Senin, 24 Mei 2010

Antara Rupiah, Sponsor dan Tipisnya Nasionalisme Atlet Kita


Seperti menjadi kebiasaan dalam pembuka blog atau tulisan, penulis menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata membuat sebagian pembaca merasa tersinggung, marah atau apa, sekali lagi tulisan ini hanya pendapat pribadi penuli dan tidak ada maksud untuk menghasut atau apapun sekali lagi mohon maaf. Dan tulisan ini untuk refleksi nurani buat yang MERASA atlet dalam bidang olahraga apapun..

Sekali lagi Tim Nasional Bulutangkis Putra/I gagal membawa piala yang menjadi kebanggaan dan tolak ukur harga diri negara dalam bidang bulutangkis yaitu Piala Thomas dan Uber dimana Timnas Uber kita gagal masuk ke putaran final karena di semifinal mereka di”ajarkan” cara bermain bulutangkis oleh China walaupun timnas Putri China di”ajarkan” juga cara bermain bulutangkis oleh Puteri Korea, kemudian Timnas Putera kita juga harus di”ajarkan” cara bermain bulutangkis oleh China dan uniknya Timnas Putera/I kita kalah dengan skor yang sama yaitu 3-0 !

Ada apa dengan Bulutangkis kita, padahal rakyat Indonesia sangat berharap Timnas Bulutangkis kita bisa menyegarkan dunia olahraga kita yang terganggu dengan ulah-ulah suporter sepak bola kita yang tiap hari tidak enak dipandang mata dan banyak kekalahan yang di berikan Timnas Sepakbola kita di depan pendukungnya sendiri tetapi apa daya ternyata Timnas bulutangkis kita tidak jauh berbeda dengan Sepakbola dimana selalu kalah dan kalah hanya menang di suporter dan nama besar !

Maaf kalau penulis bilang Timnas bulutangkis kita tidak jauh berbeda dengan Timnas PSSI dimana selalu kalah dan kalah hanya menang di suporter dan nama besar ? karena itulah yang terjadi, seharusnya dengan dukungan suporter banyak yang sudah capek ngantri atau datang jauh-jauh misalnya 1000 km dari tempat pertandingan dengan harapan ke-capek-an mereka bisa terbalaskan dengan kemenangan ternyata ?

Kita tahu tidak hanya bulutangkis saja yang mempunyai masalah tetapi para pemain bola ini pun juga dan masalah itupun juga sama yaitu sama-sama berkaitan dengan lembaran kertas berwarna yang berlogo BI entah itu perjanjian dengan sponsor klub atau dengan PSSI sendiri seperti kasus TC Belanda dimana ada beberapa pemain yang SOK menolak bergabung dengan alasan siapa yang membiayai keluarga mereka ketika mereka melakukan TC di Belanda begitu juga klub merasa keberatan dengan pemain-pemain yang di panggil TC karena pemain ini adalah tulang punggung dari klub dan harus sebanding dengan pengeluaran mereka untuk membawa pemain ini ke stadion mereka.

Kita tahu dan tidak usah munafik bagaimana biaya hidup di negara ini terutama di Jakarta atau kota-kota besar lainnya, ibaratnya kalau (maaf) kencing saja di Mall sudah di banderol Rp. 1,000 bukan tidak mustahil ke depannya (maaf) kentut pun juga akan di banderol tetapi apakah hanya masalah nominal Rupiah saja anda YANG MENGAKU sebagai atlet enggan untuk bela negara ? bukan maksud untuk menegok ke belakang tetapi sepertinya para YANG MENGAKU pemain sepak bola perlu mencontoh para senior-senior mereka dalam pernah membawa nama Indonesia di dunia sepakbola internasional

Siapa yang tak kenal M. Saelan, Dede Sulaeman, Harry Kiswanto, Widodo C Putro, Anjas Asmara, Hermansyah, (alm) Abdul Kadir, Warta Kusuma, Nur Alim dan masih banyak lagi, kenapa mereka bisa bawa Indonesia berjaya ? karena mereka LEBIH mementingkan negara, prestasi daripada sponsor, dan bonus-bonus walaupun kita tahu jaman dahulu itu tidak ada yang namanya sponsor apalagi bonus yang melimpah seperti saat ini bahkan mereka mencari sendiri dana agar bagaimana Indonesia bisa ikut serta dan dikenal, setelah mereka menang di tiap kejuaraan barulah yang namanya bonus itu datang dan tentunya sponsor benar tidak ?!

Satu lagi perumpamaan biar para atlet ini YANG NGAKU bela Indonesia agar berkaca dan berkata dalam nuraninya JANGAN HANYA berkata Maaf kepada rakyat Indonesia begitu kalah tetapi ke depannya ga ada BUKTI NYATA, PERNAH kah anda melihat kehidupan para anggota tentara atau polisi yang bertugas di daerah perbatasan antar negara ? BERAPA RUPIAH yang mereka dapat dalam sebulan SEBANDING kah dengan kerjanya yang harus mengamankan wilayah Indonesia dari segala macam ancaman ? PERNAH KAH anda wahai atlet melihat dengan mata dan kepala anda para aparat ini di kala bebas tugas dan jaga DUDUK SANTAI sambil hahahihi di kedai kopi label internasional atau JALAN-JALAN di MALL sambil utak-atik smart handphone-nya? atau anda TAHU berapa pendapatan sebuah pasukan elite terkenal di negara ini yang tiap hari dan tiap detik HARUS berjuang MENJAGA nyawa 220 juta jiwa rakyat Indonesia dari Sabang Sampai Merauke dari Miangas hingga Rote termasuk diantaranya VVIP dari serangan teroris dan BOM TERNYATA hanya di banderol HAMPIR SAMA dengan pendapatan sebuah seorang karyawan swasta yang FRESH GRADUATE atau HAMPIR SAMA dengan harga 1 buah smart handphone jenis GEMINI belum lagi uang makan per-hari-nya team elite ini SEHARGA PULSA SEBULAN BISA KALIAN BAYANGKAN wahai para atlet !! sedangkan anda sudah banyak sponsor , hidup mewah tinggal di Apartemen, makan enak, tiap malam keluar-masuk café dan resto ternama, tetapi hasilnya untuk negara dan rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke dari Miangas hingga Rote MANA ? NOL BESAR a.k.a KALAH MULU ! jangan juga anda menyalahkan negara karena tidak pernah ada perhatian, negara ini SUDAH BANYAK pekerjaannya dan negara hanya bisa membantu jika ada swasta yang ingin menyumbang tetapi intinya adalah USAHA DARI ATLETnya itu sendiri, PERCUMA Negara mendukung penuh tetapi NYATAnya ?

Ada lagi, mau tahu kenapa Korea Utara BISA LOLOS Piala Dunia ? karena yang ada di OTAK para pemain dan official mereka adalah BAGAIMANA CARANYA meloloskan negara ini dan dikenal walaupun negara mereka secara politik internasional bermasalah dan terbukti ! sementara negara ini ? boro-boro lolos Piala Dunia atau Piala Asia, Peringkat 3 SEA GAMES kemarin saja senangnya NA-AJU-BILA BIN JALI ckckckckck…benar tidak ?!

Seharusnya para atlet ini MALU SEKALI LAGI penulis BILANG MALU !! dengan para aparat keamanan kita, atlet dan aparat keamanan terutama tentara TIDAK JAUH BERBEDA bahkan SAMA yaitu SAMA-SAMA menjaga dan membela nama Indonesia, kalau Tentara dengan senjata sementara atlet dengan kemampuannya benar tidak ? Jadi masihkah anda YANG MENGAKU atlet masih memikirkan sponsor yang banyak yang bisa membiayai hidup anda tapi tidak ada prestasi sama sekali untuk negara ini walaupun kata anda sudah berusaha, berusaha apa ? atau LEBIH BAIK berusaha sendiri, berprestasi sendiri baru memikirkan bonus dan sponsor, BUKAN KAH uang yang mendatangi anda BUKAN anda yang mendatangi uang benar tidak ?! atau bagaimana para atlet ini mau BERTUKAR PROFESI dengan tentara bagaimana, daripada KALAH MULU ?!

Dan satu lagi KELEDAI SAJA TIDAK AKAN JATUH UNTUK KEDUA KALINYA DI LUBANG YANG SAMA !!! kata-kata ini harus dicamkan dalam nurani anda sebagai atlet, anda BUKAN keledai tapi anda MANUSIA Ciptaan Tuhan yang PALING sempurna TIDAK MUNGKIN donk selalu kalah !!

Akhir kata penulis sekali lagi mohon maaf kalau kata-kata di atas membuat anda pembaca terutama para atlet panas kupingnya atau marah tetapi apa yang penulis tulis ini adalah bentuk kekecewaan penulis dan (mungkin) rakyat Indonesia terhadap olahraga Indonesia dimana tidak ada prestasi tetapi yang ada hanya tuntutan saja, mungkin dengan tulisan ini membuat anda terutama atlet termotivasi, sekali lagi mohon maaf

GBK Std. 200510 15:00

Rhesza Ivan
Pendapat Pribadi
twiiter.com/rhesza

Tidak ada komentar: