Sabtu, 28 Agustus 2010

Benarkah Pemimpin Kita (maaf) BANCI !!!


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf.

Kata yang penulis tulis dengan huruf kapital itu penulis dapat ketika sedang menyaksikan sebuah program televisi yang meminta pendapat masyarakat Indonesia terhadap berita yang disuguhkan oleh pihak stasiun televisi (24/8) dan salah satu anggota masyarakat asal Makassar dengan lantang mengatakan kata itu terutama kepada pemimpin tertinggi di negara ini terkait dengan masalah yang saat ini sedang panas-panasnya yaitu tentang ulah Malaysia yang selalu mengganggu kedaulatan negara kita.

Ketika kata ini terlontar dari masyarakat yang mengikuti program tersebut penulis agak kaget tetapi kalau dipikir memang ada benarnya kenapa orang ini mengeluarkan kata itu, kita bisa lihat negara ini setiap hari ada saja masalah yang muncul tetapi tidak pernah ada penyelesaiannya baik itu dengan tegas atau apapun selalu dibuat gantung dengan diakhiri kata-kata manis daripada pemimpin ini selanjutnya hilang begitu saja sampai ada lagi kejadian.

Seperti contoh, sebelum memasuki bulan puasa harga-harga kebutuhan pokok naik pesat laksana roket yang siap ke Bulan tetapi dari pemerintah kita sendiri seperti Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian serta Kementerian Perekonomian tidak ada upaya menekan atau menstabilkan harga-harga ini dengan konkret dan nyata yang ada malah di biarkan berlarut-larut hingga Presiden berbicara baru mereka kerja tetapi tetap saja sampai sekarang harga kebutuhan pokok masih saja merajalela.

Atau seperti kasus tabung gas, banyak pihak menyalahkan Pertamina sebagai biang dari kasus ini tetapi Pertamina sendiri berdalih bahwa bukan tugas dan wewenang mereka untuk menginvestigasi kasus tabung ini karena prosedur tabung itu ada di Kementerian Perindustrian dan juga Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, seharusnya Presiden bisa memberikan keleluasaan kerja kepada Pertamina dalam mengelola Minyak bumi tetapi nyatanya hanya bermanis-manis saja dibibir !

Kemudian kasus Ahmadiyah dan juga Kasus penolakan kegiatan ibadah yang dilakukan jemaat HKBP di Ciketing-Bekasi oleh orang-orang yang SOK bergama tetapi jiwanya tidak lebih seperti PREMAN tanah abang adakah pemerintah kita ini mengambil tindakan keras misalnya meminta Kepolisan Negara Republik Indonesia untuk menangkap dan memproses secara hukum kepada orang-orang yang menghalang-halangi warga untuk beribadah tetapi nyatanya tidak ada bahkan pemimpin negara kita ini hanya meminta agar warga bersikap bijaksana dan tidak terpancing emosi, aneh bukan ?!

Lalu yang sekarang heboh adalah kasus BARTER atau TUKAR GULING atau apalah istilahnya antara 3 petugas patroli laut Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia dengan 7 maling ikan asal Malaysia tetapi nyatanya pemerintah kita tidak ada reaksi spontan marah begitu dengar 3 petugas ini tertangkap di wilayah negara sendiri bahkan ketika dikabarkan mereka diborgol dan memakai baju khas penjara para pemimpin eksekutif kita masih saja diam seribu bahasa bahkan ditutup-tutupi padahal rakyat dan (mungkin) prajurit dibawah sudah gatal tangan untuk mengangkat senjata entah itu senjata mereka, pisau atau bambu runcing.

Dari semua peristiwa yang penulis utarakan apakah judul diatas memang pantas dialamatkan kepada para pemimpin-pemimpin di negara ini atau tidak ? soal kasus yang terakhir penulis agak aneh melihat kelakuan daripada para pemimpin tertinggi bidang eksekutif di negara ini kok tidak ada respon geram sama sekali dan tindakan nyata ketika kedaulatan negara yang dipimpinnya sedang dimain-mainkan negara lain padahal kita semua tahu latar belakang beliau apa !

Seharusnya para pemimpin negara kita ini BERKACA dengan sikap para pemimpin di kawasan Amerika Latin seperti contoh konflik antara Venezuela dengan Kolombia dimana Presiden Chavez memanggil pulang Dubesnya di Bogota dan mengusir Dubes Kolombia dari bumi Caracas atau kasus pengusiran Diplomat Rusia oleh Pemerintah Kanada beberapa tahun lalu karena dituduh melakukan kegiatan mata-mata dan masih banyak lagi.

Penulis melihat kenapa pemerintah kita lembek kayak tahu putih ketika negara lain mencoba mengancam kedaulatan kita, karena dari kitanya sudah TIDAK ADA LAGI rasa nasionalisme terutama kalangan elite atas, rasa nasionalisme itu tertutup oleh deal-deal “suara” partai politik atau kepentingan beberapa manusia di dalam partai agar bisa aman dalam menjalankan usahanya di negara ini benar tidak ?

Kalau pemimpin kita itu (katanya) berlatar belakang militer dan (kabarnya) TERBAIK di angkatannya seharusnya TAHU apa yang namanya SAPTA MARGA PRAJURIT jika bicara kedaulatan negara seharusnya ketika melihat tindakan negara Malay ini pada kasus Ambalat atau kasus 3 aparat negara segera memerintahkan Panglima untuk menyiapkan semua peralatan perang yang dipunya oleh negara ini di garis depan perbatasan BUKANNYA diam dan meminta MOU kembali dengan negara tersebut dan dilaksanakannya di Malay BUKAN di Jakarta !

Atau ketika banyak TKI kita bermasalah dalam hukum kiranya pemimpin kita meminta Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia untuk menekan keras pada staff KBRI di negara tempat TKI kita bermasalah untuk bekerja lebih giat dan meminta kementerian-kementerian terkait di negara sana agar hak-hak daripada TKI/W kita dapat diberikan sesuai dengan ketentuan internasional tentang ketenagakerjaan kalau tidak juga dilaksanakan kiranya KBRI membuat laporan kepada pihak kepolisian setempat agar menyeret majikan-majikan yang melakukan kekerasan dan tidak menjalankan kewajiban-kewajiban sebagai majikan tetapi nyatanya walau di laporkan ke pihak berwajib hukumannya pun hanya hitungan jari atau bebas dengan uang jaminan sementara nasib TKI/W kita hanya bisa mengelus dada saja !

Sudah saatnya bekerja dengan giat dan dengan nurani para pemimpin di negara ini kalau tidak mau di bilang BANCI, tunjukkan kerja anda dan juga nasionalisme anda ketika negara ini terancam kedaulatannya, jangan sampai rakyat tidak mempercayai anda sebagai pemimpin dan jadinya bertindak sendiri-sendiri layaknya main hakim sendiri seperti pencopet yang dihajar massa, apakah ini yang anda mau kawan ?

Merdeka Selatan, 260810 07:00
Rhesza
Pendapat Pribadi

Tidak ada komentar: