Kamis, 06 Mei 2010

12 tahun Tanpa Kejelasan Akhir


Andai saja Elang Mulya, Hafidin Royan, Hendriawan Sie dan Hery Hartanto bisa datang lewat mimpi setiap malam dan membisikkannya ke telinga orangtua dan orang-orang tercinta mereka siapa yang sebenarnya memerintah dan menembak mereka dan juga kampus mereka secara membabi buta pada hari Selasa 12 Mei 1998 antara pukul 17.05 hingga 18.30 petang tentunya peristiwa ini akan tuntas dan membuat senyum puas bagi keluarga mereka, karena selama ini orang-orang terkasih mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat demi tegaknya kebenaran dan keadilan yang sering di agungkan oleh para pendekar hukum di negara ini.

Sudah hampir 12 tahun peristiwa itu terjadi dimana dalam perjalanannya pembuktian adanya pelanggaran berat HAM dan dituntaskan dalam vonis hukuman yang diketukkan oleh ketua Hakim ternyata hanya isapan jempol kaki belaka, sudah ratusan bahkan ribuan kali kalangan LSM, Komnas HAM bahkan keluarga korban sendiri mengadakan acara Kamisan di depan Istana Negara agar ada tindakan daripada negara dalam menuntaskan sebuah peristiwa yang menjadi awal sebuah sejarah daripada pemerintahan Republik ini tetapi hasilnya nihil ! bahkan rekomendasi daripada Tim Gabungan Pencari Fakta-TGPF pun dimana adanya pengusutan lanjut hanya dilihat saja dan kemudian (mungkin) ditumpuk begitu saja bersamaan dengan berkas-berkas kasus HAM lainnya.

Kalau kita boleh mengingatkan para pemimpin di negara ini, seharusnya para pemimpin negara ini yang sedang duduk nyaman di kursi empuk dengan ruangan yang full AC seharusnya BERTERIMA KASIH kepada empat pahlawan reformasi dan mahasiswa angkatan 98 ini kenapa penulis berkata begitu ? karena tanpa adanya peristiwa ini sehingga empat mahasiswa (maaf) rela berkorban dan juga aksi daripaa para mahasiswa’98 ini anda para pemimpin tidak bisa hidup enak dan nyaman dengan gaji serta fasilitas yang setiap tahunnya meningkat drastis walaupun banyak konstituen anda di daerah sampai saat ini masih di jajah yang namanya nasi aking, di jajah dengan raskin yang berwarna dan berbau apek dan busuk, hidup dengan rumah beralaskan tanah merah atau beratapkan beton jembatan seperti sebuah kehidupan rumah tangga yang berada di bawah kolong jembatan Jalan Guntur dekat Kantor Polisi Militer AD, benar tidak ?

Kalau tidak salah ketika masa berakhirnya anggota dewan periode 2004-2009 di bentuk sebuah komisi tentang kasus ini sempat membuka harapan para korban dan keluarga korban akan kepastian hukum mereka tetapi nyatanya mana ? sampai detik ini dan penulisan ini di baca oleh anda dan pengunjung blog lain tidak ada kabarnya bahkan tidak ada satupun hasilnya terpampang di berbagai halam di media massa, lantas penulis berpikir apakah komisi ini hanya untuk menghibur atau memberikan oase kepada para keluarga korban yang hampir sepuluh tahun ini haus akan kepastian hukum tetapi kenyataannya tidak ada hasilnya !

Apakah peristiwa ini setiap taunnya selalu diakhiri dengan acara tabur bunga di tugu reformasi dan juga keputusasaan para ibu yang anggota keluarganya menjadi korban HAM lalu bisa berakhir dengan manis atau setiap tanggal 12 Mei para ibu ini masih terus menerawang ke langit dengan linangan air mata yang mungkin sudah tidak keluar lagi serta batinnya berkata, Nak dimana kamu berada sekarang dan siapa yang tega membunuhmu ? kita lihat saja apakah negara ini masih menghargai yang namanya sejarah dan menjunjung tinggi yang namanya Keadilan dan Kebenaran, karena kita selalu diagung-agungkan serta direkomendasi oleh berbagai pihak internasional bahwa kita negara yang menjunjung tinggi HAM bahkan pernah menduduki sebagai Presiden Dewan HAM PBB tetapi FAKTAnya negaranya sendiri TIDAK BISA menjunjung tinggi HAM dari orang-orang yang tertindas !! mari kita tunggu nurani daripada anggota dewan dan pemimpin negara ini apakah mereka berpihak kepada rakyat kecil ATAU KARMA itu akan berjalan kepada mereka dan mereka BARU SADAR ketika apa yang sedang mereka lihat dan dengar itu terjadi di lingkungan keluarga mereka !!

Grogol, 120510 18:30

Rhesza
Pendapat Pribadi

Tidak ada komentar: