Sabtu, 16 Agustus 2008

Ternyata Negara Timor Leste Kaya Banget Lho !


Itu benar nyata, ternyata negara paling muda didunia ini ternyata negara paling kaya akan sumber daya mineralnya, padahal banyak di media mengatakan bahwa negara ini selain paling muda dan juga paling miskin karena tingkat pendapatannya tidak sesuai dengan kebijakan pendapatan yang dikeluarkan oleh badan PBB.
Kenapa penulis bilang seperti itu, karena penulis juga baru tahu setelah penulis mendapatkan undangan dan hadir pada acara yang diadakan oleh salahsatu universitas yang lokasinya tepat didepan RumKit Medistra yang berkerjasama dengan Kedutaan Besar Republik Demokrasi Timor Leste yang menghadirkan mantan Perdana Menteri Timor Leste, H.E. Mari Alkatiri.
Beliau mengatakan bahwa potensi sumber daya alam dari negara ini terutama sector migas yang berada di sebuah celah yang bernama celah timor bisa menghasilkan uang senilai US$ 30 Juta sedangkan jumlah penduduk dari Timor Leste hanya berpenduduk sekitar 1 juta penduduk, bisa dibayangkan betapa kayanya negara ini.
Masalahnya adalah minyak ini tidak sepenuhnya dikelola oleh pemerintahan mereka, melainkan sistem bagi untung yang menyebabkan negara ini terpuruk ke dasar jurang kemiskinan, sehingga banyak kita lihat di berita tentang kondisi negara ini.Republik Demokrasi Timor Leste, sebelum menjadi sebuah negara adalah sebuah wilayah yang bergabung dengan negara Republik Indonesia pada tahun 1976 dengan nama Propinsi Timor-Timur lewat perjanjian dan peristiwa yang terkenal yaitu perang seroja, selama bertahun-tahun nasib warga Timtim selalu dianaktirikan oleh pemerintah pusat yaitu Jakarta, sehingga rata-rata penduduk Timtim berada dibawah garis kemiskinan, singkat cerita karena tidak ada perhatian sehingga menyebabkan rakyat Timtim menderita yang memungkinkan menurut penulis, Australia melihat kemungkinan untuk “memprovokasi” karena melihat mungkin berdasarkan analisis intelijent mereka dimana Indonesia tidak pernah melacak minyak di sekitar wilayah Timor-Timur, akhirnya terjadinya jajak pendapat yang diadakan oleh rakyat Timtim dan PBB memutuskan hubungan emosial antar Dili dengan Jakarta sebagai sebuah kesatuan dalam wilayah Republik Indonesia, dan hasil itulah yang menyebabkan nasib Timor Leste hingga saat ini.Lantas apa yang membuat Timor Leste menjadi negara miskin bukannya negara kaya?
Mungkin salahsatunya yang diucapkan oleh sang mantan perdana menteri adalah bahwa masih banyak warga TL yang berpendidikan rendah dan tidak ada kemampuan dalam melakukan kegiatan yang ada, yang ada malah disana, banyak pemuda TL setelah menempuh pendidikan langsung di nikahkan dan hidup berkeluarga, kalaupun ada yang sukses biasanya rata-rata berpendidikan diluar TL, dan mereka memilih tidak kembali karena yang tadi penulis bilang kondisi dan sarananya yang jauh dari perkiraan.Tapi lanjut sang mantan Perdana Menteri, ketika memimpin TL menjalin kerjasama dengan pemerintah Kuba untuk program studi dimana ada sekitar 700 calon dokter menimba ilmu di Havana dan kemungkinan akan bertambah, sedangkan untuk yang sekolah di luar TL mencapai 500 pemuda dan salahsatunya ada di Kampus yang kemarin menggelar diskusi.
Yang menjadi pertanyaan adalah sampai kapan Negara Republik Demokrasi Timor Leste seperti ini dan kapan keluar dari keterpurukan dan julukan yang ada saat ini, hanya kepada para pemuda Timor Leste-lah yang bisa menjawab itu semua dan tentunya difasilitasi oleh pemerintah,kalau tidak ada kerjasama ini mungkin nasib di sepuluh tahun atau puluhan tahun mendatang akan sama seperti saat ini, bahkan bisa hilang ? betul tidak? ( ervanca )

Selamat Berjuang ATM Demokrasi Bangsa


Pertama-tama penulis ingin mengucapkan selamat kepada para partai-partai politik yang dinyatakan lulus verifikasi yang dikeluarkan oleh Komisi Pemilihan Umum, dan tepat tiga hari yang lalu yaitu pada tanggal 12 Juli 2008 telah memasuki masa kampanye yang mana disinilah partai akan merayu ibarat rayuan gombal kepada setiap warga agar memilih mereka karena jika mereka rakyat ini memilih partai mereka maka negara akan makmur dan berubah, ternyata ?


Kenapa judul diatas penulis tulis, karena partai politik di negara ini tidak lebih dari mesin Anjungan Tunai Mandiri dimana setiap ada event yang mengundang massa banyak pasti UUD-Ujung-Ujungnya Duit dan itulah yang berlaku hingga akhir masa jabatan sampai harus pindah rumah dari rumah dinas ke Hotel Prodeo KPK,apakah ini yang disebut partai ?Penulis setuju dengan apa yang diucapkan oleh pengamat terkemuka dan agak sedikit menggelitik setiap mengeluarkan statementnya yaitu bahwa partai ini selain sudah menjadi ATM Demokrasi dan yang lebih para sudah rusak demokrasi di negara ini dimana kita mengenal semboyan dari Vox Populi Vox Dei yang artinya suara rakyat adalah suara Tuhan tetapi kenyataannya adalah Vox Populi Vox Genum yaitu suara rakyat suara gemericik emas dan itulah yang dijadikan patokan untuk partai menyerap warga untuk menyuruhnya.


Kita tidak usah munafiklah, bagaimana kerja partai politik di Indonesia yang semakin lima tahun pasti bertambah, semua rata-rata adalah berbau UUD- Ujung-ujungnya duit entah itu masuk menjadi anggota partai atau pada saat mendaftar untuk menjadi anggota legislative dan itu semua harus menyertakan beratus-ratus ribu lembar hvs persegi panjang dengan nominal rupiah yang nolnya berderetan panjang..


Sebenarnya apa fungsi dari partai itu sendiri, kalau menurut penulis yang dimaksud dengan partai politik adalah sebuah organisasi yang mana job desknya adalah menyalurkan aspirasi masyarakat terhadap kinerja pemerintah yang berlangsung dan mengawasi jalannya pemerintahannya, tetapi kenyataannya apa ?Pemerintah atau negara ini hanya berubah pada saat tahun 1998, selanjutnya ? masih hanya ibarat ganti baju saja karena basah tetapi tetap saja tidak ada yang berubah bahkan mundur jauh, kita bisa lihat berapa banyak anak yang putus sekolah, berapa banyak wanita yang sekarang berprofesi sebagai Pekerja Seks Komersial mulai dari yang terang-terangan hingga kamuflase seperti ayam kampus atau ayam putih abu-abu atau sekretaris pribadi plus-plus karena apa ?, trus berapa banyak keluarga yang setiap harinya bingung dan selalu berkata dalam hati “ besok kita makan apa ya ?” lalu berapa banyak pengemis yang berkeliaran di setiap perempatan lampu merah baik di Jakarta maupun di daerah mulai Ujung Pulau Sabang hingga ujung Pulau Merauke apakah hal seperti diperhatikan oleh partai untuk mengkritik pemerintah ? NON SEN !! yang ada mungkin mereka-mereka inilah yang berkerja di Senayan yang membuat ini semua hanya satu UANG itulah malapetakanya.Karena Uang banyak pejabat yang harus menginap atau Check-in di Hotel Prodeo baik yang ada di Kuningan-Jakarta Selatan, atau di Jend. Sudirman atau yang ada disekitar Trunojoyo- Blok M, karena uang juga banyak pejabat kita selalu melakukan pekerjaan dengan instant, kalau seperti ini apalah fungsi dari Partai Politik yang semakin hari semakin banyak saja, kalau begini tidak ubahnya seperti pesta ulangtahun bocah dimana selalu ada pembagian kue yang mana selalu berebutan untuk mendapatkan porsi yang tersebar, dan itulah yang banyak dialami oleh partai politik di negara ini jadinya negara ini bukannya semakin baik malah semakin hancur.


Soal adanya rencana golput pun mengemuka, kalau menurut penulis secara pribadi jika kita melihat seperti sepertinya indeks orang Indonesia untuk melakukan golput untuk pemilu mendatang akan semakin banyak, karena banyak sekali partai yang melakukan kebohongan publik ya ibaratnya sudah memperawani wanita sampai (maaf!) ketagihan wanitanya diawalnya manis akan bertanggung jawab tetapi begitu hamil ditinggal begitu saja..nah seperti itulah partai di Indonesia.Yang menjadi pertanyaan besar adalah mau sampai kapan partai ini selalu melakukan kebohongan publik ke rakyat demi sesuap nasi dan segenggam berlian segentong perut tanpa memperhatikan negara ini dan tentunya rakyat, dan berapa banyak persentasi golput di negara ini tahun depan pada saat pemilu 2009 melihat hancurnya perilaku partai baik secara perorangan atau secara Lembaga.


Kita nantikan saja….

Matinya Kebebasan Pers di Negara ini

Beberapa hari yang lalu tepatnya di kantor Pengadilan Negeri Jakarta Selatan digelar sidang atas pemberitaan Koran Tempo dengan Perusahaan Kertas asal Riau dimana Koran Tempo digugat oleh perusahaan kertas ini karena pemberitaan tentang illegal logging yang membuat perusahaan ini merasa terpojokkan dengan pemberitaan itu, menurut Koran Tempo apa yang mereka lakukan dalam hal pemberitaan tidak menyalahi aturan yang dikeluarkan organisasi pers baik didalam negeri sendiri atau global.Ternyata hasil dari sidang perkara itu ? Koran Tempo dinyatakan kalah dan harus membayar uang ganti dan permintaan maaf melalui media cetak yang telah disebutkan dan juga media televisi selama 7 hari berturut-turut.ini untuk kesekian kalinya Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjadi kuburan atau kutukan maut bagi kebebasan pers jika bersengketa dengan pihak terkait dalam hal pemberitaan.Kita bisa lihat sebelum Koran Tempo, ada kasus Majalah Time dengan Dinasti Cendana soal pemberitaan investigasi majalah Time soal harta yang ada dan dipegang oleh Dinasti Cendana, akibat dari pemberitaan ini dan persidangan ditempat yang sama, majalah Time dituntut mengganti kerugian sebesar lebih dari Rp.1 M kepada Dinasti Cendana, dan tentunya masih banyak lagi kasus yang mana media dijadikan pesakitan di wilayah Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan.

Benarkah kebebasan pers dinegara ini sudah runtuh, tapi menururt penulis apa yang dilakukan oleh Pengadilan Jakarta Selatan sangat jelas sekali bahwa para hakim dan penggugat ingin memasung kebebasan bermedia di Negara ini. Memang pers di Negara ini berbeda dengan pers yang ada di luar sana kalau kita mengukur untuk skala regional misalnya di Malaysia, kalau di Malaysia persnya masih saja diawasi oleh pemerintahan, lain lagi dengan pers di Myanmar yang jelas-jelas dikelola dan diawasi secara ketat oleh junta militer.Yang menjadi pertanyaan adalah sesadis itukah pers dalam pemberitaan sehingga banyak pihak yang ingin memasung bahkan membatasi kebebasannya dalam memberitakan suatu kejadian kepada masyarakat?

Perlu di ingat Pers adalah satu dari 4 pilar kebebasan demokrasi di suatu Negara, pers memang kaitannya adalah memberitakan suatu kejadian kepada masyarakat, atau dengan kata lain pers adalah memberikan jawaban atas pertanyaan dari semua rakyat, tapi ada satu hal yang tidak diingat atau dilupakan oleh masyarakat adalah Pers bisa membangun Negara ini baik personal atau lembaga menjadi kuat atau meruntuhkan Negara, banyak contoh pers dengan Negara salahsatunya adalah anda tentu ingat dengan kasus WaterGate sebuah konspirasi dimana bocornya pembicaraan antara tim sukses Presiden Amerika Richard Nixon dengan salahsatu partai yang akhirnya membuat Presiden Nixon mundur secara sukarela karena malu, kasus ini terbongkar sehingga menurunkan kredibilitas dari seorang Nixon adalah berkat dua orang jurnalis harian terkemuka ibukota di Amerika dan mereka bekerjasama dengan salahsatu orang dari partai tersebut dengan sandi istilah dalam pornografi deephtroat dan baru beliau telah meninggal identitas sang deepthroat ini terungkap, atau kasus skandal seks yang dilakukan oleh Presiden Amerika ke 42, Bill Clinton terhadap Sekretaris magang di ruang Ouval Gedung Putuh- Marryland Washington DC. Di Negara ini pun jurnalis banyak membongkar berbagai skandal yang memalukan yaitu salahsatunya adalah kasus kekerasan yang terjadi di Institut Pendidikan Dalam Negeri dimana akhirnya Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia kebakaran jenggot, karena mungkin mereka tahu tapi ditutup-tutupi dengan permainan yang sangat cantik, tapi sekali lagi dengan apa yang penulis tulis di atas Jurnalis bisa mengagungkan Negara ini baik secara personal maupun lembaga bisa juga menjatuhkan sampai jatuh sekali Negara ini, dan prediksi penulis sebentar lagi jurnalis dengan kemampuannya akan menjatuhkan Negara ini lewat tulisan yang mereka alami bersama dengan rakyat terhadap Negara ini.

Jadi saran penulis sich, khususnya kepada para pejabat atau siapapun hormatilah kinerja pers itu sendiri, kalau memang ada tulisan yang membuat anda tersinggung atau terpojok dan tentunya ada bukti-bukti bahwa anda tidak terlibat, anda bisa mengajukan keberatan tulisan dari sang wartawan lewat hak Tanya kepada harian tersebut, dan nantinya dari pihak redaksi akan menjawabnya tentunya lewat mungkin pertemuan langsung atau lewat rubric surat pembaca, kalau seperti itu lebih elegan dan kekeluargaan daripada harus lewat jalur hukum.Jadi, akankah Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjadi kuburan lagi bagi para kuli tinta dalam menjalankan tugasnya sebagai jurnalis yang memberikan informasi dan jawaban bagi rakyat yang ingin mengetahui sebuah peristiwa ? kita lihat saja.

SBY… Penghematan apa lagi yang anda mau !


Beberapa hari ini DKI dan kota-kota di negara ini semakin lama semakin tidak menentu nasibnya karena hampir setiap jam selalu ada saja aksi demo yang dilakukan baik oleh mahasiswa atau masyarakat sehubungan dengan naiknya harga Bahan Bakar Minyak – BBM yang tadinya berkisar di Rp. 4,500 sekarang menjadi Rp. 6,000 untuk satu liter, dan lebih parahnya adalah hari-hari ini harga minyak di pasar dunia menembus level US $ 145 untuk satu liter ( silakan anda konversikan sendiri dari Dollar Amerika ke Rupiah, capek ).
Setelah harga BBM menembus isu US $ 145, lantas apakah negara akan menaikkan kembali harga minyak setelah pemerintah melakukan kebohongan publik dimana pada tahun 2005 lalu dengan lantangnya sang Presiden di Istana ketika kalau tidak salah selepas melantik Kepala Staff mengatakan bahwa sehubungan dengan harga minyak yang melambung harga kebutuhan minyak di dalam negeri belum ada perubahan, tetapi kenyataannya malah NAIK !! ini jelas sekali kebohongan publik.


Belum lagi kabarnya Indonesia keluar dari induk organisasi penghasil minyak dunia atau OPEC, alasan keluar hanya untuk menekan dan mengawasi aliran minyak untuk kebutuhan dalam negeri tetapi usut punya usut negara kita sebelum menyatakan keluar dari organisasi OPEC sudah membayar uang keanggotaan sampai Desember tahun depan kalau seperti ini jelas rugi donk udah bayar keanggotaan malah keluar.


Ada apa dengan pemerintah yang semakin lama semakin tidak jelas menghadapi badai minyak dunia ini ibarat orang yang kebakaran jenggot. Sebenarnya kalau kita bisa melihat dari dampak harga minyak ini kita tidak perlu pusing karena kita sebagai penghasil minyak seharusnya kita bisa sabar dan bahkan untung karena kita juga mengekspor minyak, tetapi kenyataannya ?
Mungkin inilah karma yang diterima pemerintah dari Tuhan karena tidak beresnya kinerja daripada para pejabat terutama di sector migas yang seenaknya bahkan dibego-bego-in sama perusahaan minyak dunia, kita bisa lihat di tiap daerah negara ini pasti ada perusahaan minyak asing yang mana komposisi bagi hasilnya tidak jelas apakah yang untung pemerintah atau perusahaan minyak asing itu yang untung besar.
Seharusnya kita bisa menekan tingkat kegiatan dan bagi hasil dari perusahaan-perusahaan minyak asing itu, bagaimana caranya ? contohlah negara yang dipimpin oleh Presiden yang berlatar belakang petani koka Evo Morales yaitu Bolivia, dimana dalam hari-hari pertamanya menjabat sebagai Presiden Bolivia beliau mengundang semua kepala perwakilan dari perusahaan-perusahaan minyak asing yang sedang mengeksploitasi minyak di negaranya dan meminta mereka menandatangani kesepakatan bagi hasil dimana pemerintah Bolivia mendapatkan keuntungan dari eksploitasi perusahaan minyak asing itu sebanyak 70-85 % sedangkan perusahaan minyak tersebut hanya mendapatkan 15-20% saja, awalnya para perusahaan ini menolak dengan keras tapi lambat laun mereka lulu juga, kenapa juga model seperti ini diterapkan di Indonesia ?


Penghematan


Akibat dari harga minyak yang melambung ini, pemerintah mengeluarkan kebijakan penghematan yang ditujukan kepada semua lapisan tapi kalau menurut penulis hanya di lapisan bawah saja yang disuruh berhemat, tetapi bagaimana denga lapisan atas ? sudah terbukti lewat sebuah tayangan dimana sejumlah gedung pemerintahan yang pada siang hari yang mana matahari sudah diatas kepala dan masuk ke ruangan masih menyalakan lampu, soal hemat bensin pun penulis masih sangsi dengan apa yang dianjurkan oleh Presiden karena presiden sendiri setiap melakukan kegiatan yang bersifat kenegaran berapa banyak liter bensin yang keluar jika presiden setiap kegiatan selalu dikawal dengan full kawalan paspamres, belum lagi jika keluar negeri untuk kunjungan kenegaraan atau menghadiri sebuah forum atau konfrensi tingkat kepala negara dan pemerintah.


Jadi saran penulis kepada pemerintah, tolong anda berkaca dulu sebelum anda berbicara atau memberikan wejangan kepada masyarakat lewat media, rakyat sudah dari jaman adam dan hawa melakukan yang namanya penghematan mulai dari listrik hingga bingung apalagi yang harus dihemat, maksudnya adalah berikanlah contoh kepada masyarakat negara ini yang jumlah hampir 220 juta jiwa ini bagaimana pengertian hemat dan bukti nyata dari kata hemat itu sendiri, kalau itu sudah bisa dijalankan secara otomatispun rakyat akan percaya dan akan melakukan apa yang pemerintah lakukan dalam hal berhemat bukan seperti saat ini.
Apakah benar pemerintah menganjurkan agar semua lapisan berhemat untuk menstabilkan konsumsi minyak bumi di negeri ini ? atau hanya lapisan bawah saja yang berhemat ? kita tunggu saja….