Selasa, 03 Agustus 2010

Mimpi itu Bernama Naturalisasi


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf.

Di tengah hiruk-pikuk permasalahan dinegara ini seperti maraknya teror bom gas 3 Kg kemudian adanya daftar anggota dewan yang rajin bolos dan masih banyak lagi terselip satu berita yang terlontar daripada para pejabat di sebuah kantor yang berada di bawah StadionGelora Bung Karno-Senaya, Jakarta dimana beberapa hari ini banyak sekali londo-londo datang ke Indonesia bukan sebagai turis atau wisata yang dibiayai negara tetapi meminta mereka untuk bermain bukan untuk klub ISL tetapi untuk Tim Nasional Merah Putih- Indonesia !

Iya..PSSI kembali menerbitkan “mimpi” yang terbarunya untuk memberikan suasana baru bagi penggemar sepakbola Indonesia yaitu me-NATURALISASI pemain-pemain asing yang memiliki darah Indonesia pada tahap pertama ini setidaknya sudah ada empat orang yaitu Irfan Bachim, Alessandro Trabucco, Sergio Van Dijk, Kim Kurniawan dan nantinya masih banyak lagi yang datang ke Indonesia untuk membantu sepakbola Indonesia.

Pertanyaannya sekarang adalah BISA APA para londo-londo ini dalam mengangkat sepak bola di Indonesia sedang mereka sendiri hanya tahu Indonesia lewat cerita-cerita dari orangtua mereka tanpa mereka tahu “bau” dari Indonesia sendiri benar tidak ? penulis agak ragu dengan kebijakan yang di lontarkan para pejabat yang mengurus sepakbola Indonesia.

Kenapa ragu, kita bisa lihat sudah berapa kali PSSI membuat kebijakan mulai dari Garuda, Baretti, Primavera, TC Belanda hingga yang terakhir ikut Liga Uruguay hasilnya ? kekalahan demi kekalahan kita bisa lihat bagaimana hasil TC Belanda Timnas kita kalah dari Suriah dengan panen gol atau kekalahan kita dari negara kemarin sore Myanmar dan Laos dari ajang SEA GAMES atau hasil didikan tahap I pemain Timnas yang bermain di liga Uruguay ternyata sama saja dimana kita kalah telak dari Jepang dan Australia dalam ajang Pra Piala Asia U-19, dari sini saja kita bisa lihat bagaimana “mimpi” berjalan dan hasilnya juga “mimpi”

Kembali ke soal naturalisasi, penulis melihat para pejabat sepak bola kita ini ingin mencontoh sikap Singapura tetangga dekat yang obral warga negara kepada atlet China atau siapa pun dalam membantu olahraga Singapura atau keberhasilan Jerman dalam Piala Dunia berkat dua pemain naturalisasinya tetapi tunggu dulu, kalau Singapura jelas mereka negara kecil yang kurang SDM bahkan daratannya pun harus mengambil dengan cara mencuri tanah dan pasir yang ada di daerah Indonesia yang dekat mereka sehingga wajar kalau mereka meminta warga asing yang mau membantu olahraga mereka maju karena Singapura mempunyai dana yang kuat tapi lemah dalam SDM, sementara soal dua pemain naturalisasi Jerman, Ozil dan Khedira yang cemerlang selama Piala Dunia itu dikarenakan adanya rasa bangga dan nasionalisme mereka terhadap Jerman yang sudah tumbuh sedari mereka lahir walaupun dinobatkan sebagai Warga Negara Jerman baru dalam hitungan bulan, sedangkan negara kita banyak sumber daya manusianya, geografisnya luas masak hanya untuk mencari 23 pemain saja susahnya minta ampun, sedangkan soal pemain asing yang diundang PSSI benarkah mereka tulus dari nurani akan membantu Indonesia?

Menurut penulis kalau bisa proyek naturalisasi ini di hilangkan saja lebih baik fokus pada pembinaan generasi muda, coba kita lihat bagaimana Timnas kita selalu bergantung pada Bambang Pamungkas, Ponaryo Astaman, Markus Horison setiap ada event internasional sementara untuk timnas U-16, U-17, U-19, U-21, U-23 baru akan di seleksi ketika ada kalender internasional tetapi mereka tidak pernah mengikuti kompetisi yang teratur seperti yang selalu diadakan di liga-liga Eropa.

Penulis berani taruhan demi apapun, proyek naturalisasi ini tidak akan berjalan dengan mulus dan umurnya pun hanya paling satu-dua turnament saja, kenapa penulis berani mengatakan itu dari awal saja sudah terbukti dimana salah satu pemain asing tersebut ketika ditanya apakah anda mau membantu Timnas Indonesia selamanya dan siap kehilangan pasport negara anda, sang pemain ini lantas berkata saya mau bermain di Timnas Indonesia TAPI saya juga TIDAK MAU kehilangan pasport negara saya !

Daripada memikirkan bagaimana cara londo-londo ini bermain di Timnas lebih PSSI berpikir bagaimana caranya agar Timnas Indonesia berprestasi dengan cara memfokuskan diri pada kompetisi liga tingkatan umur karena bagaimana pun timnas itu berprestasi dilihat dari cara mereka mengelola kompetisi di tingkat umur sepertinya Cuma Indonesia saja yang tidak fokus memikirkan kompetisi liga tingkat umur, seperti contoh timnas Jerman dan Belanda yang timnas senior mereka suskses karena diisi pemain-pemain yang dibina klub dan ikut kompetisi liga tingkatan umur setiap musim kompetisi yang dibuat federasi sepakbola mereka, sedangkan kita baru ada kompetisi tingkatan umur jika ada sponsor atau pihak swasta jika tidak ada ya tidak ada kompetisi benar tidak ?!

Mau sampai kapan negara ini khususnya sepakbola harus menonton dan menonton di depan televisi setiap ada tayangan Piala Dunia sementara negara seperti Korea Utara, Selandia baru, Afrika Selatan yang dari segi geografis, politik dan pendapata perkapita masih lebih bagus negara kita sudah lebih merasakan pesta khusus sepakbola ini ?

GBK Std, 010810
Rhesza
Pendapat Pribadi

Tidak ada komentar: