Rabu, 03 November 2010

Malangnya Nasib Beye

Kostum Presiden di Lokasi Bencana

Presiden dari mana pun di dunia ini pasti sangat diharapkan kehadirannya secara langsung oleh rakyatnya jika di negaranya sedang terjadi suatu bencana. Seperti yang terjadi baru-baru ini di negara kita dan juga di Cile sebagai bentuk dukungan moril.

Di media televisi yang disiarkan secara langsung hampir bersamaan, jelas terlihat suatu perbedaan yang mencolok di dalam prosedur penanganan bencana, khususnya pada penampilan pakaian antara Presiden RI dan Presiden Cile.

Presiden Sebastian Pinera terlihat sangat kasual dan sangat merakyat dengan menembus batas, sementara penampilan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan rombongan pejabat di Wasior, Papua Barat, terlihat sangat kaku dengan setelan baju safarinya meski telah dilengkapi rompi.

Apalagi, selalu tidak ketinggalan didampingi dengan dua ajudan yang berpakaian dinas lengkap, semakin menambah kekakuan mengingat daerah tersebut sedang porak-poranda dengan lumpur yang masih tergenang di mana-mana.

Seharusnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, rombongan, dan pejabatnya bisa menyesuaikan diri dengan apa yang sedang terjadi. Bila Presiden tidak memakai setelan formal, rombongan pejabat pasti akan menyesuaikan.

JIMMY A TURANGAN Kaveling DKI B 17, Duren Sawit, Jakarta (KOMPAS, 31 Oktober 2010)


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagaian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf


Tulisan di atas adalah sebuah surat pembaca yang dikirimkan seorang warga yang (mungkin) prihatin dan kurang sedap di pandang ketika melihat berita tentang kunjungan Beye ke lokasi bencana Tsunami Mentawai yang menurut pembaca tersebut tidak sesuai dengan keadaan baik itu sang pemimpin maupun yang sekitar.


Apa yang di tulis oleh warga tersebut ke media cetak tidak salah dan harus diperhatikan oleh semua orang termasuk pemimpin kita kalau atau sedang berkunjung ke suatu tempat agar di lihat apakah layak atau tidak dalam hal ini cara berpakaian. Kenapa penulis mengatakan itu kita bisa lihat banyak pejabat kita seperti “salah kostum” ketika menghadiri sebuah acara yang tentunya tidak formal seperti contoh banyak pejabat kita yang mengenakan pakaian safari ketika berkunjung ke tempat bencana seperti banjir atau Tsunami Mentawai seperti kunjungan beye ke Mentawai beberapa hari lalu.


Memang tidak salah apa yang digunakan oleh pemimpin di negara ini tetapi kiranya para pemimpin juga harus punya nurani dengan apa yang mereka datangi, bukan maksud menggurui para pejabat negara ini dan juga bukan pakar fashion tetapi menurut penulis alangkah elegannya para pejabat ini ketika mengunjungi sebuah tempat bencana seperti korban banjir, gempa dan lainnya kiranya berpakaian yang lebih sederhana misalnya berpakaian kaus berleher (polo shirt) dengan celana training dan sepatu casual atau kanvas sehingga terkesan para pejabat ini merasakan apa yang dirasakan oleh korban bukan seperti yang kita lihat selama ini dimana para pejabat kita datang ke lokasi bencana dengan pakaian safari lengkap begitu juga dengan ajudannya yang berpakaian dinas lengkap dengan pangkat seperti layaknya sedang berada di barak militer kalau seperti ini apakah masih ada empati daripada pejabat ini dimata rakyat yang menjadi korban ketika melihat para pejabat ini datang dengan pakaian yang tidak menunjukkan rasa empati seperti juragan melihat jonggoasnya atau orang sangat kaya melihat rakyat jelata benar tidak ?!


