Rabu, 21 April 2010

Dimana Ketegasanmu Wahai Menlu ?


Lagi-lagi nasib TKI kita di negara-negara penerima TKI membuat masalah, dimana terakhir ada tiga warga Indonesia yang (kabarnya) ditembak oleh aparat Polisi DiRaja Malaysia, menurut kabar yang beredar aparat Polisi Malaysia terpaksa menembak karena tiga warga ini melawan aparat ketika akan ditangkap karena ketiga warga ini yang berasal dari Madura terindikasi menjadi jaringan pencuri 19 rumah .

Setelah ketiga jenazah ini tiba hingga dimakamkan di kampung halamannya penulis melihat tidak ada reaksi sama sekali daripada Pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia atau Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Malaysia di Kuala Lumpur walaupun itu dilakukan mungkin setelah satu minggu setelah pemakaman.

Mungkin agak aneh dan janggal ketika kita memiliki Menteri Luar Negeri Republik Indonesia yang memiliki diplomatis yang sangat disegani dengan kejadian tertembaknya tiga warga Indonesia oleh Polisi Malaysia, mungkin anda ingat ketika itu Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sedang mengadakan sidang yang membahasa soal akan adanya pemberlakuan sanksi dan pengawasan terhadap Iran yang akan menggunakan reaktor nuklir sebagai senjata andalannya jika di serang, disaat semua negara lewat Duta Besarnya akan memberikan suaranya antara iya dan tidak dengan tidak disangka tiba-tiba Kepala Perwakilan Tetap Republik Indonesia (PTRI) untuk Markas Besar PBB, saat itu dipimpin Marty Natalegawa dengan lantang mengacungkan tangan seraya berkata bahwa Indonesia abstain dan mengkaji kembali isi draft tersebut, akibat dari tindakan Indonesia melaui Kepala PTRI ini mendapatkan reaksi dan apresiasi daripada negara-negara anggota PBB.

Semestinya sikap Menlu ketika masih menjabat PTRI ini di munculkan ketika ada rakyat Indonesia terutama para TKI dan TKW yang tidak diberikan hak-haknya sebagaimana terlampir dalam konvensi buruh atau HAM yang dibuat oleh PBB dan telah diratifikasi hampir 80 % negara di dunia ini, kita tahu sudah ratusan TKI dan TKW yang bermasalah mulai dari gaji tidak terbayarkan, diperkosa hingga hamil bahkan dituduh sebagai pembunuh dan masih banyak lainnya orientasi negatif yang dialamatkan kepada para TKI dan TKW kita diluar sana tetapi hingga detik ini penulis belum melihat ada reaksi sama sekali bahkan sampai ekstrem misalnya memanggil pulang Dubes RI ke Jakarta jika terkait kasus TKI dan TKW.

Pasif dan ragu-ragu dari sikap Kemenlu ini berbeda 180 derajat dengan sikap yang dikeluarkan oleh Pemerintah Amerika Serikat dan Philipina ketika warganya tidak dihargai hak-haknya ketika berada di luar negaranya, kita bisa lihat bagaimana Pemerintah Amerika dimana ketika salahsatu warganya yang kebetulan menjadi Kapten kapal yang disandera oleh perompak Somalia, atas perintah President Amerika Serikat maka tim khusus dibentuk dan diterbangkan untuk membebaskan warga negaranya beserta awaknya dari berbagai negara dan dalam waktu cepat sang kapten dan awaknya bebas dengan selamat.

Sama halnya dengan Philipines, pernahkah anda membaca di situs-situs berita internasional atau berita dalam negeri yang memuat berita adanya tenaga kerja atau warga Philipina yang didakwa hukuman bahkan sampai tewas karena tindakan brutal daripada sang majikan ? itu semua karena adanya peran dari semua pihak bahkan penulis pernah mendengar dari kalangan migran ketika penulis tanya kenapa tenaga kerja Philipina tidak pernah kena kasus berbeda dengan tenaga kerja di negara ini, jawab beliau karena mereka sudah ada kesepakatan bahkan ada semacam ancaman jika warga Philipina tidak dilindungi hak-haknya di negara tujuan !

Indonesia itu adalah negara besar dan banyak negara yang ingin bekerjasama, seharusnya negara dalam hal ini Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia bisa mencuri point dalam draft kerjasama terutama dalam hal tenaga kerja atau pendidikan dimana setiap negara yang menjadi tujuan WNI harus dilindungi hak-haknya dan kalau tidak maka akan ada evaluasi daripada kerjasama tersebut, yang penulis heran adalah bukankah sosok Menlu ini ketika digadang-gadang menjadi Menlu sempat ditolak oleh kolega-koleganya karena sosoknya yang keras dan agak sedikit frontal, seharusnya dengan sikap beliau negara yang akan mempunyai masalah dengan warga Indonesia akan berpikir dua kali untuk mendekati negara ini tetapi kenyataannya ?

Apakah kasus 3 TKI ini menjadi kasus terakhir walaupun banyak kasus yang nasibnya sama dengan kasus 3 TKI ini seperti kasus Nurhayati, Nirmala Bonat, TKI yang ditemukan dalam bagasi mobil di depan pintu masuk Kedubes RI yang sampai sekarang tidak jelas akhirnya, semoga saja sikap beliau yang tegas, frontal ketika menjabat PTRI bisa ditularkan dalam menjaga rakyat Indonesia yang terus berjuang akan haknya di luar sana !

Pejambon, 100410 16:10

Rhesza Ivan
Pendapat Pribadi

Masih Adakah Perwira Polri Yang Jujur dan Tegas Seperti Jenderal Hoegeng ?


Mungkin tahun akhir tahun 2009 hingga saat ini adalah tahun buruk bagi institusi Kepolisian Negara Republik Indonesia karena hampir tiap hari selalu ada saja pemberitaan yang keluar dari institusi ini entah itu salah tangkap, penyuapan seperti yang terjadi sekarang ini.



Penulis tidak akan membeberkan secara detail karena itu sudah ada orang yang akan membeberkannya penulis hanya menjelaskan apa yang penulis lihat, rasakan dan menuangkannya secara nurani, dan mohon maaf kalau dalam penulisan ini membuat sebagian orang merasa terpojokkan tetapi itu adanya dan penulis hanya bisa mengucapkan MAAF



Seperti kita tahu bahwa institusi korps baju cokelat sedang diuji oleh publik banyak kejadian yang melibatkan mereka yang terungkap oleh media seperti kasus Makelar kasus yang ditiupkan oleh kolega mereka sendiri, atau kasus salah tangkap atau penjebakkan terhadap dua rakyat miskin dengan tuduhan penyimpanan narkoba, atau penyuapan yang terjadi di Kuningan-Jawa Barat dan Jakarta Pusat.



Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, sudah begini parahkah para prajurit kepolisian kita sehingga tidak ada lagi prajurit kepolisian yang jujur dan bekerja sesuai dengan amanat dan ideologi mereka yaitu melayani dan melindungi seperti yang tercantum dalam sisi pintu mobil patroli yang mereka kendarai ?



Mungkin andai saja Jenderal Hoegeng Imam Santoso masih hidup dan segar bugar saat ini akan marah besar dengan kelakuan daripada junior atau cucu beliau di Kepolisian dengan gampangnya memeras rakyat yang membutuhkan keadilan dan kebenaran harus merogoh kocek atau dijadikan bantalan mereka agar mereka di mata masyarakat kerja benar padahal itu semua palsu.



Anda mungkin yang sudah tahu siapa Jenderal Hoegeng Imam Santoso akan berpikir sama dengan penulis tetapi yang belum tahu pasti akan bertanya siapa itu Jenderal Hoegeng Imam Santoso, yap namanya Jenderal Hoegeng Imam Santoso adalah mantan Kapolri beliau selama berkarier di Kepolisian Negara Republik Indonesia memiliki rekam jejak yang sangat bagus dan patut dicontoh dimana ketika dinas pertamanya di luar Pulau Jawa yaitu di Medan-Sumatera Utara sudah membuat heboh satu Medan bahkan satu Indonesia dimana kita tahu jaman dahulu (mungkin) sampai sekarang medan itu dikuasai oleh taipan-taipan “cingtailah ploduk-ploduk endonesa” dan polisi disana bisa dikuasai atau istilah polisi “86” tetapi oleh Hoegeng mitos “86” dan dikuasai oleh taipan terbantahkan dimana ketika beliau tiba di sana menolak diantar oleh orang-orang daripada Taipan tersebut, kemudian dengan lantang dan berani serta tegas mengeluarkan isi perabotan rumah tangga mulai dari sofa, kulkas dan lainnya keluar rumahnya dan ditaruh begitu saja di pinggir jalan padahal disana tidak ada satu polisi pun yang berani seperti beliau ! dan beliau berani mundur karena tidak mau diintervensi dalam menangani perkara dimana melibatkan salahsatu putera penguasa negara ini kemudian juga menolak dinas sebagai duta besar untuk Kerajaan Belgia dengan alasan bukan keahlian dia dalam diplomasi dan juga hobi dengan minum koktail dan yang patut dicontoh adalah hidup yang sangat sederahana hingga akhir hayatnya bahkan mobil terakhir itu adalah sumbangan dari seluruh Kapolda Indonesia karena jasa-jasa beliau.



Seharusnya para perwira polisi saat ini bisa dan wajib mencontoh dengan pola hidup dari pada sang mantan dan mungkin pendiri daripada Kepolisian Jenderal Hoegeng ini yaitu HIDUP SEDERHANA bukannya hidup yang tidak jauh seperti centeng pasar yang berlindung dibalik baju kebesaran berwarna cokelat dan badge tri brata, dan juga para petinggi Kepolisian dalam hal ini Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia-KAPOLRI harus tegas dan keras serta adil, jika memang ada perwira tinggi melakukan kesalahan segera tindak sebutkan nama langsung proses kalau memang di pecat, UPACARAkan di depan semua jajaran Kepolisian dilapangan terbuka ! jangan Cuma pangkat Bhayangkara Satu hingga Brigadir jika bersalah, langsung disebut nama dan proses pemecatannya di-UPACARA-kan dari baju dinas ke baju batik di lapangan terbuka, sementara para pejabat tinggi mulai dari tingkat Ajun Komisaris hingga Jenderal HANYA di MUTASI NON JOB setelah kasusnya hilang dari otak warga langsung dipromosikan posisi yang satu-dua tingkat lebih tinggi dari posisi ketika bermasalah ! kalau seperti ini bagaimana rakyat bisa mengandalkan polisi !


Sudah saatnya Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk bukan saja REFORMASI yang selama ini selalu diagung-agungkan kepada masyarat tetapi lebih tinggi yaitu REVOLUSI !! OMONG KOSONG REFORMASI KALAU MASIH ADA PERILAKU JAMAN DINASTI CENDANA DITERAPKAN SAAT INI !!!


Trujonojoyo, 100410 14:10

Gie Gustan

Pendapat Pribadi

Rabu, 07 April 2010

Menantikan Aksi Hendri Mulyadi Jilid 2

Kongres Sepakbola Nasional yang digagas oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono untuk memperbaiki citra dan prestasi sepakbola Indonesia akhirnya terlaksana dan telah selesai diselenggarakan dengan menghasilkan 7 rekomendasi yang diberi naman rekomendasi Malang, tetapi apakah itu akan dilaksanakan oleh PSSI ?

Mungkin kalau pertandingan sepakbola Kongres ini ibarat PSSI melawan rakyat dimana pada kongres ini PSSI menang telak atas KSN dimana rekomendasi yang dibuat sebenarnya ada delapan butir tetapi satu butir itu ditolak dengan keras dan mentah oleh para pengurus PSSI lewat sang Ketum yaitu Nurdin Halid dimana point terakhir atau point delapan dari rekomendasi itu adalah pembentukan Dewan Sepakbola Nasional.

