Sabtu, 28 Agustus 2010

Sebuah Kisah dari Lantai 14


Waktu terasa semakin berlalu tinggalkan cerita tentang kita

Kisah ini berawal di Hari Jumat, 28 Agustus 2009 Pkl 14:00 Lantai 14 di sebuah gedung bertitel Menara di kawasan Thamrin. Tanggal itu adalah mungkin hari bersejarah bagi kita semua, sebelum tanggal itu kita tidak tahu apa dan bagaimana kawan-kawan, yang kita hanya tahu adalah kita adalah orang-orang yang di pilih dan diminta bantuannya untuk acara Bangkit Beraksi setelah diseleksi hasil syarat yang di minta

Di tanggal itulah kita semua dipersatukan dan diperkenalkan kepada NGO-NGO bahwa kita-kita ini adalah team inti yang akan membantu NGO-NGO dalam menyelenggarakan program Stand Up Take Action Bangkit Beraksi MDGs dan kebetulan di tanggal itu pun suasana bulan Ramadhan pun terasa

Selanjutnya ada banyak cerita yang mungkin tidak dilupakan dari ruangan itu,

Awal mulai bekerja sudah dihebohkan dengan Gempa Tasikmalaya, tanpa pikir panjang lari begitu dari tangga darurat sampai ke lantai dasar bahkan ada yang lari sambil menenteng sepatunya dan akibatnya ada satu orang yang harus absen beberapa hari untuk menghapus traumanya tetapi karena traumanya sering diisengi oleh kawan-kawan dengan kata-katanya “ kayaknya goyang dach” begitu dengar kata-kata itu kawan yang satu ini langsung merinding ketakutan huahahahaha…siapa tuch ? :-D Kemudian harus kena gempa lagi tetapi sepertinya mau tidak mau harus bisa menyesuaikan diri bahkan ikut membantu beberapa karyawan yang ketakutan..ada kejadian lucu ketika gempa yang kedua kalinya dimana semua penghuni yang bekerja di Lantai 14 bertahan di dalam ruangan, ketika sudah berakhir gempa dan akan turun untuk mengantarkan sebuah paket ke gedung di depan tiba-tiba tak disangka-sangka di pelataran teras kantor (bawah) sudah duduk manis seorang bapak (maaf) agak…. dan Berkaca mata agak turun Sambil menggigit tusuk gigi dengan santainya menyapa “ mau kemana ?” (tau donk siapa itu ?) hehehe…

Dalam hal bekerja pun kita harus bersabar hingga dua minggu karena peralatan yang menunjang pekerjaan belum tersedia tetapi seiring dengan waktu pun peralatan penunjang pun mulai tersedia bahkan sempat terputus karena kelupaan membayar salah satu tagihan…

Melihat perilaku sehari-hari team 15+3 ini beraneka macam rupanya ada yang kelakuannya selalu perfectsionis dalam melakukan pekerjaan tetapi tidak bisa nyatu bekerja dalam tim, ada yang kelakuannya seperti anak kecil dan membuat satu kantor gregetan ketika ia berbicara atau melakukan sesuatu, ada hobbi datang pagi seperti layaknya PNS teladan tapi pulangnya juga paling awal tapi ga jelas satu hari itu dia sudah kerjain apa saja, ada juga yang hoby nonton film secara streaming di internet, kemudian ada juga yang dari pagi begitu datang langsung absen peternakannya apakah ada panen atau tidak kalau tidak liat konser-konser musik atau video-video lucu lewat jaringan cutube, ada yang datang hanya siang, atau ada yang datang ke kantor pemerintahan untuk mengurus perijinan untuk acara tetapi pakaian yang digunakan tidak sesuai ketika berkunjung dimana harus formal tetapi orang ini malah berkunjung dengan pakai t-shirt dan celana jeans hitam dengan sepatu kanvas, ada yang datang beberapa minggu menjelang acara besar dimulai, atau ada beberapa orang yang kalau berbicara selalu menggunakan bahasa yang hanya mereka dan Tuhan yang tahu dan kita semua tinggal planga-plongo saling melihat jika mereka ini berbicara, atau ada yang ngomel karena dana penggantian yang selama ini dia keluarkan tidak dikabulkan dan hanya diberikan sepersekian rupiah saja, atau ada yang disuruh tidak tidur dan dijadikan alarm hidup ketika menjelang detik-detik Hari H dan masih banyak lagi tingkah laku dari team 15+3 ini

