Senin, 02 Agustus 2010

PSSI v Irjen Pol Alex Bambang


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf..

Pertama-tama penulis mengucapkan selamat kepada budak-budak laskar wong kito Sriwijaya FC yang memenangi Piala Indonesia setelah mengalahkan Arema Indonesia FC dengan skor 2-1 pada tanggal 1 Agustus Kemarin di Stadion Manahan Solo-Jawa Tengah, dengan kemenangan ini Sriwijaya FC menjadi satu-satunya klub di Indonesia yang mampu mencatatkan sebagai juara selama 3 kali berturut-turut.

Penulis tidak akan mengulas pertandingan tersebut tetapi penulis melihat ada catatan penting dalam pertandingan dan juga khususnya PSSI jika melihat kejadian yang terjadi semalam di Stadion Manahan Solo-Jawa Tengah yang sempat dihentikan oleh Kepala Kepolisian Daerah Jawa Tengah, Irjen Pol Alex Bambang Riatmodjo, alasan Kapolda Jawa Tengah ini menghentikan laga final ini dikarenakan sang pengandil lapangan yaitu Wasit Senior, Jimmy Napitupulu dimata sang Kapolda ini sedikit berat sebelah dan tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan gesekan-gesekan antar suporter yang bisa menimbulkan kericuhan apalagi ada sebagian penonton yang berdiri di pinggir-pinggir lapangan walaupun sangat jauh dari lapangan dan meminta wasit diganti.

Singkat cerita, hampir sejam lamanya bernegosiasi maka akhirnya Kapolda Jawa Tengah pun mengijinkan laga Final ini dilanjutkan kembali walaupun dari pihak Arema meminta agar Arema dan Sriwijaya FC menjadi juara bersama. Akibat dari perhentian lagi ini banyak pihak yang menyudutkan dan menuduhkan sikap arogansi Kapolda yang mengintervensi pertandingan dan perangkatnya karena berdasarkan ketentuan yang dikeluarkan oleh FIFA bahwa siapapun tidak bisa mengintervensi pertandingan apalagi mengganti perangkat pertandingan pada saat laga pertandingan.

Tetapi menurut penulis apa yang dilakukan oleh Irjen Pol Alex Bambang ini ibarat dua sisi mata uang dimana, satu sisi kita akui bahwa memang tindakan Kapolda ini agak berlebihan dan menyalahi peraturan atau buku petunjuk pertandingan yang dibuat dan dikeluarkan oleh FIFA sebagai otoritas tertinggi sepak bola dunia tetapi di sisi lain apa yang di lakukan oleh Irjen Pol Alex Bambang hanya ingin meminimalisasikan konflik atau kerusuhan yang terjadi antar penonton, antar pemain serta membuat penonton bisa lebih enak menonton sepakbola yang sebenarnya bukan sepakbola ++ seperti sepak bola ditambah kick boxing dan lain halnya.

Penulis pun mengerti akan sikap Kapolda ini, semua orang pun tidak mau ketika akan memasuki stadion akan di suguhkan atraksi pemain yang bisa merangkap sebagai petinju atau berlagak seperti preman pasar tetapi permainan yang bersifat Fair Play dan tidak berat sebelah oleh wasit. Kita bisa lihat sepanjang liga yang berbasis setengah professional dan bisnis ini ADAKAH pertandingan yang dari awal sampai wasit meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan sesuai dengan agenda FAIR PLAY seperti yang kita lihat di televisi ketika menyaksikan aksi bintang-bintang klub yang bermain di liga Eropa ? tidak ada kan ! kalau pun ada pasti sedikit bahkan lebih banyak aksi memancing emosi penonton yang dibuat oleh pemain di lapangan dan juga tentunya peran wasit sendiri yang tidak bisa konsisten akan pekerjaannya.

