda dengan adanya masalah domestik di Amerika yang meminta agar Presiden Amerika Serikat agar tetap tinggal di Ibu Kota Negara Washington DC, akhirnya dirubah jadwalnya menjadi tanggal 21 hingga 26 Maret dan kemudian pada pukul 01.00 dinihari waktu Indonesia Barat Gedung Putih mengeluarkan peryataan pers yang mengatakan bahwa Presiden Amerika Serikat untuk kedua kalinya membatalkan kunjungan kenegaraan ke Indonesia dan Australia, dan penundaan ini sudah diberitahukan kepada Presiden Indonesia dan Perdana Menteri Australia

Memang disatu sisi penulis sebagai bagian dari rakyat Indonesia merasa kecewa dengan tertundanya dua kali kedatangan Obama ke Indonesia tetapi disisi lain masalah domestik terutama politik harus didahulukan karena bagaimanapun Presiden Amerika ini dipilih oleh rakyat paling tidak sang Presiden harus memperhatikan rakyatnya.

Apa yang dilakukan oleh Presiden Obama seharusnya menjadi catatan yang berharga bagi kita rakyat Indonesia khususnya orang-orang yang mengaku pejabat negara, kenapa penulis bilang seperti itu ? kita bisa lihat alasan Obama menunda kunjungannya ke Indonesia dan Australia dikarena adanya masalah domestik yaitu masalah RUU Kesehatan dimana dalam ada beberapa pasal yang menuai pro dan kontra soal jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin berupa asuransi kesehatan yang disediakan pemerintah, karena jika pemerintah jika menjaminkan maka masyarakat kurang mampu akan membayar dua kali lipat biaya pengobatan dirumah sakit, sementara saat ini Amerika Serikat sedang dilanda krisis ekonomi.

Karena hal inilah yang membuat Presiden Obama diminta tetapi tinggal di Washington hingga RUU ini disahkan oleh parlement, coba bandingkan dengan para pejabat dinegara ini apakah ada diantara mereka yang bertahan ketika suatu masalah yang menyangkut soal rakyat ? kita bisa lihat pada kasus Century sebenarnya bisa diredam seandainya Presiden tahu masalah ini dan tetapi di Jakarta masalah ini tidak akan seperti sekarang ini benar bukan?

Kita juga sering membaca dan menyaksikan berita tentang adanya demo masyarakat daerah dengan permasalahannya ke kantor kepala pemerintahan setempat entah itu Walikota, Bupati, Camat, atau Gubernur sekalipun ketika diminta para pejabat ini keluar untuk menemui demonstran para staff kadang-kadang selalu mengatakan bahwa pejabat yang di minta sedang berkunjung ke Jakarta atau tidak ada di tempat, kalau memang para pejabat daerah ini ke Jakarta karena ada panggilan misalnya oleh Menteri Dalam Negeri atau bahkan Presiden tidak ada masalah tetapi kalau ke Jakarta hanya sekedar bertemu dengan pejabat yang ternyata hanya kamuflase itu sangat disayangkan tetapi banyak pejabat daerah melakukan seperti ini.

Penulis pernah diceritakan oleh beberapa kolega yang kebetulan merantau ke Jakarta karena pendidikan mengatakan, bahwa kolega ini secara tidak diduga bertemu dengan salah satu pejabat tinggi kampungnya ( tidak perlu dijelaskan detail karena sangat-sangat menjijikan) yang mana kebetulan kampungnya ini sedang ada masalah, begitu tahu kolega penulis ini adalah warganya sang pejabat ini lantas mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya untuk yach semacam suap sambil berkata kalau butuh sesuatu hubungi sang pejabat ini, tetapi oleh kolega penulis ditolak dengan tegas sambil memaki sang pejabat ini !

Sudah seharusnya para pejabat di negara ini mengambil contoh sikap yang dilakukan oleh Presiden Obama, bukankah para pejabat ini dipilih dan diamanatkan oleh rakyat untuk memimpin daerahnya atau negara sudah seharusnya para pejabat ini mengabdi dan memenuhi apa yang diinginkan rakyatnya sehingga tidak ada lagi misalnya rakyat yang miskin, rakyat yang tinggal di bawah-bawah kolong jembatan seperti yang dapat dilihat di sekitar dekat kantor Polisi Militer Guntur, anak kecil yang busung lapar, gizi buruk atau harus terlambat ke sekolah karena harus membantu ibunya yang lumpuh seperti yang dilakukan oleh Gadis Sinar…

Obama…kami tunggu kedatanganmu kawan…


Veteran, 180310 15:00

Rhesza Lorca

Susahnya Menjinakkan Jak Mania (part 2)

Seperti biasa penulis menghaturkan permintaan maaf jika dalam penulisan ini membuat para pembaca geram, atau ada pihak-pihak yang merasa terpojokkan atau tersinggung atas tulisan ini sekali lagi saya haturkan minta maaf, tulisan ini adalah bersifat pribadi dan berdasarkan apa yang penulis lihat, dengar dan baca.

Lagi-lagi suporter berbuat ulah, setelah awal tahun kita disuguhkan aksi para Bonek dengan bangga dan arogannya masuk wilayah Jawa Barat dari daerah mereka dengan tindakan brutal kali ini suporter Ibu Kota yaitu Jakarta atau kita biasa dengan Jak Mania, dimana disaat para pemeluk Hindu sedang khusuk menjalankan ibadah Nyepi PSSI terutama PT.Liga Indonesia menggelar pertandingan antara Persija melawan Persipura di Gelora Bung Karno Senayan-Jakarta

Para Jak Mania ini tertangkap tangan oleh aparat Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya) membawa puluhan senjata tajam seperti klewang, samurai, ikat pinggang berkepala gir motor, hingga lintingan ganja siap pakai ketika aparat sedang melaksanakan pengamanan sekitar Jalan Gatot Subroto depan Kantor Polda, walaupun tidak separah dengan tindakan para bonek tetapi cukup heran dan kaget untuk apa ikat pinggang berkepala gir motor, samurai hingga lintingan ganja dibawah ke area stadion ?

Inilah potret sepakbola Indonesia yang semakin lama semakin hancur dan tidak tahu arah kedepannya berbeda dengan sepakbola-sepakbola negara luar yang mana semakin lama semakin maju seperti contohnya Kroasia dimana federasinya lahir tahun 1992 tetapi pada tahun 1998 bisa menduduki juara tiga Piala Dunia 1998 di Perancis

Apa yang dilakukan oleh kelompok Jak Mania ini bukan sekali dua kali tetapi berulang kali bahkan sebelum kejadian ini setidaknya penulis pernah mencatat dua kali mereka melakukan tindakan anarkis dan mengganggu ketertiban serta kenyaman masyarakat dimana melakukan aksi tawuran dengan warga disertai pengurasakan sebuah bus kota.

Yang penulis heran adalah setiap para Jak Mania atau Bobotoh atau Bonek berulah kemudian di tindak oleh aparat selalu dikatakan dalam release mereka para “pejabat” fans klub ini bahwa mereka yang berbuat ulah adalah OKNUM atau SIMPATISAN luar tetapi tidak ada tindakan nyata dari fans klub yang misalnya mendokumentasikan para simpatisan yang bermasalah agar dikemudian hari para oknum ini tidak diperkenankan untuk mengikuti segala kegiatan Persija.

Dan satu lagi penulis agak bingung dengan pemberian ijin keamanan dan pertandingan oleh Polda dan PT. Liga Indonesia, kita semua tahu bahwa hari besar keagamanan di Indonesia semua kegiatan ditiadakan bahkan demo pun pada hari besar agama dilarang, KENAPA ketika Nyepi PT. Liga Indonesia membuat jadwal pertandingan dan juga Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya) memberi ijin keamanan dan keramaian, tetapi ketika, Puasa, Lebaran dan Natal semua kompetisi diLIBURKAN apakah ini diskriminasi dan pelecehan karena tidak menghormati ke-khusukkan ibadah daripada (mungkin) diantara para pemain sepakbola yang bermain di ISL merayakan !

Penulis agak ragu dengan keterangan dari salah satu pengurus ketika berdialog dengan Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia yang difasilitasi oleh salahsatu televisi mengatakan bahwa sebelum berangkat ke stadion setiap koordinator wilayah memeriksa para anggotanya apakah ada yang membawa senjata tajam atau tidak, pertanyaannya adalah kalau memang sebelum berangkat semua anggota sudah memeriksa kenapa bisa Polisi menemukan senjata tajam dan lintingan ganja di dalam tas dan bus kota yang dinaiki para suporter ?

Sebenarnya ada beberapa cara untuk menekan tindakan anarkis ini yang selalu dikatakan sebagai oknum padahal mereka ini ada juga anggota resmi, seperti yang terjadi di Semarang dimana ada pengurus fans klub yang ternyata sebagai aktor intelektual dari kasus penyerangan dan penganiayaan dari sebuah fans klub.

Pertama, PSSI selaku otoritas yang mengurusi segala sesuatu yang berkaitan dengan sepakbola harus tegas memberikan sanksi setinggi-tingginya kepada klub termasuk didalamnya organisasi fans klubnya serta mengganggeng pihak Kepolisian jika didalamnya terkait dengan pasal-pasal yang merugikan masyarakat yang benar-benar ingin menonton pertandingan sepak bola, seperti kasus Jak Mania dimana Polisi menemukan beberapa senjata api dan narkoba.
Kedua, dari internal sendiri klub dan fans klub tersebut secara fair dan ksatria meminta maaf dan mengakui apa yang dilakukan oleh suporter mereka yang menurut mereka bukan hak mereka dan selalu mengatakan bahwa yang melakukan itu adalah oknum atau suporter liar

Ketiga, masih terkait dengan saran nomor dua yaitu masalah internal terutama para pengurus suporter ini agar segera membenahi management administrasinya kenapa penulis mengatakn itu walaupun pengurus mengatakan total pendukung liar mereka lebih daripada anggota resmi tetapi kalau dilihat kejadian kemarin penulis yakin didalam tersebut ada anggota resmi, bagaimana caranya supaya tidak terjadi seperti kemarin yaitu, para pengurus mendata ulang kembali dengan seleksi ketat berapa banyak suporter yang resmi, membuat kartu anggota yang sifatnya berregister atau online, kemudian membuat barang-barang atau merchandise yang berkaitan dengan klub misalnya syal, baju, topi lebih diperketat dalam hal pendistribusian dan di data.

Semoga masyarakat serta pencinta sepakbola Indonesia datang dan pulang dari stadion beserta keluarga dengan hati cerita bukan menyaksikan tayangan yang tak pantas dan hanya orang-orang yang TIDAK PUNYA OTAK untuk melakukan itu.


Pintu XI, GBK Stadium 160310

Gie Gustan
Pendapat Pribadi