Selasa, 03 Agustus 2010

Antara Pong Harjatmo, Tukang Bolos dan (ngaku) Wakil Rakyat


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf.

Ada yang menarik dalam minggu terakhir di bulan Juli dimana ada seorang aktor senior yang melakukan sensasi di sebuah gedung pemerintahan, iya beliau adalah Pong Hardjatmo yang pada Jumat (30/7) melakukan aksi corat-coret di kubah gedung Dewan Perwakilan Rakyat-DPR kawasan Senayan-Jakarta. Walaupun aksi ini akhirnya diketahui oleh Petugas Keamanan Dalam-Pamdal DPR tetapi aksi ini menurut penulis aksi yang cukup berani dan patut kita puji kenapa ?

Kita bisa seorang aktor senior yang juga nota bene mencoretkan kata JUJUR, ADIL, TEGAS pada kubah gedung DPR memberikan catatan sendiri dan menjadi tamparan bagi semua para penghuni gedung tersebut pada akhir-akhir bulan ini salah satunya adalah sikap bolosnya yang sangat-sangat terlalu.

Kata-kata JUJUR, ADIL, TEGAS bagi penulis adalah sebuah cermin daripada sikap anggota dewan ini, penulis mencoba membedah arti kata-kata ini dengan sifat dan tingkah laku daripada anggota dewan, Pertama, JUJUR apakah anggota dewan kita sepanjang negara ini berdiri tepatnya memasuki Orde Baru hingga saat ini dalam kerjanya selalu JUJUR terutama Jujur kepada rakyat ? jawabnya pasti beragam tetapi bagi penulis para anggota dewan ini tidak jujur dalam tugasnya sebagai anggota dewan kita bisa lihat ketika kampanye mereka selalu berslogan rakyat akan di perhatikan, pelayanan kesehatan dan pendidikan gratis, segala administrasi seperti pengurusan KTP akan digratiskan, jalanan di seluruh daerah pemilihannya akan mulus beraspal, atau akan menyeret dan memberantas korupsi di negara ini tetapi NYATAnya ketika mereka sekarang sudah di duduk kursi anggota dewan SUDAHKAH mereka melaksanakan janji-janji mereka ketika berkampanye ?

Kedua, Adil. Adakah para anggota dewan ini bersikap adil dalam menjalankan tugasnya terutama yang berkaitan dengan rakyat dan bangsa kita bisa lihat bagaimana posisi KPK saat ini perangkat hukum yang menunjang KPK bekerja pun diusik dengan alasan dengan bahasa halusnya agar semua bisa sama di mata hukum tetapi kenyataannya kenapa perangkat hukum kerja KPK di usik biar para anggota dewan ini tidak bisa dipegang atau di proses hukum oleh KPK jika terbukti bersalah, atau banyak anggota dewan kita yang bebas berkeliaran padahal mereka bersalah tetapi dengan posisi mereka sebagai anggota dewan dimana harus ada surat ijin dari Presiden Republik Indonesia jika ingin diperiksa membuat permasalahan hukum terkatung-katung sementara rakyat kecil yang tidak bersalah harus dibuat bersalah seperti kasus Minah, seorang nenek yang dituduh mengambil bibit kakao, atau linggar yang jelas-jelas menjadi korban tabrak yang dilakukan oleh seorang Polisi yang mengakibatkan istrinya tewas justru sekarang menjadi pesakitan dengan pasal UU lalu lintas..

Kemudian adilkah para anggota dewan ini menerima gaji besar berikut tunjangan yang besar juga setiap bulan tetapi ketika rapat paripurna atau rapat-rapat anggota dewan tidak pernah datang kalaupun datang hanya duduk, mainkan telepon selular, membaca koran atau mengobrol dengan sejawat di sebelah atau bahkan tidur pulas tanpa mendengarkan apa yang pimpinan bacakan sementara diluar gedung masih banyak rakyat yang membutuhkan bantuan untuk kehidupannya entah itu untuk biaya pendidikan anaknya atau hanya sekedar untuk membeli kebutuhan dapur dan perut mereka.