Kita bisa lihat bagaimana kebrutalan penonton sepanjang sejarah sepakbola Indonesia dimana pada tahun 2008 tepatnya pada tanggal 4 September ketika itu berlangsung pertandingan antara Persebaya Surabaya melawan Arema Malang di Stadion Gelora 10 November Tambak Sari-Surabaya dimana ketika itu (kalau tidak salah) Persebaya ketinggalan gol pada saat leg 1 di Malang, akibat tidak terima bonek langsung berulah dengan membakar apa yang mereka temui di bangku penonton dan tiba-tiba merangsek ke dalam dan luar stadion padahal pertandingan belum selesai sama sekali akibat dari kerusuhan satu mobil SNG milik Telkom dan satu unit SNG milik sebuah televisi habis dibakar oleh para bonek dan juga kerugian yang kalau tidak salah mencapai sekitar Rp. 1 M dan itu hampir mirip seperti kerusuhan 98, tetapi akibat peristiwa ini PSSI HANYA mengganjar hukuman denda (kalau tidak salah) sekitar Rp. 250 juta kepada Persebaya dan juga menghukum para panitia dan ketua Klub tidak boleh berada dalam lingkungan sepakbola Indonesia, sementara rakyat Indonesia selalu menghujat kepolisian yang tidak becus menjaga keamanan Stadion.

Tetapi dari itu semua termasuk tindakan sang Kapolda kiranya PSSI berkaca dan bertanya dengan nurani apakah mereka sudah menjalankan tugasnya dalam mengawal sepakbola Indonesia secara FAIR PLAY seperti yang di-dewakan oleh FIFA atau belum, jangan lah menyalahkan sikap Kapolda KALAU TERNYATA SUMBER dari masalah seringnya ribut antar pemain, wasit selalu salah mengambil keputusan itu berasal dari PSSI sendiri, memangnya PSSI sendiri bisa menindak penonton yang brutal karena ulah pemain dan wasit yang nota bene datanya terekam di database PSSI yang melakukan kesalahan di lapangan !

MAU SAMPAI KAPAN Irjen Pol Alex Bambang melakukan aksi-aksi FAIR PLAY di wilayah Jawa Tengah walaupun tindakan FAIR PLAY dari Kapolda Jateng ini mengundang reaksi keras dari kalangan sepakbola Indonesia terutama PSSI dan MAU SAMPAI KAPAN PSSI, wasit, dan semua yang mencari uang dari lapangan hijau selalu mendewakan FAIR PLAY tetapi TIDAK TAHU APA ITU FAIR PLAY, JANGAN-JANGAN ketika ditanya FAIR PLAY itu apa kapada para pejabat PSSI, wasit dan pemain jawabnya sebuah bendera yang selalu diusung anak gawang ketika akan memulai kick-off dalam sebuah pertandingan tetapi tidak tahu bentuk nyata daripada FAIR PLAY itu apa !

Buat Irjen Pol Alex Bambang, TERIMA KASIH atas apresiasi anda terhadap kondisi sepakbola Indonesia yang sampai saat ini belum bisa melaksanakan apa itu FAIR PLAY, saya akan mendukung anda dan Hendri Mulyadi secara penuh jika nanti ada MUNAS PSSI untuk menggantikan sang Ketum yang sekarang yang sepertinya TAKUT kepada anda terbukti dimana ketika Final Piala Indonesia Ketum TIDAK MENUNJUKKAN BATANG HIDUNGNYA begitu juga Sekretarisnya padahal dimana-mana dalam sebuah kejuaraan sepakbola yang memberikan Piala adalah Ketua daripada Organisasi yang menyelenggarakan!!

FAIR PLAY SECARA NURANI PLEASE PSSI !!!

Bekasi, 020810 14:50

Rhesza
Pendapat Pribadi

2 komentar:

Anonim mengatakan...

polisi punya aturan,sepakbola juga punya aturan,jd tidak ada ceritanya polisi mengobrak-abrik aturan sepakbola,sekalipun dengan alasan keamanan

Anonim mengatakan...

apapun alesannya mana ada pihak ktiga intervensi

goblok

Contohnya, kasus gol tangan tuhan Thierry Henry yang oleh wasit disahkan sehingga meloloskan Prancis ke putaran final Piala Dunia saja, tidak dapat dirubah FIFA. Demikian juga dianulirnya gol Frank Lampard bagi Inggris di Piala Dunia lalu oleh wasit, tidak ada intervensi FIFA di dalam lapangan. FIFA hanya memulangkan wasit yang dianggap tidak kredibel.