Rabu, 10 November 2010

Relawan Bencana Adalah Pahlawan Sebenarnya


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagaian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf

Setiap tahun di bulan November tepatnya tanggal 10 negara ini selalu merayakan dengan mengheningkan cipta untuk jasa-jasa para pahlawan kita yang rela berjuang tanpa mengenal apa agama, suku, dan ras mereka tetapi hanya satu yang ia perjuangankan adalah kemerdekaan dan pembebasan dari segala macam penjajahan. Kenapa tanggal 10 November setiap tahun kita rayakan hari Pahlawan karena pada tanggal tersebut ada peristiwa besar dan mengubah negara ini yaitu adanya perobekan kain warna Biru pada bendera Belanda menjadi Bendera Merah Putih di atas puncak hotel Yamato, Surabaya dan dari peristiwa ini muncul sosok yang bernama H. Soetomo atau yang sering kita kenal sebagai Bung Tomo.

Setiap menjelang tanggal 10 November setiap tahun pemerintah memberikan medali kehormatan yaitu Gelar Pahlawan bagi semua warga negara Indonesia yang telah berbakti jiwa dan raga serta pemikirannya untuk negara ini, tetapi tahun ini sepertinya berbeda karena ada isu adanya pemberian gelar kepada mantan Presiden Indonesia kedua dan abadi H.M. Soeharto satu dari 10 kandidat pahlawan karena keterkaitannya dengan sejumlah kasus seperti kasus HAM sepanjang beliau berdinas sampai akhir hayatnya.

Terlepas dari benar atau tidaknya H.M. Soeharto pada tanggal 10 November nanti akan di sematkan medali kehormatan dan gelar pahlawan menurut penulis kiranya kita melihat sebenarnya siapa yang pantas jadi pahlawan untuk negara ini. Kalau penulis mengambil pengertian arti dari pahlawan seperti yang ada di website kementerian Sekretariat Negara adalah point dari salah satu pengertian Pahlawan yaitu bahwa Pahlawan itu seseorang yang telah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara kemudian masih dalam pengertian Pahlawan adalah telah menghasilkan karya besar yang mendatangkan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat.

Kemudian masih terkait dengan pengertian dari apa itu Pahlawan dimana mereka melakukan pengabdian dan perjuangan yang di lakukannya berlangsung hampir sepanjang hidupnya (tidak sesaat) dan melebihi tugas yang diembannya, lalu perjuangannya yang di lakukannya mempunyai jangkauan luas dan berdampak nasional dan memiliki konsistensi jiwa dan semangat kebangsaan/nasionalisme yang tinggi.

Lantas kira-kira kepada siapa kah cirri-ciri ini disematkan jika kita berbicara tentang Pahlawan ? apakah langsung tertuju kepada isu yang sekarang beredar yaitu H.M . Soeharto atau siapa ? semua orang mempunyai persepsi dan pandangan masing-masing jika mengaitkan pengertian serta rincian apa itu pahlawan tetapi penulis mempunyai criteria nyata tentang kepada siapa criteria dan pantas di berikan untuk medali dan gelar “Pahlawan” ! menurut penulis yang pantas mendapatkan gelar dan medali itu adalah sekelompok orang yang disebut RELAWAN !!

Kenapa penulis mengatakan Relawan yang berhak mendapatkan gelar dan medali “Pahlawan’ itu karena mereka sangat-sangat terkait dengan criteria-kriteria yang ada dalam pengajuan gelar dan medali “pahlawan” kita bisa lihat tugas sebagai relawan itu adalah sangat mulia, mereka melakukan tugas tanpa pernah mengharapkan imbalan bahkan mereka rela mengorbankan jiwa mereka asal orang yang mereka bantu dapat selamat dan tidak kekurangan apapun seperti yang terjadi di kawasan Merapi dimana kabarnya ada sekitar 5-6 orang relawan yang hilang bahkan meninggal dunia terkena awan panas karena mencoba membantu warga sekitar untuk di evakuasi ke tempat yang aman.

Tetapi seperti kelakuan busuk negara ini dimana pekerjaan relawan ini masih di pandang sebelah mata oleh berbagai pihak termasuk negara sendiri kita bisa lihat bagaimana negara hanya diam di tempat ketika ada bencana yang justru bergerak adalah tim relawan, bahkan ketika Merapi tererupsi sampai hari ini, penulis tidak pernah mendengar release berapa banyak korban tewas, luka-luka berat maupun ringan, kehilangan rumah dan harta VERSI Pemerintah tetapi yang ada malah VERSI Relawan dan gerakan militant dari jejaring social seperti tuider..

Atau ketika keperluan apa saja yang dibutuhkan oleh para pengungsi apakah pernah Pemerintah mengeluarkan anjuran atau petunjuk kepada masyarakat luas apa yang boleh dan tidak untuk menyumbang ? TIDAK yang ada malah para relawan dan masyarakat yang mengeluarkan saran dan lagi-lagi lewat jejaring social media seperti tuider.

Saran penulis kepada pemerintah dalam hal memberikan medali kehormatan dan gelar Pahlawan yang (mungkin) berprestasi tetapi berprestasinya secara tidak sehat dan menyengsarakan orang lain lebih baik medali itu diberikan kepada para relawan yang bertugas di daerah bencana dan konflik termasuk yang terjadi di Merapi yang rela mengorbankan ke-egoisan mereka, meninggalkan dunia mereka seperti istri dan anak mereka demi orang lain padahal diantara mereka ada yang hidup sederhana bahkan kekurangan tetapi panggilan hati mereka untuk membantu sesam a yang menguatkan mereka untuk sejenak melepaskan itu semua dan pemerintah pun kiranya bisa berpikir lebih waras dengan nurani untuk melihat para relawan ini daripada politik pencitraan yang membuat sebagian orang termasuk penulis ingin muntah melihatnya.

Untuk para relawan baik yang saat ini sedang bertugas serta yang harus meninggalkan dunia ini penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih atas perjuangan mu dalam menolong sesame di negara ini, jasa-jasamu akan selalu kami kenang selalu di hati kami, karena anda semua adalah Pahlawan bagi kami semua Tuhan Berkati kalian semua...

Selamat Hari Pahlawan….

Thamrin, 101110 10:05

Rhesza
Pendapat Pribadi

Protokoler Ternyata Lebih Kejam Daripada Pembunuhan (bag 1)


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagaian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf

"Tidur di kasur baru kemarin, dari 29 balita kemarin sore dipinjamin tiga kasur busa. Besok dikembalikan, “ Agustinus Mujimin


(lengkapnya )


Kenapa penulis menuliskan judul di atas seperti itu di karenakan adanya berita yang tidak mengenakann di samping berita tentang duka saudara-saudara kita yang ada di Wasior, Mentawai, Merapi dan tempat lainnya. Tulisan ini lebih kepada peringatan buat orang-orang yang merasa pemimpin atau koleganya agar lebih respek dan menggunakan nurani daripada mengikuti apa kata protokoler atau anak buah.

Kita tahu bagaimana para pemimpin ini selalu di awasi gerak-geriknya oleh sejumlah kelompok yang memperkenalkan diri sebagai pasukan pengawal, ajudan atau apapun namanya bahkan fungsi mereka ini lebih vital daripada para pemimpin atau bos mereka tetapi dari vitalnya itu malah lebih menyesengsarakan masyarakat atau orang-orang yang sedang di kunjungi oleh pemimpin mereka.

Kasus yang penulis utarakan adalah terjadi di kawasan Merapi dimana para pemimpin kita datang kesana untuk meninjau situasi terakhir baik itu kondisi Merapinya sendiri begitu juga dengan rakyatnya tetapi apa yang di dapat tidak sesuai dengan apa yang kita bayangkan dengan apa yang di sebut empati secara nurani.

"Kamu pimpinan kelompok, yah. Nanti kalau Bapak Presiden datang bilang 'Hormat kepada Bapak Presiden Republik Indonesia siap grak'," kata guru lain kepada seorang siswa. Si murid hanya manggut-manggut.


[Lengkapnya]


Ada beberapa jurnalis yang menulis bagaimana persiapan sebelum pemimpin ini meninjau yang menurut penulis agak kurang masuk akal dan terkesan menutup-nutupi apa yang sudah terjadi di depan mata atau istilahnya dibersihkan dulu padahal kita mau pemimpin kita tahu dan merasakan apa yang dirasakan oleh kita.

Seperti yang terjadi di Merapi dimana seorang jurnalis melaporkan bahwa sebelum kedatangan sang pemimpin negara ini semua akses jalan yang akan di lewati oleh sang pemimpin di perbaiki supaya nyaman padahal sebelumnya kondisi jalan tersebut memprihatinkan dan sangat parah kondisinya tetapi begitu sang pemimpin ini datang maka jalan yang tadinya memprihatinkan dan parah kondisinya berubah menjadi mulus tanpa ada lubang sedikit pun Walah seperti adegan sulap di tipi-tipi.

Kalau urusan mengubah jalanan yang tadinya rusak parah menjadi bagus bagi penulis tidak ada masalah walaupun dilemma tetapi yang lebih menyakitkan adalah ketika para korban mengungsi ini di arahkan layaknya seorang pemain sinetron yang diarahkan oleh seorang sutradara, sutradara dalam kali ini adalah Rombongan sirkus (baca: Protokoler dan keamanan) daripada lingkaran sang pemimpin yang kemana-mana SELALU menyusahkan rakyat entah itu di jalan hingga mengakibatkan beberapa orang pada tahun 2004 harus tercabut nyawanya di tol atau sampai membuat seorang gadis kecil mengalami trauma karena ke-egoisan daripada rombongan sirkus ini walaupun sang juru bibir mengatakan bahwa iringan-iringan akan di kurangi tetapi nyatanya ? sampai kemarin ( 4/11) sekitar pukul 13.00 melintas rombongan sirkus pemimpin ini yang terdiri dari 4 motor patwal, 2 motor gede jenis sport dan lebih dari 20 mobil katergori SUV dan minivan melintas di daerah Taman Suropati, Jakarta Pusat apakah ini yang di sebut penghematan iring-iringan seperti yang di ucapkan oleh JURU BIBIR ISTANA ?

"Di sini senang di sana senang...di mana-mana hatiku senang. Di sini senang...di sana senang, di mana-mana SBY senang," teriak anak-anak tersebut.


Seperti contoh yang di tuliskan oleh para jurnalis ini adalah pada saat bencana wasior dimana menurut salah satu korban yang bercerita kepada media bahwa mereka diangkut oleh beberapa truk tronton untuk di drop di sebuah tempat yang ternyata tempat untuk berbicara dengan sang pemimpin lengkap layaknya sebuah kegiatan resmi dimana ada tenda dan sebagainya, begitu ditanya oleh Jurnalis salah satu korban itu mengatakan bahwa sebelum mereka diangkut ke tempat itu, tempat itu tidak jelas dan tidak berbentuk karena dampak dari bencana tetapi ketika pemimpin itu datang maka tempat itu pun di sulap menjadi lebih bagus.

Itu yang di Wasior lantas apakah di Merapi sama atau beda tau lebih parah daripada Wasior ? ternyata Kondisi Merapi lebih parah daripada Wasior dan lebih parah daripada settingan di Wasior dimana yang dituliskan oleh seorang Jurnalis dan beredar di jejaring social dimana tempat para korban Merapi di tampung (baca: BARAK) di rapikan oleh rombongan sirkus untuk menjamu sang pemimpin untuk melihat kondisi, yang lebih tragis adalah (mungkin) tanpa sepengetahuan sang pemimpin para rombongan sirkusnya men-set layaknya sutradara sinetron stripping orang-orang di sekitar dan tinggal di barak agar di latih bahasa tubuhnya ketika sang pemimpin mencoba mangajak bicara atau apa apun yang sang pemimpin lihat termasuk nyanyian selamat datang yang dinyanyikan oleh anak-anak sekolah ketika sang pemimpin ini memasuki tempat Barak.

Atau ketika bencana Tsunami Mentawai dimana pak Beye berada di Hanoi dan memutuskan untuk kembali sejenak ke tanah air untuk meninjau Mentawai tiba-tiba sebuah portal berita menuliskan bahwa rombongan sirkus sudah datang ke Mentawai untuk mempersiapkan itu semua, dan LEBIH LUCUNYA adalah KALAU MEMANG pak Beye itu pemimpin dengan latar belakangnya Militer kenapa juga HARUS MENUNGGU INSTRUKSI dengan menginap satu hari di Kota Padang daripada rombongan sirkus ini dan bukannya langsung datang ke TKP menit itu juga !!!

Dari itu semua penulis Cuma melihat bahwa pemimpin negara ini TIDAK BERANI alias TAKUT sama rombongan sirkusnya, kenapa penulis mengatakan itu ? kita bisa lihat BAGAIMANA pemimpin kita HANYA BISA menerima BUKAN melakukan tindakan SPONTAN dari ketentuan yang sudah dirancang oleh rombongan sirkusnya, tindakan ini mengingatkan penulis dengan sebuah acara talkshow dimana salah satu menterinya mengatakan tentang sistem keamanan “bos”nya ketika di jalan terkait dengan kasus Tol Cibubur dan surat pembaca dimana sang menteri ini mengatakan bahwa beliau ketika di dalam kendaraan tidak tahu apa yang terjadi di luar sana begitu sampai baru di beritahu jika ada kecelakaan seperti kasus Cibubur empat tahun yang lalu

Padahal kita semua tahu kalau seorang manusia mendapatkan predikat sebegai pemimpin di sebuah negara karena dipilih oleh rakyat dan bekerja untuk rakyat tetapi nyatanya yang terjadi saat ini adalah pemimpin kita memang bekerja tetapi apakah itu untuk rakyat atau tidak kita tidak tahu. KALAU MEMANG pak Beye itu seorang pemimpin SEHARUSNYA kasus Cibubur 4 tahun yang lalu sehingga membuat seorang supir bus yang usia lanjut harus menjadi TUMBAL daripada KELAKUAN rombongan sirkus ini bisa membuat pak Beye memerintahkan iring-iringan berheni dan pak Beye turun dan ikut membantu BUKANnya jalan terus dan sampai di Istana baru di beri tahu kalau tadi ada kecelakaan, memang pemimpin kita ini TIDAK PUNYA MATA untuk melihat sekitar baik depan belakang samping kanan dan samping kiri yang ia lewati bersama iring-iringan sampai baru tahu di Istana kalau jalan yang ia lewati itu sudah memakan korban jiwa dan menyebabkan satu orang harus menjadi pesakitan apa yang ia tidak perbuat atau SEBELUM MASUK ke mobilnya pak Beye DIBERIKAN semacam kaca mata dan penyangga leher yang HANYA BISA MENATAP KE DEPAN oleh rombongan sirkus !!

Penulis sich berpikir sudah saatnya para pemimpin kita ini mulai dari Presiden hingga Kepala Desa HARUS BERONTAK terhadap sistem protokoler YANG MEMUAKKAN jangan lah para pemimpin kita ini seperti KERBAU DICUCUK HIDUNGnya oleh protokoler dan sistem pengamanan kalau memang bekerja untuk negara dalam hal ini rakyat, sudah banyak pemimpin negara di dunia yang mulai melepaskan atau menolak tawaran daripada rombongan sirkus ketika beliau bekerja seperti Presiden Philipina, Benigno Aquino III dan Perdana Menteri Inggris Raya, David Camerron bahkan menteri-menteri di negara Eropa pun kemana-mana tanpa raungan sirene dan merasakan macet bersama dengan rakyat di jalan raya karena menteri-menteri di negara Eropa dan benua lainnya SADAR DIRI kalau mereka DIPILIH dan BEKERJA untuk rakyat, rakyatlah YANG MEMBAYAR mereka lewat pajak termasuk jalan yang mereka lewati atau halusnya adalah Menteri dan Kepala Negara di negara luar sana seperti Eropa adalah (maaf) KACUNG dan rakyat adalah MAJIKAN !!! dan kalau TIDAK SANGGUP bekerja atau ada aib dalam diri mereka, SECARA LANGSUNG tanpa harus dipaksa atau dimunculkan dulu ke media lewat tulisan-tulisan tajam jurnalis, mereka RELA MUNDUR sebagai rasa tanggungjawab mereka terhadap rakyat, sedangkan para pejabat di negara ini dengan rakyatnya ??!!!

Taman Suropati, 061110 16:00
Rhesza
Pendapat Pribadi

Rabu, 03 November 2010

Benarkah Soeharto Pahlawan Bagi Semua Rakyat Indonesia ?


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagaian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf

Setiap tanggal 10 November setiap tahun negara kita dan juga rakyat Indonesia selalu memperingati hari Pahlawan untuk mengenang dan terima kasih atas jasa-jasa mereka sehingga negara ini merdeka dan maju seperti ini dan setiap menjelang tanggal 10 pemerintah selalu mengeluarkan daftar rincian orang-orang yang menurut pemerintah layak di berikan bintang jasa atas pengabdian mereka atasnegara ini tetapi tahun ini ada yang menarik ketika negara akan memberikan bintang lencana kepada satu dari (mohon dikoreksi jika salah) 10 masyarakat Indonesia yang telah berjasa terhadap negara ini.

Satu dari 10 tokoh tersebut adalah Haji Muhammad Soeharto yang tidak lain tidak bukan adalah Mantan Presiden Republik Indonesia periode 1966 hingga 1998 kenapa penulis menarik karena begitu release nama-nama penerima bintang lencana itu oleh pihak-pihak terkait dalam hal ini Kementerian Sosial Republik Indonesia banyak masyarakat yang menolak pemberian bintang lencana kepada Soeharto karena masyarakat sudah tau bagaimana tokoh ini ketika menjabat sebagai Presiden.

Semua orang tahu bagaimana Soeharto ini memimpin negara ini, (bolehkah penulis mengatakan) kejahatan beliau di mulai ketika tahun 1965 ketika menumpas PKI dimana semua orang yang di lihat beliau memiliki keterikatan dengan PKI maka tidak sungkan-sungkan menangkap dan menahannya hingga bertahun-tahun tanpa ada pembelaan diri daripada sang korban, kemudian pada peristiwa Malam LimA januaRI atau biasa kita kenal dengan Malari pada tanggal 15 Januari 1974 dimana terjadi kerusuhan dan pembakaran produk-produk Jepang ketika PM Jepang kala itu Tanaka Berkunjung, kemudian adanya pembentukan Petrus-Penembak Misterius yang tujuannya untuk mengurangi tingkat criminal kala itu sedang tinggi-tingginya, tetapi yang lebih banyak disorot adalah pelanggaran HAM oleh tentara yang kala itu bernama ABRI-Angkatan Bersenjatan Republik Indonesia ketika itu melakukan Operasi Seroja di Timor-Timur, kemudian Operasi Jaring Merah di Aceh yang kita kenal sebagai Daerah Operasi Militer-DOM Aceh, penculikan aktivitis dan mahasiswa hingga adanya peristiwa Mei 1998 yang melengserkan beliau

Itu soal HAM bagaimana dengan bidang lain selama di pimpin oleh Soeharto terutama bidang Ekonomi, ternyata tidak jauh berbeda dimana sebuah badan internasional yang bergerak dalam bidang analisa korupsi mengatakan bahwa Soeharto masuk dalam daftar kepala negara terkoru di dunia sepanjang 20 tahun terakhir ini, selain itu juga kita semua sudah tahu bagaimana keluarga ini menjalankan negara dengan seenaknya dimana hampir semua anaknya mendapatkan kemudahan dalam menjalankan bisnisnya padahal mereka sama sekali tidak mengerti bahkan ada sebuah buku yang pernah penulis baca (maaf lupa judul bukunya tapi penulis membacanya di Toko buku terkemuka di daerah Pejaten) bahwa pendidikan anak-anak sampai cucu dari mantan pemimpin negara ini tidaklah begitu pintar bahkan berapa kali tidak naik kelas mungkin karena pengaruh ayah dan kakeknya makanya mereka sekeluarga lenggang kangkung sampai pendidikan tinggi padahal nyatanya !

Kasus-kasus yang melibatkan jaringan Cendana ini sudah berapa kali coba di masukan ke Pengadilan tetapi nyatanya hasilnya tetap di tengah jalan dengan stempel “sakit” dan “sakit hingga sampai beliau meninggal dunia pada tanggal 27 Januari 2008 lalu. Kembali ke soal pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto memang ibarat dua sisi mata uang dimana satu sisi kita bisa lihat kebrutalan beliau di balik senyumannya yang manis dimana sepanjang beliau memimpin negara ini sudah berapa banyak rakyat yang harus menderita mulai dari intimidasi seperti adanya “stempel Ex-Tapol “ bagi kelompok PKI sampai dengan penghilangan nyawa yang sampai hari ini entah kemana jasad mereka di kebumikan tetapi di sisi lain karena kepemimpinan beliau maka negara ini paling tidak bisa disegani oleh negara luar tetapi masih lebih disegani ketika masih di pimpin oleh Bung Karno.

Kalau penulis seorang pemimpin sebuah negara dan dipilih langsung oleh rakyat maka nasib Soeharto ini penulis akan menolaknya dengan mentah-mentah kenapa ? pertama, walaupun dia selalu mengatakan tidak bersalah dan sakit bagaimana bisa kita mempercayainya kalau yang berbicara hanya pengacaranya BUKAN beliaunya sendiri yang jelas-jelas mungkin bisa bicara, yang kedua adalah, kiranya para keluarganya menyerahkan semua asset mereka yang selama ini mereka pegang dengan mengatasnamakan rakyat atau negara ini tetapi yang paling utama adalah PENGAKUAN PERMINTAAN MAAF dan GANTI RUGI sebesar-besarnya yang disampaikan keluarga besar Cendana yang di rekam dan di publikasikan ke seantero dunia yang isinya bahwa orangtua mereka telah bersalah dan kami siap untuk menggantikannya ! kenapa penulis mengatakan itu diatas jika penulis berandai RI-01 karena penulis seorang pemimpin yang dipilih langsung oleh rakyat dan penulis berhak melayani rakyat dengan prioritas dan kekebalan yang dipunya seorang pemimpin BUKAN menjadi budak dari golongan mulai dari partai politik sampai lingkaran keluarga benar bukan ?!

Apakah nanti H-2 tanggal 10 November 2010 pemerintah akan memberikan predikat “Pahlawan “ kepada H.M. Soeharto atau tidak yang pasti rakyat pun sudah punya jawaban sendiri ketika pemerintah kita ini memberikannya dan Tuhan pun tau siapa yang membuat negara ini seperti ini…

Merdeka Selatan, 031110 10:25
Rhesza
Pendapat Pribadi

Malangnya Nasib Beye

Kostum Presiden di Lokasi Bencana

Presiden dari mana pun di dunia ini pasti sangat diharapkan kehadirannya secara langsung oleh rakyatnya jika di negaranya sedang terjadi suatu bencana. Seperti yang terjadi baru-baru ini di negara kita dan juga di Cile sebagai bentuk dukungan moril.

Di media televisi yang disiarkan secara langsung hampir bersamaan, jelas terlihat suatu perbedaan yang mencolok di dalam prosedur penanganan bencana, khususnya pada penampilan pakaian antara Presiden RI dan Presiden Cile.

Presiden Sebastian Pinera terlihat sangat kasual dan sangat merakyat dengan menembus batas, sementara penampilan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan rombongan pejabat di Wasior, Papua Barat, terlihat sangat kaku dengan setelan baju safarinya meski telah dilengkapi rompi.

Apalagi, selalu tidak ketinggalan didampingi dengan dua ajudan yang berpakaian dinas lengkap, semakin menambah kekakuan mengingat daerah tersebut sedang porak-poranda dengan lumpur yang masih tergenang di mana-mana.

Seharusnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, rombongan, dan pejabatnya bisa menyesuaikan diri dengan apa yang sedang terjadi. Bila Presiden tidak memakai setelan formal, rombongan pejabat pasti akan menyesuaikan.

JIMMY A TURANGAN Kaveling DKI B 17, Duren Sawit, Jakarta (KOMPAS, 31 Oktober 2010)


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagaian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf


Tulisan di atas adalah sebuah surat pembaca yang dikirimkan seorang warga yang (mungkin) prihatin dan kurang sedap di pandang ketika melihat berita tentang kunjungan Beye ke lokasi bencana Tsunami Mentawai yang menurut pembaca tersebut tidak sesuai dengan keadaan baik itu sang pemimpin maupun yang sekitar.


Apa yang di tulis oleh warga tersebut ke media cetak tidak salah dan harus diperhatikan oleh semua orang termasuk pemimpin kita kalau atau sedang berkunjung ke suatu tempat agar di lihat apakah layak atau tidak dalam hal ini cara berpakaian. Kenapa penulis mengatakan itu kita bisa lihat banyak pejabat kita seperti “salah kostum” ketika menghadiri sebuah acara yang tentunya tidak formal seperti contoh banyak pejabat kita yang mengenakan pakaian safari ketika berkunjung ke tempat bencana seperti banjir atau Tsunami Mentawai seperti kunjungan beye ke Mentawai beberapa hari lalu.


Memang tidak salah apa yang digunakan oleh pemimpin di negara ini tetapi kiranya para pemimpin juga harus punya nurani dengan apa yang mereka datangi, bukan maksud menggurui para pejabat negara ini dan juga bukan pakar fashion tetapi menurut penulis alangkah elegannya para pejabat ini ketika mengunjungi sebuah tempat bencana seperti korban banjir, gempa dan lainnya kiranya berpakaian yang lebih sederhana misalnya berpakaian kaus berleher (polo shirt) dengan celana training dan sepatu casual atau kanvas sehingga terkesan para pejabat ini merasakan apa yang dirasakan oleh korban bukan seperti yang kita lihat selama ini dimana para pejabat kita datang ke lokasi bencana dengan pakaian safari lengkap begitu juga dengan ajudannya yang berpakaian dinas lengkap dengan pangkat seperti layaknya sedang berada di barak militer kalau seperti ini apakah masih ada empati daripada pejabat ini dimata rakyat yang menjadi korban ketika melihat para pejabat ini datang dengan pakaian yang tidak menunjukkan rasa empati seperti juragan melihat jonggoasnya atau orang sangat kaya melihat rakyat jelata benar tidak ?!


Terkait dengan beye kiranya masalah ini sudah yang kesekian kalinya warga atau rakyat menjerit tentang perilaku daripada pemimpin ini kita mungkin masih ingat dengan kasus iring-iringan beliau dan rombongan sirkusnya yang membuat seorang gadis kecil mengalami trauma berat ( (http://m.detik.com/read/2010/07/16/164634/1400929/10/surat-lengkap-jeritan-warga-cibubur--pak-sby-mohon-tinggal-di-istana- ) yang katanya akan ditelaah lagi dalam jumlah iring-iringan tetapi nyatanya tidak (http://politik.kompasiana.com/2010/09/25/juru-bibir-istana-pembohong/)

Atau sikap beye yang menitikkan air mata ketika memberikan pidato pada sebuah acara yang berkaitan dengan agraria tetapi peran pemerintah sampai hari ini pun tidak ada perhatiannya sama sekali terhadap petani entah itu melindungi petani daripada para tenggulak atau memberikan akses harga yang murah dan efisien kepada petani misalnya harga pupuk


Atau sikap dingin seperti ketakutan beye terkait soal Malingsia dimana rakyat sudah siap angkat senjata untuk berperang karena kasus penahanan tiga aparat patroli Kementerian Kelautan oleh patroli laut Kepolisian Diraja Malingsia, alasan beye berbicara seperti itu karena memperhatikan nasib TKW padahal kita tahu bagaimana nasib TKI/W kita di sana mulai dari gaji tidak di bayar hingga di perkosa berkali-kali tetapi nyatanya tidak ada peran pemerintah bahkan tindakan keras Pemerintah kita misalnya menarik Dubes RI dan memulangkan seluruh staff Kedutaan Malaysia di Jakarta sebagai bentuk protes kita terhadap negara Malaysia yang tidak menghargai HAM daripada pekerja yang berlaku di internasional atau organisasis internasional bidang pekerja misalnya ILO

Menurut penulis sudah cukuplah presiden kita berdiri dan bekerja dengan topeng, kita tahu seorang pemimpin itu harus rela berkorban demi jiwa raga untuk rakyat termasuk terjun langsung ke areal yang menjadi tempat tinggal rakyat yang menjadi korban bukannya malah tidur di Kapal Perang atau dimana yang lebih empuk daripada melihat dan merasakan penderitaan rakyat bukan seperti yang dilakukan oleh pemimpin negara ini yang dibutuhkan rakyat sekarang adalah empat nurani daripada para pemimpin bukan sikap jaga imej dari pemimpin itu kemudian disiarkan oleh media kalau pemimpin kita berempati padahal nyatanya ? seperti yang terjadi di Wasior beberapa waktu lalu…


Sampai kapan Beye akan terus bertahan dengan imej, sikap dingin serta ragu dan topengnya selama memimpin negara ini yang sudah hampir 6 tahun ini sementara pemimpin negara lain sudah maju 3 langkah dalam hal melayani , membuka mata serta mendengar apa yang rakyat minta demi negaranya seperti yang dilakukan oleh Sebastian Pinera dari Chile yang rela menunggu dan bermalam di tempat ke-33 penambang terdampar di dasar bumi hanya untuk memastikan bahwa ke-33 warganya selamat hingga muncul ke permukaan bumi serta jika ada pekerjaan hanya menyempatkan waktu sekitar dua jam di Ibukota negara selebihnya di tempat kejadian dan akhir dari penantiannya tercapai dimana ke-33 penambang selamat dan hidup ketika ditarik ke permukaan bumi dan dunia pun memuji Presiden Pinera setinggi langit karena mau berkorban demi rakyat yang sudah mempercayakan dirinya untuk memimpin negara ini sedangkan pemimpin kita ?


Thamrin, 011110 17:28
Rhesza
Pendapat Pribadi