Jumat, 02 Juli 2010

Kisah Menteri Rasis


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagaian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf.

Kalau bicara soal kasus video heboh itu maka tidak akan habis di perbincangkan antara benarkah ketiga artis itu yang melakukan itu atau ada pihak-pihak yang ingin menjebak dan mencoba membunuh karakter mereka oleh orang-orang yang mungkin sakit hati atau ingin senang melihat penderitaan mereka tetapi dibalik ini ada juga yang mencoba mengaitkan peristiwa ini dengan agama.

Dimana pada sebuah pertemuan di Kantor Kementerian Komunikasi dan Informasi Jakarta pada hari kamis (17/6) dimana sang menteri ini sempat meminta agar istilah “mirip Ariel” atau “ mirip artis” pada kasus video ini dihilangkan dan dipertegas saja, siapa pelakunya agar tidak membingungkan masyarakat. Bahkan untuk memperjelas pernyataannya, sang Menteri bahkan mengatakan bahwa istilah “mirip” bisa berimplikasi panjang bila tidak dituntaskan. Beliau memberi contoh tentang sejarah di mana umat Islam meyakini bahwa orang disalib di Bukit Golgota adalah bukan Nabi Isa. Sementara, umat Kristiani meyakini bahwa yang disalib saat itu adalah Yesus.

Pernyataan sang menteri ini kemudian ditulis oleh wartawan Rakyat Merdeka Online, Zul Hidayat Siregar, pada artikel berjudul “ Ngebet Buka Topeng Ariel Cs, Tifatul Bawa-bawa Nabi Isa dan Yesus.” Akibat pernyataan ini banyak kalangan yang geram dan menyayangkan pernyataan sang menteri ini karena bisa menimbulkan reaksi, karena takut menimbulkan reaksi yang berlebihan di kalangan masyarakat Indonesia, sang Menteri ini melalui akun Facebooknya melakukan hak jawab menanggapi soal pemberitaan itu.

"Saya tidak pernah mengaitkan Video Porno dengan kedua tokoh (Nabi Isa dan Yesus -red) itu," kata Tifatul. Menurutnya, perbedaan keyakinan antara umat Islam dan umat Kristiani adalah fakta sejarah, dan ungkapan itu bersifat netral.

Terimakasih atas kemaklumannya dan mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Semoga menjadi pembelajaran berharga bagi seluruh pihak, termasuk untuk saya pribadi."

Apakah masalah itu selesai ? ternyata tidak juga.

Kita sudah tahu lah bagaimana kelakuan daripada sang menteri ini, ketika mulai menjabat sudah membuat sebuah gebrakan dimana membuat rancangan peraturan menteri yang kalau jadi di jadikan Peraturan Menteri akan membatasi ruang gerak dari pada komunitas penulis dunia maya atau blogger, kemudian ada UU ITE yang akhirnya menjerumuskan seorang ibu rumah tangga karena tulisannya yang mengkritik kinerja daripada sebuah rumah sakit walau akhirnya dinyatakan tidak bersalah, dan masih banyak lagi.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apa dasar atau apa yang melatarbelakangi sehingga seorang menteri ini bisa mengandaikan itu ke arah pemahaman suatu peristiwa sejarah agama ?

Kalau menurut penulis apa yang di ucapkan oleh sang menteri ini sudah di luar batas kewajaran dan jangan salah kan kalau nantinya akan ada semacam krikil-kritil anti pati bahkan menjurus konflik berlatar belakang agama, negara ini sudah cukup mengalami banyak penderitaan karena konflik-konflik yang berdasarkan tindakan-tindakan yang mengatasnamakan agama (anda pun tahu dimana saja, penulis tidak akan menjelaskan secara detail) dan lucunya setiap kelakuan daripada menteri ini tidak mendapatkan tanggapan atau tindakan seperti memberikan teguran keras yang diketahui oleh masyarakat melalui media dari sang atasan beliau yang bukan lain adalah Presiden Republik Indonesia.

“ Kalau lewat Facebook atau Twitter aksesnya kan terbatas, “ kata Direktur Wahid Institute, Yenny Wahid, dalam “ Pernyataan Sikap Para Tokoh Agama terhadap Menkominfo Tifatul Sembiring” di Wahid Institute, Senin (21/6)

Penulis pun jadi bertanya, apa dasar menteri ini di pilih oleh sang Presiden apa karena latar belakang pendidikan tetapi kalau berdasarkan latar belakang pendidikan kok agak janggal yah atau karena order-order partai politik sebagai pemegang saham atas negara ini (baca: pemenang suara rakyat) jadinya mau tidak mau harus memasukkan nama menteri ini dalam jajaran kabinet ? penulis pun jadi tidak simpati atau tidak percaya dengan ucapan dari pada kesimpulan partai asal menteri ini yang akan membuka kesempatan kepada non muslim untuk menjadi anggota, bagaimana non muslim bisa masuk dan tertarik kalau ucapan menteri ini yang nota bene mantan presiden partai ini mengeluarkan kata-kata yang jelas-jelas merendahkan dan menghina tokoh yang di hormati bagi agama Nasrani, dan juga kok menteri ini bisa berbicara seperti itu sedangkan mengucapkan ucapan Selamat Natal dan Paskah atau Selamat Nyepi, Selamat Waisak saja OGAH setengah mati benar tidak ?

Penulis pun mendukung apa yang di amanatkan serta tuntutan daripada komunitas lintas agama yang meminta agar menteri ini meminta maaf secara terbuka kepada publik BUKAN lewat media maya seperti Facebook dan Twitter yang dimilikinya, karena ucapan beliau bukan ucapan antar satu orang ke orang atau empat mata tetapi berkaitan dengan masalah agama, kalau masalah satu orang dengan orang lain sich boleh saja melakukan istilahnya Hak Jawab di media yang memuat ucapannya tetapi ini masalah agama yang mungkin bisa seperti bom waktu, kalau sudah terjadi apakah menteri ini bisa bertanggung jawab ? lagi pula yang namanya Facebook dan Twitter hanya segilintir orang saja yang bisa mengakses dan juga bisa memahami maksudnya bagaimana kalau rakyat ini mendengar dan membacanya setengah-setengah itu pun tidak lewat akun Facebook dan Twitter dari menteri ini melainkan dari orang lain !

Sudah saatnya Presiden Republik Indonesia lebih memperhatikan lagi kualitas daripada menteri-menteri apakah mereka sudah menjalankan tugas ini dengan baik termasuk dalam mengolah kata-kata atau komunikasi massa terhadap masyarakat yang tidak semua bisa memahami dan mengolah kata-kata atau komunikasi daripada para pejabat ini, dan buat sang Menteri anda ini bertugas tidak lebih seperti Humas daripada negara ini TOLONGlah bersikap dalam hal tutur kata itu di perhatikan lagi apakah tutur kata itu tidak mencederai perasaan orang berbagai golongan dan SARA atau tidak bisa kan pak Menteri ?

Merdeka Selatan, 240710 15:30

Rhesza
Pendapat Pribadi

Tanah Air Beta v Balibo Five


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagaian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf.

Adakah diantara para pembaca yang sudah nonton Film terbaru dari Perusahaan Alenia Picture yang berjudul Tanah Air Beta ? film ini bersetting daerah Timor Barat serta pasca jajak pendapat internasional dimana Propinsi Timor-Timur harus segera keluar dari ke-propinsi-an Indonesia dan menjadi negara yang sekarang kita sebut Republica Democratica of Timor Leste.

Film ini dibuka dengan ada eksodus warga Timor-Timur yang memilih untuk tinggal di tanah Indonesia yang kemudian di tempatkan di kawasan Timor Barat, diantara para penduduk Timor-Timur yang memilih hidup di Indonesia ada sepasang ibu dan anak yang bernama Tatiana (diperankan oleh Alexandra Gottardo) dan putrinya Merry (Griffit Patricia) karena mereka memilih Indonesia ibu dan anak ini harus kehilangan sang anak pertama dan kaka dari Merry karena memilih tinggal dengan pamannya.

Singkat cerita penantian-penantian untuk bertemu walau hanya sementara akhirnya sampai dan di atas jembatan Motangin ( jembatan perbatasan RI-TL) mereka bertemu hanya dengan sandi yaitu mereka menyanyikan lagu “Kasih ibu, kepada beta, tak terhingga sepanjang masa ...”
Tapi dari film ini penulis ada sedikit kritikan kepada Ari sang sutradara, kenapa tidak di eksplor lagi lewat tayangan-tayangan dokumentasi berita tentang jajak pendapat itu sendiri sehingga penonton lebih tahu karena pada saat pembukaan film hanya ditampilkan satu tulisan dan langsung tayangan para pengungsi yang berjalan dari arah Tim-Tim masuk ke Timor Barat, NTT .

Menurut penulis, apa yang di ceritakan oleh Ari Sihasale ini tentang potret kehidupan para pengungsi TimTim ini bisa membuka mata hati dan nurani daripada para pemimpin kita di Jakarta, karena bagaimanapun para pengungsi ini adalah Warga Negara Indonesia dan negara harus memberikan apa yang menjadi hak mereka sebagai WNI karena mereka rela berpisah dengan keluarga demi Merah Putih dan Indonesia Raya dan hanya bisa bertemu kembali dengan keluarganya di Motangin dan itu hanya sebentar saja serta di bantu relawan-relawan, bahkan ada yang harus melewati jalan tikus supaya tidak di periksa oleh para petugas penjaga perbatasan.

Pertanyaannya sekarang adalah adakah peran nyata dari pada negara mulai dari Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, Kementerian Perumahan Rakyat, Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak, Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Timur, Pemerintahan Kabupaten Timor Barat kepada para pengungsi ini sejak tahun 2000 hingga sekarang yaitu 2010 dalam artian sepuluh tahun ? jawabnya TIDAK ADA karena (mungkin) negara menganggap ada lembaga asing atau badan asing yang membantu terbentuknya TimTim menjadi negara yang bisa mengurus para pengungsi ini padahal kita tahu pengungsi ini adalah WNI dan seharusnya Republik Indonesia lah yang harus mengurus semua !!

Kita tahu bahwa NTT itu adalah daerah yang sebagian gersang karena suhu panasnya yang sangat tinggi sehingga bercocok tanam pun sangat susah kalau sudah susah bagaimana mereka bisa mencari kehidupan sementara tanah yang mereka diami tidak bisa digunakan untuk kegiatan apapun, begitu juga sarana sanitasi untuk keperluan MCK jadi sudah seharusnya pemerintah lebih aktif lagi jangan hanya berdiam dan selalu berkata itu sudah ada pola kerjanya bagaimana bisa pola kerja itu di jalankan kalau pejabatnya tidak ada yang melihat. Bahkan ada catatan bahwa di Indonesia ada 300 kasus diare per 1000 orang dan diare adalah penyebab kematian balita tertinggi ke 2, kemudian tertinggi ke-3 untuk bayi serta tertinggi ke-5 di Indonesia untuk segala umur dan itu berada di Daerah Kupang

Setelah penulis melihat film ini hanya satu kata buat negara yaitu DISKRIMINASI !! kenapa penulis bilang DISKRIMINASI ? kalau Tanah Air Beta bisa disaksikan di jaringan-jaringan bioskop dan menjadi tayangan keluarga KENAPA Balibo Five tidak bisa diputar di Indonesia khususnya Jakarta padahal kita tahu thema yang di angkat adalah soal Timor-Timor, dimana kalau Tanah Air Beta soal pengungsi dari Timor-Timur setelah jajak pendapat dan lahirnya sebuah negara yang bernama Timor Leste sedangkan Balibo Five tentang lima jurnalis Australia yang mati tertembak ketika meliput perang yang mana Indonesia berhasil menarik Timor-Timor masuk kedalam wilayah Indonesia.

Tetapi FAKTAnya adalah bahwa Film Tanah Air Beta BEBAS di tayangkan di semua jaringan bioskop dan di tonton pula oleh para pejabat bahkan ada memuji, sedangkan Balibo Five ? jangankan ditayangkan, begitu selesai produksinya saja sudah menuai perdebatan bahkan ketika ada ajang sebuah festival film internasional di negara ini beberapa waktu lalu sudah di wanti-wanti agar tidak mempublikasikannya walaupun akhirnya negara melunak dan hanya sekali di putar, sangat miris sekali kalau melihat ini semua, apakah karena Balibo Five ini produksi sineas luar negeri jadi terkesan negara mencoba menutupi fakta sejarah itu, kalau memang negara ini khususnya para prajurit dan Jenderal-Jenderal yang mungkin ketika peristiwa ini menjabat Komandan Pleton atau setingkat Komandan Distrik merasa tidak bersalah atas kematian lima jurnalis ini KENAPA harus memberikan pernyataan yang layaknya kebakaran jenggot dengan mengatakan jangan di ungkit lagi masa lalu ! Ingat, Bung Karno pernah berkata “ JAS MERAH- JAngan Sekali-kali MElupakan sejaRAH yang namanya sejarah itu tidak akan pernah dan bisa di tutupi oleh apapun, semakin di tutup-tutupi sejarah itu semakin terang kenapa sejarah itu di tutup-tutupi !

Kalau memang negara ini menganut sistem demokrasi seharusnya Film Balibo Five juga bisa menikmati oleh masyarakat, toch masyarakat kita ini bukan masyarakat yang jaman dinasti Cendana yang diam dan ABS mereka sudah bisa mencerna mana yang bisa dijadikan tauladan mana yang tidak, kalaupun memang dalam adegan film Balibo Five ini ada yang salah atau memberatkan pemerinth, pemerintah yang di wakili oleh Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Pertahanan dan Panglima Tentara Nasional Indonesia bisa membuat semacam penjelasan atau hak jawab atas film tersebut di media atau mengirimkan surat ke produser dan perusahaan film tersebut bukannya melarang beredar !

Kembali ke Film Tanah Air Beta, sekali lagi penulis mengapresiasikan karya dari Ari Sihasale dan seluruh kru bahwa film anda ini layak dan wajib di tonton serta menjadi renungan bagi Pemerintah lewat Kementerian-Kementerian yang terkait dalam muatan film itu agar lebih memperhatikan dan tidak melakukan diskriminasi karena bagaimanapun yang berada di kawasan Timor Barat, NTT ini adalah saudara-saudara kita juga yang butuh pengakuan dan perhatian dari negara sesuai dengan hak-hak yang sudah diatur dalam hukum internasional dan UUD 1945

Bekasi, 240610 14:00
Rhesza
Pendapat Pribadi

Kisah Gentong Beringin Tua


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagaian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf.

Akhirnya apa yang diharapkan partai Beringin tersebut melalui badan Legislatif soal Dana Aspirasi untuk seluruh anggota masing-masing berbanderol Rp. 15M per orang mengarah kepada suara bulat yaitu SETUJU !! walaupun pak beye mengatakan kepada hadirin ketika suatu acara mengatakan banyak pengirim SMS kepadanya marah, tetap saja tidak ada yang mampu menghentikan libido syawat daripada anggota dewan ini meraih nikmatnya lembaran-lembaran kertas berwarna berlogo “BI” ini.

Apapun tujuan atau apalah namanya dalam Gentong Beringin ini ( penulis tidak etis mengatakan Gentong Babi karena Babi haram di negara ini jadinya menggantinya dengan nama Gentong Beringin karena dari asal panggagas ide ini) tidak akan mampu menjangkau harapan yang diinginkan oleh masyarakat.

Kita sudah tahu bagaimana kelakuan daripada anggota dewan ini terhadap rakyatnya, kalau anda pernah menonton film Laskar Pelangi, Tanah Air Beta, Denias, Alangkah Lucunya Negeri ini, Daun Di Atas Bantal itulah potret masyarakat kita, lantas apakah yakin dana 15M ini bisa menghapus paling tidak meningkatkan taraf hidup dan menyelesaikan masalah-masalah yang seperti ada di film-film itu ? penulis pikir tidak kenapa ?

Pertama, kita bisa lihat bagaimana kelakuan daripada anggota dewan ini ketika berkunjung dinas ke luar kota atau luar negeri, adakah mereka menyiapkan diri dengan uang sendiri serta kebutuhan mereka di daerah tujuan tanpa menyusahkan orang lain ? ternyata tidak, penulis pernah membaca sebuah surat elektronik yang beredar di jaringan milis dari salah seorang mantan diplomat yang jengkel setengah mati kalau ada kelompok anggota dewan yang sedang melakukan kunjungan dengan label studi banding ke luar negeri, dimana anggota dewan ini harus di layani layaknya seorang superstar (seperti artes luar negeri yang mau konser) dan itu termasuk orang-orang yang ikut serta dia entah itu isteri atau (silakan mendeskripsikan sendiri) misalnya menempatkan mereka di hotel yang paling prestise di negara itu, menyediakan angkutan bersifat Pulang-Pergi dari tempat mereka menginap ke tempat-tempat yang mereka mau dan itu semua yang TANGGUNG adalah (klo tidak salah berdasarkan surat elektronik itu) adalah KBRI !! padahal kita tahu berapa banyak sich dana operasional mereka dan jika salah satu permintaan mereka tidak dipenuhi oleh staff atau pelayanan staff diplomatik Indonesia tidak berkenan di mata anggota dewan ini jangan harap karier pada staff ini bisa lancar hingga ke jenjang berikutnya, karena begitu sampai di Jakarta para anggota dewan ini tidak segan-segan melaporkan kelakuan dari pada diplomatik ini ke Menteri Luar Negeri.

Kedua, soal kelakuan para anggota dewan ini yang selalu setiap kebijakan mengatasnamakan rakyat, pertanyaannya adalah sudah kah rakyat sejahtera paling tidak terhitung 1 tahun setelah anda diangkat sumpah menjadi wakil rakyat ? kita bisa lihat berapa ratus anak balita yang menderita busung lapar atau penderita kelainan hati seperti Bilqis apakah balita-balita ini sudah dibantu oleh anggota dewan yang kebetulan rumah tinggal sang pasien berada di dapil anggota dewan ? atau seperti kasus Lapindo apakah para anggota dewan yang dapilnya masuk wilayah Lapindo SUDAH meminta pemerintah untuk tegas meminta pertanggung jawaban daripada kartel ekonomi yang senang Sri Mulyani hengkang dari Indonesia ? atau sudah kah para anggota dewan ini yang meminta agar Kementerian Pendidikan Nasional memperbaiki sekolah-sekolah yang ada di Dapilnya di renovasi supaya tidak lagi seperti kandang kambing ? atau pernahkah anggota dewan yang menegur rumah sakit yang menelantarkan pasiennya yang kebetulan penderita HIV-AIDS di Dapilnya ? JAWABNYA BELUM !!!

Ketiga, penulis jadi bertanya bukannya para anggota dewan ini titel pendidikannya kan keren-keren yach ada yang Master berbagai bidang mulai dari Master hukum, Master Ekonomi atau (mungkin) ada juga Master Tilap Uang Rakyat, kemudian ada juga yang Doktor berbagai bidang seperti Hukum, Tata Negara, Ekonomi ada juga yang Sarjana dan SMU tetapi kenapa pemikiran mereka sangat pendek sekali yach, sedangkan rakyat jelata aja yang tidak sekolah tahu kemana arah uang 15M yang di perbincangkan dengan label rakyat kalau itu TIDAK AKAN sampai kepada rakyat jelata, kalau seperti ini perlu di periksa juga itu titel pendidikannya kalau perlu di ujikan lagi dengan sistem terbuka biar tahu apakah benar titel pendidikan itu sesuai atau tidak !!

Penulis berpendapat begini okelah dana Rp. 15M itu keluar tetapi BISAKAH para anggota dewan ini menyelesaikan apa yang diucapkan kepada khalayak masyarakat Indonesia dari sabang sampai Merauke, dari Miangas hingg Rote soal kasus 6,7T SUDAHKAH mereka menyelesaikannya yang kata mereka ke media akan mencari siapa dalang dari pengeluaran talangan dana ini, sudah ketemu kah dalangnya ? ingat perkataan Bung Karno, SATUNYA KATA DENGAN PERBUATAN !!! jadi selesaikan dulu kasus 6,7 T dengan segala janji manis dari mulut anda kepada rakyat, seret dalangnya hingga vonis hakim dan di pesankan di hotel prodeo BARU boleh mengeluarkan dana Rp. 15M itu bagaimana anggota dewan ? BISA ?

Penulis sich berharap anggota dewan ini sadar akan ucapannya kepada masyarakat dan lebih memperhatikan dulu dengan nyata apa yang di minta konstituennya sebelum melakukan kegiatan seperti yang mereka minta yaitu rame-rame pata cengke minta Rp. 15M ke negara dengan label rakyat !

Senayan, 230610 15:00

Rhesza
Pendapat Pribadi

Antara Semangat Korut, Selandia Baru, Honduras dan Revolusi Olahraga Soekarno !


“Revolusi olahraga demi mengharumkan nama bangsa.
Olahraga adalah bagian dari revolusi multikompleks bangsa ini,”

Ir. Soekarno


Pesta hajat bagi pemain bola dunia sudah memasuki fase babak kedua dimana terdapat beberapa kejutan di antara tersingkirnya Juara Dunia 1998 dan Eropa 2000 Perancis secara tragis dan juga kejutan besar dari Portugal yang mencetak 7 gol tanpa balas ke gawang Korea Utara dan masih banyak kejutan lainnya.

Penulis tidak akan menceritakan detail pesta hajat ini karena semua orang pun sudah menyaksikannya bahkan ada yang sudah mengira-ngira kira-kira siapa yang membawa pulang piala emas itu tetapi ada yang membuat penulis miris dengan hajatan ini dengan kondisi sepakbola kita.

Kita semua tahu bahwa Piala Dunia kali ini ada yang beda dimana negara-negara yang tidak pernah kita prediksi bisa bermain di ajang Piala Dunia seperti Selandia Baru, Korea Utara, Honduras dan masih banyak lagi. Negara seperti Selandia Baru, Korea Utara dan Honduras ini kalau kita bandingan dengan luas teritorial Republik Indonesia masih lebih besar negara kita tetapi kenapa tiga negara ini bisa main di Piala Dunia sedangkan kita masih saja bermimpi dan bermimpi.

Korea Utara, siapa yang tidak kenal dengan negara ini luasnya yang kecil mungkin masih lebih besar Pulau Jawa ini terkenal dengan arogansinya terhadap dunia dengan adanya instalasi rektor nuklir yang menurut AS berbahaya belum lagi adanya rencana untuk meluncurkan roket jarak jauh dan masih banyak lagi permasalahan yang membuat dunia ketakutan, belum lagi dari internalnya yang selalu tertutup.

Itu baru soal politiknya, bagaimana dengan olahraganya ternyata tidak jauh beda karena terisolirnya mereka dari dunia terbukti dengan minimnya sponsor, kemudian ada isunya beberapa pemain yang hilang selama pagelaran dunia ini tetapi keterbatasan itu bisa menutupi mereka untuk tampil menyakinkan walaupun kalah dari Brazil dan Portugal tetapi spirit tetap ada bahkan membuat repot pertahanan Brazil hingga menit ke-50 dan mencuri satu gol.

Selandia Baru, negara kecil ini menurut penulis pun sukses mengukirkan namanya dalam sejarah Piala Dunia dimana untuk pertama kalinya mengikuti pesta hajat sepakbola dunia menggantikan Australia yang hengkang ke benua Asia ini, kita bisa lihat prestasi mereka dimana mereka berhasil mencetak gol duluan ke gawang Italia yang nota bene adalah juara bertahan 2006 walaupun akhirnya di tahan imbang 1-1 kemudian menahan imbang negara Eropa Timur padahal materi pemain mereka rata-rata adalah pemain semi pro atau bermain di kasta terendah di liga Eropa seperti Liga Championship Inggris (Divisi I dan II).

Honduras, lagi-lagi negara (boleh penulis bilang ) kecil mampu bermain di Piala Dunia, padahal negara ini adalah negara dengan pengangguran terbesar di kawasan Amerika tengah dan juga beberapa waktu lalu sempat terjadi semacam pergulatan politik dimana sang Presiden terguling “bertempat tinggal” di Kantor Kedutaan Besar Brazil dan membuat Honduras seperti layaknya arena peperangan, tetapi mereka bisa bermain di Piala Dunia walaupun sampai saat ini belum ada gol yang tercipta tetapi suatu kebanggaan bisa bermain di Piala Dunia dan itu akan di kenang oleh penduduk Honduras.

Itulah ketiga negara yang menurut penulis sangat berpengaruh di Piala Dunia walaupun mereka kekurangan seperti geografis yang kecil, faktor politik dunia apalagi Korea Utara yang terisolasi bahkan mencari sponsor untuk membuatkan mereka perlengkapan bermain seperti kaos tim dan lainnya harus mencari sendiri tetapi apa TEKAD untuk menunjukkan dunia kalau Korea Utara, Selandia Baru, Honduras itu ADA dan BISA bersaing dengan negara-negara lain dan itu sudah terbukti !!

Bagaimana dengan Indonesia ? sudah kah PSSI bermain di Piala Dunia ? jujur penulis miris, malu dan selalu bermimpi kalau ajang ini selalu datang apalagi sampai tropy Piala Dunia ini selalu datang ke Jakarta setiap ajang dunia ini akan dimainkan, karena sampai sekarang pun Tim Nasional Indonesia belum bisa berbicara banyak di Piala Dunia padahal usia negara ini adalah 65 tahun dan 70 tahun usia PSSI, sedangkan negara pecahan Yugoslavia yaitu Kroasia yang PSSI-nya berdiri tahun 1992 dalam waktu 6 TAHUN sudah bisa mempersembahkan gelar JUARA KETIGA Piala Dunia 1998, Perancis dengan mengalahkan Oranje-Belanda !!!

Apa yang salah dari sepak bola kita, kompetisi kita sukses walaupun sering terjadi keributan antar suporter atau antar pemain, penonton yang datang ke stadion penuh bahkan sampai jebol pintu setiap ada pertandingan, sponsor kita banyak yang menyumbang, gaji pemain kita melebihi atau setara dengan gaji direktur dan jajaran direksi BUMN, stadion kita banyak yang standar FIFA, SDM banyak dan berpotensi terus kenapa kita tidak bisa main di Piala Dunia, sedangkan Korea Utara, Selandia Baru, Honduras seperti yang penulis utarakan di atas bisa main di Piala Dunia ?

Andai Bung Karno masih hidup dan sehat bugar mungkin dia akan marah besar terhadap para pengurus PSSI karena tidak becus membawa sepak bola ke pentas internasional seperti yang ia harapkan ! lantas apa hubungannya sepakbola dengan Bung Karno.

Awal tahun 60-an boleh di bilang adalah era keemasan dan kebangkitan negara ini ditangan Bung Karno sebelum dihancurkan oleh tangan besi dan otak diktaktor serta otoriter dari Cendana, kita bisa lihat Indonesia dipandang sebagai pelopor inspirasi perjuangan bangsa-bangsa di Asia dan juga Afrika, kepemimpinan Indonesia di dalam politik luar negeri pun di akui bahkan Amerika Serikat, Uni Sovyet, China dan India sampai angkat topi dan acungkan dua jempol !

Jepang dan China pun ketika itu belum jaya seperti sekarang yang merajai perdagangan dunia. Kita tahu Jepang porak-porandan karena “hadiah” dari Amerika Serikat sebelum berakhirnya perang dunia kedua, kemudian negara India yang masih belia dan masih mencari jati diri negara pasca merdeka hal yang sama juga oleh China yang sedang sibuk dengan agenda besarnya yaitu revolusi budayanya.

Ditangan Soekarno, posisi Indonesia dalam hal geografis cukup strategis karena menjadi penengah dalam perang dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Sovyet, setelah Soekarno berhasil melahirkan Konfrensi Asia Afrika yang kemudian menjadi sebuah gerakan yang dinamankan Gerakan Non Blok pada tahun 1955

Itu baru urusan perpolitikan luar negeri yang dirancang oleh Soekarno, lalu bagaimana dengan olahraga, ternyata tidak jauh berbeda dengan pemikiran politik internasionalnya, Soekarno bahkan membuat langkah berani dengan membuat sebuah pagelaran olahraga internasional yang diberi nama Games of The New Emerging Forces (GANEFO). GANEFO adalah ajang olahraga tandingan daripada Olimpiade yang kita kenal pada medio akhir 1962, alasan beliau membentuk GANEFO adalah bahwa olahraga tidak bisa dipisah dengan politik, karena pada pelaksanaan Asian Games’62, Indonesia melarang Israel dan Taiwan untuk mengikuti kegiatan Asian Games dengan alasan solidaritas dan simpati kepada Republik Rakyat China dan negara-negara jazirah Arab.