Terkait dengan beye kiranya masalah ini sudah yang kesekian kalinya warga atau rakyat menjerit tentang perilaku daripada pemimpin ini kita mungkin masih ingat dengan kasus iring-iringan beliau dan rombongan sirkusnya yang membuat seorang gadis kecil mengalami trauma berat ( (http://m.detik.com/read/2010/07/16/164634/1400929/10/surat-lengkap-jeritan-warga-cibubur--pak-sby-mohon-tinggal-di-istana- ) yang katanya akan ditelaah lagi dalam jumlah iring-iringan tetapi nyatanya tidak (http://politik.kompasiana.com/2010/09/25/juru-bibir-istana-pembohong/)

Atau sikap beye yang menitikkan air mata ketika memberikan pidato pada sebuah acara yang berkaitan dengan agraria tetapi peran pemerintah sampai hari ini pun tidak ada perhatiannya sama sekali terhadap petani entah itu melindungi petani daripada para tenggulak atau memberikan akses harga yang murah dan efisien kepada petani misalnya harga pupuk


Atau sikap dingin seperti ketakutan beye terkait soal Malingsia dimana rakyat sudah siap angkat senjata untuk berperang karena kasus penahanan tiga aparat patroli Kementerian Kelautan oleh patroli laut Kepolisian Diraja Malingsia, alasan beye berbicara seperti itu karena memperhatikan nasib TKW padahal kita tahu bagaimana nasib TKI/W kita di sana mulai dari gaji tidak di bayar hingga di perkosa berkali-kali tetapi nyatanya tidak ada peran pemerintah bahkan tindakan keras Pemerintah kita misalnya menarik Dubes RI dan memulangkan seluruh staff Kedutaan Malaysia di Jakarta sebagai bentuk protes kita terhadap negara Malaysia yang tidak menghargai HAM daripada pekerja yang berlaku di internasional atau organisasis internasional bidang pekerja misalnya ILO

Menurut penulis sudah cukuplah presiden kita berdiri dan bekerja dengan topeng, kita tahu seorang pemimpin itu harus rela berkorban demi jiwa raga untuk rakyat termasuk terjun langsung ke areal yang menjadi tempat tinggal rakyat yang menjadi korban bukannya malah tidur di Kapal Perang atau dimana yang lebih empuk daripada melihat dan merasakan penderitaan rakyat bukan seperti yang dilakukan oleh pemimpin negara ini yang dibutuhkan rakyat sekarang adalah empat nurani daripada para pemimpin bukan sikap jaga imej dari pemimpin itu kemudian disiarkan oleh media kalau pemimpin kita berempati padahal nyatanya ? seperti yang terjadi di Wasior beberapa waktu lalu…


Sampai kapan Beye akan terus bertahan dengan imej, sikap dingin serta ragu dan topengnya selama memimpin negara ini yang sudah hampir 6 tahun ini sementara pemimpin negara lain sudah maju 3 langkah dalam hal melayani , membuka mata serta mendengar apa yang rakyat minta demi negaranya seperti yang dilakukan oleh Sebastian Pinera dari Chile yang rela menunggu dan bermalam di tempat ke-33 penambang terdampar di dasar bumi hanya untuk memastikan bahwa ke-33 warganya selamat hingga muncul ke permukaan bumi serta jika ada pekerjaan hanya menyempatkan waktu sekitar dua jam di Ibukota negara selebihnya di tempat kejadian dan akhir dari penantiannya tercapai dimana ke-33 penambang selamat dan hidup ketika ditarik ke permukaan bumi dan dunia pun memuji Presiden Pinera setinggi langit karena mau berkorban demi rakyat yang sudah mempercayakan dirinya untuk memimpin negara ini sedangkan pemimpin kita ?


Thamrin, 011110 17:28
Rhesza
Pendapat Pribadi

Kamis, 28 Oktober 2010

1 Tahun Beye-Boediono

Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagaian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf

Banyak orang ketika melihat angka yang agak “wuah” pasti berarti hoki misalnya 10-10-10 banyak pasangan yang mengikat janji setia sampai akhir hayat di tanggal tersebut dengan harapan bisa mendapatkan berkah yang melimpah atau seperti tanggal 20-10-2010 yang berarti 2010-2010 tetapi tidak bagi mahasiswa dan masyarakat di negara ini.

Tanggal 20 bulan 10 tahun 2010 (selanjutnya 2010-2010) adalah tanggal tepat setahun pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono dan enam tahun SBY memimpin Republik Indonesia sejak tahun 2004 dengan berpasangan Jusuf Kalla sepanjang 6 tahun Beye memimpin negara ini dan 1 tahun memimpin bersama Boediono ada banyak permasalahan yang terjadi di negara ini apakah itu sudah di jalankan sepenuh hati dan juga melindungi daripada hak-hak rakyat ?

Kita bisa lihat bagaimana kasus Lapindo yang sampai sekarang tidak jelas ujung hukumnya bahkan pembiayaan ganti rugi pun sampai sekarang tersendat padahal pemilik daripada pabrik ini adalah seorang taipan yang pernah menduduki posisi orang terkaya di Indonesia dan nomor sekian (maaf kalau salah) dalam 10 besar se-ASEAN apakah ada seorang Beye menegur dengan keras dengan ancaman pengadilan serta penjara kepada para pemilik dan pemimpin perusahaan untuk membayar apa yang menjadi hak daripada warga tetapi kenyataannya ? hingga saat ini masih banyak warga Sidoarjo yang hidup di tenda-tenda atau lapak-lapak bekas pasar yang disediakan sementara.

Kemudian dalam hal kasus HAM terutama kebebasan beragama dimana negara kita menganut dan menjalankan kebebasan beragama berdasarkan Pasal 29 UUD1945 dimana negara menjamin kebebasan penduduk dalam menjalankan agamanya masing-masing tetapi kenyataannya ? kita bisa lihat bagaimana kawan-kawan Ahmadiyah harus dipenuhi rasa ketakutan ketika akan “berbicara” dengan Tuhannya tetapi pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama Republik Indonesia tidak ada reaksi dalam hal melindungi yg sesuai amanat Pasal 29 UUD1945 tetapi yang ada malah akan menutup ajaran agama ini karena tidak sesuai dengan kaidah agama yang sudah ada dalam hal ini Islam atau kasus pelarangan ibadah bagi kaum Nasrani dalam hal ini HKBP Ciketing yang berakhir dengan penikaman sedalam 10cm disertai penganiayaan oleh sekelompok orang yang tidak suka dengan keberadaan jemaat tersebut apakah pemerintah langsung perintahkan aparat keamanan untuk mengusut kasus itu ? ternyata sampai hari ini tidak ada tanda-tanda dari kasus tersebut baik sejauh mana prose itu berlangsung demikian juga orang-orang yang diindikasikan melakukan kegiatan itu..

Atau kasus tewasnya Munir yang sudah memasuki tahun keenam hampir sama dengan kepemimpinan Beye tapi sampai sekarang pun kasusnya tidak jelas siapa yang membunuhnya atau APA KABARnya kasus penganiayaan yang menimpa aktivis Indonesian Coruption Watch-ICW, Tama Landung bahkan sampai sang Presiden dan petinggi-petinggi yang di bawah Presiden silih berganti menjenguk dan memberikan pernyataan kepada media tetapi nyatanya sudah lebih 3 bulan kasus ini seperti (maaf) orang BUANG ludah kemudian tertimpa tanah dan terhembus oleh angin benar tidak?!

Itu baru soal HAM dan kemanusiaan bagaimana dengan ekonomi ternyata tidak jauh berbeda bahkan dalam 6 bulan setelah di lantik untuk kedua kalinya harga kebutuhan pokok melonjak naik daripada naik yang seperti biasa salah satunya adalah harga cabai (mungkin) dalam sejarah negara ini bisa menembus harga Rp. 45,000/kg ! belum lagi kebutuhan yang lain.

Pertanyaan penulis sekarang buat pemerintahan ini adalah selama setahun ini apa yang sudah di kerjakan oleh para menteri untuk rakyatnya ? dan untuk Beye selama enam tahun ini apa yang sudah anda persembahkan untuk rakyat dalam berbagai hal ? bagi penulis sepanjang Beye memimpin negara ini hampir tidak ada kesuksesan dalam artian rakyat bisa tersenyum senang dan puas kenapa, ya seperti yang penulis utarakan di atas.

Presiden kita LEBIH memikirkan citra dan imej-nya sendiri dan lingkungan partai serta koleganya ketimbang bersama-sama dengan rakyat dan itu sudah terbukti kok dalam berbagai acara, dimana pemerintahan kita lambat mungkin lebih lambat daripada keong benar tidak?