Menurut penulis apa yang dilakukan oleh PWI ini ibarat dua sisi mata uang, dimana satu sisi KSN ini adalah representative atau kepanjangan tangan daripada rakyat yang mana sudah MUAK dengan pengurus PSSI yang sekarang yang BISAnya hanya TONG KOSONG NYARING BUNYInya dimana hanya janji-janji saja tetapi tidak ada hasil prestasi yang mereka janjikan, tetapi disisi lain dimana yang motor dari KSN adalah negara dalam hal ini ide dari Presiden Republik Indonesia dimana sesuai dengan ketentuan yang berlaku di FIFA dimana negara tidak boleh mencampuri urusan daripada federasi sepakbola di negaranya, walaupun dikemudian hari FIFA mendukung kegiatan ini.

Memang apa yang terlihat ini sudah penulis bayangkan dari mulai ketika gaung ini akan dilaksanakan dimana sejumlah pengikut sang ketum mencoba melakukan pekerjaan kotor dan hina dengan cara mengirimkan sms berantai dan berjamaah kepada semua manager dan insan klub yang ada di Indonesia agar “mulut” mereka tidak terlalu lantang dan sedikit beberapa ancaman sehingga membuat acara ini sepertinya layaknya silaturahmi lebaran dimana hanya berkumpul, ketawa-ketiwi, minum dan makan tetapi gaungnya tidak ada dan itu terbukti !

Kita sudah tahu bagaimana (maaf) BUSUKnya kinerja daripada sang ketua umum seperti bagaimana Timnas kita dengan mudah seperti membuang kotoran diujung kuku oleh “anak kemarin sore”’ Laos dan Myanmar di ajang penyisihan group SEA GAMES 2009 di Laos, kemudian Timnas U-19 yang dua tahun “ngelmu” di negaranya Diergo Forlan, Uruguay kalah telak dan diajarkan bagaimana cara bermain sepakbola oleh Jepang dan Australia walaupun ketika melawan Taiwan dan Hongkong sangat menawan tetapi tetap saja intinya tidak lolos putaran final Piala Asia U-19, yang lebih tragis adalah Tim senior kita yang rata-rata bergaji dan bonus yang Wah !! tidak bisa membawa Indonesia masuk dalam putaran final Piala Asia untuk pertama kalinya sejak hajatan Piala Asia digelar dan tiket itu mau tidak mau harus diberikan kepada Australia.

Itu catatan ke-PECUNDANG-an daripada Timnas Indonesia, lalu bagaimana dengan klubnya ? ternyata tidak jauh berbeda atau BETI- BEda TIpis dimana dua klub asal tanah Papua yang terlihat garang di kompetisi Indonesian Super League ternyata hanya isapan jempol belaka dimana gawang Persipuran harus bombardir dengan total 17 gol oleh klub China dan Jepang serta hanya memasukkan dua gol, sementara Persiwa harus merelakan gawangnya dirusak dengan total 9 gol dan hanya memasukkan 5 gol dari klub Hongkong dan Maladewa yang boleh dibilang bukan level kita baik timnas maupun klub tapi itulah kenyataannya, dari semua itu kita mungkin bisa sedikit tersenyum walaupun kecut dimana klub Sriwijaya FC bisa menyelamatkan muka sepakbola walaupun lawannya adalah tetangga sendiri !

Penulis berpikir, APAKAH INI yang dibanggakan oleh sang ketum ketika ditanya apa prestasi yang sudah dibuat oleh PSSI ditangannya, memang sich ada catatan prestasi yang ditorehkan oleh Timnas tetapi apakah ini bisa dibilang prestasi yang fair play seperti yang diagungkan FIFA selama ini, dimana memang kita juara Piala Kemerdekaan tetapi kemenangan itu bukan hasil kerja keras dan nurani daripada pasukan timnas kita TETAPI dengan CARA-CARA PENGECUT dimana salah satu official timnas melakukan penganiayaan dan intimidasi terhadap pelatih timnas U-23 Libya yang mengakibatkan cidera fisik, karena merasa menjadi korban dan terancam akhirnya atas permintaan langsung daripada Federasi sepakbola Libya agar tidak bertanding, akibat permintaan ini akhirnya Indonesia dinyatakan juara !

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah hasil rekomendasi daripada Kongres Sepakbola Nasional ini akan di jalankan oleh PSSI dengan benar atau hanya bertahan tiga bulan setelah itu kembali berulah ? penulis sendiri sebagai penikmat sepakbola agak ragu dengan sikap manis daripada para pengurus PSSI terutama Ketumnya yang tidak pernah berkaca akan “dosa”nya untuk sepakbola nasional.
Menurut penulis beberapa cara bagaimana para pengurus PSSI ini agak gerah dan akhirnya menyerah walaupun pendangan penulis ini agak provokator tetapi provokator diperlukan asal positif dan yang penulis tulis ini adalah positif demi prestasi sepakbola Indonesia adalah

pertama, anda pasti kenal dengan Hendri Mulyadi bukan, pemuda asal Cikarang yang sempat membuat heboh satu Indonesia dengan kecerdikannya masuk lapangan tanpa disangka oleh siapa pun dan membawa bola sampai ke arah gawang Oman walaupun ditangkap oleh Kiper Oman, akibat dari aksi Hendri Mulyadi ini PSSI di denda USD 10,000 oleh AFC, kenapa kita tidak mencontoh seperti Hendri Mulyadi dimana setiap pertandingan baik ISL, Piala Indonesia atau ajang Timnas dalam pertandingan Internasional walaupun konsekuensinya adalah (mungkin) ditahan kepolisian tetapi dengan kejadian ini pihak otoritas sepakbola Internasional seperti FIFA, AFC akan berpikir dan mengkritik keras PSSI agar membenahi sistem keamanan dalam lapangan kalau tidak bisa yah PSSI di denda lagi dan mungkin di skors dari ajang internasional.

Kedua, ini lebih kepada tindakan aparat kiranya para kepala polisi di Indonesia mengikut contoh sikap daripada Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jawa Tengah Irjen Pol. Alex Bambang Riatmodjo dimana setiap pertandingan di wilayah hukum Polda Jawa Tengah selalu di awasinya dan jika menemukan inidasi mencurigakan dan tidak fair play maka tak segan-segan sang Kapolda meminta anak buahnya untuk mengamankan pihak-pihak tertentu, dan ini sudah dilakukan dua kali bahkan ada dua pemain yang harus diinapkan di hotel Prodeo dan lagi-lagi PSSI tidak bisa berbuat apa-apa dan lebih “takut” terbukti tidak ada “suara” daripada sang ketum terhadap aksi sang Kapolda !

Ketiga adalah ini lebih kepada sikap daripada suporter apakah kita mau prestasi atau hanya sebagai macan kertas doank? Kalau mau prestasi salahsatunya adalah KOSONGKAN bangku penonton setiap ada pertandingan dan hanya memasang spanduk yang proaktif di dalam stadion dan klub pun harus mendukung, karena selama ini penulis melihat klub hanya berorientasi hanya kepada BISNIS tanpa memikirkan prestasi baik klubnya maupun nama Indonesia di ajang internasional jadi penulis boleh donk mengatakan bahwa BIANG dari mandulnya prestasi sepakbola kita adalah klub itu sendiri !

Jadi yang kita butuhkan adalah prestasi yang secara NYATA di depan mata kita ATAU MIMPI-MIMPI indah yang di lontarkan oleh sang Ketum walaupun hasilnya NOL, dan ini sudah terbukti dimana beliau mengatakan ada blue print program kerja dimana ada program Indonesia 2020 tetapi nyatanya program kerja beliau tahap I dari 2003-2007 TIDAK ADA ! MAKA APAKAH AKAN ADA HENDRI-HENDRI YANG MUNCUL DI DALAM LAPANGAN UNTUK MEMBANTU TIMNAS INDONESIA KETIKA BERTANDING DI SUGBK atau KAPOLDA-KAPOLDA YANG SELALU MENGAWASI DAN SIAP MEMESANKAN HOTEL PRODEO BAGI PEMAIN DAN OFFICIAL SERTA PERANGKAT PERTANDINGAN ? KITA NANTIKAN SAJA !!!!

