Kamis, 06 Mei 2010

Susahnya Jadi Buruh di Negara ini !


Tanggal 1 Mei setiap tahun menjadi tanggal keramat bagi semua buruh di Dunia termasuk di negara ini Indonesia, kita bisa lihat bagaimana setiap tanggal 1 Mei di sebuah daerah dari Sabang Merauke dari Mianggas hingga Rote dipenuhi dengan para buruh tak terkecuali di Jakarta, Ibukota negara ini kita bisa lihat bagaimana Bundaran HI, Monas depan Istana, Gedung DPR dan Kantor Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia selalu dipenuhi sesak oleh para buruh.

Tuntutan mereka setiap tanggal 1 Mei ini tidak pernah berubah yaitu tuntutan kesejahteraan adanya upah yang dibayarkan sesuai dengan UMR atau dengan layak standar kehidupan di kota tempat mereka tinggal, kemudian adanya tunjangan-tunjangan seperti asuransi kesehatan dan kecelakaan, adanya hak mereka bagi perempuan di berikan, kemudian adanya pesangon bagi yang di PHK oleh perusahaan.

Pertanyaannya adalah apakah tuntutan para buruh ini setiap tanggal 1 Mei sudah dilaksanakan oleh para pengusaha dan juga sudah diawasi oleh Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia serta dinas-dinas tenaga kerja di daerah terhadap pelaksanaan apa yang menjadi tuntutan parah buruh ini ? ternyata itu semua hanya lip service alias omong kosong belaka !

Kita bisa lihat berapa banyak buruh yang di-PHK secara sepihak oleh pimpinan pabrik atau perusahaan tanpa ada gaji terakhir atau pesangon, atau berapa banyak buruh yang tidak dibayar gaji-gajinya karena pemilik perusahaan kabur dengan alasan pabriknya merugi terus tetapi ketika mereka mengadu mulai dari kantor dinas tenaga kerja hingga Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi adakah tindakan nyata berupa teguran keras hingga menyeret para pengusaha ini ke pihak berwajib berdasarkan UU tenaga kerja dan juga konvensi internasional tentang tenaga kerja ? ternyata ya itu hanya lip service atau janji manis saja dan tetap saja para buruh ini hanya mengelus dada..

Se-HINA inikah para buruh kita sehingga hak-hak mereka sebagai manusia tidak bisa direalisasikan oleh para pemilik perusahaan, padahal pemilik perusahaan ini bisa maju dan usahanya dikenal kalangan luas berkat siapa KALAU BUKAN berkat para buruh ini memangnya para pemilik pabrik dan perusahaan ini BISA mengerjakan barang/jasa yang menjadi komoditi dari sang pengusaha dengan tangan sendiri benar tidak ?

Memang diakui dari segi tingkat pendidikan atau sosial para pekerja ini berada di tingkatan paling dasar sedangkan para pengusaha ini tingkatan ini sangat tinggi tetapi bukankah di hadapan Tuhan buruh dan pengusaha tingkatannya sama, sama-sama diberi napas kehidupan, sama-sama makan nasi, sama-sama memiliki lima indera, kalau sama kenapa harus dibedakan starata dan kedudukannya ?

Sudah saatnya para pengusaha ini lebih menggunakan NURANI dari pada memikirkan keuntungan daripada usahanya dengan cara duduk bersama dengan para buruh misalnya makan siang bersama dengan para buruh dalam satu ruangan atau libur bersama, sambil men-DENGAR apa yang mereka mau kalau memang perusahaan sedang kesusahan BERI PENJELASAN, penulis yakin para buruh ini akan mengerti jika perusahaan terbuka akan kondisi perusahaan daripada ditutup-tutupi dan akhirnya kabur begitu saja tanpa ada tanggung jawab kepada para buruh..

Kemudian juga kantor Dinas Tenaga Kerja di daerah dan juga Kantor Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mengawasi para pengusaha dan usahanya, sekali-kali mencoba inspeksi mendadak-sidak ke pabrik dan melihat apakah para buruh ini mendapatkan haknya sesuai dengan UU yang berlaku dan juga konvensi internasional tentang tenaga kerja karena selama ini para staff dinas tenaga kerja di daerah hingga kantor kementerian tenaga kerja dan transmigrasi hanya diam saja di kantor tanpa ada inspeksi mendadak ketika mendapat laporan atau menerima kunjungan para buruh yang berdemo

Sudah saatnya para pekerja di Indonesia diberikan hak-hak sebagaimana yang tercantum dalam konvensi internasional tentang pekerja dan juga sesuai dengan HAM internasional, para pekerja ini juga manusia yang punya dunia dan tanggung jawab misalnya sebagai kepala keluarga jangan hanya para pengusaha ini memikirkan laba perusahaan, ongkos produksi yang menggunung sehingga hak para pekerja ini terampas…

Selamat Hari Buruh…kawan

PuloGadung, 010510 09:00
Rhesza

Tidak ada komentar: