Senin, 11 Oktober 2010

Keledai itu Bernama...


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf..

Ada yang menarik ketika beberapa bulan lalu sebuah media menaikkan sebuah berita kalau semifinalis Piala Dunia Afrika Selatan 2010, Uruguay akan datang ke Jakarta dan menantang Timnas Merah Putih di Stadion Gelora Bung Karno-Senayan, ketika membaca berita itu penulis hanya tersenyum sungging dan berkata dalam hati bagus kalau benar tetapi palingan juga nasibnya tidak jauh berbeda dengan kasus batalnya tim setan merah, Manchester United yang di gembar-gemborkan datang ke Jakarta ternyata batal karena ada bom di dua hotel.

Berita itu ternyata bukan isapan jempol kaki belaka dan terbukti ketika satu-persatu pemain Uruguay menginjakan kakinya di lantai kedatangan luar negeri Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta walaupu tanpa kedatangan sang fenomenal dan selebritis Timnas Uruguay, Diego Forlan karena adanya kepentingan klubnya dan juga solidaritas terhadap kakaknya karena pekerjaan makelar pertandingan kakanya ini di berikan kepada orang lain.

Akhirnya pertandingan internasional itu pun berakhir dengan kemenangan sangat puas 1-7 oleh timnas Uruguay walaupun di awal-awal kita sempat unggul, lantas yang menjadi pertanyaan adalah inikah hasil dari program pelatnas yang di rancang oleh pelatih Timnas Alfred Riedl beberapa bulan lalu seperti layaknya pendaftaraan siswa baru dengan beberapa gelombang dengan kekalahan telak 1-7 dimana pemain kita seperti terhipnotis layaknya anak kecil yang mengagumi tokoh idola tanpa ada sedikit perlawan yang selalu mereka perlihatkan di ajang Indonesia Super League yang penuh trik dan intrik bahkan sering berujung keributan ?

Akibat kekalahan ini banyak pihak kecewa dengan permainan dari pada Timnas kita, ya jelas kecewa berat mereka capai-capai dari berbagai kota di Indonesia tanpa perbekalan apapun kemudian harus merogoh tiket masuk mulai dari Rp. 75,000 untuk kelas kambing yang berada di paling atas yang hampir dekat atap stadion hingga kelas mewah seharga Rp. 2 juta tanpa tahu itu duit darimana apakah hasil tabungan atau hasil menjual barang-barang pribadi atau nyopet di bus kota sampai (mungkin) mengkompas warga yang sedang melintas di sekitar komplek stadion dengan harapan uang yang mereka tukar dengan tiket itu sebanding dengan penampilan Bambang Pamungkas dan kawan-kawan bisa memberikan perlawanan seperti layaknya mereka bertarung di ISL dengan trik dan intrik tetapi nyatanya dan apakah ini PERNAH DIPIKIRKAN secara nurani dan otak yang sehat oleh Bambang Pamungkas dan kawan-kawan yang selalu di panggil Timnas ?

Kenapa sepak bola kita khususnya Tim Nasional Indonesia selalu dekat dan cinta yang namanya kekalahan dan kekalahan ? adakah yang salah dalam Timnas ini ? menurut penulis kenapa Timnas kita selalu dekat dan cinta dengan namanya kekalahan itu di karenakan para pengurus yang ngurusin sepak bola kita ini baik klub maupun federasinya tidak tahu bagaimana mengelola sepakbola itu benar tidak ?

Penyakit lama sepak bola kita adalah kurangnya pembinaan dan selalu mendewakan yang namanya instan-instant atau yang sudah jadi, kita bisa lihat bagaimana baru-baru ini kita disuguhkan dengan semacam revolusi kampungan ala PSSI dimana untuk meningkatkan kualitas sepak bola diataranya untuk mendongkrak point rangking FIFA serta bisa tempus pentas Piala Dunia adalah membedol desakan pemain-pemain bola yang dalam tubuhnya ada darah Indonesia yang berada di dunia seperti di dataran Eropa, kawasan Pasific untuk datang dan bermain dalam Timnas Indonesia, pertanyaannya adalah kalau memang itu terwujud apakah lantas Indonesia bisa berprestasi di dunia sepakbola Internasional ? mungkin bagi PSSI cara itu mudah seperti membuang kotoran yang ada di hidung padahal mereka tidak menyadari bagaimana kelakuan manusia jika di iming-imingi sesuatu pasti ada imbalannya apakah ini di perhatikan seperti jika pemain ini di minta untuk bermain dalam timnas Indonesia apakah mereka tidak meminta sesuatu seperti misalnya pemain ini harus dimasukkan dalam starting eleven padahal permainannya di bawah pemain lokal, terus ketika berada di Indonesia misalnya pemain naturalisasi ini minta apartemen dengan fasilitas layaknya pemain ini tinggal di negaranya kemudian uang saku selama mereka di Jakarta apakah ini pernah di pikirkan dalam otak para pengurus PSSI kalau iya lantas dana dari mana sementara untuk membayar uang juara sebuah klub yang menangi turnament saja masih senin-kamis alirannya seperti yang terjadi pada sebuah klub peserta ISL !

Sebenarnya PSSI dan klub tidak mampu menciptakan pembinaan usia dini tetapi mereka malu mengungkapkan ke 200 juta pecinta sepak bola nasional, kenapa penulis mengatakan itu ini terkait dengan ucapan seorang pejabat PSSI kepada seorang jurnalis ketika di wawancarai sebuah radio dimana seorang jurnalis ini pernah mengatakan kepada salah satu pejabat PSSI kenapa timnas kita selalu kalah termasuk yang terakhir di Solo kemarin oleh “anak kemarin sore” Timor Leste lantas sang pejabat ini berujar bahwa mereka TIDAK PUNYA STOK PEMAIN !!!

Menurut penulis sudah waktunya sepakbola kita kembali ke jalan yang benar seperti jaman keemasan era Bung Karno dan Soeharto bagaimana caranya yaitu : Pertama, BUBARKAN pengurus PSSI yang ada saat ini dan sukur-sukur para pengurus ini terutama 4 sekawan ini ( NH, NB, ADT, NDB ) ini di beri stempel layaknya tahanan politik jaman kakek Cendana supaya mereka tahu akan dosa mereka yang telah menciderai sportivitas sepakbola yang diagungkan oleh FIFA, atau kalau negara kita seperti Korut mungkin 4 sekawan ini nasibnya tidak jauh berbeda dengan pemain korut yang bermain di Piala Dunia kemarin yang langsung di buang ke pertambangan sebagai kuli panggul dan di jemur panas terik selama 6 jam setiap hari karena gagal melaju ke babak kedua !!

Kedua, Lupakan Timnas Senior..Lupakan yang namanya Bepe dan kawan-kawan tiru Timor Leste ? pasti pembaca bingung dengan cara penulis nomor dua ini dalam memperbaiki kualitas sepakbola Indonesia, artinya bukan maksud untuk mencemarkan atau melupakan prestasi Bepe tetapi sudah saatnya kita melihat siapa selanjutnya yang menggantikan Bepe dan rekan-rekan yang sekarang main di Timnas dalam dua sampai sepuluh tahun ke depan dan kenapa kita harus tiru Timor Leste karena Timor Leste negara baru di dunia ini sekarang lebih konsentrasi kepada pembinaan pemain muda daripada seniornya dan mereka mengakui kalau mereka tidak mempunyai dana untuk membina pemain muda dan menjual “kesepakbolaan” mereka kepada pihak swasta yang mau membantu dan sekarang mereka bergantung pada sponsor bahkan kabarnya pelatih Timnas Timor Leste yang kemarin mengalahkan Timnas kita di Solo TIDAK DIBAYAR oleh PSSI-nya Timor Leste tetapi oleh sponsor sedangkan kita ?

Ketiga, masih terkait nomor dua, kiranya PSSI lebih fokus dalam menyusun kurikulum kompetisi terutama kompetisi usia dini kalau memang PSSI tidak mampu dan tidak sanggup dalam menysusun dan mennjalankan program kompetisi usia dini lebih baik PSSI jual kompetisi usia dini lewat tender ke publik dan PSSI hanya mengawasi saja.karena tanpa ada pembinaan usia dini mulai U-10, U12, U-14, U15 hingga U-23 maka tidak akan ada yang namanya prestasi benar tidak ?

Mau sampai kapan sepakbola kita ini layaknya pertandingan yang ujung-ujungnya kalah dan selalu menjadi pecundang, ibarat binatang KELEDAI saja CUKUP 2 kali masuk dalam lubang yang sama lalu bangkit lantas kalau seperti ini SIAPA yang KITA SEBUT KELEDAI itu….. ? (silakan presentasikan apa yang anda mau)

Selamatkan Sepak bola Indonesia dari orang-orang yang bermental lebih parah dari keledai…

GBK Std, 111010 16:40
Rhesza
Pendapat Pribadi

Kamis, 07 Oktober 2010

Sudah Sejahterakah Prajurit Kita ?


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf

Pertama-tama penulis ingin menghaturkan selamat ulang tahun kepada Tentara Nasional Indonesia yang tanggal 5 Oktober ini berulang tahun ke-65 semoga TNI ke depan bisa lebih professional dan kiranya para Jenderal di atas lebih peka dan lebih memperhatikan “perut” daripada prajurit-prajurit beserta keluarganya terutama yang berada di garis perbatasan dan pulau-pulau luar yang di miliki oleh Indonesia.

Berbicara soal TNI apalagi soal non teknis maka tidak akan ada habisnya walaupun sudah berulang kali di katakan akan memenuhi tetapi tetap saja, penulis tidak akan membandingkan kondisi non teknis ataupun teknis daripada kondisi tentara kita sekarang dengan yang lalu jaman Indonesia awal-awal kemerdekaan hingga menjelang Reformasi.

Kita bisa lihat ketika jaman awal-awal kemerdekaan hingga menjelang reformasi tentara kita solid bahkan di takuti oleh semua negara yang mencoba merusak kedaulatan rakyat dan negara ini, ketika Malaysia ingin mencoba-coba negara ini sang Proklamator dengan lantang menantang tetangganya untuk berperang bahkan rakyat Indonesia kala itu sudah siap untuk mati demi utuhnya negara ini tetapi nyatanya sekarang ? ketika kapal perang tetannga sebelah sedang test mesin beberapa inchi saja rakyat sudah marah tetapi Jenderal dan Pangliman Tertinggi di negara ini (baca: RI-01) hanya diam dan diam benar tidak ?

Kalau bicara soal tentara penulis merasa miris dengan kehidupan daripada prajurit tersebut, kita bisa lihat bagaimana para prajurit kerja dan berjibaku demi utuhnya kedaulatan rakyat tetapi tidak berbarengan dengan kebutuhan mereka sehari-hari dalam hal ini urusan perut, apakah kehidupan atasan mereka sama dengan kehidupan mereka ? ternyata berbeda 180 derajat dimana sang atasan hidup nyaman dan tergolong mewah sedangkan prajuritnya ?

Penulis pernah membaca sebuah artikel tentang kesejahteraan prajurit dimana kesejahteraan perut untuk prajurit pangkat bawah misalnya Kopral yang telah bekerja selama 12 tahun yang memiliki istri dan anak mendapatkan penghasilan sebesar Rp. 856, 376 dengan rincian berupa gaji pokok sebesar Rp. 212, 300, tunjangan istri Rp. 21,230, tunjangan anak Rp. 4,246, tunjangan beras Rp. 52,900, tunjangan perbaikan penghasilan Rp. 255,700 dan uang lauk pau sebesar Rp. 310,000; jika melihat ini pertanyaannya adalah apakah cukup untuk sebulan dengan anggota keluarga 1 istri dan 2 anak walaupun berapa kali sudah di naikkan ?

Sayangnya penulis tidak mendapatkan sampai saat ini rincian gaji daripada para perwira mulai pangkat Letnan hingga Panglima tetapi yang pasti sangat berat sebelah jika melihat situasi yang penulis katakana di atas apakah ini seimbang dengan tuntutan yang diberikan negara dan masyarkat dalam menjaga negara ini ?

Kalau dilihat sebenarnya yang namanya TNI ini dalam hal anggaran cukup besar kita bisa lihat ketika jaman kakek dinasti cendana berapa banyak yayasan yang dibuat dan dikelola untuk tentara dengan label untuk kesejahteraan rakyat tetapi nyatanya kemana dana itu saat ini apakah masih tersimpan didalam kas dan bertambah serta di akhir tahun buku di bagi-bagikan ke semua prajurit termasuk prajurit pangkat bawah atau sudah entah kemana itu uangnya digunakan atau jangan-jangan dana itu di gunakan untuk kehidupan pensiun daripada para jenderal ini.

Kalau negara ini benar-benar bergantung daripada kerja para prajurit pangkat bawah dalam menjaga kedaulatan negara ini seperti yang berjaga di perbatasan Indonesia dengan negara-negara asing atau berada di pulau-pulau terluar Indonesia kiranya alokasi untuk perut mereka dan keluarga serta peralatan agar di lebihkan porsinya daripada budget ( baca: gaji) untuk para perwira menengah hingga Jenderal karena bagi penulis buat apa gaji sebesar itu untuk para perwira menengah seperti Letnan hingga Jenderal kalau kerjanya tiap hari hanya datang ke Markas masuk ruangan duduk di depan computer atau baca dan tanda tangan laporan tentang keamanan negara ini tanpa pernah turun ke lapangan, menginap dan melihat kondisi para prajurit pangkat bawah dalam keseharian mereka ketika mereka berdinas atau sedang mencengkrama dengan istri dan anak benar tidak ?!

Sudah saatny negara tetapi yang lebih penting adalah para perwira menengah sampai ke Jenderal lebih mengagendakan anggaran lebih besar untuk teknis TNI seperti peralatan dan perlengkapan penunjang dan juga “perut” para prajurit kalau perlu anggaran “perut” untuk perwira menengah hingga Jenderal dipangkas demi tersejahtera dan terjaganya negara ini jika anggaran itu tidak bisa di laksanakan apakah itu bisa di jalankan oleh para perwira menengah hingga jenderal ini ?

Selamat Ulang tahun Tentara Nasional Indonesia ke-65 semoga tambah sukses, tidak melakukan politisasi ketika masuk pensiun serta tambah professional…

Cilangkap 051010 17:00
Rhesza
Pendapat Pribadi

Malu Punya Ketua MPR…


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf

Ada yang menarik ketika menyaksikan upacara kenegaraan yang selalu di laksanakan tiap tahun menjelang ulangtahun Tentara Nasional Indonesia-TNI yaitu Hari Kesaktian Pancasila dimana untuk menghormati tewasnya 7 Jenderal yang diculik dan dibuang ke sebuah lubang di sebuah kebun kosong di daerah Lubang Buaya-Jakarta Timur, yaitu pada saat pembacaan pembukaan UUD 1945 yang di bawakan oleh sang Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Indonesia, Bapak Taufik Kiemas sedikit melenceng daripada yang sudah di rancang oleh para bapak pendiri negara ini.

Bapak Taufik Kiemas (selanjutnya kita sebut, TK) melakukan kesalahan pada alinea kedua pembukaan UUD 1945 dimana kalau teks asli alinea kedua Pembukaan UUD 1945 adalah “Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah pada saat yang berbahagia, dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia...." tetapi oleh TK alinea kedua Pembukaan itu diganti menjadi "Bahwa perjuangan pergerakan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia..."dengan terputus-putus.

Masih terkait dalam itu juga TK melakukan kesalahan lagi kali ini isi Sila Ketiga Pancasila yang seharusnya “Persatuan Indonesia “ tetapi di mulut TK pasal ketiga Pancasila berubah menjadi Persatuan Indonesia yang dipimpin oleh hikmat. Kemudian pada isi pasal kelima Pancasila yang seharusnya “"Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia." Kembali di bibir sang TK berubah menjadi "Keadilan sosial bagi bangsa Indonesia."

Tetapi dasar pejabat di negara ini ketika ditanya banyak orang terutama kawan-kawan jurnalis kenapa beliau membacakan Pembukaan UUD 1945 itu belepotan ? TK hanya menjawab tanpa rasa bersalah menjawab “ Biasa, namanya juga orang tua. Agak salah bacanya “ kemudian ketika ditanya lagi apakah teks yang dibacakannya itu berukuran kecil sehingga membuat salah membacanya tetapi TK berkilah bahwa tulisannya besar hanya dialah yang salah membaca..

Ketika melihat situasi ini yang ada dalam pikiran penulis adalah ada dua yaitu pertama, untungnya negara ini bukan negara beralatar belakang komunis dan yang kedua sebagai warga malu punya pejabat negara yang seharusnya menjadi panutan ternyata memalukan. Kalau ditanya kenapa dua alasan yang penulis utarakan diaata yaitu pertama, kenapa penulis mengatakan negara ini Republik Indonesia bukanlah negara Komunis karena kalau Republik Indonesia ini beraliran komunis berarti tindakan yang dilakukan oleh TK ini penghianat negara dan itu bisa langsung di DOR sekarang juga ketika beliau salah membacakannya benar tidak ? kemudian asalan kedua kenapa penulis malu punya pejabat dengan apa yang dilakukannya, kita tahu bahwa TK ini adalah mantu daripada bangsa bangsa negara ini yaitu Ir. Soekarno yang ikut juga merancang UUD 1945 termasuk Pembukaannya.

Bagi penulis apapun alasan beliau terhadap kesalahannya dalam membaca pembukaan bukanlah sekedar alasan karena factor umur atau apapun karena posisi beliau adalah pejabat, seperti kita tahu yang namanya pejabat adalah panutan bagi semua orang, apa jadinya tindakan yang di lakukan ini akan di ikuti oleh semua orang termasuk anak-anak kecil yang sekarang semakin kreatif jangan-jangan ketika anak-anak itu salah membacakan urutan pembukaan UUD1945 kemudian di tegur oleh orangtua atau gurunya kalau itu salah, kemudian sang anak mengatakan “ kenapa aku dimarahin, sedangkan Bapak Taufik Kiemas saja tidak pernah di marahin “ lantas siapa yang harus diminta pertanggung jawaban terhadap jika melihat perbandingan ini ?

Kita semua tahu bahwa anak-anak sekolah kita saat ini ketika di Tanya soal negara ini pasti selalu belepetan atau tidak tahu sama sekali, kalau tidak percaya cobalah Tanya sekarang adakah yang tahu urutan Pancasila atau tanggal berapa hari Pahlawan atau hari Sumpah Pemudah pasti jawabannya belepetan sama seperti apa yang dilakukan oleh TK benar tidak ?

Sudah saatnya para pejabat negara ini untuk lebih bersikap dan menjaga kelakuannya ketika di forum-forum acara kenegaraan jangan sampai kejadian TK ini terjadi kembali karena bagi penulis kejadian yang terjadi sama TK sangat fatal sekali dan ini bukan yang pertama kalinya beliau melakukan…

Thamrin, 041010 17:05
Rhesza
Pendapat Pribadi

Antara AIDS dan Tifatul


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf

Setiap Menteri Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia, Yang Mulia Tuan Tiffatul Sembiring melakukan kegiatan “kicauan” (baca: Tweet) di twitternya pasti selalu mengundang kehebohan termasuk yang satu ini.

Kehebohan itu ketika sang menteri ini berkicau tentang HIV/ AIDS dimana ada beberapa yang menurut para twitter’s agak janggal dan sepertinya mencoba menggurui semua masyarakat karena merasa dia paling benar.

Ada beberapa point tweet yang menurut penulis dan (mungkin) janggal seperti kicauan beliau nomor dua dimana beliau mengatakan dengan mengutip dari sebuah harian ibukota dimana "Penyebab HIV/AIDS dr Kaum Gay Meningkat Tajam". Kata dokter: perilaku seks yg menyimpang adalah sbg penular virus tsb benar kah demikian ? kalau seperti ini dsara-dasar HIV/AIDS itu datang berarti DANGKAL sekali pemahaman seorang Menteri tentang HIV/AIDS padahal semua orang tahu bahwa penyebab penularan HIV/AIDS itu sendiri bukan Cuma hanya lewat kaum gay tetapi juga lewat penggunaan jarum suntik yang berlebihan oleh pengguna narkoba, selain itu juga salah satu dari pasangannya terinfeksi HIV/AIDS.

Kemudian satu hal yang menggelitik penulis dan (mungkin) semua orang adalah ketika tuidnya mengatakan bahwa kepanjangan AIDS itu adalah Akibat Itunya Dipakai Sembarangan, maksudnya apa coba ? dari semua soal tuider itu penulis hanya bisa berkata KOK BISA MANUSIA SEPERTI INI DIPILIH MENJADI MENTERI ?!

Kasus GA BANGET yang di lakukan oleh seorang Tifatul ini bukan yang pertama kalinya ia lakukan selama beliau menjabat sebagai menteri, mungkin kita semua tahu ketika awal-awal menjadi menteri dimana beliau langsung mengeluarkan perangkat hokum yang bernama Rancangan Peraturan Menteri atau kita kenal dengan RPM Konten dimana semua perangkat elekteronik seperti jaringan social pertemanan, blog dan lainnya akan di awasi oleh pemerintah jika di dalamnya terkait dengan pornografi dan penghasutan karena kalau tidak salah perangkat UU ini keluar ketika sedang marak aksi teroris, akhirnya kasus perangkat UU ini tidak terdengar lagi karena adanya gelombang “Tsunami” lewat jejaring social twitter yang dilontarkan masyarakat penikmat dunia maya, kemudian ada lagi kehebohan dimana ketika marak kasus video selangkangan artes sang menteri ini dengan berapi-api mengatakan akan mengawasi peredaran lalu lintas dunia maya bahkan dengan lantang akan menutup semua situs-situs atau apapun yang berkaitan dengan pornografi di internet dalam waktu dua bulan yaitu sebelum akhir Agustus atau sebelum hari pertama bulan puasa tetapi faktanya sampai satu minggu bulan puasa masih saja situs-situs pornografi baik itu web site atau blog yang terakses bebas, kemudian masih terkait dengan kasus video ini dimana sang menteri mencoba mengkaitkan dengan perumpamaan dalam agama..

Selain soal twitt-twittnya ada lagi kebiasaan beliau yang selalu memblokir orang-orang yang tidak berkenan dengan “omongan” beliau di jejaring social, setidaknya menurut penulis sudah ada dua orang yang di blok atau di coret dalam kumpulan tuidernya seperti Fadjroel Rahman dan sutradar Laskar Pemimpi, Monty Tiwa karena mereka mengkritik terhadap tuidernya sangat kontras sekali dimana negara kita sudah reformasi tetapi kok masih saja ada orang yang bermental menurut penulis seperti kumpulan pejabat-pejabat orde baru asuhan kakek cendana yang selalu benar dan tidak bisa di kritik apalagi dengan jantan mengeluarkan kata maaf dan sifat inilah yang mungkin ada dalam benak sang Menteri.

Kalau memang isu pergantian menteri dan rakyat boleh di suruh siapa yang harus di lengserkan maka penulis akan merekomendasikan menteri ini sebagai urutan pertama yang harus diganti oleh Presiden karena kredibilitasnya tidak sesuai dengan apa yang dibebankan ibarat halusnya ya seperti pejabat ABS gaji buta alias Asal Bapak Senang bergaji buta karena bingung apa yang harus di kerjakan walaupun sebenarnya latar belakang pendidikannya tidak jauh berbeda dengan pekerjaannya sekarang tetapi tetap bagi penulis beliau tidak berkualitas karena factor politis jadinya mau tidak mau harus di pilih benar tidak ?!

Apakah pejabat ini akan selalu membuat sensasi yang GA BANGET besok-besok atau sensasi yang GA BANGET ini menjadi sensasi terakhir sebagai pejabat (baca: di PECAT) ? kita lihat saja nanti..

Tifatul oh Tifatul….

Merdeka Selatan, 011010 17:05
Rhesza
Pendapat Pribadi