SATU HATI, SATU KATA, SATUNYA TEKAD DAN PERBUATAN TURUNKAN dan ENYAHKAN NURDIN HALID, NUGRAHA BESOES DAN KRONI-KRONI DARI DUNIA SEPAK BOLA INDONESIA YANG HANYA MEMENTINGKAN KEPENTINGAN MEREKA BUKAN PRESTASI !!!


SUGBK, 070410 18:00
Rhesza
Pendapat Pribadi

Selasa, 06 April 2010

Ketika Nainggolan, Parto, Heitinga Tidak Dilirik PSSI ?


Apa yang terlintas spontan saat kita mendengar sebuah nama yang tidak asing ditelinga kita sebagai masyarakat Indonesia, misalnya Parto atau Nainggolan ? mungkin kita langsung menjawab nama itu adalah fam atau marga dari suku Batak atau Suku Jawa benar tidak ? tetapi apakah yang terlintas spontan ketika nama Nainggolan dan Parto ini diucapkan oleh komentator sepakbola ketika kita sedang menyaksikan siaran langsung liga Eropa ? pasti alis kita akan naik 3 cm bukan ?

Tetapi ini bukan sihir bukan santet tetapi itulah kenyataannya Nainggolan itu adalah Radja Nainggolan seorang anak muda Indonesia yang baru saja dipinjam dengan opsi permain oleh Cagliari klub Serie A dari klub Serie B, Piacenza. mungkin anda perlu membaca sebuah artikel yang penulis kutip dari sebuah situs berita online

Radja memang sempat menjadi buah bibir di Liga Italia saat dikabarkan akan diboyong oleh AS Roma. Namun Cagliari rupanya yang mendapatkan gelandang berusia 21 tahun ini dalam bagian pertukaran dengan Mikhail Sivakov.
Cagliari telah resmi meminjamnya hingga akhir musim namun punya opsi untuk mempermanenkan kontraknya. Radja pun mengaku senang dengan kesepakatan ini dan berharap bisa bermain baik di klub Seri A ini.

“Saya datang ke Cagliari dengan rasa antusias. Target saya ada bertumbuh dan
berkembang di Seri A,” ungkap Radja Nainggolan yang lahir di Antwerp, Belgia,
seperti dilansir Goal.

“Saya dapat bermain di segala posisi di lapangan
tengah. Saya merasa lebih baik di sisi kiri, tapi saya berharap bisa mendapatkan
tempat di dalam tim ini,” harapnya.
Mungkin anda berpikir siapa anak muda
ini,


iya Radja Nainggolan lahir di Belgia tanggal 4 Mei 1988 dengan tinggi 175 cm sang ayah bernama Marianus seorang pengusaha berdarah Batak yang mempunyai usaha di Bali dan ibunya Lizi Bogaerd yang berpasport Belgia, walau berdarah Indonesia tetapi sayang sangat disayang saat ini nama Radja tercantum dalam skuad Belgia U-21, Radja ditarik dari klub Belgia, Germinal Beeschot ke Piacenza, Italia pada tahun 2005, lewat Piacenza kariernya bersinar bahkan sempat menjadi incaran klub-klub top Serie A seperti Fiorentina dan AS Roma sebelum akhirnya memilih dengan Cagliari.

Itu baru pemuda Indonesia berdarah batak yang berlaga di Serie A apakah ada lagi anak Indonesia yang bermain di kompetisi Eropa ? ternyata sangat banyak sekali kita bisa lihat seperti Irfan Bachim, kita tentunya sudah dengar dengan nama ini, yup nama ini muncul ketika berlatih bersama Tim U-23 yang sedang mengadakan Training Center di Belanda untuk persiapan Asian Games Doha walaupun gagal total Timnas U-23 saat ini Irfan bermain di ErrieDivisi Belanda klub Utrecht, memiliki tinggi 178 cm

Kemudian, Donovan Partosubroto, anak Indonesia berusia 18 tahun ini bermain di tingkat junior bersama Ajax Amsterdam dengan posisi sebagai Kiper, Donovan sendiri adalah anak kembar, saudara kembarnya, Vicent Partosubroto saat ini bermain di FC Hoofdorp bermain diposisi sebagai penyerang, lalu ada Philip Adam Cave, sekarang bermain di Newcastle United dengan posisi pemain belakang, Inggris walaupun bernama asing ternyata Philip memiliki darah Indonesia dari sang Ibu dan SANGAT INGIN bermain untuk Indonesia.

Selain nama-nama itu yang memang ada profilnya ternyata di kompetisi Eropa banyak sekali pemain Eropa yang memiliki darah Indonesia dan kebanyakan di liga Belanda dan statusnya adalah pemain Junior seperti Raphael Tuankotta (22, Volendam), Raymon Sosroredjo (18, Vittese), Estefan Pattinasarani (18, AZ Alkmar), Marvin Wagimin (17, VVV Venlo), Tobias Waisapy (19, Feyenoord), kemudian Michael Timisela, Sven Taberima, Christian Sapusepa, Robert Timisela (Ajax Amsterdam), Mathija Marunaya, Gaston Salasiwa (AZ Alkmaar)

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, KENAPA PSSI TIDAK PERNAH melirik mereka, mendatangi mereka satu-satu untuk datang dan bergabung menjadi skuad TimNas Indonesia daripada harus membuat program yang tidak jauh beda dengan cara membuat mie instan ?
Memang kita akui bahwa prinsip negara kita khususnya dalam hal kewargenagaraan tidak mengenal atau HARAM kewarganegaraan ganda, tetapi apakah ke-HARAM-an itu bisa dipinggirkan demi prestasi dan nama harum Indonesia di ajang sepakbola Indonesia ? kita bisa lihat bagaimana prestasi Timnas kita yang tidak jelas lebih banyak kalah dan diajarkan bagaimana cara bermain bola yang baik dan benar oleh lawan ketimbang menang benar tidak ?

Seharusnya kita bangga dan merekrut mereka untuk masuk dalam skuad Merah Putih karena pertama, mereka secara langsung memiliki darah Indonesia masak kita kalah dengan Timnas Perancis dimana timnas mereka isinya adalah para imigran seperti Zidane, Thierry Hendry, atau Florent Mouluda yang berasal dari tanah Afrika.

Sudah saatnya PSSI membentuk sebuah tim untuk memantau para anak bangsa ini dan meminta mereka untuk bermain di Timnas serta tentunya meminta kepada pihak-pihak terkait misalnya Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia untuk membuat semacam disepensasi agar para anak bangsa jika dipanggil dan mau membela Merah Putih tanpa harus melihat soal kewarganegaraan atau birokrasi yang merepotkan, karena ini bukan urusan Politik atau hukum tetapi lebih kepada mengangkat prestasi Indonesia lewat media olahraga.

Atau meminta kepada para klub untuk melirik dan membeli mereka sehingga mereka bisa lebih merasakan atmosfer sepakbola dari tanah leluhurnya tetapi tentunya harus ada sistem kompetisi yang benar bukan asal-asalan percuma saja para pemain darah Indonesia ini niat bermain tetapi begitu melihat kompetisi negara ini yang tidak jelas misalnya sering terjadi tawuran antar pemain atau suporter, wasit berat sebelah dalam mimpin pertandingan membuat sang pemain berpikir dua kali untuk menerima pinangan klub agar bermain di Indonesia.

Apakah sosok Nainggolan-Nainggolan, Parto-Parto, Heitinga-Heitinga yang lain bisa memperkuat skuad Merah Putih untuk mengangkat prestasi Indonesia di ajang internasional bahkan bisa menjuarai Piala Asia dan Piala Dunia secara berturut-turut atau PSSI tetap tidak berubah dengan selalu membuat program timnas yang tidak jauh dengan cara membuat mie instant tanpa ada pembinaan dulu misalnya kompetisi usia dini setiap tahun ? kita lihat saja nanti tetapi penulis bangga dengan adanya pemain Indonesia yang bermain di liga Eropa !

Bunderan HI, 280310 07:00

Rhesza Ivan
Pendapat Pribadi