Selasa, 06 Juli 2010

Negara INI TAKUT Sama FPI !


Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagaian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf.

Untuk kesekian kalinya FPI membuat ulah di negara ini, kalau pada beberapa waktu yang lalu kita mendengar, menonton, membaca dan melihat di media tentang adanya sekelompok orang yang melakukan tindakan yang tidak terpuji di Kawasan Depok dimana mereka membubarkan seenak kepalanya sebuah acara skala nasional yang di prakarsai oleh komunitas Waria dengan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (Komnas HAM) tetapi tindakan ini tidak ditanggapi dengan tegas oleh jajaran Kepolisian Resort Kota Depok (Polres Metro Kota Depok) yang hanya diam seribu kata dan bahasa menyaksikan apa yang diperbuat oleh para (katanya) mengagungkan sebuah agama !

Dan sekarang terjadi lagi aksi-aksi FPI dimana terjadi di Kota Banyuwangi, kali ini yang menjadi korban adalah beberapa anggota DPR yang sedang melakukan kunjungan kerja dan diskusi dengan beberapa komunitas. Dasar pengusiran dan pembubaran acara ini oleh FPI (kabarnya FPI Banyuwangi telah dibubarkan DPP FPI Pusat dua tahun lalu) karena acara diskusi ini diikuti oleh kelompok orang yang menjadi korban politik orde baru sebagai anggota PKI, takutnya mereka akan membuka kembal ideologi PKI di kalangan masyarakat khususnya di Banyuwangi.

Apa yang dilakukan oleh Front Pembela Islam ini bukan pertama kalinya di negara ini setidaknya berdasarkan catatan penulis, aksi mereka ini sudah dimulai pada tahun 1998 tepatnya pada tanggal 14 Oktober dimana Badan Pencari Fakta DPP-FPI mengadakan investigasi kasus peneroran, pembantaian dan pembunuhan para ulama, kyai, ustadz dan beberapa guru pengajian dengan dukun santet di beberapa wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur antara lain di Demak, Pasuruan, Jember, Purbalingga, dan Banyuwangi yang dipimpin oleh Ketua Umum FPI, Habib Muhammad Rizieq bin Husein Syihab.

Di baru pembukaan daripada aksi mereka, ada juga beberapa kontroversi yang mengiringi mereka dalam berorganisasi dan (mungkin) menteror masyarakat Indonesia khususnya di kawasan Jabodetabek dalam bidang Politik seperti pada tanggal 28 Oktober 1998 dimana DPP-FPI mengeluarkan “Seruan Jihad FPI” terhadap “Pasukan Ninja” yang isinya menerangkan bahwa pelaku/dalang/penyandang dana dan atau siapa pun yang terlibat dalam aksi ninja dalam penteroran terhadap ulam adalah hal untuk di tumpahkan darahnya, atau pada tanggal 13 November 1998 dimana mereka menyampaikan aspirasi pada Sidang Istimewa 1998 tentang tuntutan rakyat (versi mereka) yang menghendaki adanya Pencabutan Pancasila sebagai asas tunggal, Pencabutan P4, Pencabutan lima paket Undang-Undang Politik, Pencabutan Dwifungsi ABRI dari Badan Legislatif atau Eksekutif, Penghargaan Hak Asasi Manusia, dan Pertanggung jawaban mantan Presiden Republik Indonesia, Soeharto, Permohonan Maaf Golkar sebagai penanggung jawab Orde Baru

Tanggal 30 Mei 1999, DPP-FPI mengeluarkan sikap Politik “Netral Terarah” dalam menghadapi pemilu, kemudian DPP-FPI juga mengeluarkan fatwa tentang HARAM memilih partai yang menetapkan calon legislatif non-muslim dalam pemilu 1999 melebihi 15%, Tanggal 24 Juni 1999 dan 15 Agustus 2000, DPP FPI mengeluarkan sikap tentang Penolakan Calon Presiden Wanita, itu soal kiprah FPI dalam bidang politik lantas bagaimana dengan soal kiprah mereka dalam lingkup kriminalitas ?

Ternyata tidak jauh berbeda dengan kiprah mereka dalam dunia politik, kegiatan yang melawan ketentuan hukum dan kriminal bagi FPI sudah dimulai pertama kali pada tanggal 22 November 1998 dimana terjadi insiden Ketapang yang mana adanya perusakan sebuah masjid di bilangan Ketapang, Gajah Mada, Jakarta Pusat oleh sejumlah kurang lebih 600 orang preman Ambon, Laskar Pembela Islam BERHASIL memukul mundur penyerang yang dipimping oleh Imam Besar Laskar FPI, KH. Tb. M. Siddiq AR yang berada langsung komando Ketum FPI, kemudian tahun 1999 tanggal 24 Mei DPP-FPI dengan laskarnya berhasil MENANGKAP oknum mahasiswa Universitas Tarumanegara yang bernama Pilipus Cimeuw yang telah menurunkan spanduk FPI yang dipasang di jembatan penyebarangan di depan kampusnya karena tersinggung dengan isi tulisan spanduk yang berbunyi Awas waspada ! Zionisme & Komunisme Masuk di Segala Sektor Kehidupan. Masih di tahun 1999 pada tanggal 13 September Laskar Pembela Islam-LPI MENUTUP beberapa tempat perjudian di daerah Petojo Utara, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat dari usaha itu LPI menangkap dua bandar judi dengan barang buktinya, kemudian pada tanggal 18 Sepetember, LPI MENUTUP (versi mereka) tempat pelacuran/prostitusi di wilayah Ciputat, lalu pada tanggal 22 September LPI MENUTUP diskotik Indah sari yang menjadi sarang narkoba di Petamburan, Tanah Abang-Jakarta Pusat.

Tahun 2001, 9 Oktober FPI membuat KERIBUTAN dalam aksi demonstrasi di depan Kedutaan Amerika Serikat dengan merobohkan barikade kawat berduri dan aparat keamanan terpaksa menembakkan gas air mata serta meriam air, 7 November terjadi BENTROKAN antara Laskar Jihat Ahlusunnah dan Laskar FPI dengan mahasiswa pendukung terdakwa Mixilmina Munir di Pengadilan Negeri-PN Jakarta Selatan akibat bentrokan ini dua mahasiswa luka karena di KEROYOK oleh puluhan laskar. Tahun 2002, tanggl 15 Maret Satu truk massa FPI mendatangi diskotek di Plaza Hayam Wuruk masih di tanggal yang sama sekitar 300 masa FPI MERUSAK sebuah tempat hiburan, Mekar Jaya Billiard di Jl. Prof Dr. Satrio No. 241, Karet-Jakarta. Tanggal 24 sekitar 50 anggota FPI mendatangi diskotek New Star di Jl. Raya Ciputat, FPI menuntut agar diskotek menutup aktivitasnya. 24 Mei, Puluhan masa dari FPI di bawah pimpinan Tubagus Sidiq MENGGREBEK sebuah gudang minuman di Jalan Petamburan VI, Tanah Abang-Jakarta Pusat, tanggal 26 Juni masa FPI MERUSAK sejumlah kafe di Jalan Jaksa yang tak jauh letaknya dari tempat berunjuk rasa, dengan tongkat bambu sebagian mereka merusak diantaranya Pappa Kafe, Allis Kafe, Kafe Betawi dan Margot Kafe.

Tahun 2004, 3 Oktober FPI menyerbu pekarangan Sekolah Sang Timur SAMBIL mengacung-acungkan senjata dan memerintahkan para suster agar menutup gereja dan sekolah Sang Timur. FPI MENUDUH orang-orang Katolik menyebarkan agama Katolik karena mereka mempergunakan ruang olahraga sekolah sebagai gereja sementara yang sudah dipergunakan selama sepuluh tahun, 11 Oktober FPI Depok ancam razia tempat hiburan, 22 Oktober FPI melakukan PENGRUSAKAN kafe dan keributan dengan warga di Kemang, 23 Desember sekitar 150 orang anggota FPI terlibat BENTROK dengan petugas satuan pengaman JCT (Jakarta Internasional Container Terminal). Tahun 2005, 27 Juni FPI MENYERANG kontes Miss Waria di Gedung Sarinah Jakarta, 5 Agustus FPI-FUI MENGANCAM akan menyerang Jaringan Islam Liberal-JIL di Utan Kayu. 2 Agustus, Dewan Pimpinan Wilayah Front Pembela Islam-FPI Kabupaten Purwakarta-Jawa Barat, MEMINTA pengelola Taman Kanak-Kanak Tunas Pertiwi, di Jalan Raya Bungursari, MENGHENTIKAN kebaktian sekaligus MEMBONGKAR bangunannya, JIKA tidak, FPI MENGANCAM akan menghentikan dan membongkar paksa bangunan, 19 September, FPI di DUGA di balik penyerbuan Pemukiman Jamaah Ahmadiyah di Kampung Neglasari, Desa Sukadan, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, 22 September FPI MEMAKSA agar pameran foto bertajuk Urban/Culture di Museum Bank Indonesia-Jakarta agar di tutup, 16 Oktober FPI MENGUSIR Jemaat yang akan melakukan kebaktian di Jatimulya, Bekasi Timur, 23 Oktober FPI KEMBALI MENGHALANGI Jemaat yang akan melaksanakan kebaktian dan terjadi dorong-mendorong, APARAT keamanan HANYA MENYAKSIKAN SAJA. 18 Oktober anggota FPI MEMBAWA senjata tajam saat berdemo di Polres Metro Jakarta Barat.