Aksi ini di protes oleh KOI-Komite Olimpiade Internasional yang mempertanyakan legalitas dan legimitasi Asian Games di Jakarta. Akibat aksi ini Federasi Asian Games (FAG) menskors Indonesia untuk ikut dalam ajang ini karena Taiwan dan Israel adalah anggota resmi PBB. Indonesia juga di skors untuk tidak boleh mengikuti Olimpiade Tokyo’64, karena tidak boleh ikut serta Olimpiade membuat Soekarno marah besar sehingga Indonesia keluar dari KOI, Soekarno menuduh KOI merupakan antek imperalisme, setahun kemudian GANEFO akhirnya lahir di Jakarta.

GANEFO berikutnya di Kairo, Mesir pada tahun 1967 terpaksa di batalkan karena masalah politik, GANEFO sendiri memiliki semboyan Maju Terus Jangan Mundur-Onward No Retreat. Dalam GANEFO ini Indonesia mengundang negara RRC dan negara-negara dunia ketiga. Menurut catatan yang penulis baca, GANEFO diikuti lebih dari 2200 atlet dari 48 negara di Asia, Afrika, Amerika Latin dan Eropa dengan diliput sekitar 500 jurnalis dari berbagai negara walaupun GANEFO ini di boikot oleh negara barat tetap saja berjalan dengan sukses.

Seperti ucapannya yang terkenal Satunya Kata dan Perbuatan, dalam meracang olahraga dan sepakbola sebagai jati diri bangsa, Soekarno menunjuk R. Maladi sebagai Ketua Gerakan Olahraga-KOGOR, organisasi ini sendiri ditugaskan oleh Soekarno untuk menyiapkan Asian Games IV di Jakarta, dibawah perintah Soekarno dari kredit lunak Uni Sovyet terbangun lah Komplek olah raga (yang sekarang dikenal dengan Komplek Olahraga Bung Karno).

Pemancangan tiang pertama komplek tersebut di lakukan oleh Soekarno pada tanggal 8 Februari 1960, selanjutnya satu demi satu sarana olahraga yang di impikan Soekarno terwujud. Istana Olah Raga-Istora selesai pada tanggal 21 Mei 1961, Stadion Madya (khusus lari), Stadion Renang, Stadion Tennis pada Desember 1961, Gedung Basket pada Juni 1962, dan yang paling utama Stadion Utama sekarang kita sebut Stadion Gelora Bung Karno pada tanggal 21 Juli 1962.

Setelah sukses dengan capaian Indonesia pada Asian Games’62, Soekarno lantas mengeluarkan sebuah Keputusan Presiden berregister 263/`1963 yang isinya tentang misi Indonesia masuk dalam 10 besar olahraga di dunia, alasan Keppres ini di buat berharap SEPERTIGA penduduk Indonesia aktif dalam bidang olahraga sejak bangku SD, maka impian dari bangku SD itu dapat tercapai

Keppres itu akhirnya tinggal kenangan karena masalah politik sebuah dinasti dari Jalan Cendana dan sampai sekarang Indonesia khususnya sepak bola masih dan masih menjadi penonton baik di depan tivi atau tribun penonton stadion karena menang undian berhadiah dari perusahaan yang menjadi sponsor Piala Dunia, ataupun jurnalis yang di kirim serta bola yang di rebutkan oleh 22 orang dalam satu lapangan..

Coba engkau masih hidup bung…mungkin sepak bola kita bisa juara bahkan melebihi perolehan Brazil huuufffttt..


GBK Std, 230610 10:20

Rhesza
Pendapat Pribadi