Seperti contoh kasus Wasior beberapa waktu ini dimana Presiden dan rombongan (maaf) sirkusnya kalah cepat daripada ucapan mantan ibu negara yang sekarang menjadi Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary Rodham Clinton yang mewakili Obama dan juga rakyat Amerika menyampaikan turut simpati dan duka cita kepada masyarakat Papua terutama di Wasior sedangkan beye dan rombongan sirkusnya ? baru bergerak setelah pernyataan daripada Menteri Clinton itu juga yang turut dua menteri sedangkan Presiden kita ? masih soal Wasior yang sama bersamaan dengan upaya penyelamatan daripada ke-33 petambang yang terisolasi di dasar bumi, dimana Presiden Chile hampir 24 jam lebih berada di lokasi kejadian bahkan masih sempat untuk memantau keadaan negara layaknya pegawai kantoran yang datang pagi ke Istana menjelang siang hingga ketemu pagi berada di Capiapo sedangkan Beye ? tetap dengan pencitraannya mengirimkan dua menteri terlebih dahulu untuk memantau begitu sudah datang baru beliau datang dengan rombongan sirkusnya tetapi apa yang terjadi di sana, Pak Beye tidak bersama-sama dengan rakyat bahkan rakyat yang menjadi korban dikumpulkan kemudian baru di naikkan ke mobil truk semacam tronton untuk di turunkan di suatu tempat untuk bertemu dan berinteraksi dengan Presiden bahkan untuk urusan tidur sang Presiden kita beserta rombongan sirkusnya lebih memilih kasur empuk dengan hangatnya selimut serta sejuknya mesin pendingin di atas Kapal Perang Sultan Hasanuddin daripada bernyamuk ria dengan para pengungsi !

Jadi menurut penulis kinerja Yang Mulia Beye selama 6 tahun memimpin Indonesia dan 1 tahun bersama dengan Boediono tidak ada hasilnya sama sekali untuk negara ini terutama masyarakat bahkan hanya yach seperti hanya manis di bibir atau N.A.T.O ( Not Action TALK ONLY) benar tidak dan juga kinerja Yang Mulia Beye selama 6 tahun ini TIDAK JAUH BERBEDA dengan kinerja daripada Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid jadi percuma saja beye minta PSSI tingkatkan prestasi sepakbola Indonesia sementara orang yang mengeluarkan pernyataan itu juga sama saja tidak ada kerjanya !!

Monas, 201010 15:10
Rhesza
Pendapat Pribadi

Antara Copiapo dan Wasior

Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagaian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf

Sebelum menulis lebih lanjut penulis ingin menghaturkan simpati kepada warga Wasior (12 perjalanan dari Manokwari ke Wasior) yang menjadi korban “tsunami kecil” dan juga bersuka cita atas diselamatkannya 33 penambang di Copiapo (800 Kilometer utara ibu kota Santiago-Chile)

Dari dua kejadian yang berada di dua negara ini ada satu kesimpulan menurut penulis harus kita renungkan jika kita menjadi pemimpin yaitu bahwa seorang pemimpin itu harus bisa berada, melihat dan mendengar apa yang rakyat minta.
Kita bisa lihat bagaimana Presiden Chile, Sebastian Pinera turun langsung untuk memimpin tim penyelamatan ke-33 penampang di tempat langsung tanpa meninggalkan semenit pun sampai ke-33 penambang tersebut dilihatnya, bahkan beliau rela pulang-pergi Santiago-Copiapo hanya untuk melihat langsung evakuasi terhadap rakyatnya, apa yang di lakukan oleh Presiden Pinera ini mendapatkan pujian yang tinggi dari masyarakat dunia karena begitu baiknya Presiden ini dalam menjaga keharmonisan antara negara dengan rakyatnya yang telah memilihnya menjadi Presiden.

Apa yang di lakukan Presiden Pinera ini s
angat bertolak belakang atau berbanding 180 derajat dengan Presiden negara ini bahkan terkesan lambat tidak jauh seperti keong racun berjalan, kita bisa lihat ketika Presiden Pinera sudah mulai di TKP pertambangan begitu tahu bahwa rakyatnya sudah dua bulan di dasar bumi tetapi di negara kita pemimpin kita baru bertindak nyata ketika ucapan simpati terlontar dari mulut manis Menteri Luar Negeri Amerika Serikat yang juga mantan ibu negara, Hillary Rodham Clinton terhadap apa yang terjadi di Wasior, Papua.

Yang lebih parahnya lagi setelah ucapan simpati dari Menlu AS mewakili Pemerintah dan Warga Amerika Serikat bukannya sang pemimpin yang langsung menuju kesana tetapi memerintahkan anak buahnya (baca:Menteri) ke TKP untuk memantau keadaan dan memimpin peredaran bantuan dari pemerintah setelah itu baru sang Presiden datang ke sana dan bertahan lebih dua hari lebih mirisnya lagi sang pemimpin dan rombongan memilih tidur nyenyak di Kapal Perang ketimbang mendirikan tenda diantara pengungsi.

Pertanyaan sekarang adalah inikah yang dinamakan pemimpin yang di pilih rakyat ? bagi penulis apa yang di lakukan oleh Presiden Pinera adalah BENAR seorang pemimpin yang di pilih oleh nurani rakyatnya dan ia bisa menjawab dan membalas yang rakyat telah lakukan agar ia terpilih sedangkan pemimpin negara ini ?

Bukan Cuma kasus Wasior saja yang banyak dikritik karena pemimpin kita terkesan lambat dan hanya mengirim anak buah bukan datang langsung padahal secara nyata dia dipilih langsung oleh rakyat bukan lewat siapa pun. Kalau memang pemimpin kita selalu mengusung dan menghalalkan politik pencitraan seharusnya kasus Wasior ini sang Presiden kita sudah langsung datang ke TKP bukan menyuruh bawahannya untuk menc mencheck lokasi benar tidak ?!

Kemudian kalau memang beliau pemimpin yang di pimpin langsung oleh rakyat sebagai “penjaga” negara ini dari siapa pun kenapa ketika negara kita diacak-acak sama Malingsia kenapa Presiden yang katanya di pilih oleh rakyat seharusnya bisa bersikap tegas dan keras seperti ketika jaman Ir. Soekarno marah besar ketika Malngsia mencoba mengacak-acak Indonesia tetapi kenyataannya Presiden kita tidak lebih seperti (maaf) kerbau di cucuk hidungnya dengan mengatakan lebih baik berdialog karena mementingkan kepentingan dua negara tetapi fakta yang ada adalah negara Malingsia selalu dan selalu mengusik kehidupan negara ini.

Atau pemimpin kita di usik ketika akan berangkat untuk mengadakan kunjungan kenegaraan ke bekas negara jajahan, Belanda diusik dengan isu akan di tangkap jika mendarat di Bandara Internasional Schipool, Belanda dengan sangkaan pelanggaran HAM terhadap kawan-kawan yang tergabung dalam Republik Maluku Selatan-RMS padahal sebenarnya mudah kok kalau memang Beye tidak bermasalah kenapa harus membatalkan kunjungan walaupun di beberapa masyarakat ada yang memujinya demi harga diri bangsa, harga diri dari mana secara jelas dalam aturan protocol untuk kepala negara dan diplomat yang berlaku dimana ketika seorang kepala negara atau diplomat tidak bisa di tangkap ketika sedang berkunjung dan bekerja ke sebuah negara dan negara yang sedang dikunjungi pun harus bisa melindungi mereka dari segala macam apapun termasuk dari segi hukum ! kasus Beye dengan RMS ini seperti kasus diktator Chile, Pinochet yang berkunjung ke Inggris untuk medis ketika itu banyak yang meminta agar Pinochet di tangkap karena kasus HAM di negaranya tetapi FAKTANYA ! beliau bisa datang dan pulang dari Inggris dengan nyaman kerena status dia sebagai mantan kepala negara yang harus dihormati sesuai dengan Konvensi Vienna yang sampai sekarang berlaku di dunia Internasional terutama kalangan diplomat !!

Sudah saatnya Presiden kita lebih dekat lagi dengan rakyat kalau memang Presiden itu dipilih langsung rakyat bukan hanya ucapan saja kalau saya sebagai pemimpin dipilih rakyat tetapi nyatanya ketika rakyat sedang kesusahan pemimpinnya malah seperti abis makan cuci tangan tanpa ada merangkul rakyatnya..

Satu hal lagi yang namanya pemimpin itu ibarat Matahari yang setiap hari menyinari bumi dan isinya sama seperti Pemimpin harus bisa memberikan semangat hidup kepada rakyatnya Semoga di masa mendatang masih ada orang Indonesia yang terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia mau berbasah kuyup dan berpanas bersama, mau berkeringat bersama dengan rakyat bukan sekedar ucapan manis di bibir yang selalu mengatasnamakan rakyat tetapi nyatanya ?

Merdeka Selatan, 201010 15:54
Rhesza
Pendapat Pribadi

Senin, 11 Oktober 2010

Keledai itu Bernama...


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf..

Ada yang menarik ketika beberapa bulan lalu sebuah media menaikkan sebuah berita kalau semifinalis Piala Dunia Afrika Selatan 2010, Uruguay akan datang ke Jakarta dan menantang Timnas Merah Putih di Stadion Gelora Bung Karno-Senayan, ketika membaca berita itu penulis hanya tersenyum sungging dan berkata dalam hati bagus kalau benar tetapi palingan juga nasibnya tidak jauh berbeda dengan kasus batalnya tim setan merah, Manchester United yang di gembar-gemborkan datang ke Jakarta ternyata batal karena ada bom di dua hotel.

Berita itu ternyata bukan isapan jempol kaki belaka dan terbukti ketika satu-persatu pemain Uruguay menginjakan kakinya di lantai kedatangan luar negeri Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta walaupu tanpa kedatangan sang fenomenal dan selebritis Timnas Uruguay, Diego Forlan karena adanya kepentingan klubnya dan juga solidaritas terhadap kakaknya karena pekerjaan makelar pertandingan kakanya ini di berikan kepada orang lain.

Akhirnya pertandingan internasional itu pun berakhir dengan kemenangan sangat puas 1-7 oleh timnas Uruguay walaupun di awal-awal kita sempat unggul, lantas yang menjadi pertanyaan adalah inikah hasil dari program pelatnas yang di rancang oleh pelatih Timnas Alfred Riedl beberapa bulan lalu seperti layaknya pendaftaraan siswa baru dengan beberapa gelombang dengan kekalahan telak 1-7 dimana pemain kita seperti terhipnotis layaknya anak kecil yang mengagumi tokoh idola tanpa ada sedikit perlawan yang selalu mereka perlihatkan di ajang Indonesia Super League yang penuh trik dan intrik bahkan sering berujung keributan ?

Akibat kekalahan ini banyak pihak kecewa dengan permainan dari pada Timnas kita, ya jelas kecewa berat mereka capai-capai dari berbagai kota di Indonesia tanpa perbekalan apapun kemudian harus merogoh tiket masuk mulai dari Rp. 75,000 untuk kelas kambing yang berada di paling atas yang hampir dekat atap stadion hingga kelas mewah seharga Rp. 2 juta tanpa tahu itu duit darimana apakah hasil tabungan atau hasil menjual barang-barang pribadi atau nyopet di bus kota sampai (mungkin) mengkompas warga yang sedang melintas di sekitar komplek stadion dengan harapan uang yang mereka tukar dengan tiket itu sebanding dengan penampilan Bambang Pamungkas dan kawan-kawan bisa memberikan perlawanan seperti layaknya mereka bertarung di ISL dengan trik dan intrik tetapi nyatanya dan apakah ini PERNAH DIPIKIRKAN secara nurani dan otak yang sehat oleh Bambang Pamungkas dan kawan-kawan yang selalu di panggil Timnas ?

Kenapa sepak bola kita khususnya Tim Nasional Indonesia selalu dekat dan cinta yang namanya kekalahan dan kekalahan ? adakah yang salah dalam Timnas ini ? menurut penulis kenapa Timnas kita selalu dekat dan cinta dengan namanya kekalahan itu di karenakan para pengurus yang ngurusin sepak bola kita ini baik klub maupun federasinya tidak tahu bagaimana mengelola sepakbola itu benar tidak ?

Penyakit lama sepak bola kita adalah kurangnya pembinaan dan selalu mendewakan yang namanya instan-instant atau yang sudah jadi, kita bisa lihat bagaimana baru-baru ini kita disuguhkan dengan semacam revolusi kampungan ala PSSI dimana untuk meningkatkan kualitas sepak bola diataranya untuk mendongkrak point rangking FIFA serta bisa tempus pentas Piala Dunia adalah membedol desakan pemain-pemain bola yang dalam tubuhnya ada darah Indonesia yang berada di dunia seperti di dataran Eropa, kawasan Pasific untuk datang dan bermain dalam Timnas Indonesia, pertanyaannya adalah kalau memang itu terwujud apakah lantas Indonesia bisa berprestasi di dunia sepakbola Internasional ? mungkin bagi PSSI cara itu mudah seperti membuang kotoran yang ada di hidung padahal mereka tidak menyadari bagaimana kelakuan manusia jika di iming-imingi sesuatu pasti ada imbalannya apakah ini di perhatikan seperti jika pemain ini di minta untuk bermain dalam timnas Indonesia apakah mereka tidak meminta sesuatu seperti misalnya pemain ini harus dimasukkan dalam starting eleven padahal permainannya di bawah pemain lokal, terus ketika berada di Indonesia misalnya pemain naturalisasi ini minta apartemen dengan fasilitas layaknya pemain ini tinggal di negaranya kemudian uang saku selama mereka di Jakarta apakah ini pernah di pikirkan dalam otak para pengurus PSSI kalau iya lantas dana dari mana sementara untuk membayar uang juara sebuah klub yang menangi turnament saja masih senin-kamis alirannya seperti yang terjadi pada sebuah klub peserta ISL !

Sebenarnya PSSI dan klub tidak mampu menciptakan pembinaan usia dini tetapi mereka malu mengungkapkan ke 200 juta pecinta sepak bola nasional, kenapa penulis mengatakan itu ini terkait dengan ucapan seorang pejabat PSSI kepada seorang jurnalis ketika di wawancarai sebuah radio dimana seorang jurnalis ini pernah mengatakan kepada salah satu pejabat PSSI kenapa timnas kita selalu kalah termasuk yang terakhir di Solo kemarin oleh “anak kemarin sore” Timor Leste lantas sang pejabat ini berujar bahwa mereka TIDAK PUNYA STOK PEMAIN !!!

Menurut penulis sudah waktunya sepakbola kita kembali ke jalan yang benar seperti jaman keemasan era Bung Karno dan Soeharto bagaimana caranya yaitu : Pertama, BUBARKAN pengurus PSSI yang ada saat ini dan sukur-sukur para pengurus ini terutama 4 sekawan ini ( NH, NB, ADT, NDB ) ini di beri stempel layaknya tahanan politik jaman kakek Cendana supaya mereka tahu akan dosa mereka yang telah menciderai sportivitas sepakbola yang diagungkan oleh FIFA, atau kalau negara kita seperti Korut mungkin 4 sekawan ini nasibnya tidak jauh berbeda dengan pemain korut yang bermain di Piala Dunia kemarin yang langsung di buang ke pertambangan sebagai kuli panggul dan di jemur panas terik selama 6 jam setiap hari karena gagal melaju ke babak kedua !!

Kedua, Lupakan Timnas Senior..Lupakan yang namanya Bepe dan kawan-kawan tiru Timor Leste ? pasti pembaca bingung dengan cara penulis nomor dua ini dalam memperbaiki kualitas sepakbola Indonesia, artinya bukan maksud untuk mencemarkan atau melupakan prestasi Bepe tetapi sudah saatnya kita melihat siapa selanjutnya yang menggantikan Bepe dan rekan-rekan yang sekarang main di Timnas dalam dua sampai sepuluh tahun ke depan dan kenapa kita harus tiru Timor Leste karena Timor Leste negara baru di dunia ini sekarang lebih konsentrasi kepada pembinaan pemain muda daripada seniornya dan mereka mengakui kalau mereka tidak mempunyai dana untuk membina pemain muda dan menjual “kesepakbolaan” mereka kepada pihak swasta yang mau membantu dan sekarang mereka bergantung pada sponsor bahkan kabarnya pelatih Timnas Timor Leste yang kemarin mengalahkan Timnas kita di Solo TIDAK DIBAYAR oleh PSSI-nya Timor Leste tetapi oleh sponsor sedangkan kita ?

Ketiga, masih terkait nomor dua, kiranya PSSI lebih fokus dalam menyusun kurikulum kompetisi terutama kompetisi usia dini kalau memang PSSI tidak mampu dan tidak sanggup dalam menysusun dan mennjalankan program kompetisi usia dini lebih baik PSSI jual kompetisi usia dini lewat tender ke publik dan PSSI hanya mengawasi saja.karena tanpa ada pembinaan usia dini mulai U-10, U12, U-14, U15 hingga U-23 maka tidak akan ada yang namanya prestasi benar tidak ?

Mau sampai kapan sepakbola kita ini layaknya pertandingan yang ujung-ujungnya kalah dan selalu menjadi pecundang, ibarat binatang KELEDAI saja CUKUP 2 kali masuk dalam lubang yang sama lalu bangkit lantas kalau seperti ini SIAPA yang KITA SEBUT KELEDAI itu….. ? (silakan presentasikan apa yang anda mau)

Selamatkan Sepak bola Indonesia dari orang-orang yang bermental lebih parah dari keledai…

GBK Std, 111010 16:40
Rhesza
Pendapat Pribadi