Ketiga, TEGAS. Menurut penulis para anggota dewan ini tidak mempunyai ketegasan dalam melihat suatu masalah, seharusnya mereka sebagai penyambung lidah, telinga, nurani dan otak rakyat harus tegas bahkan melindungi rakyat dari kepentingan-kepentingan yang bisa berdampak pada rakyat tetapi kenyataannya ? kita bisa lihat bagaimana kasus Lumpur yang di lakukan oleh Lapindo Brantas, apakah para anggota dewan ini melindungi rakyat Sidoarjo dengan meminta Presiden Republik Indonesia untuk menegur keras dan meminta PT. Lapindo Brantas untuk mengganti kerugian dari dana operasional Lapindo dalam kurun waktu tertentu dalam perjanjian hitam diatas putih ? ternyata tidak bahkan dana untuk mengganti rugi korban Lapindo malah mempergunakan dana APBN yang nota bene adalah uang rakyat sendiri sementara pihak Lapindo dengan mudahnya hanya mengatakan mereka tidak sanggup untuk membayar kerugian dan menutup itu semua..

Melihat kasus Lapindo ini sangat kontras sekali dengan apa yang dilakukan pemerintahan Obama terkait kasus yang hampir sama dengan Lapindo yaitu kebocoran minyak lepas pantai yang dilakukan oleh perusahaan minyak asal Inggris, BP dimana Presiden Obama meminta dengan tegas agar kebocoran itu harus segera ditutup dan mengganti semua yang telah rusak serta mengembalikan apa yang ada sebelum terjadinya kebocoran itu dan itu selalu di pantau oleh Gedung Putih bahkan akibat ancaman dan desakan dari Gedung Putih membuat CEO BP mundur pada Oktober nanti karena (mungkin) stress dengan apa yang dilakukan oleh anak buahnya dan juga tekanan dari Amerika walaupun kita tahu Amerika dan Inggris adalah sahabat sejati dalam memberantas terorisme dan menggulingkan Saddam Hussein.

Atau kasus bank Century, ketika diawal kasus ini bermasalah para anggota dewan ini bersemangat 45 dengan mengatakan bahwa sebagai amanat rakyat mereka siap membongkar siapa-siapa saja yang menerima aliran dana sebanyak 6,7 T dan tidak akan ditutup-tutupi tetapi NYATAnya mana ? PRREEEETTTTT…. Aja lah buat anda semua anggota dewan apalagi sekarang katanya ada indikasi kasus ini akan di tutup mana itu katanya sebagai amanat dari rakyat anda akan mengawal dan membongkar kasus ini ?!

Jadi jangan salahkan Pong Hardjatmo yang melakukan itu sebagai cari perhatian tetapi berkaca lah dengan cermin dan nurani wahai anggota dewan, sudah benarkah anda kerja mana janji-janji anda ketika anda berkampanye di daerah pemilihan anda ketika itu sudah kah anda menjalankan janji-janji itu, itu baru coretan bagaimana nanti kalau kedepannya anda semua akan tersandera oleh para rakyat dengan brutal datang ke ruangan anda untuk meminta pertanggung jawaban anda sebagai wakil rakyat seperti layaknya kudeta atau seperti pendudukan mahasiswa pada tahun 1998 !

Sudah saatnya negara ini JUJUR, ADIL, TEGAS !!!

14th floor, 300710 15:45

Rhesza
Pendapat Pribadi

Mimpi itu Bernama Naturalisasi


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf.

Di tengah hiruk-pikuk permasalahan dinegara ini seperti maraknya teror bom gas 3 Kg kemudian adanya daftar anggota dewan yang rajin bolos dan masih banyak lagi terselip satu berita yang terlontar daripada para pejabat di sebuah kantor yang berada di bawah StadionGelora Bung Karno-Senaya, Jakarta dimana beberapa hari ini banyak sekali londo-londo datang ke Indonesia bukan sebagai turis atau wisata yang dibiayai negara tetapi meminta mereka untuk bermain bukan untuk klub ISL tetapi untuk Tim Nasional Merah Putih- Indonesia !

Iya..PSSI kembali menerbitkan “mimpi” yang terbarunya untuk memberikan suasana baru bagi penggemar sepakbola Indonesia yaitu me-NATURALISASI pemain-pemain asing yang memiliki darah Indonesia pada tahap pertama ini setidaknya sudah ada empat orang yaitu Irfan Bachim, Alessandro Trabucco, Sergio Van Dijk, Kim Kurniawan dan nantinya masih banyak lagi yang datang ke Indonesia untuk membantu sepakbola Indonesia.

Pertanyaannya sekarang adalah BISA APA para londo-londo ini dalam mengangkat sepak bola di Indonesia sedang mereka sendiri hanya tahu Indonesia lewat cerita-cerita dari orangtua mereka tanpa mereka tahu “bau” dari Indonesia sendiri benar tidak ? penulis agak ragu dengan kebijakan yang di lontarkan para pejabat yang mengurus sepakbola Indonesia.

Kenapa ragu, kita bisa lihat sudah berapa kali PSSI membuat kebijakan mulai dari Garuda, Baretti, Primavera, TC Belanda hingga yang terakhir ikut Liga Uruguay hasilnya ? kekalahan demi kekalahan kita bisa lihat bagaimana hasil TC Belanda Timnas kita kalah dari Suriah dengan panen gol atau kekalahan kita dari negara kemarin sore Myanmar dan Laos dari ajang SEA GAMES atau hasil didikan tahap I pemain Timnas yang bermain di liga Uruguay ternyata sama saja dimana kita kalah telak dari Jepang dan Australia dalam ajang Pra Piala Asia U-19, dari sini saja kita bisa lihat bagaimana “mimpi” berjalan dan hasilnya juga “mimpi”

Kembali ke soal naturalisasi, penulis melihat para pejabat sepak bola kita ini ingin mencontoh sikap Singapura tetangga dekat yang obral warga negara kepada atlet China atau siapa pun dalam membantu olahraga Singapura atau keberhasilan Jerman dalam Piala Dunia berkat dua pemain naturalisasinya tetapi tunggu dulu, kalau Singapura jelas mereka negara kecil yang kurang SDM bahkan daratannya pun harus mengambil dengan cara mencuri tanah dan pasir yang ada di daerah Indonesia yang dekat mereka sehingga wajar kalau mereka meminta warga asing yang mau membantu olahraga mereka maju karena Singapura mempunyai dana yang kuat tapi lemah dalam SDM, sementara soal dua pemain naturalisasi Jerman, Ozil dan Khedira yang cemerlang selama Piala Dunia itu dikarenakan adanya rasa bangga dan nasionalisme mereka terhadap Jerman yang sudah tumbuh sedari mereka lahir walaupun dinobatkan sebagai Warga Negara Jerman baru dalam hitungan bulan, sedangkan negara kita banyak sumber daya manusianya, geografisnya luas masak hanya untuk mencari 23 pemain saja susahnya minta ampun, sedangkan soal pemain asing yang diundang PSSI benarkah mereka tulus dari nurani akan membantu Indonesia?

Menurut penulis kalau bisa proyek naturalisasi ini di hilangkan saja lebih baik fokus pada pembinaan generasi muda, coba kita lihat bagaimana Timnas kita selalu bergantung pada Bambang Pamungkas, Ponaryo Astaman, Markus Horison setiap ada event internasional sementara untuk timnas U-16, U-17, U-19, U-21, U-23 baru akan di seleksi ketika ada kalender internasional tetapi mereka tidak pernah mengikuti kompetisi yang teratur seperti yang selalu diadakan di liga-liga Eropa.

Penulis berani taruhan demi apapun, proyek naturalisasi ini tidak akan berjalan dengan mulus dan umurnya pun hanya paling satu-dua turnament saja, kenapa penulis berani mengatakan itu dari awal saja sudah terbukti dimana salah satu pemain asing tersebut ketika ditanya apakah anda mau membantu Timnas Indonesia selamanya dan siap kehilangan pasport negara anda, sang pemain ini lantas berkata saya mau bermain di Timnas Indonesia TAPI saya juga TIDAK MAU kehilangan pasport negara saya !

Daripada memikirkan bagaimana cara londo-londo ini bermain di Timnas lebih PSSI berpikir bagaimana caranya agar Timnas Indonesia berprestasi dengan cara memfokuskan diri pada kompetisi liga tingkatan umur karena bagaimana pun timnas itu berprestasi dilihat dari cara mereka mengelola kompetisi di tingkat umur sepertinya Cuma Indonesia saja yang tidak fokus memikirkan kompetisi liga tingkat umur, seperti contoh timnas Jerman dan Belanda yang timnas senior mereka suskses karena diisi pemain-pemain yang dibina klub dan ikut kompetisi liga tingkatan umur setiap musim kompetisi yang dibuat federasi sepakbola mereka, sedangkan kita baru ada kompetisi tingkatan umur jika ada sponsor atau pihak swasta jika tidak ada ya tidak ada kompetisi benar tidak ?!

Mau sampai kapan negara ini khususnya sepakbola harus menonton dan menonton di depan televisi setiap ada tayangan Piala Dunia sementara negara seperti Korea Utara, Selandia baru, Afrika Selatan yang dari segi geografis, politik dan pendapata perkapita masih lebih bagus negara kita sudah lebih merasakan pesta khusus sepakbola ini ?

GBK Std, 010810
Rhesza
Pendapat Pribadi

Yakin Dengan Naturalisasi Indonesia Bisa Prestasi ?


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf.

Perhelatan sepakbola dunia sudah usai dengan keluarnya Spanyol sebagai Jawaranya Dunia sepakbola sejagat, usai juga hingar-bingar dan telat bangun selama sebulan ini yang sering kita lakukan dan yang ada sekarang adalah sejumlah klub sedang mencoba peruntungan untuk membeli beberapa pemain yang bersinar di Piala Dunia untuk meraih sukses diliga mereka.

Tetapi beberapa minggu ini khususnya pecinta sepakbola Indonesia disuguhkan dengan dua berita yang heboh, kalau satu berita ini sebenarnya sudah lama di munculkan tetapi hilang dan sekarang coba dimunculkan lagi yaitu soal adanya pemanggilan pemain asing yang memiliki darah Indonesia untuk datang dan membantu PSSI agar berprestasi, kemudian satu lagi tentang adanya berita dimana PSSI tengah bernegosiasi dengan pelatih Timnas Turki yang juga pernah melatih tim Serie A, Fatih Terim agar bisa melatih Timnas Indonesia dan kalau ini sukses maka target yang diberikan PSSI kepada Fatih Terim adalah Indonesia main di Piala Dunia 2018.

Penulis saat ini hanya ingin membahas soal proyek naturalisasi yang dicanangkan oleh PSSI kalau soal Fatih Terim mungkin setelah tulisan ini kali yah…proyek naturalisasi ini bukan proyek mimpi PSSI yang pertama kali dalam rangka meningkatkan prestasi sepakbola Indonesia di pentas dunia tetapi dari semua proyek-proyek mimpi itu tidak ada satu pun yang berprestasi.

Kita mungkin masih ingat dengan proyek Garuda, Baretti, Primavera pada tahun 1990-an dimana sejumlah pemain usia dini di kirim oleh PSSI ke Italia dan beberapa ditampung klub liga Italia untuk menimba ilmu dan skill yang ada di Italia sana, alumni dari proyek ini pun sekarang kita kenal sebagai pemain top atau mungkin sekarang sebagai pelatih seperti, Bima Sakti, Kurniawan DJ, Aji Santoso, Yeyen Tumiwa, (alm) Eri Erianto, dan masih banyak lagi. Kemudian pada era tahun 2000-an hingga sekarang kita mengenal proyek TC Belanda yang dipersiapkan untuk menghadapi Asean Games pada tahun 2008 dan juga Pra Piala Dunia 2010, dan yang sekarang lagi aktif adalah proyek Uruguay dimana belasan pemain usia 19 tahun kebawah dikirim ke Uruguay untuk menempa ilmu kompetisi dimana Indonesia membuat semacam “klub” yang bergabung dalam kompetisi liga Uruguay beberapa pemain ini perkuat Indonesia dalam ajang Pra Piala Asia U-19 lewat ajang ini kita bisa kenal dengan yang namanya Syamsir Alam.

Pertanyaannya sekarang adalah dari proyek Garuda, Baretti, Primavera, TC Belanda hingga Uruguay ini adakah prestasi internasional yang diperoleh minimal Juara Asia ? atau paling tidak kita bisa masuk dan sejajar dengan Jepang, Korea dan China sebagai unggulan pertama ketika adanya pengundian Group, adakah ? ternyata TIDAK a.k.a NOL BESAR, semua proyek itu TIDAK menghasilkan apa-apa bagi negara khususnya PSSI dan masyarakat pecinta sepakbola Indonesia yang ada hanya malu ketika tahun 1998 dimana hanya karena takut ketemu dengan Vietnam akhirnya Timnas Indonesia melakukan permainan kotor ketika bermain dengan Timnas Thailand walaupun akhirnya Timnas Vietnam yang menang Piala Tiger (sekarang bernama AFF Cup) akibat permainan kotor ini juga membuat Ketua Umum PSSI kala itu Ir. Azwar Anas harus mundur dari kursi PSSI-01.

Kembali soal rencana naturalisasi, ada beberapa pertanyaan yang ingin penulis tanyakan kepada para penguasa bola nasional ini yaitu pertama, sudah yakin jika program naturalisasi ini bisa membuat Indonesia sukses bahkan juara di tingkat internasional mulai dari Asia hingga (mungkin) Juara Dunia, karena faktanya kita bisa lihat Portugal dengan Deco, warga Brazil yang akhirnya naturalisasi menjadi warga Portugal sampai detik ini belum bisa membawa Portugal berprestasi, Cuma klub saja yang ia bisa kasih prestasi di Barcelona dan Chelsea, kemudian di Jepang ada Alex naturalisasi dari Brazil yang berposisi sebagai Bek sampai sekarang Alex belum bisa memberikan yang terbaik untuk Timnas Jepang, atau skuad daripada Tim Kangguru Australia yang rata-rata adalah bukan warga asli australia melainkan imigran-imigran sampai sekarang pun belum bisa memberikan yang terbaik baik Timnas walaupun di tingkat klub juga masih belum menyakinkan.

Kedua, apakah PSSI bisa menjamin mereka BENAR-BENAR TULUS DARI NURANI membela Timnas sementara kita tahu mereka ingin membela karena (mungkin) di negara mereka tinggal tidak pernah dilirik oleh pelatih timnas negaranya dan juga mau berkomunikasi dan bekerjasama dengan para staff Timnas dan juga pemain lokal ? jangan sampai karena mereka dibutuhkan maka mereka dulu diprioritaskan dahulu daripada para pemain lokal.

Kalau isu ini ditanya kepada penulis, maka penulis akan tegas dan terang-terangan menolak keras usaha daripada PSSI ini kenapa ? Pertama, ini hanya akal-akalan dan gejala Stroke saja di kalangan sepakbola kita karena tidak tahu harus bagaimana lagi agar sepakbola Indonesia bisa dikenal dunia, kedua penulis tidak yakin dengan sikap daripada para pemain yang dipanggil oleh PSSI karena memiliki darah Indonesia tulus membela Timnas Merah Putih kenapa penulis bilang begitu ?

Alasannya begini karena mereka dalam melaksanakan kegiatan timnas pasti terbentu dengan status kewarganegaraan dengan apa yang dianut negara ini, kita tahu bahwa Republik Indonesia belum bisa mengakui adanya dua kewarganegaraan dan ini sudah terjadi di kalangan pesebakbola londo itu ketika ditemui jurnalis.

Terbukti dimana salahsatu pemain yang diundang ke Indonesia, Alessandro Trabucco dimana ketika wartawan menanyakan apakah ia mau membela Timnas Indonesia tetapi pasport Italianya harus berganti dengan pasport lambang Garuda, dengan spontan ia mengatakan bahwa ia sangat ingin membela Timnas Indonesia tetapi ia juga tidak mau kehilangan status pasport Italia dari sini saja sudah jelas apa yang mereka cari itu baru satu pemain bagaimana dengan yang lain ?

Penulis melihat sepertinya para pejabat PSSI ini ingin mencoba apa yang dilakukan Singapura dengan anggapan kalau Singapura bisa kenapa Indonesia tidak bisa dalam hal bagi-bagi naturalisasi bagi atlet China demi menaikkan popularitas olahraga di Singapura, Singapura jelas mereka kurang SDM kemudian geografisnya pun hasil curian pasir dari kepulauan Indonesia yang dekat dengan mereka jadi sangat wajar mereka mengobral kewarganegaraan, sedang kita ? geografis segede gaban, SDM banyak tersebar dari Sabang Merauke dari Miangas hingga Rote masak untuk menentukan 23 pemain saja susahnya minta ampun sampai harus mengadakan sayembara siapa yang mau main untuk Timnas Indonesia !

Lagi pula apakah PSSI bisa membiayai hidup para londo-londo ini kalau memang jadi memakai jasa mereka selama tinggal di Jakarta ? kita tahu lah bagaimana kehidupan pemain sepakbola dunia terutama belahan Eropa yang penuh glamour, dana dari mana PSSI untuk membiayai misalnya membayarkan apartemen mereka yang kategori mewah, mobil dan pernak-pernik lainnya yang mereka minta dengan (mungkin) sedikit ancaman kalau tidak terpenuhi jangan harap bisa main bagus bahkan memberikan prestasi untuk Timnas Indonesia termasuk biaya visa dan tiket pesawat mereka jika memang mereka tidak mau menggunakan pasport Garuda sementara untuk bayar bulanan dan kontrak Pelatih Alfred Riedl saja PSSI NGEMIS kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia agar bisa membantu dalam membayar bulanan dan kontrak sang pelatih

Apakah para pejabat PSSI ini TIDAK SADAR dengan kebijakan ini membuat sakit hati bahkan melecehkan daripada adik-adik kita yang sedari dini sudah ingin bercita-cita berlatih sepakbola di SSB atau klub dengan SATU TUJUAN dan CITA-CITA untuk mengenakan seragam Timnas Merah Putih dengan lambang Garuda di dada dan main di GBK Std HARUS PUPUS dengan kebijakan PSSI yang mengimpor Londo-londo ini

Tetapi yang terpenting dan menjadi pertanyaan dari ini semua adalah apakah mereka MEMILIKI sifat nasionalisme kebangsaan Indonesia ? karena kita tahu mereka hanya memiliki darah Indonesia tetapi apakah dengan darah Indonesia ini mereka tahu tentang geografis Indonesia, kebudayaan dan sejarah Indonesia ? percuma saja mereka bermain untuk Timnas tetapi tidak tahu apa itu Indonesia bahkan dalam berbicara pun tidak menggunakan bahasa Indonesia benar tidak ?

Kita bisa lihat bagaimana dengan pemain naturalisasi yang ada di Jerman seperti Mesut Oezil asal Turki, Sami Khaidera asal Tunisia apa yang melatarbelakangi mereka padahal darah mereka BUKAN darah Jerman, tetapi NASIONALISME mereka terhadap negara yang mereka tinggal dari kecil hingga saat ini walaupun naturalisasi itu baru didapatnya beberapa tahun belakangan ini tetapi kembali lagi rasa NASIONALISME itu yang tertanam dalam nurani sedangkan para pemain yang di panggil PSSI itu ?!

Kiranya para pejabat PSSI ini memikirkan kembali terhadap sikapnya percuma saja heboh memanggil para pemain yang memiliki darah Indonesia tetapi nyatanya bukan prestasi yang didapat tetapi malah diskriminasi potensi yang ada bisa menghancurkan daripada masa depan sepakbola di negara ini…

GBK Stadion
Rhesza
Pendapat Pribadi

Buat Apa LP Teroris


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf.

Beberapa hari ini ada kabar tentang permintaan Detasemen Khusus Anti Teror 88 kepada negara agar dibuatkan sebuah lembaga pemasyarakatan khusus teroris dengan alasan agar mudah diawasi pergerakannya walaupun sampai saat ini belum di tanggapi oleh negara dalam hal ini Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.

Tetapi menurut penulis tentang kabar permintaan ini agak aneh dan apakah tidak takut kalau LP khusus teroris ini bisa nantinya menjadi usaha Makar jika melihat falsafat hidup daripada teroris ini terhadap negara ini ?

Penulis pribadi dan mungkin juga banyak masyarakat pun pasti tidak setuju dengan ide dari Detasemen Khusus 88 tentang adanya LP khusus terorisme mungkin idenya bagus dalam pengawasan bisa fokus tetapi apakah dengan dibentuknya LP khusus terorisme itu bisa membuat para teroris ini SADAR dan BISA kembali ke jalan yang benar seperti dahulu kala mereka sebelum mengenal tentang jihad yang salah ketika mendengarkan ceramah-ceramah di masjid ?

Kita sudah lihat lihat misalnya tujuan daripada keberadaan LP khusus Narkotika diperuntukkan bagi para tersangka atau orang-orang yang berkaitan dengan narkoba dan hukum tetapi nyata dan faktanya di lapangan ? tingkat pengguna narkoba apakah turun ? jumlah transaksi narkoba di jalan turun ? TIDAK ! bahkan di LP khusus narkotika sendiri penulis pernah dengar sebagai pusat daripada peredaran narkoba di luar sana, segala instruksi transaksi dan pembuatan berasal dari kamar sel LP

Atau kehidupan LP umum apakah menjamin orang itu sadar ? tidak buktinya kita bisa lihat selain sebagai pusat peredaran narkoba, bahkan pusat kegiatan untuk menjalankan teroris kabarnya berasal dari kamar sel bahkan untuk memesan makanan enak, (maaf) wanita yang sesuai selera syahwat pun bisa dilakukan dari kamar sel atau sebagai pabrik narkoba!

Menurut penulis ide dari Densus 88 ini kiranya dikaji kembali, kalau memang Densus tetap berkenyakinan penulis hanya bersaran kenapa para teroris ini dititipkan di rumah tahanan militer negara selama mereka ditahan baik itu dalam masa penyidikan, sidang dan vonis hakim atau Densus 88 sendiri meminta ijin Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia untuk bisa membuat tahanan sendiri dengan tujuan yang anda berikan ketika mencetuskan ide tersebut sehingga kita bisa lihat apakah mereka benar-benar BEBAS dari apa yang terdoktrin selama ini sampai mereka tertangkap oleh Densus 88 karena LP sekarang TIDAK MENJAMIN orang yang ada di dalam begitu keluar langsung seperti orang yang baru lahir !

Kita lihat saja nanti apakah ide ini terwujud dengan catatan adanya pencucian otak secara bersih oleh Densus 88 dan pihak-pihak terkait untuk membersihkan doktrin-doktrin yang ada dikepala mereka ATAU malah menjadi kuat doktrin mereka ketika mereka bersatu di kamar sel dan tentunya seperti ini yang ditakuti oleh penulis dan mungkin seluruh rakyat Indonesia yang dari Sabang sampai Merauke dari Miangas hingga Pulau Rote..

Halimun, 290710 02:10
Rhesza
Pendapat Pribadi