Tahun 2006, 14 Maret FPI membuat RICUH di Pendopo Kabupaten Sukoharjo, 12 April FPI MENYERANG dan MERUSAK Kantor Majalah Playboy, 20 Mei anggota FPI MENGGREBEK 11 lokasi yang dinilai sebagai tempat maksiat di kampung Kresek, Jl. Masjid At-Taqwa RT 2/6, Jati Sampurna, Pondok Gede, 21 Mei dalam aksi mendukung RUU APP, FPI, MMI, dan HTI MENYEGEL kantor Fahmina Institute di Cirebon, 25 Mei FPI melakukan PENGRUSAKAN terhadap sejumlah tempat hiburan dan warung minuman di Kampung Kresek, Jatisampurna, Bekasi. Tahun 2007, 29 Maret massa FPI yang jumlahnya ratusan orang tiba-tiba MENYERANG massa Papernas yang rata-rata kaum perempuan di kawasan Dukuh Atas, Pukul 11.20 WIB, FPI menuduh bahwa Pepernas adalah partai politik yang menganut paham Komunisme, 29 April Masa FPI mendatangi acara pelantikan penguru Papernas Sukoharjo karena TIDAK SUKA dengan partai tersebut yang di tuduh beraliran komunis. 1 Mei dalam Aksi peringatan Hari Buruh Internasional-May Day ada ketegangan antar gabungan massa aksi FPI dan Front Anti Komunias Indonesia-FAKI dengan massa Aliansi Rakyat Pekerja Yogyakarta (ARPY) Ketegangan yang terjadi di depan Museum Serangan Oemoem 1 Maret Yogyakarta tersebut karena FPI dan FAKI menuduh gerakan ARPY terkait dengan Partai Persatuan Nasional (Papernas) yang menurut mereka beraliran komunis. Kericuhan hampir memuncak saat seorang massa FAKI menaiki mobil koordinator aksi, dan dengan serta merta menarik baju koordinator ARPY yang saat itu sedang berorasi. 9 Mei, Puluhan anggota FPI mendatangai diskotek “Jogja Jogja” dan MENGUSI orang-orang yang bermaksud mengunjungi tempat hiburan ini, alasannya diskotek ini menggelar striptease secara rutin. 12 September FPI MERUSAK rumah tempat berkumpul aliran Wahidiyah, karena mengganggap mereka sesat, 24 Sepetember Ciamis; FPI MERUSAK warung yang buka pada bulan puasa serta MEMUKULI penjual dan pembelinya. Alasan mereka menjual barang-barang haram (baca: Miras) di bulan Ramadhan. 28 September FPI Jakarta BENTROK dengan polisi yang membubarkan konvoi mereka, sementara di Jawa Tengan FPI MENEGUR seorang warga dengan alasan tidak cukup jelas. 29 Sepetember, FPI MERAZIA beberapa warung makan di Tasikmalaya, setiap warung yang KEPERGOK menyiapkan makan siap saji LANGSUNG DITUTUP.