Dari semua itu kita jalani dengan penuh riang, tawa dan tanpa ada emosi walaupun menjelang detik-detik hari H kita selalu tegang bahkan sedikit emosian tetapi itulah bagian dari kerja kita semua kawan demi satu acara yang dituntut harus sukses…

HARI INI TEPAT SATU TAHUN kita tidak pernah bertemu lagi kawan, tidak pernah bercerita lagi, tidak pernah bercanda lagi, tidak pernah merokok bersama lagi di tangga darurat, tidak pernah minum kopi bersama lagi, tidak pernah memesan makanan di lantai 10 lagi, tidak pernah lagi makan di samping gedung Bawaslu, tidak pernah rebutan telepon, mesin photocopy atau fax lagi, tidak pernah lagi suruh-suruhan pinjam dan balikin kalkulator dari ruang sekreatris lantai 14, tidak ada pulang naik busway bersama lagi, tidak ada makan gorengan bersama lagi di ruang rapat, tidak ada makan empek-empek bangka bersama lagi diruangan sekretariat, tidak ada lagi bolak-balik lantai 14 ke lantai 3 sampai 5 sambil nenteng troli untuk angkut berpuluh-puluh karung yang isinya kain, baju lagi, tidak ada lagi rebutan saklar untuk charger laptop atau handphone, tidak ada lagi yang bertanya “kalian hari ini sampai jam berapa ?” karena kita sudah mempunyai kesibukan masing-masing, seperti sebuah lirik lagu dimana kalian semua sangat berarti istimewa dihati, di satu tahun itu ada banyak cerita tentang aku, kau, dia atau siapa pun yang ada di ruangan itu, ada cerita masa-masa indah..

Dalam dua bulan saja bisa akrab dan bersama seperti satu keluarga dengan kalian tetapi akan susah juga melupakan kalian semua dan itu butuh cukup waktu lama, dan kisah dari Lantai 14 sebuah Menara di kawasan Thamrin ini akan menjadi sebuah Kisah Klasih untuk masa depan yang sangat dan paling terindah

Salam peluk besar untuk kalian semua kawan-kawan lantai 14 yang tergabung dalam SUTA MDGs INDONESIA 2009….

Kisah ini untuk kalian kawan-kawan Lantai 14 : Agung, Santie, Deska, Dina, Sammy, Ridwan, Uwie, Ferry, Irwan, Nuri, Thea, Temint, Ratri, Tiko, Andrie, Resta, Rina, Winda, Pak Adila, Pak Lexy, Pak Stanis, Mbak Niken dan untuk buat Bang Wilson dan Mbak Karlina terima kasih atas kesempatan dan kepercayaannya untuk bisa bergabung dalam team ini dan juga bisa berkumpul seperti layaknya satu keluarga sekali lagi terima kasih..


14th Floor, 280810 14:00

Benarkah Pemimpin Kita (maaf) BANCI !!!


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf.

Kata yang penulis tulis dengan huruf kapital itu penulis dapat ketika sedang menyaksikan sebuah program televisi yang meminta pendapat masyarakat Indonesia terhadap berita yang disuguhkan oleh pihak stasiun televisi (24/8) dan salah satu anggota masyarakat asal Makassar dengan lantang mengatakan kata itu terutama kepada pemimpin tertinggi di negara ini terkait dengan masalah yang saat ini sedang panas-panasnya yaitu tentang ulah Malaysia yang selalu mengganggu kedaulatan negara kita.

Ketika kata ini terlontar dari masyarakat yang mengikuti program tersebut penulis agak kaget tetapi kalau dipikir memang ada benarnya kenapa orang ini mengeluarkan kata itu, kita bisa lihat negara ini setiap hari ada saja masalah yang muncul tetapi tidak pernah ada penyelesaiannya baik itu dengan tegas atau apapun selalu dibuat gantung dengan diakhiri kata-kata manis daripada pemimpin ini selanjutnya hilang begitu saja sampai ada lagi kejadian.

Seperti contoh, sebelum memasuki bulan puasa harga-harga kebutuhan pokok naik pesat laksana roket yang siap ke Bulan tetapi dari pemerintah kita sendiri seperti Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian serta Kementerian Perekonomian tidak ada upaya menekan atau menstabilkan harga-harga ini dengan konkret dan nyata yang ada malah di biarkan berlarut-larut hingga Presiden berbicara baru mereka kerja tetapi tetap saja sampai sekarang harga kebutuhan pokok masih saja merajalela.

Atau seperti kasus tabung gas, banyak pihak menyalahkan Pertamina sebagai biang dari kasus ini tetapi Pertamina sendiri berdalih bahwa bukan tugas dan wewenang mereka untuk menginvestigasi kasus tabung ini karena prosedur tabung itu ada di Kementerian Perindustrian dan juga Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, seharusnya Presiden bisa memberikan keleluasaan kerja kepada Pertamina dalam mengelola Minyak bumi tetapi nyatanya hanya bermanis-manis saja dibibir !

Kemudian kasus Ahmadiyah dan juga Kasus penolakan kegiatan ibadah yang dilakukan jemaat HKBP di Ciketing-Bekasi oleh orang-orang yang SOK bergama tetapi jiwanya tidak lebih seperti PREMAN tanah abang adakah pemerintah kita ini mengambil tindakan keras misalnya meminta Kepolisan Negara Republik Indonesia untuk menangkap dan memproses secara hukum kepada orang-orang yang menghalang-halangi warga untuk beribadah tetapi nyatanya tidak ada bahkan pemimpin negara kita ini hanya meminta agar warga bersikap bijaksana dan tidak terpancing emosi, aneh bukan ?!

Lalu yang sekarang heboh adalah kasus BARTER atau TUKAR GULING atau apalah istilahnya antara 3 petugas patroli laut Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia dengan 7 maling ikan asal Malaysia tetapi nyatanya pemerintah kita tidak ada reaksi spontan marah begitu dengar 3 petugas ini tertangkap di wilayah negara sendiri bahkan ketika dikabarkan mereka diborgol dan memakai baju khas penjara para pemimpin eksekutif kita masih saja diam seribu bahasa bahkan ditutup-tutupi padahal rakyat dan (mungkin) prajurit dibawah sudah gatal tangan untuk mengangkat senjata entah itu senjata mereka, pisau atau bambu runcing.

Dari semua peristiwa yang penulis utarakan apakah judul diatas memang pantas dialamatkan kepada para pemimpin-pemimpin di negara ini atau tidak ? soal kasus yang terakhir penulis agak aneh melihat kelakuan daripada para pemimpin tertinggi bidang eksekutif di negara ini kok tidak ada respon geram sama sekali dan tindakan nyata ketika kedaulatan negara yang dipimpinnya sedang dimain-mainkan negara lain padahal kita semua tahu latar belakang beliau apa !

Seharusnya para pemimpin negara kita ini BERKACA dengan sikap para pemimpin di kawasan Amerika Latin seperti contoh konflik antara Venezuela dengan Kolombia dimana Presiden Chavez memanggil pulang Dubesnya di Bogota dan mengusir Dubes Kolombia dari bumi Caracas atau kasus pengusiran Diplomat Rusia oleh Pemerintah Kanada beberapa tahun lalu karena dituduh melakukan kegiatan mata-mata dan masih banyak lagi.

Penulis melihat kenapa pemerintah kita lembek kayak tahu putih ketika negara lain mencoba mengancam kedaulatan kita, karena dari kitanya sudah TIDAK ADA LAGI rasa nasionalisme terutama kalangan elite atas, rasa nasionalisme itu tertutup oleh deal-deal “suara” partai politik atau kepentingan beberapa manusia di dalam partai agar bisa aman dalam menjalankan usahanya di negara ini benar tidak ?

Kalau pemimpin kita itu (katanya) berlatar belakang militer dan (kabarnya) TERBAIK di angkatannya seharusnya TAHU apa yang namanya SAPTA MARGA PRAJURIT jika bicara kedaulatan negara seharusnya ketika melihat tindakan negara Malay ini pada kasus Ambalat atau kasus 3 aparat negara segera memerintahkan Panglima untuk menyiapkan semua peralatan perang yang dipunya oleh negara ini di garis depan perbatasan BUKANNYA diam dan meminta MOU kembali dengan negara tersebut dan dilaksanakannya di Malay BUKAN di Jakarta !

Atau ketika banyak TKI kita bermasalah dalam hukum kiranya pemimpin kita meminta Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia untuk menekan keras pada staff KBRI di negara tempat TKI kita bermasalah untuk bekerja lebih giat dan meminta kementerian-kementerian terkait di negara sana agar hak-hak daripada TKI/W kita dapat diberikan sesuai dengan ketentuan internasional tentang ketenagakerjaan kalau tidak juga dilaksanakan kiranya KBRI membuat laporan kepada pihak kepolisian setempat agar menyeret majikan-majikan yang melakukan kekerasan dan tidak menjalankan kewajiban-kewajiban sebagai majikan tetapi nyatanya walau di laporkan ke pihak berwajib hukumannya pun hanya hitungan jari atau bebas dengan uang jaminan sementara nasib TKI/W kita hanya bisa mengelus dada saja !

Sudah saatnya bekerja dengan giat dan dengan nurani para pemimpin di negara ini kalau tidak mau di bilang BANCI, tunjukkan kerja anda dan juga nasionalisme anda ketika negara ini terancam kedaulatannya, jangan sampai rakyat tidak mempercayai anda sebagai pemimpin dan jadinya bertindak sendiri-sendiri layaknya main hakim sendiri seperti pencopet yang dihajar massa, apakah ini yang anda mau kawan ?

Merdeka Selatan, 260810 07:00
Rhesza
Pendapat Pribadi

Sudah Maksimalkah Kerja Para Diplomat RI di Luar Sana ?


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf.

Menjelang detik-detik kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-65 negara ini mendapatkan kado yang boleh dibilang sangat-sangat pahit dari negara tetangga kado itu adalah adanya penangkapan 3 petugas patroli laut dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia oleh petugas polisi Diraja Malay, ketiga petugas ini ditangkap ketika sedang melakukan patroli dan menangkap nelayan Malay yang melakukan pencurian ikan diperairan Indonesia.

Singkat cerita, ketiga petugas patroli laut Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia di bebaskan bersamaan dengan di bebaskannya juga ketujuh nelayan Malay yang ditangkap petugas patroli laut, akibat kejadian ini banyak pihak yang kecewa dengan kejadian ini yang kemungkinan terjadi demo dimana-mana bahkan di negara sana pun warganya ikut-ikutan berdemo di kantor KBRI kita bahkan Menlu Malay pun mengancam akan mengeluarkan semacam peringatan (baca: Travel Warning) kepada warga Malay yang akan berkunjung ke Indonesia untuk berhati-hati..

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah sudah maksimalkah kerja para diplomat Republik Indonesia dalam menjalankan tugasnya termasuk didalamnya melindungi hak-haknya para WNI kita yang kebetulan berada di sana yang sesuai dengan ketentuan HAM internasional ? ternyata belum sepenuhnya kenapa penulis mengatakan begitu ? kita bisa lihat berapa banyak kasus yang melanda para TKI/W di berbagai negara yang menjadi kantung penyebaran TKI/W seperti disiksa, gaji tidak pernah dibayarkan, pelecehan seksual hingga perkosaan sampai hamil bahkan ada yang sampai gila apakah para diplomat kita mengeluarkan protes kepada Kementerian Luar Negeri dan juga Kementerian Tenaga Kerja setempat atau melaporkan para majikan ini kepada pihak kepolisian ? hanya sedikit yang melaporkan, kalau pun diproses nantinya berujung pada hukuman yang tidak maksimal atau bebas dengan syarat dan uang jaminan, kejadian ini terus-menerus terjadi hingga saat ini.

Atau ketika TKI/W bermasalah dengan hukum di sana apakah para diplomat dengan bekerja keras melobby pihak-pihak terkait atau paling tidak menyediakan kuasa hukum yang berpengaruh di sana sehingga proses hukumnya pun tidak terlalu berat tetapi nyatanya ?

Soal perilaku para diplomat negara kita diluar sana penulis jadi teringat dengan beberapa berita yang beredar dan juga yang penulis dengar dari beberapa orang tentang perilaku para diplomat kita ini misalnya ada sebuah Kedutaan ketika melayani WNI yang akan mengurus paspor atau yang berkaitan dengan administrasi konsuler dilihat dulu dari jauh kalau (maaf) dandanan para WNI yang akan mengurus administrasi konsuler ini agak mentereng dan berkantong tebal maka para staff langsung melayani dengan cepat tetapi jika dilihat WNI ini tidak berkantong tebal dan agak biasa jangan harap dilayani dengan cepat bahkan dicuekin.

Kemudian ada lagi yang penulis dapat info dari seorang WNI yang berada di Jepang dimana beliau malu sebagai orang WNI jika melihat sistem administrasi konsuler dimana ketika beliau mengurus perpanjang visa di Imigrasi waktu yang dibutuhkan HANYA 15 MENIT sedangkan jika ingin mengurus perpanjangan pasport lambang Garuda waktu yang di butuhkan yaitu 1 HARI sangat kontras sekali ! padahal kata beliau staff yang ada di perwakilan negara kita itu berjumlah sekitar 100 orang yang bergaji sekitar USD 3,000 (tidak termasuk Atase dan Dubes) !

Tetapi ada yang lebih parah daripada kerja para diplomat kita ini dimana sosok VVIP kita TIDAK diperkenalkan kepada tamu terutama kepala negara dan pemerintahan dunia ketika berlangsung forum KTT (kalau tidak salah) Nuklir di Markas Besar PBB bahkan sang tuan rumah lah (baca: Obama) yang memperkenalkan VVIP negara ini kepada kepala negara dan pemerintahan termasuk jurnalis yang sedang meliput padahal disana (mungkin) semua staff dalam satu kantor perwakilan kita berada di sana untuk membantu beliau dalam hal data dan lainnya tetapi nyatanya !

Memang ada pandangan ketika jaman Dinasti Cendana dimana orang-orang yang berada di Kantor Perwakilan negara kita di luar adalah orang-orang yang bermasalah ketika berada di tanah air atau yang tidak sependapat dengan penguasa jaman itu dan pandangan ini pun sempat tertuju kepada Mantan Kapolri yang sangat jujur sekali di negara ini yaitu Jenderal Hoegeng dimana beliau dicopot menjadi Kapolri karena membongkar sebuah sindikat yang ternyata berhubungan dengan sang penguasa, dan sebagai apresiasi beliau terhadap negara maka negara menawari jabatan Dubes RI untuk Kerajaan Belgia tetapi ditolak mentah-mentah oleh Jenderal Hoegeng dengan alasan tidak mempunyai keahlian basa-basi dan juga tidak suka dengan minuman coktail dan pesta

Sudah saatnya yang merasa diplomat dan bekerja di Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia dan juga Konsulat Jenderal Republik Indonesia di seluruh dunia menunjukkan rasa nasionalisme dan kerja nyatanya dalam melayani dan melindungi warga Indonesia yang sedang membutuhkan bantuan agar pandangan warga Indonesia ketika jaman dinasti Cendana itu tidak benar adanya ketika mereka sedang membutuhkan bantuan jika berada di luar negeri terutama bantuan hukum atau merasa hak-haknya terabaikan oleh negara yang WNI tempati..

Pejambon, 270810 08:40
Rhesza
Pendapat Pribadi

Apa Kabar Situs Porno di Indonesia ?


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf.

Seperti kita ketahui dimana pada bulan Juli ada kebijakan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia akan mengawasi dan menutup segala situs-situs yang berkaitan dengan kontent pornografi dalam bentuk apapun dan sebisa mungkin sebelum awal puasa atau akhir bulan Agustus semua situs-situs yang berkaitan dengan pornografi sudah tidak ada lagi, benarkah sudah tidak ada ?

Ternyata kebijakan dari Kementerian tersebut (mungkin) bagi penulis dan kawan-kawan penulis hanya isapan jempol belaka karena sampai tulisan ini dibuat masih banyak kok situs-situs, blog yang berkaitan dengan kontent pornografi dalam bentuk apapun ketika penulis dan kawan-kawan mencoba test dengan berbagai kata kunci yang berkaitan dengan pornografi di mesin pencari (baca:Google)

Soal pornografi ini penulis teringat dengan diskusi udara lewat jejaring sosial tuider dengan salah satu warga Indonesia yang kebetulan juga pengurus daripada perwakilan luar negeri sebuah partai Indonesia yang berkedudukan di Jepang, beliau mengatakan bahwa pornografi di Jepang sangat bebas beredar tetapi pemerintah dan masyarakatnya sangat patuh dengan UU yang ada, kalaupun video ataupun web-site pornografi yang beredar di wilayah Jepang harus di mosaik atau di buat bebayang terutama pada bagian vital seperti layaknya pembluran muka tersangka atau korban kasus seksual pada acara kriminal, tidak seperti di negara ini semakin kelihatan semakin keren atau hebat benar tidak ?

Kemudian dalam hal transaksi jual-beli video ini jika pembeli membeli cakram yang ternyata isinya belum di sensor atau dalam bahasa jepangnya uragara maka akan di kenakan pasal kriminal dan hukumannya sangat berat sekali, masyarakat Jepang pun sampai saat ini masih teguh memegang adat ketimuran dan tabu yang namanya pornografi walaupun kita tahu industri pornografi di negara ini grafiknya sangat padat.

Lanjut beliau yang mempunyai akun tuider pdjpg ini mengatakan bahwa industri ini dibidangi oleh sekelompok orang yang berafiliasi dengan Yakuza tetapi kembali lagi mereka pun tetap mematuhi aturan pemerintah yang berlaku yaitu untuk selalu mensensor setiap produknya, ketika berdiskusi di udara ini ada yang mengelitik bagi penulis ternyata kalau di negara kita khususnya fans berat pornografi Jepang pasti selalu mengagungkan yang namanya Maria Ozawa atau biasa di panggil Miyabi, setiap teman atau penggermar video menunjukkan sebuah cakram video yang baru pasti nanya “Miyabi yach…Miyabi bukan” ternyata nama Miyabi itu TIDAK DIKENAL di negaranya bahkan warga jepang pun TIDAK TAHU siapa itu Miyabi karena aturan yang tadi dan kedewasaan daripada warganya beda dengan warga negara kita yang sok munafik !

Soal pendidikan seks dan kesehatan reproduksi pun di Jepang berlaku berdasarkan jenjang pendidikannya dan ketika ada murid yang bertanya soal seks dan kesahatan reporduksi kepada gurunya, sang gurunya pun menjawab dengan metode yang menarik penyampaiannya BEDA sekali dengan pendidikan di negara ini dimana ketika ada murid yang bertanya soal seksualitas pasti gurunya diam atau mengalihkan ke pembicaraan yang lain benar tidak ?!

Kembali ke pekerjaan dari pada kementerian ini menurut penulis akan sia-sia untuk menutup situs-situs yang berbau pornografi kenapa? Karena kita bisa lihat sebuah grafik dan riset yang pernah penulis baca dimana SETIAP 39 DETIK ada situs-situs pornografi yang baru jadi percuma saja di tutup, di blokir tapi nyatanya seperti yang penulis bilang SETIAP 39 DETIK ada yang baru dan lagi pula masyarakat kita pun sebenarnya sudah paham kok mana yang baik dan mana yang tidak baik tidak perlu lagi di arahkan, justru yang harus dipikirkan oleh pemerintah saat ini adalah membuat semacam kurikulum pendidikan tentang pendidikan seksual dan kesehatan reproduksi yang ditujukan kepada para pelajar sehingga paling tidak bisa menekan sekecil mungkin angka perilaku seks bebas daripada menutup akses situs yang berbau pornografi, jangan sampai penutupan massal situs-situs yang berbau pornografi ini berdampak pada beberapa pihak seperti mahasiswa-mahasiswa Kedokteran atau Biologi dimana dalam materi belajarnya pasti ada yang berkaitan dengan pornografi misalnya kesahatan reproduksi dan anatomi tubuh manusia, kalau situs yang berkaitan dengan pornografi ditutup lantas bagaimana mereka mendapatkan bahan tersebut jika mereka diminta dosennya untuk membuat semacam karya tulis atau tugas akhirnya yang mana itu berkatitan dengan pornografi (baca: anatomi tubuh manusia) apakah Kominfo bertanggung jawab jika mereka tidak lulus ?

Jadi apakah Kementerian ini masih terus berperang dengan pornografi sementara masih banyak persoalan di negara ini yang harus utama di brantas ? kita lihat saja sejauh dan sekuat mana jajaran menteri ini berperang dengan pornografi jika melihat hasil riset per-39 detik itu ?!

Tj. Priuk 250810 08:30
Rhesza
Pendapat Pribadi