
Itu benar nyata, ternyata negara paling muda didunia ini ternyata negara paling kaya akan sumber daya mineralnya, padahal banyak di media mengatakan bahwa negara ini selain paling muda dan juga paling miskin karena tingkat pendapatannya tidak sesuai dengan kebijakan pendapatan yang dikeluarkan oleh badan PBB.
Kenapa penulis bilang seperti itu, karena penulis juga baru tahu setelah penulis mendapatkan undangan dan hadir pada acara yang diadakan oleh salahsatu universitas yang lokasinya tepat didepan RumKit Medistra yang berkerjasama dengan Kedutaan Besar Republik Demokrasi Timor Leste yang menghadirkan mantan Perdana Menteri Timor Leste, H.E. Mari Alkatiri.
Beliau mengatakan bahwa potensi sumber daya alam dari negara ini terutama sector migas yang berada di sebuah celah yang bernama celah timor bisa menghasilkan uang senilai US$ 30 Juta sedangkan jumlah penduduk dari Timor Leste hanya berpenduduk sekitar 1 juta penduduk, bisa dibayangkan betapa kayanya negara ini.
Masalahnya adalah minyak ini tidak sepenuhnya dikelola oleh pemerintahan mereka, melainkan sistem bagi untung yang menyebabkan negara ini terpuruk ke dasar jurang kemiskinan, sehingga banyak kita lihat di berita tentang kondisi negara ini.Republik Demokrasi Timor Leste, sebelum menjadi sebuah negara adalah sebuah wilayah yang bergabung dengan negara Republik Indonesia pada tahun 1976 dengan nama Propinsi Timor-Timur lewat perjanjian dan peristiwa yang terkenal yaitu perang seroja, selama bertahun-tahun nasib warga Timtim selalu dianaktirikan oleh pemerintah pusat yaitu Jakarta, sehingga rata-rata penduduk Timtim berada dibawah garis kemiskinan, singkat cerita karena tidak ada perhatian sehingga menyebabkan rakyat Timtim menderita yang memungkinkan menurut penulis, Australia melihat kemungkinan untuk “memprovokasi” karena melihat mungkin berdasarkan analisis intelijent mereka dimana Indonesia tidak pernah melacak minyak di sekitar wilayah Timor-Timur, akhirnya terjadinya jajak pendapat yang diadakan oleh rakyat Timtim dan PBB memutuskan hubungan emosial antar Dili dengan Jakarta sebagai sebuah kesatuan dalam wilayah Republik Indonesia, dan hasil itulah yang menyebabkan nasib Timor Leste hingga saat ini.Lantas apa yang membuat Timor Leste menjadi negara miskin bukannya negara kaya?
Mungkin salahsatunya yang diucapkan oleh sang mantan perdana menteri adalah bahwa masih banyak warga TL yang berpendidikan rendah dan tidak ada kemampuan dalam melakukan kegiatan yang ada, yang ada malah disana, banyak pemuda TL setelah menempuh pendidikan langsung di nikahkan dan hidup berkeluarga, kalaupun ada yang sukses biasanya rata-rata berpendidikan diluar TL, dan mereka memilih tidak kembali karena yang tadi penulis bilang kondisi dan sarananya yang jauh dari perkiraan.Tapi lanjut sang mantan Perdana Menteri, ketika memimpin TL menjalin kerjasama dengan pemerintah Kuba untuk program studi dimana ada sekitar 700 calon dokter menimba ilmu di Havana dan kemungkinan akan bertambah, sedangkan untuk yang sekolah di luar TL mencapai 500 pemuda dan salahsatunya ada di Kampus yang kemarin menggelar diskusi.
Yang menjadi pertanyaan adalah sampai kapan Negara Republik Demokrasi Timor Leste seperti ini dan kapan keluar dari keterpurukan dan julukan yang ada saat ini, hanya kepada para pemuda Timor Leste-lah yang bisa menjawab itu semua dan tentunya difasilitasi oleh pemerintah,kalau tidak ada kerjasama ini mungkin nasib di sepuluh tahun atau puluhan tahun mendatang akan sama seperti saat ini, bahkan bisa hilang ? betul tidak? ( ervanca )