Tahun 2008, 1 Juni. Massa FPI MENYERANG massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKK-BB) yang sebagian besar terdiri dari ibu-ibu dan anak-anak di sekitar pelataran Monas. Massa AKK-BB ketika itu sedang berdemo memprotes SKB Ahmadiyah, tak hanya MEMUKUL orang, massa FPI juga MERUSAK mobil-mobil yang terparkir di sekitar lokasi tersebut. 24 September, FPI MERAZIA-MERUSAK sejumlah warung nasi dan pedagang bakso di wilayah Pasar Wetan, Tasikmalaya, karena berjualan makanan pada bulan Ramadhan, aksi ini di bubarkan oleh Polisi. Tahun 2010, 30 April Puluhan orang yang tergabung dalam FPI dan Laskar Pembela Islam-LPI MENDATANGI Hotel Bumi Wiyata Jl. Margonda Raya, Beji-Depok untuk MEMBUBARKAN seminar waria yang sedang berlangsung, seorang Staff dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia-Komnas HAM, Zaenal Abidin DIPUKUL oleh salah seorang anggota FPI, Polisi TIDAK BISA BERBUAT APA-APA ! 25 Mei FPI memBONGKAR patung tiga mojang di kawasan Harapan Indah-Kota Bekasi, 28 Mei pada saat perayaan waisak dan sholat Jumat secara bersamaan FPI melakukan BONGKAR patung naga di Kota Singkawang SECARA PAKSA dan yang terakhir 24 Juni FPI memBUBARkan secara paksa pertemuan komisi IX DPR di Banyuwangi.

Kalau sudah seperti ini maka pertanyaan yang muncul di benak penulis adalah, apa sich yang dicari oleh FPI ini ? inikah (maaf) Islam versi FPI yang dalam kegiataannya selalu berteriak Allahuakbar tetapi ketika dilapangan menciderai warga yang seiman dengan FPI dan tidak tahu apa-apa ? penulis bukan maksud untuk menistakan agama atau memojokkan suatu agama, tetapi menurut penulis semua agama manapun tidak ada dalam kitabnya meminta untuk dalam menegakkan agamanya selalu menciderai sesama umatnya benar tidak ? lagipula NEGARA INI merdeka dari keringat, darah bukan dari satu agama dan satu suku saja.

Tetapi dari semua aksi-aksi FPI ini yang membuat penulis heran adalah kok TIDAK ADA SIKAP TEGAS dari pemerintah terutama PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA dalam melihat aksi-aksi mereka yang menurut penulis sudah mengganggu kenyaman dan ketertiban rakyat, kemudian TIDAK ADA SIKAP TEGAS dari aparat Kepolisian Negara Republik Indonesia ketika mereka sedang melakukan aksi di jalan, seperti kasus penyerangan Kantor Redaksi Majalah Playboy adakah Polisi langsung menangkap, memukul dengan brutal, menyeret mereka ke Mobil Tahanan ? jangan Cuma mahasiswa dan pendemo saja yang selalu di tangkap, di hajar, diseret LAYAKNYA BINATANG ke mobil tahanan sementara ketika FPI melakukan pengrusakan di-DIAM-kan saja, tetapi giliran di tanya wartawan kenapa sikap Polisi diam di jawabnya layaknya arogan!! Dan lagi MEMANG ADA PRESTASI APA FPI ini BAGI Republik Indonesia sehingga dalam aksinya di jalan yang agak brutal dan tidak manusiwai pihak Kepolisian Negara Republik Indonesia DIAM SERIBU BAHASA !!!

Sudah saatnya negara (mungkin) dalam hal ini Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Agama, Kementerian Hukum dan HAM, Kementeriaan Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Kejaksaan Agung Republik Indonesia untuk duduk bersama, membahas apakah apa yang dilakukan oleh FPI sudah termasuk kategori teroris atau apa, kalau tidak salah bukankah negara ini memiliki UU tentang organisasi kemasyarakatan, kalau ada, sudah waktunya UU itu ditinjau lagi kalau memang ada, kalau tidak ada jika pihak-pihak terkait termasuk DPR juga ikut membantu agar kejadian seperti yang dilakukan oleh FPI ini tidak berlanjut lagi..

Apakah nantinya Republik Indonesia AKAN mengambil tindakan tegas dengan membubarkan organisasi ini dan MUNGKIN mengikuti apa yang dilakukan Amerika dalam menjaga keamanan rakyatnya misalnya oleh Pemerintah Indonesia memasukkan atau mengklasifikasi FPI sebagai organisasi terlarang atau setingkat dengan Al-Qaeda karena dianggap meresahkan masyarakat dan kestabilan negara ! atau FPI ini terus menganggu kenyamanan, keamanan, kententraman rakyat Indonesia karena ulahnya yang selalu mengAGUNGkan Tuhan tetapi ajaran Tuhan tentang cinta kasih terhadap sesama itu TIDAK ADA dan digantikan dengan KEKERASAN !!! kita nantikan saja sikap tegas dari Pemerintah Republik Indonesia!!!

Petamburan, 010710 15:30
Rhesza
Pendapat Pribadi

Tidak ada komentar: